REFERAT anak rscm

download REFERAT anak rscm

of 21

  • date post

    10-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    223
  • download

    4

Embed Size (px)

description

-

Transcript of REFERAT anak rscm

TINJAUAN PUSTAKA

15 SEPTEMBER 2015PERAN A.R.T.I PADA EPIDEMIOLOGI TUBERKULOSIS

Rudy Kurniawan PutraPembimbing :Dr. Noenoeng Rahajoe, Sp.A(K) Dr. Nastiti Noenoeng Rahajoe, Sp.A(K) Peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis I

Departemen Pulmonologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

RSU Persahabatan JakartaDibacakan di:Departemen Ilmu Kesehatan AnakFakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Jakarta

Abstract

Definition of Tuberculosis (TB) epidemiology in addition to covering the prevalence, incidence, mortality due to TB (mortality) but also because of its uniqueness includes similarly, the prevalence and incidence of the disease arising out of the infected population, as well as the average person who contracted tuberculosis by a contagious tuberculosis patients. The incidence and mortality of tuberculosis is a good parameter to describe the epidemiology of TB, but in connection with the surveillance inadequate in many countries, it is not possible to show the data insindensi and mortality of TB in fact, so used a few parameters epidemiological indirectly Annual Risk of Tuberculosis Infection (ARTI). Prevalence of infection may be known annual risk of tuberculosis infections (ARTI) with conversion method, and is one of the parameters to determine the epidemiology of the disease burden (burden of tuberculosis)Keyword : , tuberculosis, epidemiology, ARTIPENDAHULUANIndonesia sekarang berada pada ranking kelima negara dengan beban Tuberkulosis (TB) tertinggi di dunia. Estimasi prevalensi TB semua kasus adalah sebesar 660,000 (WHO, 2010) dan estimasi insidensi berjumlah 430,000 kasus baru per tahun. Jumlah kematian akibat TB diperkirakan 61,000 kematian per tahunnya.1Meskipun memiliki beban penyakit TB yang tinggi, Indonesia merupakan Negara pertama diantara High Burden Country (HBC) di wilayah WHO South-East Asian yang mampu mencapai target global TB untuk deteksi kasus dan keberhasilan pengobatan pada tahun 2006. Pada tahun 2009, tercatat sejumlah 294.732 kasus TB telah ditemukan dan diobati (data awal Mei 2010) dan lebih dari 169.213 diantaranya terdeteksi BTA+. Dengan demikian, Case Notification Rate untuk TB BTA+ adalah 73 per 100.000 (Case Detection Rate 73%). Rerata pencapaian angka keberhasilan pengobatan selama 4 tahun terakhir adalah sekitar 90% dan pada kohort tahun 2008 mencapai 91%. Pencapaian target global tersebut merupakan tonggak pencapaian program pengendalian TB nasional yang utama.1Jumlah kasus TB anak pada tahun 2009 mencapai 30.806 termasuk 1,865 kasus BTA positif. Proposi kasus TB anak dari semua kasus TB mencapai 10.45%. Kasus TB pada tahun 2010 9,4%, kemudian menjadi 8,5% pada tahun 2011, dan 8,2% pada tahun 2012. Angka-angka ini merupakan gambaran parsial dari keseluruhan kasus TB anak yang sesungguhnya mengingat tingginya kasus overdiagnosis di fasilitas pelayanan kesehatan yang diiringi dengan rendahnya pelaporan dari fasilitas pelayanan kesehatan.2Definisi epidemiologi TB mencakup prevalensi, insidensi, kematian karena TB, prevalensi dan insidensi penyakit tersebut yang timbul dari populasi yang terinfeksi ini, serta rata-rata orang yang tertular