Referat Keratitis Superfisial Final

download Referat Keratitis Superfisial Final

of 26

  • date post

    20-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    612
  • download

    4

Embed Size (px)

Transcript of Referat Keratitis Superfisial Final

KATA PENGANTAR

Rasa syukur yang dalam kami sampaikan ke hadiran Tuhan Yang Maha Pemurah, karena berkat kemurahanNya referat ini dapat kami selesaikan sesuai yang diharapkan. Dalam makalah ini kami membahas Keratitis superfisial, merupakan kelainan akibat terjadinya infiltrasi sel radang pada kornea yang akan mengakibatkan kornea menjadi keruh. Referat ini disusun dalam rangka memenuhi tugas kepaniteraan klinik bagi CoAss Universitas Pelita Harapan yang sedang menjalani program kepaniteraan klinik di departemen mata Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat I Raden Said Sukanto. Dalam proses penyusunan referat yang membahas keratitis superfisial ini, tentunya kami mendapatkan bimbingan, arahan, koreksi dan saran, untuk itu rasa terima kasih yang dalam-dalamnya kami sampaikan kepada pembimbing kami : dr. Agah Gadjali, Sp.M dr. Hermansyah, Sp.M dr. Gartati Ismail, Sp.M, dr. Mustafa K.S, Sp.M dr. Henry A.W, Sp.M

Kami menyadari bahwa referat ini masih jauh dari sempurna dan memiliki banyak keterbatasan.Akhir kata semoga referat ini dapat berguna bagi penulis maupun pembaca sekalian.

Jakarta, 24 Mei 2011

i

Penyusun

DAFTAR ISIKATA PENGANTAR...........................................................................................................i DAFTAR ISI........................................................................................................................ii PENDAHULUAN................................................................................................................1 ANATOMI DAN FISIOLOGI KORNEA..............................................................................3 PATOFISIOLOGI............................................................................................................7 GEJALA UMUM..............................................................................................................7 KLASIFIKASI..................................................................................................................8 Keratitis Pungtata Superfisial dari Fuchs...................................................................8 Keratitis Numularis atau Keratitis Dimmer.................................................................9 Keratitis Disiformis dari Westhoff................................................................................9 Keratokonjungtivitis Epidemika................................................................................10 2. Keratitis Superfisial Ulseratif....................................................................................11 2.1 Keratitis Pungtata Superfisial Ulserativa.............................................................11 2.2 Keratokonjungtivitis Flikten.................................................................................11 2.3 Keratitis Herpetika...............................................................................................12 2.4 Keratokonjungtivitis Sika.....................................................................................15 2.5 Rosasea Keratitis................................................................................................16 PENATALAKSANAAN.....................................................................................................17 1. Keratitis Superfisial nonulseratif...............................................................................17 ii

Keratitis Pungtata Superfisial dari Fuchs..................................................................17 1.2 Keratitis Numularis atau Keratitis Dimmer..........................................................18 1.3 Keratitis Disiformis dari Westhoff........................................................................18 1.4 Keratokonjungtivitis Epidemika...........................................................................18 2. Keratitis Superfisial Ulseratif....................................................................................19 2.1 Keratitis Pungtata Superfisial Ulserativa.............................................................19 2.2 Keratokonjungtivitis Flikten.................................................................................19 2.3 Keratitis Herpetika...............................................................................................19 2.4 Keratokonjungtivitis Sika.....................................................................................19 2.5 Rosasea Keratitis................................................................................................20 PROGNOSIS...................................................................................................................21 KESIMPULAN..................................................................................................................22 DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................................23

