REFLEKSI BUDAYA

download REFLEKSI BUDAYA

of 34

  • date post

    11-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    183
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of REFLEKSI BUDAYA

EVOLUSI MINANGKABAU SIMBOLIK DAN KONTEKS

WIKO ANTONI DOSEN STKIP YPM BANGKO

Fenomena Evolusi Kebudayaan Charles Darwin sebagai penggagas teori evolusi telah memberikan kontribusi besar dalam berbagai cabang ilmu. Melalui konsep perubahan yang menjadi Inti teori evolusi bukan hanya ilmu biologi yang mendapat sumbangan konsep tapi ilmu social juga mendapatkan banyak perkembangan. Menurut kamus antropologi yang ditulis Winich pada tahun 1977,evolusi berarti suatu perkembangan yang berkesinambungan ( Winich dalam Pelly danMenanti MS, 1994:47). Pengertian ini akhirnya membuat teori evolusi mampu menyorot berbagai cabang ilmu soaial termasuk antropologi dan sosiologi. Vegger dalam menanti menjelaskan bahwa teori evolusi dalam perkembangan ilmu social berkaitan dengan the struggler for life. Dalam bahasa Indonesia dapat disepadankan dengan perjuangan untuk hidup. Spencer merumuskan sumbangan teori evolusi kepada dunia ilmu berkaitan dengan pemahaman adanya Perubahan organic alamiah yang mencakup aspek biologis maupun antropologis. Konsep fosil yang digagas Darwin sebenarnya beranjak dari pemikiran Maltus dalam buku Essay of Population. Malthus mengemukakan bahwa populasi meningkat berdasarkan deret ukur, sedangkan penyediaan makanan berdasarkan deret hitung sehingga tidak dapat dihindari persaingan hidup untuk survive meningkat.

1

Pola tingkah laku penyesuaian yang dilakukan secara belurang-ulang dalam waktu cukup lama dari satu generasi ke generasi lain dapat memisahkan organism secara relative dari tipe aslinya. Mengenai hal in I Wallace menyampaikan gagasannya kepada Darwin melalui tulisan On the Tendency Of Varietas to Depart Indefienitely from the original type. Dalam bahasa Indonesia berarti Kecenderungan Varietas untuk memisahkan diri secara tidak tetap dari tipe aslinya. Gould menyatakan bahwa evolusi bagian dari seleksi alam, menurut Gould evolution is evolusi purposeless, non progressif and non naturalistic. Dalam bahasa Indonesia bermakna evolusi tidak bertujuan, tidak proggressif dan tidak bersifat materialistic. Pemikiran ini dalam sejarah disebut dengan teoligical explanation. Atau penjelasan teologis. Dalam hal ini penjelasan tentang kucing tidak dapat dihindarkan dari substansi yang mirip kucing. Pandangan Darwin tentang evolusi mengarah pada persetujuan pada pendapat Malthus yang mangatakan jumlah manusia akan jauh melebihi dari jumlah makanan yang tersedia. Darwin berpendapat hidup manusia akan mengarah kepada persaingan yang tak terelakkan demi pemenuhan kebutuhan primer. Sebagai ilmu yang merambah bagian organic dan non organic maka evolusi memilki percabangan konteks yang berkaitan dengan bio antropologi hingga social. Pada akhirnya evolusi menjadi kajian pula dalam ilmu kebudayaaan. Sebagai ilmu evolusionalisme memberikan tempat khusus pada evolusi manusia . Kuntjaraningrat berpendapat evolusi manusia mengarah kepada proses perkembangan mahkluk primat menuju perkembangan berfikir. Sementara Kessing berpendapat manusia adalah bagian dari jaringan alam, hasil evolusi yang bermula dari nenek

2

moyang primat, urutan dalam skala waktu proses evolusi hanya dapat diperkirakan dari beberapa tulang fosil gigi, yang tersebar luas dalam ruang waktu 25 tahun belakangan. Kebudayaan manusia akan berkembang dari tingkat-tingkat kebudayaan yang rendah ketingkat kebudayaan yang tinggi , terdorong oleh suatu kekuatan untuk berevolusi. Morgan menjelaskan bahwa ada tujuh tingkat evolusi kebudayaan manusia, mulai dari zaman liar tua yakni zaman awal ditemukannya api, sampai pada tingkat ketujuh yang disebut zaman peradaban. Yakni periode manusia mengenali tulisan seperti sekarang. Sedangkan evolusi religi berkembang dari manusia mengenal kekuatan roh hingga sampai pada ketuhanan yang maha esa. Kelemahan teori evolusi Teori evolusi sebagai grand teori tentu saja memiliki kelemahan. Teoei evolusi tidak mampu menjawab persolan-persoalan yang bersifat religious dalam kehidupan manusia. Teori evolusi juga tak mampu memberikan penjelasan secara rinci tentang perilaku menyimpang yang terjadi dalam lingkungan masyarakat tertentu. Tidak mampu membedah persoalan class civilization dan pertentangan kelas karena itu akhirnya pada banyak kasus yang digunakan adalah teori structural dan teori konflik fungsionalisme.

Evolusi Kebudayaan Minangkabau di Jambi Barat antara Konsep dan Simbol Ketika masyarakat majemuk berinteraksi dengan masyarakat lain yang berbeda budaya, maka ketika proses komunikasi dilakukan, simbol-simbol verbal atau nonverbal secara tidak langsung mengalami kompromi dan saling mengisi. Penggunaan simbol-simbol ini acapkali menghasilkan bentuk berbeda dari bentuk sebelumnya, namun secara substansi

3

menghasilkan arti yang sama, maka terjadilah bentuk baru simbolik dengan substansi yang sama. Evolusi simbolis Minangkabau yang terjadi di Jambi Barat dapat dilihat dari pola pengungkapan garis kekeluargaan matrilineal yang berganti bentuk secara riil namun berkutat pada satu persamaan dengan makna aslinya secara substansi.Garis keturunan ibu yang didasarkan suku dan kaum di Minangkabau beralih bentuk dengan kata suku duo dengan alas an anak laki-laki adalah anak juga dan wajib juga diberi tempat dalam keluarga. Tentu saja sepintas ini tantangan bagi struktur budaya Minangkabau yang memberikan tempat istimewa bagi perempuan di atas rumah. Kenyataan yang terjadi dibeberapa wilayah di Jambi Barat, Sebagian Merangin (Luhak XVI dan Keseluruhan Kerinci, sebagian daerah Tabir Barat dan Koto Rayo di wilayah Tabir), justru memberi indikasi pelaksanaan falasafah ini sama betul dengan Minangkabau. Konsep utama dalam hal harta pusaka ditempat-tempat trsebut adalah harta semuanya milik laki-laki dan digunakan untuk menolong kaum perempuan. Akibat dari itu semua sebelum harta pusaka di bagi para lelaki terlebih dahulu menghitung jumlah pusaka yang mereka miliki kemudian mengkaji kebutuhan saudara perempuan mereka akan pusaka tersebut. Yang lebih nyata lagi bahwa keistimewaan perempuan yang ada di Minangkabau dinikmati perempuan ditempat tersebut adalah ketika ternyata harta yang dimiliki cukup banyak, kaum lelaki harus meminta kerelaan kaum permpuan agar mereka dapat minta sedikit dari pembagian harta itu. Di Minangkabau laki-laki memang sama sekali tidak berhak untuk memiliki harta pusaka keluarga namun dalam segala urusan harta pusaka tersebut justru laki-laki yang memutuskan. Disini terlihat adanya benang merah antara budaya dibeberapa tempat

