Referat Diabetes Melitus Gestasional JADIII !!!

download Referat Diabetes Melitus Gestasional JADIII !!!

of 14

  • date post

    12-Apr-2016
  • Category

    Documents

  • view

    52
  • download

    11

Embed Size (px)

description

word

Transcript of Referat Diabetes Melitus Gestasional JADIII !!!

4 kg, riwayat bayi lahir mati, dan riwayat abortus berulang.Penilaian risiko untuk diabetes melitus gestasional harus dilakukan pada kunjungan prenatal pertama. Wanita dengan karakteristik klinis yang konsisten dengan risiko tinggi diabetes melitus gestasional (ditandai obesitas, sejarah pribadi diabetes melitus gestasional, glikosuria, atau riwayat keluarga yang kuat diabetes) harus menjalani pengujian glukosa sesegera mungkin.II. Epidemiologi dan Prevalensi Diabetes Melitus Gestasional

Di Indonesia insiden diabetes melitus gestasional sekitar 1,9-3,6%. Dan sekitar 40-60% wanita yang pernah mengalami diabetes melitus gestasional pada pengamatan lanjut pasca persalinan akan mengidap diabetes melitus atau gangguan toleransi glukosa.Prevalensi diabetes melitus gestasional sangat bervariasi dari 1-14 % tergantung dari subyek yang diteliti dan dari kriteria diagnosis yang digunakan. Dengan menggunakan kriteria diagnosis American Diabetes Association, prevalensi berkisar antara 2-3 %.III. Etiologi dan Patofisiologi Diabetes Melitus Gestasional

Pada kehamilan terjadi resistensi insulin fisiologis akibat peningkatan hormon-hormon kehamilan yang mencapai puncaknya pada trimester ketiga kehamilan. Hormon-hormon kehamilan tersebut antara lain human placenta lactogen, progesterone, kortisol, dan prolaktin. Tidak berbeda pada patofisiologi diabetes mellitus tipe 2, pada diabetes mellitus gestasional juga terjadi gangguan sekresi sel beta pankreas. Kegagalan sel beta ini dapat terjadi karena autoimun, kelainan genetik, dan resistensi insulin kronik.Resistensi insulin selama kehamilan merupakan mekanisme adaptif tubuh untuk menjaga asupan nutrisi ke janin. Resistensi insulin kronik sudah terjadi sebelum kehamilan pada ibu-ibu dengan obesitas. Kebanyakan wanita dengan diabetes mellitus gestasional memiliki kedua jenis resistensi insulin ini yaitu kronik dan fisiologis sehingga resistensi insulin biasanya lebih berat dibandingkan kehamilan normal. Kondisi ini akan membaik segera setelah partus dan akan kembali ke kondisi awal setelah selesai masa nifas, dimana konsentrasi human placenta lactogen sudah kembali normal.IV. Gejala Kinis Diabetes Melitus Gestasional

V. Pemeriksaan Penunjang Diabetes Melitus Gestasional

Pemeriksaan yang diperlukan adalah pemeriksaan kadar gula darah serta ultrasonografi untuk mendeteksi adanya kelainan bawaan dan makrosomia.VI. Diagnosis Diabetes Melitus GestasionalFourth International Workshop-Conference on Gestasional Diabetes Melitus, merekomendasikan skrining untuk mendeteksi diabetes melitus gestasional dengan faktor resiko sebagai berikut :

Risiko Rendah :

Tes glukosa darah tidak dibutuhkan apabila :

Angka kejadian diabetes gestasional pada daerah tersebut rendah

Tidak didapatkan riwayat diabetes pada kerabat dekat

Usia < 25 tahun

Berat badan normal sebelum hamil

Tidak memiliki riwayat metabolisme glukosa terganggu

Tidak ada riwayat obstetrik terganggu sebelumnya

Risiko Sedang :

Wanita dengan ras Hispanik, Afrika, Amerika, Asia Timur, dan Asia Selatan perlu dilakukan tes gula darah pada kehamilan 24 28

Risiko Tinggi :

Wanita dengan obesitas, riwayat keluarga dengan diabetes, mengalami glukosuria (air seni mengandung glukosa) perlu dilakukan tes gula darah secepatnya.

