Refleksi Kasus Tb

download Refleksi Kasus Tb

of 25

  • date post

    01-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    250
  • download

    13

Embed Size (px)

description

tb

Transcript of Refleksi Kasus Tb

REFLEKSI KASUS

TUBERKULOSIS PARU

Disusun Oleh:

Diky Sukma Wibawa

H2A008014

Pembimbing:

dr. Zakiyah, Sp RadBAGIAN ILMU RADIOLOGIPROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG

2012

KASUS

IDENTITAS PASIEN

Nama

: Tn. SlametJenis Kelamin

: Laki-lakiUmur

: 57 tahun

Alamat

: Panjonan PemalangPekerjaan

: Pedagang makanan kecilStatus perkawinan: Sudah menikah

Biaya pengobatan: JAMKESMAS

ANAMNESIS

Keluhan Utama :

Batuk berdahak berwarna putih

Riwayat Penyakit Sekarang : 1 bulan yang lalu sebelum masuk rumah sakit, pasien mengeluhkan penurunan nafsu makan yang disertai penurunan berat badan. 2 minggu yang lalu sebelum masuk rumah sakit, pasien mengeluhkan batuk. Menurut pasien batuk yang dirasakan terus menerus, batuk disertai dahak (+) berwarna kuning namun tidak disertai darah.

3 hari yang lalu sebelum masuk rumah sakit pasien mengeluhkan batuk disertai dahak (+) berwarna kuning, demam (+), mual (-), muntah (-), kesemutan (-), keringat dingin dimalam hari (+), susah BAB, BAK normal.Pada saat masuk rumah sakit pasien mengeluh batuk disertai dahak (+) berwarna kuning, demam (+), mual (+), muntah (+), keringat dingin dimalam hari (+), susah BAB, BAK normal.Riwayat Penyakit Dahulu :

Riwayat TB (+)

Hipertensi disangkal

Penyakit Jantung disangkal

Diabetes melitus disangkal

Asma disangkalAlergi obat disangkal

Alergi makanan seafood (-)Riwayat Penyakit Keluarga :

Keluarga tidak ada yang sakit seperti ini

Hipertensi disangkal

Penyakit Jantung disangkal

Diabetes melitus disangkal

Asma disangkalAlergi obat disangkal

Alergi makanan seafood (-)

Riwayat Sosial Ekonomi

Pembiayaan pasien menggunakan JAMKESMASRiwayat Pribadi :

Pasien merokok sebanyak 1 bungkus/hariMinum minuman beralkohol disangkalPemeriksaan fisik

Keadaan umum : Terlihat sakitKesadaran : Compos mentis

Vital sign :

TD: 100/70 mmHg

Suhu: 38,7oC

RR: 27x/menit

Nadi: 88x/menit reguler, isi dan tegangan cukup

BB: Tidak diukur

TB: Tidak diukur

Status Generalis :

Kepala : Mesocepal

Mata

: Konjungtiva anemis (-/-) , Sklera ikterik (-/-), RCL (+/+), RCTL

(+/+)Hidung : Septum deviasi (-), sekret (-/-), mukosa hiperemis (-/-), konka

hipertrofi (-/-)Mulut

: Sianosis (-), lidah kotor (-), gigi karies (-), Tenggorok : Faring hiperemis (-) tonsil T1-T1

Telinga : Normotia, deformitas (-), serumen (-/-), sekret (-/-)Leher

: Pembesaran KGB (-), struma (-), deviasi trakhea (-)

Thorax

PulmoDextraSinistra

Depan

Ins

Pal

Per

AusSimetris statis dinamis

Stem fremitus ka = ki

Sonor seluruh lapang paru

SD Vesikuler, Ronki (-), Wheezing (-)Simetris statis dinamis

Stem fremitus ka = ki

Sonor seluruh lapang paru

SD Vesikuler, Ronki (-), Wheezing (-)

Belakang

Ins

Pal

Per

AusSimetris statis dinamis

Stem fremitus ka = ki

Sonor seluruh lapang paru

SD Vesikuler, Ronki (-), Wheezing (-)Simetris statis dinamis

Stem fremitus ka = ki

Sonor seluruh lapang paru

SD Vesikuler, Ronki (-), Wheezing (-)

Cor :

Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat Palpasi : Ictus cordis teraba di ICS V 2 cm media linea midclavicula sinistra, pulsus epigastrium (-), pulsus parasternal (-) Perkusi : Batas atas : ICS II linea parasternal kiri

Batas kanan bawah : ICS V linea sternalis kanan

Batas pinggang jantung : ICS III linea parasternal kiri

Batas kiri bawah : ICS V 1-2 cm media linea midclavicula sinistra

Konfigurasi jantung : normal

Auskultasi : BJ I-II normal, gallop (-) murmur (-)

Abdomen :

Inspeksi : Perut katak (-), defans muscular (-)

Auskultasi: Peristaltik 5-30x/menit, metalic sound (-)

Palpasi

: Nyeri tekan (-),hepar tidak teraba, lien tidak teraba, ginjal

tidak teraba

Perkusi: Tympani (+), pekak sisi (+), pekak alih (-), Ekstrimitas

SuperiorInferior

Akral dingin

Oedem

Sianosis

Reflek fisiologis

Reflek patologis

CRT

-/-

-/-

-/-

+/+

-/-

< 2-/-

-/-

-/-

+/+

-/-

< 2

Pemerikaan penunjang

Pemeriksaan laboratorium tanggal 24 Juli 2012

Darah rutin Hasil Satuan Nilai normal

Lekosit Eritrosit Hb Ht MCV MCH MCHC Trombosit RDW Diff count Eosinofil Absolute Basofil AbsoluteNetrofil Absolute