4

Jambi Barat dengan struktur matrilineal yang beranjak dari kompromi simbolik yang berpijak dari evolusi kebudayaan Matrilineal menjadi suku duo, yang pada dasarnya secara substansi adalah sama. Bicara mengenai makna suku duo sendiri dapat di artikan sebagai tanggungjawab ganda antara ayah dan mamak. Ini secara harfiah adalah tantangan dari hegemoni mamak yang terjadi di Minangkabau namun dalam prakteknya justru mamak tetap berada posisi yang kuat dengan adanya aturan adat untuk menghargai tungganai. Tungganai adalah lelaki tertua dari saudara ibu. Secara struktur ayah di rumah tetap saja tamu dan disebut semenda yang tak punya kekuatan memberi keputusan dalam urusan keluarga. Sistim suku duo yang diterapkan justru bentuk baru dari hegemoni mamak dalam sistim matrilineal. Ini terjadi ditempat-tempat dimana wilayah tersebut di sebut wilayah tuo dan peawaris adat yang kuat. Evolusi Budaya Minangkabau ini tak berhenti sampai disini. Pemaknaan suku duo ini mengalami perubahan pula diwilayah Rantau Kinci Daerah Rantaupanjang, Limbur Merangin, Sarolangun hingga Muara Bungo mengalami pergeseran struktur dan memberikan pemaknaan berbeda tentang hal ini. Di tempat-tempat tersebut di atas suku duo dimaknai dua sisi tanggungjawab dimana mamak adalah penanggungjawab etika anak ayah penanggungjawab ekonomi. Akibat dari pola ini harta pusaka memang dikuasai laki-laki dimana laki-laki tertua dalam keluarga membagi harta sama banyak untuk adik-adiknya. Didaerah tersebut ada istilah bedah ikan yang artinya sama banyak. Walaupun demikian konsep dasar matrilineal belumlah hilang. Laki-laki tetap harus bertanggungjawab kepada kemenakan mereka dalam segala hal. Laki-laki harus tetap mengawasi pola laku kemenakan dan bertanggungjawab pada pendidikan mereka.

5

Ayah yang bertanggungjawab secara ekonomi juga menjadi penyedia biaya belaka dalam segala hajat untuk anak-anak mereka, segala urusan adat tetap menjadi urusan mamak, dalam hal ini bila mamak keberatan pada sesuatu masalah maka bias saja kegiatan yang dirancang terancam batal. Mamak sebagai sebuah symbol dalam budaya matrilineal dapatlah diartikan sebagai elemen puncak sebuah struktur pembentuk karakteristik kepemimpinan sekelompok orang yang terkait garis keturunan ibu. Simbol yang diartikan Pierce sebagai tanda yang mengacu pada objek, melibatkan tiga unsur dasar dalam segi tiga makna yakni simbol itu sendiri, satu rujukan atau lebih dan hubungan antara simbol dengan rujukan (Sobur, 2003 : 156). Berkaitan dengan hal ini dapatlah dilihat hegemoni mamak dalam struktur masyarakat Jambi Barat dalam tiga variable pertama kedudukannya sebagai kuasa yang mengendalikan kelompoknya, hubunganya dengan struktur budaya matrilineal yang memberikan makna sama dengan struktur suku duo dan hubungan komperatif antara suku duo dengan sistim Minangkabau yang berada pada substansi pemaknaan sama tentang fungsi dan kuasa mamak. Berkaitan dengan ini maka perlu diingatSimbol tidak dapat hanya disikapi secara isolatif, terpisah dari hubungan asosiatifnya dengan simbol lainnya. Simbol berbeda dengan bunyi, simbol telah memiliki kesatuan bentuk dan juga makna. Maka, pada dasarnya simbol dapat dibedakan menjadi simbol-simbol universal, simbol kultural yang dilatarbelakangi oleh kebudayaan tertentu, dan simbol individual (HartokoRahmanto, 1998 : 133). Dengan demikian dari kajian simbolis dapat dikatakan kompromisme evolutif telah terjadi terhadap budaya Minangkabau di daerah Jambi Barat.

6

Bila dikaji dengan kerangka simbolis De Saussure dimana simbol merupakan diagram yang mampu menampilkan gambaran suatu objek, meskipun objek itu tidak dihadirkan. Maka perlu diingat bahwa Sebuah simbol, adalah jenis tanda yang hubungan antara penanda dan petanda seakan-akan bersifat arbitrer. Konsekuensinya, hubungan antara kesejarahan mempengaruhi pemahaman pelaku komunikasi, yaitu individu/masyarakat. Sebagai akibat dari pemahaman ini maka perlu dikaji faktor historis yang mengakibatkan evolusi struktur matrilineal Minangkabau di Jambi Barat ini secara historis. Pemahaman struktur suku duo yang berbeda-beda di Jambi Barat mengakibatkan penerapan yang berbeda pula. Kebiasaan orang Minangkabau yang mendokumentasikan sejarah dengan lisan menjadi kesulitan dalam mengungkap sejarah. Ini terjadi pula di wilayah Jambi barat. Reportoar sejarah yang tersedia sama dengan di wilayah Minangkabau yakni cerita dan tambo. Reportoar pertama yang dapat diambil secara komperatif adalah mitologi Cindur Mato, Malimdeman. Barangkali mitologi Malimdeman akan lemah karena cerita ini ada di Aceh, Sumatera Utara, bahkan Pulau Jawa dengan nama Jaka Tarub. Dengan demikian Reportoar Cindur Mato menjadi pilihan tepat. Cindur Mato di Lujak XVI Tokoh legendaries Cindur Mato yang membawa misi dari Dangtuangku untuk menjemput tunangannya di Sungai Ngiang telah hadir sebagai tokoh pendidik di daerah Jambi Barat. Cindur Mato disebut-sebut melewati daerah, Pagkalan Nibung, Tabir Hulu, koto Rayo dan terus ke Batang Asai. Lawan Cindur Mato Tiang Bungkuk disebutsebut berasal dari Mataram yang memiliki kuasa di daerah Kerinci dalam versi ini Cindur Mato

7

selain sebagai guru juga dikisahkah telah membantu Kerajaan jambi dalam memadamkan pemberontakan Kerinci yang dipimpin Tiang Bungkuk. Reportoar Cindur Mato disini dihubung-hubungkan dengan sejarah terbunuhnya dubalang empat puluh ketika Tiang Bungkuk meminta uang jajah ke daerah Luhak XVI seingga di daerah Luhak XVI tokoh ini meninggalkan jejak yang cukup signifikan. Tokoh ini disebut-sebut telah meninggalkan sistim budaya matrilineal dilingkungan pendatang Mataram yang ditempatkan raja Melayu Jambi mendiami pegunungan Luhak XVI. Kenyataan yang amat terasa adalah pada sistim pertanggungjawaban kaum yang mengarah kepada pola Minangkabau. Fakta pertama adalah kekuasaan laki-laki pada harta pusaka yang hanya sebaatas kuasa kepemilikan sementara kuasa pengelolaan adalah kaum wanita. Laki-laki didaerah Luhak XVI kuasa membagi harta pusaka untuk saudara perempuan mereka tanpa punya hak ikut mendapat bagian. Hal lain yang terlihat adalah struktur perkawinan yang memakai sistim semenda. Dalam lingkungan budaya Luhak XVI fihak laki-laki datang kerumah wanita sebagai semendo yang berdiam di atas pusaka kaum wanita. Hal ini mirip sekali dengan Minangkabau yang menerapkan basamando. Sumber lisan yang didapat mengatakan bahwa didaerah Luhak XVI dahulunya ada dua kekuatan yang bertemu, yakni pendatang Mataram yang diberi izin oleh pemerintah Melayu Jambi dan orang-orang Minangkabau yang datang lebih dahulu, sebagian menerangkan bahwa didaerah ini dulu pernah menjadi medan pertempuran antara pengikut Tiang Bungkuk melawan pengikuy Cindur Mato. Kenyataan demikian menyisakan struktur budaya yang unik. Berada antara Melayu Minangkabau dengan Melayu Jambi. Di daerah ini terdapat istilah adat Minang Pseko Jambi. Di lain fihak ada

