Refrat Polip

download Refrat Polip

of 14

  • date post

    08-Aug-2015
  • Category

    Documents

  • view

    77
  • download

    8

Embed Size (px)

Transcript of Refrat Polip

REFERAT POLIP NASI

Lalu Muhammad Nuh H1A007035

Pembimbing : dr. Markus Rambu, Sp.THT

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU PENYAKIT TELINGA, HIDUNG DAN TENGGOROK RUMAH SAKIT UMUM PROVINSI NTB FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 2013

I.

PENDAHULUAN Polip hidung merupakan penyakit inflamasi kronis yang terjadi pada

membran mukosa hidung dan sinus paranasalis, dengan karakteristik masa edema lunak yang membentuk masa bertangkai dengan tangkai berasal yang ramping atau lebar.1 Sebagian besar polip ini

dari kompleks

osteomeatal (KOM) dan melebar ke rongga hidung.1,4 Prevalensi dari penderita polip nasi masih belum diketahui secara pasti karena hanya sedikit laporan dari hasil studi epidemolologi serta tergantung pada pemilihan populasi penelitian serta metode diagnostik yang digunakan. Namun dari beberapa penelitian diketahui bahwa angka kejadian dari polip hidung ini mencapai 1-4% dari total populasi di seluruh dunia. Umumnya lelaki lebih banyak terkena penyakit ini dibandingkan wanita, serta populasi dewasa juga lebih sering dibandingkan dengan anak-anak. Seandainya polip hidung ini terjadi pada anak-anak, maka harus dipikirkan kemungkinan adanya gangguan mukosiliar dan penyakit imunodefisiensi, sebagai contoh pasien dengan cystic fibrosis memiliki prevalensi 6-8% untuk mengalami polip hidung.2 Etiologi dari polip hidung ini sendiri masih merupakan subjek yang terus menjadi sorotan dalam berbagai penelitian terkini. Berbagi faktor

khusunya inflamasi kronis hidung, faktor intoleransi aspirin, asma dan riwayat rinitis alergi merupakan beberapa dari banyak faktor predisposisi yang akan dijelaskan nantinya dalam referat ini. Selain begitu banyak faktor predisposisi serta etiologinya, hal lain yang juga menjadi sorotan terkini terkait polip hidung ini yaitu bagaimana penanganan efektif yang dapat dilakukan. Selama ini penanganan yang digunakan untuk polip hidung yaitu penanganan medikal dan operatif. Kortikosteroid topikal merupakan pilihan obat yang digunakan untuk

mengurangi ukuran polip dan meningkatkan patensi pernafasan melalui hidung serta digunakan untuk mencegah kekambuhan. Kemudian pada pasien yang tidak memberikan respon dengan terapi ini atau memiliki ukuran polip yang sangat besar, tindakan operatif merupakan pilihan selanjutnya.2,3

1

Untuk itu dalam refrat ini akan dibahas mengenai gambaran polip hidung secara umum, namun dengan pembahasan yang lebih terperinci terkait dengan etiopatogenesis serta penatalaksanaannya.

II. ANATOMI HIDUNG Hidung luar berbentuk pyramid dengan bagian-bagiannya dari atas ke bawah: 1) pangkal hidung (bridge), 2) dorsum nasi, 3) puncak hidung, 4) ala nasi, 5) kolumela dan 6) lubang hidung (nares anterior). Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan atau menyempitkan lubang hidung. Kerangka tulang terdiri dari 1) tulang hidung (os nasalis), 2) prosesus frontalis os maksila dan 3) prosesus nasalis os frontal, sedangkan kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan yang terletak di bagian bawah hidung, yaitu 1) sepasang kartilago nasalis lateralis superior, 2) sepasang kartilago nasalis lateralis inferior yang disebut juga sebagai kartilago ala mayor, 3) beberapa pasang kartilago ala minor dan 4) tepi anterior kartilago septum.4

Gambar 2.1 Kerangka tulang dan tulang rawan5

2

Rongga hidung atau kavum nasi berbentuk terowongan dari depan ke belakang, dipisahkan oleh septum nasi di bagian tengahnya menjadi kavum nasi kanan dan kiri. Pintu atau lubang masuk kavum nasi bagian depan disebut nares anterior dan lubang belakang disebut nares posterior (koana) yang menghubungkan kavum nasi dengan nasofaring.4

Gambar 2.2 Dinding lateral kavum nasi Bagian kavum nasi yang letaknya sesuai dengan ala nasi, tepat di belakang nares anterior, disebut vestibulum. Vestibulum ini dilapisis oleh kulit yang mempunyai banyak kelenjar sebasea dan rambut-rambut panjang yang disebut vibrise.4 Tiap kavum nasi mempunyai 4 buah dinding, yaitu dinding medial, lateral, inferior dan superior. Dinding medial hidung adalah septum nasi. Septum dibentuk oleh tulang dan tulang rawan. Bagian tulang adalah (1) lamina prependikularis os etmoid, (2) vomer, (3) Krista nasalis os maksila dan (4) krista nasalis os palatine. Bagian tulang rawan adalah (1) kartilago septum (lamina kuadrangularis) dan (2) kolumela.4 Bagian superior dan posterior disusun oleh lamona prependikularis os etmoid dan bagian anterior oleh kartilago septum (quadrilateral), premaksila, dan kolumna membranousa. Bagian inferior, disusun oleh vomer, maksila, dan tulang

3

palatine dan bagian posterior oleh lamina sphenoidalis.6 Septum dilapisi oleh perikondrium pada bagian tulang rawan dan periostium pada bagian tulang, sedangkan diluarnya dilapisi pula oleh mukosa hidung.

