Referat Abses Periodontal

download Referat Abses Periodontal

of 26

  • date post

    13-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    1.442
  • download

    4

Embed Size (px)

Transcript of Referat Abses Periodontal

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Abses dento-alveolar merupakan lesi akut dengan karakteristik struktur pus yang mengelilingi gigi. Kebanyakan pasien dapat dengan mudah diobati dengan analgesik, antibiotik, drainase dan atau dirujuk ke dokter gigi atau ahli bedah oral-maxillafacial. Bagaimanapun juga, pemeriksa harus mewaspadai komplikasi yang mungkin dari abses dento-alveolar simpleks. 1 Terjadinya abses dento-alveolar meliputi 3 proses yang jelas. Abses periapikal berasal dari pulpa dental dan biasanya sekunder terhadap caries dentis merupakan abses dental yang paling umum pada anak. Caries dentis merusak lapisan pelindung pada gigi (enamel, dentin) dan menyebabkan bakteri dapat dapat menginvasi pulpa, mengakibatkan pulpitis. Pulpitis dapat menjadi nekrosis, dengan invasi bakteri pada alveolar tulang, mengakibatkan abses. Abses periodontal melibatkan struktur penyokong pada gigi (ligamen periodontal, tulang alveolar). Ini merupakan abses dental yang paling umum pada orang dewasa tapi tidak tertutup kemungkinan muncul pada anak dengan terjepitnya benda asing pada ginggiva. Pericoronitis menggambarkan infeksi pada gusi yang meliputi bagian yang rusak dari molar ketiga.1 Kematian akibat abses dento-alveolar jarang terjadi dan kalau ada biasanya berhubungan dengan gangguan pada jalan napas. Angka kesakitan berhubungan dengan nyeri, kemungkinan gigi yang tanggal dan dehidrasi. Abses ini dapat mengenai semua ras tanpa ada yang spesifik. Abses ini juga tidak tergantung pada jenis kelamin. Dari segi usia, abses ini jarang terjadi pada balita karena abses tidak terbentuk sampai ada gigi yang rusak. Pada anak, abses periapikal adalah tipe yang paling umum dari abses dental. Ini karena kombinasi dari higiene yang buruk, enamel yang tipis, dan pertumbuhan gigi primer memiliki suplai darah yang lebih banyak, yang mengakibatkan meningkatnya kemungkinan terjadinya respon inflamasi.

Pada orang dewasa, abses periodontal lebih sering terjadi daripada abses periapikal.1 1.2 Batasan masalah Pembahasan referat ini dibatasi pada defenisi, patogenesis, diagnosis dan penatalaksanaan abses dento-alveolar. 1.3 Tujuan penulisan Referat ini bertujuan untuk menambah pengetahuan pembaca mengenai abses dento-alveolar. 1.4 Metode penulisan Referat ini merupakan tinjauan kepustakaan yang merujuk kepada berbagai literatur dilengkapi dengan kasus dan analisa kasus.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Abses periapikal akut adalah keadaan dimana setelah terjadi adanya pulpitis akut tetapi biasanya terlihat timbul secara spontan, dalam hubungannya dengan gigi dimana pulpanya telah mengalami nekrosis yang tidak menimbulkan gejala, baik setelah terjadinya trauma atau setelah dilakukan penambalan. Bila terdapat proses peradangan akut pada rahang pasien yang sangat hebat, tetapi meluas dengan cepat, membentuk pembengkakan peradangan pada jaringan lunak di dekatnya dan rasa sakit cenderung akan hilang. Gigi menjadi goyang dan nyeri bila disentuh, sehingga pasien berusaha menghindari makanan. Gigi ini disebut periostitik. Pada tahap awal warna sedikit kemerahan dan rasa nyeri dari mukosa mulut di atas apek gigi, mungkin merupakan tanda satu-satunya yang terlihat. Tetapi seringkali, abses periapikal yang sangat hebat berhubungan dengan pembentukan nanah intra-alveolar dan jaringan lunak didekatnya tampakmeradang dan bengkak, yang bila mengenai gigi atas dapat menutupi mata. Pembentukan nanah terjadi cukup cepat dan bila nanah meluas keluar tulang terbentuk rongga abses yang menonjol di dalam atau kadang-kadang diluar mulut. Keadaan ini disebut sebagai abses dento-alveolar. Selain pembengkakan, terlihat adanya trismus bila gigi belakang merupakan penyebab sakit tersebut. Hasil pemeriksaan sinat-X menunjukkan adanya daerah radiolusen pada sebagian besar keadaan.2 Abses periodontal akut adalah abses yang timbul pada bagian belakang poket periodontal dan terlihat berupa pembengkakan akut yang terasa sakit, sering timbul pada bagian palatal dari gigi geraham besar atas atau pada gigi seri bawah. Pembengkakan terlihat terlokalisir dan terbatasi pada alveolus. Pembengkakan eksternal sangat jarang terlihat. Gigi yang diserang selalu

