Responsi tonsilitis

download Responsi tonsilitis

of 27

  • date post

    11-Feb-2018
  • Category

    Documents

  • view

    223
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Responsi tonsilitis

  • 7/22/2019 Responsi tonsilitis

    1/27

    BAB I

    PENDAHULUAN

    Tumor hidung dan sinus paranasal pada umumnya jarang ditemukan, baik yang jinak

    maupun yang ganas. Di Indonesia dan di luar negeri, kekerapan jenis yang ganas hanya sekitar 1

    % dari keganasan seluruh tubuh atau 3% dari seluruh keganasan di kepala dan leher. Hidung dan

    sinus paranasal atau juga disebut sinonasal merupakan rongga yang dibatasi oleh tulang-tulang

    wajah yang merupakan daerah yang terlindung sehingga tumor yang timbul di daerah ini sulit

    diketahui secara dini. Asal tumor primer juga sulit ditentukan, apakah dari hidung atau sinus

    karena biasanya pasien berobat dalam keadaan penyakit telah lanjut dan tumor sudah memenuhi

    rongga hidung dan seluruh sinus. 1

    Lokasi rongga hidung dan sinus paranasal membuat mereka sangat dekat dengan struktur

    vital. Keganasan sinonasal dapat tumbuh dengan ukuran yang cukup dan terapi agresif mungkin

    diperlukan di daerah dekat dasar tengkorak, orbit, saraf kranial, dan pembuluh darah

    vital. Meskipun jarang, keganasan sinonasal merupakan masalah yang cukup penting. Masalah

    ini diperburuk oleh fakta bahwa manifestasi awal (misalnya, epistaksis sepihak, obstruksi

    hidung) meniru tanda-tanda dan gejala kondisi umum tetapi kurang serius. Oleh karena itu,

    pasien dan dokter sering mengabaikan atau meminimalkan presentasi awal dari tumor dan

    mengobati tahap awal keganasan sebagai gangguan sinonasal jinak. Anatomi rongga hidung dansinus paranasal menyebabkan tumor untuk timbul dalam stadium lanjut dan mempersulit

    pengobatan mereka.Mereka berada berdekatan dengan struktur penting seperti dasar tengkorak,

    orbit, saraf kranial, dan struktur vaskular penting.Morbiditas jelas dan komplikasi yang terkait

    dengan bedah reseksi dari tumor tersebut dapat parah. Pengobatan keganasan sinonasal paling

    baik dilakukan melalui tim multidisiplin. Secara optimal, ini termasuk kepala dan leher bedah

    oncologic, rekonstruksi bedah, maxillofacial prosthodontist, onkologi radiasi, ahli onkologi

    medis, neuroradiologist, ahli patologi, ahli bedah saraf, dan pasien.3

    Keganasan sinonasal jarang terjadi. Mereka lebih umum di Asia dan Afrika daripada di

    Amerika Serikat.Di bagian Asia, keganasan sinonasal adalah peringkat kedua yang paling umum

    dan kanker leher karsinoma nasofaring belakang. Pria yang terkena 1,5 kali lebih sering

    dibandingkan wanita, dan 80% dari tumor ini terjadi pada orang berusia 45-85 tahun. Sekitar 60-

    70% dari keganasan sinonasal terjadi pada sinus maksilaris dan 20-30% terjadi pada rongga

    hidung sendiri. Diperkirakan 10-15% terjadi pada sel-sel udara ethmoid (sinus), dengan

    minoritas sisa neoplasma ditemukan di sinus frontal dan sphenoid.3

    1

  • 7/22/2019 Responsi tonsilitis

    2/27

    Kejadian tahunan tumor hidung di Amerika Serikat diperkirakan kurang dari 1 dalam

