REFLEKSI KEBERHASILAN ATAU KEGAGALAN DARI SEBUAH … · melakukan aksi protes dalam upaya menentang...

of 20 /20
231 DELAPAN REFLEKSI KEBERHASILAN ATAU KEGAGALAN DARI SEBUAH GERAKAN SOSIAL DI RUANG PUBLIK VIRTUAL Yang Menang dan Yang Kalah Masuknya investasi multinasional di sektor pertambangan melalui PT IMK di Kabupaten Murung Raya ternyata belum mampu membawa kebahagian, malahan membuahkan hasil protes yang tidak henti- hentinya dari masyarakat. Perlawanan tanpa henti akhirnya berkembang menjadi gerakan sosial, karena mendapatkan berbagai dukungan luas bukan hanya dari masyarakat desa Oreng Kambang tetapi juga dari berbagai Organisasi Non Pemerintah (ornop) baik lokal, regional maupun nasional membentuk jaringan terorganisir dari para aktor untuk mempertanyakan kepada negara terkait dengan hadirnya PT IMK. Jaringan aktor inilah yang kemudian menjadikan aksi perlawanan masyarakat Oreng Kambang dapat bertahan dalam waktu yang cukup lama, yaitu dari tahun 1990 - 2013. Terbentuknya jaringan aktor dikarenakan mereka memiliki tujuan-tujuan atau klaim-klaim yang sama untuk mengarahkan sebuah proses perubahan yang lebih baik. Dalam konteks seperti ini, hadirnya PT IMK justru menciptakan kondisi ekologi, sosial, budaya, ekonomi dan politik kian terdegradasi. Karena itu mereka sepakat untuk melakukan aksi protes dalam upaya menentang dan mendorong perubahan kebijakan publik, perubahan politik dan sosial terkait

Embed Size (px)

Transcript of REFLEKSI KEBERHASILAN ATAU KEGAGALAN DARI SEBUAH … · melakukan aksi protes dalam upaya menentang...

  • 231

    DELAPAN

    REFLEKSI KEBERHASILAN ATAU

    KEGAGALAN DARI SEBUAH GERAKAN

    SOSIAL DI RUANG PUBLIK VIRTUAL

    Yang Menang dan Yang Kalah

    Masuknya investasi multinasional di sektor pertambangan melalui

    PT IMK di Kabupaten Murung Raya ternyata belum mampu membawa

    kebahagian, malahan membuahkan hasil protes yang tidak henti-

    hentinya dari masyarakat. Perlawanan tanpa henti akhirnya

    berkembang menjadi gerakan sosial, karena mendapatkan berbagai

    dukungan luas bukan hanya dari masyarakat desa Oreng Kambang

    tetapi juga dari berbagai Organisasi Non Pemerintah (ornop) baik lokal,

    regional maupun nasional membentuk jaringan terorganisir dari para

    aktor untuk mempertanyakan kepada negara terkait dengan hadirnya

    PT IMK. Jaringan aktor inilah yang kemudian menjadikan aksi

    perlawanan masyarakat Oreng Kambang dapat bertahan dalam waktu

    yang cukup lama, yaitu dari tahun 1990 - 2013.

    Terbentuknya jaringan aktor dikarenakan mereka memiliki

    tujuan-tujuan atau klaim-klaim yang sama untuk mengarahkan sebuah

    proses perubahan yang lebih baik. Dalam konteks seperti ini, hadirnya

    PT IMK justru menciptakan kondisi ekologi, sosial, budaya, ekonomi

    dan politik kian terdegradasi. Karena itu mereka sepakat untuk

    melakukan aksi protes dalam upaya menentang dan mendorong

    perubahan kebijakan publik, perubahan politik dan sosial terkait

  • ORANG DAYAK MELAWAN TAMBANG Studi Gerakan Sosial Baru dalam Ruang Publik Virtual

    232

    dengan masuknya modal asing di sektor pertambangan (PT IMK) di

    Kalimantan Tengah.

    Meskipun di dukung dengan jaringan aktor yang kuat untuk

    melakukan aksi-aksi perlawanan baik ditingkat lokal, regional dan

    nasional, keberadaan PT IMK ternyata masih mampu bertahan. Hal ini

    dimungkinkan, salah satunya disebabkan lemahnya pemahaman

    hukum pemerintah yang dibuat dengan pihak perusahaan

    multinasional termasuk PT IMK dalam mendesain Kontrak Karya (KK).

    Akibatnya, klausul pertanggungjawaban hukum lingkungan dalam hal

    terjadi pencemaran yang dilakukan sebagai akibat adanya industri

    pertambangan tidak diatur secara jelas. Kebertahanan PT IMK juga

    dikarenakan adanya kongsi yang sangat kuat dengan elit politik (lokal,

    regional dan nasional), yang berakibat tidak tertanganinya dampak

    negatif yang dihadapi masyarakat akibat hadirnya PT IMK.

    Relasi simbiosis mutualisme dengan politisi lokal tentunya

    memberikan kekuatan kepada PT IMK untuk terus menggusur bahkan

    mengusir para penambang rakyat yang sudah ada sebelum masuknya

    PT IMK bahkan kawasan yang dianggap suci oleh masyarakat adat

    Dayak Siang Murung. Fenomena ini dimungkinkan karena hadirnya

    PT IMK justru dimanfaatkan oleh negara (pemerintah daerah-desa)

    dan elit-elit lokal lainnya sebagai instrumen politik dan ekonomi.

    Sebaliknya negara dimanfaatkan sebagai alat kapital pemberi konsesi-

    konsesi untuk eksploitasi pertambangan. Oleh karenanya keberadaan

    PT IMK hampir tidak memberikan manfaat yang signifikan terhadap

    pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Oreng Kambang.

    Menghadapi penggusuran dan pengusiran dari PT IMK,

    masyarakat Oreng Kambang menjadi sabar tetapi bukan berarti tidak

    melakukan perlawanan. Dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan

    hidupnya, masyarakat Oreng Kambang kembali melakukan aktifitas

    usaha pertambangan hanya untuk mengambil tailing atau limbah batuan atau tanah halus sisa-sisa dari pengerukan dan pemisahan

    (estraksi) meneral yang berharga terutama emas dan perak. Mereka

    kembali ditekan dan terus dikejar oleh aparat keamanan dengan

    menggunakan senjata laras panjang. Bahkan dalam beberapa kasus

  • Refleksi Keberhasilan atau Kegagalan dari Sebuah Gerakan Sosial di Ruang Publik Virtual

    233

    terjadi penangkapan karena dinilai melakukan pelanggaran karena

    tidak meminta ijin memasuki wilayah penambangan PT IMK.

