Resume Fix

download Resume Fix

of 35

  • date post

    20-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    168
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Resume Fix

PENDIDIKAN MORAL: KODE ETIK TOPIK I: PENGAMBILAN KEPUTUSAN ETIS PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN ETIS Pengambil keputusan tidak dapat dimulai sampai masalah yang ada teridentifikasi terlebih dahulu. Hal ini berarti juga mengenal lebih dalam prinsip etika professional secara umum dan prinsip spesifik dari disiplin professional. Menurut riset ada empat masalah yang paling sering menjadi sumber pelanggaran etika professional. Empat masalah tersebut antara lain :1. dual relationship yaitu hubungan antara professional dan klien yang

melebihi seharusnya mencakup hubungan finansial bahkan seksual;2. pelanggaran terhadap kepercayaan klien seperti tidak sengaja menceritakan

masalah klien kepada kerabat dan keluarga;3. memberikan treatment di luar kompetensi yang dimiliki; dan gagal

mengambil langkah dalam mencegah percobaan bunuh diri. 4. Pengambilan keputusan harus diawali dengan mengenali masalah yang ada terlebih dahulu (Steinman, 1998:17). Sarah O. Steinman dalam bukunya The Ethical Decision Making Manual for Helping Professionals menjelaskan proses terjadinya pengambilan keputusan. Proses tersebut digambarkan dengan tujuh tahap berikut: 1) Identifikasi standar etika Dalam melakukannya lebih baik bertanya dan mendiskusikannya dengan respected peer insting pribadi 2) Menetapkan kemungkinan jebakan etis 3) Membentuk respon awal Mendeskripsikan tindakan awal apa yang harus dilakukan berdasarkan analisis kode etik terkait sebelumnya. Hal-hal yang harus diperhatikan adalah a) apa yang harus dilakukan menurut kode etik, b) apa yang atau asisten untuk menghindari penggunaan

harus dilakukan menurut hukum, c) apa pengaruh sistuasi terhadap respon, d) respon awal. 4) Mempertimbangkan konsekuensi Konsekuensi jangka pendek seperti pihak mana yang akan diuntungkan dan dirugikan? Kemudian apakah akan timbul konflik pada pihak tertentu? Selain itu pertimbangkan juga konsekuensi jangka panjang. Konsekuensi jangka panjang dapat berupa mempertimbangkan semua konsekuansi yang mungkin timbul, apakah keputusan akan menyebabkan terjadinya suatu hak yang tidak diinginkan pada pihak tertentu? Pertimbangan konsekuensi mungkin tidak merubah respon tapi dapat merubah detail respon tersebut. 5) Menyiapkan resolusi etis6) Memperoleh feedback

Setiap profesional membutuhkan feedback atau umpan balik sebelum menyelesaikan dilema etika. Memperoleh feedback dapat dilakukan dengan bertukar pikiran dan mengoreksi ulang tindakan yang akan dilakukan dengan supervisor atau rekan kerja. 7) Mengambil tindakan (Steinman, 1998: 18-19) PERAN KODE ETIK DALAM PENGAMBILAN DAN PENERAPAN

KEPUTUSAN ETIS Di era modern seperti ini, isu-isu etika semakin umum diperbincangkan. Banyak yang menilai bahwa teori-teori etika yang sudah dikemukakan sejauh ini perlu diterapkan pada berbagai macam bidang yang ada, terutama pada bidang yang menyangkut keberlangsungan hidup seseorang. Empat cabang etika terapan yang mendapat perhatian paling banyak adalah etika kedokteran, etika bisnis, etika tentang perang dan damai, serta etika lingkungan hidup (Bertens, 2007:270). Namun pada dasarnya suatu permasalahan tidak dapat dilihat dari satu sisi saja, tapi juga perlu ditinjau dari berbagi macam perspektif ilmu lainnya. Misalnya adalah kasus euthanasia, sekilas kasus ini mungkin terkesan berfokus pada etika kedokteran, akan tetapi kasus ini sebenarnya juga melibatkan aspek-aspek

