Ratna Asnita Unand PKMM

download Ratna Asnita Unand PKMM

of 30

  • date post

    24-Feb-2018
  • Category

    Documents

  • view

    224
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Ratna Asnita Unand PKMM

  • 7/25/2019 Ratna Asnita Unand PKMM

    1/30

    PROPOSAL PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

    PELAKSANAAN PROGRAM TERAPI MUSIKUNTUK MENINGKATKAN

    KEMAMPUAN KOMUNIKASI DAN PSIKOMOTORIK PADA ANAK DENGAN

    AUTI SME SPECTRUM DISORDERSDI SEKOLAH KHUSUS AUTISME YPPA

    PADANG

    BIDANG KEGIATAN:

    PKM PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

    Diusulkan oleh:

    Ratna Asinita (1110321030 / 2011)

    Herni Marlina (1110321006 / 2011)

    Gina Apriana (1110321011 / 2011)

    Rizki Murni (1110321079 / 2013)

    Rani Cyntia Dewi (1311311088 / 2013)

    UNIVERSITAS ANDALAS

    PADANG

    2014

  • 7/25/2019 Ratna Asnita Unand PKMM

    2/30

  • 7/25/2019 Ratna Asnita Unand PKMM

    3/30

    DAFTAR ISI

    HALAMAN PENGESAHAN .......... ................................................................................. i

    DAFTAR ISI ................................................................................................................... ii

    RINGKASAN ................................................................................................................. iii

    BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................. 1

    BAB II GAMBARAN UMUM MASYARAKAT SASARAN ................................................. 4

    BAB III METODE PELAKSANAAN ................................................................................. 7

    BAB IV BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN ....................................................................... 9

    DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................ 10

    LAMPIRAN

    Lampiran 1. Biodata Ketua dan Anggota dan Pembimbing ........................................ 11

    Lampiran 2. Justifikasi Anggaran Kegiatan .................................................................. 19

    Lampiran 3. Susunan Organisasi Tim Kegiatan dan Pembagian Tugas ....................... 21

    Lampiran 4. Surat Pernyataan Ketua Kegiatan ........................................................... 24

    Lampiran 5. Surat Pernyataan Kesediaan dari Mitra .................................................. 25

    Lampiran 6. Denah Detail Lokasi Mitra Kerja .............................................................. 26

  • 7/25/2019 Ratna Asnita Unand PKMM

    4/30

    Ringkasan

    Kehadiran seorang anak adalah anugerah yang bernilai tinggi yang

    diberikan Allah kepada hamba-Nya. Memiliki anak sebagai penyandang

    gangguan spektrum autis atau Autistic Spectrum Disorder (ASD) tidaklah pernahmenjadi impian orang tua. Mendapatkan dukungan sosial merupakan faktor yang

    sangat penting dalam merawat anak dengan kebutuhan khusus, termasuk anak

    penyandang autisme (Bitsika & Sharpley, 2004) karena dapat berperan sebagai

    pendorong ibu dalam merawat anak berkebutuhan khusus. Autisme Spectrum

    Disorder (ASD), adalah gangguan perkembangan yang secara umum tampak

    ditiga tahun pertama kehidupan anak. ASD berpengaruh pada komunikasi,

    interaksi sosial, imajinasi dan sikap (William dan Wright, 2007).

    Yayasan pengembangan potensi Anak (YPPA), memiliki jumlah siswa

    laki laki 42 orang dan jumlah siswa perempuan 9 orang yang rata-rata memiki

    gangguan dalam komunikasi verbal dan non verbal serta terganggu dalaminteraksi sosial, kontrol emosi dan psikomotorik.Sehingga diperlukan sebuah

    terapi yang tepat untuk meningkatkan kulitas hidup dan kemandirian anak autis

    salah satunya adalah terapi musik.

    Terapi musik adalah penggunaan musik dan elemen musik (suara, irama,

    melodi, dan harmoni) oleh seorang terapis musik yang telah memenuhi

    kualifikasi, terhadap klien atau kelompok dalam proses pembangunan

    kumunikasi, meningkat relasi interpersonal, belajar, meningkatkan mobilitas,

    mengungkapkan ekspresi, menata diri untuk mencapai berbagai tujuan terapi

    lainnya (Djohan, 2008).

    Terapi musik yang akan dilakukan dilakukan 2 x 60 menit sehari dan 2

    kali pertemuan dalam seminggu selama 4 bulan. Latihan terapi music ini

    dilakukan dengan mengklasifikasikan karakter dan prilaku anak autis kemudian

    baru diperdengarkan music-musik. Misalnya music klasik, musik murrotal,lagu

    anak-anak, dan alat-alat musik yang biasa dikenal anak-anak seperti : piano,

    gendang dan gitar. Dalam memberikan terapi music ini harus yang sederhana,

    mudah dipahami dan sering didengar oleh anak-anak. Hal ini penting mengingat

    kemampuan berkomunikasi anak autis agak lambat.

    Melalui kegiatan terapi musik ini diharapkan anak Autistic SpectrumDisorder (ASD) mampu berkomunikasi baik secara verbal maupun non verbal,

    meningkatkan kecerdasan emosional nya, dan psikomotorik. Sehingga mereka

    dapat bersosialisasi dengan lingkungan dan masyarakatnya layaknya anak biasa.

    Untuk itu kami mahasiswa keperawatan akan mengaplikasikan ilmu yang

    didapatkan dari perkuliahan untuk melakukan pengabdian ini.

