Referat Edit

download Referat Edit

of 35

  • date post

    26-Jun-2015
  • Category

    Documents

  • view

    328
  • download

    4

Embed Size (px)

Transcript of Referat Edit

I.

PENDAHULUAN

Nyeri merupakan gejala paling sering yang membawa pasien berobat ke dokter-hampir selalu merupakan manifestasi dari proses patologis. Segala rencana pengobatan harus ditujukan berdasarkan proses yang mendasari serta mengontrol nyeri. Pasien umumnya dirujuk untuk manajemen nyeri oleh dokter umum atau spesialis setelah diagnosis ditegakkan dan pengobatan awal dari proses patologis yang mendasari. Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan yang berhubungan dengan kerusakan jaringan, aktual maupun potensial. Dapat terjadi akut (misalnya nyeri pembedahan, trauma dan luka bakar), kronik (nyeri perut, nyeri kepala dan nyeri dada) dan nyeri kronik yang berhubungan dengan penyakit kronik (misalnya nyeri kanker). Nyeri menggambarkan suatu fungsi biologis. Ini menandakan adanya kerusakan atau penyakit di dalam tubuh. Nyeri dapat dirasakan/terjadi secara akut, dapat pula dirasakan secara kronik oleh penderita. Nyeri akut akan disertai heperaktifitas saraf otonum dan umumnya mereda dan hilang sesuai dengan laju proses penyembuhan. Pemahaman tentang patofisiologi terjadinya nyeri sangatlah penting sebagai landasan menanggulangi nyeri yang dideritaoleh penderita. Bila pengelolaan nyeri dan penyebab nyeri akut tidak dilaksanakan dengan baik, nyeri itu dapat berkembang menjadi nyeri kronik. Bila tidak teratasi dengan baik n y e r i d a p a t m e m p e n g a r u h i a s p e k psikologis dan aspek fisik dari penderita. A s p e k psikologis meliputi kecemasan, takut, perubahan kepribadian dan perilaku, gangguan tidur dan gangguan kehidupan sosial. Sedangkan dari aspek fisik, nyeri mempengaruhi peningkatan angka morbiditas dan mortalitas. Nyeri sering dilukiskan sebagai suatu yang berbahaya (noksius, protofatik) atau yang tidak berbahaya (nonnoksius, epikritik) misalnya sentuhan ringan, kehangatan, tekanan ringan.

1

Nyeri sampai saat ini merupakan masalah dalam dunia kedokteran. Nyeri bukan hanya berkaitan dengan kerusakan struktural dari sistem saraf dan jaringan saja, tetapi juga menyangkut kelainan transmiter yang berfungsi dalam proses penghantaran impuls saraf. Di lain pihak, nyeri juga sangat mempengaruhi morbiditas, mortilitas, dan mutu kehidupan

II.

TINJAUAN PUSTAKA

2

A. Nyeri1. Definisi Nyeri

Menurut International Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah sensori subyektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang didapat terkait dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan. Teori Specificity suggest menyatakan bahwa nyeri adalah sensori spesifik yang muncul karena adanya injury dan informasi ini didapat melalui sistem saraf perifer dan sentral melalui reseptor nyeri di saraf, nyeri perifer dan spesifik di spinal cord.1 Nyeri merupakan mekanisme protektif tubuh yang menandakan adanya suatu gangguan/kerusakan jaringan pada tubuh. Rasa nyeri hanya berfungsi untuk mengingatkan dan melindungi tubuh akan terjadinya infeksi yang mungkin terjadi. Dalam keadaan terinfeksi maka gejala nyeri dimanifestasikan dalam bentuk rasa sakit dalam organ atau jaringan tubuh sehingga diagnosis terhadap penyakit menjadi lebih mudah karena organ yang terinfeksi sudah dapat diperkirakan. Walaupun rasa nyeri sering berfungsi untuk mengingatkan, melindungi, dan memudahkan diagnosis namun penderita sering merasa tersiksa dan berusaha untuk terbebas darinya. Pada beberapa penyakit ganas seperti tumor ganas pada fase terakhir dan kanker, meringankan rasa nyeri kadang merupakan satusatunya tindakan yang berharga.1,2 Nyeri dihasilkan sebagai jawaban dari respon otak terhadap stimulus elektrik dan perubahan kimia (hormonal) dalam tubuh akibat adanya bahaya, penyakit ataupun cedera. Pada saat terjadi gangguan/luka pada jaringan akan memicu sel untuk mengeluarkan senyawa-senyawa kimia (misalnya, bradikinin, histamine, prostaglandin dll) yang menginduksi penyampaian impuls ke saraf pusat yang kemudian diinterpretasikan sebagai nyeri.3 2. Etiologi Nyeri