psikologis dan hukum. Oleh karena itu etika psikologi dan hukum patut dipertimbangkan pula dalam melakukan pengambilan keputusan etis pada kasus euthanasia. Produk nyata dari etika terapan adalah kode etik, yaitu pedoman tingkah laku moral suatu kelompok khusus (Bertens, 2007:280). Kode etik ini berisi ketentuan-ketentuan khusus yang mengatur kelompok tersebut untuk tetap berpegang teguh pada moralitas. Ketentuan-ketentuan yang terdapat di dalamnya merupakan hasil dari nilai dan cita-cita kelompok tersebut. Kelompok yang dimaksud di sini adalah mereka yang berasal dari suatu profesi dengan latar belakang pendidikan dan keahlian tertentu yang dimiliki secara tertutup oleh anggota dalam profesi tersebut. Dengan adanya kode etik ini, maka suatu profesi menjadi memiliki tanggung jawab khusus yang turut melindungi praktisi maupun klien. Melalui kode etik, klien pun akan semakin terjamin dari kecurigaan akan dipermainkan ketika meminta jasa suatu profesi. Kode etik dapat mengalami perubahan seiring dengan implikasi etis yang baru, sehingga dapat direvisi sewaktu-waktu. Agar kode etik ini berhasil, dibutuhkan pengawasan terus-menerus. Oleh karena itulah, biasanya kode etik diikuti sanksi-sanksi tertentu yang akan dikenai pada praktisi jika terjadi pelanggaran. Psikologi memiliki kode etik sendiri yang menjadi pedoman bagi para praktisi psikologi dalam melakukan praktek jasanya. Pengawasannya, untuk para praktisi psikologi Indonesia, dilakukan oleh Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI). Di dalam kode etik psikologi ini berisi empat belas bab, yaitu; I. II. III. IV. V. VI. VII. VIII. Pedoman Umum Mengatasi Isu Etika Kompetensi Hubungan antar Manusia Kerahasiaan Rekam dan Hasil Pemeriksaan Psikologi Iklan dan Pernyataan Publik Biaya Layanan Psikologi Pendidikan dan/atau Pelatihan

IX. X. XI. XII. XIII. XIV.

Penelitian dan Publikasi Psikologi Forensik Asesmen Intervensi Psikoedukasi Konseling Psikologi dan Terapi Psikologi Berdasarkan keempat belas bab di atas, dapat dilihat bahwa isi kode etik

psikologi telah berusaha untuk menjelaskan aturan-aturan praktisi psikologi secara lengkap. Hal ini tentunya sangat berperan besar dalam pengambilan keputusan etis dalam profesi bidang psikologi. Misalnya, seperti yang tertulis pada pasal 9 bahwa pengambilan keputusan harus berdasarkan pada pengetahuan ilmiah dan sikap profesional yang sudah teruji dan diterima secara luas atau universal dalam disiplin Ilmu Psikologi (Himpsi, 2010). Pengambilan keputusan yang dimaksud di sini tentunya termasuk keputusan yang etis, yang sesuai dengan kode etik psikologi. Berarti dalam pengambilan keputusan etis di profesi psikologi, harus memiliki dasar pengetahuan ilmiah dan sikap profesional yang sesuai dengan ilmu psikologi. Bayangkan saja jika suatu keputusan diambil hanya berdasarkan common sense dan tidak didukung oleh teori tentunya akan merugikan klien dan hal ini sudah melanggar pasal 9. Selain itu, dengan pertimbangan teori ilmiah yang sudah teruji maka praktisi psikologi dapat menganalisis dampak-dampak yang mungkin terjadi sehingga dapat mengambil keputusan yang etis dari pilihan-pilihan yang ada tersebut.

