Reli Abi Litas

Click here to load reader

  • date post

    19-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    16
  • download

    0

Embed Size (px)

description

uji statistik

Transcript of Reli Abi Litas

2. ReliabilitasReliabilitas menunjuk pada satu pengertian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik. Instrumen yang baik tidak akan bersifat tendensius mengarahkan responden untuk memilih jawaban-jawaban tertentu. Instrumen yang sudah dapat dipercaya, yang reliabel akan menghasilkan data yang dapat dipercaya juga. Apabila datanya memang benar sesuai dengan kenyataannya, maka berapa kalipun diambil, tetap akan sama. Reliabilitas menunjuk pada tingkat keterendalan sesuatu. Reliabilitas artinya, dapat dipercaya, jadi dapat diandalkan.Pengertian umum menyatakan bahwa instrumen penelitian harus reliabel. Dengan pengertian ini sebenarnya kita dapat salah arah (mis leading). Yang diusahakan dapat dipercaya adalah datanya, bukan semata-mata instrumennya. Ungkapan yang mengatakan bahwa instrumen tersebut cukup baik sehingga mampu mengungkap data yang bisa dipercaya. Apabila pengertian ini sudah tertangkap maka akan tidak begitu menjumpai kesulitan dalam menentukan cara menguji reliabilitas instrumen.Secara garis besar ada dua jenis reliabilitas, yaitu reliabilitas eksternal dan reabilitas internal. Seperti halnya pada pembicaraan validitas, dua nama ini sebenarnya menunjuk pada cara-cara menguji tingkat reliabilitas instrumen. Jika ukuran atau kriteriumnya berada di luar instrumen maka dari hasil pengujian ini diperoleh reliabilitas eksternal. Sebaliknya jika perhitungan dilakukan berdasarkan data dari instrumen tersebut saja, akan menghasilkan reabilitas internal.

a. Reabilitas EksternalAda dua cara untuk menguji reliabilitas eksternal sesuatu instrumen yaitu dengan teknik paralel dan teknik ulang. Apabila peneliti ingin menggunakan teknik pertama yakni teknik paralel, peneliti mau tidak mau harus menyusun dua stel instrumen. Kedua instrumen tersebut sama-sama diujicobakan kepada sekelompok responden saja (responden mengerjakan dua kali) kemudian hasil dari dua kali tes uji coba tersebut dikolerasikan, dengan teknik kolerasi product-moment atau kolerasi person. Dari data dua kali uji coba dari dua instrumen yang satu dipandang sebagai nilai X, yang satu Y. Tinggi rendahnya indeks kolerasi inilah yang menunjukkan tinggi rendahnya reliabilitas instrumen. Oleh karena dalam menggunakan teknik ini peneliti mempunyai dua instrumen dan melakukan dua kali tes, maka disebut teknik double test double trial.Teknik reliabilitas eksternal kedua adalah teknik ulang. Dengan menggunakan teknik ini peneliti hanaya menyusun satu perangkat instrumen. Instrumen tersebut diujicobakan kepada sekelompok responden, hasilnya dicatat. Pada kali lain instrumen tersebut diberikan kepada kelompok yang semua untuk dikerjakan lagi, dan hasil yang kedua juga dicatat. Kemudian kedua hasil tersebut dikorelasikan. Dengan teknik ini peneliti hanya menggunakan satu tes tetapi dilaksanakannya dua kali uji coba. Maka teknik ini juga disebut sebagai teknik single test double trial.

