Referat Suci

download Referat Suci

of 37

  • date post

    22-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    45
  • download

    8

Embed Size (px)

description

file

Transcript of Referat Suci

PAGE 32

BAB I

PENDAHULUAN

Jaringan parut pita suara terbentuk karena trauma yang terjadi pada struktur berlapis pita suara dan menyebabkan penurunan yang signifikan dalam karakteristik getaran. Hal ini berdampak pada perubahan viskoelastis jaringan dan menyebabkan terjadinya disfonia, perubahan nafas dan memiliki dampak yang cukup besar pada kualitas hidup. Ciri utama dari jaringan parut pita suara yaitu jaringan kolagen dan elastin yang tidak teratur, kehilangan struktur matriks ekstraselluler dan mengurangi kelenturan pita suara dan insufisiensi glotis. 1

Pengobatan jaringan parut pita suara masih merupakan bab yang belum terselesaikan di Laryngology dan terutama disebabkan oleh mikro-struktur jaringan pita suara yang sangat kompleks, terutama struktur tiga lapis dari lamina propria. Pengetahuan yang komprehensif tentang hal ini sangat spesifik dan mekanisme molekuler dari jaringan parut pita suara adalah latar belakang untuk setiap modalitas pengobatan yang mendalam. Penelitian di bidang ini memberikan wawasan yang lebih dalam dan pemahaman baru dari interaksi kompleks antara protein interstisial (fibronektin, decorin, dan fibromodulin), glukosaminoglikan (asam hyaluronat) dan berbagai serat matriks ekstraselular (kolagen, prokolagen dan elastin).Jaringan parut pada pita suara menyebabkan kerusakan struktur mikro sangat kompleks dengan berturut-turut mengganggu pola getaran dan insufisiensi glotis. Disfonia yang dihasilkan terutama ditandai dengan kapasitas vokal yang berkurang. Meskipun kemajuan dalam pemahaman tentang patofisiologi yang mendasari, pengobatan jaringan parut pada lipatan vokal masih merupakan bab yang belum terselesaikan di Laryngology dan Phonosurgery. Metode bedah saraf yang dipilih ditentukan oleh gejala klinis utama yaitu teknik medialization untuk pengobatan kesenjangan glotis, atau epitel dengan teknik membebaskan untuk perbaikan karakteristik getaran sering dikombinasikan dengan augmentation injeksi atau implantasi. Dalam kasus yang berat, bukal mukosa okulasi bisa menjadi pilihan. Perkembangan baru, termasuk pengobatan dengan laser anxiolytic, teknologi laser dengan sifat ultrafine eksisi/ablasi menghindari terjadinya koagulasi.BAB IIANATOMI LARING1, 2, 6Embriologi Laring

Faring, laring, trakea dan paru-paru merupakan derivat foregut embrional yang terbentuk sekitar 18 hari setelah konsepsi. Tak lama sesudahnya, terbentuknya alur faring median yang berisi petunjuk-petunjuk pertama sistem pernapasan dan benih laring. Sulkus atau alur laringotrakea menjadi nyata pada sekitar hari ke-21 kehidupan embrio. Perluasan alur ke arah kaudal merupakan primordial paru. Alur menjadi lebih dalam dan berbentuk kantung dan kemudian menjadi 2 lobus pada hari ke ke-27 atau ke-28. Bagian yang paling proksimal dari tuba yang membesar ini akan menjadi laring. Pembesaran aritenoid dan lamina epitelial dapat dikenali menjelang hari ke-33, sedangkan kartilago, otot dan sebagian besar pita suara (korda vokalis) terbentuk dalam tiga atau empat minggu berikutnya.3Kerangka Laring

Laring mempuyai 3 fungsi yaitu sebagai katup saat respirasi, berperan dalam proses menelan dan fonasi. Laring adalah organ khusus yang mempunyai sfingter pelindung pada pintu masuk jalan napas. Diatas laring membuka ke arah dalam laringofaring dan dibawah bersambung dengan trakea. Ukuran rata-rata dari Laring dewasa adalah: Pria (panjang 44 mm, diameter transversal 43 mm, diameter anteroposterior 36 mm). Wanita (panjang 36 mm, diameter transversal 41 mm, diameter anteroposterior 26 mm).

Kerangka laring dibentuk oleh beberapa tulang rawan yang dihubungkan membran dan ligamen yang digerakkan oleh otot dan dilapisi mukosa.

Cartilago thyroidea terdiri dari lamina tulang rawan yang bertemu pada tonjolan jakun. Tepi posterior lamina tertarik keatas membentuk cornu superius dan kebawah cornu inferius. Pada permukaan luar tiap lamina melekat M.sternohyoid, tyrohyoid, dan M. konstriktor faringis inferior di linea obliqua. Perikondrium melapisi permukaan luar dari lamina tyroid, melekat erat dari batas superior sampai inferior bergabung dengan membran tyrohioid dibawahnya dan berikatan longgar dengan permukaan luar kartilago.

Cartilago cricoidea dibentuk dari cincin tulang rawan utuh. Bentuknya mirip cincin dan terletak dibawah cartilago tyroidea. Memiliki arcus anterior sempit dan lamina posterior yang lebar. Pada permukaan lateral terdapat faset sirkular dan dikiri kanan tepi atas terdapat faset artikular untuk artikulasi. Gambar.1 Kerangka LaringCartilago arytenoida merupakan dua tulang rawan kecil dengan bentuk pyramid. Letaknya dibelakang laring, dilateral tepi atas lamina cricoidea. Processus vocalis terjulur horizontal ke depan tempat melekat lig.vocale. Processus muscularis terjulur kelateral tempat melekat m.krikoaritenoid lateralis dan posterior.