8

pula beberapa kosa kata yang benar-benar menggunakan bahasa Minang misalnya ambo, awak, kami dan mensanak. Daerah Luhak XVI terdiri dari empat bagian yakni Koto Sepuluh, Pungguk Enam, Pungguk Sembilan dan Ujung Tanah Batin. Dulunya dikuasai oleh empat Depati yakni depati Karto Dewo, Depati Suko Berajo, Depati Payung dan Depati Siang Dito. Wilayah kuasa mereka berpusat di Koto Tapus dimana didaerah tersebut berdiam Para Pamuncak Alam yang bertugas mengawasi kinerja empat Depati tersebut. Melayu Jambi pada masa para Depati menjadikan wilayah ini bagian dari kekuasaannya dan menganggap warga pendatang Jawa dan Minangkabau tersebut sebagai warganya. Kenyataan ini dapat dilihat dari demikian setianya warga daerah tersebut dengan Melayu Jambi. Ketika daerah Kerinci mengikat persaudaraan dengan Minangkabau di Sitinjau Laut, daerah Luhak XVI tetap pada komitmen mereka pada pemerintahan Melayu jambi, menurut nenek moyang pada waktu itu mereka tak perlu mengakui persaudaraan dengan Minangkabau karena mereka adalah keturunan Orang Minangkabau. Cerita Cindur Mato sendiri didaerah ini cukup popular, Cindur Mato digambarkan sebagai figure sanak jantan (Saudara Laki-laki) dari persepsi ini jelaslah sebenarnya secara sejarah dan adat di daerah Luhak XVI orang Minangkabau adalah semenda orangorang keturunan Mataram yang mendapat suaka dari kerajaan Melayu Jambi sehingga adat Basuku dan bapangulu tiada mereka terapkan tentu saja karena mamak yang ada adalah orang keturunan Jawa dan suku yang dimiliki hanya suku jawa tiada sama dengan Minangkabau yang meiliki panghulu jambak, sikumbang, dan sebagainya. soal pembagian pusaka mereka menggunakan pola Minangkabau dimana mamak mengurus

9

pusaka kemenakan dan semenda diberi hak mengelola harta pusaka dengan pengawasan kaum saudara laki-laki. Saat ini Luhak XVI adalah varian lain dari struktur budaya Melayu Jambi. Luhak XVI tiada dapat dikategorikan suku batin tiada pula suku Panghulu. Ia berada ditengahnya dengan kata lain Luhak XVI adalah sebuah prototype budaya sendiri di wilayah Jambi yang berada antara Melayu Minangkabau dan Jawa (Mataram). Hubungan antara simbol dengan objek tidak muncul dalam suatu kerangka hampal, ia muncul dengan karakter dan situasi tertentu. Konteks dalam hal ini merupakan suatu situasi dan kondisi yang bersifat laihr signifikan dan faktual. Sehingga ia meliputi konteks fisik, konteks waktu, konteks historis, konteks psikologis dan konteks sosial budaya. Berkaitan dengan konsep di atas maka dapatlah diurai Evolusi budaya Minangkabau didaerah Luhak XVI tidak dapat disimpulkan hanya dengan sign mamak dan signifient posisi ayah saja, kemudian faktor historis yang kabur tertutupi cerita rakyat Cindur Mato atau ungkapan-ungkapan historis tanpa bukti kongkreet.Evolusi kompromis yang lain yang bias dikaji dari konteks lahir dan factual secara fisik, waktu, historis, psikologis dan social budaya adalah segi bahasa dan fakta komperatif yang rill. Bagian ini dapat dilihat dari bahasa orang Nibung, Tabir Barat, Koto rayo dan beberapa kosa kata orang Jangkat. Dalam bahasa Tabir Hulu dapat dilihat kenyataan yang rill bahwa kosa katanya hamper 99% adalah kosa kata Minangkabau. Dalam bahasa Nibunga lebih dari 80% Kosa Kata Minang, Koto rayo 60% Minang. Fakta pendukung lain adalah adanya suku dan kaum. Didaerah-daerah di atas terdapat kelompok-kelompok masyarakat dari garis keturunan ibu yang bersuku Jambak, Sikumbang, Melayu, Piliang dan Caniago.

10

Secara psikologis mereka juga seperti orang Minangkabau yang memposisikan mamak dalam posisi yang tinggi dan merasa persaudaran mereka erat bila dalam satu kelompok suku. Satu suku adalah keluarga dan dilarang untuk menikah, bila mereka melanggar aturan ini maka denda seekor kerbau dan konsekwensi terusir dari kampong harus diterima. Dalam konteks ini kompromistis konsepsi Minangkabau tidak terlihat jelas. Hegemoni Minangkabau justru terlihat dengan jelas, mereka semua mengatakan mereka adalah orang Minangkabau karena daerah mereka dilalui Cindur Mato. Kerinci yang berada pada Posisi paling dekat dengan Minangkabau mengalami fenoena evolutif kompromistik secara istimewa. Pengakuan orang Kerinci dengan prasasti Lempur tentang persaudaraan mereka dengan Minangkabau adalah faktor historis paling fatal yang mengakibatkan perjuangan Tiang Bungkuk gagal melepaskan diri dari Jambi. Sebagai indikasi simbolis keberhasilan budaya Minangkabau mempersatukan berbagai suku bangsa yang berbeda di Kerinci dibuktikan dengan dipakainya bahasa Minangkabau sebagai bahasa pemersatu daerah-daerah Kerinci yang satu sama lain berbeda bahasa. Dari kajian ini dapat disimpulkan secara historis pada masa pembentukan struktur budayanya memang berada pada pertentangan model karena latar belakang nenek moyang mereka yang hiterogen. Variable yang hingga saat ini adalah Jawa, Minangkabau dan penduduk asli yang sudah mendiami tempat tersebut sejak zaman pra sejarah. Adanya pengaruh jawa dan Minangkabau dapat ditelusuri dari reportor masyarakat Sungai Tenang yang menyebutkan nenek moyang Jawa dan nenek moyang Minang bertemu di hulu Sungai Mareh sekitar kaki Bukittungkat kemudian mereka bersatu disana membuka wilayah hunian bersama.

