Referat Omsk Lisa Nadia

of 56 /56
Clinical Science Session OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS DAN KOMPLIKASINYA Oleh : Melisha Lisman Gaya 07120022 Madona Utami Dewi 07120075 Moganah Nadarajah 0810314286 Preseptor : Dr. Jacky Munilson, Sp.THT-KL BAGIAN ILMU PENYAKIT TELINGA HIDUNG TENGGOROK 0

description

omsk

Transcript of Referat Omsk Lisa Nadia

Page 1: Referat Omsk Lisa Nadia

Clinical Science Session

OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS DAN KOMPLIKASINYA

Oleh :

Melisha Lisman Gaya 07120022

Madona Utami Dewi 07120075

Moganah Nadarajah 0810314286

Preseptor :

Dr. Jacky Munilson, Sp.THT-KL

BAGIAN ILMU PENYAKIT TELINGA HIDUNG TENGGOROK

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS

RSUP Dr. M. DJAMIL

PADANG

2012

0

Page 2: Referat Omsk Lisa Nadia

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah yang Maha Kuasa,

akhirnya kami dapat menyelesaikan referat ini yang berjudul “Otitis Media

Supuratif Kronik dan Komplikasinya”. Referat ini merupakan salah satu syarat

dalam mengikuti kepaniteraan klinik senior pada bagian Ilmu Telinga, Hidung,

dan Tenggorok Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.

Kami mengucapkan terimakasih kepada dr. Jacky Munilson, Sp. THT-KL

selaku preseptor yang telah memberikan arahan dan petunjuk serta semua pihak

yang telah membantu dalam penulisan referat ini.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak kekurangan dalam

penulisan referat ini, untuk itu kritik dan saran dari pembaca kami harapkan.

Semoga referat ini dapat bermanfaat bagi semua.

Padang, April 2012

Penulis

1

Page 3: Referat Omsk Lisa Nadia

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................... 1

DAFTAR ISI........................................................................................................ 2

DAFTAR GAMBAR........................................................................................... 3

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang..................................................................................... 4

1.2 Batasan Masalah.................................................................................. 5

1.3 Tujuan Penulisah................................................................................. 5

1.4 Metode Penulisan................................................................................ 5

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi................................................................................................ 6

2.2 Anatomi............................................................................................... 6

2.3 Epidemiologi....................................................................................... 10

2.4 Klasifikasi............................................................................................ 11

2.5 Patogenesis........................................................................................... 14

2.6 Faktor Risiko........................................................................................ 15

2.7 Gejala klinis.......................................................................................... 17

2.8 Diagnosis.............................................................................................. 19

2.9 Penatalaksanaan.................................................................................... 21

2.10.Komplikasi......................................................................................... 27

2.11 Prognosis............................................................................................ 35

BAB III.PENUTUP

3.1 Kesimpulan.......................................................................................... 36

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................... 37

2

Page 4: Referat Omsk Lisa Nadia

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Anatomi Telinga................................................................................ 7

Gambar 2 Anatomi telinga tengah....................................................................... 7

Gambar 3. Telinga kanan. Membran Timpani Normal........................................ 9

Gambar 4. Kolesteatom kongenital...................................................................... 12

Gambar 5 Kolesteatom kongenital....................................................................... 13

Gambar 6. Kolesteatom didapat........................................................................... 13

Gambar 7. Patogenesis Otitis Media.................................................................... 15

Gambar 8. Pedoman tatalaksana OMSK............................................................. 27

3

Page 5: Referat Omsk Lisa Nadia

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) adalah radang kronik mukosa

telinga tengah dan kavum mastoid dengan perforasi membrane timpani dan

riwayat keluarnya cairan dari liang telinga (otore) lebih dari 2 bulan, baik terus

menerus maupun hilang timbul..1,2

Otitis media supuratif kronik merupakan salah satu penyebab tuli terbanyak,

terutama di negara-negara berkembang. Prevalensi OMSK di dunia adalah

65.000.000-330.000.000 jiwa, 94% diantaranya terdapat di negara berkembang.

Jumlah pasien OMSK tipe maligna adalah 64 setiap tahunnya. Jumlah penderita

ini kecil kemungkinan untuk berkurang bahkan mungkin bertambah setiap

tahunnya mengingat kondisi ekonomi yang masih buruk kesadaran masyarakat

akan kesehatan yang masih rendah dan pengobatan yang tidak tuntas. Otitis media

supuratif kronik merupakan penyakit THT yang paling banyak ditemukan di

negara sedang berkembang. Secara umum, insiden OMSK dipengaruhi oleh ras

dan faktor sosioekonomi. Prevalensi OMSK di Indonesia adalah 2,10-5,20%,

Korea 3,33% dan Madras India 2,25%. Prevalensi tertinggi didapat pada

penduduk Aborigin di Australia dan bangsa Indian di Amerika Utara.3,4

OMSK dapat terbagi atas 2 yaitu OMSK tipe aman dan OMSK tipe

bahaya. Peradangan pada OMSK tipe aman terbatas hanya pada mukosa dan

biasanya tidak mengenai tulang. Perforasinya terletak sentral dan jarang

menimbulkan komplikasi yang berbahaya. Sedangkan OMSK tipe bahaya dapat

mengenai tulang, ditandai dengan adanya kolesteatom dan dapat menimbulkan

komplikasi intrakranial yang antara lain seperti meningitis, abses otak otogenik,

empiema subdural, abses extradural, ensefalitis dan trombosis sinus lateralis.

Komplikasi ekstrakranial yang dapat timbul adalah labirintis, paresis nervus

fasialis, mastoiditis, petrositis.5

Komplikasi ke intrakranial merupakan penyebab utama kematian pada

OMSK di negara sedang berkembang, yang sebagian besar kasus terjadi karena

4

Page 6: Referat Omsk Lisa Nadia

penderita mengabaikan keluhan telinga berair. Kematian terjadi pada 18,6% kasus

OMSK dengan komplikasi intrakranial seperti meningitis.3

Oleh karena tingginya insiden OMSK dan beratnya komplikasi yang

ditimbulkan oleh OMSK ini, maka penulis tertarik mengangkat topik ini sebagai

judul penulisan referat.

1.2 Batasan Masalah

Pembahasan tulisan ini dibatasi pada definisi, patogenesis, diagnosis dan

penatalaksaan OMSK.

1.3 Tujuan Penulisan

Tulisan ini bertujuan untuk menambah pengetahuan pembaca umumnya

dan penulis khususnya mengenai otitis media supuratif kronik.

1.4 Metode Penulisan

Tulisan ini merupakan tinjauan kepustakaan yang merujuk kepada

berbagai literatur.

5

Page 7: Referat Omsk Lisa Nadia

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga

tengah, tuba eustakhius, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid.5 Otitis Media

Supuratif Kronik (OMSK) atau yang biasa disebut “congek” adalah radang kronis

telinga tengah dengan adanya lubang (perforasi) pada gendang telinga (membran

timpani) dan riwayat keluarnya cairan (sekret) dari telinga (otore) lebih dari 2

bulan, baik terus menerus atau hilang timbul. Sekret mungkin serous, mukous,

atau purulen.1,2,3

Otitis Media Akut (OMA) dengan perforasi membran timpani dapat menjadi

otitis media supuratif kronis apabila prosesnya sudah lebih dari 2 bulan. Beberapa

faktor yang menyebabkan OMA menjadi OMSK, antara lain: terapi yang

terlambat diberikan, terapi yang tidak adekuat, virulensi kuman yang tinggi, daya

tahan tubuh pasien yang rendah (gizi kurang), dan higiene yang buruk.5

2.2 Anatomi Telinga Tengah

Telinga tengah berbentuk kubus dengan :5

Batas luar : membran timpani

Batas depan : tuba eustakhius

Batas bawah : vena jugular (bulbus jugularis)

Batas belakang : aditus ad antrum, kanalis fasialis pars vertikalis

Batas atas : tegmen timpani (meningen/ otak)

Batas dalam : berturut-turut dari atas ke bawah kanalis semisirkularis

horizontal, kanalis fasialis, tingkap lonjong (oval

window), tingkap bundar (round window) dan

promontorium.

