RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) ... dihasilkan dokumen RKPD yang berkualitas. Dokumen RKPD...

Click here to load reader

download RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) ... dihasilkan dokumen RKPD yang berkualitas. Dokumen RKPD Kabupaten

of 278

  • date post

    17-Jun-2021
  • Category

    Documents

  • view

    0
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) ... dihasilkan dokumen RKPD yang berkualitas. Dokumen RKPD...

RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KabupatenBantul 55711
Website : www.bantulkab.go.id
KABUPATEN BANTUL
TAHUN 2017
TENTANG
PemerintahKabupatenBantul I-1
2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-
Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, pemerintah
kabupaten diwajibkan menyusun Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD)
yang berpedoman pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah
(RPJMD) kabupaten serta mengacu pada RPJMD provinsidan RPJMN.
Berpedoman pada RPJMD kabupaten dimaksudkan untuk menjamin
keselarasan prioritas dan sasaran pembangunan serta program/kegiatan
tahunan dengan yang telah ditetapkan dalam RPJMD. Sedangkan mengacu
pada RPJMD provinsidan RPJMN dimaksudkan untuk menjamin keselarasan
program/kegiatan pembangunan daerah kabupaten dengan program/kegiatan
pembangunan daerah provinsi dan prioritas pembangunan nasional.
Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) adalah dokumen
perencanaan Pemerintah Daerah untuk periode satu tahun. Sebagai suatu
dokumen resmi rencana daerah, RKPD mempunyai kedudukan strategis, yaitu
menjembatani antara perencanaan strategis jangka menengah dengan
perencanaan dan penganggaran tahunan. Dokumen RKPD secara umum
mempunyai nilai sanga tstrategis dan penting, antaralain :
1. Merupakan instrument pelaksanaan RPJMD;
2. MenjadiacuanpenyusunanRencanaKerja SKPD, berupa program/kegiatan
SKPD dan/ataulintas SKPD;
RPJMD;
4. Menjadi landasan penyusunan KUA dan PPAS dalam rangka penyusunan
RAPBD;
5. Menjadi bahan evaluasi rancangan Peraturan Daerah tentang APBD untuk
memastikan APBD telah disusun berlandaskan RKPD.
RKPD Kabupaten Bantul Tahun 2017merupakan dokumen transisi
sebelum RPJMD 2016-2021 ditetapkan. Sehingga penyusunannya mengacu
RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH 2017
PemerintahKabupatenBantul I-2
dan mempedomani pada RPJPD Tahun 2006-2025, RKPD DIY Tahun 2017 dan
RKP Tahun 2017. Mengingat posisi strategis dokumen RKPD dalam
penyelenggaraan pemerintahan maka perhatian yang besar harus diberikan
sejak awal penyusunan hingga penetapan dokumen RKPD sehingga dapat
dihasilkan dokumen RKPD yang berkualitas.
Dokumen RKPD Kabupaten Bantul Tahun 2017disusun dengan tahapan
sebagai berikut:
ditetapkan. RKPD Kabupaten Bantul Tahun 2016 yang telah ditetapkan dijadikan
pedoman penyempurnaan rancangan Renja SKPD Kabupaten Bantul Tahun
2017. Selain itu, RKPD yang telah ditetapkan tersebut digunakan sebagai bahan
evaluasi rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Bantul tentang APBD
Kabupaten Bantul Tahun 2017 untuk memastikan APBD KabupatenBantul 2017
telah disusun berlandaskan RKPD Kabupaten Bantul Tahun 2017.