3

Nyeri terjadi karena adanya kerusakan jaringan sehingga tubuh menghasilkan suatu mediator kimia untuk menginduksi stimulus nyeri pada serabut saraf sehingga otak dapat mengetahui adanya kerusakan jaringan tersebut. Oleh karena itu, nyeri dikatakan sebagai mekanisme protektif tubuh. Dalam beberapa hal, nyeri bersifat subyektif dan sangat individual. Pada masing-masing orang nyeri akan timbul pada tingkat kerusakan jaringan yang berbeda-beda, hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya:1 a. Faktor Genetik Penelitian terkini menunjukkan bahwa sensitivitas dan toleransi terhadap nyeri memiliki kaitan dengan faktor keturunan b. Faktor Fisiologik Usia mempengaruhi cara orang merespon nyeri karena usia mempengaruhi perkembangan maupun penurunan sistem saraf. Pada bayi kepekaan sarafnya lebih kuat dibanding anak-anak sehingga lebih mudah merasa nyeri. Pada lansia sensitivitas sarafnya justru melemah sehingga semakin lambat untuk merespon nyeri. c. Faktor Kelelahan Kelelahan dapat menurunkan kemampuan untuk menahan respon nyeri dan memperkuat persepsi nyeri. Pada aktivitas fisik yang berlebihan, kurang tidur, dan stress, persepsi terhadap nyeri meningkat. Sebaliknya orang-orang yang banyak istirahat, emosi dan kehidupan sosialnya baik sangat membantu menurunkan rasa nyeri. d. Faktor Trauma Ingatan akan pengalaman nyeri khususnya pengalaman yang terjadi saat anak-anak atau di usia yang sangat muda, dapat meningkatkan sensitivitas dan menurunkan toleransi terhadap nyeri. e. Fungsi Neurologik Beberapa faktor yang mengganggu transmisi saraf normal mempengaruhi kewaspadaan dan respon penderita terhadap nyeri sehingga lebih beresiko cedera parah. Analgesik, sedatif, dan alkohol menurunkan fungsi dari sistem saraf pusat dan beberapa penyakit yang4

membahayakan saraf perifer untuk menurunkan sensitivitas sentuhan dan rasa nyeri. f. Faktor Psikologis Kecemasan dan rasa takut memiliki hubungan yang saling mempengaruhi dengan nyeri. Ketakutan dan kecemasan dapat meningkatkan persepsi terhadap nyeri dan sebaliknya rasa nyeri juga meningkatkan kecemasan dan ketakutan. g. Respon Stress Penelitian menunjukkan bahwa kondisi nyeri yang parah dapat menyebabkan respon stress yang berlebihan pada bayi yang baru lahir sehingga meningkatkan sensitivitas terhadap nyeri dan dapat menyebabkan komplikasi bahkan kematian. 3. Klasifikasi Nyeri Berbagai macam jenis nyeri dapat dikategorikan sebagai berikut:1,4 a. Nyeri menurut Jenis 1) Nyeri Nosiseptif a) Nyeri Somatis: nyeri yang berasal dari kulit atau dekat dengan permukaan tubuh yang dibawa oleh saraf sensoris. b) Nyeri Visceral: Nyeri dalam organ internal, perut atau tulang, berlokasi sangat buruk terkait dengan mual dan muntah. Nyeri visceral dibawa oleh serabut saraf simpatis. 2) Nyeri Neuropatik a) Nyeri Pusat: Disebabkan oleh luka atau disfungsi pada otak b) Nyeri Periferal: Hasil dari trauma atau penyakit pada saraf peripheral. c) Nyeri Psikogenik: Terjadi karena sebab yang kurang jelas/susah diidentifikasi, bersumber dari emosi/psikis dan biasanya tidak disadari (contohnya,orang yang marah-marah, tiba-tiba merasa nyeri pada dadanya). 3) Nyeri psikogenik: Nyeri ini berhubungan dengan adanya gangguan jiwa misalnya cemas dan depresi. Nyeri akan hilang apabila keadaan kejiwaan pasien tenang.5