6

Page 8: Referat Omsk Lisa Nadia

Gambar 1. Anatomi Telinga.7

Gambar 2. Anatomi Telinga Tengah7

Telinga tengah terdiri atas: membran timpani, kavum timpani, prosesus

mastoideus, dan tuba eustakhius.1,5,6

1. Membran Timpani

Membran timpani dibentuk dari dinding lateral kavum timpani dan

memisahkan liang telinga luar dari kavum timpani. Membran ini memiliki

panjang vertikal rata-rata 9-10 mm, diameter antero-posterior kira-kira 8-9 mm,

dan ketebalannya rata-rata 0,1 mm .Letak membran timpani tidak tegak lurus

terhadap liang telinga akan tetapi miring yang arahnya dari belakang luar ke muka

dalam dan membuat sudut 450 dari dataran sagital dan horizontal. Membran

timpani berbentuk kerucut, dimana bagian puncak dari kerucut menonjol ke arah

kavum timpani yang dinamakan umbo. Dari umbo ke muka bawah tampak refleks

cahaya (cone of ligt).

7

Page 9: Referat Omsk Lisa Nadia

Membran timpani mempunyai tiga lapisan yaitu :1

a. Stratum kutaneum (lapisan epitel) berasal dari liang telinga.

b. Stratum mukosum (lapisan mukosa) berasal dari kavum timpani.

c. Stratum fibrosum (lamina propria) yang letaknya antara stratum kutaneum dan

mukosum.

Secara Anatomis membran timpani dibagi dalam 2 bagian :1

a. Pars tensa

Bagian terbesar dari membran timpani yang merupakan permukaan yang

tegang dan bergetar, sekelilingnya menebal dan melekat pada anulus fibrosus pada

sulkus timpanikus bagian tulang dari tulang temporal.

b. Pars flaksida atau membran Shrapnell.

Letaknya di bagian atas muka dan lebih tipis dari pars tensa. Pars flaksida

dibatasi oleh 2 lipatan yaitu :

Plika maleolaris anterior (lipatan muka).

Plika maleolaris posterior (lipatan belakang).

Membran timpani terletak dalam saluran yang dibentuk oleh tulang

dinamakan sulkus timpanikus. Akan tetapi bagian atas muka tidak terdapat sulkus

ini dan bagian ini disebut insisura timpanika (rivini). Permukaan luar dari

membran timpani disarafi oleh cabang nervus aurikulo temporalis dari nervus

mandibula dan nervus vagus. Permukaan dalam disarafi oleh nervus timpani

cabang dari nervus glossofaringeal.

Aliran darah membran timpani berasal dari permukaan luar dan dalam.

Pembuluh-pembuluh epidermal berasal dari aurikula yang merupakan cabang dari

arteri maksilaris interna. Permukaan mukosa telinga tengah didarahi oleh arteri

timpani anterior cabang dari arteri maksilaris interna dan oleh stilomastoid cabang

dari arteri aurikula posterior.

8

Page 10: Referat Omsk Lisa Nadia

Gambar 3. Telinga kanan. Membran Timpani Normal1

2. Kavum Timpani

Kavum timpani terletak di dalam pars petrosa dari tulang temporal,

bentuknya bikonkaf, atau seperti kotak korek api. Diameter antero-posterior atau

vertikal 15 mm, sedangkan diameter transversal 2-6 mm. Kavum timpani

mempunyai 6 dinding yaitu : bagian atap, lantai, dinding lateral, medial, anterior,

dan posterior.

Kavum timpani terdiri dari :1,5

a. Tulang-tulang pendengaran, terbagi atas: malleus (hammer/martil),

inkus (anvil/landasan), stapes (stirrup/pelana)

b. Otot, terdiri atas: otot tensor timpani (muskulus tensor timpani) dan

otot stapedius (muskulus stapedius).

c. Saraf korda timpani.

d. Saraf pleksus timpanikus.

3. Prosesus mastoideus

Rongga mastoid berbentuk seperti bersisi tiga dengan puncak mengarah ke

kaudal. Atap mastoid adalah fosa kranii media. Dinding medial adalah dinding

lateral fosa kranii posterior. Sinus sigmoid terletak di bawah duramater pada

daerah ini. Pada dinding anterior mastoid terdapat aditus ad antrum.

4. Tuba eustakhius.1,5,6

Tuba eustakhius disebut juga tuba auditori atau tuba faringotimpani

berbentuk seperti huruf S. Tuba ini merupakan saluran yang menghubungkan

kavum timpani dengan nasofaring. Pada orang dewasa panjang tuba sekitar 36

mm berjalan ke bawah, depan dan medial dari telinga tengah dan pada anak

dibawah 9 bulan adalah 17,5 mm.

Tuba terdiri dari 2 bagian yaitu :

a. Bagian tulang terdapat pada bagian belakang dan pendek (1/3

bagian).

b. Bagian tulang rawan terdapat pada bagian depan dan panjang (2/3

bagian).

9

Page 11: Referat Omsk Lisa Nadia

Fungsi Tuba Eustakhius adalah ventilasi, drenase sekret dan menghalangi

masuknya sekret dari nasofaring ke telinga tengah.Ventilasi berguna untuk

menjaga agar tekanan di telinga tengah selalu sama dengan tekanan udara luar.

Adanya fungsi ventilasi tuba dapat dibuktikan dengan melakukan perasat

Valsava dan perasat Toynbee.5

Perasat Valsava meniupkan dengan keras dari hidung sambil mulut

dipencet serta mulut ditutup. Bila Tuba terbuka maka akan terasa ada udara yang

masuk ke telinga tengah yang menekan membran timpani ke arah lateral. Perasat

ini tidak boleh dilakukan kalau ada infeksi pada jalur nafas atas.5

Perasat Toynbee dilakukan dengan cara menelan ludah sampai hidung

dipencet serta mulut ditutup. Bila tuba terbuka maka akan terasa membran timpani

tertarik ke medial. Perasat ini lebih fisiologis.5

2.3 Epidemiologi

Otitis media supuratif kronik merupakan penyakit THT yang paling banyak

ditemukan di negara sedang berkembang. Secara umum insiden OMSK

dipengaruhi oleh ras dan faktor sosioekonomi. Misalnya, OMSK lebih sering

dijumpai pada orang Eskimo dan Indian Amerika, anak-anak aborigin Australia

dan orang kulit hitam di Afrika Selatan. Walaupun demikian, lebih dari 90%

beban dunia akibat OMSK ini dipikul oleh negara-negara di Asia Tenggara,

daerah Pasifik Barat, Afrika, dan beberapa daerah minoritas di Pasifik. Kehidupan

sosial ekonomi yang rendah, lingkungan kumuh, dan status kesehatan serta gizi

yang jelek merupakan faktor yang menjadi dasar untuk meningkatnya prevalensi

OMSK pada negara yang sedang berkembang.3

Survei prevalensi di seluruh dunia menunjukkan bahwa beban dunia akibat

OMSK melibatkan 65–330 juta orang dengan telinga berair, dimana 60% di

antaranya (39–200 juta) menderita kurangnya pendengaran yang signifikan.

Secara umum, prevalensi OMSK di Indonesia adalah 3,8% dan termasuk

dalam klasifikasi tinggi dalam tingkatan klasifikasi insidensi. Pasien OMSK

meliputi 25% dari pasien-pasien yang berobat di poliklinik THT rumah sakit di

Indonesia. Berdasarkan Survei Nasional Kesehatan Indera Penglihatan dan

Pendengaran oleh Departemen Kesehatan R.I tahun 1994-1996, angka kesakitan

10

Page 12: Referat Omsk Lisa Nadia

(morbiditas) Telinga, Hidung, dan Tenggorok (THT) di Indonesia sebesar 38,6%

dengan prevalensi morbiditas tertinggi pada kasus telinga dan gangguan

pendengaran yaitu sebesar 38,6% dan prevalensi otitis media supuratif kronis

antara 2,1-5,2%.4 Data poliklinik THT RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2006

menunjukkan pasien OMSK merupakan 26% dari seluruh kunjungan pasien.3

2.4 Klasifikasi

OMSK dapat dibagi atas 2 tipe, yaitu :1,3

a. Tipe tubotimpani (tipe jinak/tipe aman/tipe rinogen)

Proses peradangan pada OMSK tipe tubotimpani hanya terbatas pada

mukosa saja dan biasanya tidak mengenai tulang. Tipe tubotimpani ditandai

oleh adanya perforasi sentral atau pars tensa dan gejala klinik yang bervariasi

dari luas dan keparahan penyakit. Beberapa faktor lain yang mempengaruhi

keadaan ini terutama patensi tuba eustakhius, infeksi saluran nafas atas,

pertahanan mukosa terhadap infeksi yang gagal pada pasien dengan daya

tahan tubuh yang rendah. Disamping itu campuran bakteri aerob dan anaerob,

luas dan derajat perubahan mukosa, serta migrasi sekunder dari epitel

skuamosa juga berperan dalam perkembangan tipe ini. Sekret mukoid kronis

berhubungan dengan hiperplasia goblet sel, metaplasia dari mukosa telinga

tengah pada tipe respirasi dan mukosiliar yang jelek.

b. Tipe atikoantral (tipe ganas/tipe tidak aman/tipe tulang)

Pada tipe ini ditemukan adanya kolesteatom dan berbahaya. Perforasi

tipe ini letaknya marginal atau di atik yang lebih sering mengenai pars

flaksida. Karakteristik utama dari tipe ini adalah terbentuknya kantong retraksi

yang berisi tumpukan keratin sampai menghasilkan kolesteatom.

