Referat Isi Fix

download Referat Isi Fix

of 53

  • date post

    05-Feb-2016
  • Category

    Documents

  • view

    267
  • download

    6

Embed Size (px)

description

forensik

Transcript of Referat Isi Fix

BAB IPENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangDitinjau dari sejarah perkembangannya, Indonesia merupakan masyarakat multietnik. Kelompok etnik yang berbeda cenderung memiliki pola bentuk tengkorak dan rahang berbeda. Walaupun pola tersebut sering kali dipengaruhi variasi individual. Ahli antropologi mempelajari ukuran dan bentuk ragawi dengan metode antropometri. Antropometri ini berarti mengukur manusia. Ukuran hanya memberikan informasi tentang besar kecilnya (size). Karena itu, untuk mengungkapkan bentuk (shape) diciptakan proporsi antara ukuran-ukuran yang dinamakan indeks. Beberapa tahun terakhir, pemeriksaan antropologi forensik semakin berkembang. Forensik antropologi adalah aplikasi ilmu pengetahuan dari antropologi fisik untuk proses hukum yang berbasis pada osteologi dan anatomi manusia merupakan terapan menuju identifikasi individu dari data populasi yang dipelajari dalam antropologi biologi.Dalam ilmu kedokteran forensik dikenal pemeriksaan identifikasi yang merupakan bagian tugas yang mempunyai arti cukup penting. Identifikasi diperuntukkan untuk kejelasan identitas seseorang, selain identifikasi pada orang mati atau jenazah identifikasi diperlukan juga pada orang hidup yang berusaha merubah identitas.2Data-data yang penting untuk didapatkan pada proses identifikasi korban adalah ras, jenis kelamin, gigi, pengukuran antropometri (tinggi dan leher badan, ukuran lingkar kepala), sidik jari, pakaian, dan ornamen lain yang dipakai korban.Upaya identifikasi pada kerangka bertujuan untuk membuktikan bahwa kerangka tersebut adalah kerangka manusia, ras, jenis kelamin, perkiraan umur, tinggi badan, parturitas (riwayat persalinan), ciri-ciri khusus, deformitas, dan bila memungkinkan dapat dilakukan superimposisi serta rekonstruksi wajah. Dicari pula tanda kekerasan pada tulang. Perkiraan saat kematian dilakukan dengan memperhatikan keadaan kekeringan tulang.Bila terdapat dugaan berasal dari seseorang tertentu, maka dilakukan identifikasi dengan membandingkan data-data hasil pemeriksaan dengan data-data antemortem. Bila terdapat tulang tengkorak yang utuh dan terdapat foto terakhir wajah orang tersebut semasa hidup, maka dapat dilakukan metode superimposis, yaitu dengan menumpukkan foto Rontgen tulang tengkorak di atas foto wajah yang dibuat berukuran sama dan diambil dari sudut pemotretan yang sama. Dengan demikian dapat dicari adanya titik-titik persamaan. Pada keadaan tersebut dapat pula dilakukan dengan percetakan tengkorak tersebut lalu dilakukan rekonstruksi wajah dan kepala pada cetakan tengkorak tersebut dengan menggunakan materi lilin atau gips sehingga dibentuk rekaan wajah korban. Rekaan wajah tersebut kemudian ditunjukkan kepada tersangka keluarga korban untuk dikenali.Pemeriksaan antropologi dilakukan untuk memperkirakan apakah kerangka adalah kerangka manusia atau bukan. Antropologi adalah studi tentang umat manusia, budaya, dan fisik, di semua waktu dan tempat. Antropologi forensik adalah aplikasi pengetahuan antropologis dan teknik dalam konteks hukum. Hal ini melibatkan pengetahuan rinci osteologi (anatomi budaya tulang dan biologi) untuk membantu dalam identifikasi dan penyebab kematian sisa-sisa kerangka, serta pemulihan tetap menggunakan teknik arkeologi. Antropologi fisik forensik mengkhususkan diri dalam penelitian dan penerapan teknik yang digunakan untuk menentukan usia saat kematian, seks, afinitas populasi, perawakannya, kelainan dan atau patologi, dan keistimewaan untuk bahan tulang modern. Osteologi forensik adalah subdisiplin dari antropologi forensik dan secara garis besar memfokuskan pada analisa dari rangka manusia untuk tujuan medikolegal. Osteologi forensik paling sering dibutuhkan saat investigasi sisa-sisa dari tubuh manusia akibat dari kematian wajar yang tidak dapat dijelaskan, pembunuhan, bunuh diri, atau bencana alam. Meskipun begitu, seiring meningkatnya frekuensi spesialis forensik dalam mengkonfirmasi usia dari makhluk hidup maupun jenazah untuk keperluan peradilan.Pentingnya identifikasi kerangka manusia baik dalam kasus pidana maupun perdata. Maka dipilihlah judul Identifikasi Kerangka sebagai judul referat kasus kelompok kami.