1.2. DASAR HUKUM
sebagai berikut:
Daerah KabupatenDalamLingkungan Daerah Istimewa Jogjakarta;
2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);
3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH 2017
PemerintahKabupatenBantul I-3
antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4438);
Indonesia Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4700);
6. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan UU No 9 Tahun
2015 tentang Perubahan kedua Atas UU No 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah;
7. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 1950 tentang
Penetapan Mulai Berlakunya Undang-Undang Tahun 1950 Nomor 12, 13, 14
dan 15;
Pengelolaan Keuangan Daerah;
9. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2008 tentang
Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan
Rencana Pembangunan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2008 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4817);
10. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2008 tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional;
11. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2015 tentang
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2015 – 2019;
12. Peraturan Presiden Nomor45 Tahun 2016 tentang Rencana Kerja
Pemerintah Tahun 2017;
13. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali
terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011
tentang Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang
Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;
PemerintahKabupatenBantul I-4
14. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentangPelaksanaan
Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan Tatacara
Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana
Pembangunan Daerah;
15. Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 6 Tahun
2013 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun
2012 – 2017 sebagaimana telah diubah beberapa kali terkahir dengan
Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 18 Tahun
2015 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Daerah Provinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta Nomor 6 Tahun 2013 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Daerah Tahun 2012 – 2017;
16. Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 32 Tahun 2016
tentang Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2017;
17. Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 14 Tahun 2005 tentang
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten Bantul Tahun
2006-2025 Sebagaimana Telah Diubah Dengan Peraturan Daerah
Kabupaten Bantul Nomor 12 Tahun 2010;
18. Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 13 Tahun 2007 tentang
Penetapan Urusan Pemerintahan Wajib dan Pilihan Kabupaten Bantul
(Lembaran Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2007 Seri D Nomor 11);
19. Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 24 Tahun 2008 tentang Tata
Cara Penyusunan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Pelaksanaan
Musyawarah Perencanaan Pembangunan Daerah (Lembaran Daerah
Kabupaten Bantul Tahun 2008 Seri D);
20. Peraturan Daerah KabupatenBantulNomor 04 Tahun 2011 tentangRencana
Tata Ruang Wilayah KabupatenBantulTahun 2010 – 2030.
1.3. HUBUNGAN ANTAR DOKUMEN
memuat rancangan kerangka ekonomi daerah, prioritas pembangunan daerah,
rencana kerja dan pendanaannya dengan mengacu kepada Rencana Kerja
Pemerintah (RKP). RKPD merupakan acuan bagi daerah dalam menyusun
RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH 2017
PemerintahKabupatenBantul I-5
demikian Kepala Daerah dan DPRD dalam menentukan Kebijakan Umum APBD
(KUA), serta penentuan Prioritas dan Pagu Anggaran Sementara (PPAS)
didasarkan atas dokumen RKPD. KUA dan PPAS yang telah disepakati
digunakan sebagai acuan dalam proses penyusunan APBD.
Dokumen RKPD merupakan acuan bagi SKPD dalam menyempurnakan
Rencana Kerja SKPD (Renja SKPD) untuk tahun yang sama. Proses
penyusunan RKPD dilakukan secara simultan dan sifatnya saling memberi
masukan dengan proses penyusunanRenja SKPD.
Gambar 1.1
1.4. SISTEMATIKA DOKUMEN RKPD
sistematika penulisan sebagai berikut:
sistematika dokumen RKPD serta maksud dan tujuan.
RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH 2017
PemerintahKabupatenBantul I-6
CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN
penyelenggaraan pemerintahan, dan permasalahan pembangunan,
serta evaluasi pelaksanaan program dan kegiatan RKPD sampai tahun
berjalan dan realisasi RPJMD.
KEUANGAN DAERAH
indikator pertumbuhan ekonomi daerah, sumber-sumber pendapatan
dan kebijakan pemerintah daerah yang diperlukan dalam pembangunan
ekonomi daerah meliputi pendapatan daerah, belanja daerah, dan
pembiayaan daerah.
berdasarkan hasil analisis terhadap hasi levaluasi pelaksanaan RKPD
tahun lalu dan capaian kinerja yang direncanakan dalam RPJMD,
identifikas iisu strategis dan masalah mendesak di tingkat daerah dan
nasional, rancangan ekonomi daerah beserta kerangka pendanaan,
serta usulan SKPD berdasarkan prakiraan maju pada RKPD tahun
sebelumnya.
Memuat rencana program dan kegiatan prioritas daerah yang disusun
berdasarkan evaluasi pembangunan tahunan, kedudukan tahun
rencana (RKPD), dan capaiankinerja yang direncanakan dalam RPJMD.
