REFERAT Muscular Injury

download REFERAT Muscular Injury

of 18

  • date post

    07-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    493
  • download

    8

Embed Size (px)

Transcript of REFERAT Muscular Injury

REFERAT MUSCULAR INJURYPembimbing Dr. R. Suhana, SPOT

Oleh: 1. Agus Suryadi Wijaya 030.06.016 2. Qorie Fujiatma Joscarita 030.06.200

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH RUMAH SAKIT PUSAT ANGKATAN UDARA DR. ESNAWAN ANTARIKSA

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI PERIODE 27 JUNI 11 SEPTEMBER 2011

KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Allah SWT penulis panjatkan karena dengan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan referat yang berjudul muscular injury. Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dr. R. Suhana, Sp.OT selaku pembimbing dalam menyusun referat ini. Penulis berharap semoga referat ini dapat dipergunakan untuk menambah wawasan kita dalam dunia penyakit bedah, khususnya pada topik cedera muskular. Penulis menyadari bahwa referat ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak yang membaca referat ini.

Jakarta, 17 Agustus 2011

Penuli s

PENDAHULUAN

Cedera otot merupakan kejadian yang umum, khususnya pada ilmu kedokteran olahraga. Cedera otot meliputi trauma langsung dan tidak langsung. Trauma tidak langsung termasuk diantaranya delayed onset muscle soreness dan muscle strains. Trauma langsung seperti laserasi otot dan kontusio otot. 30% dari cedera olahraga merupakan bentuk dari cedera otot. Pemeriksaan pencitraan penting dilakukan bukan hanya untuk mendiagnosis kerusakan otot, namun juga diperlukan untuk memprediksi rehabilitasi dari otot yang terkena cedera. Cedera paling sering yang dialami ketika berolahraga adalah otot terkilir yang dalam istilah medis disebut dengan sprain dan strain. Sprain adalah teregangnya ligamen (jaringan ikat/penghubung yg kuat) sehingga menimbulkan robekan parsial/sebagian, hal ini terjadi karena stress berlebihan yang mendadak atau penggunaan berlebihan yang berulang-ulang dari sendi. Strain adalah teregangnya otot dan tendon (jaringan ikat/penghubungan yg kuat yg menghubungkan otot dengan tulang) karena penggunaan yang berlebihan ataupun stress yang berlebihan.

PEMBAHASAN

Sprain teregangnya atau robeknya ligamen (yaitu jaringan ikat yang menghubungkan dua atau lebih tulang dalam sebuah sendi). Sprain dapat disebabkan oleh jatuh, terpelintir, atau tekanan pada tubuh yang menyebabkan tulang pada sendi bergeser sehingga menyebabkan ligamen teregang atau bahkan robek. Biasanya, sprain terjadi pada keadaan seperti saat orang terjatuh dengan bertumpu pada tangan, mendarat dengan bagian luar dari kaki, atau mendatar keras di tanah sehingga menyebabkan lutut terpelintir. Sprain terjadi ketika sendi dipaksa melebihi lingkup gerak sendi yang normal, seperti melingkar atau memutar pergelangan kaki. Strain Strain adalah bentuk cedera berupa penguluran atau kerobekan pada struktur muskulo-tendinous(otot dan tendon). Strain akut pada struktur muskulotendinous terjadi pada persambungan antara otot dan tendon. Strain terjadi ketika otot terulur dan berkontraksi secara mendadak, seperti pada pelari atau pelompat. Tipe cedera ini sering terlihat pada pelari yang mengalami strain pada otot-otothamstring-nya. Beberapa kali cedera terjadi secara mendadak ketika pelari dalam langkah penuh. Gejala pada strain otot yang akut bisa berupa nyeri, spasme otot, kehilangan kekuatan, dan keterbatasan lingkup gerak sendi. Strain kronis adalah cedera yang terjadi secara berkala oleh karena penggunaan berlebihan atau tekakan berulang-ulang, menghasilkan tendonitis (peradangan pada tendon). Sebagai contoh, pemain tennis bisa mendapatkan tendonitis pada bahunya sebagai hasil tekanan yang terus-menerus dari servis yang berulang-ulang. Tanda dan gejala deri keduanya hampir mirip yaitu: 1. nyeri 2. spasme otot 3. kehilangan kekuatan

4. keterbatasan lingkup gerak sendi 5. bengkak atau memar 6. tidak stabil dan hilangnya kemampuan untuk menggerakkan sendi Semua tanda-tanda di atas akan mempengaruhi pada daerah yang cedera. terkilir atau keseleo paling sering terjadi pada bagian ankle/pergelangan kaki, pergelangan tangan, dan ruas-ruas jari.

Derajat sprain dan strain Therapist mengkategorikan sprain dan strain berdasarkan berat ringannya cedera. Derajat I (ringan) berupa beberapa stretching atau kerobekan ringan pada otot atau ligament. Derajat II (sedang) berupa kerobekan parsial tetapi masih menyambung. Derajat III (berat) berupa kerobekan penuh pada otot dan ligament, yang menghasilkan ketidakstabilan sendi. Terapi Cedera derajat I biasanya sembuh dengan cepat dengan pemberian istirahat, es, kompresi, dan elevasi (RICE). Terapi latihan dapat membantu mengembalikan kekuatan dan fleksibilitas. Cedera derajat II terapinya sama hanya saja ditambah dengan immobilisasi pada daerah yang cidera. Dan derajat III biasanya dilakukan immobilisasi dan kemungkinan pembedahan untuk mengembalikan fungsinya.