1.2 Rumusan MasalahAdapun rumusan masalah pada referat ini adalah :1. Apa yang dimaksud dengan identifikasi?2. Apakah temuan berupa rangka manusia atau bukan?3. Apa ras temuan kerangka?4. Apa jenis kelamin temuan kerangka?5. Berapa umur temua kerangka?6. Berapat tinggi badan temuan kerangka?7. Berapa lama perkiraan waktu kematian?

1.3 Tujuan1.3.1 Tujuan UmumMengetahui bagaimana cara mengidentifikasi temuan kerangka1.3.2 Tujuan Khusus1. Mengetahui temuan berupa rangka manusia atau bukan2. Mengetahui jumlah individu3. Mengetahui ras temuan kerangka4. Mengetahui jenis kelamin temuan kerangka5. Mengetahui umur temuan kerangka6. Mengetahui tinggi badan temuan kerangka7. Mengetahui perkiraan waktu kematian

1.4 Manfaat1.4.1 Bagi Mahasiswaa. Melatih kemampuan mahasiswa dalam penyusunan suatu referat.b. Menambah pengetahuan mengenai cara identifikasi kerangka manusia.c. Diharapkan dapat berlanjut untuk penulisan ini sebagai bahan acuannya.1.4.2 Bagi Instansi terkaitMenambah bahan referensi bagi dokter dan calon dokter dalam memahami masalah identifikasi kerangka manusia.

1.5 Metode PenulisanMetode yang digunakan dalam penulisan ini adalah tinjauan kepustakaan yang merujuk pada berbagai literatur.

BAB IIBIOLOGI TULANG MANUSIA

2.1ANATOMI TULANGSecara umum, rangka orang dewasa memilik dua komponen struktur yang mendasar, yaitu tulang spongiosa dan kompakta atau kortikal. Struktur kompakta atau kortikal terdapat pada bagian tepi tulang panjang meliputi permukaan eksternal. Pada bagian internal tulang, terdapat struktur spongiosa seperti jala-jala sedangkan bagian bagian tengah tulang panjang kosong atau disebut cavitas medullaris untuk tempat sumsum tulang.Pada persendian, tulang kompakta ditutupi oleh kartilago atau tulang rawan sepanjang hidup yang disebut tulang subchondral. Tulang subchondral pada persendian ini lebih halus dan mengkilap dibanding tulang kompakta yang tidak terletak pada persendian, contohnya adalah pada bagian distal humerus atau siku. Selain itu, tulang subchondral pada sendi juga tidak memiliki kanal Haversi.Pada tulang vertebra, strukturnya porus dan dinamakan tulang trabecular atau cancellous. Daerah tulang trabekular pada rangka yang sedang tumbuh memiliki tempat-tempat sumsum merah, jaringan pembuat darah atau hematopoietic yang memproduksi sel-sel darah merah, putih, dan platelet. Sumsum kuning berfungsi terutama sebagai penyimpan sel-sel lemak di kavitas medullaris pada tulang panjang, dikelilingi oleh tulang kompakta. Selama pertumbuhan, sumsum merah digantikan secara progresif oleh sumsum kuning di sebagian besar tulang panjang.Bagian-bagian tulang panjang yang panjang dan silindris disebut diaphysis, sedang ujung proksimal dan distalnya terdapat epiphysis dan metaphysis. Diaphysis adalah batang tulang panjang, epiphysis adalah ujung akhir tulang panjang sedangkan metaphysis adalah ujung tulang panjang yang melebar ke samping. Semasa hidup, bagian eksternal tulang yang berkartilago dilapisi oleh periosteum. Periosteum adalah membran dengan vaskularisasi yang memberi nutrisi pada tulang. Bagian internal tulang dilapisi oleh endosteum atau membran seluler. Baik periosteum maupun endosteum adalah jaringan osteogenik yang berisi sel-sel pembentuk tulang. Pada periosteum yang mengalami trauma, sel-sel pembentuk tulang jumlahnya bertambah. Pada periostitis atau trauma pada periosteum ditandai dengan pembentukan tulang baru di permukaan eksternal eksternal tulang yang nampak seperti jala atau trabekular.

