renungan 1

Click here to load reader

  • date post

    14-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    262
  • download

    0

Embed Size (px)

description

jjj

Transcript of renungan 1

Dear all,Senang sekali bisa berjumpa dengan teman-teman dalam notes kedua saya di awal tahun 2013 ini. Kali ini saya ingin share sesuatu yang ku terima di awal tahun 2013 ini. As usual, di awal tahun, saya selalu meminta tuntunan Tuhan untuk berjalan sepanjang tahun 2013 ini. Dan Tuhan memberikan saya ayat yang sudah bisa dan sering kita dengar, bahkan sering kita ucapkan. Namun dari ayat-ayat ini, saya menemukan hal-hal yang sangat luar biasa, yang sebelumnya tidak pernah saya temukan. Oleh karena itu, saya ingin share hal ini kepada teman-teman.Ayat itu berbunyiBeginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk.Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.(Yerima 17: 5-8)Saya percaya ini ayat yang biasa kita dengar, dan dalam pemahaman awam, kita mengerti apa maksud dari ayat ini. Bahwa kita harus mengandalkan Tuhan dan bukan kekuatan kita sendiri. So, whats new? Bukankah ini adalah hal yang juga sudah kita ketahui?Well, ketika aku mulai membaca dan merenungkan ayat ini, aku mulai mendapati pertanyaan dalam hati ku Apa maksudnya mengandalkan Tuhan? Seperti apa itu mengandalkan Tuhan? Yang bagimanakah yang termasuk dalam mengandalkan Tuhan dan yang bagaimanakah yang termasuk mengandalkan kekuatan sendiri?Pernah tidak teman-teman bertanya hal seperti itu? Pernahkah terpikirkan seperti apa sich sebenarnya mengandalkan Tuhan itu?Kalau ayat ini adalah yang Tuhan berikan kepada saya menjadi pedoman selama satu tahun ini, artinya ayat ini sangat penting dan tidak bisa dianggap lalu. Ayat ini tidak bisa saya anggap enteng dan saya anggap saya mengerti dengan pengertian saya yang lama. I must get serious with these verses. So, I start to research.As always, saya mulai melihat ayat tersebut dalam terjemahan bahasa inggrisnya.Dalam berbagai terjemahan inggris yang saya temukan, saya tidak menemukan ada kata rely on atau relied on atau count on yang merupakan terjemahan inggris dari kata mengandalkan. Namun saya menemukan satu kata yang dipakai untuk menterjemahkan kata mengandalkan yaitu kata TRUST.Trust atau yang dalam bahasa Indonesianya adalah percaya dipakai untuk menterjemahkan kata mengandalkan. Namun kalau kita pakai kata percaya, maka akan sangat janggal kalimatnya jika dikatakan terkutuklah orang yang percaya kepada manusia. Well, apakah ini maksudnya kita tidak boleh percaya kepada orang lain? Apakah ini maksudnya kita harus menaruh curiga atau sikap waspada terhadap orang lain? Saya rasa tidak begitu.Maka saya terus mencari dan akhirnya saya menemukan sesuatu yang membukakan mata saya tentang apa itu sebenarnya mengandalkan Tuhan. Kata mengandalkan atau trust dalam bahasa aslinya dipakai kataBitachondan dari sinilah pencaharian saya dimulai.Secara harafiaf, Bitachon diterjemahkan sebagai TRUST atau percaya. Namun ada suatu pengertian yang sangat dalam tentang kata Bitachon ini yang saya ingin share kepada teman-teman.Sebelumnya, aku ingin membahas sedikit beberapa pengertian yang menurut ku kurang tepat dalam kita mengerti dan memaknai kata mengandalkan ataupun percaya ini.Seringkali ketika kita mendengar kata Mengandalkan Tuhan maka yang terlindas dalam pemikiran kita adalah adanya suatu intervensi mujizat supernatural yang tiba-tiba terjadi. Saya masih ingat ketika salah seorang teman saya ikut dalam suatu kepanitiaan natal di gerejanya. Dia bercerita bahwa dana yang mereka butuhkan cukup besar untuk menyelenggarakan natal yang cukup heboh dan semarak.Suatu ketika dalam suatu pembahasan rapat tentang dana yang dibutuhkan, diketahui bahwa dana yang berasal dari kolekte mingguan ataupun sumbangan jemaat tidak akan bisa mencukupi budget dari natal tersebut. Oleh karena itu dibutuhkan cara lain untuk mendapatkan dana. Entah memang mereka malas berpikir, tidak puny ide, malas bekerja atau memang terlalu rohani, beberapa petinggi kepanitiian tersebut mulai berkata Sudah, andalkan Tuhan saja, Tuhan akan cukupkan. Mereka lalu mulai memompa semangat dan memotivasi para panitia dengan kata-kata andalkan Tuhan saja, maka Tuhan akan bereskan kekurangan dana ini tanpa ada tindakan konkrit apapun. Namun benarkah itu yang dimaksud dengan mengandalkan Tuhan?Teman saya yang lainnya juga pernah bercerita bahwa gerejanya ingin membangun gedung gereja yang baru. Panitia pencari dana pun dibentuk. Panitia ini pun mulai melakukan berbagai cara dan strategi untuk bisa mendapatkan dana pembangunan, mulai dari mencari donator, mengadakan bazaar, kolekte tambahan dll. Namun yang terjadi adalah beberapa petinggi gereja tersebut mulai mengatakan bahwa panitia tersebut sudah tidak lagi mengandalkan Tuhan dan mengandalkan kekuatan sendiri. Mereka mengatakan