Referat Wound 27 April 2012

download Referat Wound 27 April 2012

of 27

  • date post

    19-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    361
  • download

    8

Embed Size (px)

Transcript of Referat Wound 27 April 2012

REFERAT BEDAH PLASTIK

LUKA

OLEH : Aningdita Kesumo Nita Damayanti Nunik Wijayanti Teguh H. Putri Satriany Monika Sitio Nurulita Tunjung Sari Baharuddin Ahmad G0007186 G0007015 G9911112110 G9911112134 G0007017 G0007106 G0007218 G0006055

Pembimbing : dr. Dewi Haryanti K, Sp.BP

KEPANITERAAN KLINIK SMF ILMU BEDAH FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA 2012

BAB I. PENDAHULUAN

Ada beberapa definisi mengenai luka, diantaranya : Luka adalah suatu gangguan dari kondisi normal pada kulit ( Taylor, 1997). Luka adalah kerusakan kontinuitas kulit, mukosa membran dan tulang atau organ tubuh lain (Kozier, 1995). Tubuh yang sehat mempunyai kemampuan alami untuk melindungi dan memulihkan dirinya. Peningkatan aliran darah ke daerah yang rusak, membersihkan sel dan benda asing dan perkembangan awal seluler bagian dari proses penyembuhan. Proses penyembuhan terjadi secara normal tanpa bantuan, walaupun beberapa bahan perawatan dapat membantu untuk mendukung proses penyembuhan. Sebagai contoh, melindungi area yang luka bebas dari kotoran dengan menjaga kebersihan membantu untuk meningkatkan penyembuhan jaringan (Taylor, 1997). Ada beberapa prinsip dalam penyembuhan luka menurut Taylor (1997) yaitu: (1) Kemampuan tubuh untuk menangani trauma jaringan dipengaruhi oleh luasnya kerusakan dan keadaan umum kesehatan tiap orang, (2) Respon tubuh pada luka lebih efektif jika nutrisi yang tepat tetap dijaga, (3) Respon tubuh secara sistemik pada trauma, (4) Aliran darah ke dan dari jaringan yang luka, (5) Keutuhan kulit dan mukosa membran disiapkan sebagai garis pertama untuk mempertahankan diri dari mikroorganisme, dan (6) Penyembuhan normal ditingkatkan ketika luka bebas dar benda asing tubuh termasuk bakteri . Proses yang kemudian terjadi pada jaringan yang rusak ini ialah penyembuhan luka yang dibagi dalam tiga fase yaitu fase inflamasi, fase proliferasi dan fase maturasi jaringan (Kozier, 1995). Ketika luka timbul, beberapa hal yang akan muncul adalah : 1. Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ. 2. Respon stres simpatis. 3. Perdarahan dan pembekuan darah. 4. Kontaminasi bakteri. 5. Kematian sel (Kozier,1995 )

Komplikasi dan penyembuhan luka timbul dalam manifestasi yang berbeda-beda.Komplikasi yang luas timbul dari pembersihan luka yang tidak adekuat, keterlambatan pembentukan jaringan granulasi, tidak adanya reepitalisasi dan juga akibat komplikasi post operatif dan adanya infeksi. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi adalah : hematoma, nekrosis jaringan lunak,dehiscence, eviserasi, keloids, formasi hipertropik scar dan juga infeksi luka,

perdarahan(Mansjoer, 2000).

BAB II. ISI A. Pengertian Luka adalah suatu gangguan dari kondisi normal pada kulit ( Taylor, 1997). Luka adalah kerusakan kontinuitas kulit, mukosa membran dan tulang atau organ tubuh lain (Kozier, 1995).

B. Mekanisme Terjadinya Luka Menurut Taylor (1997) Klasifikasi luka berdasarkan mekanismenya dibedakan menjadi: 1. Abrasi Merupakan perlukaan paling superfisial, dengan definisi tidak menebus lapisan epidermis. Abrasi yang sesungguhnya tidak berdarah karena pembuluh darah terdapat pada dermis. Kontak gesekan yang mengangkat sel keratinisasi dan sel di bawahnya akan menyebabkan daerah tersebut pucat dan lembab oleh karena cairan eksudat jaringan.

