RASIO NEUTROFIL LIMFOSIT TINGGI SEBAGAI PREDIKTOR .makalah lengkap rasio neutrofil limfosit tinggi

download RASIO NEUTROFIL LIMFOSIT TINGGI SEBAGAI PREDIKTOR .makalah lengkap rasio neutrofil limfosit tinggi

of 22

  • date post

    11-Aug-2019
  • Category

    Documents

  • view

    214
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of RASIO NEUTROFIL LIMFOSIT TINGGI SEBAGAI PREDIKTOR .makalah lengkap rasio neutrofil limfosit tinggi

  • MAKALAH LENGKAP

    RASIO NEUTROFIL LIMFOSIT TINGGI SEBAGAI

    PREDIKTOR LUARAN BURUK PADA PENDERITA

    STROKE ISKEMIK AKUT

    Oleh :

    dr. Octavianus Darmawan

    PPDS-I Neurologi FK UNUD

    Pembimbing :

    dr. I Made Oka Adnyana, Sp.S(K)

    dr. I. B. Kusuma Putra, Sp.S

    DISAMPAIKAN DALAM ACARA ILMIAH

    JAKARTA NEUROLOGY EXHIBITION WORKSHOP AND SYMPOSIUM

    FEBRUARI 2014

  • RASIO NEUTROFIL LIMFOSIT TINGGI SEBAGAI PREDIKTOR

    LUARAN BURUK PADA PENDERITA STROKE ISKEMIK AKUT

    Octavianus Darmawan*, Yoanes Gondowardaja*, I.B. Kusuma Putra**, I Made Oka Adnyana**

    Bagian/SMF Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/RSUP Sanglah

    Denpasar, Bali

    ABSTRAK

    Pendahuluan

    Stroke merupakan penyebab kematian dan kecacatan utama di dunia. Hubungan bermakna berbagai

    petanda inflamasi dengan luaran buruk pada penderita stroke telah banyak diteliti, namun pemeriksaan

    petanda tersebut sering terkendala oleh keterbatasan biaya dan fasilitas. Rasio Neutrofil Limfosit

    (RNL) adalah salah satu petanda inflamasi yang murah dan mudah diperiksa, namun masih jarang

    diteliti pada stroke, khususnya stroke iskemik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar RNL

    tinggi sebagai prediktor luaran buruk selama perawatan pada penderita stroke iskemik akut di RSUP

    Sanglah Denpasar.

    Metode

    Penelitian ini merupakan suatu kohort prospektif pada penderita stroke iskemik akut yang dirawat di

    bangsal rawat inap RSUP Sanglah Denpasar mulai bulan Agustus sampai November 2013.

    Pengukuran kadar RNL dilakukan dalam 48-72 jam sejak awitan stroke. RNL dihitung dari rasio

    antara kadar neutrofil dengan limfosit dari pemeriksaan darah rutin. Luaran stroke digolongkan

    menjadi baik dan buruk melalui nilai NIHSS I saat pasien masuk dan NIHSS II pada hari ketujuh sejak

    awitan. Analisis statistik menggunakan uji chi-square.

    Hasil

    Penelitian melibatkan 110 orang dengan 103 orang yang memenuhi kriteria eligibilitas. Karakteristik

    subyek penelitian meliputi usia, jenis kelamin, jenis stroke iskemik, skor NIHSS I, skor NIHSS II,

    kadar leukosit, neutrofil, limfosit, dan RNL. Rerata RNL didapatkan lebih tinggi pada kelompok

    luaran buruk (6,03) dibanding kelompok luaran baik (3,73). Analisis ROC terhadap RNL dengan

    luaran stroke diperoleh cut off point RNL sebesar 4,67. Analisis statistik menunjukkan kadar RNL

    tinggi sebagai prediktor signifikan (p=0,003) luaran buruk selama perawatan pada penderita stroke

    iskemik akut (RR 3,467; IK 95%: 1,525-7,882).

    Kesimpulan

    RNL tinggi dapat digunakan sebagai prediktor luaran buruk selama perawatan pada penderita stroke

    iskemik akut.

    Kata Kunci: RNL, luaran buruk, stroke iskemik.

    * Peserta Didik PPDS-I Neurologi FK UNUD/RSUP Sanglah Denpasar

    ** Staf Pengajar Bagian/SMF Neurologi FK UNUD/RSUP Sanglah Denpasar

  • HIGH NEUTROPHIL LYMPHOCYTE RATIO AS PREDICTOR OF

    BAD OUTCOME IN PATIENT WITH ACUTE ISCHEMIC STROKE

    Octavianus Darmawan*, Yoanes Gondowardaja*, I.B. Kusuma Putra**, I Made Oka Adnyana**

    Neurology Department, Faculty of Medicine, Udayana University/Sanglah General Hospital

    Denpasar, Bali

    ABSTRACT

    Introduction

    Stroke is a major cause of death and disability worldwide. Significant relation between inflammatory

    marker and stroke outcome had been vastly researched, but measure of these markers was limited by

    minimal resources and facilities. Neutrophil Lymphocyte Ratio (NLR) is a low cost and easy marker

    to measure. Even so, only a few researches were studied on stroke patients, especially ischemic type.

    The aim of this study is to determine whether high NLR can be used as predictor of bad outcome in

    acute ischemic stroke patient.

    Methods

    This is a prospective cohort study of acute ischemic stroke patients admitted to Sanglah General

    Hospital from August until November 2013. NLR was calculated from complete blood count obtained

    at 48-72 hours from onset, using ratio of relative neutrophil count to relative lymphocyte count.