Kolesteatom adalah suatu massa amorf, konsistensi seperti mentega,

berwarna putih, terdiri dari lapisan epitel bertatah yang telah mengalami

nekrotik. Kolesteatom merupakan media yang baik untuk pertumbuhan

kuman, yang paling sering adalah proteus dan pseudomonas. Hal ini akan

memicu respon imun lokal sehingga akan mencetuskan pelepasan mediator

inflamasi dan sitokin. Sitokin yang dapat ditemui dalam matrik kolesteatom

adalah interleukin-1, interleukin-6, tumor necrosis factor-α, dan transforming

growth factor. Zat-zat ini dapat menstimulasi sel-sel keratinosit matriks

11

Page 13: Referat Omsk Lisa Nadia

kolesteatom yang bersifat hiperproliferatif, destruktif, dan mampu

berangiogenesis. Massa kolesteatom ini dapat menekan dan mendesak organ

sekitarnya serta menimbulkan nekrosis terhadap tulang. Terjadinya proses

nekrosis terhadap tulang diperhebat oleh reaksi asam oleh pembusukan

bakteri.1,3,5

Kolesteatom dapat dibagi atas 2 tipe yaitu:

1. Kongenital8

Kolestatom kongenital terbentuk pada masa embrionik. Patogenesis

kolesteatom kongenital tidak sepenuhnya dimengerti. Namun ada beberapa

teori diantaranya Teed menyatakan bahwa penebalan epitel ektodermal

berkembang bersama-sama dengan ganglion genikulatum , dari medial sampai

ke bagian leher dari tulang malleus. Kumpulan epitel ini nantinya akan

mengalmi involusi menjadi lapisan lapisan epitel telinga tengah. Jika involusi

ini gagal terjadi maka kumpulan epitel tersebut akan menjadi kolesteatom

kongenital.

Pada kolesteatom kongenital ditemukan membran timpani utuh tanpa

tanda-tanda infeksi, lokasi kolesteatom biasanya di kavum timpani, daerah

petrosus mastoid atau di serebelopontin angle.5

Gambar .4. Kolesteatom Kongenital

12

Page 14: Referat Omsk Lisa Nadia

Gambar 5. Kolesteatom kongenital

2. Didapat5

Kolesteatom yang terbentuk setelah anak lahir, dapat dibagi atas:

Primary acquired cholesteatoma.

Kolesteatom yang terjadi tanpa didahului oleh perforasi membran

timpani pada daerah atik atau pars flasida, timbul akibat adanya proses

invaginasi dari membrane timpani pars flaksida karena adanya tekanan

negatif di telinga tengah akibat gangguan tuba.

Gambar 6. Kolesteatom didapat

Secondary acquired cholesteatoma.

Kolesteatom yang terbentuk setelah terjadi perforasi membran

timpani. Kolesteatom terbentuk sebagai akibat dari masuknya epitel kulit

dari liang telinga atau dari pinggir perforasi membran timpani ke telinga

tengah (teori migrasi) atau terjadi akibat metaplasia mukosa kavum

timpani karena iritasi infeksi yang berlansung lama (teori metaplasia).

Teori implantasi dikatakan bahwa kolesteatom terjadi akibat implantasi

epitel kulit secara iatrogenik ke dalam telinga tengah sewaktu operasi, setelah

blust injury, pemasangan pipa ventilasi, atau setelah miringotomi.

Kolesteatom merupakan media yang baik untuk tempat pertumbuhan

kuman (infeksi), yang paling sering adalah Proteus dan Pseudomonas aeruginosa.

Sebaliknya infeksi dapat memicu respon imun local yang mengakibatkan produksi

berbagai mediator inflamasi dan berbagai sitokin. Sitokin yang diidentifikasi

terdapat pada matrix kolesteatom adalah interleukin-1 ( IL-1), interleukin-6,

tumor necrosis factor alpha, dan transforming growth factor. Zat- zat ini dapat

13

Page 15: Referat Omsk Lisa Nadia

menstimulasi sel-sel kolesteatom bersifat hiperproliferatif, destruktif dan mampu

berangiogenesis.

2.5 Patogenesis

OMSK dimulai dari episode infeksi akut terlebih dahulu. Patofisiologi dari

OMSK dimulai dari adanya iritasi dan inflamasi dari mukosa telinga tengah yang

disebabkan oleh multifaktorial, diantaranya infeksi yang dapat disebabkan oleh

virus atau bakteri, gangguan fungsi tuba, alergi, kekebalan tubuh turun,

lingkungan dan sosial ekonomi. Kemungkinan penyebab terpenting mudahnya

anak mendapat infeksi telinga tengah adalah struktur tuba pada anak yang berbeda

dengan dewasa dan kekebalan tubuh yang belum berkembang sempurna sehingga

bila terjadi infeksi jalan napas atas, maka lebih mudah terjadi infeksi telinga

tengah berupa Otitis Media Akut (OMA).1,3

Respon inflamasi yang timbul adalah berupa udem mukosa. Jika proses

inflamasi ini tetap berjalan, pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya ulkus

dan merusak epitel. Mekanisme pertahanan tubuh penderita dalam menghentikan

infeksi biasanya menyebabkan terdapatnya jaringan granulasi yang pada akhirnya

dapat berkembang menjadi polip di ruang telinga tengah. Jika lingkaran antara

proses inflamasi, ulserasi, infeksi dan terbentuknya jaringan granulasi ini

berlanjut terus akan merusak jaringan sekitarnya.1,3

14

Sembuh/ normal

Gangguan tuba

Fgs.tuba tetap tergangguInfeksi (-)

Tekanan negatiftelinga tengah OMEefusi

OMA

Perubahan tekanan tiba-tibaAlergiInfeksi Sumbatan : Sekret

Tampon Tumor

Tuba tetap terganggu + ada infeksi

Otitis Media Akut(OMA)

Page 16: Referat Omsk Lisa Nadia

Gambar 7 Patogenesis Otitis Media5

2.6 Faktor Risiko

Terjadi OMSK hampir selalu dimulai dengan otitis media berulang pada

anak, jarang dimulai setelah dewasa. Faktor infeksi biasanya berasal dari

nasofaring (adenoiditis, tonsilitis, rinitis, sinusitis) dan mencapai telinga tengah

melalui tuba eustakhius. Fungsi tuba eustakhius yang abnormal merupakan faktor

predisposisi yang dijumpai pada anak dengan palatoskisis dan sindrom down.

Adanya tuba patulous, menyebabkan refluk isi nasofaring yang merupakan faktor

insiden OMSK yang tinggi di Amerika Serikat. Faktor host yang berkaitan dengan

insiden OMSK yang relatif tinggi adalah defisiensi imun sistemik. Kelainan

humoral, seperti hipogammaglobulinemia dan cell-mediated (infeksi HIV) dapat

timbul sebagai infeksi telinga kronis.

Faktor-faktor risiko OMSK antara lain :

1. Lingkungan1,3

Hubungan penderita OMSK dan faktor sosial ekonomi belum jelas,

tetapi terdapat hubungan erat antara penderita dengan OMSK dan sosio

ekonomi, dimana kelompok sosio ekonomi rendah memiliki insiden yang

lebih tinggi. Tetapi sudah hampir dipastikan, bahwa hal ini berhubungan

dengan kesehatan secara umum, diet, dan tempat tinggal yang padat.

2. Genetik1,3

Faktor genetik masih diperdebatkan sampai saat ini, terutama apakah

insiden OMSK berhubungan dengan luasnya sel mastoid yang dikaitkan

sebagai faktor genetik. Sistem sel-sel udara mastoid lebih kecil pada penderita

otitis media, tapi belum diketahui apakah hal ini primer atau sekunder.

15

OMSK tipe maligna

Otitis media Efusi(OME)

Otitis Media Supuratif Kronik

(OMSK)

OMSK tipe benigna

Sembuh sempurna

Page 17: Referat Omsk Lisa Nadia

3. Otitis media sebelumnya1,3

Secara umum dikatakan otitis media kronis merupakan kelanjutan dari

otitis media akut dan atau otitis media dengan efusi, tetapi tidak diketahui

faktor apa yang menyebabkan satu telinga dan berkembangnya penyakit ke

arah keadaan kronis.