Gambar 2.3 Septum nasi Bagian depan dinding lateral hidung licin, yang disebut ager nasi dan di belakangnya terdapat konka-konka yang mengisi sebagian besar dinding lateral hidung. Pada dinding lateral terdapat 4 buah konka, yang terbesar dan letaknya paling bawah ialah konka inferior, kemudian yang lebih kecil ialah konka media, lebih kecil lagi adalah konka superior, sedangkan yang terkecil disebut konka suprema. Konka suprema ini biasanya rudimenter. Konka inferior merupakan tulang tersendiri yang melekat pada os maksila dan labirin etmoid, sedangkan konka media, superior dan suprema merupakan bagian dari labirin etmoid. 4 Di antara konka-konka dan dinding lateral hidung terdapat rongga sempit yang disebut meatus. Tergantung dari letak meatus, ada tiga meatus yaitu meatus inferior, medius, dan superior. Meatus inferior terletak diantara konka inferior dengan dasar hidung dan dinding lateral rongga hidung. Pada meatus inferior terdapat muara (ostium) duktus nasolakrimalis.4 Meatus medius terletak diantara konka media dan dinding lateral rongga hidung. Pada meatus medius terdapat bula etmoid, prosesus unsinatus, hiatus semilnaris dan infundibulum

4

etmoid. Hiatus semilunaris merupakan suatu celah sempit melengkung dimana terdapat muara sinus frontal, sinus maksila dan sinus etmoid anterior.4 Pada meatus superior yang merupakan ruang diantara konka superior dan konka media terdapat muara sinus etmoid posterior dan sinus sphenoid. Dinding inferior merupakan dasar rongga hidung dan dibentuk oleh os maksila dan os palatum.4 Dinding superior atau atap hidung sangat sempit dan dibentuk oleh lamina kribiformis, yang memisahkan rongga tengkorak dari rongga hidung. Bagian atas rongga hidung mendapat pendarahan dari a. etmoid anterior dan posterior yang merupakan cabang dari arteri oftalmika, sedangkan a. oftalmika berasal dari a. karotis interna.4

III. FISIOLOGI HIDUNG Untuk fisiologi hidung terkait dengan polip, pertama kita harus memahami Kompleks Osteomeatal (KOM), dimana struktur ini tersusun dari prosessus unsinatus, infundibulum etmoid, hiatus semilunaris, bula etmoid, agger nasi, dan ressesuss frontalis. KOM ini merupakan unit fungsional yang merupakan tempat ventilasi dan drainase dasri sinus-sinus anterior (maksila, etmoid anterior dan frontal). Karena fungsinya tersebut maka

seandainya terjadi obstruksi pada celah yang sempit ini, maka akan terjadi perubahan yang signifikan pada sinus-sinus terkait serta perubahan pada mukosa yang menjadi salah satu predisposisi terjadinya polip hidung. Beberapa fungsi hidung juga antara lain : 1. Fungsi respirasi untuk mengatur kondisi udara, penyaring

udara, humidifikasi, penyeimbang dalam pertukaran tekanan dan mekanisme imunologik 2. Fungsi penghidu 3. Fungsi fonetik dalam resonansi suara, membantu proses bicara 4. Refleks nasal.

5

IV. POLIP HIDUNG a. Definisi Polip hidung adalah penyakit inflamasi kronis pada membran

mukosa hidung dan sinus paranasalis, dengan karakteristik adanya masa edema, berwarna putih keabu-abuan yang membentuk masa bertangkai dengan dasar tangkai tipis atau lebar.1,4 Umumnya sebagian besar polip ini berasal dari celah kompleks osteomearal (KOM) yang kemudian tumbuh ke arah rongga hidung.1

b. Epidemiologi Pada populasi umum, angka kejadian polip hidung ini pada orang dewasa sekitar 1-4 %. Prevalensi ini jauh lebih rendah pada anak, dimana seandainya ditemukan anak dengan polip hidung, maka kemungkinan besar ada gangguan pada faktro mukosilier atau faktor imunologisnya, misalnya pada anak dengan polip hidung cenderung disertai dengan danya cystic fibrosis. Dengan pemeriksaan endoskopi yang teliti pada kadaver, ditemukan seperempat dari individu memiliki polip tanda riwayat penyakit sinonasal sebelumnya. Polip hidung biasanya terjadi pada rentang usia 30-60 tahun dengan dominasi pada pria sekitar 2:1 sampai 4:1 dibandingkan dengan wanita.1,2

c. Etiologi dan Patogenesis Untuk lebih memahami etiologi dan patogenesis dari polip hidung, maka terlebih dahulu sebaiknya kita melihat tampakan histologis dari polip ini. Polip hidung umumnya ditandai dengan adanya edema jaringan yang masif, yang terjadi dari karena kebocoran plasma melalui celah endotel (endothelial junction) yang melebar pada pembuluh darah. Berdasarkan temuan histologis, polip hidung dapat dibagi menjadi empat tipe menurut Hellquist HB1,6 : Eosinophilic edematous type: ditandai dengan edema pada stroma dengan jumlah eosinofil yang banyak.

6

-

Chronic

inflamatory

or

fibrotic

type : ditandai

dengan

sel

inflamasi khususnya limfosit dan neurtrofil dan sedikit eosinofil Seromucinous gland type : tipe I disertai dengan hiperplasia

kelenjar seromukus. Atypical stromal type

Sedangkan secara umum, klasifikasi dari polip hidung ini dibagi menjadi eosinophil dan neutrophil dominated inflammation, ter