dalam keadaan goyang dan hasil pemeriksaan roentgen menunjukkan pola kerusakan tulang yang tidak teratur.2 Perikoronitis akut adalah keadaan yang bersifat lebih dari nyeri permukaan, kelainan ini terbatas pada gigi geraham besar ketiga bawah (gigi bungsu), walaupun keadaan tersebut juga dapat terlihat pada gigi geraham besar atas.2 2.2. Etiologi Infeksi odontogenik bersifat polimikroba, rata-rata disebabkan 4-6 bakteri. Bakteri yang paling banyak ditemukan adalah bakteri anaerob batang gram negatif dan coccus gram positif, juga ditemukan bakteri fakultatif dan streptococcus mikroaerofilik. Perbandingan antara bakteri anaerob dan aerob adalah 2-3 : 1. Bakeri anaerob batang gram negatif lebih patogen dibandingkan bakteri fakultatif atau anaerob coccus gram positif.1 Abses dento-alveolar berasal dari infeksi periapikal akut yang seringkali merupakan akibat dari terbukanya pulpa oleh karies gigi. Kadangkadang pulpa yang vital dapat terinfeksi melalui saluran limfe, yang berhubungan dengan poket periodontal. Gigi non-vital karena trauma atau gangguan kimia dan fisik pada dentin koronal, dapat terinfeksi baik melalui saluran limpatik periodontal atau selama terjadinya bakterimia.2 Pada infeksi akut karena bakteri virulen, dapat terjadi pembentukan nanah pada apek gigi dan arah penyebaran nanah dipengaruhi oleh faktorfaktor anatomi, terutama hubungan apek terhadap bidang tulang kortikal, dan bila nanah telah terletak pada jaringan lunak, dipengaruhi oleh otot dan perlekatan fascia disekitar rahang.2 Keadaan-keadaan yang mempermudah terjadinya abses dento-alveolar, yaitu :1 1. Pulpitides adalah sebuah karies dentis yang disebabkan karena: Empeng bayi : Karies pada awal-awal masa kecil diubah pada term ini karena menyusui gambarannya termasuk diantaranya pada bayi yang

