Referat Aborsi Forensik Fix

download Referat Aborsi Forensik Fix

of 23

  • date post

    31-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    272
  • download

    6

Embed Size (px)

Transcript of Referat Aborsi Forensik Fix

ABORSI

I. PENDAHULUANKemajuan zaman serta pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan yang telah dicapai oleh umat manusia telah mendorong serangkaian perkembangan dalam bidang teknologi dan informasi. Berbagai perkembangan ini membawa dampak negatif maupun positif bagi manusia itu sendiri. Manusia menghadapi dilema perbenturan antara kebutuhan akan kemajuan pengetahuan di satu sisi dan iman di sisi yang lain. Salah satu dampak negatif dari berbagai macam perkembangan itu adalah munculnya praktek aborsi. Fenomena aborsi ternyata mendapat perhatian yanng cukup besar dari para ilmuwan dan seringkali menjadi bahan perdebatan, karena masalah aborsi ini menyangkut masalah kehidupan dan keselamatan jiwa manusia.1Sejak zaman primitif aborsi sudah dikenal, antara lain oleh suku bangsa Aborigin di Australia dan Eskimo di kutub utara. Bangsa Inggris Raya mengenal aborsi yang dilakukan dengan cara meminum air rebusan Arurat yang menimbulkan iritasi pada kandungan kencing. Bagi masyarakat Indonesia aborsi sudah tidak asing lagi. Bukti atas hal tersebut antara lain dapat dijumpai pada beberapa relief Candi Borobudur, yang menggambarkan kejadian pengguguran kndungan dengan cara meletakkan batu di atas perempuan yang hamil.1Frekuensi aborsi sukar ditentukan karena aborsi buatan banyak tidak dilaporkan, kecuali apabila terjadi komplikasi. Aborsi spontan kadang-kadang hanya disertai gejala dan tanda ringan, sehingga pertolongan medik tidak diperlukan dan kejadian ini dianggap sebagai terlambat haid. Diperkirakan frekuensi aborsi spontan berkisar 10-15%. Frekuensi ini dapat mencapai angka 50% bila diperhitungkan mereka yang hamil sangat dini, terlambat haid beberapa hari, sehingga wanita itu sendiri tidak mengetahui bahwa ia sudah hamil. Di Indonesia, diperkirakan ada 5 juta kehamilan per-tahun. Dengan demikian setiap tahun 500.000-750.000 aborsi spontan. Sulit untuk mendapatkan data tentang aborsi buatan di Indonesia. Paling sedikit ada dua sebabnya. Yang pertama, aborsi dilakukan secara sembunyi. Yang kedua, bila timbul komplikasi hanya dilaporkan komplikasinya saja, tidak aborsinya.2Aborsi itu sendiri dapat terjadi baik akibat perbuatan manusia atau (aborsi provokatus) maupun karena sebab-sebab alamiah, yakni terjadi dengan sendirinya, dalam arti bukan karena perbuatan manusia (aborsi spontaneus). Aborsi yang terjadi karena perbuatan manusia dapat terjadi baik karena didorong oleh alasan medis, misalnya karena wanita yang hamil menderita suatu penyakit dan untuk menyelamatkan nyawa wanita tersebut maka kandungannya harus digugurkan (aborsi provokatus therapeutics atau bisa disebut aborsi terapeutik). Di samping itu karena alasan-alasan lain yang tidak dibenarkan oleh hukum (aborsi provokatus criminalis atau disebut aborsi kriminalis).3

