refarat inkontinensia

download refarat inkontinensia

of 19

  • date post

    02-Feb-2016
  • Category

    Documents

  • view

    103
  • download

    1

Embed Size (px)

Transcript of refarat inkontinensia

REFERATINKONTINENSIA URINOleh:H1A007027

Pembimbing:DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA BAGIAN/SMF BEDAH

FAKULTAS KEDOKTERAN

2012HALAMAN PEBGESAHAN

Judul Referat

: Inkontinensia UrinNama Mahasiswa: NIM

: H1A007027Fakultas

: Kedokteran

Referat ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk mengikuti ujian Kepaniteraan Klinik Madya pada Bagian/SMF Bedah Rumah Sakit Umum Propinsi

, 3 Januari 2013Dosen Pembimbing

BAB 1PENDAHULUAN

Inkontinensia urin adalah ketidakmampuan seseorang untuk menahan keluarnya urin. Keadaan ini dapat menimbulkan berbagai masalah, antara lain masalah medik, sosial, dan ekonomi kerena morbitidas dan penurunan kualitas hidup yang diakibatkan (De Maagd et al, 2012; Purnomo, 2003). Prevalensi kejadian ini cukup tinggi yaitu mengenai lebih dari 200 juta orang di seluruh dunia. Di Indonesia prevalensinya sekitar 10-40% pada wanita dan 4-8% diantaranya sudah dalam keadaan cukup parah pada saat datang berobat. Pada pria, prevalensinya lebih rendah yaitu kurang lebih separuhnya. Pada manula prevalensinya lebih tinggi daripada usia reproduksi, yaitu sekitar 38% pada wanita dan 19% pada pria. Angka ini belum menggambarkan seluruh kejadian inkontinensia urin karena keadaan ini masih dianggap sebagai bagian normal dari penuaan (Purnomo, 2003; Tanagho, 2008).

Inkontinensia urin dikarakteristikkan oleh lower urinary tract symptoms (LUTS). Pemahaman mengenai anatomi dan fisiologi sistem urinaria bagian bawah akan membantu dalam pemahaman keadaan ini. Sistem urianaria bagian bawah terdiri dari buli-buli dan uretra. Keduanya harus bekerja secara sinergis untuk dapat menjalankan fungsinya dalam menyimpan (storage) dan mengeluarkan (voiding) urin (De Maagd et al, 2012; Purnomo, 2003).

Kelainan pada unit vesiko-uretra dapat terjadi pada fase pengisian atau pada fase miksi. Kegagalan pengisian dan penyimpanan urin, baik karena faktor buli-buli maupun uretra menyebabkan inkontinensia urin. Sedangkan kelainan pada fase pengeluaran urin menyebabkan retensi urin (Purnomo, 2003).

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Struktur Anatomi dan Fisiologi Sistem Urinaria bagian BawahSistem urinaria bagian bawah terdiri atas buli-buli dan uretra. Keduanya harus bekerja secara sinergis untuk dapat menjalankan fungsinya dalam menyimpan (storage) dan mengeluarkan (voiding) urin (Purnomo, 2003). Buli-buli adalah organ otot berongga sebagai tempat penyimpanan urin. Buli-buli yang terisi akan naik ke superior dan bahkan hingga setinggi umbilikus pada buli-buli yang penuh (Moore and Agur, 2007). Kapasitas normal buli-buli orang dewasa adalah 400-500 mL (Tanagho, 2008). Buli-buli terdiri dari apeks, korpus, fundus, kolum, dan uvula. Apeks merupakan ujung anterior buli-buli mengarah ke tepi superior sismfisis pubis. Korpus terletak antara apeks dan fundus. Fundus dibentuk oleh dinding posterior dan berbentuk konveks. Pada wanita, fundus berbatasan dengan dinding anterior vagina. Sedangkan pada laki-laki berbatasan dengan rektum. Kolum buli-buli adalah pertemuan antara fundus dan permukaan inferolateral buli-buli. Uvula merupakan penonjolan kecil pada trigonum buli-buli yang terletak di belakang orificium uretra (Moore and Agur, 2007).