BAB VI PENUTUP
mewujudkan integrasi, sinkronisasi dan sinergitas pembangunan serta untuk
RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH 2017
PemerintahKabupatenBantul I-7
pelaksanaan, pengendalian, danpengawasanperencanaanpembangunandaerah.
menyusun program dankegiatan yang dianggarkan melalui Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) maupun Anggaran Pendapatan
danBelanja Negara (APBN) TahunAnggaran 2017.
RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH 2017
Pemerintah Kabupaten Bantul II-1
CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN
Analisis gambaran umum kondisi daerah memberikan gambaran sejauh
mana keberhasilan pembangunan daerah yang telah dilakukan dan untuk
mengidentifikasi faktor-faktor atau berbagai aspek yang perlu ditingkatkan untuk
optimalisasi pencapaian keberhasilan pembangunan daerah. Gambaran umum
kondisi daerah memberikan basis atau pijakan dalam proses perumusan
perencanaan pembangunan daerah, baik dari aspek geografi, demografi, serta
capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah beserta interpretasinya.
2.1.1. Aspek Geografi dan Demografi
Aspek geografi dan demografi merupakan salah satu aspek kondisi
kewilayahan yang mutlak diperhatikan sebagai ruang dan subyek
pembangunan. Aspek geografi memberikan gambaran mengenai
karakteristik lokasi dan wilayah, potensi pengembangan wilayah.
Sedangkan gambaran kondisi demografi, antara lain mencakup
perubahan penduduk, komposisi dan populasi masyarakat secara
keseluruhan atau kelompok dalam waktu tertentu.
2.1.1.1 Luas dan Batas Wilayah Administrasi
Kabupaten Bantul merupakan salah satu kabupaten dari lima
kabupaten/kota di Daerah Istimewa Yogyakartadengan batas administratif
sebagai berikut:
Sebelah Selatan : Samudera Indonesia
Sebelah Timur : Kabupaten Gunungkidul
Pemerintah Kabupaten Bantul II-2
Sumber : Bappeda Kabupaten Bantul, 2016
Luas wilayah Kabupaten Bantul adalah 50.685 ha (15,91% dari luas DIY)
dan terbagi atas terbagi atas 17 kecamatan. Kecamatan Dlingo merupakan
kecamatan yang mempunyai wilayah paling luas, yaitu 5.587 ha (11,02%)
sedangkan kecamatan dengan wilayah paling sempit adalah Kecamatan
Srandakan yaitu 1.832 ha (3,61%).Persentase luas wilayah menurut kecamatan
di Kabupaten Bantul disajikan pada gambar 2.2.
RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH 2017
Pemerintah Kabupaten Bantul II-3
Sumber : Bantul Dalam Angka, BPS, 2016
Selain itu, wilayah Kabupaten Bantul juga terbagi atas 75 desa dan 933
pedukuhan dengan jumlah desa dan pedukuhan yang terbanyak terletak di
Kecamatan Imogiri, yaitu 8 desa dan 72 pedukuhan. Sedangkan kecamatan
dengan dengan jumlah desa dan pedukuhan paling sedikit adalah Kecamatan
Srandakan, yaitu 2 desa dan 43 pedukuhan.