    PT IMK beranggapan bahwa hanyalah merekalah yang sebenarnya

    bisa melawan kemiskinan dengan menyediakan peluang pekerjaan bagi

    masyarakat lokal, merupakan cerminan nalar pikir para penguasa dan

    konglomerat tambang di Kalimantan Tengah. Kenyataannya justru

    masyarakat lokal yang kurang memperoleh kesempatan untuk bekerja

    di PT IMK karena tidak memenuhi persyaratan yang dikehendaki

    perusahaan. Kalaupun ada, status pekerjaan mereka hanyalah sebagai

    tenaga buruh kasar, seperti tukang kebun dengan upah yang rendah.

    Selain memberi kesempatan agar masyarakat lokal dapat

    memperoleh pekerjaan, PT IMK juga memberikan pelatihan dan modal

    usaha kepada bekas penambang rakyat sebagai bentuk tanggungjawab

    sosial perusahaan. Namun tawaran pelatihan dan modal usaha

    mendapatkan penolakan dari masyarakat. Penolakan terjadi karena

    menurut rasional masyarakat, pendapatan yang diperoleh sebagai

    penambang jauh lebih besar ketimbang perolehan hasil usaha kerajinan

    bambu, maupun beternak lele.

    Pada akhirnya aksi-aksi perlawanan yang dilakukan masyarakat

    Oreng Kambang cenderung berkembang karena tuntutan mereka tidak

    mendapatkan perhatian dari para penguasa (pemerintah dan

    pemerintah daerah) dan juga para pengusaha (PT IMK). Awal

    perlawanan adalah berbentuk demontrasi damai dari mengambil

    tailing hingga membawa sepanduk turun ke jalan. Namun dalam perkembangannya aksi damai berubah menjadi aksi brutal dengan

    membakar fasilitas yang dimiliki perusahaan, karena PT IMK dalam

    menyelesaikan aksi-aksi perlawanan masyarakat lebih menggunakan

    cara-cara arogan termasuk penggunaan senjata berlaras panjang.

    Masyarakat menjadi marah dan pada akhirnya berkembang menjadi

    “benci” dan akan terus-menerus melakukan perlawanan meskipun

    mereka harus berkorban dan menderita kerugian.

    Dalam melakukan aksi perlawanan sejumlah isu utama yang

    dituntut kepada negara terkait dengan hadirnya PT IMK; (1)

    terjadinya ketidak-adilan dan pemiskinan karena usaha yang mereka

  • ORANG DAYAK MELAWAN TAMBANG Studi Gerakan Sosial Baru dalam Ruang Publik Virtual

    234

    miliki diambil alih oleh PT IMK; (2) ketidak-mampuan bersaingan

    untuk memperoleh pekerjaan termasuk mencari pekerjaan lain diluar

    pekerjaan sebagai penambang; (3) terjadinya pencemaran lingkungan

    dampak dari aktivitas penambangan. Dari waktu ke waktu isu-isu

    tersebut terus berkembang mengiringi peningkatan aktivitas

    penambangan yang dilakukan PT IMK.

    Meskipun perluasan eksploitasi tambang yang dilakukan PT IMK

    masih dalam luasan wilayah tambang yang dijinkan, masyarakat juga

    terus melakukan perlawanan. Hal ini terjadi karena di dalam wilayah

    tambang PT IMK yang akan dieksploitasi terdapat wilayah adat.

    Apabila PT IMK tetap mengeksploitasi apalagi dengan menggunakan

    sistem penambangan secara terbuka (open pit area), maka identitas kedayakan akan hilang. Isu yang lain adalah hilangnya tanah ulayat,

    karena tanah-tanah masyarakat yang secara adat diakui

    kepemilikannya juga diambil alih PT IMK tanpa ganti rugi.

    Isu-isu tersebut tidaklah berdiri sendiri tetapi saling terkait,

    dimana dengan isu yang sama bisa saja semakin mengartikulasikan isu-

    isu yang lainnya, dan begitu pula sebaliknya. Awalnya perlawanan

    dilakukan oleh kelompok penambang yang secara spesifik hanya

    mengambil satu isu tertentu saja, yaitu; ketidak-adilan dan pemiskinan

    karena lobang-lobang tambang sebagai tempat usaha mereka diambil

    alih oleh PT IMK. Isu kemudian berkembang pada isu pencemaran

    lingkungan dan puncaknya adalah isu memerjuangkan perolehan hak-

    hak adat sebagai simbol atau identitas Dayak Siang Murung atas

    kawasan adatnya dan tanah ulayat di dalamnya. Dengan isu

    mempertahankan identitas kedayakan, maka gerakan masyarakat

    Orang Kambang melawan PT IMK tidak hanya dilandasi dengan motif

    maupun kepentingan ekonomi semata dalam hal ini adalah

    kepentingan para penambang atau brunak. Faktanya menunjukkan bahwa faktor-faktor yang melandasi perjuangan mereka lebih luas dari

    sekedar persoalan ekonomi karena mencakup juga persoalan hak-hak

    asasi manusia, lingkungan hidup, dan hak-hak sosial budaya. Dengan

    demikian, dapat dikatakan bahwa gerakan masyarakat Oreng Kambang

    melawan PT IMK juga turut diperkuat oleh akar budaya Dayak yang

  • Refleksi Keberhasilan atau Kegagalan dari Sebuah Gerakan Sosial di Ruang Publik Virtual

    235

    masih diakui keberadaannya. Akar budaya ini juga mampu

    menumbuhkan kembali spirit untuk terus melakukan perlawanan

    menjadi sedemikian kuat dan solid, serta dapat berlangsung lama.

    Akar budaya yang dimaksud dapat dibedakan menjadi beberapa

    hal. Pertama, adanya keyakinan yang kuat bahwa wilayah-wilayah yang disakralkan atau disucikan oleh orang Dayak merupakan wilayah

    yang harus dijaga dan dipertahankan agar dapat menjaga keseimbangan

    hubungan manusia dengan alam dan keseimbangan hubungan antar

    manusia yang disimbolkan dengan Batang Garing, seperti yang

    diperlihatkan dalam caver disertasi ini. Siapapun yang akan

    memanfaatkan wilayah ini harus menjalankan ritual adat dan bagi

    yang melanggar akan terkena sangsi adat. Wilayah adat yang dimaksud

    adalah Gunung Puruk Kambang yang dipercaya sebagai tempat dimana

    nenek moyang orang Dayak Siang Murung diturunkan dari Palangka Bulau oleh Ranying Hatala Langit disingkat Ranyinng atau Hatala yang berarti Allah atau Tuhan. Karenanya berbagai kegiatan ritual adat

    dalam konteks agama Keharingan, selalu dilakukan diwilayah ini.

