Referat Print Fix

download Referat Print Fix

of 22

  • date post

    07-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    9
  • download

    1

Embed Size (px)

description

mata

Transcript of Referat Print Fix

BAB IPENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangAir mata membentuk lapisan tipis dengan tebal sekitar 7-10 m yang melapisi epitel kornea dan konjungtiva. Lapisan setipis ini diketahui memiliki banyak fungsi penting, yaitu untuk menjaga kelembaban kornea dan konjungtiva, membuat permukaan lapisan kornea menjadi halus dengan menghilangkan iregularitas kecil pada permukaan epitel, membersihkan debris dan bahan iritan berbahaya, mencegah pertumbuhan mikroorganisme dengan proses pembilasan secara mekanis dan efek antimikroba, menyediakan nutrisi dan oksigen bagi epitel kornea, serta memfasilitasi pergerakan kelopak pada bola mata. Terjadinya penurunan produksi air mata maupun adanya evaporasi berlebih dapat menyebabkan sindroma mata kering (Khurana, 2007; AAO, 2005; Vaughan et al., 2007).Sindroma mata kering merupakan salah satu kondisi mata yang paling umum terjadi dan menyerang sekitar 10-15% orang dewasa serta sering menyebabkan pasien mencari perawatan oftalmologis. Sindroma mata kering berdampak besar pada kualitas hidup individu yang menderita karena ketidaknyamanan atau disablitas visual. Walaupun gejalanya dapat membaik dengan terapi, namun kondisi ini biasanya tidak dapat disembuhkan. Mata kering dapat menyebabkan disabilitas visual dan membahayakan hasil operasi kornea, katarak, dan refraksi. Kondisi multifaktorial ini terjadi pada permukaan ocular dan tear film yang menyebabkan rasa tidak nyaman, gangguan visual, ketidakstabilan air mata dengan kerusakan pada kornea dan konjungtiva. Sindroma mata kering disebut juga keratokonjungtivitis sicca (KCS) atau keratitis sicca, yang dikarakteristikan dengan inflamasi pada permukaan ocular dan kelenjar lakrimal. Sindroma ini dapat terjadi bersama dengan kondisi yang lain atau hanya sindroma mata kering saja dan sangat sering menyebabkan iritasi ocular (AAO, 2005; AAO, 2013; Javadi et al., 2011; Foster, 2013; Kastelan et al 2013; Rapuano et al, 2008).Gejala mata kering bisa terjadi karena manifestasi penyakit sistemik. Pasien dengan mata kering cenderung menyebabkan infeksi seperti keratitis bakterial. Beberapa faktor resiko terjadinya sindroma mata kering, yaitu usia, jenis kelamin (pada wanita 2x lebih banyak dari pria), ras, lingkungan dengan kelembapan rendah, obat sistemik dan gangguan autoimun (Javadi et al., 2011; Kastelan et al, 2013).Deteksi awal dan terapi teratur dapat mencegah ulkus kornea dan scarring. Terapi tergantung pada tingkat keparahan penyakit, obat-obatan yang dikonsumsi dan intervensi operasi. Terapi dapat meningkatkan kualitas hidup individu dan mencegah kerusakan permukaan okular (Foster, 2013; Kastelan et al, 2013).

