Rangkuman Tugas 1

download Rangkuman Tugas 1

of 12

  • date post

    21-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    27
  • download

    2

Embed Size (px)

description

Rangkuman Buku Pengenalan Arsitektur Jilid 1 - 2

Transcript of Rangkuman Tugas 1

AR 222 TEORI ARSITEKTUR II TUGAS I :

RANGKUMAN BUKU PENGENALAN ARSITEKTUR JILID 1 & JILID 2

DAN RANGKUMAN TENTANG ARSITEKTUR MODERN, KONTEMPORER, DAN POST-MODERN

OLEH :NAMA :FEBRI GUNAWAN

NRP :21. 2008. 040FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERNCANAAN

JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR

SEMESTER GENAP 2013/2014KATA PENGANTARPuji dan syukur kehadirat Allah Subhanahuwwataala karena atas rahmat dan nikmat-Nya saya dapat menyelesaikan rangkuman ini.Rangkuman ini dibuat untuk memenuhi tugas dalam mata kuliah Teori Arsitektur II. Tujuan dari tugas ini adalah sebagai referensi untuk pengenalan terhadap bidang ilmu arsitektur yang sedang penulis tempuh saat ini. Harapan penulis semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.Tugas ini terdiri dari rangkuman buku Pengenalan Arsitektur (Introduction to Architecture : James C. Snyder) jilid 1 dan jilid 2 serta rangkuman dari artikel-artikel yang tersedia di internet tentang beberapa topik bahasan yang diminta.Terima kasih kepada beberapa pihak yang telah membantu dalam proses pembuatan laporan ini, sehingga laporan ini dapat selesai tepat pada waktunya. Bandung, 24 April 2014PenulisBAB 1 : Asal Mula Budaya Arsitektur

(Amos Rapoport)Bangunan-bangunan yang pertama adalah tempat tinggal, dan orang memerlukan tempat bernaung agar dapat bertahan hidup. Namun tempat bernaung bukanlah merupakan satu-satunya fungsi, atau bahkan bukan fungsi pokok dari perumahan.

Lingkungan buatan (built environment) mempunyai bermacam-macam kegunaan: melindungi manusia dan kegiatan-kegiatannya serta harta miliknya dari elemen-elemen, dari musuh-musuh berupa manusia dan hewan, dan dari kekuatan-kekuatan adikodrati, membuat tempat, menciptakan suatu kawasan aman yang berpenduduk dalam suatu dunia fana dan cukup berbahaya; menekankan identitas sosial dan menunjukkan status; dan sebagainya. Dengan demikian asal mula arsitektur dapat dipahami dengan sebaik-baiknya bila orang memilih pandangan yang lebih luas dan meninjau faktor-faktor sosio-budaya, dalam arti seluas-luasnya, lebih penting dari iklim, teknologi, dan ekonomi.

Dalam keadaan apa pun, interaksi di antara faktor-faktor inilah yang paling tepat untuk menjelaskan bentuk bangunan. Satu penjelasan saja tidak memadai, karena bangunan bahkan rumah yang tampaknya sederhana adalah lebih daripada sekedar objek kebendaan atau struktur. Mereka adalah lembaga gejala budaya dasar.

PEMBEDAAN RUANGDikalangan hewan, tempat-tempat diketahui dan ditandai; termasuk lingkungan rumah, kawasan inti, daerah kekuasaan, dan tempat bersarang, mendapatkan makanan, dan bercumbu. Jadi hewan membuat tempat mereka. Hewan juga menata lingkungan dengan membuat abstraksi dan menciptakan bagn-bagan.

Bila demikian halnya, dapatlah kita harapkan bahwa manusia, lebih daripada hewan, seharusnya mengadakan pembedaan antara ruang-ruang dan tempat-tempat sejak zaman purbakala. Hominid dan manusia memerlukan tempat untuk saling bertemu, untuk membagi-bagikan makanan, dan untuk digunakan sebagai daerah kekuasaan pribadi. Jadi hubungan ruang dan sosial tidaklah acak, tetapi teratur. Perbedaanlah yang pertama kali diketahui, kemudian manusia melukiskan-nya melalui bahasa dan menyatakan-nya melalui bangunan. Dalam pengertian ini, bahasa dan arsitektur bertalian; keduanya mengekspresikan proses kognitif untuk membedakan tempat.Menandai tempat menjadi lebih penting ketika hominid-hominid pertama meninggalkan pohon-pohon mereka dan mulai pindah melintasi padang rumput terbuka, dan pada waktu berikutnya ketika kebutuhan-kebutuhan kognitif dan simbolik serta kemampuan mereka bertambah. Sementara peranan alat dan bahasa dalam proses ini telah dipelajari, peranan bangunan sebagai cara mengkiaskan bagan dan tempat kognitif dalam bentuk fisik nyaris tidak mendapatkan perhatian sama sekali.

