refrat hematuri

download refrat hematuri

of 31

  • date post

    29-Dec-2014
  • Category

    Documents

  • view

    61
  • download

    13

Embed Size (px)

description

think so

Transcript of refrat hematuri

REFERAT

HEMATURIA

PEMBIMBING :DR FAIQ SP.U

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI KEPANITERAAN KLINIK BEDAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARAWANG Periode 14 April 2012 20 Juli 2012

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, atas berkahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan referat dengan judul Hematuria sebagai salah satu syarat dalam kepaniteraan klinik bagian bedah urologi Rumah Sakit Umum Daerah Karawang tepat pada waktunya. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada dr. Faiq. Sp.U atas segenap waktu, tenaga dan pikiran yang telah diberikan selama pembuatan referat ini. Juga kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan referat ini tidak lupa penulis ucapkan limpah terima kasih. Akhir kata penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam pembuatan referat ini. Maka kritik dan saran yang membangun selalu penulis harapkan guna penyusunan referat yang lebih baik di kemudian hari nanti. Semoga referat ini dapat bermanfaat bagi para pembaca, dan khususnya bagi penulis sendiri yang masih dalam tahap belajar.

Karawang. 25 Mei 2012

DAFTAR ISI NO ISI HAL

1 2 3 4 5

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI PENDAHULUAN HEMATURIA TINJAUAN PUSTAKA A) BATU SALURAN KEMIH B) INFEKSI UROGENITALIA C) TRAUMA UROGENITALIA

6 7

KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN

Hematuria adalah didapatkannya sel darah merah di dalam urine. Hal ini perlu dibedakan dengan bloody urethral discharge atau perdarahan peruretram, yaitu keluar darah dari meatus uretra eksterna tanpa melalui proses miksi; keadaan ini sering terjadi pada trauma uretra atau tumor uretra. Harus diyakinkan juga, bahwa seorang pasien menderita hematuria atau pseudo hematuria. Pseudo atau false hematuria adalah urin yang berwarna merah atau kecoklatan yang bukan disebabkan sel darah merah, melainkan oleh zat lain yang mewarnai urine. Secara visual, terdapatnya sel darah merah di dalam urine dibedakan dalam 2 keadaan, yaitu hematuria makroskopik dan mikroskopik. Hematuria makroskopik adalah hematuria yang secara kasat mata dapat dilihat sebagai urine yang berwarna merah dan hematuria mikroskopik adalah hematuria yang secara kasat mata tidak dapat dilihat sebagai urine yang berwarna merah tetapi pada pemeriksaan mikroskopik ditemukan lebih dari 2 sel darah merah per lapangan pandang. Hematuria ini dapat disebabkan oleh berbagai kelainan yang berasal di dalam maupun di luar sistem urogenitali. Kelainan-kelainan yang berasal dari luar sistem urogenitalia antara lain adalah: kelainan pembekuan darah, SLE, dan kelainan sistem hematologik lain.

BAB II HEMATURIA 2.1 DefinisiHematuria adalah didapatkannya sel darah merah di dalam urine. Hal ini perlu dibedakan dengan bloody urethral discharge atau perdarahan per uretram, yaitu keluarnya darah dari meatus uretra eksterna tanpa melalui proses miksi. Keadaan ini sering terjadi pada trauma uretra atau tumor uretra. Harus diyakinkan pula bahwa seorang yang menderita hematuria atau pseudo hematuria. Pseudo atau false hematuria adalah urine yang berwarna merah atau kecoklatan yang bukan disebabkan oleh sel darah merah, melainkan oleh zat lain lain yang mewarnai urine misalnya pada keadaan hemoglobinuria, mioglobinuria, konsentrasi zat asam urat yang meningkat, sehabis makan atau minum bahan yang mengandung pigmen tumbuh tumbuhan berwarna merah atau setelah mengkonsumsi beberapa obat- obatan tertentu ( antar lain : fenotiazina, piridium, porfirin, rifampisin dan fenolftalein).

3.2 Penyebab

Etiologi Penyakit Bacterial cystitis (sering) Interstitial cystitis (jarang) Prostatitis Uretritis Tuberculosis Schistosomiasis Endokarditis Batu ginjal Batu ureter Batu buli-buli Renal carcinoma Ureteric carcinoma Bladder carcinoma Prostatic carcinoma Glomerulonefritis IgA nefropati Goodpastures syndrome Radiation cystitis Trauma ginjal abdomen) Trauma buli-buli (kateterisasi) Terapi antikoagulan Henoch-Schonlein purpura Kelainan koagulasi Sickle cell disease Selepas operasi buli-buli dan prostat Pelari jarak jauh (trauma tumpul

Infeksi

Batu

Tumor

Inflamasi

Trauma

Hematologi

Pembedahan Olahraga

3.3

Gambaran Klinis Pada anamnesis ditanyakan, hematuria bermula pada awal berkemih dimana