b. Reliabilitas InternalKalau reliabilitas eksternal diperoleh dengan cara mengolah hasil pengetesan yang berbeda, baik dari instrumen yang berbeda maupun yang sama, reliabilitas internal diperoleh dengan cara menganalisis data dari satu kali hasil pengetesan. Ada bermacam-macam cara untuk mengetahui reliabilitas internal. Pemilihan sesuatu teknik didasarkan atas bentuk instrumen maupun selera peneliti. Kadang-kadang penggunaan teknik yang berbeda mengasilkan indeks reliabilitas yang berbeda pula. Hal ini wajar saja karena kadang-kadang dipengaruhi oleh sifat atau karakteristik datanya sehingga dalam penghitungan diperoleh angka berbeda sebagai akibat pembulatan angka. Namun demikian untuk beberapa teknik, diperlukan persyaratan-persyaratan tertentu sehingga peneliti begitu saja memilih teknik-teknik tersebut.Berbagai teknik mencari reliabilitas yaitu sebagai berikut :1. Mencari reliabilitas dengan rumus Spearman-BrownDalam menghitung reliabilitas dengan teknik ini peneliti harus melalui langkah membuat tabel analisis butir soal atau butir pertanyaan. Dari analisi ini skor-skor dikelompokkan menjadi dua berdasarkan belahan bagian soal. Ada dua cara membelah yaitu belah ganjil-genap dan belah awal-akhir. Oleh karena inilah maka teknik Spearman-Brown dalam mencari reliabilitas juga disebut teknik belah dua.Dengan tekni belah dua ganjil-genap peneliti mengelompokkan skor butir bernomor ganjil sebagai belahan pertama dan kelompok buti bernomor genap sebagai skor belahan kedua. Langkah selanjutnya adalah mengkorelasikan skor belahan pertama dengan skor belahan kedua, dan akan diperoleh harga rxy. Oleh karena indeks korelasi yang diperoleh baru menunjukkan hubungan antara dua belahan instrumen, maka untuk memperoleh indeks reliabilitas soal masih harus menggunakan rumus Spearman-Brown, yaitu:

Dengan keterangan :r11 = reliabilitas instrumen = rxy yang disebutkan sebagai indeks korelasi antara dua belahan instrumenJika sudah memperoleh angka reliabilitas, langkah selanjutnya adalah mengkonsultasikan harga tersebut dengan r product moment.

2. Mencari reliabilitas dengan rumus FlanaganUntuk mencari reliabilitas instrumen dengan menggunakan rumus Flanagan, kita juga harus melakukan analisis butir dahulu dan menggunakan teknik belah dua ganjil-genap. Rumusnya adalah sebagai berikut.

Dengan keterangan:r11 = reliabilitas instrumen = varians belahan pertama (varian skor butir-butir ganjil) = varians belahaan kedua (varian skor butir-butir genap) = varians skor totalUntuk semua varians rumusnya adalah:

Kadang-kadang V ditulis dengan S2, karena varians adalah standatr deviasi kuadrat.Jika sudah memperoleh angka reliabilitas, langkah selanjutnya adalah mengkonsultasikan harga tersebut dengan r product moment.

3. Mencari reliabilitas dengan rumus RulonUntuk menguji reliabilitas instrumen dengan rumus Rulon, kita juga harus melalui langkah analisis butir.Rumusnya adalah :

Dengan keterangan:r11 = reliabilitas instrumen = varians total atau varians skor total = varians (varians difference)d =skor pada belahan awal dikurang skor pada belahan akhir.Untuk memperjelas keterangan, dalam perhitungan ini perlu dikutip skor belahan awal dan skor belahan akhir dari tabel analisi butir yang sudah digunakan.Jika sudah memperoleh angka reliabilitas, langkah selanjutnya adalah mengkonsultasikan harga tersebut dengan r product moment.

