Revisi Lp & Askep Eklamsia

download Revisi Lp & Askep Eklamsia

of 24

  • date post

    11-Dec-2014
  • Category

    Documents

  • view

    286
  • download

    81

Embed Size (px)

description

linda

Transcript of Revisi Lp & Askep Eklamsia

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN EKLAMSI

Disusun oleh : S1 tingkat 3B Dwi Firnanda Dwi Prasetyo Eni Pujiati Etik Sukmawati Fitri Aprilina Hadi Susanto Hadiyatulloh Heni Sulfiana Ike Nurjanah Indah Farida Indri Tri Astuti NIM (2008.02.061) NIM (2008.02.062) NIM (2008.02.064) NIM (2008.02.065) NIM (2008.02.066) NIM (2008.02.067) NIM (2008.02.068) NIM (2008.02.069) NIM (2008.02.071) NIM (2008.02.071) NIM (2008.02.072)

Elok Faiqotus Hima NIM (2008.02.063)

S1 KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BANYUWANGI 2010

KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas Keperawatan Maternitas dengan baik. Adapun tujuan penyusunan karya tulis ini adalah untuk melengkapi tugas pertama dalam mata kuliah Keperawatan Maternitas. Dalam penyusunan karya tulis ini tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dalam pembuatan tugas ini, terutama yang terhormat kepada: 1. Bapak Drs. H. Soekardjo MBA.MM . selaku Direktur STIKES Banyuwangi. 2. Ibu Ukhtul Izzah, S. Kep. Ners selaku Dosen mata kuliah Keperawatan Meternitas 3. Teman-teman kami dan semua pihak yang mendukung terselesaikannya karya tulis ini. Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan. Karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk kesempurnaan makalah ini.Semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.

Banyuwangi, September 2010

Penulis

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang 1.2. Tujuan Penelitian BAB II. PEMBAHASAN 2.1. Pengertian 2.2. Etiologi 2.3. Patofisiologi 2.4. Manifestasi Klinis 2.5. Komplikasi 2.6. Pemeriksaan peunjang 2.7. Penatalaksanaan 2.8. Diagnosa Keperawatan 2.9. Intervensi Keperawatan BAB III. PENUTUP 3.1 Kesimpulan 3.2 Saran BAB IV TINJAUAN KASUS 1 1 i ii iii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Eklampsia merupakan penyulit dalam proses persalinan yang kejadiannya senantiasa tetap tinggi. Tingginya angka kejadian eklampsia dapat mengancam hidp eklampsi yang tidak terkontrol memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap tingginya angka kematian. Dari kasus persalinan yang dirawat di rumah sakit 3-5 % merupakan kasus eklampsia ( Manuaba, 1998 ). Dari kasus tersebut 6 % terjadi pada semua persalinan, 12 % terjadi pada primi gravida. Masih tingginya angka kejadian ini dapat dijadikan sebagai gambaran umum tingkat kesehatan ibu bersalin dan tingkat kesehatan masyarakat secara umum. Dengan besarnya pengaruh eklampsia terhadap tingginya tingkat kematian bulin, maka sudah selayaknya dilakukan upaya untuk mencegah dan menanganikasus-kasus eklampsia. Perawatan pada bulin dengan eklamsia merupakan salah satu usaha nyata yamg dapat dilakukan untuk mencegah timbulnya komplikasi-komplikasi sebagai akibat lanjut dari eklampsia tersebut. 1.2 Batasan Masalah Batasan makalah yang kami pakai dalam makalah ini adalah tentang Eklamsia 1.3 Tujuan Tujuan Instruksional Umum Untuk memberikan Asuhan Keperawatan kepada ibu bersalin dengan eklampsia Tujuan Instruksional Khusus a. b. Dapat melakukan pengkajian pada ibu bersalin dengan eklampsia Dapat menentukan masalah keperawatan pada ibu bersalin dengan eklampsia c. d. Dapat menetapkan perencanaan pada ibu bersalin dengan eklampsia Dapat menerapkan rencana perawatan pada ibu bersalin dengan eklampsia

e.