2. Kontusio atau memar Meskipun sering bersamaan dengan abrasi dan laserasi, memar murni terjadi karena kebocoran pada pembuluh darah dengan epidermis yang utuh oleh karena proses mekanis. Ekstravasasi darah dengan diameter lenih dari beberapa millimeter disebut memar atau kontusio, ukuran yang lenih kecil disebut ekimosis dan yang terkecil seukuran ujung peniti disebut petekie. Baik ekimosis dan petekie biasanya terjadi bukan karena sebab trauma mekanis.

Kontusio disebabkan oleh kerusakan vena, venule, arteri kecil. Perdarahan kapiler hanya dapat dilihat melalui mikroskop, bahkan petekie berasal dari pembuluh darah yang lebih besar dari kapiler.

3. Luka gores/Laserasi Luka robek (laceration) adalah jenis kekerasan benda tumpul (blunt force injury) yang merusak atau merobek kulit (epidermis & dermis) dan jaringan dibawahnya (lemak, folikel rambut, kelenjar keringat & kelenjar sebasea). Cara terjadinya laserasi, yaitu : Arah kekerasan tegak lurus terhadap kulit sedangkan jaringan dibawah kulit terdapat tulang misalnya kepala yang terbentur pada sisi meja. Hal ini disebut luka retak (harus kita bedakan dengan luka iris (incissed wound). Arah kekerasan miring (tangensial) sehingga luka robek (laceration) dan terkelupas. Benda yang berputar menyebabkan luka yang sirkuler misalnya gilasan mobil. Patah tulang yang menembus kulit. Penyembuhan luka robek (laceration) sama dengan penyembuhan luka lecet (abrasion) & luka memar (contussion) tergantung dari 4 faktor, yaitu : 1. Vaskularisasi. 2. Keadaan umum penderita. 3. Ukuran luka. 4. Ada tidaknya komplikasi.

Perbedaan antara antemortem dengan post mortem yaitu antemortem mengeluarkan banyak darah sedangkan post mortem hanya sedikit

mengeluarkan darah. Kadang kita dapat menentukan arah kekerasan dengan memperhatikan bibir luka (flap). Berbeda dengan luka iris dimana pada luka gores jaringan yang rusak menyobek bukan mengiris. Laserasi dapat dibedakan dari luka iris : 1. Garis tepi memar dan kerusakan memiliki area yang sangat kecil sehingga untuk pemeriksaanya kadang dibutuhkan bantuan kaca penbesar. 2. Keberadaan rangkaian jaringan yang terkena terdapat pada daerah bagian dalam luka, termasuk pembuluh darah dan saraf . 3. Tidak adanya luka lurus yang tajam pada tulang dibawahnya,terutama jika yang terluka daerah tulang tengkorak. 4. Jika area tertutup oleh rambut seperti kulit kepala, maka rambut tersebut akan terdapat pada luka.

4. Luka Iris (Incisi) Adalah luka yang disebabkan oleh objek yang tajam, biasanya mencakup seluruh luka akibat benda-benda seperti pisau, pedang, silet, kaca, kampak tajam dll. Ciri yang paling penting dari luka iris adalah adanya pemisahan yang rapih dari kulit dan jaringan dibawahnya, maka sudut bagian luar biasanya bisa dikatakan bersih dari kerusakan apapun.

5. Luka potong Adalah luka iris yang kedalamannya lebih panjang. Luka potong tidak lebih berbahaya dibandingkan tikaman, sebagaimana ketidakdalaman luka tidak akan terlalu mempengaruhi organ vital, khususnya target utama nya adalah tangan dan muka. 6. Luka tikam dan luka yang berpenetrasi Menikam biasanya dengan pisau, sering terjadi pada kasus pembunuhan dan pembantaian. Karakteristik dari alat tikam: i. ii. iii. iv. v. vi. vii. Panjang, lebar dan ketebalan pisau Satu atau dua sisi derajat dari ujung yang lancip bentuk belakang pada pisau satu sudut (bergerisi/kotak) Bentuk dari pelindung pangkal yang berdekatan dengan mata pisau Adanya alur, bergerigi atau cabang dari mata pisau Ketajaman dari sudut dan khususnya ujung dari mata pisau

Karakteristik luka tikam, dapat menerangkan tentang: i. ii. iii. iv. v. vi. Dimensi senjata Tipe senjata Kelancipan senjata Gerakan pisau pada luka Kedalaman luka Arah luka

vii.