    Kedua, orang Dayak memiliki mekanisme membangun “sumpah adat” dengan melakukan ritual seperti hinting pali. Sumpah ini apabila dilanggar tidak hanya terkena sangsi adat, tetapi dapat membawa

    malapetaka bagi mereka yang melanggarnya. Mekanisme inilah yang

    kemudian digunakan untuk terus menghentikan operasi penambangan

    PT IMK. Orang Dayak juga mempunyai aturan adat yang kemudian

    dirumuskan melalui perjanjian Tumbang Anoi sebagai penuntun

    menjaga keseimbangan hubungan antar manusia dengan alam, dan

    antar manusia demi keberlanjutan kehidupan di masa mendatang.

    Seperti yang diutarakan di atas, bahwa berkembangnya aksi protes

    menjadi gerakan sosial karena memperoleh dukungan dari para aktivis

    yang tergabung dalam Organisasi Non Pemerintah (Ornop) atau

    Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) diantaranya Walhi, Jatam,

    Alperudi, YLBHI, PBHI, Elsam, dan LBH Jakarta) dan kelompok

    penambang. Para aktivis ini kemudian membentuk koalisi dengan

    nama Tim Advokasi Tambang Rakyat atau disingkat TATR. Dalam

    perjalanannya pihak-pihak yang terlibat mempunyai peran dan fungsi

  • ORANG DAYAK MELAWAN TAMBANG Studi Gerakan Sosial Baru dalam Ruang Publik Virtual

    236

    masing-masing mulai dari merancang dan melakukan aksi-aksi

    kampanye serta demontrasi di lapangan, melakukan lobi dengan

    penguasa dan pengusaha, membuat petisi hingga pengerangkaan isu

    diberbagai media massa. Apabila ada momentum tertentu yang

    dianggap krusial, aktor-aktor ini lebih sering mengedepankan

    pengerangkaan wacana sebagai corak perjuangannya, meskipun

    terkadang ikut pula terlibat bersama masyarakat melakukan aksi-aksi

    demontrasi di lapangan.

    Namun dalam perkembangannya, jaringan aktor yang tergabung

    dalam TATR tidak bertahan lama dikarenakan adanya perbedaan motif

    pertukaran kepentingan antara masyarakat disatu sisi dengan aktivis

    gerakan sosial dari luar masyarakat disisi yang lain. Hal ini ditunjukkan

    belum ada satu tuntutan yang berhasil merubah kebijakan pemerintah

    maupun pemerintah daerah. Untuk itu, masyarakat Oreng Kambang

    kembali membangun jaringan baru dengan melibatkan organisasi

    masyarakat adat Dayak, yaitu; dari Damang Kepala Adat di desa Oreng

    Kambang hingga organisasi adat Dayak di Kalimantan Tengah, yaitu;

    LMMDDKT. Isu utama yang kemudiaan menjadi tuntutan adalah

    memberikan penegasan terhadap hak-hak adat terkait dengan

    keberadaan Situs Gunung Puruk Kambang yang sudah diakui

    keberadaannya oleh pemerintah dan pemerintah daerah

    Baik sebagai individu maupun sebagai lembaga adat Dayak yang

    terus memperjuangkan agar hak-hak adat tetap dipertahankan dan

    dikuatkan posisinya, tentunya LMMDD-KT bersedia sebagai

    pendamping kelompok masyarakat Oreng Kambang melawan PT IMK.

    LMMDD-KT kemudian lebih terlibat untuk menyuarakan pendapat

    berupa rekomendasi, kecaman, opini, dan memberikan masukan

    mengenai sesuatu untuk mendukung perjuangan masyarakat adat

    Dayak di bumi Kalimantan.

    Dalam melakukan aksi perlawanan terhadap pemerintah dan

    pemerintah daerah serta PT IMK, aktor-aktor yang terlibat dalam

    jaringan aktor menggunakan beberapa cara. Pertama, menjalin hubungan dengan ornop-ornop lain yang memiliki tujuan yang sama,

    atau dengan kata lain membangun jejaring seluas mungkin. Dengan

  • Refleksi Keberhasilan atau Kegagalan dari Sebuah Gerakan Sosial di Ruang Publik Virtual

    237

    demikian, dapat dikatakan bahwa corak perlawanan mereka adalah

    penguatan organisasi rakyat di tingkat “akar rumput” maupun

    perluasan solidaritas dengan orgnisasi-organisasi lain yang turut

    mendukung perjuangan mereka. Adapun jejaring yang terjalin di

    antara -mereka bersifat melampaui ikatan-ikatan primordialistik, baik

    agama, suku, golongan, dan kedaerahan. Hal itu ditunjukkan, misalnya,

    dalam perjuangan mereka sempat berkunjung ke Jakarta dan bertemu

    dengan sejumlah aktivis ornop yang kemudian memberi dukungan

    konkret kepada mereka. Sejak itulah masalah PT IMK mencuat

    menjadi isu nasional. Contoh lainnya ditunjukkan melalui jejaring

    koalisi TATR yang saling bersinergi, sehingga mampu membuat

    kesepakatan untuk “membagi-bagi lahan” perjuangan masing-masing:

    ada yang mengatur koordinasi, ada yang mengartikulasikan isu, dan

    ada pula yang beraksi dilapangan.

    Kedua, terkait dengan poin pertama, corak perlawanan rakyat terhadap PT IMK juga cenderung lebih banyak mengedepankan

    aktivitas organisatoris berupa aksi-aksi demonstrasi di lapangan,

    menyelenggarakan seminar dan lokakarya disamping melakukan lobi-

    lobi dengan para pejabat negara (di lembaga eksekutif maupun lembaga

    yudikatif), maupun penyebarluaskan informasi dan opini ke berbagai

    kalangan (artikulasi isu) baik dengan media lokal dan nasional maupun

    melalui internet dan media sosialnya. Ketiga, dapat dikatakan sebagai pelengkap cara yang pertama dan kedua tersebut, adalah melakukan

    perlawanan dengan mengajukan gugatan terhadap PT IMK melalui

    jalur hukum (misalnya yang pernah dilakukan oleh TATR maupun

    LMMDDKT, juga jalur politik dengan cara mendaftarkan pengaduan

    mereka ke Komnas HAM terkait dengan berbagai pelanggaran HAM

    yang dialami oleh masyarakat Oreng Kambang hingga ke Mahkamah

    Konstitusi.