iii

PENDAHULUAN

Keratitis adalah infeksi pada kornea yang ditandai dengan timbulnya infiltrat pada lapisan kornea, biasanya diklasifikasikan menurut lapisan kornea yang terkena; yaitu keratitis superfisialis apabila mengenal lapisan epitel atau bowman dan keratitis profunda atau interstisialis (atau disebut juga keratitis parenkimatosa) yang mengenai lapisan stroma. Keratitis superfisial adalah radang kornea yang mengenai lapisan epitel dan membran bowman, keratitis dapat terjadi pada anak-anak maupun dewasa. Kornea merupakan salah satu media refraksi penglihatan dan berperan besar dalam pembiasan cahaya diretina. Oleh karena itu setiap kelainan pada kornea termasuk infeksi dapat menyebabkan terganggunya penglihatan, terganggunya penglihatan biasanya karena terjadi kekeruhan pada kornea akibat keberadaan infiltrat pada lapisan kornea. Bakteri pada umumnya tidak dapat menyerang kornea yang sehat, namun beberapa kondisi dapat menyebabkan infeksi bakteri terjadi. Contohnya, luka atau trauma pada mata dapat menyebabkan kornea terinfeksi. Mata yang sangat kering juga dapat menurunkan mekanisme pertahanan kornea. Beberapa etiologi yang dapat meningkatkan kejadian terjadinya keratitis antara lain: perawatan lensa kontak yang buruk, penggunaan lensa kontak yang berlebihan, trauma, keracunan obat, infeksi jamur, bakteri, virus, alergi, defisiensi vitamin A, kekebalan tubuh yang menurun karena penyakit lain. Keratitis dapat menimbulkan gejala pada mata berupa tajam penglihatan menurun, tanda radang pada kelopak mata, rasa nyeri, mata merah, fotofobia, mata berair, sensasi benda asing didalam mata. Di Indonesia kekeruhan kornea masih merupakan masalah kesehatan mata sebab kelainan ini menempati urutan kedua dalam penyebab utama kebutaan. Kekeruhan kornea ini terutama disebabkan oleh infeksi mikroorganisme berupa bakteri, jamur dan virus dan bila terlambat di diagnosis atau diterapi secara tidak tepat akan mengakibatkan kerusakan stroma dan meninggalkan jaringan parut yang luas. Antibiotik, anti jamur dan anti virus dapat digunakan tergantung organism penyebab. Antibiotik spektrum luas dapat digunakan secepatnya, tapi bila hasil 1

laboratorium sudah menentukan organisme penyebab, pengobatan dapat diganti. Terkadang, diperlukan lebih dari satu macam pengobatan. Terapi bedah, misalnya transplantasi kornea biasa dilakukan pada kasus yang tidak dapat membaik dengan terapi medikamentosa.4 Pengobatan yang inadekuat atau salah dapat menyebabkan perburukan gejala, misalnya kortikosteroid topikal dapat menyebabkan perburukan kornea pada pasien dengan keratitis akibat virus herpes simplex. Kontrol rutin ke dokter mata dapat membantu mengetahui perbaikan dari keadaan mata, hal ini disertai dengan diagnosis dini dan pengobatan yang adekuat memberikan prognosis yang baik. Pengobatan keratitis meliputi pemberian antiviral topikal, antibiotik topikal, kortikosteroid topikal, dan suplemen untuk dapat mencegah infeksi sekunder. Referat ini akan membahas secara menyeluruh mengenai keratitis superfisial yang terdiri dari ulseratif dan non-ulseratif . Tujuan dari penulisan referat ini adalah sebagai syarat kelulusan dalam kepaniteraan klinik ilmu penyakit mata Rumah Sakit Bhayangkara tingkat I Raden Said Sukanto.

2

ANATOMI DAN FISIOLOGI KORNEA

Gambar 1. Kornea (Sumber: http://img.webmd.com/dtmcms/live/webmd/consumer_assets/site_images/articles)

Kornea (latin cornum=seperti tanduk) adalah selaput bening mata, bagian selaput mata yang tembus cahaya. Kornea transparan (jernih), bentuknya hampir sebagian lingkaran dengan diameter vertikal 10-11mm dan horizontal 11-12mm, tebal 0,6-1mm terdiri dari 5 lapis .Kemudian indeks bias 1,375 dengan kekutan pembiasan 80%. Sifat kornea yang dapat ditembus cahaya ini disebabkan oleh struktur kornea yang uniform, avaskuler dan diturgesens atau keadaan dehidrasi relative jaringan kornea, yang dipertahankan oleh pompa bikarbonat aktif pada endotel dan oleh fungsi sawar epitel dan endotel. Endotel lebih penting daripada epitel dalam mencegah dehidrasi, dan cedera kimiawi atau fisik pada endotel jauh lebih berat daripada cedera pada epitel. Kerusakan sel-sel endotel jauh menyebabkan sifat transparan hilang dan edema kornea, sedangkan kerusakan epitel hanya menyebabkan edema lokal sesaat karena akan menghilang seiring dengan regenerasi epitel.

3

Kornea dipersarafi oleh banyak serat saraf sensoris terutama saraf siliaris longus, saraf nasosiliaris, saraf ke V saraf siliaris longus berjalan supra koroid , masuk kedalam stroma kornea, menembus membrane bowman melepaskan selubung Schwannya. Seluruh lapis epitel dipersarafi sampai kedua lapis terdepan tanpa ada akhir saraf. Bulbus Krause untuk sensasi dingin ditemukan didaerah limbus. Daya regenerasi saraf sesudah dipotong didaerah limbus terjadi dalam waktu 3 bulan. Trauma atau penyakit yang merusak endotel akan mengakibatkan system pompa endotel terganggu sehingga dekompensasi endotel dan terjadi edema kornea. Endotel