4. Infeksi1,3

Proses infeksi pada otitis media supuratif kronis sering disebabkan oleh

campuran mikroorganisme aerobik dan anaerobik yang multiresisten terhadap

standar yang ada saat ini. Kuman penyebab yang sering dijumpai pada

OMSK ialah Pseudomonas aeruginosa sekitar 50%, Proteus sp. 20% dan

Staphylococcus aureus 25%.

Jenis bakteri yang ditemukan pada OMSK agak sedikit berbeda dengan

kebanyakan infeksi telinga lain, karena bakteri yang ditemukan pada OMSK

pada umumnya berasal dari luar yang masuk ke lubang perforasi tadi.

5. Infeksi saluran nafas atas1,3

Banyak penderita mengeluh sekret telinga sesudah terjadi infeksi saluran

nafas atas. Infeksi virus dapat mempengaruhi mukosa telinga tengah

menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh terhadap organisme yang secara

normal berada dalam telinga tengah, sehingga memudahkan pertumbuhan

bakteri.

6. Autoimun1,3

Penderita dengan penyakit autoimun akan memiliki insidens lebih besar

terhadap otitis media kronis.

7. Alergi1,3

Penderita alergi mempunyai insiden otitis media kronis yang lebih tinggi

dibanding yang bukan alergi. Yang menarik adalah dijumpainya sebagian

penderita yang alergi terhadap antibiotik tetes telinga atau bakteri atau toksin-

toksinnya, namun hal ini belum terbukti kebenarannya.

8. Gangguan fungsi tuba eustakhius1,3

Hal ini terjadi pada otitis kronis aktif, dimana tuba eustakhius sering

tersumbat oleh edema. Beberapa faktor-faktor yang menyebabkan perforasi

membran timpani menetap pada OMSK :1

16

Page 18: Referat Omsk Lisa Nadia

a) Infeksi yang menetap pada telinga tengah mastoid yang

mengakibatkan produksi sekret telinga purulen berlanjut.

b) Berlanjutnya obstruksi tuba eustakhius yang mengurangi

penutupan spontan pada perforasi.

c) Beberapa perforasi yang besar mengalami penutupan spontan

melalui mekanisme migrasi epitel.

Pada pinggir perforasi, epitel skuamous dapat mengalami pertumbuhan

yang cepat di atas sisi medial dari membran timpani yang hal ini juga

mencegah penutupan spontan dari perforasi.

2.7 Gejala Klinis

1. Telinga berair (otore)

Sekret bersifat purulen (kental, putih) atau mukoid (seperti air dan encer)

tergantung stadium peradangan. Sekret yang mukus dihasilkan oleh aktivitas

kelenjar sekretorik telinga tengah dan mastoid. Pada OMSK tipe ganas unsur

mukoid dan sekret telinga tengah berkurang atau hilang karena rusaknya

lapisan mukosa secara luas. Suatu sekret yang encer berair tanpa nyeri

mengarah kemungkinan tuberkulosis.1,3

2. Gangguan pendengaran

Ini tergantung dari derajat kerusakan tulang-tulang pendengaran.

Biasanya dijumpai tuli konduktif namun dapat pula bersifat campuran.

Gangguan pendengaran mungkin ringan sekalipun proses patologi sangat

hebat, karena daerah yang sakit ataupun kolesteatom dapat menghantar bunyi

dengan efektif ke fenestra ovalis. Pada OMSK tipe maligna biasanya didapat

tuli konduktif berat karena putusnya rantai tulang pendengaran, tetapi sering

kali juga kolesteatom bertindak sebagai penghantar suara sehingga ambang

pendengaran yang didapat harus diinterpretasikan secara hati-hati.

Penurunan fungsi koklea biasanya terjadi perlahan-lahan dengan

berulangnya infeksi karena penetrasi toksin melalui jendela bulat (foramen

rotundum) atau fistel labirin tanpa terjadinya labirinitis supuratif. Bila

terjadinya labirinitis supuratif akan terjadi tuli saraf berat. Hantaran tulang

dapat menggambarkan sisa fungsi koklea.1,3

17

Page 19: Referat Omsk Lisa Nadia

3. Otalgia (nyeri telinga)

Adanya nyeri tidak lazim dikeluhkan penderita OMSK dan bila ada

merupakan suatu tanda yang serius. Pada OMSK keluhan nyeri dapat karena

terbendungnya drainase pus. Nyeri dapat berarti adanya ancaman komplikasi

akibat hambatan pengaliran sekret, terpaparnya durameter atau dinding sinus

lateralis, atau ancaman pembentukan abses otak. Nyeri telinga mungkin ada

tetapi mungkin oleh adanya otitis eksterna sekunder. Nyeri merupakan tanda

berkembang komplikasi OMSK seperti petrositis, subperiosteal abses, atau

trombosis sinus lateralis.3

4. Vertigo

Vertigo pada penderita OMSK merupakan gejala yang serius lainnya.

Keluhan vertigo seringkali merupakan tanda telah terjadinya fistel labirin

akibat erosi dinding labirin oleh kolesteatom. Pada penderita yang sensitif,

keluhan vertigo dapat terjadi karena perforasi besar membran timpani yang

akan menyebabkan labirin lebih mudah terangsang oleh perbedaan suhu.

Penyebaran infeksi ke dalam labirin juga akan menyebabkan keluhan vertigo.

Vertigo juga bisa terjadi akibat komplikasi serebelum. Fistula merupakan

temuan yang serius, karena infeksi kemudian dapat berlanjut dari telinga

tengah dan mastoid ke telinga dalam sehingga timbul labirinitis dan dari sana

mungkin berlanjut menjadi meningitis. Uji fistula perlu dilakukan pada kasus

OMSK dengan riwayat vertigo. Uji ini memerlukan pemberian tekanan positif

dan negatif pada membran timpani.1

Tanda-tanda klinis OMSK tipe maligna :

a. Adanya abses atau fistel retroaurikular

b. Jaringan granulasi atau polip di liang telinga yang berasal dari

kavum timpani.

c. Pus yang selalu aktif atau berbau busuk (aroma kolesteatom)

d. Foto rontgen mastoid adanya gambaran kolesteatom.

2.8 Diagnosis

Diagnosis OMSK ditegakan dengan cara:

1. Anamnesis (history-taking) 1,3,6

18

Page 20: Referat Omsk Lisa Nadia

Penyakit telinga kronis ini biasanya terjadi perlahan-lahan dan penderita

seringkali datang dengan gejala-gejala penyakit yang sudah lengkap. Gejala

yang paling sering dijumpai adalah telinga berair. Pada tipe tubotimpani

sekretnya lebih banyak dan seperti benang, tidak berbau bususk, dan

intermiten. Sedangkan pada tipe atikoantral sekretnya lebih sedikit, berbau

busuk, kadangkala disertai pembentukan jaringan granulasi atau polip, dan

sekret yang keluar dapat bercampur darah. Ada kalanya penderita datang

dengan keluhan kurang pendengaran atau telinga keluar darah.

2. Pemeriksaan otoskopi1,3,6

Pemeriksaan otoskopi akan menunjukan adanya dan letak perforasi. Dari

perforasi dapat dinilai kondisi mukosa telinga tengah.

3. Pemeriksaan audiologi1,3,6

Evaluasi audiometri dan pembuatan audiogram nada murni untuk

menilai hantaran tulang dan udara penting untuk mengevaluasi tingkat

penurunan pendengaran dan untuk menentukan gap udara dan tulang.

Audiometri tutur berguna untuk menilai ‘speech reception threshold’ pada

kasus dengan tujuan untuk memperbaiki pendengaran.

4. Pemeriksaan radiologi1,3

Pemeriksaan radiografi daerah mastoid pada penyakit telinga kronis

memiliki nilai diagnostik yang terbatas bila dibandingkan dengan manfaat

otoskopi dan audiometri. Pemeriksaan radiologi biasanya memperlihatkan

mastoid yang tampak sklerotik dibandingkan mastoid yang satunya atau yang

normal. Erosi tulang yang berada di daerah atik memberi kesan adanya

kolesteatom. Proyeksi radiografi tyang sekarang biasa digunakan adalah

proyeksi schuller dimana pada proyeksi ini akan memperlihatkan luasnya

pnematisasi mastoid dari arah lateral dan atas.