    Ketiga cara tersebut jelas merupakan bentuk-bentuk upaya melawan tanpa kekerasan (non-violence). Kendati demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa pada kenyataan di lapangan juga sering terjadi

    aksi-aksi kekerasan, misalnya dalam bentuk peng-hempangan terhadap

    truk-truk PT IMK dan memblokir jalan-jalan di sekitar lokasi pabrik

  • ORANG DAYAK MELAWAN TAMBANG Studi Gerakan Sosial Baru dalam Ruang Publik Virtual

    238

    hingga pembakaran fasilitas PT IMK. Akan tetapi, hal itu dapat

    dikatakan sebagai ekses luapan kemarahan masyarakat yang sudah

    mencapai titik puncaknya karena PT IMK belum bersedia untuk duduk

    bersama dan dalam posisi setara untuk menyelesaikan konflik dengan

    masyarakat adat Dayak. Apalagi sikap aparat keamanan yang selalu

    membela kepentingan PT IMK dan kerap melakukan tindakan-

    tindakan represif-koersif dalam menghadapi aksi-aksi masyarakat yang

    menentangnya.

    Upaya melakukan perlawanan di atas, pada akhirnya membawa

    frustasi terutama bagi mereka yang terlibat aktif dalam aksi

    perlawanan. Hal ini dikarenakan PT IMK tetap saja beroperasi dan aksi

    perlawanan dinyatakan “gagal”. Belajar dari kegagalan ini membuat

    masyarakat adat Dayak Siang kembali merancang aksi-aksi perlawanan

    dengan melibatkan Damang Kepala Adat dan LMMDD-KT.

    Dimulai dengan melakukan diskusi “kampung”, survey lapangan,

    melakukan pemetaan geokultural serta berbagai aksi untuk bertemu

    langsung dengan para penguasa baik pada aras lokal, regional maupun

    nasional, hingga membawa agenda permasalahan Oreng Kambang di

    Kongres Rakyat Kalimantan Tengah (KRKT) V yang diselenggarakan

    dari tanggal 28-29 Juni 2014 di Palangkaraya. Tindak lanjut keputusan

    KRKT, salah satunya membentuk Asosiasi Pertambangan Rakyat

    Kalimantan (Aspera) sebagai wadah pendampingan bagi para

    penambang yang umumnya adalah masyarakat adat Dayak.

    Untuk menunjang aksi-aksi perlawanan, LMMDD-KT sebagai

    lembaga pendamping memanfaatkan teknologi internet dan media

    sosialnya agar dapat membingkai kasus PT IMK lebih luas serta

    mengembangkan jaringan perlawanan. Selain melakukan proses

    pembingkaian, dengan teknologi internet aksi-aksi perlawanan yang

    dilakukan dapat terkontrol, dengan waktu yang fleksibel dan dapat

    berlangsung pada tempat yang diciptakan sendiri. Pada akhirnya

    teknologi internet juga dapat membangun pola komunikasi dua arah

    sebagai salah satu strategi dalam melakukan pembingkaian. Gerakan

    perlawanan masyarakat adat Oreng Kambang kemudian masuk dalam

    ranah gerakan perlawanan ruang publik virtual.

  • Refleksi Keberhasilan atau Kegagalan dari Sebuah Gerakan Sosial di Ruang Publik Virtual

    239

    Proses masuk ke dalam perlawanan di ruang publik virtual

    tentunya membutuhkan fondasi frame ideologi yang sangat kuat serta memiliki kemampuan dan komitmen yang tinggi untuk melakukan

    mobilisasi relasi dan media framing dalam memperjuangkan pengakuan atas hak-hak adat secara konsisten dan berkelanjutan

    (durable). Dengan fondasi frame ideologi yang sangat kuat tentunya aksi-aksi pembingkaian dapat memperoleh respon dari para pihak yang

    terlibat di ruang publik virtual terutama para pemegang saham dari PT

    IMK.

    Untuk itu, kelompok aksi yang dibentuk harus melakukan

    pengkajian mendalam (framing) terkait dengan esensi dari hak-hak adat orang Dayak melalui forum kajian formal dan informal maupun

    dengan menggunakan media sosial. Kedua, membangun network dengan organisasi non pemerintah lainnya atau LSM yang memiliki

    cara pandang universalitas, dan ketiga, melakukan pendampingan secara langsung di lapangan, agar dapat mereproduksi wacana melalui

    aksi off-line dan membingkai wacana tersebut melalui on-line.

    Strategi gerakan dengan memanfaatkan teknologi internet dan

    media sosialnya dalam membingkai informasi ternyata mampu

    mempengaruhi pertimbangan para pemagang saham untuk tidak

    membeli kembali saham PT IMK. Inti dari pembingkaian adalah

    menunjukkan bahwa selama ini usaha pertambangan yang dijalankan

    oleh PT IMK “belum” menggunakan cara-cara yang “humanis” di mana

    keberadaan masyarakat berikut adat dan istiadatnya tidak dihargai dan

    dipertahankan. Dampak dari adanya pembingkaian melalui media

    sosial menyebabkan nilai investasi PT IMK di bursa saham dari waktu

    ke waktu semakin menurun dan pada akhirnya operasi penambangan

    PT IMK di Murung Raya diberhentikan sementara atau dinyatakan

    “pailit”.

    Dengan diberhentikan operasi penambangan adalah sebuah

    kemenangan bagi sebuah gerakan perlawanan rakyat terhadap

    kapitalisme global. Pertanyaan ini penting untuk kembali dijawab

    terutama bagi para peneliti gerakan sosial dan aktor pendamping

    masyarakat, mengingat pada awal bulan Oktober 2016, operasi PT IMK

  • ORANG DAYAK MELAWAN TAMBANG Studi Gerakan Sosial Baru dalam Ruang Publik Virtual

    240

    kembali beroperasi dengan manajemen baru bernama PT Kasongan

    Bumi Kencana. Namun pengalaman yang sudah ada, dapat menjadi

    sebuah model gerakan masyarakat yang berhasil dalam menghadapi

    meluasnya kapitalisme sektor pertambangan yang akan terus masuk di

    Kalimantan Tengah. Karenanya wadah-wadah yang terbentuk paska

    ditutupnya PT IMK, seperti Asosiasi Pertambangan Rakyat Kalimantan

    (Aspera) yang tumbuh dari masyarakat adat Dayak dapat menjadi pintu

    masuk untuk mengkaji seberapa jauh aksi perlawanan masyarakat adat

    Dayak dapat bertahan dan memenangkan pertarungan ini.