Berdasarkan statusnya, desa di Kabupaten Bantul dibagi menjadi desa
pedesaan (rural area) sebanyak 41 desa dan desa perkotaan (urban area)
sebanyak 34 desa. Secara rinci status desa di Kabupaten Bantuldapat dilihat
pada tabel berikut:
Pemerintah Kabupaten Bantul II-4
No Kecamatan
Status Desa
1 Srandakan Poncosari (24 dusun ) 11,86 Trimurti (19 dusun) 6,46
2 Sanden Sri Gading(20 dusun) 7,57
Gadingsari (18 dusun) 8,12
Gadingharjo (6 dusun) 3,08
Tirtosari(7 dusun) 2,39
Srihardono (17 dusun) 6,87 Panjang Rejo(16 dusun) 5,71
5 Bambanglipuro Sumber Mulyo(16 dusun) 8,20 Sidomulyo (15 dusun) 8,05
Mulyodadi (14dusun) 6,45
Gilangharjo (15dusun) 7,26
7 Pajangan Guwosari (15 dusun) 8,78 Triwidadi (22 dusun) 12,71
Sendangsari (18 dusun) 11,76
Palbapang (10 dusun) 5,52
Ringinharjo (6 dusun) 2,77
Bantul (12 dusun) 5,24
Trirenggo (17 dusun) 6,10
9 Jetis Patalan (20 dusun) 5,65 Trimulyo (12 dusun) 7,11
Canden (15 dusun ) 5,36 Sumber Agung (17 dusun) 6,35
10 Imogiri
Sriharjo (13 dusun) 6,32 Karangtalun (5 dusun ) 1,21
Karangtengah (6 dusun ) 2,88
Imogiri (4 dusun) 0,83
Wukirsari (16 dusun ) 15,39
Girirejo (5 dusun ) 3,24
Jagalan (2 dusun) 0,27
Banguntapan (11 dusun) 8,33
Singosaren (5 dusun) 0,67
Wirokerten (8 dusun) 3,86
Jambidan (7 dusun) 3,76
Potorono (9 dusun) 3,90
Wonolelo (8 dusun) 4,54 Pleret (11) 4,25
Segoroyoso (9 dusun) 4,87
14 Piyungan Sitimulyo (21 dusun) 9,40 Srimulyo (22 dusun) 14,56
Srimartani (17 dusun) 8,58
Timbulharjo (16 dusun) 7,78 Panggungharjo(14 dusun) 5,61
16 Kasihan
Bangunjiwo (19 dusun) 15,43
17 Sedayu Argodadi (14 dusun) 11,21 Argosari (13 dusun) 6,37
Argomulyo (14 dusun) 9,55 Argorejo (13 dusun) 7,23
RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH 2017
Pemerintah Kabupaten Bantul II-5
2.1.1.2 Letak dan Kondisi Geografis
Secara geografis, wilayah Kabupaten Bantul terletak antara 110o12'34"-
110o31'08" Bujur Timur dan 07o44'04"-08o00'27" Lintang Selatan.Apabila dilihat
dari bentang alamnya, wilayah Kabupaten Bantul terdiri dari daerah dataran
yang terletak pada bagian tengah dan daerah perbukitan yang terletak pada
bagian timur dan barat, serta kawasan pantai di sebelah selatan. Kondisi
bentang alam tersebut relatif membujur dari utara ke selatan. Wilayah
Kabupaten Bantul juga dilalui oleh sungai besar dan sungai kecil, sungai kecil
terdiri dari sungai kecil (lintas kabupaten) dan sungai kecil (dalam kabupaten)
yang disajikan pada Tabel 2.2.
Tabel 2.2 Sungai yang Melalui Wilayah Kabupaten Bantul
No. Nama
Sungai Panjang
Samudera Indonesia, Parangtritis Kretek
Pemerintah Kabupaten Bantul II-6
Pundong
Panjangrejo
Seloharjo
Srihardono
Sungai Opak, Selopamioro Imogiri
Samudera Indonesia, Poncosari Srandakan
Sungai Progo, Triharjo Pandak
Kali Gawe, Srimulyo Piyungan
Sungai Opak, Trimulyo Jetis
Sungai Opak, Wonokromo Pleret
Sungai Opak, Srimulyo Piyungan
Pemerintah Kabupaten Bantul II-7
6 Kedung Semerangan
9.860 Baturetno, Banguntapan
Sungai Gadjahwong, Pleret
Sungai Gawe, Srimartani, Piyungan
Sungai Progo, Argodadi Sedayu
Sungai Konteng, Argorejo Sedayu
Sungai Opak, Sitimulyo Piyungan
Baturetno
Jambidan
Potorono
Sungai Konteng, Argorejo Sedayu
Sungai Opak, Donotirto Kretek
1 Belik 5.130
Pemerintah Kabupaten Bantul II-8
Trimulyo Jetis
Bantul Sabdodadi
Sungai Oyo, Sriharjo Imogiri
Sungai Oyo, Terong Dlingo
Sungai Progo, Triwidadi Pajangan
Sungai Opak, Segoroyoso Pleret
Sungai Kajor, Selopamioro Imogiri
Sungai Oyo, Dlingo Dlingo
Wilayah Kabupaten Bantul juga merupakan salah satu bagian wilayah
Indonesia yang rawan bencana khususnya gempa bumi karena wilayah ini
terletak pada pertemuan lempeng Eurasia dan lempeng Indonesia-Australia.