penyakit tuberkulosis oleh seorang penderita tuberkulosis menular. Insidensi dan mortalitas tuberkulosis merupakan parameter yang baik untuk menggambarkan epidemiologi TB namun sehubungan dengan surveilans yang tidak adekuat berbagai negara, tidak mungkin untuk menunjukkan data insidensi dan mortalitas TB yang sebenarnya, sehingga dipergunakan beberapa parameter epidemiologi secara tidak langsung yaitu Annual Risk of Tuberculosis Infection (ARTI).3EPIDEMIOLOGIBeberapa ilmu, seperti kedokteran, kedokteran sosial, revolusi mikrobiologi, demografi, sosiologi, ekonomi, statistik, fisika, kimia, biologi molekuler, dan teknologi komputer, telah mempengaruhi perkembangan teori dan metode epidemiologi. Demikian pula The Black Death (wabah sampar), pandemi cacar, revolusi industri (dengan penyakit okupasi), pandemi Influenza Spanyol (The Great Influenza) merupakan beberapa contoh kejadian epidemiologis yang mempengaruhi filosofi manusia dalam memandang penyakit dan cara mengatasi masalah kesehatan populasi. Sejarah epidemiologi perlu dipelajari untuk mengetahui konteks sejarah, konteks sosial, kultural, politik, dan ekonomi yang melatarbelakangi perkembangan epidemiologi, sehingga konsep, teori, dan metodologi epidemiologi dapat diterapkan dengan tepat.4 Ilmu epidemiologi sudah dimulai sejak zaman kedokteran Yunani kuno. Cara orang memandang penyakit, penyebab terjadinya penyakit, dan upaya untuk mengendalikannya, telah dimulai sejak zaman kedokteran Yunani kuno, lebih dari dua puluh empat abad yang lalu. Terdapat beberapa teori yang berhubungan dengan kesehatan dan penyakit pada manusia seperti Teori Kosmogenik Empat Elemen, Teori Generasi Spontan, Teori Humor, dan Teori Miasma.4Pada Zaman kedokteran Yunani, lahir seorang filsuf dokter, sastrawan, dan orator Yunani yang bernama Empedocles (490430 SM) yang tinggal di Agrigentum, sebuah kota di Sisilia. Para ahli sejarah menemukan sekitar 450 baris puisi karyanya yang ditulis pada daun papirus. Dari kumpulan puisi itu diketahui bahwa Empedocles memiliki pandangan tentang berbagai isu yang berhubungan dengan biologi modern, khususnya biologi genetik dan molekuler tentang terjadinya kehidupan, fisiologi komparatif dan eksperimental, biokimia, dan ensimologi.5Di bagian lain puisi Empedocles menunjukkan, dia telah mempraktikkan epidemiologi terapan. Pada masa itu penduduk sebuah kota dekat dengan Agrigentum, yaitu Selinunta, tengah dilanda epidemi penyakit dengan gejala panas seperti malaria. Empedocles mendeteksi, penyebabnya terletak pada genangan dan rawa yang berisi air terkontaminasi. Empedocles mengatasi masalah itu dengan membuka kanal (terusan) dan mengosongkan genangan air ke laut. Dengan membuka dua sungai besar dan menghubungkannya dengan laut, mengeringkan rawa, Empedocles berhasil menurunkan epidemi yang menjangkiti penduduk Selinunta. Empedocles berhasil membuat Selinunta sebuah kota sehat dengan sistem irigasi yang dibiayainya. Karya sanitasi ini bisa dipandang sebagai Projek Kesehatan Masyarakat pertama di muka bumi.5Empedocles juga dikabarkan telah melakukan penyembuhan sampar di kota Athena dengan menggunakan api. Dia melakukan cara serupa, yaitu metode disinfeksi menggunakan asap, untuk mengatasi sampar di kota kelahirannya. Secara keseluruhan pandangan dan karya Empedocles merupakan prekursor kedokteran modern dan epidemiologi, mendahului Hippocrates yang lebih dikenal sebagai