Bila diabetes melitus gestasional tidak terdiagnosis, maka pemeriksaan gula darah diulang pada minggu 24 28 kehamilan atau kapanpun ketika pasien mendapat gejala yang menandakan keadaan hiperglikemia (kadar gula di dalam darah berlebihan).

Menurut American Diabetes Association (2005), teknik skrining dianjurkan bagi semua wanita hamil dengan cara :

Pasien diberikan 50 gr beban glukosa oral, lalu kadar gula darahnya diperiksa 1 jam kemudian. Bila kadar glukosa plasma > 140 mg/dl maka perlu dilanjutkan dengan tes toleransi glukosa 3 jam.

Tes ini cukup efektif untuk mengidentifikasikan wanita dengan diabetes gestasional.

World Health Organization (WHO) merekomendasikan kriteria diagnostik menggunakan tes beban glukosa oral 75 gr. Diabetes melitus gestasional didiagnosis bila:

PemeriksaanKadar Gula darah (mg/dl)

Puasa

Jam 2> 126

> 140

Tes Beban Glukosa Oral (WHO)

Tujuan skrining diabetes melitus gestasional adalah untuk meningkatkan kewaspadaan ibu hamil dan meyakinkan seorang ibu untuk melakukan pemeriksaan skrining setelah melahirkan.VII. Komplikasi Diabetes Melitus Gestasional pada Ibu dan Bayi

A. Komplikasi diabetes gestasional terhadap bayi.

Sebagian besar wanita yang mengalami diabetes melitus gestasional dapat melahirkan bayi yang sehat. Akan tetapi, diabetes gestasional yang tidak dimonitor dengan baik dapat mengakibatkan kadar gula darah yang tidak terkontrol dapat menyebabkan masalah kesehatan pada sang ibu dan bayi, termasuk kemungkinan untuk melahirkan dengan cara operasi caesar. Berikut adalah beberapa resiko yang dapat terjadi akibat diabetes gestasional :

1. Bayi lahir dengan berat berlebih.Kadar glukosa yang berlebih dalam darah dapat menembus plasenta, yang mengakibatkan pankreas bayi akan memproduksi insulin berlebih. Hal ini dapat menyebabkan bayi tumbuh terlalu besar (macrosomia). Bayi yang terlalu besar dapat mengakibatkan bayi terjepit ketika melewati jalan lahir, dan beresiko untuk terjadinya luka saat lahir yang membutuhkan operasi caesar untuk melahirkannya.2. Lahir terlalu awal dan sindrom sulit untuk bernafas.Ibu dengan kadar gula darah yang tinggi dapat meningkatkan resiko untuk melahirkan sebelum waktunya. Atau dapat juga dokter yang menyarankan demikian, karena bayinya tumbuh terlalu besar. Bayi yang dilahirkan sebelum waktunya dapat mengalami sindrom sulit untuk bernafas. Bayi yang mengalami sindrom tersebut memerlukan bantuan pernafasan hingga paru-parunya sempurna. Bayi yang ibunya mengalami diabetes gestasional juga dapat mengalami sindrom sulit untuk bernafas meskipun dilahirkan tepat waktu.3. Kadar gula darah rendah (hipoglikemia).Terkadang, bayi dari ibu yang mengalami diabetes gestasional mempunyai kadar gula darah yang rendah (hipoglikemia) setelah dilahirkan, karena kadar insulin dalam tubuhnya yang tinggi. Hipoglikemia berat yang dialami oleh bayi, dapat mengakibatkan kejang pada bayi. Pemberian nutrisi secara cepat & terkadang juga dengan pemberian cairan glukosa secara intra vena dapat mengembalikan kadar gula darah bayi kembali ke normal.4. Bayi kuning (jaundice).Warna kekuningan pada kulit dan mata dapat terjadi bila hati bayi belum berfungsi dengan sempurna untuk memecah zat yang bernama bilirubin, yang secara normal terbentuk ketika tubuh mendaur ulang sel darah merah yang tua ataupun rusak. Meskipun jaundice tidak menimbulkan kekhawatiran, tetapi pengawasan secara menyeluruh tetap diperlukan.5. Diabetes tipe 2 di kemudian hari.Bayi dari ibu yang mengalami diabetes gestasional mempunyai resiko lebih besar untuk menderita obesitas dan diabetes tipe 2 di kemudian hari.6. Kematian pada bayi, baik sebelum ataupun setelah lahir