11

Reportoar prasejarah dapat ditemui di Gua Tiangko Panjang dimana ditempat tersebut ditemukan bukti-bukti kehidupan pra sejarah berupa kapak genggam hingga perjalannan mereka ke zaman perunggu. Dengan fakta sembolik ini maka jelas evolusi yang terjadi terhadap budaya Minangkabau di Jambi Barat sifatnya kompromistis dan kontekstual serta lebih mengarah pada usaha menyatukan konsep aturan bersama untuk mempersatukan banyaknya latar belakang suku-suku yang bertemu didaerah tersebut. Akibatnya konsep dasar tersebut menjadi beragam tafsirnya sehingga ditemukanlah aneka model penerapan konsepsi matrilineal di daerah tersebut. Evolusi kompromistis ini terkait dengan manusia sebagai makhluk unik yang terikat basic ich, beruasaha memenuhi kebutuhannya, salah satu kebutuhan yang vital adalah kebutuhan rasa aman, perdamaian dan penghentian permusuhan. Konsepsi Darwin yang mengatakan manusia sebagai primate berfikir sebagai sebuah evolusi yang sempurna memang terbukti gagal dalam konsepsi organic namun pergulatan ilmu social hal ini memang jelas terbukti.Dengan keunikannya, maka manusia sebagai pelaku budaya dapat mengubah lingkungan tempat tinggalnya baik secara nyata maupun konseptual. Menyusun dan menggunakan simbol-simbol untuk menunjuk kepada simbol lain serta mewariskan pengetahuan, wawasan, kebudayaan yang terpendam dari generasi ke generasi (Sobur, 2003 : 164). Wujud symbol ini kemudian menjadi struktur factual yang dapat dianalisis dari berbagai cara pandang termasuk mengembalikannya kepada kajian evolusi.

BAGIAN 2 EVOLUSI SIMBOLIS DALAM CERITA LISAN

12

Reportoar Lisan Sebagai Simbol Sejarah Cerita Rakyat adalah salah satu sumber sejarah. Walaupun cerita rakyat tidak secara detail menjelaskan bagaimana proses sejarah berjalan secara sistimatis namun pada banyak kasusus cerita rakyat yang bermuatan sejarah kerap diyakini masyarakat sebagai hal yang nyata sebagai legitimasi asal-usul penamaan sebuah tempat, asal-usul nenek moyang dan penyebab terbentuknya sebuah struktur budaya. Kenyataan demikian membuat cerita rakyat tidak dapat dianggap semata-mata sebuah karya imajinatif yang berfungsi sebagai pelipur lara. Sebagian dari cerita rakyat justru merupakan cataan dari kenyataan masa silam yang lestari melalui proses turun temurun dan diyakini sebagai kenyataan masa lalu oleh masyarakatnya. Cerita Rakyat sebagai karya sastera adalah sebuah cipta zaman dengan sebuah proses yang melatarinya sehingga bagaimanapun ia tak terlepas pula dari setting zaman tempat cerita tercipta, dalam hal ini James Danajaya berpendapat, sastera adalah suatu bentuk hasil pekerjaan seni kreatif yang objek nya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya (Danajaya,1988 : 8). Selanjutnya Danajaya mengungkapkan bahwa dalam mencipkatan karya sastera sateraan selalu berusaha menciptakan sebuah kesan yang indah bagi penikmat karyanya,Kreativitas sasterawan menemukan atau memilih kemungkinan-kemungkinan yang terbaik sebagai bahan atau tema karyanya merupakan suatu keharusan, tanpa kreatifitas itu tidak mungkin karya sastera bermutu dapat diperoleh. Karya sastera itu tidak berarti ia mempunyai upaya menciptakan nilai-nilai. (Danajaya, 1988 : 10)

13

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tidak semua karya sastera bertujuan untuk memberikan konsep nilai-nilai yang diinginkan sasterawan. Namun demikian setiap karya sastera tetap berasal dari hasil perenungan yang mantap untuk disajikan dengan sebaik mungkin. Berkaitan dengan kenyataan di atas cerita rakyat bermuatan sejarah bukanlah sebuah konsep perenungan nilai-nilai melainkan sebuah hasil karya sastera yang dibuat dengan tujuan mengenang proses terjadinya sesuatu atau perjalanan sejarah sebuah tempat atau seseorang yang dianggap memiliki kepahlawanan untuk dipedomani atau sebaliknya seseorang yag dikenang karena kejahatannya yang bertujuan untuk dihindari tabiatnya agar tidak ditiru. Danajaya berpendapat bahwa cerita rakyat adalah, suatu cerita yang pada dasarnya dismpaikan secara lisan. Tokoh-tokoh atau peristiwaperistiwa yang diungkapkan dianggap pernah terjadi di masa lalu atau merupakan suatu kreasi atau hasil rekaman semata yang terdorong keinginan menyampaikan pesan atau amanat tertentu, atau suatu upaya anggota masyarakat untuk memberi atau mendapat hiburan atau pelipur lara. (Danajaya, 1988 : 79). Berkaitan dengan pendapat tersebut dapatlah dikatakan bahwa cerita rakyat merupakan sebuah usaha utuk melestarikan sejarah sekagus usaha mendapatkan hiburan atau pelipur lara dalam sebuah masyarakat primordial. Cerita Rakyat Berisi Sejarah Walaupun cerita rakyat banyak yang mengandung unsure sejarah namun dalam pembagian sastra terdapat bagian khusus yang disebut Danajaya sebagai Sastera Kitab sejarah,

14

Sastera kitab berisi cerita-cerita yang ada hubungannya dengan kehidupan keagamaan (dalam hal ini khususnya Islam) yakni membicarakan tentang soal peribadatan atau kisah kehidupan para nabi dan sahabatnya. Sastera sejarah merupakan hikayat yang isinya mengemukakan tentang kehidupan dan sejarah suatu kerajaan, misalnya sejarah Melayu atau Hikayat Raja-Raja Pasai, Hikayat Raja Malaka. (Danajaya, 1988 : 83). Berkaitan dengan kenyataan di atas maka sebagaian sastera sejarah ada yang tiada termasuk kedalam sastera kitab sejarah melain sastera tutur sejarah. Ini dapat dibuktikan dalam beberapa kenyataan bahwa sebagaian sejarah Minangkabau hanya digambarkan dengan Tambo Alam Minangkabau yang tiada sama sekali di tulis dalam kitab sejarah. Begitu juga dengan Sejarah Sejangkat Alam Sungai Tenang dan Tambo Sakti Alam Kerinci, tiada kitab yang tegas berbicara sejarah tempat-tempat tersebut melainkan penuturan lisan turun temurun yang sebagian besar dalam bentuk cerita rakyat berisi sejarah yang saling kait antara satu tempat dengan tempat lain. Misalnya saja kisah Cindur Mato dalam Tambo Alam Minangkabau juga bisa ditemukan dalam kisah Sejangkat Alam Sungai Tenang yang juga didapat dalam cerita masyarakat Tabir Hulu dan Pangkalan Nibung, Bangko. Malim Deman Kisah Puti Pinangmasak Depati Empat BAGIAN 3 EVOLUSI ACEH JADI MINANGKABAU BAGIAN 4 KONSTRUKSI SIMBOLIS MINANGKABAU DEWASA INI Bonsai Bernama Budaya Daerah