II. DEFINISIIstilah aborsi sesungguhnya tidak ditemukan pengutipannya dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Dalam KUHP hanya dikenal istilah pengguguran kandungan. Istilah aborsi berasal dari kata aborsi bahasa latin, artinya kelahiran sebelum waktunya. Sinonim dengan kata itu mengenal istilah kelahiran yang premature atau miskraam (Belanda), keguguran.4Aborsi berdasarkan definisi medis adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan. Anak baru mungkin hidup di luar kandungan jika beratnya telah mencapai 1000 gram atau umur kehamilan 28 minggu. Ada yang mengambil batas aborsi bila berat anak kurang dari 500 gram, setara dengan umur kehamilan 22 minggu. Berdasarkan variasi berbagai batasan yang ada tentang usia / berat lahir janin viable (yang mampu hidup di luar kandungan), akhirnya ditentukan suatu batasan aborsi sebagai pengakhiran kehamilan sebelum janin mencapai berat 500 gram atau usia kehamilan 20 minggu.3,4Menurut hukum, pengertian aborsi adalah lahirnya buah kandungan sebelum waktunya oleh suatu perbuatan yang bersifat sebagai perbuatan pidana kejahatan. Dalam pengertian ini, perhatian dititik beratkan pada kalimat oleh suatu perbuatan seseorang yang bersifat sebagai perbuatan pidana kejahatan. Menurut literatur ilmu hukum, telah terdapat kesatuan pendapat sebagai doktrin bahwa pengertian aborsi mempunyai arti yang umum tanpa dipersoalkan umur janin yang mengakhiri kandungan sebelum waktunya karena perbuatan seseorang.3Dari aspek kedokteran forensik yang diartikan dengan keguguran kandungan adalah pengeluaran hasil konsepsi pada setiap stadium perkembangannya sebelum masa kehamilan yang lengkap tercapai (38-40 minggu). Dari segi medikolegal maka istilah aborsi, keguguran, dan kelahiran prematur mempunyai arti yang sama dan menunjukkan pengeluaran janin sebelum usia kehamilan yang cukup.4

III. INSIDENMenurut World Health Organization (WHO) diperkirakan 4,2 juta aborsi dilakukan setiap tahun di Asia Tenggara, dengan perincian sebagai berikut 2: 1,3 juta dilakukan di Vietnam dan Singapura antara 750.000 sampai 1,5 juta di Indonesia antara 155.000 sampai 750.000 di Filipina antara 300.000 sampai 900.000 di Thailand tidak dikemukakan perkiraan tentang aborsi di Kamboja, Laos dan Myanmar. Hasil survei yang diselenggarakan oleh suatu lembaga penelitian di New York yang dimuat dalam International Family Planning Perspectives, Juni 1997, memberikan gambaran lebih lanjut tentang aborsi di Asia Selatan dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Aborsi di Indonesia dilakukan baik di daerah perkotaan maupun pedesaan. Dan dilakukan tidak hanya oleh mereka yang mampu tapi juga oleh mereka yang kurang mampu ( lihat Tabel 1.)3

Tabel.1 Pelaku Aborsi di Perkotaan dan Pedesaan di wilayah Indonesia (dikutip dari kepustakaan 3)

Survei yang dilakukan di beberapa klinik di Jakarta, Medan, Surabaya dan Denpasar menunjukkan bahwa aborsi dilakukan 89% pada wanita yang sudah menikah, 11% pada wanita yang belum menikah dengan perincian: 45% akan menikah kemudian, 55% belum ada rencana menikah. Sedangkan golongan umur mereka yang melakukan aborsi: 34% berusia antara 30-46 tahun, 51% berusia antara 20-29 tahun dan sisanya 15% berusia di bawah 20 tahun.3Dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan terbukti bahwa sebagian besar perempuan yang melakukan aborsi atau induksi haid di klinik atau rumah sakit memiliki profil khusus: mereka cenderung sudah menikah dan berpendidikan. Sebagai contoh, dalam sebuah penelitian yang dilakukan di tahun 2000, menunjukkan bahwa duapertiga dari klien yang melakukan aborsi sudah menikah, dan hampir dua-pertiga sudah pernah duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Padahal bertentangan dengan kenyataan tersebut, di Indonesia hanya terdapat 38% dari perempuan pernah kawin yang pernah duduk di bangku Sekolah Menengah. Dalam penelitian terbaru ditemukan bahwa, 54% klien aborsi adalah lulusan Sekolah Menengah dan 21% dari mereka adalah lulusan akademi atau universitas, dan 87% dari klien aborsi yang tinggal di daerah perkotaan sudah menikah. Selanjutnya ditemukan bahwa hampir setiap klien yang melakukan aborsi berusia lebih dari 20 tahun (58% berusia lebih tua dari 30 tahun), dan hampir separuh dari perempuan-perempuan tersebut sudah memiliki paling sedikit dua anak.5