Selain itu, wilayah Kabupaten Bantul juga terletak pada lintasan patahan/sesar
Opak yang masih aktif.Oleh karena itu, wilayah Kabupaten Bantul merupakan
kawasan rawan bencana gempa bumi tektonik.
RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH 2017
Pemerintah Kabupaten Bantul II-9
daerah perbukitan serta daerah pantai.Secara garis besar, satuan fisiografi
Kabupaten Bantul sebagian besar berada pada dataran aluvial (Fluvio Volcanic
Plain), perbukitan di sisi barat dan timur serta fisiografi pantai. Adapun
pembagian satuan fisiografi yang lebih rinci di Kabupaten Bantul adalah sebagai
berikut:
a. Daerah di bagian Timur merupakan jalur perbukitan berlereng terjal dengan
kemiringan lereng dominan curam (>70%) dan ketinggian mencapai 400
meter dari permukaan air laut, Daerah ini terbentuk oleh formasi Nglanggran
dan Wonosari;
b. Daerah di bagian Selatan ditempati oleh gisik dan gumuk-gumuk pasir
(fluviomarine) dengan kemiringan lereng datar-landai, Daerah ini terbentuk
oleh material lepas dengan ukuran pasir kerakal;
c. Daerah di bagian tengah merupakan dataran aluvial (Fluvio Volcanic Plain),
yang dipengaruhi oleh Graben Bantul dan terendapi oleh material vulkanik
dari endapan vulkanik Merapi;
d. Daerah di bagian Barat merupakan perbukitan rendah dengan kemiringan
lereng landai-curam dan ketinggian mencapai 150 meter dari permukaan air
laut, Daerah ini terbentuk oleh formasi Sentolo.
Wilayah Kabupaten Bantul sebagian besar memilikikemiringan 0 – 2%
(seluas 31.425 ha atau 62% dari luas wilayah Kabupaten Bantul) yang tersebar
di wilayah selatan, tengah, dan utara. Wilayah timur dan barat umumnya
memiliki kemiringan 2% hingga 40% dengan luas sebesar 15.251 ha (30,09%).
Sebagian kecil wilayah timur dan barat seluas 4.009 ha (7,9%) mempunyai
kemiringan lereng di atas 40%. Wilayah yang memiliki lahan miring diatas 40%
paling luas adalah Kecamatan Dlingo dan Imogiri, sedangkan wilayah
kecamatan yang didominasi oleh lahan datar dengan kemiringan kurang dari 2%
terletak di Kecamatan Sedayu, Banguntapan, dan Sewon.
RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH 2017
Pemerintah Kabupaten Bantul II-10
Tabel 2.3 Tingkat Kemiringan Tanah di Kabupaten Bantul Tahun 2015
No. Kecamatan Luas kemiringan tanah/lereng (ha)
Jumlah 0 – 2% 2 - 8% 8-15% 15–25% 25–40% >40%
1 Srandakan 1.680 152 - - - - 1.832 2 Sanden 2.100 216 - - - - 2.316 3 Kretek 1.883 288 - 27 11 468 2.677 4 Pundong 1.387 171 - 90 108 612 2.368 5 Bambanglipuro 2.198 72 - - - - 2.270 6 Pandak 2.124 306 - - - - 2.430 7 Pajangan 815 661 1.046 162 394 247 3.325 8 Bantul 2.180 - - 15 - - 2.195 9 Jetis 2.192 81 - 144 - 30 2.447
10 Imogiri 1.436 585 279 900 954 1.295 5.449 11 Dlingo 72 1.946 268 572 1.433 1.296 5.587 12 Banguntapan 2.848 - - - - - 2.848 13 Pleret 873 431 365 55 547 26 2.297 14 Piyungan 2.129 702 - - 423 - 3.254 15 Sewon 2.708 - - 8 - - 2.716 16 Kasihan 2.262 - 598 182 161 35 3.238 17 Sedayu 2.538 227 300 138 233 - 3.436
T O T A L 31.425 5.838 2.856 2.293 4.264 4.009 50.685 Sumber: BPN Kabupaten Bantul, 2016
Ketinggian tempat di Kabupaten Bantul sebagian besar kurang dari 100
meter dari permukaan laut, yaitu seluas 39.932 Ha, sedang sisanya sebesar
10.753 Hamemiliki ketinggian 100–500 meter dari permukaan laut yang
sebagian besar terletak di Kecamatan Dlingo, Imogiri, dan Piyungan. Wilayah di
Kabupaten Bantul yang didominasi dengan ketinggian 100–500 meter adalah
Kecamatan Dlingo, sedangkan kecamatan Imogiri dan Piyungan memiliki luas
yang hampir sama antara wilayah dengan ketinggian dibawah 100 meter dan
wilayah dengan ketinggian 100-500 meter.
RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH 2017
Pemerintah Kabupaten Bantul II-11
LuasWilayahMenurut Ketinggian dari Permukaan Laut di Kabupaten Bantul Tahun 2015
Sumber: BPN Kabupaten Bantul, 2016
2.1.1.4 Kondisi Geologi
Formasi adalah suatu susunan batuan yang mempunyai keseragaman
ciri-ciri geologis yang nyata, baik terdiri dari satu macam jenis batuan, maupun
perulangan dari dua jenis batuan atau lebih yang terletak di permukaan bumi
atau dibawah permukaan. Geologi menunjukkan kelompok-kelompok bantuan
yang berguna sebagai indikator terdapatnya suatu bahan tambang.
Jenis batuan yang terdapat di Kabupaten Bantul secara umum terdiri
dari tiga jenis batuan yaitu batuan beku, batuan sedimen dan batuan endapan.
Berdasarkan sifat-sifat batuannya dapat dirinci menjadi beberapa formasi
dengan formasi terluas adalah Endapan Gunung Merapi Muda dengan jenis
batuan pasir vulkanik klastik, lanau dan gravel. Jenis dan luas formasi geologi di
Kabupaten Bantul secara keseluruhan disajikan pada Tabel 2.5.
No. Kecamatan Luas (Ha) dan Ketinggian tempat (dpl)
Jumlah 0 – 7m 7 – 25m 25–100m 100-500m >500m
1. Srandakan 1.05 776 - - - 1.832 2. Sanden 1.235 1.081 - - - 2.316 3. Kretek 924 1.462 190 101 - 2.677 4. Pundong - 1.930 239 199 - 2.368 5. Bambanglipuro - 1.482 788 - - 2.270 6. Pandak - 1.312 1.118 - - 2.430 7. Pajangan - 221 2.652 452 - 3.325 8. Bantul - - 2.195 - - 2.195 9. Jetis - - 2.436 11 - 2.447 10. Dlingo - - 815 4.772 - 5.587 11. Banguntapan - - 2.373 475 - 2.848 12. Pleret - - 1.952 345 - 2.297 13. Piyungan - - 1.907 1.347 - 3.254 14. Sewon - - 2.716 - - 2.716 15. Kasihan - - 2.608 630 - 3.238 16. Sedayu - - 3.287 149 - 3.436 17. Imogiri - 791 2.386 2.272 - 5.449
T O T A L 3.215 9.055 27.662 10.753 - 50.685
RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH 2017
Pemerintah Kabupaten Bantul II-12
Jenis dan Luas Formasi Geologi diKabupaten Bantul
No Formasi Geologi Jenis Batuan Luas (ha) 1. Endapan Gunung Merapi Muda Pasir vulkanik klastik, lanau, gravel 23.316 2. Semilir-Nglanggran Breksi, batupasir, tuff 12.164 3. Sentolo Batu gamping berlapis, napal, tuff 9.123 4. Wonosari Batugamping, karang, lagoon 4.055 5. Sambipitu Konglomerat, batupasir 1.520 6. Endapan Aluvium Pasir tersortasi 507
J U M L A H 50.685 Sumber: Dinas SDA,2016
Kabupaten Bantul mempunyai tujuh jenis tanah yaitu tanah Regosol,
Litosol, Mediteran, Latosol, Grumosol, Rendzina, dan Alluvial.