Cedera Otot Hamstring Cedera otot hamstring sering terjadi pada atlet, khususnya para atlet yang berpartisipasi dalam olahraga yang memerlukan sprint seperti lari, sepak bola dan basket. Otot hamstring yang tertarik atau strain adalah sebuah cedera yang melibatkan satu atau lebih otot di bagian belakang dari paha. Kebanyakan cedera hamstring merespon baik terhadap penanganan sederhana tanpa perlu operasi. Anatomi Otot hamstring terdapat di bagian belakang dari paha yang terdiri dari tiga otot : 1. semitendinosus

2. semimembranosus 3. biceps femoris

Letak otot-otot tersebut dimulai dari bagian bawah dari pelvis hingga tuberositas ischiadica, menyilang pada sendi lutut dan berakhir pada tungkai bawah. Serat otot hamstring menyatu dengan jaringan ikat yang kuat dari tendon hamstring di dekat titik dimana tendon tersebut menempel pada tulang. Otot-otot hamstring berfungsi untuk ekstensi tungkai bawah ke belakang dan fleksi pada sendi lutut. Definisi Cedera otot hamstring dapat berupa tertarik, robek sebagian atau robek seluruhnya. Derajat strain pada otot dibagi berdasarkan beratnya cedera. Strain derajat 1 masih ringan dan biasanya sembuh dengan baik, sedangkan strain derajat 3 adalah robekan pada seluruh otot yang mungkin memerlukan waktu berbulan-bulan untuk sembuh. Kebanyakan cedera hamstring timbul pada bagian yang tebal dari otot atau tempat dimana serat otot menyatu dengan tendon. Pada kebanyakan cedera hamstring berat, tendonnya robek secara keseluruhan dan terpisah dari tulang. Mungkin bisa sampai menarik fragmen tulang itu sendiri. Ini disebut sebagai cedera avulsi.

Etiologi Muscle Overload Muscle overload adalah penyebab utama dari strain otot hamstring. Hal ini dapat terjadi ketika otot tersebut digunakan melebihi kapasitasnya atau digunakan untuk aktivitas berat secara tiba-tiba. Strain pada otot hamstring sering timbul ketika otot memanjang saat kontaksi atau memendek. Ini terjadi ketika otot tersebut diekstensikan sambil menahan beban, disebut sebagai kontraksi eksentrik. Selama sprint, otot hamstring berkontraksi secara eksentrik karena otot tersebut memanjang akibat ekstensi tungkai sekaligus menahan beban tubuh supaya dapat berlari ke depan. Faktor Resiko Beberapa faktor yang dapat menyebabkan strain antara lain : - Ketegangan otot. Otot yang tegang sangat mudah tertarik sehingga atlit harus melakukan pemanasan setiap hari - Ketidakseimbangan otot. Ketika salah satu bagian otot lebih kuat dari otot berlawanannya, ketidakseimbangan itu dapat menimbulkan strain. Ini sering terjadi pada otot hamstring. Otot quadriceps femoris pada depan paha biasanya lebih kuat sehingga saat beraktivitas otot hamstring lelah lebih cepat daripada otot quadriceps yang dapat mengakibatkan strain. - Kondisi buruk. Otot yang melemah tidak dapat bertahan terhadap stress dan latihan sehingga sering mengakibatkan cedera.

- Kelelahan otot. Lelah mengurangi kemampuan otot untuk menyerap energi dan membuat otot menjadi rentan terhadap cedera. - Aktivitas. Cedera hamstring dapat terjadi pada semua orang, namun beberapa yang beresiko adalah :1. atlet olahraga sepak bola atau basket

2. pelari 3. penari 4. atlet yang memiliki program latihan utama berupa berjalan 5. atlet yang masih remaja Cedera hamstring lebih sering timbul pada remaja karena tulang dan ototnya tidak tumbuh secara beriringan dimana tulang tumbuh lebih cepat daripada otot sehingga tulang yang tumbuh menarik otot. Lompatan, tegangan, atau benturan dapat merobek otot dari tulangnya. Gejala Strain pada hamstring menimbulkan gejala yang tiba-tiba berupa nyeri tajam di bagian belakang paha ketika tengah beraktivitas. Gejala lain dapat berupa : 1. bengkak selama beberapa jam setelah cedera 2. Memar atau perubahan warna bagian belakang kaki di bawah lutut selama beberapa hari pertama 3. Kelemahan dalam hamstring yang dapat bertahan selama beberapa minggu Pemeriksaan 1. Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik Pasien dengan cedera hamsting sering berobat ke dokter karena nyeri tiba-tiba pada bagian belakang paha yang timbul ketika berolahraga. Selama pemeriksaan fisik dilakukan palpasi atau menekan bagian yang nyeri dan memeriksa apakah terasa sakit, kelemahan, bengkak, atau cedera otot yang lebih berat. 2. Radiologi Pemeriksaan pencitraan yang dapat dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis ialah : X-ray. Foto X-ray dapat menunjukkan apakah terjadi avulsi tendon hamstring atau tidak. MRI. Dapat digunakan untuk menentukan derajat dari cedera tersebut.

Tatalaksana Tatalaksana dari cedera hamstring dapat bervariasi tergantung pada jenis cedera, beratnya, dan tujuan kesembuhan pasien. Tujuan dari tatalaksana baik pembedahan maupun tanpa pembedahan adalah untuk membantu mengembalikan aktivitas yang dibutuhkan pasien. 1. Terapi tanpa pembedahan Kebanyakan cedera hamstring sembuh dengan sangat baik dengan terapi yang sederhana dan tanpa pembedahan.o

Rest (istirahat)

Kurangi aktifitas sehari-hari sebisa mungkin. Jangan menaruh beban pada tempat yang cedera selama 48 jam. Dapat digunakan alat bantu seperti crutch (penopang/penyangga tubuh