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Tear FilmStruktur cairan yang membungkus kornea disebut pericorneal film. Tear film normal membungkus mata yang tediri dari 3 lapisan yaitu : (Foster, 2013; Khurana, 2007).1. Lapisan lipid tipis superfisial (0,11 m), diproduksi oleh kelenjar meibomian, zeiss dan moll, berfungsi mencegah produksi air mata yang berlebih, memperlambat evaporasi dan melubrikasi kelopak mata.2. Lapisan aqueous tebal pada bagian tengah (7 m), diproduksi oleh kelenjar lakrimal utama (reflex menangis), juga oleh kelenjar lakrimal assesoris yaitu kelenjar krause dan wolfring. Lapisan ini berisi cairan dan sedikit natrium chloride, gula, urea dan protein. Juga bersifat basa dan memiliki sifat antibakteri karena substansi seperti lisoenzim, lactoferin dan betalisin. Lisoenzim merupakan protein terbanyak (20-40% total protein) dan protein air mata yang paling basa dengan enzim glikolitik yang dapat menghancurkan dinding sel bakteri. Lactoferin memiliki fungsi antimiroba dan antibakterial dan epidermal growth factor (EGF) yang menjaga permukaan okular normal dan menyembuhkan luka pada kornea. Komponen lain albumin, transferin, IgA, IgM dan IgG.3. Lapisan mucin hydrofilik pada bagian dalam (0,02 0,05 m), lapisan yang paling tipis, mucin disekresi oleh sel goblet konjungtiva dan glandula Manz, fungsinya untuk mengubah permukaan kornea yang hidrofobik menjadi hidrofilik sehingga lapisan aqueous dapat menyebar pada epitel kornea.

Gambar 2.1 Struktur tear film (Khurana, 2007).Regulasi komponen tear film oleh hormonal yaitu androgen yang merupakan hormon yang meregulasi produksi lipid dan reseptor esterogen dan progesteron pada konjungtiva dan kelenjar lakrimal yang penting dalam fungsi nomal jaringan. Selain itu diregulasi oleh sabut neural berdekatan kelenjar lakrimal dan sel goblet yang menghasilkan sekresi mukus dan aqueous (Khurana, 2007)Sekresi kelenjar lakrimal dikontrol oleh reflex neural dengan nervus afferent (sabut sensori trigeminus) pada kornea dan konjungtiva melalui pons (nucleus salivary superior) dari sabut saraf eferen melewati nervus intermedius ke ganglion pterygiopalatina dan simpatetik postganglion dan nervus parasimpatik yang berakhir pada kelenjar lakrimal (Javadi et al., 2011)

2.2 Fisiologi Tear Film Fungsi tear film adalah (Khurana, 2007) : Menjaga kelembapan kornea dan konjungtiva Menyediakan oksigenasi pada epitel lensa Menghalau debris dan iritan Mecegah infeksi oleh adanya substansi antibakteri Memfasilitasi gerak kelopak mata. Tear film dapat menyebar pada permukaan okular melalui mekanisme berkedip yang dikontrol neuronal. 3 faktor yang berperan yaitu reflek berkedip normal, kontak antara permukaan okular eksternal dan kelopak mata dan epitel kornea normal (Kanski, 2007).