Pada CT scan akan terlihat gambaran kerusakan tulang oleh kolesteatom,

ada atau tidaknya tulang–tulang pendengaran dan beberapa kasus terlihat

fistula pada kanalis semisirkularis horizontal.1,3

5. Pemeriksaan bakteriologi

Walaupun perkembangan dari OMSK merupakan kelanjuan dari

mulainya infeksi akut, bakteri yang ditemukan pada sekret yang kronis

19

Page 21: Referat Omsk Lisa Nadia

berbeda dengan yang ditemukan pada otitis media supuratif akut. Bakteri yang

sering dijumpai pada OMSK adalah Pseudomonas aeruginosa,

Staphylococcus aureus, dan Proteus sp. Sedangkan bakteri pada otitis media

supuratif akut adalah Streptococcus pneumonie dan H. influenza.9

Infeksi telinga biasanya masuk melalui tuba dan berasal dari hidung,

sinus paranasal, adenoid, atau faring. Dalam hal ini penyebab biasanya adalah

pneumokokus, streptokokus atau H. influenza. Akan tetapi, pada OMSK

keadaan ini agak berbeda karena adanya perforasi membran timpani maka

infeksi lebih sering berasal dari luar yang masuk melalui perforasi tadi.

2.9 Penatalaksanaan

Pada waktu pengobatan haruslah dievaluasi faktor-faktor yang

menyebabkan penyakit menjadi kronis, perubahan-perubahan anatomi yang

menghalangi penyembuhan serta menganggu fungsi, dan proses infeksi yang

terdapat di telinga. Bila didiagnosis kolesteatom, maka mutlak harus dilakukan

operasi, tetapi obat -obatan dapat digunakan untuk mengontrol infeksi sebelum

operasi.1,3,5,6

Prinsip pengobatan tergantung dari jenis penyakit dan luas infeksi, yang

dapat dibagi atas: konservatif dan operasi

A. Otitis media supuratif kronik benigna

a. Otitis media supuratif kronik benigna tenang

Keadaan ini tidak memerlukan pengobatan, dan dinasehatkan untuk

jangan mengorek telinga, air jangan masuk ke telinga sewaktu mandi,

dilarang berenang dan segera berobat bila menderita infeksi saluran nafas

atas. Bila fasilitas memungkinkan sebaiknya dilakukan operasi

rekonstruksi (miringoplasti, timpanoplasti) untuk mencegah infeksi

berulang serta gangguan pendengaran.

b. Otitis media supuratif kronik benigna aktif

Prinsip pengobatan OMSK adalah :

1. Membersihkan liang telinga dan kavum timpani (toilet telinga)

20

Page 22: Referat Omsk Lisa Nadia

Tujuan toilet telinga adalah membuat lingkungan yang tidak sesuai

untuk perkembangan mikroorganisme, karena sekret telinga

merupakan media yang baik bagi perkembangan mikroorganisme.

Cara pembersihan liang telinga (toilet telinga):1

a) Toilet telinga secara kering (dry mopping).

Telinga dibersihkan dengan kapas lidi steril, setelah

dibersihkan dapat di beri antibiotik berbentuk serbuk. Cara ini

sebaiknya dilakukan di klinik atau dapat juga dilakukan oleh

anggota keluarga. Pembersihan liang telinga dapat dilakukan setiap

hari sampai telinga kering.

b) Toilet telinga secara basah (syringing).

Telinga disemprot dengan cairan untuk membuang debris dan

nanah, kemudian dibersihkan dengan kapas lidi steril dan diberi

serbuk antibiotik. Meskipun cara ini sangat efektif untuk

membersihkan telinga tengah, tetapi dapat mengakibatkan

penyebaran infeksi ke bagian lain dan ke mastoid. Pemberian

serbuk antibiotik dalam jangka panjang dapat menimbulkan reaksi

sensitifitas pada kulit. Dalam hal ini dapat diganti dengan serbuk

antiseptik, misalnya asam boric dengan iodine.

c) Toilet telinga dengan pengisapan ( suction toilet)

Pembersihan dengan suction pada nanah dengan bantuan

mikroskopis operasi adalah metode yang paling populer saat ini.

Setelah itu dilakukan pengangkatan mukosa yang berproliferasi

dan polipoid sehingga sumber infeksi dapat dihilangkan. Akibatnya

terjadi drainase yang baik dan resorbsi mukosa. Pada orang dewasa

yang kooperatif cara ini dilakukan tanpa anastesi tetapi pada anak-

anak diperlukan anestesi. Pencucian telinga dengan H2O2 3% akan

mencapai sasarannya bila dilakukan dengan “displacement

methode” seperti yang dianjurkan oleh Mawson dan Ludmann.

2. Pemberian antibiotika :1,3

a) Antibiotik topikal

21

Page 23: Referat Omsk Lisa Nadia

Pemberian antibiotik secara topikal pada telinga dan sekret

yang banyak tanpa dibersihkan dulu adalah tidak efektif. Bila

sekret berkurang atau tidak progresif lagi diberikan obat tetes yang

mengandung antibiotik dan kortikosteroid. Irigasi dianjurkan

dengan garam faal agar lingkungan bersifat asam yang merupakan

media yang buruk untuk tumbuhnya kuman.

Mengingat pemberian obat topikal dimaksudkan agar masuk

sampai telinga tengah, maka tidak dianjurkan antibiotik yang

ototoksik misalnya neomisin dan lamanya tidak lebih dari 1

minggu. Cara pemilihan antibiotik yang paling baik dengan

berdasarkan kultur kuman penyebab dan uji resistensi.

Antibiotika topikal yang dapat dipakai pada otitis media kronik

adalah :

1. Polimiksin B atau polimiksin E

Obat ini bersifat bakterisid terhadap kuman gram negatif.

2. Neomisin

Obat bakterisid pada kuman gram positif dan negatif. Toksik

terhadap ginjal dan telinga.

3. Kloramfenikol

Obat ini bersifat bakterisid terhadap basil gram positif dan

negatif kecuali Pseudomonas aeruginosa.

b) Antibiotik sistemik.1,3

Pemilihan antibiotik sistemik untuk OMSK juga sebaiknya

berdasarkan kultur kuman penyebab. Pemberian antibiotika tidak

lebih dari 1 minggu dan harus disertai pembersihan sekret profus.

Bila terjadi kegagalan pengobatan, perlu diperhatikan faktor

penyebab kegagalan yang ada pada penderita tersebut.

Dengan melihat konsentrasi obat dan daya bunuhnya terhadap

mikroba, antimikroba dapat dibagi menjadi 2 golongan. Golongan

pertama daya bunuhnya tergantung kadarnya. Makin tinggi kadar

obat, makin banyak kuman terbunuh, misalnya golongan

aminoglikosida dan kuinolon. Golongan kedua adalah antimikroba

22

Page 24: Referat Omsk Lisa Nadia

yang pada konsentrasi tertentu daya bunuhnya paling baik.

Peninggian dosis tidak menambah daya bunuh antimikroba

golongan ini, misalnya golongan beta laktam.

Untuk bakteri aerob dapat digunakan golongan kuinolon

(siprofloksasin dan ofloksasin) atau golongan sefalosforin generasi

III (sefotaksim, seftazidin, dan seftriakson) yang juga efektif untuk

Pseudomonas, tetapi harus diberikan secara parenteral.

Untuk bakteri anaerob dapat digunakan metronidazol yang

bersifat bakterisid. Pada OMSK aktif dapat diberikan dengan dosis

400 mg per 8 jam selama 2 minggu atau 200 mg per 8 jam selama

2-4 minggu.

B. Otitis media supuratif kronik maligna.1,3,5

Pengobatan yang tepat untuk OMSK maligna adalah operasi. Pengobatan

konservatif dengan medikamentosa hanyalah merupakan terapi sementara

sebelum dilakukan pembedahan. Bila terdapat abses subperiosteal, maka insisi

abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum kemudian dilakukan

mastoidektomi. Ada beberapa jenis pembedahan atau teknik operasi yang

dapat dilakukan pada OMSK dengan mastoiditis kronis, baik tipe benigna atau

maligna, antara lain :5

1. Mastoidektomi sederhana (simple mastoidectomy)

Operasi ini dilakukan pada OMSK tipe aman yang dengan

pengobatan konservatif tidak sembuh. Dengan tindakan operasi ini

dilakukan pembersihan ruang mastoid dari jaringan patologik. Tujuannya

adalah supaya infeksi tenang dan telinga tidak berair lagi. Pada operasi ini

fungsi pendengaran tidak diperbaiki.