Gambar.2 (a) Anterior Laring; (b) Anterolateral Laring

Cartilago corniculata adalah dua nodulus kecil yng berartikulasi dengan apeks-apeks cartilago ariteinoidea dan menjadi tempat melekat plica ariepiglotika.

Cartilago cuneiformis merupakan dua tulang rawan kecil berbentuk batang yang terletak sedemikian rupa sehingga masing-masing terdapat dala satu plika ariepiglotika berfungsi menyokong plika tersebut.

Epiglotis adalah sepotong tulang rawan elastis berbentuk daun yang ada dibelakang radix linguae. Berhubungan didepan dengan corpus ossis hyoidei dan melalui tangkainya dengan bagian belakang kartilago tyroidea. Sisi epiglotis berhubungan dengan cartilago aritenoidea melalui plika aryepiglotika.

Conus Elasticus merupakan membran fibroelastikus terletak dibawah mukosa laring berperan sebagai pertahanan terhadap penyebaran tumor glottis ke inferior. Penyebaran ke daerah subglottis merupakan manifestasi lanjut dari Ca glottis.

Perikondrium internal dari Commissura anterior tidak sempurna, tumor biasanya menginfiltrasi sampai ke kartilago tyroid yang mengakibatkan tumor ini tidak berespons terhadap radioterapi. Tumor didaerah ini dapat menyebar sampai ke leher melalui daerah cricotyroid.

Di daerah paraglottis laring terdapat M.vocalis yang tipis dibagian lateral pada daerah Cricotyroid. Daerah ini menjadi jalur penting penyebaran Ca Glottis ke jaringan Pharyngeal leher.Otot-otot Laring

Otot-otot dari laring berfungsi menutup vestibulum dan glotis saat proses menelan dan meningkatkan ketegangan pita suara asli saat berbicara.3 Otot laring dapat dibagi menjadi 2 kelompok: ekstrinsik dan intrinsik. Otot ekstrinsik dapat dibagi lagi menjadi 2 kelompok yang berlawanan, elevator dan depresor laring. Laring tertarik keatas selama proses menelan dan kebawah setelahnya. Karena os hyoid melekat pada kartilago tyroidea melalui membran tyroid maka gerakan os hyoid mengikuti laring. Elevator laring meliputi m. digastrici, stylohyoid, mylohyoid, dan geniohyoid. M. Stylopharingeus, salpingopharyngeus dan palatopharingeus yang berinsersi pada tepi lamina cartilago tyroidea juga mengangkat laring. Depresor laring meliputi M.sternotyroideus, sternohyoideus dan omohyoideus. Kerja otot ini dibantu oleh gaya pegas elastis trakea.

Gambar.3 Otot intrinsik laring

Otot intrinsik dapat dibagi menjadi 2 kelompok yaitu yang mengendalikan aditus laringis dan yang menggerakkan plika vocalis yaitu 1. Otot yang mengendalikan aditus laringis adalah M. Arytenoideus obliquus yang dipersarafi N. Laringeus recurren yang berfungsi sebagai sfingter aditus laringis, aditus akan membuka jika otot ini relaksasi; 2. Otot yang mengendalikan gerakan plika vokalis, yaitu M. Cricotiroid (tensor) yang berfungsi menegangkan pita suara (satu-satunya otot yang melakukan fungsi ini)3. Dengan origo di sisi kartilago krikoid tepi anterior cornu inferius cartilago tyroidea. M.tyroaritenoid (relaksor) berfungsi menarik cartilago arytenoidea kedepan sehingga memendekkan dan mengendurkan lig.vocal. Dipersarafi oleh n. Laringeus recurren. Origonya pada permukaan dalam sudut kartilago tyroidea dan insersi otot ini di permukaan anterolateral cartilago arytenoidea. M. Cricoarytenoideus lateralis (adduktor) otot ini berfungsi menarik processus muscularis cartilago arytenoidea kedepan sehingga processus vocalis bergerak ke medial dan plika vokalis diadduksi. Origo otot ini pada tepi atas arcus cartilaginis krikoid dan berinsersi di processus muscularis arytenoidea.

Gambar.4 Otot intrinsik laring

M. interarytenoideus berfungsi mendekatkan kedua cartilago arytenoidea dan menutup bagian posterior rima glotidis. Dipersarafi n.laringeus recurren, berorigo di permukaan medial dan belakang kartilago arytenoid sedangkan insersinya di permukaan medial dan belakang kartilago arytenoidea kontralateral. M. Cricoarytenoideus posterior (abduktor) berfungsi menarik processus muskularis cartilago arytenoidea kebelakang sehingga processus vocalis berpindah kelateral dan plica vocalis di abduksi.

Persarafan Laring

Saraf sensoris mukosa laring diatas plica vocalis berasal dari ramus laryngeus internus, cabang n. Laryngeus superior (N. X) dibawah plica vocalis mukosa disarafi N. Laryngeus reccuren. Saraf motoris ke otot intrinsik laring dikerjakan oleh n.laryngeus reccuren kecuali untuk M.cricotyroid yang dipersarafi ramus laryngeus externus dari N. Laryngeus superior (N. X).

Otot intrinsik yang berfungsi melebarkan celah glottis selama respirasi adalah M. Cricoarytenoid posterior. Otot intrinsik yang berperan me-adduksi pita suara tetapi adalah M. Thyroarytenoid dan M.cricoarytenoid lateral. M. Interarytenoid bertugas menutup celah glottis dengan memanjangkan pita suara sekitar 30% ketika M. Cricotyroid me-adduksi dan menegangkan pita suara.

Cedera lanjut dari N.laryngeus externus unilateral akan melemahkan bagian supraglottis, mengakibatkan paralysis otot cricotyroid dan pita suara serta commissura posterior berput