Mencari reliabilitas dengan menggunakan teknik belah dua ini sangat digemari oleh peneliti, khususnya para mahasiswa yang melakukan penelitian skripsi atau tesis. Kesalahan umum yang seringkali ada yakni bahwa para mahasiswa tersebut menggunakan reknik belah dua tanpa mengingat persyaratan yang seharusnya dipenuhi.Sekurang-kurangnya ada dua persyaratan pokok yang harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum menentukan teknik pengujian reliabilitas instrumen dengan teknik dua, yaitu:1) Banyaknya butir pertanyaan atau butir soal dalam instrumen harus genap agar dapat dibelah2) Antara belahan pertama dengan belahan kedua harus seimbang.Persyaratan pertama barangkali tidak begitu sulit dipenuhi. Tetapi persyaratan kedua betul-betul membutuhkan pertimbangan dan kecermatan dari pihak penenliti. Mahasiswa sering hanya mempertimbangkan persyaratan pertana begitu saja menganngap bahwa belahan pertama dan kedua sudah seimbang, atau bahkan melupakan persyaratan itu.Belahan instrumen dikatakan seimabang jika jumlah butir pertanyaannya sama dan pertanyaan tersebut mengungkap aspek yang sama. Untuk memperoleh belahan yang seimbang peneliti harus sudah merancang sejak instrumen tersebut disusun. Sebagai usaha hati-hati, peneliti membuat pertanyaan dalam jumlah genap untuk setiap aspek atau faktor. Dengan demikian, letak butir dapat disebar sedemikian rupa agar kalau dalam analisis data akan melakukan pembelahan sudah diketahui dengan pasti manakah pasangan-pasangan butir pertanyaannya. Itulah sebabnya perencanaan penelitian harus terpadu dalam memperhatikan variabel, pembuatan instrumen, uji coba, pengujian reliabilitas, analisi data, dan sebagainya.

4. Mencari reliabilitas dengan rumus K-R 20Apabila peneliti memiliki instrumen dengan jumlah butir pertanyaan ganjil, maka peneliti tersebut tidak mungkin menggunakan teknik belah dua untuk pengujian reliabilitasnya. Untuk ini maka ia boleh menggunakan rumus K-R 20.Rumus :

Dengan keterangan :r11 = reliabilitas instrumen = varians skor totalk= banyaknya butir pertanyaanp= proporsi subjek yang menjawab betul pada sesuatu butir (proposi subjek yang mendapat skor 1).p= q= Jika sudah memperoleh angka reliabilitas, langkah selanjutnya adalah mengkonsultasikan harga tersebut dengan r product moment.

5. Mencari Reliabilitas dengan rumus K-R. 21K-R adalah singkatan dari Kuder dan Richardson, dua orang ahli matematika dan statistik yang banyak menemukan rumus-rumus. Dua buah rumus yang digunakan untuk mencari reliabilitas instrumen penelitian adalah rumus K-R.20 dan K-R.21. Rumus K-R.21

Dengan keterangan:r11 = reliabilitas instrumenk= banyaknya butir soal atau butir pertanyaanm= skor rata-rataVt= varians total.

6. Mencari reliabilitas dengan rumus HoytUntuk instrumen yang penyekorannya 1 dan 0 masih ada lagi cara lain untuk mengetahui reliabilitasnya yaitu dengan rumus Hoyt. Rumusnya ada dua macam, yaitu:atauDengan keterangan:= reliabilitas instrumen= Varians responden= Varians sisa

Untuk mencari reliabilitas instrumen langkah-langkah yang dilalui adalah sebagai berikut:Langkah 1 Mencari jumlah kuadrat responden dengan rumus:

Dengan keterangan:JK(r)= jumlah kuadrat respondenk= banyaknya butir pertanyaanN= banyaknya responden atau subjekXt= skor total setiap responden.Langkah 2 Mencari jumlah kuadrat butir dengan rumus:

Dengan keterangan:JK(b)= jumlah kuadrat butir.= jumlah kuadrat jawab benar seluruh butir= kuadrat dari jumlah skor totalLangkah 3 Mencari jumlah kuadrat total dengan rumus

Dengan keterangan:JK(t)= jumlah kuadrat total = jumlah jawab benar seluruh butir= jumlah jawab salah seluruh butirLangkah 4 Mencari jumlah kuadrat sisa dengan rumus:

Langkah 5 Mencari varians responden dan varians dengan menggunakan tabel FLangkah 6 Memasukkan kedalam rumus r11.