menunjukkan ada kelainan di uretra bagian distal. Manakala, jika hematuria berlangsung selama berkemih menunjukkan adanya kelainan di saluran kemih bagian atas dan jika hematuria terjadi di akhir berkemih, kemungkinan adanya kelainan di leher dari buli-buli ( bladder neck) atau uretra pars prostatika. Pada wanita yang mengalami hematuria, perlu dipastikan apakah pasien dalam keadaan menstruasi saat dievaluasi untuk mengambil langkah berjaga-jaga dalam mendapatkan specimen buat analisis. Gejala-gejala lain seperti peningkatan frekuensi berkemih dan disuria perlu ditanyakan karena kedua gejala dapat mengarah adanya infeksi saluran kemih atau uroepithelial malignancy. Jika pada pasien didapatkan adanya nyeri kolik, perlu dicurigai penyebab hematuria adalah batu saluran kemih. Hematuria tanpa rasa nyeri menunjukkan kemungkinan disebabkan oleh kelainan lain seperti nefrolitiasis, infeksi, atau nekrosis papiler. Selain itu, hematuria yang tidak nyeri serta tanpa gejala-gejala lain dari penyakit ginjal perlu di periksa dengan lebih lanjut untuk menolak kemungkinan adanya keganasan genitourinaria. Keluhan lain yang ditanyakan seperti penurunan berat badan, kemerahan di kulit, arthritis, artralgia, atau gejala penyakit paru menunjukkan adanya penyakit sistemik termasuk sindroma vaskulitis, keganasan dan tuberkulosis. Nyeri tenggorokan atau infeksi di kulit yang terjadi tidak lama sangat berhubung erat dengan poststreptokokus glomerulonefritis. Riwayat pemakaian obat penting untuk diketahui karena gambaran diskolorasi urine atau hematuria sendiri dapat terjadi akibat pemakaian beberapa macam obat seperti penggunaan analgesic untuk jangka waktu yang lama (analgesic nephropathy). Penggunaan kontrasepsi oral juga dikaitkan dengan loin-pain hematuria syndrome. Perokok dan pasien yang diobati dengan siklofosfamid juga mempunyai risiko tinggi menderita kanker buli-buli. Riwayat keluarga seperti sickle cell disease, polycystic kidney disease, atau penyakit ginjal yang lain serta riwayat bepergian ke area endemik malaria atau schistosomiasis.

Pada pemeriksaan fisik, hipertensi terutama yang baru terjadi mungkin merupakan tandatanda dari penyakit ginjal. Temuan pada pemeriksaan fisik seperti petekia, arthritis, mononeuritis multiplex, dan eritema mungkin berkaitan dengan koagulapati, penyakit imunologik, atau vaskulitis. Pemeriksaan prostat dan meatus uretra juga perlu dilakukan untuk mendapatkan evaluasi yang lengkap. 3.4 Pemeriksaan Penunjang Tidak semua pemeriksaan dilakukan ke semua pasien. Pemeriksaan dipilih berdasarkan kemungkinan penyebab hematuria. 1. Tes darah a. Darah lengkap : deteksi anemia b. ESR Erythrocyte sedimentation : meningkat pada infeksi dan keganasan c. Faal ginjal : ureum dan kreatinin 2. Tes urine a. Tes Dipstick : deteksi darah b. Miksroskopi : hematuria mikroskopik c. Sitologi urine : deteksi tumor buli-buli d. Morfologi sel darah merah dalam urine : deteksi sumber perdarahan

3. Radiologi a. Foto polos : mayoritas dari kasus batu ginjal, ureter dan buli-buli b. IVP (intravenous pyelography) :

Pemeriksaan yang sering digunakan untuk melihat struktur sistem genitourinaria selain pemeriksaan ini lebih murah. Namun, IVP tidak dapat mendeteksi batu saluran kemih yang berukuran diameter 40 tahun dan juga pasien yang masih muda tetapi mempunyai faktor risiko menderita keganasan genitourinaria. a. Flexicystoscopy : pemeriksaan endoskopi buli-buli bawah pengaruh anestesi lokal b. Rigid cystoscopy : pemeriksaan endoskopi buli-buli bawah pengaruh anestesi umum c. Retrograde ureterography : visualisasi ureter dan pelvis renalis

d. Ureteroscopy : pemeriksaan endoskopi ureter via buli-buli

3.5

Diagnosis Banding Hemoglobinuria Makanan (contoh: beetroot) Obat (contoh: nitrofurantoin dan rifampisin) Porphyrias Menstruasi

3.6 Tatalaksana

Pada pasien dengan keluhan terdapat darah dalam urin atau hematuria, langkah awal untuk pemeriksaan dilakukan tes urin yaitu tes dipstick. Jika hasilnya positif, dilanjutkan dengan melakukan pemeriksaan sedimen urin untuk melihat apakah terdapat sel darah merah ( eritrosit ). Jika tidak didapatkan sel darah merah, maka dapat dicurigai adanya myoglobinuria atau hemoglobinuria. Pada kasus ini juga, perlu diperhatikan adanya riwayat penggunaan obat-obatan yang menimbulkan efek samping yaitu hematuria. Jika didapatkan sel darah merah dalam sedimen urin, harus dipastikan kembali apakah terdapat pyuria atau bakteriuria, jika ada lakukan kultur urin. Hasil neharif pada kultur urin dapat dicurigai adanya nefritis intertisial. Pada kasus yang positif sel darah merah pada urin, harus dilakukan juga pemeriksaan ada tidaknya protein dalam uri ( proteinuria ), jika tidak ada protein

dalam urin atau yang disebut isolated hemturia, maka dilakukan pemeriksaan darah lengkap, prothombin time, partial tromboplastin time dan elektoforesis Hb. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengevaluasi kemungkinan terjadinya suatu proses keganasan dan kelainan struktur.

BAB IV TINJAUAN PUSTAKA

BATU SALURAN KEMIH Penyakit batu saluran kemih sudah dikenal sejak zaman Babilonia dan zamn mesir kuno. Penyakit ini dapat menyerang penduduk di seluruh dunia tidak terkecuali penduduk di Indonesia. Di negara-negara berkembang banyak dijumpai pasien batu buli-buli sedangkan di negara maju lebih banyak dijumpai pasien batu saluran kemih bagian atas; hal ini karena adanya pengaruh status gizi dan aktivitas pasien sehari-hari. Penyakit ini merupakan tiga penyakit terbanyak di bidang urologi di samping infeksi saluran kemih dan pe