B. Komplikasi diabetes melitus gestasional terhadap sang ibu

1. Tekanan darah tinggi, preeklampsia dan eklampsia.Diabetes melitus gestasional akan meningkatkan resiko ibu untuk mengalami tekanan darah yang tinggi selama kehamilan. Hal tersebut juga akan meningkatkan resiko ibu untuk terkena preeklampsia dan eklampsia, yaitu 2 buah komplikasi serius dari kehamilan yang menyebabkan naiknya tekanan darah & gejala lain, yang dapat membahayakan ibu maupun sang buah hati.2. Diabetes di kemudian hari.Jika mengalami diabetes melitus gestasional, maka kemungkinan besar akan mengalami kembali pada kehamilan berikutnya. Selain itu, ibu juga beresiko untuk menderita diabetes tipe 2 di kemudian hari. Akan tetapi dengan mengatur gaya hidup seperti makan makanan yang bernutrisi & berolahraga dapat mengurangi resiko terkena diabetes tipe 2 nantinya.IX. Penatalaksanaan Diabetes Melitus GestasionalSelain monitoring, terapi diabetes dalam kehamilan adalah :a. Diet

Terapi nutrisi adalah terapi utama di dalam penatalaksanaan diabetes. Tujuan utama terapi diet adalah menyediakan nutrisi yang cukup bagi ibu dan janin, mengontrol kadar glukosa darah, dan mencegah terjadinya ketosis (kadar keton meningkat dalam darah). Menurut Lokakarya LIPI/NAS (1968), wanita diabetes gestasional dengan berat badan normal dibutuhkan 30kkal/kg/hari. Pada wanita dengan obesitas (Indeks Massa Tubuh > 30 kg/m2) dibutuhkan 25 kkal/kg/hari. Pola makan 3 kali makan besar diselingi 3 kali makanan kecil dalam sehari sangat dianjurkan. Pembatasan jumlah karbohidrat 40% dari jumlah makanan dalam sehari dapat menurunkan kadar glukosa darah postprandial (2 jam setelah makan).

Gambar 2. Diet Sehat untuk Penderita DMb. Olahraga

Bersepeda dan olah raga tubuh bagian atas direkomendasikan pada wanita dengan diabetes gestasional. Para wanita dianjurkan meraba sendiri rahimnya ketika berolahraga, apabila terjadi kontraksi maka olahraga segera dihentikan. Olahraga berguna untuk memperbaiki kadar glukosa darah.

Gambar 3. Olahraga untuk Wanita dengan Diabetes Gestasionalc. Pengobatan insulin

Penderita yang sebelum kehamilan memerlukan insulin diberikan insulin dengan dosis yang sama seperti sebelum kehamilan, sampai didapatkan tanda-tanda perlu ditambah atau dikurangi. Menurut The American Diabetes Association (1999), terapi insulin direkomendasikan ketika terapi diet gagal untuk mempertahankan kadar gula darah puasa < 95 mg/dl atau 2 jam setelah makan kadar gula darah < 120 mg/dl.

Gambar 4. Lokasi Penyuntikan Insulin pada Wanita Hamil

Gambar 5. Contoh Pen untuk Menyuntikkan Insulin

Terapi obat oral pada diabetes gestasional tidak direkomendasikan oleh ADA karena obat-obat tersebut dapat melalui plasenta, merangsang pankreas janin, dan menyebabkan hiperinsulinemia p