    Melakukan Modifikasi Identitas Gerakan

    Secara umum, gerakan perlawanan yang dilakukan masyarakat

    adat Dayak Siang semakin menampakkan wajahnya yang lebih solid

    dan terarah ketika mereka merasa pentingnya memperjuangkan hak-

    hak adat dari sekedar mengambil alih kembali lobang-lobang tambang

    yang mereka miliki. Perjuangan mereka pada saat itu, bukan saja aksi-

    aksi perlawanan di wilayah setempat, tetapi juga melakukan

    pengiriman-pengiriman delegasi ke instansi-instansi negara dan PT

    IMK di Palangkaraya, Jakarta maupun Australia.

    Menguatnya semangat perjuangan mereka, ditandai dengan

    semakin banyaknya gerakan-gerakan perlawanan masyarakat dengan

    tujuan serupa, dengan memanfaatkan dan menggunakan ritual adat

    sebagai struktur yang dapat membantu perjuangan mereka. Selain itu,

    mereka juga melakukan perluasan jaringan gerakan dengan para aktivis

    ornop/LSM karena memiliki tujuan yang sama, merupakan akibat dari

    bertumbuhnya dan menyebarluasnya keyakinan yang

    digeneralisasikan. Karenanya gerakan perlawanan yang dilakukan

    dapat dikatakan sebagai gerakan dari sejumlah warga masyarakat yang

    secara budaya terlibat dalam konflik sosial, yang tujuan dan strateginya

    memiliki pertalian sosial dan rasionalitas sendiri. Fungsi gerakan

    perlawanan mereka tidak dapat dipahami dalam logika tatanan

    kelembagaan yang ada, karena fungsinya yang menyimpang dan

    merupakan tantangan bagi untuk mempertahankan logika yang

  • Refleksi Keberhasilan atau Kegagalan dari Sebuah Gerakan Sosial di Ruang Publik Virtual

    241

    dibangun dan mentransformasikan hubungan sosial yang lebih

    terintegrasi dan diperkuat. Karenanya gerakan perlawanan yang

    dilakukan masyarakat adat Siang Murung dapat dikatakan sebagai

    gerakan sosial baru (new sosial movement).

    Untuk menjelaskan lebih jauh tentang gerakan sosial baru, ada 3

    (tiga) hal pokok, pertama, disebut baru, karena secara kualitatis berbeda dengan gerakan sosial lama, seperti organisasi para

    penambang, karena menaruh perhatian lebih kepada keadilan ekonomi

    dan sosial politik. Kedua, gerakan ini berkaitan erat dengan isu sosial-budaya. Ketiga, gerakan ini terdiri dari kelompok-kelompok perorangan tetapi membentuk unsur gerakan yang lebih besar sebagai

    sebuah jaringan sosial.

    Selanjut dari temuan penelitian, juga memperlihatkan sejumlah

    ciri dari gerakan perlawanan sehingga disebut sebagai gerakan sosial

    baru; pertama, aksi-aksi perlawanan yang mereka lakukan bersifat terorganisir dan berorientasi pada perubahan tatanan sosial yang

    menyeluruh dengan tujuan memperbaharui kebijakan yang dibuat

    negara terkait dengan masuknya perusahaan multinasional di

    Kalimantan Tengah. Kedua, gerakan ini juga berdimensi politik, yang merupakan ekspresi atas protes terhadap keadaan-keadaan sosial yang

    tidak adil yang dilakukan oleh perusahaan multinasional dengan

    dukungan kekuasaan negara.

    Ketiga, gerakan ini merupakan jaringan dari kelompok-kelompok lokal yang tidak terkait dengan gerakan massa dan suatu partai politik

    atau suatu perserikatan, karena memiliki prinsip dan cara tersendiri

    dalam melakukan aksi-aksi perlawanan, dan isunya terus berkembang

    dari aspek ekonomi menjadi isu mempertahankan hak-hak adatnya.

    Keempat, karena gerakan ini juga dapat dilihat sebagai unsur utama dalam proses memperkuat civil society di masa mendatang, khususnya bagi masyarakat adat Dayak di Kalimantan Tengah. Eksistensi civil society itu sendiri ditandai oleh kemunculan ornop-ornop di masyarakat, yang mandiri dan berdaya untuk memperjuangkan

    kepentingan-kepentingan mereka sendiri. Menguatnya civil sociey, mendorong berkembangnya proses-proses demokratisasi terutama

  • ORANG DAYAK MELAWAN TAMBANG Studi Gerakan Sosial Baru dalam Ruang Publik Virtual

    242

    mengakui hak-hak masyarakat adat. Gerakan perlawanan masyarakat

    Oreng Kambang, tidak lagi mengandalkan massa sebagai kekuatannya

    tetapi kemampuan dalam memenangkan makna dengan memanfaatkan

    teknologi internet dan media sosialnya melalui proses pembingkaian

    atas isu yang diperjuangkan.

    Sebagai perkumpulan inklusif, gerakan perlawanan masyarakat

    adat Dayak Siang Murung tentunya mempunyai keanggotaan yang

    bersifat terbuka tanpa hiraukan latar belakang kelas sosial, etnisitas,

    politik, maupun agama sebagai prasyarat utama dari civil society. Mereka menerima pluralisme ide serta cenderung mengembangkan

    pandangan pragmatis dalam upaya menciptakan sistem partisipasi

    politik seluas-luasnya dalam proses pengambilan keputusan. Perhatian

    terhadap life politics menjadi penting dibandingkan dengan emancipatory politis. Ciri lainnya bersifat non-kelas dan tidak menghiraukan latar belakang agama. Namun, dalam hal etnisitas,

    gerakan masyarakat Oreng Kambang, justru menunjukkan bahwa

    ikatan keadatan masih berfungsi sebagai “energi” untuk memperluas

    kesempatan politik, mengembangkan struktur mobilisasi dan proses

    pembingkaian yang pada akhirnya menentukan keberhasilan dan

    kegagalan gerakan mereka.

