Refrat Bipolar Episode Manik-edisi Baru

download Refrat Bipolar Episode Manik-edisi Baru

of 31

  • date post

    29-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    278
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Refrat Bipolar Episode Manik-edisi Baru

BAB IPENDAHULUAN

A. Latar BelakangGangguan bipolar atau mannic-depressive illness (MDI) merupakan salah satu gangguan jiwa tersering yang berat dan persisten. Gangguan bipolar ditandai dengan suatu periode depresi yang dalam dan lama, serta dapat berubah menjadi suatu periode yang meningkat secara cepat dan atau dapat menimbulkan amarah yang dikenal sebagai mania. Gejala-gejala mania meliputi kurangnya tidur, nada suara tinggi, peningkatan libido, perilaku yang cenderung kacau tanpa mempertimbangkan konsekuensinya, dan gangguan fikiran berat yang mungkin atau tidak termasuk psikosis. Diantara kedua periode tersebut, penderita gangguan bipolar memasuki periode yang baik dan dapat hidup secara produktif. Gangguan bipolar merupakan suatu gangguan yang lama dan jangka panjang. Gangguan bipolar mendasari satu spektrum kutub dari gangguan mood/suasana perasaan meliputi bipolar I (BP I), bipolar II (BP II), siklotimia (periode manik dan depresi yang bergantian/naik-turun) dan depresi yang hebat (Marlyn, 2008).Gangguan bipolar dikenal juga dengan gangguan manik depresi yaitu gangguan pada fungsi otak yang menyebabkan perubahan yang tidak biasa pada suasana perasaan dan proses berpikir. Disebut bipolar karena penyakit kejiwaan ini didominasi adanya fluktuasi periodik dua kutub, yakni kondisi manik (bergairah tinggi yang tak terkendali) dan depresi (Marlyn, 2008).Pada gangguan mood bipolar I, penderita tidak hanya mengalami depresi, tetapi pada suatu saat akan mengalami episode manik, sedangkan pada bipolar II, tidak ada episode manik, hanya hipomanik (tidak separah manik) dan yang selalu ada adalah episode depresi. Penyakit manik depresi biasanya diawali oleh depresi yang meliputi setidaknya satu episode manik dalam perjalanan penyakitnya. Episode depresi berlangsung selama 3-6 bulan (Maddock, 2003).Di dunia, tingkat prevalensi gangguan bipolar sebagai gangguan yang lama dan menetap sebesar 0,3 1,5 %. Di Amerika Serikat tingkat prevalensi ini dapat mencapai 1 6 %, dimana dua jenis gangguan bipolar ini berbeda pada populasi dewasa, yaitu sekitar 0,8 % populasi mengalami BP I dan 0,5 % populasi mengalami BP II. Morbiditas dan mortalitas dari gangguan bipolar sangat signifikan. Banyaknya angka kehilangan pekerjaan, kerugian yang ditimbulkan sebagai akibat dari gangguan tingkat produktivitas yang disebabkan gangguan ini di Amerika Serikat sepanjang periode awal tahun 1990an diperkirakan sebesar US $ 15,5 Miliar. Perkiraan lainnya sekitar 25-50% individu dengan gangguan bipolar melakukan percobaan bunuh diri dan 11% benar-benar tewas karena bunuh diri (Marlyn, 2008).Di Indonesia jumlah pasien yang mengalami gangguan ini tidak diketahui dengan pasti. Sekitar 10%, individu dengan gangguan depresi mayor biasanya akan mengalami episode manik atau hipomanik pada perkembangan penyakitnya. Onset usia yang muda, ditemukannya gejala psikotik (menyerupai skizoprenia), dan ditemukannya episode depresi berulang merupakan faktor resiko gangguan bipolar. Rata-rata angka morbiditas dari pasien yang tidak diterapi adalah 14 tahun dimana akan muncul kondisi hilangnya produktivitas dan gangguan dalam fungsi hidup sehari-hari. Dijumpai perilaku bunh diri pada 10-20% pasien. Gangguan ini umumnya muncul pada awal usia 20 tahunan walaupun variasinya luas (Marlyn, 2008).Maka dari itu, dirasa perlu untuk mengetaui lebih mendalam mengenai Gangguan Bipolar pada masing-masing periode. Pada referat ini kami akan menyoroti mengenai Gangguan Bipolar episode manik.