Dapat melakukan evaluasi pada ibu bersalin dengan eklampsia

BAB II TINJAUAN TEORI 2.1 Pengertian Eklamsia adalah preeklamsia berat yang dilanjutkan dengan keadaan kejang dan/atau sampai koma. 1. Eklamsia gravidarum (50 %) Eklamsi (kejanag) yang terjadi pada usia kehamilan 28 minggu. 2. Eklamsia parturien (40 %) Eklamsi (kejang) yang terjadi ketika proses persalinan. Dan terjadi saat inpartu dimana batas dengan eklamsi gravidarum sukar dibedakan terutama saat inpartu. 3. Eklamsia puerperium (10 %) Eklamsi (kejang) yang terjadi pada masa nifas 40 hari setelah melahirkan. Insiden eklamsia di negara berkembang berkisar antara 0,3 % - 0,7 %. Sebelum kejang, kondisi ini didahului dengan gejala subjektif, yaitu nyeri kepala di daerah frontal, nyeri episgastrium, penglihatan semakin kabur, dan terdapat mual muntah dan hasil pemeriksaan menunjukkan hiper-refleksia atau mudah terangsang. Eklamsi adalah Penyakit akut dengan kejang dan coma pada wanita hamil dan dalam nifas dengan hipertensi, oedema dan proteinuria (Obtetri Patologi,R. Sulaeman Sastrowinata, 1981 ). Eklamsi lebih sering terjadi pada primigravidarum dari pada multipara (Obtetri Patologi,R. Sulaeman Sastrowinata, 1981 ).

2.2 Etiologi Penyebab eklampsi dan pre eklampsi sampai sekarang belum diketahui. Tetapi ada teori yang dapat menjelaskan tentang penyebab eklampsi dan pre eklampsi yaitu : a. Sebab bertambahnya frekuensi pada primigraviditas, kehamilan ganda, hidramnion, dan mola hidatidosa.

b. Sebab bertambahnya frekuensi yang makin tuanya kehamilan c. Sebab dapat terjadinya perbaikan keadaan penderita dengan kematian janin dalam uterus d. Sebab jarangnya terjadi eklampsi pada kehamilan kehamilan berikutnya e. Sebab timbulnya hipertensi, edema, proteinuria, kejang dan koma 2.3 PatofisiologiHipertensi Pe perfusi placenta Protein uria Spasme

ginjal aliran darah filtrasi glomelurus protein urin

Otak aliran darah ke otak

Paru aliran pembuluh darah

Hati fungsi jar. Hati odema

uri/placenta PD pe aliran darah perfusi jaringan (G3 placenta) G3 pada janin ( pertumbuhan )

rahim pe reflek penyempitan bayi prematur (BBLR)

odema cerebri tekanan intrakranial Kejang (eklamsi) O2 me

decom cordis nyeri uluh hati G3 nyaman nyeri b/d kerusakan kortekx otak

sesak hipoxia

hipoxia b/d menurunnya O2 ke otak

Gawat janin

kematian janin

- BBLR - Prematur

Hipoksia

Hipotermi

Asphiksia (asma)

2.4 Manifestasi Klinis

1. Koma lama 2. Nadi diatas 120 3. Suhu diatas 39c 4. Tensi diatas 160 mmHg 5. Lebih dari 10 serangan 6. Proteinuria 10 gram sehari atau lebih 7. Tidak adanya edema (Gejala-gejala yang memberatkan Prognosa Oleh Eden) Oedema paru dan apopleksi merupakan keadaan yang biasanya mendahului kematian. Jika deuresi lebih dari 800 cc dalam 24 jam atau 200 cc tiap 6 jam maka prognosa agak membaik. Sebaliknya oliguri dan uri merupakan gejala yang buruk. Multipara usia diatas 35 keadaan waktu MRS mempengaruhi prognosa lebih buruk