TOPIK II: ETIKA, MORAL DAN PERKEMBANGAN MORAL Etika Etika adalah ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan . Etika berasal dari kata ethos , yaitu kebiasaan yang baik . Menurut KBBI (1988), etika adalah 1. Ilmu ttg apa yg baik & apa yg buruk dan ttg hak & kewajiban moral (akhlak) 2. Kumpulan asas atau nilai yg berkenaan dg akhlak 3. Nilai mengenai benar & salah yg dianut suatu golongan atau masyarakat Dalam encyclopedia Britanica, etika dinyatakan sebagai filsafat moral, yaitu studi yang sistematik mengenai sifat dasar dari konsep-konsep nilai baik, buruk, harus, benar, salah, dan sebagainya. Berdasarkan uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa Etika lebih merupakan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan upaya menentukan perbuatan yang dilakukan manusia untuk dikatakan baik atau buruk. Dalam etika, terdapat etika deskriptif, etika normatif dan juga metaetika. Sedangkan dalam etika normatif terdapat etika umum dan juga etika khusus. Etika termasuk salah satu cabang filsafat yang paling tua. Etika adalah sebuah ilmu, karena ia menjalankan refleksi kritis, metodis, dan sistematis tentang tingkah laku manusia yang berkaitan dengan norma. Etika disebut juga filsafat praktis karena cabang ini langsung berhubungan dengan perilaku manusia, dengan yang harus atau tidak boleh dilakukan manusia Moral Moral berasal dari bahasa latin yaitu mos (jamak mores) yang berarti juga adat kebiasaan. Dalam kamus umum bahasa Indonesia dikatan bahwa moral adalah penentuan baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan.Moral dalam arti istilah adalah suatu istilah yang digunakan untuk menentukan batas-batas dari sifat, perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan yang secara layak dapat dikatakan benar, salah, baik atau buruk. Moral merupakan keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk (Bertens, 2002). Moral sebenarnya memuat dua segi yang berbeda yakni segi batiniah dan segi lahiriah (Hadiwardoyo,1990)

Perkembangan Moral TINGKAT PERTUMBUHAN Tingkat Pramoral 0-6 th Tahap 0 Perbedaan antara baik dan buruk belum berdasarkan kewibawaan atau norma-norma Tingkat Konvensional Pra- Tahap 1 hukuman serta takut untuk berkuasa Tahap 2 Anak cenderung ego-sentris dan melakukan respon Tingkat Konvensional Tahap 3 Orang Tahap 4 Orang berpegang pada ketertiban moral dengan aturannya sendiri Pasca Konvensional Tahap 5 atau Berprinsip Persetujuan Tahap 6 Hati nurani pribadi , yang ditandai oleh prinsip-prinsip etis dan universalitas TOPIK III: TANTANGAN RELATIVISME BUDAYA/ KULTURAL TERHADAP ETIKA demokratis, kontrak konsensus bebas Penyesalan atau penghukuman sosial,diri karena tidak mengikuti hati nuraninya berpegang pada keinginan persetujuan dari orang lain Rasa bersalah pada orang lain jika dantidak mengikuti tuntutan-tuntutan lahiriah Takut untuk akibat-akibat negatif TAHAP PERTUMBUHAN PERASAAN

Anak cenderung patuh dan menghindaridari perbuatan

Tantangan Relativisme Budaya/Kultural terhadap Etika Moralitas berbeda-beda dalam masyarakat dan merupakan kesepahaman yang pas untuk kebiasaan-kebiasaan disepakati bersama-sama. 1. 2. Setiap Budaya Mempunyai Kode Moral yang Berbeda Relativisme Kultural Relativisme kultural memiliki pemikiran bahwa tidak ada hal yang disebut dengan kebenaran universal dalam etika. Yang ada hanya kode-kode budaya yang bermacam ragam. Terdapat tuntutan-tuntutan yang diajukan oleh kaum