    Atas dasar penjelasan di atas, gerakan perlawanan masyarakat adat

    Dayak Siang Murung dapat dikategorikan sebagai suatu perkumpulan

    yang inklusif dan diprakarsai oleh aktor-aktor dan diikuti kelompok-

    kelompok yang secara sadar memobilisasi diri untuk bersama-sama

    memperjuangkan democratization of everyday life. Di dalamnya, tentu menekankan; (1) adanya unsur jaringan yang kuat tetapi interaksinya

    bersifat informal atau tidak terstruktur; (2) adanya sharing keyakinan dan solidaritas di antara mereka; (3) adanya aksi bersama dengan

    membawa isu yang bersifat konfliktual; dan (4) aksi tuntutan itu

    bersifat kontinyu tetapi tidak terinstitusi dan mengikuti prosedur rutin

    seperti dikenal dalam organisasi.

    Karenanya gerakan perlawanan masyarakat adat Dayak Siang

    Murung dapat dikatakan sebagai gerakan sosial baru paling tidak harus

    dijelaskan dari dua aspek yaitu: Pertama, hubungan antara proses

  • Refleksi Keberhasilan atau Kegagalan dari Sebuah Gerakan Sosial di Ruang Publik Virtual

    243

    pembiangkaian dari suatu pemikiran tentang perubahan politik

    objektif yang memfasilitasi gerakan sosial. Perubahan politik tertentu

    mendorong tidak hanya melalui pengaruh objektif yang diakibatkan

    oleh perubahan relasi kekuasaan tetapi juga oleh setting dalam pergerakan proses pembingkaian yang selanjutnya menggerogoti

    legitimasi sistem yang dibangun PT IMK di bursa saham; Kedua, suatu gerakan sosial juga bisa muncul karena kaitan resiprokal antara proses

    pembingkaian dan mobilisasi. Proses pembingkaian secara jelas

    mendorong mobilisasi ketika para aktor berupaya mengorganisasi dan

    bertindak pada basis kesadaran yang berkembang tentang

    ketidakabsahan dan kerentanan sistem. Pada saat yang sama, potensi

    bagi proses pembingkaian yang kritis dikondisikan oleh akses pada

    berbagai struktur mobilisasi melalui internet dan media sosialnya

    (proses on-line). Dengan kata lain proses pembingkaian tidak akan terjadi dalam kondisi ketiadaan organisasi serta dukungan media,

    karena ketiadaan struktur mobilisasi dan media hampir pasti upaya

    penyebaran pembingkaian kesejumlah aktor yang diperlukan untuk

    basis tindakan kolektif akan terhambat.

    Selain itu, keberhasilan dan kegagalan gerakan juga sangat

    tergantung pada kemampuan organisasi gerakan menghadirkan paling

    tidak tiga faktor organisasional; pertama, taktik mengganggu (disruptive tactics) baik yang direncanakan maupun yang tidak direncanakan menjadi penentu. Indikasi kuat bahwa taktik yang

    inovatif dan disruptif serta masuk akal (proper channels) sangat efektif untuk menarik simpatik. Salah satunya adalah melalui pembuatan

    laporan keberlanjutan usaha (sustainability reporting) sebagai laporan tandingan PT IMK yang ditujukan kepada bursa saham maupun kepada

    para pemegang saham melalui email. Dengan memasukkan berbagai aspek-aspek terkait dengan muncul permasalahan sosial–budaya dan

    lingkungan hidup dalam pelaporan tersebut, maka gerakan telah

    mampu melakukan pembingkaian guna menunjukkan kepada publik

    bahwa PT IMK “belum” menerapkan prinsip-prinsip pengelolaan

    tambang baik (good mining) dan lebih humanis seperti yang diisyaratkan. Hal ini tentunya tidak membutuhkan mobilisasi sumber

  • ORANG DAYAK MELAWAN TAMBANG Studi Gerakan Sosial Baru dalam Ruang Publik Virtual

    244

    daya besar baik dana dan maupun dukungan berbagai aktor termasuk

    aktor media yang sulit diakses.

    Kedua, pengaruh sayap radikal (radical flank effects), yaitu kehadiran kelompok ekstrim ternyata mampu memetik keuntungan

    yakni membawa pengaruh aliansi antara negara dan gerakan sosial.

    Negara kemudian mau berhubungan dengan para pemimpin dan

    organisasi yang berbicara atas nama gerakan yang dianggap bisa

    menjadi rekan negosiasi yang terpercaya. Dalam situasi semacam ini

    kehadiran kelompok 'radikal' atau 'ekstrimis' bisa memberikan

    legitimasi dan memperkuat daya tawar kelompok yang 'moderat'.

    Kelompok yang dimaksud adalah kehadiran Lembaga Musyawarah

    Masyarakat Dayak Daerah Kalimantan Tengah (LMMDD-KT) yang

    secara tegas mempunyai garis perjuangan ingin mengembalikan hak-

    hak adat orang Dayak.

    Ketiga terkait dengan tujuan (goals). Dalam upaya membangun hubungan yang berhasil dengan lingkungan politik dan organisasi yang

    lebih luas, organisasi gerakan sosial mendasarkan pada tujuan

    organisasinya. Respon dan reaksi dari pihak-pihak utama lain seperti

    negara, pihak lawan gerakan (PT IMK), media, dan sebagainya,

    umumnya dibentuk oleh apa yang dinyatakan dalam tujuan organisasi

    gerakan sosial. Apa yang dinyatakan dalam tujuan bisa dipersepsikan

    sebagai ancaman terhadap kepentingan sejumlah kelompok atau

    kesempatan untuk realisasi kepentingan bagi kelompok lain. Karena

    itu, oposisi dan dukungan yang diperoleh oleh organisasi gerakan sosial

    sebenarnya dibentuk oleh persepsi tentang ancaman dan kesempatan

    yang melekat dalam tujuan kelompok gerakan, salah satunya dengan

    merubah identitas gerakan dari penambang menjadi gerakan

    masyarakat adat.

    Bahwa PT IMK sudah beroperasi kembali, bukan berarti gerakan

    sosial ini tidak efektif sama sekali. Karena, bagaimanapun, pihak PT

    IMK sendiri sudah mengalami beberapa “kekalahan” dalam

    menghadapi perlawanan rakyat. Pertama, ia harus berkali-kali menjual kembali sahamnya dan merubah nama sebagai dampak negatif dari

    adanya perlawanan yang dilakukan masyarakat adat Dayak Siang.

  • Refleksi Keberhasilan atau Kegagalan dari Sebuah Gerakan Sosial di Ruang Publik Virtual

    245

    Kedua, wilayah tambang yang berpotensi tidak dapat diperluas karena menjadi hak adat Dayak Siang yang diakui keberadaannya oleh negara

    sebagai situs budaya. Ketiga, PT IMK beberapa kali “terpaksa” berhenti beroperasi karena wilayah penambangannya diambil oleh masyarakat

    adat Dayak Siang yang juga para penambang (berunak). Karena itu PT IMK selalu menderita kerugian cukup besar.