a. Tanah Regosol merupakan jenis tanah yang dominan di wilayah Kabupaten
Bantul yang tersebar pada Kecamatan Kasihan, Sewon, Banguntapan,
Jetis, Bantul, dan Bambanglipuro. Tanah Regosol adalah tanah yang
berasal dari material gunung berapi, bertekstur kasar bercampur dengan
pasir, dengan solum tebal dan memiliki tingkat kesuburan rendah.
b. Tanah Litosol berasal dari batuan induk batugamping, batupasir, dan
breksi/konglomerat, tersebar di Kecamatan Pajangan, Kasihan, dan
Pandak.
dan batupasir, tersebar di Kecamatan Dlingo dan sedikit di Sedayu.
d. Tanah Latosol berasal dari batuan induk breksi, tersebar di Kecamatan
Dlingo, Imogiri, Pundong, Kretek, Piyungan, dan Pleret.
e. Tanah Grumosol berasal dari batuan induk batu gamping berlapis, napal,
dan tuff, terdapat di Kecamatan Sedayu, Pajangan, Kasihan, Pandak,
Sanden, Bambanglipuro, dan Srandakan.
f. Tanah Rendzina adalah jenis tanah berwarna coklat keabu-abuan, kaya
humus, dan biasanya berada di antara zona-zona tanah. Jenis tanah ini
sangat erat berkaitan dengan tanah hasil pelapukan batuan dasar. Jenis
tanah ini terbentuk dari pelapukan batuan lunak seperti dolomit,
batugamping, batukapur, batuserpih, kadang-kadang batuan gipsum. Jenis
tanah ini terletak di Kecamatan Piyungan, Imogiri, Dlingo, Pleret, Pajangan,
dan Kasihan.
Pemerintah Kabupaten Bantul II-13
g. Tanah Alluvial merupakan tanah yang berasal dari endapan badan air
(sungai dan danau), bertekstur halus dan dapat menampung air hujan yang
tergenang. Tanah alluvial biasanya terdapat di tebingan sungai, delta
sungai, dan dataran yang tergenang banjir. Banjir yang melimpah akan
menimbulkan endapan tanah alluvial di tepi sungai.
Gambar 2.3
Sumber: BPN Kabupaten Bantul, 2016
2.1.1.5 Kondisi Hidrologi
Di Wilayah Kabupaten Bantul terdapat tiga daerah aliran sungai (DAS) di
Kabupaten Bantul yaitu DAS Progo, DAS Opak, dan DAS Oya. Sungai sungai
tersebut merupakan sungai yang berair sepanjang tahun (permanen), meskipun
untuk sungai yang kecil pada musim kemarau debit airnya relatif sedikit. Salah
satu fungsi dari masing masing DAS adalah untuk mengairi areal pertanian, juga
dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari hari.
Tabel 2.6 Daerah Aliran Sungai di Kabupaten BantulTahun 2015
No. DAS Sub DAS Luas (Ha) Sub Luas DAS(Ha)
Luas Lahan Yang
Pemerintah Kabupaten Bantul II-14
Luas Lahan Yang
Selain kondisi hidrologi berupa Daerah Aliran Sungai diatas, Kabupaten
Bantul juga mempunyai Kawasan Tangkapan Air Hujan (Catchment Area).
Tangkapan air hujan merupakan wilayah yang banyak menerima curah hujan
dan mampu menyimpan serta mengeluarkannya pada musim kemarau ke
daerah yang lebih rendah berupa air tanah. Kawasan ini memberikan arti penting
bagi ketersediaan sumber air di wilayah bagian bawah.
Kawasan Tangkapan Air Hujan (Catchment Area) di Kabupaten Bantul
disajikan pada Tabel 2.7.
di Kabupaten Bantul 2015
Perbukitan rendah Formasi Wonosari (Baturagung)
Kecamatan Dlingo, Imogiri, dan Pundong
Lerengkaki Perbukitan Baturagung dan Sentolo
Kecamatan Piyungan, Pleret, dan Imogiri
RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH 2017
Pemerintah Kabupaten Bantul II-15
TANGKAPAN HUJAN & HUTAN LINDUNG (Tidak dapat…