referat jurnal

12
Beberapa studi epidemologis dan biologis telah terfokus pada masalah fokal infeksi. Namun, hanya sedikit menghasilkan informasi adekuat pada kelainan rongga mulut pada kehamilan. Selain itu, tidak ada informasi yang jelas mengenai prevalensi penyakit tersebut pada wanita Iran yang hamil. Sebagian informasi terkait lesi yang berhubungan dengan kehamilan akan membantu diagnosis dini dan mengontrol serta dapat memandu dokter gigi dan kedokteran keluarga dalam memperkirakan layanan seperti apa yang dibutuhkan dan perkiraan biaya yang dikeluarkan dalam promosi kesehatan mulut. Hal ini juga dapat meningkatkan kesempatan pemulihan yang cepat. Kewaspadaan pasien mengenai masalah alamiah temporer ini dapat bermanfaat secara psikologis dan emosional. Karena didapatkan kekosongan literatur dan kurangnya studi yang spesifik pada Lesi Mukosa Rongga Mulut (OMD), penelitian ini bertujuan menemukan evaluasi perbandingan OMD pada wanita hamil dengan yang tidak hamil. Penemuan ini tidak hanya berkontribusi pada pengetahuan nyata tentang bidang kedokteran gigi, tetapi juga dapat membantu bidang kesehatan mulut untuk mengupayakan praktik terbaik dan memungkinkan munculnya upaya dan kebijakan terkait kesehatan ibu, janin, dan masyarakat luas secara paripurna. 2. Metode dan Bahan

description

jurnal

Transcript of referat jurnal

Beberapa studi epidemologis dan biologis telah terfokus pada masalah fokal infeksi. Namun, hanya sedikit menghasilkan informasi adekuat pada kelainan rongga mulut pada kehamilan. Selain itu, tidak ada informasi yang jelas mengenai prevalensi penyakit tersebut pada wanita Iran yang hamil. Sebagian informasi terkait lesi yang berhubungan dengan kehamilan akan membantu diagnosis dini dan mengontrol serta dapat memandu dokter gigi dan kedokteran keluarga dalam memperkirakan layanan seperti apa yang dibutuhkan dan perkiraan biaya yang dikeluarkan dalam promosi kesehatan mulut. Hal ini juga dapat meningkatkan kesempatan pemulihan yang cepat. Kewaspadaan pasien mengenai masalah alamiah temporer ini dapat bermanfaat secara psikologis dan emosional.

Karena didapatkan kekosongan literatur dan kurangnya studi yang spesifik pada Lesi Mukosa Rongga Mulut (OMD), penelitian ini bertujuan menemukan evaluasi perbandingan OMD pada wanita hamil dengan yang tidak hamil. Penemuan ini tidak hanya berkontribusi pada pengetahuan nyata tentang bidang kedokteran gigi, tetapi juga dapat membantu bidang kesehatan mulut untuk mengupayakan praktik terbaik dan memungkinkan munculnya upaya dan kebijakan terkait kesehatan ibu, janin, dan masyarakat luas secara paripurna.

2. Metode dan Bahan

Pada studi case control ini, 400 wanita yang mendapat perlakuan terpusat pada rumah sakit-rumah sakit yang bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Shiraz di Shiraz, Iran, periode Agustus 2012 sampai dengan Maret 2013, disertai pengambilan sampel dengan seksama. Dua ratus ibu hamil (pada rentang umur: 17-47 tahun) telah dipilih dalam grup studi, serta 200 lainnya diperlakukan sebagai grup kontrol. Invididu dengan penyakit sistemik, pemakai obat-obatan (antibiotik dan obat lainnya), wanita perokok, dan pengguna alkohol tidak diikutsertakan dalam penelitian ini. Wanita tidak hamil yang pernah mengandung pada periode tahun yang lalu juga tidak diikutsertakan.

Setelah pasien menandatangani formulir inform consent, lembar data yang berisikan umur, pendidikan terakhir, lama hamil, dan riwayat obstetri dan atau abortus, telah dilengkapi oleh peserta yang diperiksa oleh dokter gigi. Dokter gigi yang bersangkutan telah menjalani pelatihan khusus mengenai diagnostik OMD. Dokter gigi juga terlatih dalam mengenali gambaran lesi mukosa rongga mulut. Pemeriksaan mulut dilakukan dalam posisi duduk, dengan posisi ini dokter gigi memeriksa menggunakan lampu kepala, cermin plastik, dan peralatan gigi. Riwayat klinis dan kesehatan gigi pada tiap peserta dicatat pada masing-masing rekam medis. Kriteria "Bradley" dan WHO digunakan dalam mendiagnostik OMD.

