REFERAT RADIOLOGI (BPH)

download REFERAT RADIOLOGI (BPH)

of 20

  • date post

    17-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    314
  • download

    13

Embed Size (px)

description

Referat radiologi - BPH ( BENIGN PROSTATIC HYPERPLASIA )

Transcript of REFERAT RADIOLOGI (BPH)

BAGIAN RADIOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

REFERAT OKTOBER 2011

BENIGN PROSTATIC HYPERPLASIA (BPH)

DISUSUN OLEH: SARNISYAH DWI MARTIANI (C 111 08 101)

PEMBIMBING : dr. MUSLIMIN

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK PADA BAGIAN RADIOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 20121 FAKULTAS KEDOKTERAN UNHAS | Sarnisyah Dwi Martiani C111 08 101

BENIGN PROSTATIC HYPERPLASIA (BPH)

PENDAHULUAN Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) / pembesaran prostat jinak adalah suatu keadaan histologis yang dialami oleh kebanyakan pria lanjut usia. Secara makroskopik ditandai dengan pembesaran kelenjar prostat yang secara histologis disebabkan oleh hiperplasia stroma dan kelenjar sel prostat yang progresif. BPH adalah proses patologik yang berkontribusi terhadap timbulnya Lower Urinary Tract Symptoms (LUTS) pada pria lanjut usia. Meskipun BPH tidak mengancam jiwa, manifestasi klinis sebagai LUTS dapat menurunkan kualitas hidup pasien. LUTS terdiri dari gejala-gejala yang mengganggu seperti, dysuria, frekuensi (berkemih lebih sering dari normal), urgensi (perasaan berkemih yang sulit ditahan) ,serta nokturia (terbangun untuk berkemih beberapa kali pada malam hari), dan gejala-gejala obstruksi berkemih seperti, aliran lambat, keragu-raguan (sulit untuk memulai proses berkemih), intermitten, mengedan saat berkemih, rasa tidak puas berkemih, dan menetesnya urine di akhir berkemih. Masalah seperti LUTS dapat terjadi pada lebih dari 30% pria diatas 65 tahun.(1-4) Dalam perkembangannya, BPH dapat berkembang menjadi benign prostatic enlargement (BPE), benign prostatic obstruction (BPO), dan lower urinary tract symptoms (LUTS). (1)

EPIDEMIOLOGI Benign Prostatic Hyperplasia (BPH)/ pembesaran prostat jinak merupakan penyakit pada laki-laki usia diatas 50 tahun yang sering dijumpai. Karena letak anatominya yang mengelilingi uretra, pembesaran dari prostat akan menekan lumen uretra yang menyebabkan sumbatan dari aliran kandung kemih. Signifikan meningkat dengan meningkatnya usia. Pada pria berusia 50 tahun angka kejadiannya sekitar 50%, dan pada usia 80 tahun sekitar 80%. Sekitar 50% dari angka tersebut diatas akan menyebabkan gejala dan tanda klinik.(5) Di Indonesia BPH merupakan urutan kedua setelah batu saluran kemih dan diperkirakan ditemukan pada 50% pria berusia diatas 50 tahun dengan angka harapan hidup rata-rata di Indonesia yang sudah mencapai 65 tahun dan2 FAKULTAS KEDOKTERAN UNHAS | Sarnisyah Dwi Martiani C111 08 101

diperkirakan bahwa lebih kurang 5% pria Indonesia sudah berumur 60 tahun atau lebih. Kalau dihitung dari seluruh penduduk Indonesia yang berjumlah 200 juta lebih, kira-kira 100 juta terdiri dari pria, dan yang berumur 60 tahun atau lebih kira-kira 5 juta, sehingga diperkirakan ada 2,5 juta laki-laki Indonesia yang menderita BPH.(5) Di Amerika Serikat, hasil survei di kota Olmstead, pada sampel dari pria Kaukasia berumur 40-79 tahun, memperlihatkan gejala moderat-berat yang terjadi pada sekitar 13 % pada pria berumur 40-49 tahun, dan sekitar 28%, pada pria yang berumur lebih dari 70 tahun.(3) Di Kanada, 23 % dari hasil studi kohort memperlihatkan gejala moderatberat. Prevalensi LUTS di Eropa sama dengan prevalensi di Amerika Serikat. Di Skotland dan di area sekitar Maastrict, Netherland, prevalensi berdasarkan gejala meningkat dari 14% pada pria saat berumur 40 tahun menjadi 43% saat berumur 60 tahun.(3)