2.2STRUKTUR MOLEKULER TULANGTulang manusia dan hewan sama-sama terdiri atas kolagen, molekul protein yang besar, yang merupakan 90% elemen organik tulang. Molekul-molekul kolagen membentuk serabut-serabut elastik pada tulang tetapi pada tulang dewasa, kolagen mengeraas karena terisi bahan anorganik hydroxypatite. Kristal-kristal mineral ini dalam bentuk calcium phosphate mengisi matriks kolagen. Serabut-serabut protein dan mineral ini membuat tulang memiliki dua sifat, yaitu melunak seperti karet bila mineral anorganiknya rusak atau mengeras (bila direndam dalam larutan asam), atau retak dan hancur bila kolagen atau organiknya rusak (bila direbus atau dipanasi).

2.3HISTOLOGI DAN METABOLISME TULANGHistologi adalah studi jaringan pada tingkat mikroskopik. Tulang imatur dan matur berbeda strukturnya. Tulang imatur lebih primitif dalam istilah evolusi phylogenetiknya, berupa jaringan ikat yang kasar dan seperti jala kolagen, polanya random dan tidak teratur orientasinya. Tulang imatur lebih banyak memiliki osteocyte, biasanya terdapat pada tulang yang menderita tumor, pada penyem buhan fraktur dan pada rangka embryonik.Tulang kompakta tidak bisa diberi nutrisi melalui difusi permukaan pembuluh-pembuluh darah, sehingga memerlukan sistem Haversi. Tulang trabekular lebih porus dan menerima nutrisi dari pembuluh darah di sekitar ruang sumsum. Tulang dewasa baik yang kompakta maupun trabekular secara histologis adalah tulang lamela.Pemeriksaan mikroskopik potongan melintang tulang kompakta umumnya menunjukkan 4 sampai 8 cincin konsentris yang dinamakan lamella haversi. Pemeriksaan setiap lamella menunjukkan tumpukan paralel serabut kolagen. Serabut kolagen pada lamella berikutnya berorientasi ke arah yang berbeda. Perbedaan arah serabut-serabut kolagen ini menambah kekuatan struktur tulang.Setiap batang potongan melintang tulang kompakta lamelar disebut sistem Haversi atau osteon berukuran 0,3 milimeter diameternya dan 3-5 milimeter panjangnya. Inti sistem haversi adalah kanal haversi dimana darah, limfe, dan serabut saraf lewat. Kanal-kanal kecil tambahan disebut kanal-kanal Volkmann membelah jaringan tulang secara oblique pada sudut runcing di permukaan periosteal dan endosteal untuk menghubungkan kanal-kanal Haversi, membentuk jaringan yang mensuplai darah dan limfe ke