2.3 Sindroma Mata Kering (Dry Eye Syndrome)2.3.1 DefinisiSindroma Mata Kering atau Dry Eye Syndrome bukan merupakan suatu penyakit melainkan kompleks gejala yang terjadi sebagai akibat dari berbagai macam penyakit yang dihubungkan dengan berkurangnya volume atau komponen tear film (lapisan aqueous, mucin, atau lipid), evaporasi air mata berlebih, abnormalitas permukaan kelopak mata, atau epitel (Khurana, 2007; Vaughan et al., 2007; Kanski,2007; Lemp et al., 2008).2.3.2 EpidemiologiSekitar 1 dari 7 orang yang berumur 65-84 tahun sangat sering melaporkan gejala mata kering. Menurut penelitian, prevalensi mata kering terhadap 3.722 subyek penelitian yang berumur 48-91 tahun yaitu sekitar 14,4% dan dikatakan menjadi dua kali lipat setelah berumur 59 tahun. Selain umur, seks dan ras juga dikatakan memiliki korelasi dengan sindroma mata kering. Menurut penelitian lainnya didapatkan bahwa dari 926 subyek penelitian yang berumur 40 tahun keatas ditemukan prevalensi yang lebih tinggi terjadi pada wanita. Wanita mengalami peningkatan prevalensi mata kering yang tajam lebih awal dibandingkan pria, sekitar usia 45 tahun, kira-kira pada awal menopause. Data lain mengenai ras menunjukkan bahwa prevalensi gejala berat dan atau diagnosis klinis mata kering pada ras Hispanik dan Asia lebih tinggi dibandingkan Kaukasian (Javadi et al., 2011; DEWS, 2007).2.3.3 Faktor Resiko Faktor resiko terjadinya sindroma mata kering tersering yaitu jenis kelamin (wanita lebih banyak), usia tua, terapi esterogen postmenopause, penggunaan komputer, penggunaaan lensa kontak, operasi refraksi laser eksimer, kekurangan vitamin A, terapi radiasi, hepatitis C, obat-obatan sistemik dan okular termasuk antihistamin, diet rendah asam lemak omega 3 dan defisiensi androgen (Foster, 2013; Rapuano et al, 2008).Faktor resiko lain yang dapat menyebabkan sindroma kering yaitu diabetes mellitus, etnik asia, infeksi HIV/HTLV1, disfungsi ovarium, lingkungan dengan kelembapan rendah dan obat-obatan seperti beta bloker, diuretik dan antidepresan. Faktor resiko yang mungkin menyebabkan sindroma mata kering yaitu asap rokok, kehamilan, obat-obatan yaitu anxiolytic dan anticholinergic, penggunaan alkohol, menopause dan kontrasepsi oral (Foster, 2013; Rapuano et al, 2008).2.3.4 Klasifikasi (AAO, 2005; DEWS, 2007; Kanski, 2007)Klasifikasi sindroma mata kering, yaitu :1. Tear-deficient (aquous layer deficiency) dry eye Non-Sjgren syndrome Lacrimal deficiency Lacrimal gland duct obstruction Reflex block Systemic drugs Sjgren syndrome (primary or secondary)2. Evaporative dry eye Intrinsik Meibomian oil deficiency Disorders of lid aperture Low blink rate Drug action accutane Ekstrinsik Vitamin A-deficiency Topical drugs preservatives Contact lens wear Ocular surface disease : allergy Enviromental factors2.3.5 Etiologi (Khurana, 2007; Vaughan et al., 2007)Berbagai penyebab sindroma mata kering berpengaruh pada lebih dari satu komponen tear film atau menyebabkan perubahan permukaan okular yang secara sekunder menyebabkan ketidakstabilan tear film.Penyebab sindroma mata kering dibagi menjadi 4, yaitu :1. Kondisi-kondisi yang ditandai dengan hipofungsi kelenjar lakrimal (Aqueous tear deficiency) Kongenital Familial dysautonomia (Riley-Day syndrome) Aplasia kelenjar lakrimal (congenital alacrima) Displasia ektodermal Didapat Penyakit sistemika. Sindroma Sjgren primer dan sekunderb. Sklerosis sistemik progresifc. Sarcoidosisd. Leukemia, limfomae. Amyloidosisf. Hemochromatosis Infeksia. Mumps Injurya. Operasi pengangkatan atau kerusakan pada kelenjar lakrimalb. Irradiationc. Luka bakar akibat bahan kimia Medikasia. Antihistaminb. Antimuskarinik : atropin, skopolaminc. Beta-adrenergic blockers : timolol Neurogenika. Kelumpuhan nervus fasialis2. Kondisi-kondisi yang ditandai dengan defisiensi lapisan mucin, terjadi jika sel goblet mengalami kerusakan Avitaminosis A Stevens-Johnson syndrome, toxic epidermal necrolysis, dan erythema multiforme Mucous membrane pemphigoid Konjungtivitis kronis, seperti trachoma Luka bakar akibat bahan kimia Medikasi, seperti antihistamin, agen antimuskarinik, beta-adrenergic blocker, eyedrop preservatives Obat tradisional, seperti kermes 3. Kondisi-kondisi yang ditandai dengan defisiensi lapisan lipid Jaringan parut pada margin kelopak mata Blepharitis4. Kerusakan yang tersebar pada tear film Abnormalitas kelopak mata Defek, seperti pada koloboma Ektropion atau entropion Keratinisasi margin kelopak Menurun atau hilangnya proses berkedipa. Kerusakan neurologis (kelumpuhan nervus fasialis)b. Hipertiroidismec. Lensa kontakd.