B. Tujuan1. Untuk mengetahui definisi dari gangguan bipolar episode manik.2. Untuk mengetahui faktor resiko dari gangguan bipolar episode manik.3. Untuk mengetahui pemeriksaan fisik dan penunjang yang harus dilakukan untuk mendiagnosisgangguan bipolar episode manik.4. Untuk mengetahui difference diagnosis dari gangguan bipolar episode manik.5. Untuk mengetahui terapi lama dan baru dari gangguan bipolar episode manik.6. Untuk mengetahui komplikasi dan prognosis gangguan bipolar episode manik.

C. ManfaatManfaat yang diharapkan dari referat ini adalah :1. Memperkaya khasanah ilmu pengetahuan khususnya di bidang Ilmu Kedokteran Jiwa2. Memberikan informasi bagi para pembaca tentang gangguan bipolar episode manik secara menyeluruh3. Memberikan informasi kepada pembaca gambaran tentang gangguan bipolar episode manik untuk upaya pencegahan dan diagnosis dini

BAB IIISI

A. DefinisiGangguan bipolar menurut Diagnostic And Statistical Manual Of Mental Disorders-Text Revision edisi ke empat ialah gangguan mood yang terdiri dari paling sedikit satu episode manik, hipomanik atau campuran yang biasanya disertai dengan adanya riwayat episode depresi mayor (Amalina, 2011).

B. EtiologiPenyebab gangguan bipolar multifaktor.Secara biologis dikaitkan dengan faktor genetik dan gangguan neurotransmitter yaitu dopamin, serotonin dan noraderenalin di otak.Secara psikososial dikaitkan dengan pola asuh masa kanak-kanak, misalnya pola asuh yang overprotectivedan authoritarian(Anonim, 2006).

C. Klasifikasi Berdasarkan DSM-IV-TR, klasifikasi gangguan bipolar adalah sebagai berikut (Amalina, 2011): BerdasarkanDiagnostic and Statistical Manual(DSM) IV,gangguan bipolar dibedakan menjadi 2, yaitu gangguan bipolar I dan II.Gangguan bipolar I atau tipe klasik ditandai dengan adanya 2 episode yaitu manik dan depresi, sedangkan gangguan bipolar II ditandai dengan hipomanik dan depresi.PPDGJ III membaginya dalam klasifikasi yang berbeda yaitu menurut episode kini yang dialami penderita (Amalina, 2011).

Tabel 1. Pembagian Gangguan Afektif Bipolar Berdasarkan PPDGJ III (F31)

F31.0 Gangguan afektif bipolar, episode kini hipomanikF31.1 Gangguan afektif bipolar, episode kini manik tanpa gejala psikotikF31.2 Gangguan afektif bipolar, episode kini manik dengan gejala psikotikF31.3 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif ringan atau sedangF31.4 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif berat tanpa gejala psikotikF31.5 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif berat dengan gejala psikotikF31.6 Gangguan afektif bipolar, episode kini campuranF31.7 Gangguan afektif bipolar, kini dalam remisiF31.8 Gangguan afektif bipolar lainnyaF31.9 Gangguan afektif bipolar yang tidak tergolongkan