Banyaknya tenaga yang digunakan

7. .Luka tusuk (Punctured Wound) Luka terjadi akibat adanya benda, seperti peluru atau pisau yang masuk kedalam kulit dengan diameter yang kecil.

8. Luka Bakar (Combustio), Adalah luka yang disebabkan oleh trauma panas, listrik, kimiawi, radiasi atau suhu dingin yang ekstrim.

C. Jenis-Jenis Luka Luka diklasifikasikan berdasarkan berbagai pertimbangan. Meskipun luka sering digambarkan berdasarkan bagaimana cara mendapatkan luka itu dan menunjukkan derajat luka (Taylor, 1997). Selain itu jenis luka bisa dibedakan berdasarkan : 1. Berdasarkan tingkat kontaminasi a. Clean Wounds (Luka bersih), yaitu luka bedah takterinfeksi yang mana tidak terjadi proses peradangan (inflamasi) dan infeksi pada sistem pernafasan, pencernaan, genital dan urinari tidak terjadi. Luka bersih biasanya menghasilkan luka yang tertutup; jika diperlukan dimasukkan drainase tertutup (misal; Jackson Pratt). Kemungkinan terjadinya infeksi pada luka jenis ini adalah luka sekitar 1% - 5%. b.Clean-contamined Wounds (Luka bersih terkontaminasi), merupakan luka pembedahan dimana saluran respirasi, pencernaan, genital atau perkemihan dalam kondisi terkontrol, kontaminasi tidak selalu terjadi, kemungkinan timbulnya infeksi luka adalah 3% - 11%. c. Contamined Wounds (Luka terkontaminasi), termasuk luka terbuka, fresh, luka akibat kecelakaan dan operasi dengan kerusakan besar dengan teknik aseptic atau kontaminasi dari saluran cerna; pada kategori ini juga termasuk insisi akut, inflamasi nonpurulen. Kemungkinan infeksi luka 10% - 17%. d. Dirty or Infected Wounds (Luka kotor atau infeksi), yaitu terdapatnya mikroorganisme pada luka. 2. Berdasarkan kedalaman dan luasnya luka a. Stadium I : Luka Superfisial (Non-Blanching Erithema) : yaitu luka yang terjadi pada lapisan epidermis kulit. b. Stadium II : Luka Partial Thickness : yaitu hilangnya lapisan kulit pada lapisan epidermis dan bagian atas dari dermis. Merupakan luka superficial dan adanya tanda klinis seperti abrasi, blister atau lubang yang dangkal.

c. Stadium III : Luka Full Thickness : yaitu hilangnya kulit keseluruhan meliputi kerusakan atau nekrosis jaringan subkutan yang dapat meluas sampai bawah tetapi tidak melewati jaringan yang mendasarinya. Lukanya sampai pada lapisan epidermis, dermis dan fasia tetapi tidak mengenai otot. Luka timbul secara klinis sebagai suatu lubang yang dalam dengan atau tanpa merusak jaringan sekitarnya. d. Stadium IV : Luka Full Thickness yang telah mencapai lapisan otot, tendon dan tulang dengan adanya destruksi/kerusakan yang luas. 3. Berdasarkan Ada/Tidaknya hubungan dengan dunia luar Jenis-jenis luka dapat dibagi atas dua bagian, yaitu luka terbuka dan luka tertutup a. . Luka terbuka; terbagi pada luka tajam dan luka tumpul i) Luka tajam - Vulnus scissum adalah luka sayat atau luka iris