Limfosit Absolute

Monosit Absolute

Eosinofil

Basofil

Neutrofil

Limfosit

Monosit

KIMIA KLINIK (Serum)

GDS

SGOT

SGPT

Ureum

Creatinin

Kalium

Natrium

Chlorida

Calsium 10.75

5.07

14.40

44.30

88.10

28.40

32.00

504

16.90

0.82

0.41

5.08

3.44 1.00 7.60 0.40 54.30 28.40 9.30 89 32 16 106.0 5.25 3.2 140 94 12.4 10^3/ ul

10^6/ uL

g/ dL

%

fL

Pg

g/dL

10^3/ ul

%

10^3/ ul

10^3/ ul

10^3/ ul

10^3/ ul10^3/ ul%% % % % mg/dL U/LU/Lmg/dLmg/dLmmol/L mmol/Lmmol/L Mg/dL 3.8 10.6

4.4 5.9

13.2 17.3

40 52

80 100

26 34

32 36

150 440

11.5 14.5

0.045 0.44

0 0.2

1.8 - 8

0.9 5.2

0.16 1 2 4 0 1 50 70 25 40 2 8 < 125 0 35 0 35 10.0 50.0 0.60 0.90 3.5 5.0 135 145 95.0 105 8.1 10.4

Foto Rontgen tanggal 25 Juli 2012

Cor : Ukuran, letak dan bentuk normal

Pulmo: Corakan vaskuler kasar

Bercak kesuraman (+) kiri atas

Kalsifikasi (+)

Diafragma : Normal

Sinus costofrenikus : Normal

Kesan: Cor : Normal

Pulmo : TB Paru lama aktifUsulan Pemeriksaan

Mikrobiologi : Pemeriksaan Sputum SPS

Diagnosis Banding :

TB Paru Relaps PPOK

Diagnosis Klinis :

TB Paru RelapsPenatalaksanaan : Farmakologi :Inf RL 20 tetes/menit

Inj Cefotaxim 1 gr

Inj ondancetron 1 amp

Inj B12 1 amp

Non farmakologi : Jangan membuang dahak sembarang tempat

Menjaga kebersihan lingkungan Memakai masker PEMBAHASAN

Definisi

Tuberkulosis adalah penyakit menular granulomatosa kronik yang telah dikenal sejak berabad-abad yang lalu dan paling sering disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar kuman TB menyerang paru, 85 % dari seluruh kasus TB adalah TB paru, sisanya (15 %) menyerang organ tunuh lain mulai dari kulit, tulang, organ-organ dalam seperti ginjal, usus, otak dan lainnya.1Epidemiologi

Di negara maju seperti Eropa dan Amerika, TB paru relatif mulai langka, hal ini disebabkan karena tingginya standar hidup masyarakat serta kemajuan dalam cara pengobatan. Menurut data Center for Disease Control (CDC), angka kejadian TB 10 kali lebih tinggi pada orang Asia dan Pasifik, 8 kali lebih tinggi pada orang kulit hitam non Hispanic, dan 5 kali lebih tinggi pada orang Hispanic, Amerika asli dan Alaska asli, namun ras bukan faktor resiko yang berdiri sendiri untuk terjadinya TB. Resiko TB lebih didasarkan atas sosial, ekonomi dan tingkat kesehatan individu. Tidak ada perbedaan bermakna antara laki-laki dan perempuan dalam angka kejadian TB. Angka kejadian TB meningkat pada usia ekstrem (anak-anak dan orang tua) dan kelompok resiko tinggi seperti penderita DM, pecandu alkohol, pecandu obat bius, immuno-comprozed conditions seperti HIV, SLE, malnutrisi, dalam pengobatan kortikosteroid dan kemoterapi, gelandangan, orang-orang dalam penjara dan sebagainya. Disamping faktor-faktor di atas, beberapa kepustakaan mengatakan bahwa terdapat faktor genetik individu seperti pada orang-orang dengan polymorphism dengan gen NRAMP (Natural Resistance Associated Macrophage Potein 1) yang berpengaruh pada timbulnya TB.1Menurut data dari evidence based guide book, hanya 5 % pasien TB paru reaktif yang mempunyai foto toraks normal, sisanya abnormal. Sensitivitas dan spesifisitas foto toraks dalam mendiagnosis TB yaitu 86 % dan 83 % apabila ditemukan lesi apikal, kavitas dan gambaran retikulonodular.1Patogenesis TB Paru

Penularan terjadi ketika seseorang terinfeksi droplet yang mengandung kuman TB. Bakteri tumbuh lambat dan bertahan dalam lingkungan intra selular dan dorman sebelum reaktivasi. Pengertian utama dari patogenesis kuman TB adalah kemampuan kuman untuk lolos dari mekanisme pertahanan tubuh host, termasuk makrofag dan sistem hipersensitivitas tipe lambat. Droplet nukleus Yng terinfeksi berukuran sangat kecil (1-5 mikron) dan mengandung sejumlah 1-10 basil.1Setelah terhisap, kuman terkumpul di bronkiolus respiratorius distal atau alveolus yang letaknya sub pleural. Kemudian makrofag alveolar akan memfagosit kuman. Tetapi makrofag titdak mampu melisiskan bakteri sehingga bakteri berkembang dalam makrofag. Kemudian terjadi perpindahan makrofag yang berisi kuman Mycobacterium tuberculosis ke kelenjar getah bening regional (penyebaran limfogen) membentuk fokus primer. Sedangkan pada penyebaran hematogen kuman Mycobacterium tuberculosis masuk ke sirkulasi darah dan menyebar ke seluruh tubuh.1

Gambar patogenesis terjadinya TB primer dan TB post primer

TB post primer terjadi setelah