    Outcome was classified into good and bad, according to NIHSS score result taken on admission and

    7th day after the onset. Statistical analysis was performed using chi-square test.

    Results

    A total of 110 patients were enrolled, 103 patients met the criteria. Subject’s characteristic described

    by age, sex, ischemic stroke type, first NIHSS score, second NIHSS score, leucocyte count, neutrophil

    count, lymphocyte count, and NLR. NLR mean was higher in bad outcome group (6,03) compared to

    the good one (3,73). ROC analysis to NLR and stroke outcome resulted in cut off point of NLR 4,67.

    Statistical analysis revealed high NLR level is a significant predictor (p=0,003) of bad outcome in

    acute ischemic stroke patient (RR 3,467; CI 95%: 1,525-7,882).

    Conclusion

    High NLR level can be used as a predictor of bad outcome in acute ischemic stroke patient.

    Keyword: NLR, bad outcome, ischemic stroke.

    * Resident of Neurology Department, Faculty of Medicine, Udayana University/Sanglah General

    Hospital, Denpasar

    ** Lecturer of Neurology Department, Faculty of Medicine, Udayana University/Sanglah General

    Hospital, Denpasar

  • 1

    PENDAHULUAN

    Stroke menurut WHO (World Health Organization) adalah adanya tanda

    klinis fokal atau global yang terjadi mendadak, mengganggu fungsi serebral, dan

    berlangsung selama lebih dari 24 jam atau menimbulkan kematian, tanpa adanya

    penyebab selain vaskular1. Stroke dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu

    stroke iskemik dan perdarahan. Stroke iskemik lebih umum dijumpai dengan

    proporsi sekitar 80%. Mortalitas stroke iskemik lebih rendah dibandingkan

    dengan stroke perdarahan, namun stroke iskemik berkaitan dengan defisit

    neurologi berat yang menimbulkan kecacatan menetap2.

    Stroke merupakan penyebab keempat kematian di Amerika sejak tahun

    2008, dan penyebab utama kecacatan3. Data di Indonesia menunjukkan

    kecenderungan peningkatan kasus stroke, baik dalam hal kematian, kejadian,

    maupun kecacatan4. Riskerda (2007) menunjukkan bahwa stroke merupakan

    penyebab pertama kematian di Indonesia, dengan prevalensi 8,3 per 1.000

    penduduk5.

    Salah satu faktor yang berperan dalam patogenesis stroke adalah inflamasi.

    Inflamasi merupakan respon terhadap cedera pada jaringan hidup yang memiliki

    vaskularisasi6. Otak berespon terhadap proses iskemik melalui aktivasi sel darah

    putih setempat, disertai produksi mediator proinflamasi yang menyebabkan

    infiltrasi berbagai sel radang (neutrofil, limfosit, monosit) ke jaringan otak7.

    Beberapa penelitian telah membuktikan akumulasi sel radang pada area infark

    yang terjadi dalam 48-72 jam sejak awitan berkaitan dengan beratnya kerusakan

    jaringan otak dan buruknya keluaran pasien setelah stroke iskemik8,9.

  • 2

    Hubungan berbagai petanda inflamasi, terutama C-reactive protein dengan

    luaran buruk pada penderita stroke iskemik akut telah banyak diteliti10. Namun

    pemeriksaan petanda tersebut dibatasi oleh fasilitas dan biaya pemeriksaan yang

    tidak murah. Selain itu, hasil yang didapat dari beberapa penelitian mulai

    meragukan kegunaan CRP sebagai petanda inflamasi11,12. Oleh karena itu,

    dikembangkan berbagai penelitian untuk mencari petanda inflamasi lain yang

    mudah diukur dan murah, namun masih tetap reliable untuk digunakan.

    Salah satu petanda inflamasi yang dapat digunakan adalah rasio neutrofil

    dengan limfosit (RNL). Kadar neutrofil dan limfosit didapat dari hitung difensial

    leukosit yang merupakan salah satu komponen pemeriksaan darah rutin13.

    Berbagai penelitian menunjukkan peningkatan neutrofil (neutrofilia) dan

    penurunan limfosit (limfositopenia) segera setelah terjadi cedera jaringan,

    termasuk pada penderita stroke. Neutrofilia dan limfositopenia yang terjadi

    sebagai respon inflamasi akut tersebut menjadi dasar pengukuran rasio neutrofil

    dengan limfosit yang dikenal sebagai RNL7,13,14.

    Peningkatan RNL telah banyak diteliti sebagai faktor prediktor luaran buruk

    pada berbagai kondisi, seperti penyakit kardiovaskular dan keganasan. Namun

    masih jarang dilakukan penelitian tentang RNL sebagai prediktor luaran pada

    penderita stroke, terutama tipe iskemik. Penelitian Oh, dkk. (2009) menunjukkan

    bahwa RNL meningkat pada penderita stroke iskemik dibanding orang normal,

    terutama tipe aterosklerosis pembuluh darah besar dan kardioemboli15. Penelitian

    Park dkk. (2010) menunjukkan bahwa RNL saat masuk dapat digunakan sebagai

    prediktor luaran fungsional setelah tiga bulan pada penderita stroke iskemik16.

  • 3

    Penelitian terbaru oleh Gokhan dkk. (2013) menyimpulkan bahwa RNL dapat

    digunakan sebagai petanda yang sederhana dan mudah diukur untuk memprediksi

    prognosis dan mortalitas pada penderita stroke iskemik dan hemoragik14.

    Berdasarkan uraian tersebut maka diusulkan penelitian tentang kadar RNL

    tinggi sebagai prediktor luaran buruk selama perawatan pada penderita stroke

    iskemik akut di RSU