Bapak Kedokteran Modern.5Aristoteles (384-322 SM). Aristoteles adalah seorang filsuf dan ilmuwan Yunani, berasal dari Stagira. Anak seorang dokter, Aristoteles merupakan murid Plato. Tetapi berbeda dengan gurunya dalam penggunaan metode untuk mencari pengetahuan, Aristoteles berkeyakinan, seorang dapat dan harus mempercayai panca-indera di dalam menginvestigasi pengetahuan dan realitas.5Pada masa epidemiologi modern, kita mengenal Teori Kuman (The Germ Theory, Pathogenic Theory of Medicine ) adalah teori yang menyatakan bahwa beberapa penyakit tertentu disebabkan oleh invasi mikroorganisme ke dalam tubuh. Abad ke 19 merupakan masa kejayaan Teori Kuman di mana aneka penyakit yang mendominasi rakyat berabad-abad lamanya diterangkan dan diperagakan oleh para ilmuwan sebagai akibat dari mikroba. Epidemiologi berkembang seiring dengan berkembangnya mikrobiologi dan parasitologi. Jacob Henle (1809-1885), Louis Pasteur (18221895), Robert Koch (18431910), dan Ilya Mechnikov (18451916) merupakan beberapa di antara figur sentral di masa kuman (Gerstman, 1998). Teknologi yang memungkinkan timbulnya Teori Kuman dan mikroskop dan biakan (kultur) kuman.5Robert Koch (1843-1910). Robert Koch adalah serorang ahli bakteriologi Jerman. Dia belajar di Gttingen di bawah bimbingan Jacob Henle . Sebagai praktisi di pedalaman di Wollstein, Posen (kini Wolsztyn, Polandia), Koch mengabdikan sebagian besar waktunya untuk melakukan studi mikroskopis tentang bakteri. Koch tidak hanya menciptakan metode pewarnaan dengan pewarna anilin tetapi juga teknik kultur bakteri, suatu teknik standar mikrobiologi yang masih digunakan sampai sekarang. Koch menemukan bakteri dan mikroorganisme penyebab berbagai penyakit infeksi, meliputi antraks (1876), infeksi luka (1878), tuberkulosis (1882), konjunktivitis (1883), kolera (1884), dan beberapa lainnya.5Robert Koch adalah professor pada Universitas Berlin dari 1885 sampai 1891, menjabat Kepala Institut Penyakit Infeksi yang didirikannya, dari 1891 sampai 1904. Dalam rangka investigasi bakeriologis untuk pemerintah Inggris dan Jerman, dia melakukan perjalanan ke Afrika Selatan, India, Mesir, dan negara lain, melakukan aneka studi yang penting tentang penyakit sulit tidur, malaria, sampar (bubonic plague), dan penyakit lainnya. Untuk karyanya menemukan tes tuberkulin Koch menerima Hadiah Nobel di bidang Fisiologi dan Kedokteran pada 1905.6EPIDEMIOLOGI TUBERKULOSIS

Epidemiologi berasal dari bahasa Yunani EPI = pada, DEMOS = berarti masyarakat dan LOGOS berarti ilmu atau teori. Epidemiologi didefinisikan sebagai Ilmu tentang distribusi dan determinan-determinan dari keadaan atau kejadian yang berhubungan dengan kesehatan didalam populasi tertentu, serta penerapan dari ilmu ini guna mengendalikan masalah-masalah kesehatan. Definisi epidemiologi TB selain mencakup prevalensi, insidensi, kematian karena TB dan rata-rata orang yang tertular penyakit tuberkulosis oleh seorang penderita tuberkulosis menular.3Frekuensi, distribusi dan determinan yang ada menurut umur, jenis kelamin, suku bangsa dan letak daerahnya memberi kita pengetahuan tentang keadaan penyakit tuberkulosis di wilayah tertentu. Selanjutnya dengan mengetahui besarnya prevalensi, distribusi dan determinan dari tuberkulosis di masyarakat tersebut maka dapat diperkirakan besarnya permasalahan tuberkulosis yang ada di masyarakat tersebut. Dengan demikian kita dapat menentukan