Dalam kasusu kelainan gambaran klinis, pertumbuhan cepat, riwatat nyeri maupun parestesis, ulkus pada permukaan jejas, atau suspek keganasan, peserta akan dirujuk ke bagian Kesehatan Mulut Fakultas Kedokteran Universitas Shiraz untuk tes diagnostik lebih lanjut, biopsi, bila perlu dilakukan penatalaksanaan.

Pada akhirnya, data yang terkumpul dibagi dalam dua kelompok yang dianalisis menggunakan program SPSS versi 18; dengan T-test, dan penghitungan OR. Nilai p 0.05 menandakan signifikansi pada penelitian ini.3. Hasil

Jumlah peserta adalah 400, terdiri dari 200 wanita hamil dan 200 wanita tidak hamil yang diperiksa. Usia peserta berkisar 17-47 tahun; dengan usia rata-rata 33,14 untuk wanita tidak hamil, dan 30,23 untuk wanita hamil.

Kelompok kasus dan kelompok kontrol- memiliki tingkat pendidikan yang sama. Dari 400 orang diperiksa, 62 orang telah memiliki Kelainan Mukosa oral, yaitu 47 wanita hamil (23,5%); dan 15 wanita tidak hamil (7,5%) . Hasil ini jelas menunjukkan bahwa tingkat Kelainan Mukosa oral secara signifikan lebih tinggi pada wanita hamil (OR: 3,79; 95% CI: 2,04-7,04).

Pengamatan gangguan rongga mulut ditunjukkan pada Tabel 1. Kelainan rongga mulut yang paling sering terjadi pada wanita hamil yaitu rasa terbakar di mulut (5%); check biting (3,5%), peteki (3%), dan lesi geografis (2,5%).Tabel 1. Gangguan rongga mulut pada wanita tidak hamil dan wanita hamil di penelitian ini

Gangguan MulutJumlah wanita tidak hamil dan dalam %Jumlah wanita hamil (%)

BMS

Parulis

Cheek biting

Peteki

Geographic tounge

Tumor kehamilan

Pigmentasi fisiologis

Lichen planus

Oral candidiasis

Fibroma

Buccal exostosis

Fisura lidah

Epulis Fissuratum

Mucocele

HPV related lesion0 (0) %

1 (0,5%)

1 (0,5%)

1 (0,5%)

2 (1%)

0 (0%)

3 (1,5%)

4 (2%)

1 (0,5%)

0 (0%)

1 (0,5%

1 (0,5%)

1 (0,5%)

0 (0%)

0 (0%)10 (5%)

8 (4%)

7 (3.5%)

6 (3%)

5 (2,5%)

3 (1,5%)

3 (1,5%)

2 (1%)

2 (1%)

1 (0,5%)

0 (0%)

1 (0,5%)

0 (0%)

1 (0,5%)

2 (1%)

Usia rata-rata wanita hamil dengan lesi oral secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan wanita hamil tanpa lesi oral (P: 0,038). Tidak ada hubungan yang signifikan antara lesi oral pada wanita hamil dan usia kehamilan (OR: 1,7, 95% CI: 0,7-4,11).

Graviditas pada ibu hamil dengan lesi oral secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tanpa lesi oral, (p: 0,007). Prevalensi OMD pada wanita hamil lebih tinggi pada mereka yang mengalami muntah (OR: 4,94, CI: 1,79-140,1). Selain itu, kemungkinan OMD pada wanita yang memiliki riwayat positif aborsi sebelumnya adalah delapan kali lebih tinggi daripada mereka yang tidak memiliki riwayat aborsi sebelumnya. (OR:6,6, 95% CI: 2,8-15,8).4. DiskusiPerubahan fisiologis selama kehamilan dapat terjadi seiring dengan perubahan mukosa oral. Berkaitan dengan pentingnya perubahan mukosa oral, penelitian ini mengevaluasi lesi mukosa oral pada wanita hamil di Iran. Pada penelitian sebelumnya, sebagian besar melaporan tentang perjalanan penyakit periodontal pada wanita hamil. Mengingat bahwa penelitian ini hanya melibatkan lesi mukosa oral, sehingga sulit untuk membandingkan hasil penelitian ini dengan penelitian yang dilaporkan sebelumnya.

Temuan utama dari penelitian ini menunjukkan bahwa 23,5% dari wanita hamil mempunyai lesi yang memiliki perbedaan berarti dibandingkan dengan kelompok kontrol. Tingkat estrogen yang tinggi menyebabkan supresi imun oleh fungsi inhibisi sel inflamatori. Sehingga menghasilkan reaksi tubuh terhadap perubahan plak bakteri yang menyebabkan peningkatan penampakan klinis dari lesi.