Gambar 1. Buli-buli tampak lateral (Moore and Agur, 2007)

Dinding buli-buli tersusun oleh muskulus detrusor. Ke arah kolum atau leher buli-buli, pada perbatasan antara buli-buli dan uretra, terdapat sfingter uretra interna yang terdiri atas jalinan otot polos. Sfingter ini selalu tertutup pada fase pengisian (filling) dan penyimpanan, dan terbuka pada saat isi buli-buli penuh dan saat miksi atau pengeluaran (evacuating). Di sebelah distal uretra posterior terdapat sfingter uretra eksterna yang terdiri atas otot lurik dari otot dasar panggul. Pada wanitaa sfingter ini terletak di sepertiga medial uretra. Sfingter ini membuka saat miksi sesuai dengan perintah korteks serebri (Purnomo, 2003).

Secara anatomis uretra dibagi menjadi uretra posterior dan uretra anterior. Uretra posterior pada pria terdiri atas uretra pars prostatika dan uretra pars membranasea. Uretra anterior adalah bagian uretra yang dibungkus oleh korpus spongiosum peni, dan dibagi menjadi pars bulbosa, pars pendularis, pars navikularis, dan meatus uretra eksterna (Purnomo, 2003).

Gambar 2. Potongan frontal buli-buli dan uretra pria (a) dan wanita (b). Pada fase pengisian, terjadi relaksasi otot detrusor dan pada fase pengeluaran terjadi kontraksi otot detrusor. Selama pengisian urin, buli-buli mampu meningkatkan volumenya untuk mempertahankan tekanan di bawah 15 mmH2O. Sifat ini disebut komplians buli-buli. Jika terjadi kerusakan dinding buli-buli sehingga viskoelastisitasnya terganggu, komplians buli-buli menurun, yang berarti bahwa pengisian urin pada volume tertentu akan menyebabkan kenaikan tekanan intravesika yang cukup besar (Purnomo, 2003).2.2 Neurofisiologi Buli-buli dan Uretra

Saluran kemih bagian bawah mendapat inervasi dari serabut saraf aferen yang berasal dari buli-buli dan uretra serta serabut saraf eferen berupa sistem simpatis, parasimpatis, dan somatik. Serabut aferen dari buli-buli menerima impuls regangan dari dinding buli-buli yang dibawa nervus pelvikus ke korda spinalis S2-4 dan diteruskan hingga ke otak melalui traktus spinotalamikus. Otak menerima informasi mengenai volume urin di dalam buli-buli. Jalur aferen dari sfingter uretra eksterna dan uretra mengenal sensasi suhu, nyeri, dan adanya aliran urin di dalam uretra yang dibawa nervus pudendus menuju korda spinalis S2-4 (Purnomo, 2003).

Gambar 3. Struktur anatomi dan sistem saraf sistem urinaria bagian bawah (De Maagd et al, 2012)

Serabut eferen parasimpatik dari korda spinalis S2-4 dibawa oleh nervus pelvikus dan menginervasi otot detrusor. Peran sistem parasimpatis pada proses miksi berupa kontraksi otot detrusor dan terbukanya sfingter uretra. Serabut eferen simpatis berasal dari korda spinalis T10-L2 yang dibawa oleh nervus hipogastrikus menuju buli-buli dan uretra. Terdapat dua reseptor adrenergik di dalam buli-buli dan uretra yaitu reseptor yang banyak terdapat di leher buli-buli (sfingter interna) dan uretra posterior, dan reseptro yang banyak terdapat pada fundus buli-buli. Rangsangan pada reseptor adrenergik menyebabkan kontraksi sedangkan pada menyebabkan relaksasi. Jadi, sistem simpatis berperan pada proses pengisian yaitu relaksasi otot detrusor karena stimulasi adrenergik dan kontraksi sfingter interna serta uretra posterior karena stimulasi adrenergik (Purnomo, 2003).Serabut saraf somatik berasal dari nukleus Onuf di kornu anterior korda spinalis S2-4 yang dibawa oleh nervus pudendus dan menginervasi otok sfingter uretra eksterna dan otot-otot dasar panggul. Perintah dari korteks serebri menyebabkan terbukanya sfingter eksterna pada saat miksi (Purnomo, 2003).