15

Di tengah kebanggaan orang Minangkabau yang mampu menjadi tuan rumah di tanah sendiri dengan adanya jurusan Sndratasik di Universitas Negeri Padang atau berdirinya ISI Padangpanjang sebagai satu-satunya perguruan Tinggi Seni negeri di Sumatera sebanarnya hal menyedihkan sedang terjadi. Eksplorasi yang dilakukan seniman Sumatera barat saat ini mengarah kepada usaha untuk mengklaim diri sebagai pelopor terbentuknya tren baru dalam dunia seni. Kebanggan kepada teori barat dan trend yang dihembuskan Negara maju membuat banyak seniman lupa pentingnya melestarikan budaya sendiri. Ketika Wisran Hadi masih hidup beliau masih setia mengangkat local konten menjadi fenomena nasional bahkan Internasional dengan karya-karyanya yang kuat berpijak pada tradisi. Saat ini sudah tidak terlihat lagi upaya meneruskan usaha ini. Banyak seniman terlalai memperhatikan pentingnya rekonstruksi sebuah kebudayaan. Yang terjadi adalah adopsi besarbesaran kebudayaan asing. Dalam berbagai reportoar yang tersaji baik tari, music maupun teater sudah sangat jarang pertimbangan etika, moral dan nilai-nilai seni berpijak pada tradisi. Dengan landasan budaya asing karya-karyadengan konsep local geniuspun kerap terjebak kepada pijakan asing. Kekuatan Balet sebagai tarian yang mendunia dianggap perfek dijadikan dasar dalam mencipta tari baru, begitupun kekuatan konvensi teater barat yang demikian maju membuat banyak seniman local yang lupa pada keindahan dan ketinggian moral seni budayanya sendiri. Dunia music juga demikian, banyak karya seni music yang hanya mempertimbangakan daya jual sehingga kehilangan nuansa local. Lagu-lagu Minang yang dicipta tak lebih dari lagu-lagu pop atau rock yang berbahasa Minang. Tentu saja ini awal dari kemerosotan

16

budaya. Bak kata pepatah habih Minang tingga kabau. Habih pitaruah tingga surau, abih malu utak pakau. Habis kikislah indetitas orang Minangkabau. Tradisi menjadi kerdil dan dipelajari sebagai matakuliah di jurusan-jurusan tertentu dilain fihak kecintaan pada budaya sendiri semakin merosot. Ketrikan moral yang dilandaskan hukum adat dan agama memang menguragi jaya jual karya seni. Sebagai akibat dari semua itu saat ini jarang sekali kita menjumpai kaum muda yang menikmati kesenian tradisi. Segala upaya untuk membangkitkan kekuatan budaya daerah sia-sia karena pasar tidak lagi menguntungkan untuk karya-karya yang demikian. Moral menjadi masalah tersendiri, kekuatan adat yang selama ini menjadi penguat struktur budaya telah dihantam dengan demikian dahsyatnya oleh pola hidup konsumtif yang menhadi efek lain dari perkembangan tekhnologi. Kebutuhan yang kian meningkat membuat uang menjadi sangat kuat posisinya. Bila dulu seniman butuh penghargaan dan penerimaan masyarakat kini motif seniman berkarya telah berubah pada orientasi uang. Pada masa dahulu kehidupan seniman dapat ditunjang dengan bertani karena kebanyakan mereka memanga berfrofesi demikian seiring perkembangan zaman seniman telah berada pada posisi mencari hidup di kesenian. Kenyataan demikian membuat karya seni tak lebih dari barang dagangan yang diperjual belikan sebagai usaha mendapatkan penghidupan dari para pelaku seni. Saat ini jarang sekali ditemukan pesta perkawinan mengandang randai. Yang terjadi adalah pentas organ tunggal dengan penyanyi yang mampu menari seronok hingga cabul. Ini terjadi karena pertunjukan randai juga berada pada posisi yang sama yakni mencari uang. Secara keuangan organ tunggal mampu menawarkan harga lebih murah dengan masa penonton yang banyak. Disisi lain banyaknya personil yang terlibat dalam randai

17

membuat karya seni jenis ini membutuhkan cost yang tinggi sementara masa penontonnya tidak begitu banyak. Kenyataan seperti ini membuat seni tradisi kehilangan tempat ditengah masa pendukungnya sendiri. Tekhnologi dan ilmu pengetahuan memang membawa banyak aspek positif disisi lain secara langsung atau tidak ia juga memaksa sebuah kebudayaan mampu beradaptasi. Kegagalan adaptasi akan membuat kebudayaan itu perlahan lemah dan hancur. Fenomena symbol dalam sebuah masyarakat berkaitan dengan pola fikir. Pola fikir ditentukan oleh pengetahuan, pengetahuan bersifat dinamis, perkembangan yang terus menerus ini yang harus mampu diiringi oleh budaya masyarakat sehingga ia tidak tertinggal dikolong zaman untuk kemudian punah. Bila konsep teori evolusi mengatakan bahwa budaya berubah secara berangsur maka kemajuan tekhnologi akan merubah budaya secara cepat. Budaya yang kuat akan menindas yang lemah, bangsa yang maju akan menghegemoni bangsa yang tertinggal. Imperialisme cultural bukanlah dimaksutkan untuk mengikis budaya suatu bangsa, Imperialisme cultural tak lebih dari pencarian pasar untuk penemuan-penemuan baru. Penemuan alat music tecno mengakibatkan semua alat music bias dimainkan satu jenis alat music saja. Eksperimen terus berlanjut untuk memperbaiki alat tersebut, untuk eksperimen butuh biaya, biaya hanya bias didapat dengan menjual sebanyak-banyaknya produk tersebut, akhirnya pasar penjualan diperluas dan trend pemekaian diciptakan, dengan jalan apa saja, walaupun sebuah cipta budaya itu akan menghancurkan budaya lain. Inti dari Imperialisme Cultural adalah penguasaan ekonomi dibidang seni budaya.

18

Penguasaan pasar tekhnologi seni berkaitan dengan kemudahan yang ditawarkan. Keudahan inilah yang akhirnya merusak. Seniman diberikan segala fasilitas dengan satu alat akibatnya banyak seniman yang ketergantungan pada alat itu sehingga ada pemain music yang tidak peka dengan nada atau accord. Alat yang cerdas tersebut akan bekerja dengan sempurna sementara seniman tak lebih dari operator yang mengendalikan pengoperasiannya. Kekacauan structural yang terjadi bukan hanya pada kemerosotan skill orang-orang kebudayaan. Yang paling menyedihkan adalah persoalan moral. Pada saat seni bagian dari faktor ekonomi maka etika dan moral jadi terkesampingkan. Teori dagang masuk ke dunia seni, kualitas karya dilihat seberapa banyak menghasilkan uang. Hal demikian mengakibatkan seniman menjadi pedagang yang berjualan karya seni. Seniman menurun martabatnya menjadi karyawan atau pekerja seni. Reportoar Kacau ISI Padangpanjang Pergulatan teater saat ini sampai pada pencarian media komunikasi global yang dapat dimengerti semua bangsa. Dunia yang tak lagi dikekang batas beriring kemajuan tekhnologi, dituntut kemampuan eksplorasi yang lebih intensif sehingga para creator dapat terus mencari bentuk baru teater. Perkembangan dekonstruktif pola ekpresi seniman ini seiring dengan kemajuan cara berfikir dalam ilmu sosial mengutip Ben Alger : Saya menjelaskan bahwa teori perbedaan memperkuat apa yang secara khusus disebut multikulturalisme. Yang saya pandang sebagai manuvestasi akademis dan kurikuler atas prinsip kunci post moderen yang berkaitan dengan narativitas, gerakan sosial baru dan trinitas klas/ras/gender (2003: 114)