Hasil dari penelitian ini mirip dengan penelitian Sarifakioglu dan penelitian Annan dan berbeda dengan hasil penelitan Diaz-Guzman. Penyebab perbedaan ini dapat disebabkan oleh metodologi dari penelitian. Pada penelian Diaz-Guzman, yang merupakan penelitian retrospektif, dengan kelompok kontrol terdiri dari 5.537 wanita yang tidak hamil dan hanya 93 wanita hamil. Kemungkinan persentasi lesi yang lebih tinggi pada kelompok kontrol mungkin karena ketidakcocokan jumlah sampel.

Berdasarkan temuan dari penelitian ini, perubahan mukosa yang paling besar dalam masa kehamilan adalah rasa seperti terbakar. Karena ada banyak factor yang dapat menyebabkan rasa terbakar, untuk menyingkirkan dari penyebab sistemik seperti diabetes gestasional, anemia atau kandidiasis maka diperlukan pemerikasaan laboratorium. Sementara itu, penyebab tersering dari rasa terbakar pada mulut dapat disebabkan karena anemia defisiensi besi atau kekurangan asam folat selama kehamilan. Ahli ginekologi menekankan bahwa pemberian suplemen tersebut selama kehamilan sangat membantu dalam mengurangi terjadinya gejala ini.

Parulis adalah sebuah lesi pada mukosa yang berhubungan dengan infeksi periapikal kronik. Prevalensi terjadinya lesi tersebut meningkat pada karies dan infeksi gigi selama kehamilan. Perubahan flora normal dalam rongga mulut, penyangga dan penurunan pH saliva, dan juga perubahan kebersihan mulut dilaporkan sebagai penyebab yang paling sering. Beberapa penelitian juga menunjukkan insiden yang tinggi pada DMF selama kehamilan. Akan tetapi, parulis menggambarkan kurangnya kebersihan gigi dan infeksi oral kronik yang menetap selama kehamilan, indikasi bahwa pasien tidak sadar akan pentingnya kesehatan gigi untuk ibu dan dan janin. Dalam penelitian ini, pipi yang tergigit, yang mengacu pada kebiasaan mengunyah pipi dan mukosa sering ditemukan pada wanita hamil. Penelitian baru-baru ini, Sarifakioglu, kebiasaan tersebut banyak menyebabkan terjadinya OMD dengan perbedaan yang signifikan dengan kelompok kontrol pada wanita hamil. Kejadian yang tinggi tersebut dapat dikaitkan dengan penambahan berat badan, stress dan ansietas selama kehamilan. Selama penelitia ini dilakukan, prevalensi dari geographic tongue 2,5 kali lebih besar daripada kelompok kontrol ( seperti yang ditemukan pada penelitian Diaz-Guzman dan Sarifakioglu masing-masing 3% dan 5%). Pada penelitian Musyka, 6% dari wanita hamil yang negatif HIV dan 4% wanita hamil dengan HIV positif juga menemukan kejadian tersebut. Karena banyak factor yang mempengaruhi, hubungan antara penemuan ini dengan kehamilan menjadi kurang jelas.

Dalam penelitian ini, Granuloma piogenik, yang merupakan OMD dan bagian dari perubahan selama kehamilan, lebih sering terjadi pada wanita hamil, sama dengan penelitian sebelumnya. Meskipun demikian, dalam penelitian Sarifakioglu, tidak dilaporkan adanya kasus OMD. Pada gingivitis, hambatan dalam metabolisme progesterone menyebabkan meningkatan progesterone jaringan dan meningkatkan reaksi ke rangsangan lokal. Di samping itu, tingginya jumlah Vascular Endotheliat Growth Factor (VEGF) dan Fibroblast Growth Factor (FGF) pada lesi ini, yang dapat merespon vaskularisasi adalah penyebab tingginya prevalensi temuan ini dalam kehamilan.

Untuk pengetahuan yang lebih baik, tidak ada penelitian empiris yang telah menemukan hubungan antara OMD dengan kehamilan. Pada penelitian ini, prevalensi lesi oral dan usia mempunyai hubungan yang berarti pada wanita hamil (p=0.038)-maka kejadian dari perubahan tersebut meningkat dengan usia subjek. Temuan ini sama dengan prevalensi OMD dari laporan penelitian epidemiologi. Oral pregnant VMeskipun tidak ada hubungan yang signifikan antara Oral Mucosa Disorder dengan usia kehamilan, sebagian besar lesi oral terlihat pada trimester kedua pada kehamilan. Perubahan hormonal, kenaikan berat badan dan kebutuhan gizi maupun stres dan kecemasan pada bulan-bulan akhir kehamilan dapat mempengaruhi perubahan mukosa mulut.