    Memang, tujuan utama gerakan perlawanan rakyat pada dasarnya

    ingin menutup PT IMK dan mengambil alih wilayah tambangnya

    kembali menjadi tambang rakyat tidak berhasil dicapai, hingga kini.

    Karena, PT IMK sudah kembali beroperasi dan berproduksi, sejak

    Oktober 2016. Apa sebabnya? Jawabannya, yang utama, karena PT

    IMK sebagai perusahaan swasta memiliki patronase politik dengan kekuatan yang sangat besar (aparat birokrasi dan keamanan) dan selalu

    siap membela serta mendukungnya. Dalam konteks ini, patron yang dimaksud adalah negara, sementara PT IMK adalah kliennya.

    Berdasarkan fakta tersebut, maka dapatlah dikatakan bahwa

    keberadaan PT IMK merupakan representasi persekutuan yang relatif

    sempurna antara kepentingan negara dan modal swasta. Terdapat relasi

    erat dan kuat yang mencerminkan adanya simbiose mutualistik antara

    penguasa (kekuatan politik) dan pengusaha (kekuatan kapital) dalam

    kasus ini. Proses seperti yang menyebabkan PT IMK mampu bertahan

    sampai sekarang, meskipun sejak awal sudah mendapatkan perlawanan

    yang tidak henti-hentinya dari masyarakat.

    Sampai sekarang, PT IMK kembali beroperasi dengan nama PT

    Kasongan Bumi Kencana untuk memanfaatkan sisa tailling. Pertanyaannya, apa yang dialami masyarakat setempat? Benarkah

    mereka kini menjadi lebih sejahtera dan dapat menikmati hidup

    sehari-hari yang nyaman? Pertanyaan lanjut yang patut diajukan,

    berhasilkah gerakan perlawanan tersebut? Jawabannya, tentu saja,

    relatif. Dalam arti, dapat dikatakan gagal, namun bisa juga berhasil,

    berdasarkan perspektifnya masing-masing -sebagaimana sudah

    disinggung di atas. Gerakan tersebut gagal, jika yang dijadikan

    indikatornya adalah eksistensi PT IMK yang tidak tergoyahkan sampai

    sekarang. Namun, gerakan tersebut dapat dikatakan berhasil, jika yang

  • ORANG DAYAK MELAWAN TAMBANG Studi Gerakan Sosial Baru dalam Ruang Publik Virtual

    246

    dijadikan indikatornya adalah: (1) berubahnya eksistensi PT IMK

    (selalu berganti manajemen); (2) semakin meluasnya jejaring gerakan

    perlawanan rakyat itu sendiri; (3) tetap bertahannya “daya lawan”

    gerakan tersebut sampai sekarang; (4) terbentuknya sebuah masyarakat

    yang berdaulat atas kehidupannya sendiri, yang mampu menyatakan

    ketidaksetujuan, menyuarakan protes, dan mengambil jarak terhadap

    penguasa (negara) dan pengusaha (pemilik modal).

    Pada akhirnya, jika pada kenyataannya gerakan perlawanan

    masyarakat adat Siang Murung, belum juga mampu “mengalahkan

    sepenuhnya” PT IMK, meski telah berjuang dalam waktu yang relatif

    lama, sesungguhnya hal itu tidaklah mengherankan. Sebab, dalam

    konteks ini, yang dilawan bukanlah hanya pihak PT IMK, dan bukan

    pula pihak pemerintah daerah setempat (baik Kabupaten Murung Raya

    maupun Provinsi Kalimantan Tengah) beserta aparat keamanannya.

    Melainkan, pihak yang memiliki kekuatan jauh lebih besar, yakni

    negara, yang dalam hal ini direpresentasikan oleh Pemerintah Pusat di

    Jakarta dan relasinya dengan berbagai perusahaan multinasional

    sebagai pendukung utama memenuhi kebutuhan investasi untuk

    pembangunan.

    Perlawanan Entah Sampai Kapan

    Pada kenyataannya, sampai sekarang PT IMK masih tetap berdiri

    tegak di desa Oreng Kambang dengan manajemen baru PT Kasongan

    Bumi Kencana. Dipihak lain, masyarakat masih tetap belum merespon

    kehadirannya tetapi sudah mempersiapkan diri untuk melakukan aksi-

    aksi perlawanan kembali dengan tetap menjalin kerja-kerja dengan

    LMMDD-KT karena memiliki tanggungjawab membentuk dan menjadi

    anggota Asosiasi Pertambangan Rakyat Kalimantan (Aspera) sebagai

    wadah komunikasi masyarakat adat Dayak agar dapat

    mempertahankan hak-hak adatnya.

    Bahwa sebagian masyarakat kini merasa lelah dan frustrasi dalam

    berjuang, mungkin hal itu benar adanya. Namun demikian, bukan

    berarti mereka telah berhenti berjuang atau telah berubah sikap:

  • Refleksi Keberhasilan atau Kegagalan dari Sebuah Gerakan Sosial di Ruang Publik Virtual

    247

    menerima sepenuhnya PT IMK dengan senang hati. Karena,

    sesungguhnya, mereka hanya mencoba berhitung lebih cermat dan

    menyusun strategi yang lebih tepat, di tengah perjuangan panjang yang

    penuh resiko, agar dapat mencegah jatuhnya korban dan kerugian yang

    jauh lebih besar seperti yang penah dialami sebelumnya. Selain itu,

    mereka pun tetap berjejaring dan berinteraksi, khususnya dalam

    rangka saling bertukar informasi, dengan LMMDDKT sebagai ornop

    yang selama ini telah mendampingi dan turut berjuang bersama

    dengan mereka. Itulah yang terjadi sampai sekarang, baik yang

    terekam melalui pengamatan di lapangan maupun melalui percakapan

    dengan sejumlah narasumber di desa Oreng Kambang, Murung Raya,

    Palangkaraya, dan Jakarta.