7. Mencari reliabilitas dengan rumus AlphaEnam jenis teknik untuk mencari reliabilitas yang sudah dibicarakan hanya dapat digunakan untuk mencari reliabilitas instrumen yang skornya 1 dan 0. Jika dihubungkan dengan pengertian variabel, hanya untuk skor dengan variabel diskrit. Banyak pertanyaan diajukan oleh peneliti pemula bagaimana cara mencari reliabilitas instrumen yang skornya merupakan rentangan antara beberapa nilai (misalnya 0-10 atau 0-100) atau yang berbentuk skala 1-3, 1-5 atau 1-7 dan seterusnya. Beberapa peneliti mengambil langkah pintas yakni mengubah skor bukan 1 dan 0 menjadi 1 dan 0 misalnya jika skornya antara 1 sampai dengan 5, asal skor lebih dari, diberi skor baru 1 dan kalau kurang, dari diberi skor 0.Rumus Alpha digunakan untuk mencari reliabilitas instrumen yang skornya bukan 1 dan 0, misalnya angket atau soal bentuk uraian.Rumus Alpha:

Dengan keterangan:r11= reliabilitas instrumenk= banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal= jumlah varians butir= varians soal.

Demikian cara-cara untuk menguji reliabilitas instrumen yang dilakukan dengan rumus-rumus statistik. Instrumen yang berbentuk tes prestasi belajar angket yang diskor dengan 1 dan 0 yakni tes bentuk objektif dan angket yang dijawab dengan Ya dan Tidak diuji reliabilitasnya dengan teknik dan rumus-rumus tersebut. Untuk tes prestasi belajar yang berbentuk uraian atau angket dan skala bertingkat (rating scale) diuji dengan rumus Alpha.Peneliti pemula kadang-kadang salah tafisr dengan cenderung mengutamakan kualitas instrumen, dan melupakan makna bahwa sebenarnya yang dituju adalah kualitas data. Seharusnya perhatian peneliti bukan ditujukan kepada instrumen. Instrumen hanyalah alat. Yang penting dalam penelitian adalah data yang benar, data yang reliabel, data yang sesuai dengan keadaan sebenarnya.Apabila peneliti sudah memusatkan perhatiannya pada kebenaran data, maka masalah prosedur pengujian reliabilitas instrumen menjadi nomor dua. Kini perhatian peneliti mengarah pada pemikiran bagaimana cara myakinkan diri bahwa data yang diperolehnya sudah benar. Untuk keperluan ini peneliti bisa menggunakan logika demikian. Kebenaran data yang diperoleh dari wawancara dengan guru dapat dicek melalui dokumentasi atau wawancara dengan orang lain. Sebagai contoh, peneliti bertemu guru dan menanyakan tentang berapa kali serta kelengkapan pembuatan satuan pelajaran. Jika peneiti tidak/kurang yakin akan jawaban guru tersebut, peneliti dapat menghubungi kepala sekolah, meminjam satuan pelajaran milik guru tersebut. Kebenaran data yang diperoleh dari observasi selintas tentang cara mengajar guru dapat dicek dan wawancara dengan beberapa siswa tentang kebiasaan cara mengajar guru tersebut. Kebenaran data mengenai kepemimpinan kepala sekolah yang diperoleh dari wawancara dengan kepala sekolah dapat dicek dengan notulen rapat, wawancara dengan guru dan TU.8. Mencari reliablitas pengamatan (observasi)Di antara berbagai metode pengumpulan data, pengamatan merupakan metode yang paling rawan dalam arti tingkat kemantapannya paling rendah. Jika peneliti menggunakan angket yang diisi oleh responden, jawabannyan masih dapat disimpan oleh peneliti dan dapat dilihat lagi sewaktu-waktu. Apabila ada satu atau beberapa jawaban yang diragukan, peneliti dapat mendatangi responden lagi untuk memperoleh kejelasan. Demikian pula dengan wawancara, adalah