Pada beberapa kasus Oral Mucosa Disorder terjadi pada wanita multipara. Hal ini dapat dikaitkan terhadap kekurangan gizi yang berlebih, kurangnya perawatan kesehatan gigi maupun tingginya usia ibu pada kehamilan. Untuk menjawab pertanyaan ini, studi empiris sangat dibutuhkan. Namun sehubungan dengan hasil studi ini, wanita hamil dengan gejala muntah memiliki lesi pada oral yang lebih terlihat. Kurangnya perawatan kesehatan mulut dapat menyebabkan reflek muntah. Muntah yang bersifat asam akan keluar melalui mulut sehingga dapat mengakibatkan perubahan mukosa pada mulut, lidah menjadi atrofi ataupun lidah terasa terbakar, tetapi diperlukan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan adanya hubungan studi ini.Salah satu keterbatasan pada penelitian ini adalah kurangnya lesi yang dilakukan untuk biopsi. pada beberapa kasus, biopsi tidak dilakukan karena tidak memenuhi persetujuan pasien untuk dijadikan subjek penelitian. Namun, kebanyakan studi epidemiologi memiliki keterbatasan cukup tinggi pada sampel penelitian. Pada beberapa studi, biopsi dilakukan dengan tujuan untuk menyingkirkan keganasan. Keterbatasan lain adalah dokter gigi harus melakukan pemeriksaan gigi awal untuk dapat mengevaluasi tentang kepatuhan pasien dalam kontrol rutin. Pemeriksaan mulut biasanya dilakukan oleh seorang dokter spesialis, terkadang dibantu oleh seorang dokter umum. Untuk diagnosis penyakit, dokter umum harus memiliki kemampuan untuk mengumpulkan informasi sehingga dapat melakukan diagnosis secara tepat. Penelitian ini berkaitan dengan hubungan antara lesi pada oral dan beberapa obat ataupun penyakit khusus. Faktor ekslusi dilakukan jika prevalensi pada kelompok kontrol Oral Mucosa Disorder lebih rendah dibandingkan dengan populasi normal. Mengingat lesi pada mulut tidak hanya terjadi pada wanita hamil, sehingga penelitian ini dapat ditujukan untuk seluruh populasi tidak hanya untuk wanita hamil saja.Pada akhirnya, jelas bahwa diagnosis lesi oral merupakan bagian penting dari praktik gigi dan mulut. Prevalensi kelainan mukosa oral juga merupakan indeks penting dalam evaluasi kesehatan oral pada semua populasi. Demikian pula, dalam perencanaan pelayanan kesehatan, perencana harus memikirkan pula kebutuhan kesehatan oral pada populasi target seperti pada ibu hamil. Selain itu, karena adanya kemungkinan hubungan antara pen yakit periodontal dengan kesehatan individu dan kemungkinan adanya korelasi antara kesehatan oral ibu dengan bayi, pelayanan kesehatan ibu hamil harus bekerjasama dengan dokter gigi. Harus ada rencana untuk melakukan pemeriksaan oral dan evaluasi lesi oral pada semua ibu hamil pada kunjungan pertama. Ibu hamil juga harus diedukasi mengenai pentingnya higienitas oral dan disarankan untuk mengamati dengan cermat kesehatan oralnya selama kehamilan. Selain deteksi dini dan pengobatan lesi, program pendekatan berbasis kesehatan masyarakat dapat mencegah berkembangnya lesi selama kehamilan.

Penting untuk diperhatikan, bahwa diperlukan studi prospektif dengan jumlah sampel yang lebih besar (pemeriksaan sebelum, selama, dan setelah kelahiran) untuk mengevaluasi hubungan lesi oral dengan komplikasi kehamilan selama periode penting tersebut.5. Kesimpulan

Prevalensi kelainan mukosa oral yang lebih tinggi pada wanita hamil, dibandingkan dengan wanita yang tidak hamil, mengindikasikan pentingnya pemeriksaan oral pada wanita hamil. Ibu hamil yang mengunjungi klinik harus diperiksa apakah ada kelainan mukosa oral secara rutin.

Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan terimakasih kepada staf klinik Shiraz dimana responden penelitian ini direkrut dan diperiksa. Penulis juga mengucapkan terimakasih pada Mukesh Kumar yang telah mengedit draft yang telah direvisi. Selain itu, kami juga mengucapkan terimakasih pada editor jurnal dan para reviewer atas sarannya. Saran mereka sangat membantu perbaikan tulisan ini.

Kontribusi Penulis

Penulis berkontribusi pada tulisan ini secara rata. Zahra Sarraf memiliki ide atas penelitian ini dan mengajak Neda Falsafi untuk menjalankannya; Neda Falsafi bekerjasama dengan Fahimeh Razazadeh untuk mendesain dan menjalankan penelitian. Fahimeh Rezazadeh dan Neda Falsafi menulis draft awal, yang kemudian direview dan dikoreksi oleh Zahra Sarraf. Mohammad Shahbazi mengerjakan draft akhir dengan masukan dari penulis yang lain.

Konflik Kepentingan

Penulis menyatakan tidak ada konflik kepentingan.