2.5 Komplikasi 1. Komplikasi ibu Sianosis Aspirasi air ludah menambah gangguan fungsi paru Perdarahan otak dan kegagalan jantung mendadak Lidah tergigit Jatuh dan terjadi perlukaan dan fraktur Gangguan fungsi ginjal Perdarahan atau abrasio retina Gangguan fungsi hati dan menimbulkan ikterus 2. Komplikasi janin dalam janin Asfiksia mendadak

Solusio placenta Persalinan prematur 2.6 Pemeriksaan Penunjang 1. Involusi adalah perubahan yang merupakan proses kembalinya alat kandungan atau uterus dan jalan lahir setelah bayi dilahirkan hingga mencapai keadaan seperti sebelum hamil. Proses involusi terjadi karena adanya: a. Autolysis yaitu penghancuran jaringan otot-otot uterus yang tumbuh karena adanya hiperplasi, dan jaringan otot yang membesar menjadi lebih panjang sepuluh kali dan menjadi lima kali lebih tebal dari sewaktu masa hamil akan susut kembali mencapai keadaan semula. Penghancuran jaringan tersebut akan diserap oleh darah kemudian dikeluarkan oleh ginjal yang menyebabkan ibu mengalami beser kencing setelah melahirkan. b. Aktifitas otot-otot yaitu adanya kontrasi dan retraksi dari otot-otot setelah anak lahir yang diperlukan untuk menjepit pembuluh darah yang pecah karena adanya pelepasan plasenta dan berguna untuk mengeluarkan isi uterus yang tidak berguna. Karena kontraksi dan retraksi menyebabkan terganggunya peredaran darah uterus yang mengakibatkan jaringan otot kurang zat yang diperlukan sehingga ukuran jaringan otot menjadi lebih kecil. c. Ischemia yaitu kekurangan darah pada uterus yang menyebabkan atropi pada jaringan otot uterus. 2. Perubahan pada cervix dan vagina Beberapa hari setelah persalinan ostium eksternum dapat dilalui oleh 2 jari, pada akhir minggu pertama dapat dilalui oleh sembuh. Vagina yang 1 jari saja. Karena hiperplasi ini dan karena karena retraksi dari cervix, robekan cervix jadi sangat diregang waktu persalinan, lambat laun mencapai ukuran yang normal. Pada minggu ke 3 post partum ruggae mulai nampak kembali. Rasa sakit yang disebut after pains ( meriang atau mulesmules) disebabkan koktraksi rahim biasanya berlangsung 3 4 hari pasca

persalinan. Perlu diberikan pengertian pada ibu mengenai hal ini dan bila terlalu mengganggu analgesik.( Cunningham, 430) 3. Lochia Lochia adalah cairan yang dikeluarkan dari uterus melalui vagina dalam masa nifas. Lochia bersifat alkalis, jumlahnya lebih banyak dari darah menstruasi. Lochia ini berbau anyir dalam keadaan normal, tetapi tidak busuk. Pengeluaran lochia dapat dibagi berdasarkan jumlah dan warnanya yaitu lokia rubra berwarna merah dan hitam terdiri dari sel desidua, verniks kaseosa, rambut lanugo, sisa mekonium, sisa darah dan keluar mulai hari pertama sampai hari ketiga. Lochia sanginolenta berwarna putih bercampur merah , mulai hari ketiga sampai hari ketujuh. Lochia serosa berwarna kekuningan dari hari ketujuh sampai hari keempat belas. Lochia alba berwarna putih setelah hari keempat belas.(Manuaba, 1998: 193)

4. Dinding perut dan peritonium Setelah persalinan dinding perut longgar karena diregang begitu lama, biasanya akan pulih dalam 6 minggu. Ligamen fascia dan diafragma pelvis yang meregang pada waktu partus setelah bayi lahir berangsur angsur mengecil dan pulih kembali.Tidak jarang uterus jatuh ke belakang menjadi retrofleksi karena ligamentum rotundum jadi kendor. Untuk memulihkan kembali sebaiknya dengan latihan-latihan pasca persalinan.( Rustam M, 19