19

Masuknya konsep

multikulturalisme kesisi kehidupan yang luas membuat

indentitas budaya suatu bangsa menjadi mulik semua orang secara global. Walaupun disatu sisi terjadi pematenan hak penciptaan namun secara kepemilikan terjadi pengakuan global terhadap karsa sebuah kebudayaan sebuah kawasan. Bagaimanapun terbukanya gerbang informasi secara luas memungkinkan sebuah budaya hadir kesegala penjuru dan dikenal luas diseluruh dunia. Sebagai sebuah manivestasi akademis maka kebudayaan menjadi sesuatu yang terstruktur yang dapat dipelajari siapa saja dengan konsep kejujuran ilmiah dan kebebasan hak memperoleh pengetahuan yang secara azasi dimiliki siapa saja. Kebudayaan tidak lagi dikungkung batas primordial yang tertutup melainkan semakin terbuka untuk bangsa mana saja. Dalam konteks ini muncul pula wacana komunikasi karya global. Karya seni yang berwujud gerak mungkin sudah menjadi konsumsi estetis semua manusia begitupun karya seni yang berwujud bunyi. Bagaimana halnya karya yang memiliki elemen kata-kata sebagai media? Dalam keadaan seperti ini muncul tawaran baru. Kata-kata diganti dengan symbol. Ilmu semiotik menjadi penting namun sejauh ini ternyata semiotika memiliki kelemahan. semiotik tetap mengacu kepada konvensi yang terkait struktur budaya. Semisal kita menyimbolkan binatang cerdik bila di Indonesia konvensinya adalah kancil maka di Rusia Rubah yang dikenal sebagai binatang cerdik. Sebagai symbol mengajak berdamai dalam sebuah persoalan adalah saling memegang jenggot dalam lingkungan Arab namun di Asia bila terjadi persengketaan menyentuh wajah lawan bicara bisa jadi dianggap sebuah penghinaan. Dalam hal ini penulis sepakat dengan Derrida dalam tulisan Ben Alger,

20

Derrida menyatakan bahwa tidak ada bahasa baik tertulis maupun lisan, yang secara sempurna menjadi sarana transparan untuk menjelaskan makna, justru bahasa membuat dikotomi, berdasarkan atas dikotomi umur antara kehadiran (presense) dengan keberubahan, (alterity) yang menyederhanakan kompleksitas realitas dan menyembunyikan hierarchy yang suci (115) Berkaitan dengan kenyataan sulitnya mencari media bahasa yang tepat untuk menjelaskan makna maka dekonstruksi bahasapun menjadi bagian eksplorasi orang-orang teater. Berbagai media digunakan untuk memberi makna terhadap sebuah sajian peristiwa seni termasuk membunuh kata-kata bahkan membunuh tanda. Sejauh ini pencarian tersebut cenderung jalan ditempat dan berputar dalam wilayah itu-itu juga yang mengakibatkan staknasi eksploratif. Berkaitan dengan dekonstruksi teks-teks local untuk kepentingan global maka pendekatan estetika post modern menjadi penting. Pergulatan tradisi melawan modernity menjadi pembahasan yang tak habis-habis disisi lain kegamangan memilih metode membuat pertimbangan-pertimbangan teoritis menjadi sulit. Post modern sendiri bukanlah sebuah teori seperti diungkapkan Selvi Kasman, Post moderen lebih dikenal sebagai gerakan pemikiran dan bukan merupakan suatu teori perubahan sosial, namun analisis dan kritik post moderenisme terhadap proyek moderenisme termasuk kritik.

Kegamangan merumuskan seni yang akan disebut post moderen akhirnya membuat konsep pergerakan karya seni post moderen anti kemapanan

21

yang terus berubah dalam dekonstruksi tanpa batas. Pergulatan dan pencarian melibatkan penghancuran atau penyusunan kembali teks-teks dalam lingkup yang sangat luas. Multikultural, transkultural sampai dengan coss cultural dipakai sebagai istilah untuk mengungkap perubahan yang terus digagas untuk membaca fenomena budaya post moderen. Penggambaran hal ini seperti diungkap Virrilio dalam Yusriwal, Karakter seni post moderen bagaikan padang pasir, dipadang pasir yang ditemukan hanya kedataran, tidak ada kejutan, tidak ada provokasi selanjutnya dengan metafora ia melukiskan kesunyian padang pasir yang merupakan bentuk visual sebuah tatapan, namun tidak pernah menemukan cara untuk

merefleksikannya.(2001: 9)

Penjelasan Vrrilio tersebut menggambarkan betapa dalam kancah pergulatan post moderen terjadi eksplorasi tiada henti untuk memukan pola refleksi baru dalam mengungkap berbagai hal. Pencarian tiada henti inilah yang membuat kebudayaan pos moderen anti kemapanan dan cenderung terus mencari bentuk-bentuk baru. Selanjutnya Yasraf dalam Yusriwal menjelaskan,

Istilah penting lainnya dalam dekonstruksi adalah desemilasi, desimilasi adalah kehampaan makna disebabkan oleh dibongkarnya logos/penanda. Dengan membongkar petanda-dengan demikian makna lenyap tanpa fungsi komunikasi atau bahasa. Dalam ketiadaan petanda/logos maka bahasa berkembang lewak energi dan kreativitas. (2001:9)

22

Konteks ini menjelaskan bahwa dalam kancah post moderen dekonstruksi berjalan dengan sendirinya tanpa mempertimbangkan sisi pemaknaan yang terarah. Dekonstruksi teks berjalan terus menerus bahkan terhadap teks yang sedang mendekonstruksi dirinya sendiri. Dalam keadaan seperti ini bila kenyataan demikian diarahkan pada konsep kreativitas seorang seniman peluang terbesar yang lahir adalah pembebasan amigdala memunculkan simptomp neurotic.

II. Schizoprenia Tangga-Tangga Yasraf dalam Yusriwal menjelaskan salah satu cirri estetika post moderen adalah sebagaimana diungkapkan Jacquest Lacon, seorang ahli psikoanalisis, Lacon menjelaskan bahwa Schizoprenia sebagai putusnya rantai penandaan, yaitu rangkaian stagmatis penanda yang berurutan dan membentuk satu ungkapan makna. Bagi seorang schizoprenik setiap tanda atau penanda dapat digunakan untuk menyampaikan suatu konsep penanda. Dalam konsep ini, tidak ada masa lalu, masa depan dan masa kini (2001:9)

Kecenderungan berkreativitas seperti ini dapat dilihat dalam karya-karya Yusril, Yusril adalah sutradara yang mencari tanda-tanda secara acak yang kemudian dikontekskan dengan sesuatu yang difahaminya disekitar. Walaupun Yusril bersikeras bahwa apa yang dilakukannya dengan kerangka semiotik namun eksternalisasi yang muncul justru rangkaian waham skizoprenik seperti yang diungkap lacon.

23

Tampaknya Yusril sebagai seorang sutradara yang rajin melakukan eksplorasi teks juga terkendala dengan pemilihan media komunikasi ini simbolis. Sejak proses Menunggu (1996) hingga Tangga-Tangga (2008). Teks-teks yang dibangun tetap berputar-putar dalam kerangka yang tidak jelas arahnya. Pencarian bentuk teater Semiotik yang digagas Yusril telah lebih sembilan tahun namun dalam hal ini banyak teks yang dibangun justru verbal bila di analisa dengan konsep budaya local namun sangat gelap bila dianalisa secara global. Contoh sederhana teks Tangga-Tangga. Oleh Syahrul N justru ditafsirkan sebagai Kelarasan Koto Piliang. Padahal tangga dalam konteks global memiliki demikian banyak makna. Tangga yang mana yang dituju Yusril tidaklah jelas sama sekali. Memang beginilah cirri eksplorasi teater yang bersifat Dekonstruksi. Mencermati proses kreatif Yusril ada baiknya kutipan ungkapan Ben Alger tentang Derrida dipertimbangkan, Prinsip dekonstruksi, sebagaima disebut Derrida, menyatakan bahwa semua teks akan terurai begitu dikaitkan dengan kehati-hatian pertanyaan linguistic, filosofis, dan kehampaan etis-penilaian, titik nol, pemlesetan, penindasan. (2003 : 121)

Dihalaman yang sama Ben Alger menyatakan,

Dekonstruksi adalah milik semua teks, termasuk teks yang bertujuan mendekonstruksi argument lain. (2003 : 121).