    100.000 orang per tahun. Tumor ini paling sering terjadi dalam putih, dan insiden pada laki-laki

    adalah dua kali dari perempuan. Tumor epitel yang paling sering hadir dalam dekade kelima dan

    keenam usia.4

    2

  • 7/22/2019 Responsi tonsilitis

    3/27

    BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    A. Anatomi

    Kavum nasi berbentuk terowongan dari depan ke belakang, dipisahkan oleh

    septum nasi di bagian tengahnya menjadi kavum nasi kanan dan kiri.2,3

    1. Septum Nasi

    Septum nasi dibentuk oleh tulang dan tulang rawan. Dilapisi oleh perikondrium pada

    bagian tulang rawan dan periosteum pada bagian tulang, sedangkan di luarnya dilapisi

    juga dengan mukosa nasal.2,3

    Bagian tulang terdiri dari :

    Lamina perpendikularis os etmoid

    Lamina perpendikularis os etmoid terletak pada bagian supero-posterior dari

    septum nasi dan berlanjut ke atas membentuk lamina kribriformis dan krista

    gali.

    Os vomer

    Os vomer terletak pada bagian postero-inferior. Tepi belakang os vomer

    merupakan ujung bebas dari septum nasi.

    Krista nasalis os maksila

    Tepi bawah os vomer melekat pada krista nasalis os maksila dan os palatina.

    Krista nasalis palatina.

    Bagian tulang rawan terdiri dari :

    Kartilago septum (kartilago kuadrangularis)

    Kartilago septum melekat dengan erat pada os nasal, lamina perpendikularis

    os etmoid, os vomer dan krista nasalis os maksila oleh serat kolagen.

    Kolumela

    Kedua lubang berbentuk elips disebut nares, dipisahkan satu sama lain oleh

    sekat tulang rawan dan kulit yang disebut kolumela.

    2. Pembuluh darah

    Bagian postero-inferior septum nasi diperdarahi oleh arteri sfenopalatina yang

    merupakan cabang dari arteri maksilaris (dari a,karotis eksterna). Septum nasi bagian

    antero-inferior diperdarahi oleh arteri palatina mayor (juga cabang dari a.maksilaris)

    yang masuk melalui kanalis insisivus. Arteri labialis superior (cabang dari a.fasialis)

    3

  • 7/22/2019 Responsi tonsilitis

    4/27

    memperdarahi septum bagian anterior mengadakan anastomose membentuk fleksus

    Kiesselbach yang terletak lebih superfisial pada bagian anterior septum. Daerah ini

    disebut juga Littles area yang merupakan sumber perdarahan pada epistaksis. Arteri

    karotis interna memperdarahi septum nasi bagian superior melalui arteri etmoidalis

    anterior dan superior. Vena sfenopalatina mengalirkan darah balik dari bagian

    posterior septum ke fleksus pterigoideus dan dari bagian anterior septum ke vena

    fasialis. Pada superior vena etmoidalis mengalirkan darah melalui vena oftalmika

    yang berhubungan dengan sinus sagitalis superior.2,3

    3. Sinus Paranasal

    Sinus paranasal adalah rongga-rongga di dalam tulang kepala yang terletak di

    sekitar nasal dan mempunyai hubungan dengan kavum nasi melalui ostiumnya.

    Terdapat empat pasang sinus paranasal, yaitu sinus frontalis, sfenoidalis, etmoidalis,

    dan maksilaris. Sinus maksilaris dan etmoidalis mulai berkembang selama dalam

    masa kehamilan. Sinus maksilaris berkembang secara cepat hingga usia tiga tahun dan

    kemudian mulai lagi saat usia tujuh tahun hingga 18 tahun dan saat itu juga air-cell

    ethmoid tumbuh dari tiga atau empat sel menjadi 10-15 sel per sisi hingga mencapai