ETIOLOGI Penyebab BPH masih belum diketahui. Tidak ada informasi pasti tentang keterlibatan faktor resiko. Selama berabad-abad, telah diketahui bahwa BPH terjadi terutama pada pria tua dan BPH tidak terjadi pada pria yang testisnya telah diangkat sebelum pubertas. Berdasarkan alasan ini, para peneliti memahami bahwa penuaan dan perkembangan testis merupakan faktor yang berhubungan dengan terjadinya BPH. Diduga adanya ketidak seimbangan hormonal oleh karena proses penuaan. Salah satu teori adalah teori Testosteron (T) yaitu T bebas yang dirubah menjadi Dehydrotestosteron (DHT) oleh enzim 5 a reduktase (5AR) yang merupakan bentuk testosteron yang aktif yang dapat ditangkap oleh reseptor DHT di dalam sitoplasma sel prostat yang kemudian bergabung dengan reseptor inti sehingga dapat masuk kedalam inti untuk mengadakan inskripsi pada RNA sehingga akan merangsang sintesis protein growth factor yang memacu pertumbuhan kelenjar prostat . Pada berbagai penelitian, aktivitas enzim 5 reduktase dan jumlah reseptor androgen lebih banyak pada BPH. Hal ini menyebabkan sel-sel prostat menjadi lebih sensitif terhadap DHT sehingga replikasi sel lebih banyak terjadi dibandingkan dengan prostat normal (5,6,10)

3

FAKULTAS KEDOKTERAN UNHAS | Sarnisyah Dwi Martiani C111 08 101

Gambar 1. Testosteron (T) berdifusi ke dalam sel epitel dan stroma prostat. T dapat berinteraksi secara langsung dengan reseptor androgen (streoid) yang terikat pada daerah promotor gen androgen. Dalam sel stroma mayoritas T diubah menjadi dihidrotestosteron (DHT) androgen yang lebih potensial-yang dapat bertinteraksi dengan cara autokrin dalam sel stroma atau dalam mode parakrin dengan berdifusi ke dalam sel epitel . DHT diproduksi di perifer,terutama di kulit dan hati, dapat berdifusi ke dalam prostat dari sirkulasi dan berinteraksi dengan cara endokrin. Dalam beberapa kasus, sel basal dalam prostat dapat berfungsi sebagai situs produksi DHT, mirip dengan sel stroma. Faktor pertumbuhan autokrin dan parakrin juga mungkin terlibat dalam proses tergantung androgen dalam prostat. (dikutip dari kepustakaan 4)

Ketidakseimbangan antara estrogen-testosteron, interaksi stroma-epitel, berkurangnya kematian sel prostat serta teori sel stem juga dianggap sebagai pemicu terjadinya pembesaran prostat jinak. (4,10)

ANATOMI Kelenjar prostat berukuran seperti kacang kenari dan mengelilingi bagian leher vesika urinaria dan uretra (saluran yang membawa urine dari vesika urinaria). Prostat terbentuk dari otot dan kelenjar, dengan saluran yang terbuka menuju bagian prostat pada uretra. Prostat terdiri dari 3 lobus, yaitu lobus tengah dan 2 lobus pada tiap sisinya.(8)

4

FAKULTAS KEDOKTERAN UNHAS | Sarnisyah Dwi Martiani C111 08 101

1: Vas deferens 2: Seminal vesicle 3: Base of the prostateGambar 2. Prostat (dikutip dari kepustakaan 8)

4: Apex of the prostate 5: Prostatic urethraGambar 3. Kelenjar Prostat (dikutip dari kepustakaan 8)