2. Mastoidektomi radikal

Operasi ini dilakukan pada OMSK tipe bahaya dengan infeksi atau

kolesteatom yang sudah meluas. Pada operasi ini rongga mastoid dan

kavum timpani dibersihkan dari semua jaringan patolgik. Dinding batas

antara liang telinga luar dan telinga tengah dengan rongga mastoid

diruntuhkan, sehingga ketiga daerah anatomi tersebut menjadi satu

ruangan. Tujuan operasi ini ialah untuk membuang semua jaringan

23

Page 25: Referat Omsk Lisa Nadia

patologik dan mencegah komplikasi intrakranial, sementara fungsi

pendengaran tidak diperbaiki. Kerugian operasi ini ialah pasien tidak boleh

berenang seumur hidupnya dan harus kontrol teraut ke dokter.

Modifikasi operasi ini ialah dengan memasang tandur pada rongga

operasi serta membuat meatoplasti yang lebar sehingga rongga operasi

kering permanen, tetapi terdapat cacat anatomi, yaitu meatus liang telinga

luar menjadi lebar.

3. Mastoidektomi radikal dengan modifikasi

Operasi ini dilakukan pada OMSK dengan kolesteatom di daerah atik,

tetapi belum merusak kavum timpani. Seluruh rongga mastoid dibersihkan

dan dinding posterior liang telinga direndahkan. Tujuan operasi ini adalah

untuk membuang semua jaringan patologik dari rongga mastoid dan

mempertahankan pendengaran yang masih ada.

4. Miringoplasti

Operasi ini merupakan operasi timpanoplasti yang paling ringan,

dikenal juga dengan timpanoplasti tipe I. Rekonstruksi hanya dilakukan di

membran timpani. Tujuan operasi ialah untuk mencegah berulangnya

infeksi telinga tengah pada OMSK tipe aman dengan perforasi yang

menetap. Operasi ini dilakukan pada AMSK tipe aman fase tenang dengan

ketulian ringan yang hanya disebabkan oleh perforasi membran timpani.

5. Timpanoplasti

Operasi ini dikerjakan pada OMSK tipe aman dengan kerusakan yang

lebih berat atau OMSK tipe aman yang tidak bisa ditenagkan dengan

pengobatan medikamentosa. Tujuan operasi ialah untuk menyembuhkan

penyakit serta memperbaiki pendengaran.

Pada operasi ini selain rekonstruksi membran timpani sering kali

harus dilakukan juga rekonstruksi tulang pendengaran. Berdasarkan

bentuk rekonstruksi tulang pendengaran yang dilakukan maka dikenal

istilah timpanoplasti tipe II, III, IV, dan V. Sebelum rekonstruksi

dikerjakan lebih dahulu dilakukan eksplorasi kavum timpani dengan atau

tanpa mastoidektomi, untuk membersihkan jaringan patologis. Tidak

24

Page 26: Referat Omsk Lisa Nadia

jarang operasi ini harus dilakukan 2 tahap dengan jarak waktu 6 s/d 12

bulan.

6. Pendekatan ganda timpanoplasti (combined approach

tympanoplasty)

Operasi ini merupakan teknik operasi timpanoplasti yang dikerjakan

pada kasus OMSK tipe aman dengan jaringan granulasi yang luas.Tujuan

operasi ini ialah untuk menyembuhkan penyakit dan memperbaiki

pendengaran tanpa melakukan teknik mastoidektomi radikal (tanpa

meruntuhkan dinding posterior liang telinga). Membersihkan kolesteatom

dan jaringan granulasi di membran timpani, dikerjakan melalui 2 jalan

(combine approach) yaitu melalui liang telinga dan rongga mastoid

dengan melakukan timppanotomi posterior. Teknik operasi ini pada

OMSK tipe bahaya belum disepakati oleh para ahli, oleh karena sering

kambuhnya kolesteatom kembali.

25

Page 27: Referat Omsk Lisa Nadia

Gambar 8. Pedoman tatalaksana OMSK12

2.10 Komplikasi

Cara penyebaran infeksi :

1. Penyebaran hematogen

2. Penyebaran melalui erosi tulang

3. Penyebaran melalui jalan yang sudah ada.

26

Page 28: Referat Omsk Lisa Nadia

Perjalanan komplikasi infeksi telinga tengah ke intra kranial harus melewati 3

macam lintasan :1,3

1. Dari rongga telinga tengah ke selaput otak

Melalui jalan yang sudah ada, seperti garis fraktur tulang temporal, bagian

tulang yang lemah atau defek karena pembedahan, dapat memudahkan

masuknya infeksi.

2. Menembus selaput otak.

Dimulai begitu penyakit mencapai dura, menyebabkan meningitis. Dura

sangat resisten terhadap penyebaran infeksi, akan menebal, hiperemi, dan

lebih melekat ketulang. Jaringan granulasi terbentuk pada dura yang terbuka

dan ruang subdura yang berdekatan.

3. Masuk ke jaringan otak.

Pembentukan abses biasanya terjadi pada daerah diantara ventrikel dan

permukaan korteks atau tengah lobus serebelum. Cara penyebaran infeksi ke

jaringan otak ini dapat terjadi baik akibat tromboflebitis atau perluasan infeksi

ke ruang Virchow Robin yang berakhir di daerah vaskular subkortek.

Pengenalan yang baik terhadap perkembangan prasyarat untuk

mengetahui timbulnya komplikasi. Bila dengan pengobatan medikamentosa

tidak berhasil mengurangi gejala klinik dengan tidak berhentinya otore dan

pada pemeriksaan otoskopik tidak menunjukkan berkurangnya reaksi

inflamasi dan pengumpulan cairan maka harus diwaspadai kemungkinan

adanya komplikasi. Pada stadium akut, naiknya suhu tubuh, nyeri kepala atau

adanya tanda-tanda toksisitas seperti malaise, perasaan mengantuk, somnolen

atau gelisah yang menetap dapat merupakan tanda bahaya.Timbulnya nyeri

kepala di daerah parietal atau oksipital dan adanya keluhan mual, muntah

proyektil serta kenaikan suhu badan yang menetap selama terapi diberikan

merupakan tanda kenaikan tekanan intrakranial. Komplikasi OMSK antara

lain :5

1. Komplikasi di telinga tengah

27

Page 29: Referat Omsk Lisa Nadia

Akibat infeksi telingan tengah hampir selalu berupa tuli konduktif. Pada

membran timpani yang masih utuh, tetapi rangkaian tulang pendengaran

terputus, akan menyebabkan tuli konduktif yang berat.

Paresis nervus fasialis

Nervus fasialis dapat terkena oleh penyebaran infeksi langsung ke kanalis

fasialis pada otitis media akut. Pada otitis media kronis, kerusakan terjadi oleh

erosi tulang oleh kolesteatom atau oleh jaringan granulasi, disusul oleh infeksi

ke dalam kanalis fasialis tersebut.

Pada otitis media supuratif kronis, tindakan dekompresi harus segera

dilakukan tanpa harus menunggu pemeriksaan elektrodiagnostik. Derajat

kelumpuhan nervus fasialis ditetapkan berdasarkan hasil pemeriksaan fungsi

motorik yang dihitung dalam persen (%) :

Pemeriksaan Fungsi Saraf Motorik :

Terdapat 10 otot-otot utama wajah yang bertanggung jawab untuk

terciptanya mimik dan ekspresi wajah seseorang. Adapun urutan ke sepuluh

otot-otot tersebut secara berurutan dari sisi superior adalah sebagai berikut :

1. M. frontalis : diperiksa dengan cara mengangkat alis ke atas.

2. M. sourcilier : diperiksa dengan cara mengerutkan alis.

3. M. piramidalis : diperiksa dengan cara mengangkat dan mengerutkan

hidung ke atas.

4. M. orbicularis oculi : diperiksa dengan cara memejamkan kedua mata

kuat-kuat.

5. M. zigomatikus : diperiksa dengana cara tertawa lebar sampai

memperlihatkan gigi.

6. M. relever komunis : diperiksa dengan cara memoncongkan mulut ke

depan sambil memperlihatkan gigi.

7. M. businator : diperiksa dengan cara mengembungkan kedua pipi.

8. M. orbicularis oris : diperiksa dengan menyuruh penderita bersiul.

9. M. triangularis : diperiksa dengan cara menarik kedua sudut bibir ke

bawah.

10. M. mentalis : diperiksa dengan cara memoncongkan mulut yang tertutup

rapat ke depan.

28

Page 30: Referat Omsk Lisa Nadia

Pada tiap gerakan dari kesepuluh otot tersebut, kita bandingkan antara

kanan dan kiri :

a. Untuk gerakan yang normal dan simetris dinilai dengan angka 3

b. Sedikit ada gerakan dinilai dengan angka 1

c. Diantaranya dinilai dengan angka 2

d. Tidak ada gerakan sama sekali dinilai dengan angka 0

Seluruh otot ekspresi tiap sisi muka dalam keadaan normal akan

mempunyai nilai 30.