b. Nyeri temporal 1) Nyeri Akut Merupakan sensasi normal akibat impuls pada sistem saraf kita sebagai tanda adanya kerusakan dalam tubuh yang sifatnya protektif. Penyebab nyeri akut dapat diidentifikasi dan muncul segera setelah terjadinya kerusakan jaringan tubuh seperti tulang, kulit, atau otot. Mula rasa nyeri bisa segera ataupun lambat tergantung sifatnya. Intensitasnya bervariasi dari ringan hingga parah. Nyeri akut biasanya bersifat sementara atau menetap kurang dari 6 bulan. Pada kondisi parah, nyeri akut mengaktivasi system saraf simpatik, menyebabkan diaphoresis meningkatkan respirasi dan denyut nadi serta meningkatkan tekanan darah. Bentuk nyeri akutdapat berupa: a) Nyeri somatik luar : nyeri tajam di kulit, subkutis dan mukosa b) Nyeri somatik dalam : nyeri tumpul pada otot rangka, sendi dan jaringan ikat c) Nyeri viseral : nyeri akibat disfungsi organ viseral 2) Nyeri kronik Adalah nyeri konstan atau intermiten yang menetap sepanjang suatu periode tertentu, berlangsung lama, intensitas bervariasi, dan biasanya berlangsung lebih dari 6 bulan. Nyeri ini bisa berlangsung terus sampai kematian. Pada nyeri kronik, penderita yang mengalami nyeri kronik akan mengalami periode remisi (gejala hilang sebagian atau keseluruhan) dan eksaserbasi (keparahan meningkat). Sifat nyeri kronik yang tidak dapat diprediksi membuat penderita menjadi frustasi dan seringkali mengarah pada depresi psikologis. Individu yang mengalami nyeri kronik akan timbul perasaan yang tidak aman, karena ia tidak pernah tahu apa yang akan dirasakannya dari hari ke hari. Jika kondisinya parah, nyeri kronis dapat mengaktivasi sistem saraf parasimpatik dan menghasilkan ketegangan otot, menurunkan tekanan darah dan denyut nadi serta kegagalan sistem pertahanan tubuh. Nyeri kronis6

biasa terjadi pada pasien dengan gangguan penyakit parah, penderita nyeri kronik perlu mendapatkan bantuan medis untuk menghindari rasa nyeri yang makin parah akibat munculnya berbagai manifestasi yang muncul dari nyeri kronik itu sendiri. Nyeri ini disebabkan oleh : a) Kanker akibat tekanan atau rusaknya serabut saraf b) Non kanker akibat trauma, proses degenerasi dll c. Nyeri Regional Nyeri ini biasanya terjadi pada organ bagian dalam tubuh, antara lain nyeri perut, nyeri dada, nyeri kepala, nyeri punggung bawah dan nyeri pelviks. Nyeri disebabkan karena adanya suatu penyakit yang terjadi di dalam tubuh misalnya, nyeri kanker, nyeri gigi, nyeri inflamasi dan nyeri iskemik. d. Nyeri berdasarkan derajat Berdasakan derajat nyeri dikelompokan menjadi:1) Nyeri ringan adalah nyeri hilang timbul, terutama saat

beraktivitas seh