    usia 12 tahun.2,3

    Sinus maksilaris adalah sinus paranasal pertama yang mulai berkembang

    dalam janin manusia. Sinus ini mulai berkembang pada dinding lateral nasal

    sekitar hari 65 kehamilan. Sinus ini perlahan membesar tetapi tidak tampak

    pada foto polos sampai bayi berusia 4-5 bulan. Pertumbuhan dari sinus ini

    bifasik dengan periode pertama di mulai pada usia tiga tahun dan tahap kedua

    di mulai lagi pada usia tujuh hingga 12 tahun. Selama tahap kedua ini,

    pneumatisasi meluas secara menyamping hingga dinding lateral mata dan

    bagian inferior ke prosesus alveolaris bersamaan dengan pertumbuhan gigi

    permanen. Perluasan lambat dari sinus maksilaris ini berlanjut hingga umur 18

    tahun dengan kapasitasnya pada orang dewasa rata-rata 14,75 ml. Sinus

    maksilaris mengalirkan sekret ke dalam meatus media.2,3

    Sel etmoid mulai berkembang dalam bulan ketiga pada proses perkembangan

    janin. Sinus etmoidalis anterior merupakan evaginasi dari dinding lateral nasal

    dan bercabang ke samping dengan membentuk sinus etmoidalis posterior dan

    terbentuk pada bulan keempat kehamilan. Saat dilahirkan sel ini diisi oleh

    cairan sehingga sukar untuk dilihat dengan rontgen. Saat usia satu tahun sinus

    4

  • 7/22/2019 Responsi tonsilitis

    5/27

    etmoidalis baru bisa dideteksi melalui foto polos dan setelah itu membesar

    dengan cepat hingga usia 12 tahun. Sinus etmoidalis anterior dan posterior ini

    dibatasi oleh lamina basalis. Jumlah sel berkisar 4-17 sel pada sisi masing-

    masing dengan total volume rata-rata 14-15 ml. Sinus etmoidalis anterior

    mengalirkan sekret ke dalam meatus media, sedangkan sinus etmoidalis

    posterior mengalirkan sekretnya ke dalam meatus superior. Menurut Kennedy,

    diseksi sel-sel etmoid anterior dan posterior harus dilakukan dengan hati-hati

    karena terdapat dua daerah rawan. Daerah pertama adalah daerah arteri etmoid

    anterior yang merupakan cabang arteri oftalmika, terdapat di atap sinus

    etmoidalis dan membentuk batas posterior resesus frontal. Arteri ini berada

    pada dinding koronal yang sama dengan dinding anterior bula etmoid. Daerah

    yang kedua adalah variasi anatomi yang disebut dengan sel onodi. Sel onodi

    adalah sel udara etmoid posterior yang berpneumatisasi ke postero-lateral atau

    postero-superior terhadap dinding depan sinus sfenoidalis dan melingkari

    nervus optikus dan dapat dikira sebagai sinus sfenoidalis.2,3

    Sinus frontalis mulai berkembang sepanjang bulan keempat kehamilan,

    merupakan satu perluasan ke arah atas dari sel etmoidal anterosuperior. Sinus

    frontalis jarang tampak pada pemeriksaan foto polos sebelum umur lima atau

    enam tahun setelah itu perlahan tumbuh, total volume 6-7 ml. Pneumatisasi

    sinus frontalis mengalami kegagalan pengembangan pada salah satu sisi

    sekitar 4-15% populasi. Sinus frontalis mengalirkan sekretnya ke dalam

    resesus frontalis.2,3

    Sinus sfenoidalis mulai tumbuh sepanjang bulan keempat masa kehamilan

    yang merupakan evaginasi mukosa dari bagian superoposterior kavum nasi.

    Sinus ini berupa suara takikan kecil di dalam os sfenoid sampai umur tiga

    tahun ketika mulai pneumatisasi lebih lanjut, Pertumbuhan cepat untuk

    mencapai tingkat sella tursika pada umur tujuh tahun dan menjadi ukuran

    orang dewasa setelah umur 18 tahun, total volume 7,5 ml. Sinus sfenoidalis

    mengalirkan sek