24

Jelas bila ungkap Lacon dihubungkan dengan prinsip Dekonstruksi Derrida, Yusril mengarah kepada titik nol, absurd dan sangat tidak simbolis, melainkan ekplorasi waham skizofrenik dari area amigdalanya. Bahasa amigdala inilah yang sejalan dengan arkhetipe yang berpotensi sebagai bahasa global dalam hal ini bahasa jiwa yang menyentuh segala ragam makna universal. Konsep bahasa global sebenarnya sudah ada semenjak manusia lahir. Bahasa ini didasari oleh kelengkapan perangkat kehidupan manusia yakni akal fikiran yang mencakup emosi. Emosi inilah yang memungkinkan symptom-simptom tersembunyi muncul kedalam ketidaksadaran. Kemunculan ini diolah dengan baik dalam kehidapan kolektif. Adanya tabu dalam lingkungan primordial sebenarnya adalah kontruksi pertarungan psikis yang dahsyat. Semua manusia memiliki bahasa tunggal yang dipresentasikan secara tidak sadar namun untuk mengungkap symbol-simbol ini diperlukan kesamaan intensif dalam menatap kecenderungan jiwa secara umum. Tabu yang berkembang dalam masyarakat merupakan bahasa umum dalam lingkungan primordial yang dimengerti tanpa harus dilogikakan oleh penganutnya. Sayang sekali masyarakat moderen telah membuang kepekaan memaknai bahasa-bahasa psike ini sehingga kesadaran telah menjajah segala sisi komunikasi manusia. (Freud : 2001 : 89). Simptomp yang paling invantil dalam kehidupan manusia adalah penolakan atau penerimaan terhadap sesuatu. Ini bahkan sudah ada sejak manusia itu hadir di dunia. Yang paling jelas adalah ekspresi terstawa atau menangis. Bayi sudah dapat berekspresi dengan dua hal tersebut. Perkembangan bahasa jiwa ini akhirnya memunculkan berbagai ekspresi dalam konteks dan situasi yang berbeda seiring perkembangan manusia tersebut.

25

Kedewasaan kerap membuat manusia melakukan penolakan terhadap bahasa jiwanya sendiri sehingga memanipulasi komunikasi arkhais dengan ekspresi yang bertolak belakang. Pemicunya bisa jadi rasa malu atau kepentingan lain. Karena bahasa jiwa sangatlah jujur bahkan contra realitas. Pada kondisi tertentu pada banyak kasus bahasa jiwa masih digunakan untuk menyelidiki kasus-kasus pelik yang menyangkut hokum pidana atau perdata karena bahasa jiwa memang komunikasi diri yang tak pernah bisa berdusta.

2. 1. Pengalaman yang Terlupa. Pengalaman kerap dilupakan. Ada dua factor yang menyebabkan orang terlupa atau melupakan pengalamannya, (1) dianggap kurang penting, (2). Terlalu menyakitkan sehingga mengakibatkan penolakan. Meskipun pengalaman ini dilupakan, namun ia

tidaklah begitu saja hilang, melainkan kembali dalam bentuk bahasa jiwa yang tak disadari oleh seseorang. Kasus Nietzsce seperti diungkapkan Jung dapat dijadikan contoh, Saya sendiri menemukan contoh menarik tentang ini, dalam sebuah buku Nietzsce yang berjudul Demikianlah Sabda Zurhathustra dimana pengarang menyalin hampir kata demi kata suatu peristiwa yang tertera pada buku harian sebuah kapal dari tahun 1686. kebetulan sekali saya membaca cerita pelaut ini dalam sebuah buku yang diterbitkan sekitar 1835 (setengah abad sebelum Nietszche menulis) saya merasa terkesan dengan gaya bahasanya yang khas, gaya bahasa yang berbeda dengan yang dipakai Nietzsche. Saya yakin Nietzsche juga melihat buku tua ini meskipun tidak membuat referensi padanya. Saya menulis pada

26

saudarinya yang masih hidup

dan ia menegaskan bahwa ia dan saudaranya

Nietzshe membaca buku itu bersama-sama ketika Nietzsche berumur sepuluh tahun. (1989 : 61-62).

Kenyataan di atas merupakan bukti bahwa simptomp masa lalu Nietsce yang tersimpan dalam ruang amigdalanya benar-benar muncul dalam karyanya, walaupun kesadarannya benar-benar telah melupakan buku tua yang telah lama dibacanya. Seolah Nietzsche menganggap karya tersebut miliknya secara absolute, namun ketidaksadaran dengan jujur mengatakan bahwa karya tersebut adalah salinan karya orang lain. Kasus ini sangat berkaitan dengan representasi Syahrul N terhadap TanggaTangga karya Yusril. Syahrul N. melihat simptomp antropologi Minangkabau yang menjadi latar belakang Yusril muncul dalam presentasi karya. Kelaran Koto Piliang yang otokrasi sudah dikenal orang-orang Minangkabau semenjak kanak-kanak. Symptomp inilah yang membuat dekonstruksi emosional Yusril terlihat regional. Tanpa memahami dekonskruksi teks yang radikal seperti pemahaman Derrida mustahil menghubungkan teks tersebut dengan cross Culture. Justru karya ini menjadi teks local yang dikungkung primordialisme. 2.2. Arkhetipe Invantil. Seorang seniman selalu mengolah imajinasinya secara kreatif. Pengolahan ini dapat terjadi secara spontan maupun konstruktif. Dipicu kegelisahan kreatif maka munculah karya-karya yang tak terbayangkan sebelumnya. Proses demikian sudah pasti dipengaruhi pula oleh masuknya bahasa-bahasa ketidaksadaran yang menjadi pelengkap presentasi secara eksplisif. Dalam banyak kasus seperti Cantoi karya Sulaiman Juned,

27

Anggun Nan Tungga karya Wisran Hadi bahkan Tangga-Tangga karya Yusril selalu antropologi dihubung-hubungkan dengan persoalan ini. Padahal yang paling dominan adalah bahasa jiwa yang menagaktualisasi secara verbal. Memang akhirnya antropologi menjadi pembentuk kejiwaan seseorang namun memaksakan analisis dengan cara pandang teori-teori sosial adalah sebuah kebodohan. Justru factor utama fenomena karya seni terletak pada visi seniman dan symptom neurotic yang muncul tanpa bisa dibendung. Pembenaran kenyataan ini dapat dilihat dari beragamnya cara pandang orang terhadap sebuah kasus yang terjadi dalam sebuah lingkungan masyarakat. Apa yang membuat mereka berbeda adalah pengalaman psikhe bukan latar belakang budaya masing-masing. Berkaitan hal ini Jung mengungkapkan, Arkhetipe merupakan kecenderungan untuk membentuk bayangan-bayangan yang dapat berubah-ubah dengan sangat banyak dalam detilnya tanpa menghilangkan pola dasar mereka.(1989: 99)