pendapat responden tentang sesuatu hal yang sifatnya relatif mantap sehingga dapat dilihat kembali.Metode pengamatan atau observasi dilakukan oleh pengamat dengan sasaran benda diam atau proses. Untuk sasaran benda diam, data dapat diamabil lagi sewaktu-waktu apabila ada keraguan pada diri peneliti. Sebaliknya, apabila ada sasaran suatu proses, pengulangan pengamatan hampir tidak mungkin dilakukan kecuali peneliti mempunyai rekaman video atau film yang dapat menunjukkan proses yang diamati. Inilah salah satu kelemahan dari metode penagamatan. Kelemahan lain dari pengamatan, terletak pada diri pengamat. Bagaimanapun upaya pengamat untuk bersikap netral, subjektivitas diri tentu masih mengiringi kegiatan sehingga hasilnya menjadi tidak 100% objektif. Demikianlah apabila pengamatan terhadap oleh dua orang, maka perbedaan hasil pengamatan terhadap oleh dua orang, maka perbedaaan hasil pengamatan terhadap sesuatu objek proses akan dapat sangat berbeda karena latar belakang pribadi yang mewarnai pengamatan serta intensitas subjektivitas yang berbeda pula.Dengan alasan-alasan tersebut maka sebaiknya sebelum melakukan pengamatan yang sesungguhnya, para pengamat, pengumpul data perlu dilatih terlebih dahulu untuk menyingkirkan atau menekan sampai sedikit mungkin unsur subjektivitas pengamat. Misalnya, jika peneliti akan menggunakan lima orang pengamat untuk mengamati proses mengajar guru. Sangat disarankan di dalam latihan pengamatan digunakan rekaman video. Namun apabila tidak ada, hasil pengamatan yang diperoleh dapat lebih baik seteah dilakukan latihan beberapa kali, dan perbedaan hasil pengamatan sudah sama atau hanya berbeda sedikit.Proses latihan dalam rangka menyamakan persepsi agar diperoleh hasil pengamatan yang sama dapat dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut.1. Pengamat I dan pengamat II bersama-sama mengamati proses mengajar yang dilakukan oleh guru, dengan menggunakan sebuah format pengamatan, dan diisi bersama-sama. Format isian dimaksud hanya terdiri dari dua kolom yang memuat alternatif ya dan tidak, atau lebih dari dua kolom (biasanya 4 atau 5) dan menujukkan gradasi. Judul kolom mulai dari 0 (tidak muncul), 1 (sangat rendah), 2 (rendah), 3 (sedang/cukup), 4 (tinggi), dan 5 (sangat tinggi). Sebelum membubuhkan kolom mana dari lembar pengamatan tersebut yang akan diisi kode, kedua orang pengamat berunding dahulu memantapkan kesepakatan.2. Pengamat I dan II bersama-sama mengamati lanjutan proses, tetapi pada tempat yang berbeda dengan menggunakan dua format. Beberapa lama kemudian setelah kolom-kolom formatnya terisi, kedua orang pengamat mencocokkan hasil pengamatannya. Jika ada perbedaan, rekaman diputar kembali untuk mencari letak perbedaan pendapat.3. Pengamat I dan II mengulangi lagi proses seperti langkah ke-2, dan begitulah berkali-kali dilakukan sampai diperoleh persamaan hasil pengamatan, atau apabila masih ada saja perbedaan, peredaan hasil pengamatan tersebut sangat minim.Jika pengamatannya lebih dari dua orang, perlu diadakan penyamaan antara-pengamat sampai dicapai persamaan persepsi dari semua pengamat yang akan bekerja mengumpulkan data.Untuk menentukan toleransi perbedaan hasil pengamatan, digunakan teknik pengetesan reliabilitas pengamatan. Rumus yang paling banyak digunakan, dikemukkan oleh H.J.K. Fernandes (1984:40), penulis modifikasi, sebagai berikut:

Dengan keterangan:KK= koefisien kesepakatanS= sepakat, jumlah kode yang sama untuk objek yang samaN1= jumlah kode yang dibuat oleh pengamat IN2= jumlah kode yang dibuat oleh pengamat II

Rumus Reliabilitas dari ScottSeorang ahli statistik bernama Scott telah berusaha mengadakan penyempurnaan terhadap rumus Indeks Kesesuaian Kasar (Crude Index Agreement) ini, yaitu memasukkan faktor koreksi ke dalamnya. Menurut ahli ini, di dalam hasik pengamatan mungkin ada faktor untung-untungan (change agreement) yang akan mengotori koefisien reliabilitas. Agar diperoleh koefisien reliabilitas bersih harus dilakukan koreksi. Rumus yang dikemukakan oleh Scott adalah sebagai berikut

Dengan keterangan:KK= koefisien kesepakatan pengamatanPo= proporsi frekuensi kesepakatanPe = kemungkinan sepakat (change agreement). (peluang kesesuaian antar- pengamat).Untuk mencari harga Pe kita gunakan rumus sebagai berikut:

Dengan keterangan:Pe= change agreementPi= proposi tallies (jari-jari yang ada setiap sel terhadapa N total (jumlah objek amatan)).

Rumus Reliabilitas dari Cohen-KappaSelain dengan rumus umum dan rumus Scott, kita dapat mencari koefisien reliabilitas pengamatan dengan rumus Cohen-Kappa. Pada dasarnya rumus ini mirip dengan rumus Scott, tetapi untuk menghitung Pe digunakan landasan distribusi marginal dari jumlah kategori di dalam tabel kontingensi (Scott menggunakan marginal yang diharapkan atau expected marginal).Rumus : Dengan keterangan :N= jumlah keseluruhan jari-jari yang menunjukkan munculnya gejala yang teramati.= jumlah jari-jari kategori ke-1 untuk pengamat pertama.= jumlah jari-jari kategori ke-1 untuk pengamat kedua.Adapun rumus reliabilitas Cohen-Kappa adalah sebagai berikut:

Disamping perlu dikahui tingkat kesepakatan antara-pengamat untuk meyakinkan kebenaran hasil pengamatan, perlu juga diketahui keajekan pengamat. Keajekan ini menunjuk pada kualitas pengamat, apakah ia menghasilkan data yang benar-benar sama baiknya dari waktu ke waktu. Untuk pengujian terhadap keajekan pengamatan ini dilakukan verifikasi data pengamatan, dan menetapkan koefisien keajekan dengan rumus yang dikemukakan oleh Fernandes yaitu:

Dengan keterangan:P= koefisien keajekan.= kuadrat rata-rata bars (aspek yang diamati).= kuadrat rata-rata sisa.= jumlah kolom.Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan banyaknya subjek uji coba antara lain:1. Tersedianya subjek yang akan dijadikan sasaran.2. Unit analisis yang diambil.3. Kemampuan peneliti dalam hal waktu dan dana.4. Tingkat kesulitan dalam pelaksanaan.9. Mencari reliabilitas data dengan instrumen lainRealibilitas data menunjuk pada keandalan data, artinya bahwa data tersebut betul-bertul sesuai benar dengan kenyataannya. Dengan demikian, maka kedua istilah tersebut, yakni reliabilitas instrumen dan reliabilitas data, maknanya sama. Yang berbeda adalah cara memandang. Reliabilitas instrumen memandang dari alat yang digunakan, sedangkan reliabilita data memandang dari hasilnya.Bertitik tolak dari dua pandangan tersebut dapat disimpulkan bahwa yang penting di dalam penelitian adalah benarnya data. Penelitian mana pun selalu menghendaki diperolehnya data yang benar, yang sesuai dengan keadaan senyatanya. Cara-cara yang dijelaskan di depan adalah mencari insrumen dengan berbagai teknik, dengan berbagai rumus. Yang dimasalahkan adalah instrumen itu sendiri. Pada bagian ini akan diajak untuk memasalahkan data, tetapi selanjutnya digunakan untuk mengetahui keandalan instrumen. Asumsi yang mendasari pendapat ini adalah:Jika sebuah instrumen berhasil digunakan untuk mengum-pulkan data yang benar sesuai dengan keadaan senyatanya, maka instrumen tersebut sudah andal.Untuk mengetahui bahwa data yang dikumpulkan dengan instrumen benar-benar benar amak dapat dilakukan pengecekan kembali. Mengadakan pengecekan kembali terhadap data yang sudah terkumpul di dalam istilah yang biasa digunakan di dalam penelitian adalah triangulasi. Secara utuh yang dimaksud dengan triangulasi adalah pengecekan terhadap kebenaran data dan penafsirannya. Kata triangulasi sendiri, menurut Ensiklopedi Indonesia, diambil dari penerapan di dalam ilmu geodesi, yaitu mengukur jarak antara 2 titik yang berjauhan, dengan menggunakan kaidah segi tiga ilmu ukur datar.Di dalam penelitian, yang dimaksud dengan triangulasi adalah upaya untuk mengadakan pengecekan kebenaran data melalui cara lain. Cara-cara yang diusulkan sesuai dengan asumsi di atas adalah melakukan pengumpulan data yang sama dengan menggunakan instrumen lain. Oleh karena sifatnya melakukan pengecekan, maka upaya ini tidak boleh dilakukan asal-asalan, tetapi harus secara serius dan sistematis. Artinya adalah bahwa data hasil pengumpulan yang kedua bukan hanya dilihat dengan masa satu, dikira-kira sudah sama dengan data pertama, tetapi harus direncanakan dengan baik kemudian hasilnya disejajarkan dengan hasil terdahulu melalui teknik analisis tertentu.Dalam hal ini kita dapat menggunakan teknik korelasi product moment dari Spearman apabila jenis data tersebut keduanya interval. Dengan kata lain, penggunaan rumus untuk melakukan pengecekan kebenaran data juga harus didasarkan atas ketentuan yang berlaku dalam analisis data.Alternatif cara yang dapat digunakan dalam melakukan pengecekan data antara lain adalah sebagai berikut.a. Mencari reliabilitas angket, dilakukan pengecekan data yang sudah terkumpul dengan wawancara, baik kepada responden yang sama atau melalui orang lain.b. Mencari reliabilitas instrumen/pedoman pengamatan, dilakukan dengan dokumentasi atau wawancara.c. Mencari reliabilitas pedoman wawancara dilakukan dengan pengamatan atau dkumentasi.Dan lain-lain cara, yang penting bahwa peneliti sudah melakukan sesuatu upaya untuk menguji kebenaran data yang selanjutnya diberlakukan untuk melihat keandalan instrumen.Sesudah data kedua (hasil pengecekan) terkumpul, peneliti membuat tabel untuk melihat kesejajaran data sebagai berikut.Tabel Persiapan untuk Menghitung Korelasi Data tentang ...... (misalnya dari Angket dan Wawancara)No.Aspek yang DiukurData dari AngketData dari Wawancara

1.Ditulis semua(misalnya 4)(misalnya 3)

2.Butir pertanyaan. . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . .

3.Yang ditanyakan. . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . .

- -Dan seterusnya - -

Dengan menggunakan rumus product moment, penelitian akan menghasilkan indeks korelasi. Tentu saja dari sebuah tabel seperti disajikan peneliti baru memperoleh informasi kesejajaran dari seorang responden. Apabila di dalam melakukan uji coba tersebut peneliti mengambil misalnya 15 orang responden sebagai subjek uji coba, pengecekan juga dilakukan kepada semua responden. Dari masing-masing indeks korelasi tersebut peneliti dapat menghitung rata-ratanya. Dari data-data tersebut jika diketahui misalnya hanya 0,34, dapat disimpulakn bahwa reliabilitas angket yang diujicobakan adalah rendah.