2.3 Proses Miksi

Miksi adalah proses pengosongan buli-buli. Saat buli-buli terisi urin, volumenya bertambah dan mengalami peregangan. Regangan menstimulasi reseptor regang sensorik pada dinding buli-buli yang dihantarkan ke segmen sakral medula spinalis melalui nervus pelvikus dan memberikan sinyal ke otak tentang jumlah urin yang mengisi buli-buli (Guyton dan Hall, 1996; Purnomo, 2003).Pada saat buli-buli sedang terisi, terjadi stimulasi sistem simpatik yang mengakibatkan kontraksi sfingter uretra interna dan inhibisi sistem parasimpatis berupa relaksasi otot detrusor. Kemudian saat buli-buli terisi penuh timbul stimulasi sistem parasimpatis dan menyebabkan kontraksi otot detrusor, serta inhibisi sistem simpatis yang menyebabkan relaksasi sfingter interna. Miksi kemudian terjadi jika sfingter uretra eksterna berelaksasi yang diatur oleh pusat yang lebih tinggi (korteks serebri) dan tekanan intravesikal melebihi tekanan uretra (Guyton dan Hall, 1996; Purnomo, 2003).

Kelainan pada unit vesiko-uretra dapat terjadi pada fase pengisian atau pada fase miksi. Kegagalan pengisian dan penyimpanan urin, baik karena faktor buli-buli, uretra, maupun sistem neuromuskular menyebabkan inkontinensia urin (Purnomo, 2003). Kontinensia juga dipengaruhi oleh kemampuan kognisi individu untuk menginterpretasikan dan merespon sensasi miksi, serta motivasi kebutuhan untuk menghambat keluarnya urin hingga mencapai toilet (Yap and Tan, 2006).2.4 Inkontinensia Urin

2.4.1 Definisi

Inkontinensia urin adalah ketidakmampuan seseorang untuk menahan keluarnya urin (Purnomo, 2003). Sedangkan menurut International Incontinence Society (ICS) inkontinensia urin adalah keluarnya urin secara involunter, dapat ditunjukkan secara objektif dan menimbulkan masalah sosial atau higienitas (Yap and Tan, 2006). 2.4.2 Epidemiologi

Prevalensi kejadian ini cukup tinggi yaitu mengenai lebih dari 200 juta orang di seluruh dunia. Di Indonesia prevalensinya sekitar 10-40% pada wanita dan 4-8% diantaranya sudah dalam keadaan cukup parah pada saat datang berobat. Pada pria, prevalensinya lebih rendah yaitu kurang lebih separuhnya. Pada manula prevalensinya lebih tinggi daripada usia reproduksi, yaitu sekitar 38% pada wanita dan 19% pada pria. Angka ini belum menggambarkan seluruh kejadian inkontinensia urin karena keadaan ini masih dianggap sebagai bagian normal dari penuaan (Purnomo, 2003; Tanagho, 2008).

2.4.3 KlasifikasiInkontinensia urin dapat disebabkan oleh kelainan pada buli-buli atau pada uretra (sfingter) (Purnomo, 2003). Inkontinensia urin dapat diklasifikasikan sebagai berikut (Tanagho, et al,2008): Inkontinensia urge Inkontinensia stress Inkontinensia overflow (paradoksal)

Inkontinensia kontinua/trueInkontinensia Urge

Inkontinensia urge adalah keluarnya urin yang tidak dapat dikendalikan segera setelah timbul keinginan miksi. Pasien inkontinensia urge mengeluh tidak dapat menahan kencing segera setelah timbul sensasi ingin kencing. Keadaan ini disebabkan oleh o