bahwa cara-cara mereka mencari dana adalah cara-cara duniawa dan tidak alkitabiah.Mereka berpendapat kalau pembangunan ini adalah kehendak Tuhan, maka Tuhan akan cukupkan biayanya, Tuhan akan datangkan donator dengan sendirinya ke gereja tersebut. Apakah itu yang dikatakan benar-benar mengandalkan Tuhan? Lalu apakah ketika kita mulai menjalankan ide-ide kita, melakukan berbagai strategi, rencana dan persiapan adalah bentuk kita mengandalkan kekuatan kita sendiri?Terlalu sering saya menemukan banyak dari kita memakai kata mengandalkan Tuhan untuk menutupi kemalasan kita dan berharap terjadi suatu mujizat yang memudahkan kita dalam mencapai sesuatu. Sering kali kata mengandalkan Tuhan itu artinya adalah Tuhan akan lakukan segala sesuatunya dan kita hanya tinggal tenang-tenang saja menunggu Tuhan menyelesaikan semua permasalahan dan persoalan kita. Seringkali kata mengandalkan Tuhan kita artikan sebagai suatu usaha tidak memakai pikiran, otak, strategi, dan ide kita dalam menjalankan sesuatu.Sudah terlalu sering kata mengandalkan Tuhan dipakai untuk memberikan semangat semu kepada seseorang yang sedang kesusahan karena kita tidak tahu harus memberikan saran ataupun strategi apa kepada mereka.Sebagai contoh ketika seseorang berkata bahwa sudah 6 bulan ini dia belum diterima bekerja diperusahaan manapun, kita dengan cepat dan reflek akan berkata tetap berdoa dan andalkan Tuhan yaWell, seandainya orang tersebut bertanya bagaimana caranya mengandalkan Tuhan? Memangnya selama ini saya tidak mengandalkan Tuhan? Saya sudah berdoa setiap hari, tetapi tetap tidak ada panggilan, apakah artinya saya kurang mengandalkan Tuhan? apa kira-kira yang akan teman-teman jawab?Dalam situasi seperti itu, kata-kata tetap berdoa dan andalkan Tuhan ya seringkali hanya pemanis dan pemberi harapan semu karena kita stuck dan tidak bisa memberikan advice lainnya. Seharusnya kalimat tersebut adalah kalimat terakhir yang kita ucapkan setelah sebelumnya memberikan advice yang tepat sasaran seperti, bagaimana cara penulisan cv yang baik, bagaimana cara apply cv yang benar, media apa saja yang sudah dia gunakan? Apakah pekerjaan yang dia lamar memang sesuai dengan pendidikannya? Dll.Nah, kembali kepada pembahasan kita sebelumnya, apakah sebenarnya yang dimaksud dengan mengandalkan Tuhan? Persepsi yang muncul ketika kita mendengar kata mempercayai Tuhan atau mengandalkan Tuhan adalah apapun yang terjadi kepada kita, semuanya adalah hal-hal yang baik. Kita percaya bahwa katera Tuhan itu baik, maka tidak akan ada hal yang buruk yang menimpa kita. Tidak perduli tindakan apapun yang kita lakukan, karena kita mempercayai Dia, kita mengandalkan Dia, maka semuanya akan baik-baik saja. Tetapi ituSALAH BESAR..!!KataBitachonatau trust atau mengandalkan Tuhan artinya adalah mempercayai (1) Tuhan menciptakan segala sesuatunya, kejadian demi kejadian dalam rangka untuk merefleksikan keberadaanNya, keterlibatanNya, dan kasih sayangNya. (2) keyakinan bahwa kita tidak bisa, bahkan untuk sedetikpun, bisa ada tanpa penyertaan dari tanganNya yang kuat.Kata Bitachon artinya menjadi seperti pohon yang akarnya menjalar sampai kedalaman bumi untuk memperoleh sumber-sumber makanan yang dibutuhkan untuk hidup , bertumbuh dan berbuah.Thats why Tuhan mengatakan bahwa Dia adalah pokok anggur yang benar, dan kita adalah ranting-rantingnya, dan tanpa di dalam Dia, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Itu yang disebut mengandalkan Tuhan.Mengandalkan/mempercayai Tuhan tidak berarti bahwa keadaan kita akan selalu baik-baik saja. Itu tidak berarti kita bisa berjalan sendirian di tengah malam di daerah yang rawan dan berharap tidak akan diganggu orang jahat. Itu tidak berarti mau seberapa cepatpun kita mengemudi di jalan raya, tidak akan terjadi kecelakaan. Itu namanya mempermainkan Tuhan!Nah, kata Bitachon bukanlah suatu kata pasif, melainkan suatu kata aktif yang artinya mengandalkan Tuhan, mempercayai Tuhan, menuntut kita untuk bertindak sebagai bukti bahwa kita mengandalkan dan mempercayai Dia. Kata Bitachon membuat kita mengerti bahwa kita memiliki keyakinan untuk bertindak, untuk mengeluarkan semua potensi kita, kerja keras kita, ide-ide kita, strategi kita untuk dapat membuat apa yang akan kita kerjakan berhasil.Bitachon bukanlah suatu kata pasif dimana kita menunggu mujizat dan tidak bertindak apa-apa. Justru mengandalkan Tuhan adalah suatu tindakan supranatural yang kita lakukan. Why? Karena ditengah-tengah setiap masalah, kesusahan, rintangan, tantangan yang ada di depan kita, ataupun yang sedang kita alami saat ini, kita bisa dengan yakin berkata Segala sesuatu dapat ku tanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepada ku, ketika Tuhan di pihakku, siapakah lawan ku dan terus berjalan menghadapi setiap tantangan.Bitachon juga bisa berartiTo lean on, feel safe, confident. Dari p