Skala House-Brackman dalam menentukan kelumpuhan nervus fasialis :

Grade KarakteristikI. Normal Fungsi fasial normal pada semua areaII. Disfungsi ringan Gross :

- Kelemahan ringan yang hanya tampak dengan inspeksi yang teliti

- Mungkin disertai sinkinesis ringan- Saat istirahat, normal simetrisMotion :- Dahi : fungsi sedang-baik- Mata : dapat menutup sempurna

dengan usaha minimal- Mulut : asimetris ringan

III. Disfungsi Sedang Gross:- Terdapat perbedaan yang nyata

pada kedua sisi tapi belum menyebabkan perubahan bentuk wajah.

- Terdapat sinkinesis,kontraktur, dan spasme hemifasia yang terlihat tapi tidak parah.

- Saat istirahat, simtetris normal.Motion :- Dahi : gerakan ringan-sedang- Mata : dapat menutup sempurna

dengan usaha- Mulut : tampak agak lemah

dengahn usaha maksimum

IV. Disfungsi Ringan-Berat Gross :- Terdapat asimetris yang merubah

bentuk wajah atau kelemahan yang jelas.

- Saat istirahat, normal simetrisMotion :

29

Page 31: Referat Omsk Lisa Nadia

- Dahi : tidak ada gerakan- Mata : menutup tidak sempurana- Mulut ; asimetris walau dengan

usaha maksimal

V. Disfungsi Berat Gross :- Hanya terdapat sedikit gerakan- Saat istirahat asimetrisMotion :- Dahi : tidak ada gerakan- Mata : menutup tidak sempurna- Mulut : sedikit pergerakan

VI. Paralisis Total Tidak ada pergerakan sama sekali

Sumber : House JW, Brackmann DE. Facial nerve grading system.

Otolaryngol. Head Neck Surg 1985; 93: 146–147.

2. Komplikasi di telinga dalam

Apabila peninggian tekanan di telinga tengah oleh produk infeksi, ada

kemungkinan produk infeksi itu akan menyebar ke telinga dalam melalui

tingkap bulat (fenestra rotundum). Selama kerusakan hanya sampai bagian

basalnya saja biasanya tidak menimbulkan keluhan pada pasien. Akan tetapi

apabila kerusakan telah menyebar ke koklea akan menjadi masalah. Hal ini

sering dipakai sebagai indikasi untuk melakukan miringotomi segera pada

pasien otitis media akut yang tidak membaik dalam 48 jam dengan

pengobatan medikamentosa saja.

Penyebaran oleh proses destruksi seperti oleh kolesteatom atau infeksi

langsung ke labirin akan menyebabkan gangguan keseimbangan dan

pendengaran, misalnya vertigo, mual, muntah serta tuli saraf. Komplikasi

telinga dalam antara lain :

a. Fistula labirin

Otitis media supuratif kronis terutama yang dengan kolesteatom dapat

menyebabkan terjadinya kerusakan pada bagian vestibuler labirin,

sehingga terbentuk fistula. Pada keadaan ini infeksi dapat masuk, sehingga

terjadi labirinitis dan akhirnya akan terjadi komplikasi tuli total atau

meningitis.

30

Page 32: Referat Omsk Lisa Nadia

Fistula di labirin dapat diketahui dengan tes fistula yaitu dengan

memberikan tekanan udara positif ataupun negatif ke liang telinga melalui

otoskop siegel atau corong telinga yang kedap atau balon karet dengan

bentuk elips pada ujungnya yang dimasukkan ke dalam liang telinga.

Balon karet dipencet dan udara di dalamnya menyebabkan perubahan

tekanan udara di liang telinga. Bila fistula yang terjadi masih paten akan

terjadi kompresi dan ekspansi labirin membran. Tes fistula positif akan

terjadi nistagmus atau vertigo. Tes fistula bisa negatif, bila fistulanya

sudah tertutup oleh jaringan granilasi atau bila labirin sudah mati/ paresis

kanal.

Pemeriksaan radiologik CT scan yang baik kadang-kadang dapat

memperlihatkan fistula labirin, yang biasanya ditemukan di kanalis

semisirkularis horizontal. Pada fistula labirin, operasi harus segera

dilakukan untuk menghilangkan infeksi dan menutup fistula sehingga

fungsi telinga dalam dapat dipulihkan kembali. Tindakan bedah harus

adekuat untuk mengontrol penyakit primer. Matriks kolesteatom dan

jaringan granulasi harus diangkat dari fistula sampai bersih dan daerah

tersebut harus segera ditutup dengan jaringan ikat atau sekeping tulang/

tulang rawan.

b. Labirinitis

Labirinitis yang mengenai seluruh bagian labirin disebut labirinitis

umum (general), dengan gejala vertigo berat dan tuli saraf berat,

sedangkan labirinitis terbatas (labirinitis sirkumskripta) menyebabkan

vertigo saja atau tuli saraf saja.

Labirinitis terjadi oleh karena penyebaran infeksi di ruang perilimfa.

Terdapat dua bentuk labirinitis yaitu labirinitis serosa dan supuratif.

Labirinitis serosa dapat berbentu labirinitis serosa difus dan sirkumskripta.

Labirinitis supuratif dibagi atas labirinitis supuratif akut difus dan kronik

difus.

Pada kedua bentuk labirinitis ini operasi harus segera dilakukanuntuk

menghilangkan infeksi dari telinga tengah. Kadang-kadang diperlukan

drainase nanah dari labirin untuk mencegah terjadinya meningitis.

31

Page 33: Referat Omsk Lisa Nadia

Pemberian antibiotik yang adekuat terutama ditujukan kepada pengobatan

otitis media kronik dengan / tanpa kolesteatom.

3. Komplikasi ke Ekstradural

a. Petrositis

Penyebaran infeksi telinga tengah ke apeks os petrosum yang

langsung ke sel-sel udara. Keluhannya antara lain diplopia (n.VI), nyeri

daerah parietal, temporal, dan oksipital (n.V), otore persisten. Dikenal

dengan sindrom Gradenigo. Keluhan lain keluarnya nanah yang terus

menerus dan nyeri yang menetap paska mastoidektomi. Pengobatannya

operasi (ekspolorasi sel-sel udara os petrosum dan jaringan pathogen) serta

antibiotika.

b. Tromboflebitis Sinus Lateralis

Akibat infeksi ke sinus sigmoid ketika melewati os mastoid. Hal ini

jarang terjadi. Gejalanya berupa demam yang awalnya naik turun lalu

menjadi berat yang disertai menggigil (sepsis). Nyerinya tidak jelas

kecuali terjadi abses perisinus. Kultur darah positif terutama saat demam.

Pengobatan dengan bedah, buang sumber infeksi os mastoid, buang

tulang/dinding sinus yang nekrotik. Jika terbentuk thrombus lakukan

drainase sinus dan dikeluarkan. Sebelumnya diligasi vena jugularis interna

untuk cegah thrombus ke paru dan tempat lain.

c. Abses Ekstradural

Terkumpulnya nanah antara duramater dan tulang. Hal ini

berhubungan dengan jaringan granulasi dan kolesteatom yang

menyebabkan erosi tegmen timpani atau mastoid. Gejala berupa nyeri

telinga hebat dan nyeri kepala. Rontgen mastoid posisi Schuller, tampak

kerusakan tembusnya lempeng tegmen. Sering terlihat waktu operasi

mastoidektomi.

d. Abses Subdural

32

Page 34: Referat Omsk Lisa Nadia

Biasanya tromboflebitis melalui vena. Gejala berupa demam, nyeri

kepala dan penurunan kesadaran sampai koma, gejala SSP berupa kejang,

hemiplegia dan tanda kernig positif.

Punksi lumbal perlu untuk membedakan dengan meningitis. Pada

abses subdural kadar protein LCS normal dan tidak ditemukan bakteri.

Pada abses ekstradural nanah keluar waktu mastoidektomi, sedangkan

subdural dikeluarkan secara bedah syaraf sebelum mastoidektomi.

4. Komplikasi ke SSP

a. Meningitis

Gambaran klinik berupa kaku kuduk, demam, mual muntah, serta

nyeri kepala hebat. Pada kasus berat kesadaran menurun. Analisa LCS

kadar gula menurun dan protein meninggi. Meningitis diobati terlebih

dahulu kemudian dilakukan mastoidektomi.

b. Abses Otak

Ditemukan di serebelum, fossa kranial posterior/lobus temporal, atau

fossa kranial media. Berhubungan dengan tromboflebitis sinus lateralis,

petrositis atau meningitis. Biasanya merupakan perluasan langsung dari

infeksi telinga dan mastoid atau tromboflebitis. Umumnya didahului abses

ekstradural.