Gambar1. Distribusi Pelaku Aborsi berdasarkan Umur, Status Perkawinan, Pendidikan, dan Riwayat Pemakaian Kontrasepsi (dikutip dari kepustakaan 5)

IV. KLASIFIKASIKlasifikasi aborsi menurut proses terjadinya6:1. Aborsi yang terjadi secara spontan atau natural.Diperkirakan 10-20% dari kehamilan akan berakhir dengan aborsi, dan secara yuridis tidak membawa implikasi apa-apa.2. Aborsi yang terjadi akibat kecelakaan.Seorang ibu yang sedang hamil bila mengalami rudapaksa, khususnya rudapaksa di daerah perut, misalnya karena terjatuh atau tertimpa sesuatu di perutnya, demikian pula bila ia menderita syok akan dapat mengalami aborsi yang biasanya disertai dengan perdarahan yang hebat. Aborsi yang demikian kadang-kadang mempunyai implikasi yuridis, perlu penyidikan akan kejadiannya. 3. Aborsi provocatus medicinalis atau aborsi theurapeticus.Aborsi ini dilakukan semata-mata atas dasar pertimbangan medis yang tepat, tidak ada cara lain untuk menyelamatkan nyawa si ibu kecuali jika kandungannya digugurkan, misalnya pada penderita kanker ganas. Aborsi provocatus medicinalis kadang-kadang membawa implikasi yuridis, perlu penyidikan dengan tuntas, khususnya bila ada kecurigaan perihal tidak wajarnya tarif atau biaya yang diminta oleh dokter, sehingga menimbulkan komersialisasi yang berkedok demi alasan medis.4. Aborsi provocatus criminalis atau aborsi kriminalis.Jelas tindakan pengguguran kandungan di sini semata-mata untuk tujuan yang tidak baik dan melawan hukum. Tindakan aborsi yang tidak bisa dipertanggung jawabkan secara medis dan dilakukan hanya untuk kepentingan si pelaku, walaupun ada kepentingan juga dari si ibu yang malu akan kehamilannya. Kejahatan jenis ini sulit untuk melacaknya oleh karena kedua belah pihak menginginkan agar aborsi dapat terlaksana dengan baik (crime without victim, walaupun sebenarnya korbannya ada yaitu bayi yang dikandung). Secara umum, aborsi dapat dibagi dalam dua macam, yaitu pengguguran spontan (spontanueous aborsi) dan pengguguran buatan atau sengaja (aborsi provocatus), meskipun secara terminologi banyak macam aborsi yang bisa dijelaskan. Krismaryanto, menguraikan berbagai macam aborsi, yang terdiri dari 3:1) Aborsi/ Pengguguran kandungan Procured Abortion/ Aborsi Provokatus/ Induced Abortion, yaitu penghentian hasil kehamilan dari rahim sebelum janin bisa hidup diluar kandungan. 2) Miscarringe/ Keguguran, yaitu terhentinya kehamilan sebelum bayi hidup di luar kandungan (viability). 3) Aborsi Therapeutic/ Medicinalis, adalah penghentian kehamilan dengan indikasi medis untuk menyelamatkan nyawa ibu, atau tubuhnya yang tidak bisa dikembalikan. 4) Aborsi Kriminalis, adalah penghentian kehamilan sebelum janin bisa hidup di luar kandungan dengan alasan-alasan lain, selain therapeutik, dan dilarang oleh hukum. 5) Aborsi Eugenetik, adalah penghentian kehamilan untuk meghindari kelahiran bayi yang cacat a