Kelenjar prostat normal memiliki volume sekitar 20 gram, panjang 3 cm, lebar 4 cm, dan kedalaman 2 cm. Semakin bertambahnya usia pada pria, kelenjar prostat akan memiliki ukuran yang bervariasi, yang dapat mengarah ke pembesaran prostat jinak (BPH). Kelenjar prostat terletak pada posterior dari os symphisis pubis, superior dari membran perineum, inferior dari vesika urinaria, dan anterior rectum. (7) Menurut klassifikasi Lowsley; prostat terdiri dari lima lobus: anterior, posterior, medial, lateral kanan dan lateral kiri. Sedangkan menurut Mc Neal, prostat dibagi atas : zona perifer, zona sentral, zona transisional, segmen anterior dan zona spingter preprostat. Prostat normal terdiri dari 50 lobulus kelenjar. Duktus kelenjar-kelenjar prostat ini lebih kurang 20 buah, secara terpisah bermuara pada uretra prostatika, dibagian lateral verumontanum, kelenjar-kelenjar ini dilapisi oleh selapis epitel torak dan bagian basal terdapat sel-sel kuboid. (5,10) Prostat ditutupi oleh kapsul yang tersusun atas kolagen, elastin, dan sbagian besar otot polos. Prostat diselimuti oleh 3 lapisan fascia yang berbeda pada aspek anterior, lateral, dan posterior. (7) Kapsul prostat,terdiri atas tiga kapsul, 2 normal dan 1 patologis.(9) 1. Kapsul sejati (True Capsule) Selubung fibrosa tipis yang mengelilingi kelenjar

5

FAKULTAS KEDOKTERAN UNHAS | Sarnisyah Dwi Martiani C111 08 101

2. Kapsul palsu (False Capsule) Fascia extraperitoneal terkondensasi yang terus ke dalam fascia yang mengelilingi vesika urinaria dan fascia denonvillier posterior. Antara lapisan 1 dan 2 yang terletak pada pleksus vena prostat. 3. Kapsul patologik (Pathological Capsule) Ketika hipertrofi prostat jinak adenomatous terjadi, bagian perifer kelenjar normal akan terkompresi dan membentuk kapsul disekeliling massa yang membesar (gambar 4).

Gambar 4. Anatomi bedah dari prostatectomy. (a) Prostat normal pada bagian vertikal. (b) detail prostatic uretra. (c) Prostatic adenoma (hipertrofi jinak) menekan jaringan prostat normal ke false capsule. (dikutip dari kepustakaan 9)

6

FAKULTAS KEDOKTERAN UNHAS | Sarnisyah Dwi Martiani C111 08 101

PATOFISIOLOGI Patofisiologi BPH sangat kompleks (Gambar 5). Hiperplasia prostat meningkatkan resistensi uretra, sehingga menyebabkan perubahan kompensasi pada fungsi vesika urinaria. Keadaan ini menyebabkan peningkatan tekanan intravesikal. Meskipun, peningkatan tekanan detrusor dibutuhkan untuk mengatur aliran urine, sebagai kompensasi terhadap peningktan resistensi aliran urine yang terjadi akibat perubahan fungsi penyimpanan vesika urinaria. Obstruksi menginduksi perubahan pada fungsi detrusor, serta proses degenerasi dan gangguan fungsi sistem saraf juga dapat menyebabkan gangguan pada vesika urinaria , yang menimbulkan gangguan fekuensi, urgensi, dan nokturia, yang menjadi keluhan utama pada BPH. Oleh karena itu, untuk mengetahui patofisiologi BPH membutuhkan penjabaran bahwa obstruksi dapat menginduksi disfungsi vesika urinaria.(4,10) Obstruksi yang diakibatkan oleh hiperplasia prostat benigna tidak hanya disebabkan oleh adanya massa prostat yang menyumbat uretra posterior, tetapi juga disebabkan oleh tonus otot polos yang ada pada stroma prostat, kapsul prostat, dan otot polos pada leher vesika urinaria. Otot polos itu dipersarafi oleh serabut simpatis yang berasal dari nervus pudendus. (11)

Gambar.5 Patofisilogi BPH mencakup interaksi yang kompleks antara obstruksi uretra, fungsi detrusor, dan produksi urine.