Gejala abses serebelum ataksia, disdiadokokinetis, tremor intensif dan

tidak tepat menunjuk suatu objek. Abses lobus temporal berupa afasia,

gejala toksisitas (nyeri kepala, demam, muntah, letargik). Tanda abses

otak nadi lambat, kejang. Pada LCS protein meninggi dan kenaikan

tekanan liquor. Terdapat edema papil. Lokasi abses ditentukan dengan

angiografi, ventrikulografi atau tomografi komputer. Pengobatan

antibiotika parenteral dosis tinggi dan drainase lesi. Setelah keadaan

umum baik, dilakukan mastoidektomi.

c. Hidrosefalus Otitis

Hal ini disebabkan tertekannya sinus lateralis sehingga lapisan

arakhnoid gagal mengabsorbsi LCS. Ditandai dengan peninggian tekanan

LCS yang hebat tanpa kelainan kimiawi. Pada pemeriksaan terdapat

33

Page 35: Referat Omsk Lisa Nadia

edema papil. Gejala berupa nyeri kepala menetap, diplopia, pandangan

kabur, mual dan muntah.

Penatalaksanaan

Pengobatan mencakup 2 hal yaitu penyembuhan infeksi primer dan

komplikasinya. Seringkali beratnya komplikasi mengharuskan kita

menunda mastoidektomi dan untuk mencegah komplikasi, pemberian

antibiotika dimulai sejak dini. Dibutuhkan kerjasama dengan bedah syaraf

untuk mendapatkan hasil yang maksimum.

Pada komplikasi intrakranial pengobatan antibiotika sulit karena

dihalangi sawar darah otak. Untuk mempertinggi konsentrasi antibiotika,

dulu diberikan penisilin intratekal, tetapi ternyata terlalu mengiritasi.

Sekarang diberikan derivate penisilin dosis tinggi secara intravena,

dimulai dengan ampisilin 4 × 200-400 mg/kg/hari, kloramfenikol 4 × 500-

1000 mg/hari untuk dewasa atau 60-100 mg/kg/hari untuk anak.

Pemberian metronidazol 3 × 400-600 mg/hari dapat dipertimbangkan.

Antibiotika disesuaikan dengan kemajuan klinis dan biakan sekret telinga

atau LCS.

Pemeriksaan laboratorium, foto mastoid, tomografi computer kepala

untuk melihat adanya abses otak serta konsultasi bedah syaraf atau syaraf

anak. Bila terdapat tanda ensefalitis atau abses intrakranial maka akan

dilakukan bedah otak untuk drainase segera. Mastoidektomi dapat

dilakukan bersama atau kemudian. Mastoidektomi dilakukan sebelum atau

sesudah operasi otak. Bila keadaan umum pasien buruk atau suhu tinggi,

mastoidektomi dilakukan dengan anestesi local. Jika tindakan bedah tidak

segera dilakukan pengobatan dilanjutkan sampai 2 minggu, kemudian

konsul lagi ke bedah syaraf.

Idealnya terapi bedah pada stadium dini komplikasi, tapi prakteknya

sulit. Hal yang menentukan adalah diagnosis, kondisi pasien, dan respon

pasien terhadap antibiotika. Seringkali drainase empiema subdural atau

abses otak mendahului mastoidektomi. Rangsangan kontinyu kolesteatom

di mastoid dapat menyebabkan meningitis berulang atau progresivitas

abses otak.

34

Page 36: Referat Omsk Lisa Nadia

Tujuan operasi ialah mengeradikasi seluruh jaringan patologik di

mastoid. Untuk itu diperlukan mastoidektomi modifikasi radikal. Tulang

yang melapisi sinus sigmoid harus ditipiskan dan dibuang. Lempeng dura

posterior pada segitiga Trautman harus ditipiskan dan tegmen mastoid

harus dikupas.

2.11 Prognosis

Pasien dengan OMSK memiliki prognosis yang baik apabila dilakukan

kontrol yang baik terhadap proses infeksinya. Pemulihan dari fungsi pendengaran

bervariasi dan tergantung dari penyebab. Hilangnya fungsi pendengaran oleh

gangguan konduksi dapat dipulihkan melalui prosedur pembedahan, walaupun

hasilnya tidak sempurna.10

Keterlambatan dalam penanganan karena sifat tidak acuh dari pasien dapat

menimbulkan kematian yang merupakan komplikasi lanjut OMSK yang tidak

ditangani dengan segera. Kematian akibat OMSK terjadi pada 18,6% pasien

karena telah mengalami komplikasi intrakranial yaitu meningitis.3,10

35

Page 37: Referat Omsk Lisa Nadia

BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

1. Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) atau yang biasa disebut “congek”

adalah radang kronis telinga tengah dengan adanya lubang (perforasi) pada

gendang telinga (membran timpani) dan riwayat keluarnya cairan (sekret)

dari telinga (otore) lebih dari 2 bulan, baik terus menerus atau hilang

timbul.

2. Otitis media supuratif kronik dapat terbagi atas: tipe tubotimpani dan tipe

atikoantral dimana tipe anti koantral merupakan tipe paling ganas karena

terdapat kolesteatom yang bersifat destruksi.

3. Otitis media supuratif kronik dapat memiliki komplikasi otologik dan

intrakranial

4. Penatalaksanaan OMSK dapat terbagi atas pengobatan konservatif dan

operasi

36

Page 38: Referat Omsk Lisa Nadia

5. Kematian akibat OMSK terjadi pada 18,6% pasien karena telah mengalami

komplikasi intrakranial yaitu meningitis.

DAFTAR PUSTAKA

1. Helmi. Otitis media supuratif kronik. Dalam: Otitis media supuratif kronik:

pengetahuan dasar, terapi medik, mastoidektomi, timpanoplasti. Jakarta: Balai

penerbit FKUI. 2005;p.76-92

2. WHO. Chronic suppurative otitis media burden of illnes and management

options. Child and adolescent health and development prevention of Geneva,

Switzerland; 2004

3. Parry D. Middle Ear, Chronic Suppurative Otitis, Medical Treatment:Follow-Up. Diunduh dari http://www.emedicine.medscape/otolaryngology pada tanggal 18 Februari 20015.

4.

5. Nursiah S. Pola Kuman Aerob Penyebab OMSK dan Kepekaan Terhadap Beberapa Antibiotika di Bagian THT FK USU/RSUP. H. Adam Malik Medan. Medan : FK USU. 2003.

37

Page 39: Referat Omsk Lisa Nadia

6. WHO. Chronic suppurative otitis media burden off illness and management options. Child and Adolescent Health and Development Prevention of Blindness and Deafness. Geneva Switzerland. 2004.

7. Aboet A. Radang Telinga Tengah Menahun. Pidato Pengukuhan Guru Besar Tetap Bagian Ilmu Kesehatan Hidung Telinga Tenggorok Bedah Kepala Leher. Kampus USU. 2007.

8. Farida et al. Alergi Sebagai Faktor Resiko Terhadap Kejadian Otitis Media Supuratif Kronik Tipe Benigna. Medical Faculty of Hasanuddin. 2009.

9. Djaafar ZA. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala leher. Edisi 6. Jakarta : FKUI.2007.

10. Adams GL, Boies LR, Higler PA. Penyakit Telinga Tengah dan Mastoid. Boies, Buku Ajar Penyakit THT Ed. 6. Jakarta:EGC;88-119.

11. Anonim. Otitits Media Kronis. 2009. Diunduh dari http://www.medicastore.com pada tanggal 2 April 2012.

12. Meyer TA, Strunk CL, Lambert PR. Cholesteatoma. In : Newlands SD et.al (editor). Head & neck surgery otolaryngology. 4th ed. 2006. Philadelphia : Lippincolt williams & wilkins. h. 2081-91.

13. Anonim. Ear Discharge. 2008. Diunduh dari http://www.myhealth.gov.my/myhealth pada tanggal 2 April 2012.

14. Lutan R, Wajdi F. Pemakaian Antibiotik Topikal Pada Otitis Media Supuratif Kronik Jinak Aktif. Cermin Dunia Kedokteran No. 132.2001.

15. Parry D. Middle Ear, Chronic Suppurative Otitis, Medical Treatment:Follow-Up. Diunduh dari http://www.emedicine.medscape/otolaryngology pada tanggal 2 April 2012.

16. Helmi, Djaafar ZA, Restuti RD. Komplikasi otitis media supuratif. Dalam : Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD (editor). Buku ajar ilmu kesehatan telinga, hidung, tenggorok, kepala, dan leher. Edisi 6. 2009. Jakarta : FKUI. h.86.

38