  • 7/25/2019 Ratna Asnita Unand PKMM

    5/30

    1

    1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    1.1 LATAR BELAKANG

    Kehadiran seorang anak adalah anugerah yang bernilai tinggi yang diberikan Allah

    kepada hamba-Nya. Pada dasarnya dalam hidup berkeluarga menginginkan keturunan yang baik.

    Memiliki buah hati yang sehat, aktif, dan cerdas adalah impian setiap orang tua. Memiliki anak

    sebagai penyandang gangguan spektrum autis atau Autistime Spectrum Disorder (ASD) tidaklah

    pernah menjadi impian orang tua. Mendapatkan dukungan sosial merupakan faktor yang sangat

    penting dalam merawat anak dengan kebutuhan khusus, termasuk anak penyandang autisme

    (Bitsika & Sharpley, 2004) karena dapat berperan sebagai pendorong ibu dalam merawat anak

    berkebutuhan khusus.

    Autisme Spectrum Disorder (ASD), adalah gangguan perkembangan yang secara umum

    tampak ditiga tahun pertama kehidupan anak. ASD berpengaruh pada komunikasi, interaksi

    sosial, imajinasi dan sikap (William dan Wright, 2007). Autisme bukan suatu gejala

    penyakit,tetapi berupa sindroma atau kumpulan gejala dimana terjadi penyimpangan

    perkembangan sosial, kemampuan berbahasa dan kepedulian terhadap sekitar,sehingga anak

    autis seperti hidup dalam dunianya sendiri. Pada anak autis terjadi kelainan emosi, intelektual

    dan kemauan (Yatim,2003). Mereka tampak seperti tuli, mengoceh tanpa arti, membeo, hidup

    dalam dunianya sendiri atau dunia khayalnya, hal ini menyebabkan ketidakmampuan individu

    untuk berkomunikasi atau berbicara dengan orang lain. Hampir semua anak autis mengalami

    gangguan berbicara dan berbahasa, pada anak yang dapat berbicara secara lancer tetapi tidak

    dapat berkomunikasi, tidak dapat berbicara sama sekali da nada anak yang dapat berbicara tetapi

    kemampuannya terbatas (Hadis, 2006).

    Dalam dekade terakhir ini jumlah anak yang terkena autis semakin meningkat pesat di

    berbagai belahan dunia. Berdasarkan laporan UNESCO 2011 tercatat 35 juta orang penyandang

    autism diseluruh dunia. Ini berarti 6 dari 1000 orang di dunia mengidap autism. Dari penelitian

    Center for Disease (CDC) di Amerika Serikat 2008, perbandingan autism pada anak umur 8

    tahun yang terdiagnosa adalah 1:80. Di Asia, penelitian Hongkong Studi 2008 melaporkan

    tingkat kejadian autisme dengan prevalensi 1,68 per 1000 untuk anak dibawah 15 tahun

    (Hadriani, 2013). Sedangkan di Indonesia, menurut Goodwill Ambassador PBB, Christine

    Hakim (2011 dikutip dari Radius,2011), prevalensi penyandang autism saat ini sebanyak 8 dari

    1000 penduduk, prevalensi ini naik pesat dibandingkan dengan data WHO 10 tahun yang lalu

    yang hanya 1 dari 1000 penduduk.

  • 7/25/2019 Ratna Asnita Unand PKMM

    6/30

    2

    2

    Saat ini belum ada penelitian khusus yang dapat menyajikan data autism pada anak di

    Indonesia. Bila di asumsikan dengan prevalensi autism pada anak di Hongkong, berdasarkan dari

    Badan Pusat Statistik jumlah anak di hongkong jumlah anak usia 5 hingga 19 tahun di Indonesia

    mencapai 66.000.805 jiwa, maka diperkirakan mendapat lebih dari 112 ribu anak penyandang

    auitime di Indonesia (Hadriani, 2013 dikutip dari Rahmi 2013)

    Oleh karena gangguan yang dialami anak autisme begitu luas, yaitu mencakup gangguan

    dalam komunikasi verbal dan non verbal serta terganggu dalam interaksi sosial dan kontrol

    emosi, maka terapi yang dilakukan juga terapi multidisipliner dan terpadu mulai dari terapi

    perilaku (behavior therapy), terapi okupasi, terapi wicara (speech therapy), terapi biomedis,

    terapi medikamentosa dan pendidikan khusus (Danuatmaja, 2003).

    Orang tua sering bertanya apakah anaknya dapat secara total bebas dari autisma. Wenar

    (1994) menyatakan bahwa autisma adalah gangguan yang tidak bisa disembuhkan ( not curable

    ), namun bisa diterapi ( treatable ). Maksudnya kelainan yang terjadi pada otak tidak bisadiperbaiki namun gejala-gejala yang ada dapat dikurangi semaksimal mungkin sehingga anak

    bisa bersosialisasi dengan anak-anak lain secara normal. Hal terpenting yang mempengaruhi

    kemajuan anak autisme adalah deteksi dini yang diikuti oleh penanganan yang tepat dan benar,

    serta intensitas terapi yang dijalani oleh anak autisme. Jika hal tersebut dilakukan, anak dengan

    autisme masih mempunyai harapan untuk lebih baik untuk dapat hidup mandiri (Yanwar

    Hadianto,2003).

    Terapi musik menurut Federasi Terapi Musik Dunia (WMFT) mendefinisikan terapi

    musik adalah penggunaan musik dan elemen musik (suara, irama, melodi, dan harmoni) oleh

    seorang terapis musik yang telah memenuhi kualifikasi, terhadap klien atau kelompok dalam