    Dari sisi ini gerakan masyarakat yang terlibat dalam perjuangan

    melawan PT IMK itu mungkin dapat dikatakan “menang”, dan

    sebaliknya pihak PTM IMK dikatakan “kalah”. Namun, jika dikaitkan

    dengan konsep pembangunan, maka paradigma negara dan PT IMK

    sendiri yang selama ini semata-mata bertopang pada aspek ekonomi,

    mungkin sudah saatnya dikaji ulang dan diperjelas terutama dalam

    rumusan perjanjian, seperti Kontrak Karya (KK). Aspek utama yang

    perlu menjadi perhatian utama dalam rumusan perjanjian tersebut

    adalah upaya memajukan potensi manusia, dan bukan hanya untuk

    memproduksi sesuatu yang bernilai ekonomis. Pembangunan

    seharusnya dipahami sebagai sebuah proses memperbaiki kondisi-

    kondisi kehidupan manusia yang mencakup banyak aspek; tidak hanya

    ekonomi, tetapi juga sosial, budaya, lingkungan hidup bahkan juga

    politik. Itulah sebabnya, pembangunan harus menempatkan

    penghormatan atas hak-hak asasi manusia, baik hak-hak sipil dan

    politik maupun hak-hak ekonomi-sosial-budaya, dan mempertahankan

    kondisi lingkungan hidup pada posisi sentral dalam sebuah kebijakan

    pembangunan negara.

  • ORANG DAYAK MELAWAN TAMBANG Studi Gerakan Sosial Baru dalam Ruang Publik Virtual

    248

    Teknologi dan Gerakan Sosial Baru

    Penelitian ini menemukan bahwa kemajuan teknologi sangat

    berpengaruh terhadap perkembangan gerakan sosial baru untuk

    menambahkan salah satu cirinya. Produk teknologi yang selalu

    dipandang netral ternyata mulai memperlihatkan pengaruhnya sebagai

    saluran untuk dapat mengembangkan gerakan sosial. Internet dan

    media sosialnya sebagai salah satu produk mutakhir teknologi,

    kehadirannya tidak pernah diperhitungkan oleh para penguasa dan

    pemilik modal dan menjadi aktor utama keberhasilan gerakan sosial.

    Hal yang sama juga belum menjadi perhatian dari para peneliti dan

    aktivis gerakan sosial untuk memasukan teknologi internet dan media

    sosialnya sebagai salah satu faktor penting berkembangnya gerakan

    sosial baru, seperti yang ditemukan dalam penelitian dan ditunjukkan

    pada gambar 8.1. di bawah ini.

    Sumber : Hasil Penelitian

    Gambar 8.1.

    Teknologi dan Gerakan Sosial Baru

    Teori-teori gerakan sosial yang digunakan dan dikembangkan

    dalam berbagai penelitian, seperti; konflik pembangunan dan gerakan

    sosial di Papua; gerakan sosial rakyat Porsea, Toba Samosir; gerakan

  • Refleksi Keberhasilan atau Kegagalan dari Sebuah Gerakan Sosial di Ruang Publik Virtual

    249

    sosial masyarakat Stren Kali Surabaya; gerakan sosial korban bencana

    lumpur Lapindo; gerakan sosial petani Kalibakar; dan gerakan

    perlawanan orang-orang tertindas serta gerakan rakyat melawan elit

    ternyata belum mempertimbangkan dan memasukan perkembangan

    teknologi internet dan media sosialnya dalam analisisnya.

    Penelitian ini menemukan bahwa teknologi internet dan media

    sosialnya ternyata mampu mempengaruhi dinamika gerakan sosial baru

    agar dapat mendukung proses pembingkaian cultural (cultural framing) dengan memanfaatkan peluang kesempatan politik seiring dengan

    terbentuknya demokrasi baru di ruang publik virtual sehingga dapat

    memobilisasi struktur sumber daya (mobilizing structure) melalui jejaring aktor. Karenanya kehadiran teknologi internet dan media

    sosial lainnya juga menjadi penentu dari gagal atau tidaknya sebuah

    gerakan sosial baru.

    Kedepan penelitian-penelitian tentang gerakan sosial di ruang

    public virtual menjadi menarik agar dapat mengembangkan teori-teori

    gerakan yang saat ini belum menjadikan teknologi internet dan media

    sosialnya sebagai variable penentu berhasil tidaknya sebuah gerakan

    sosial. Terkait dengan gerakan sosial yang memanfaatkan teknologi

    internet dan media sosial lainnya untuk dapat memasuki ruang public

    virtual memperlihatkan ciri-ciri sebagai catatan untuk penelitian

    selanjutnya sebagai berikut :

    1. Gerakan ini mampu merubah land scape perlawanan dalam menyampaikan tuntutan, pendapat dan penentuan keputusan

    secara vertikal menjadi hoprisontal;

    2. Gerakan ini juga mampu mengubah lapangan gerakan sosial

    dari bersifat nyata menjadi bersifat maya lewat kampanye

    virtual, perang webside dan pesan-pesan politik. Karena melalui teknologi internet dan media sosialnya, memberikan

    kebebasan bagi siapa pun membuat webside, email maupun media sosial dan menyebarkan informasi tanpa ada kontrol atas

    informasi yang disebarluaskan tersebut.

  • ORANG DAYAK MELAWAN TAMBANG Studi Gerakan Sosial Baru dalam Ruang Publik Virtual

    250

    3. Gerakan ini mampu mengatasi hambatan pendanaan, persoalan

    ruang dan waktu sehingga gerakan yang dilakukan berlangsung

    efektif dan tepat-sasaran.

    4. Gerakan ini mampu menimbulkan demontrasi massif di

    berbagai tingkatan (kampung hingga nasional).

    5. Proses berdemokrasi tidak lagi monopoli oleh lembaga-

    lembaga perwakilan konvensional, namun bisa berlangsung di

    dalam ruang publik virtual.

    6. Dalam ruang public virtual ternyata semua pihak dalam

    melakukan manipulasi dengan memberi informasi yang salah,

    dan bias meluas ke aktivitas politik (online atau internet action) di jaringan internet (cyberspace). Manfaat jaringan internet sebagai saluran atau medium baru harus dibayangkan

    sebagai agen, aktor aktif yang kreatif menciptakan sekaligus

    memodifikasi makna secara radikal.

    7. Semua orang dapat menyampaikan pendapatnya tanpa

    diketahui identitasnya sehingga bentuknya lebih cair dan

    personal untuk memberi makna terhadap pesan yang

    diterimanya

    8. Di era berkembangnya teknologi internet, justru mendorong

    terjadinya penguatan nasionalisme ke daerahan. Hal ini

    bertentangan dengan asumsi globalisasi yang mengaburkan

    batas teritori sebuah negara dimana gerakan perlawanan ini

    justru menggugah semangat nasionalisme kedaerahan.