Dari tabel 1, dapat terlihat bahwa episode manik dibagi menjadi 3 menurut derajat keparahannya yaitu hipomanik, manik tanpa gejala psikotik, dan manik dengan gejala psikotik.Hipomanik dapat diidentikkan dengan seorang perempuan yang sedang dalam masa ovulasi (estrus) atau seorang laki-laki yang dimabuk cinta.Perasaan senang, sangat bersemangat untuk beraktivitas, dan dorongan seksual yang meningkat adalah beberapa contoh gejala hipomanik. Derajat hipomanik lebih ringan daripada manik karena gejala-gejala tersebut tidak mengakibatkan disfungsi social(Amalina, 2011).Pada manik, gejala-gejalanya sudah cukup berat hingga mengacaukan hampir seluruh pekerjaan dan aktivitas sosial.Harga diri membumbung tinggi dan terlalu optimis.Perasaan mudah tersinggung dan curiga lebih banyak daripada elasi(suasana perasaan yang meningkat).Bila gejala tersebut sudah berkembang menjadi waham maka diagnosis mania dengan gejala psikotik perlu ditegakkan.Bertolakbelakang dengan hipomanik/manik, gejala pada depresi terjadi sebaliknya.Suasana hati diliputi perasaan depresif, tiada minat dan semangat, aktivitas berkurang, pesimis, dan timbul perasaan bersalah dan tidak berguna.Episode depresi tersebut harus berlangsung minimal selama 2 minggu baru diagnosis dapat ditegakkan. Bila perasaan depresi sudah menimbulkan keinginan untuk bunuh diri berarti sudah masuk dalam depresif derajat berat(Amalina, 2011).

D. Faktor Resiko1. Genetik Gen adalah sebuah bangunan. Gen yang terkandung dalam sel seseorang yang diturunkan dari orang tua ke anak. Anak-anak dengan orang tua atau saudara yang memiliki gangguan bipolar adalah empat sampai enam kali lebih mungkin untuk mengembangkan penyakit, dibandingkan dengan anak yang tidak memiliki keluarga dengan riwayat gangguan bipolar. Namun, sebagian besar anak-anak dengan riwayat keluarga bipolar tidak mengalami gangguan bipolar (National Institute of Mental Health, 2011).Gangguan Bipolar terutama BP I, memiliki komponen genetik utama. Bukti yang mengindikasikan adanya peran dari faktor genetik dari gangguan Bipolar terdapat beberapa bentuk, antara lain:a. Perlu digaris bawahi keturunan dari orang tua yang menderita gangguan Bipolar memiliki kemungkinan 50 % menderita gangguan psikiatrik lain. Secara genetik, diketahui bahwa pasien dengan gangguan Bipolar tipe I, 80-90% di antaranya memiliki keluarga dengan gangguan depresi atau gangguan Bipolar juga (yang mana 10-20 kali lebih tinggi dibandingkan dengan yang ditemukan pada populasi umum).b. Penelitian pada orang yang kembar menunjukkan adanya hubungan 33-90 % menderita BP I dari saudara kembar yang identik. Anak kembar yang berasal dari satu telur memiliki kemungkinan lebih besar untuk menderita gangguan yang serupa dibandingkan anak kembar yang berasal dari dua telur, jika anak kembar tersebut dibesarkan di lingkungan yang berbeda. Rata-rata tingkat kemungkinan pasangan kembar menderita gangguan yang sama berkisar 60-70%.c. Penelitian pada keluarga adopsi, membuktikan bahwa lingkungan umum bukan satu-satunya faktor yang membuat gangguan Bipolar terjadi dalam keluarga. Anak dengan hubungan bilogis pada orang tua yang menderita BP I atau gangguan depresif hebat memiliki resiko lebih tinggi dari perkembangan gangguan afektif, bahkan meskipun mereka bertempat tinggal dan dibesarkan oleh orangtua yang mengadopsi dan tidak menderita gangguan.Namun gen bukanlah satu-satunya faktor risiko untuk gangguan bipolar. Studi kembar identik telah menunjukkan bahwa kembar dari seseorang dengan penyakit bipolar tidak selalu mengembangkan gangguan tersebut. Hal ini dapat terjadi pada kembar identik bahwa dengan gen yang sama dapat tidak tertular untuk terjadi gangguan bipolar (National Institute of Mental Health, 2011)