Plak : yaitu presipitasi protein saliva yang terdenaturasi yang memudahkan bakteri untuk menempel (adhesi) pada enamel gigi. 2. Pada pasien imunokompromais, bakteri dapat menyebar secara hematogen untuk menginvaginasi pulpa gigi. 3. Ginggivitis adalah infeksi secara progresif dari mahkota gigi sampai ke akar gigi. 4. Infeksi paska trauma atau infeksi paska operasi dapat menyebabkan abses dental. 2.3. Epidemiologi Abses gigi jarang terjadi pada bayi. Pada anak-anak paling banyak terjadi adalah abses periapikal. Hal ini karena higine buruk, enamel gigi yang tipis, pertumbuhan gigi primer yang memiliki suplai darah yang lebih banyak, mengkibatkan meningkatnya respon inflamasi. Pada remaja abses periodontal lebih sering terjadi daripada abses periapikal. Tidak ada perbedaan angka kejadian abses akar gigi antara laki-laki dan perempuan. Hingga saat ini juga belum ditemukan kemungkinan hubungan kejadian abses akar gigi dengan ras.1 2.4. Patogenesis Istilah dento-alveolar abses menggambarka tiga proses, yaitu :1 1. Abses periapikal 2. Abses periodontal 3. Perikoronitis Nanah dari gigi geraham atas biasanya menembus bidang tulang bukal yang tipis, di bawah daerah perluasan businator dan keluar pada sulkus bukal di dalam mulut. Kadang-kadang nanah dari gigi taring atau geraham besar pertama atas meluas dari atas daerah perluasan businator serta keluar ke pipi. Dari daerah gigi seri atas, nanah kadang-kadang meluas ke hidung, tetapi biasanya meluas ke vestibulum labial. Apek gigi seri kedua dan akar palataldari gigi geraham besar pertama terletak di dekat permukaan palatal

rahang atas, sehingga dapat merangsang terjadinya abses palatal, yang bila tidak dirawat dapat keluar pada daerah pertemuan palatum lunak dan keras. Dari gigi-gigi bawah nanah meluas terutama ke bukal, kecuali pada gigi geraham besar kedua dan ketiga, yang apeknya terletak di dekat permukaan lingual dan nanah akan meluas ke bawah otot milohoid, ke ruang submandibula dan keluar ke pipi. Dari gigi-gigi bawah yang lain nanah meluas ke bukal atau vestibulum, walaupun nanah dari gigi geraham besar pertama akan meluas ke bawah otot businator dan keluar ke kulit wajah. Abses gigi seri bawah akan menonjol pada dagu, dengan perluasan nanah melalui otot mentalis.2 2.5. Diagnosis Abses dento-alveolar dapat bersifat akut atau kronis. Pada kasus akut, terlihat abses yang timbul mendadak, biasanya tanpa gejala-gejala awal pada gigi tersebut. Selain itu terlihat pembengkakan yang sakit, serta timbul dengan cepat. Dari gigi-gigi depan atas, pembengkakan meluas disertai tertutupnya mata karena edema periorbital. Daerah pusat pembengkakan di atas gigi-gigi, terasa nyeri, membesar dengan kulit di atasnya yang berwarna merah, tetapi sebagian besar pembengkakan tersebut tidak disertai dengan rasa nyeri serta lebih mencerminkan adanya edem. Pemeriksaan sulkus bukal menunjukkan adanya pembengkakan yang nyeri, menutupi dasar vestibulum dan peradangan yang meluas ke bawah ke attached mukosa. Arah perluasan infeksi dari apek gigi lebih mudah diraba daripada dilihat. Dengan terjadinya pembentukan nanah dalam 2-3 hari, pembengkakan cenderung terlokalisir, dengan absorpsi dari edema, dan pada akhir minggu pertama abses menonjol keluar pada daerah tersebut.2 Pada sebagian besar kasus, jarang terjadi infeksi mendadak, dan kurang dramatis karena tanpa disertai edema perifer, pada keadaan tersebut lebih banyak nanah yang terbentuk dengan fluktuasi yang lebih besar.2 Hampir selalu terjadi limadenopati (submandibular) regional dan walaupun pasien terserang demam ringan, tetapi hanya ada sedikit, tandatanda gangguan sistemis yang berhubungan dengan penyakit infeksi, dan

gejala umum yang lebih berhubungan dengan rasa sakit, sukar menelan, kesulitan bernafas dan sukar tidur daripada dengan toksemia. Pemeriksaan darah menunjukkan leukositosis netrofil ringan dan ERS sementara meningkat. Abses gigi kronis jarang timbul pada orang dewasa dan biasanya berasal dari perawatan antibiotik tanpa menghilan