Pola dasar adalah substansi dasar yang membentuk sebuah persepsi. Pola dasar ini adalah sebuah pemberitahuan ketidakseimbangan jiwa dimana ada persoalan yang terlupakan. Pada tiap manusia pola dasar ini sangat berbeda, ketika kenyataan ini dipresentasikan wujudnya adalah tekanan terhadap kesadaran. Dalam bentuk kesadaran biasanya akan termuat kepada argumentasi egois yang mementingkan pemenuhan kebutuhan sendiri. Lingkaran antropologi memuat sebuah paradigma yang sama terhadap sebuah kasus. Kenyataan ini membuat masing-masing individu mengalah untuk memuaskan kepentingannya. Visi yang sama ini merupakan tekanan yang kolektiv, namun karena

28

aspek psikhe memiliki pengalaman yang berbeda maka besarnya tekanan juga berbeda pula maka wujud penentangan tersembunyi akan berbeda pula. Inilah yang mengakibatkan kebudayaan. 2.3. Kegagalan Semiotik Kenyataan diatas merupakan fakta nyata bahawa semiotik gagal meyibak symptom psikologis. Semiotik akan menghubungkan dirinya dengan realitas kolektif yang akhirnya masuk ranah antropologi seorang seniman. Sangat naf mempersamakan kenyataan reaksi individu dengan visi kolektif. Yang paling tepat adalah melihat individu sebagai pribadi yang istimewa tanpa melupakan latar belakang pembentukan kepribadiannya. Pada kasus Yusril dan Tangga-Tangga yang berperan adalah visi Yusril tentang dunia yang selalu mendeskonstruksi diri dimana hal-hal yang terlihat mapan akan menjadi tertinggal dalam waktu yang sangat cepat. Wacana Cross Culture mungkin tepat untuk memahami tangga sebagai bahasa global. Di seluruh dunia gambaran tentang tangga secara psikologis hampir sama. Tangga adalah media mendapatkan sesuatu yang lebih tinggi, baik berupa penghargaan ataupun strata. Dalam banyak kasus mimpi, hal-hal yang berkaitan dengan peringatan ketidaksadaran terhadap kesadaran digambarkan dengan naik tangga oleh si pemimpi. Tangga menjadi bahasa semua orang diseluruh dunia. Yusril tidaklah melakukan dekonstruksi terhadap karya seni ataupun budaya Minangkabau. Dalam bahasa Derrida ini disebut teks nihil yang absurd. Tidak ada sedikitpun teks Tangga-Tangga yang menembus batas local genius yang ada adalah pemaksaan puisi berbahasa Minangkabau oleh Zulkifli, akibatnya puisi berbahasa berbedanya pandangan terhadap kasus yang sama dalam sebuah

29

Minangkabau tersebut menjadi terkesan tempelan yang tidak mendukung TanggaTangga sebagai ekpresi Multikultural yang berangkat dari frame post Modren berbasis nihilis. Konsep dekonstruksi mengacu kepada, pemlesetan teks, penghancuran teks, atau berangkat dari kenihilan dan ia mendekonstruksi teks yang sedang didekonstruksi itu. Yusril berangkat dari nol, atau mendekonstruksi teks yang sama sekali tidak ada di Minangkabau. Artinya konsekwensi logis yang harus dilakukan adalah membuang teksteks local yang akan mengganggu kejeniusan karyanya.

Parodi dan Estetika Teater Post Moderen di Kuflet Lingkup parody dalam kancah Post moderen adalah seperti ungkapan Yasraf dalam Yusriwal bahwa, segala ungkapan dalam parodi dibuat sedemikian rupa supaya humoristik dan absurd. Sejak masa lalu parodi diungkapkan (sebagai) rasa tidak puas atas suatu karya yang serius.(2001:9)

Parodi kenyataan adalah bahasa Post moderen dalam menggali potensi masa lalu manusia yang selalu menertawakan kenyataan yang tidak memuaskan. Dalam hal ini kancah dekonstruksif mengarah kepada lingkup teks-teks yang dieksplorasi menjadi komikal. Kasus dekonstruksi ini seperti kasus Cantoi karya Sulaiman Juned. Azhadi

30

akbar yang berperan sebagai Cantoi tampak dengan sangat naf memparodikan PMTOH dan situasi Aceh sekaligus, artinya teks mendekonstruksi dirinya sendiri. Memang tidak mudah untuk mencari media yang menjadi bahasa semua bangsa. Namun dalam hal ini selain membahas bahasa jiwa ada baiknya nilai-nilai Multikultural yang dijelaskan Ben Hagger dari visi Derrida dijadikan batasan untuk menembus kegamangan local. Dekonstruksi PMTOH oleh Sulaiman Juned dalam Cantoi adalah sebuah plesetan dua teks sekaligus, pertama teks pertunjukan PMTOH kemudian teks kemelut Aceh yang tak pernah usai. Medianya adalah seorang bernama Cantoi yang membawakan tipikal komikal pintar-pintar bodoh. Walaupun dalam hal ini Sulaiman berhasil melakukan dekonstruksi teks sebagai prasarat bagi justifikasi eksplorasi post moderen namun bahasa yang dipakai tetaplah bahasa Indonesia dengan logat Aceh, artinya Sulaiman tetap menyajikan karyanya dengan visi local bukan global.

5. Pastisme Ophelia dalam Lentera Konsep lain estetika post moderen menurut Yasraf dalam Yusriwal adalah pastische, Yasraf menerangkan pastisme sebagai berikut, Karya sastra atau seni yang disusun dari elemen-elemen yang dipinjam dari para pengarang, seniman atau artistic masa lalu. Pastische dianggap miskin orisinalitas karena mengandung unsur peminjaman. Sering juga dikatakan penggunaan topeng bahasa, atau pengungkapan bahasa yang telah mati.

31

Cut Rosa dalam Opelia dalam Lentera sangat jelas meminjam teks Hamlet milik William Shakespeare, dekonstruksi demikian inilah yang dimaksud kecerdasan mengelola teks. Dalam hal ini bahsa teks-teks lama berpadu dengan bahasa amigdala creator baru yang saling berhubungan dan saling mengkontaminasi. Dekonstruksi Opelia dalam Lentera yang berasal dari drama Hamlet karya William Shakeaspeare yang dilakukan Cut Rosa lebih menekankan kepada konfrontasi psikologis tokoh-tokoh yang dihadirkan. Ini merupkan langkah awal menuju bahasa jiwa yang dapat dimengerti secara global. Rossa sudah mulai mencari bahasa-bahasa jujur didalam tubuh para actor yang mendukung pertunjukan yang ia sutradarai demi mempresentasikan kegelisahan yang dimuat teks. Bila secara tekhnis pertunjukan ini belum dapat maksimal dapatlah dimaklumi dari proses kreatifnya yang masih belum lama, sehingga kematangan berkreatifitas masih perlu dipertajam dengan memperbanyak pengalaman berproses dimasa yang akan datang. Pada kesempatan ini penulis bukan menjustifikasi teater tanpa dialog, atau membunuh kata-kata. Namun perlu disadari bahwa bahasa bukan hanya kata-kata, justru kata-kata akan mengungkung teater pada kurungan regional karena ia merupakan sistim symbol fonetik yang disepakati dalam lingkungan wilayah tertentu. Terlepas dari semua itu, bahasa jiwa adalah bahasa yang hadir dengan jujur dan difahami secara global karena bahasa jiwa lahir dari arkhetipe dan simptomp-simptom neurotic yang tak akan berdusta. Kata-kata yang terlalu banyak akan percuma bila konsep yang diinginkan adalah Multikultural dengan visi global. Bukan berarti kata-kata dihilangkan sama sekali namun selagi bisa ada baiknya mencari bahasa lain yang lebih dapat dipahami secara umum diseluruh dunia, maka bahasa jiwa adalah tawaran yang tak bisa dibantah.

32

33

34