Bila terdapat perbedaan dalam ruangan-ruangan yang didiami, maka transisi adalah penting. Secara sosial terdapat ritus dalam hal melintas, yang menandai transisi sosial, dan seringkali hal ini memiliki padanan ruang. Arsitektur memperjelas transisi ruang, yang tentunya mempunyai arti sosial dan konseptual. Jadi tembok, gerbang, pintu, ambang, dan sebagainya sering menandai peralihan antara di dalam/ di luar, suci/ duniawi, pria/ wanita, umum/ pribadi, dan jenis-jenis domain lainnya.Peninggalan ArsitekturSecara lebih umum, dapat ditunjukkan bahwa alam pikiran manusia mempunyai kebutuhan untuk mengadakan pembedaan menggolongkan, memberi nama, dan membedakan di antara tempat-tempat; taksonomi dan domain merupakan dasar bagi pengingatan dan untuk menjadikan dunia bermakna.Dalam tahun-tahun belakangan ini asal-usul manusia telah terdorong mundur dalam waktu. Bangunan-bangunan juga tampaknya mundur lebih jauh daripada yang mungkin diduga orang selama ini. Contoh yang menyolok ialah pembuktian bahwa hominid-hominid seperti Australopithecines. Pliosen Atas memiliki beberapa tempat bernaung. Unsur-unsur batu berbentuk setengah lingkaran yang mungkin menjadi penahan angin atau pondasi untuk gubuk selebar 2 meter terdapat di Olduvai Gorge, Tanzania, dan berasal dari kira-kira 1,8 juta tahun yang lalu. Tampaknya tempat ini telah dibuat dengan baik ketika itu; hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa home-base behavior merupakan ciri pokok dari perilaku manusia yang berbeda dengan perilaku hewan tegak lainnya. Fungsi bukan-tempat bernaung dari konstruksi demikian yang menandai rumah (keluarga) barangkali setidak-tidaknya sama pentingnya (kalau tidak lebih penting) dengan peranannya sebagai tempat bernaung.Contoh berikutnya berasal dari kurun waktu yang jauh lebih baru hanya berasal dari 300.000 tahun lalu! Yaitu suatu perkampungan di Terra Amata, dekat Nice di selatan Perancis. Di situ terdapat 21 gubuk utama dalam satu kelompok dan 11 gubuk dalam kelompok lain. Bentuk tempat-tempat tinggal ini lonjong memanjang, dengan panjang antara 26 dan 49 kaki dan lebar 13 sampai 20 kaki. Mungkin sekali bahwa masing-masing gubuk ditempati oleh lebih dari satu keluarga, dan jumlahnya memberikan petujuk adanya suatu kelompok keluarga. Konstruksi rumah yang dihuni oleh beberapa keluarga menunjukkan adanya organisasi kemasyarakatan yang rumit. Rumah-rumah dibangun dengan memasukkan batang-batang panjang bergaris tengah 3 inci ke dalam tanah secara beraturan, membengkokkannya kebagian dalam, dan mengikatnya pada sederet tiang tengah (tidak diketahui apakah disini digunakan balok bubungan). Batu-batu di letakkan sepanjang dasar tembok. Disebelah dalam, di tengah, terdapat sebuah tungku pendiangan dapat berupa sebuah parit dangkal atau suatu bidang tumpukan batu.Di zaman baru, tanggal tempat tinggal, dusun, dan hasil-hasil kognitif lainnya juga bergeser mundur. Sebagai contoh terakhir,

Apakah Arsitektur itu?Sudah pasti bahwa asal mula arsitektur lebih dini dari arsitek pertama, yang biasanya dianggap sebagai si perancang piramida berbentuk tangga di Mesir. Bahkan orang memasukkan pembangun rumah kepala-kepala suku dan bangunan-bangunan ritual, sebagian besar dari apa yang dibangun tidak dirancang oleh kalangan profesional tapi lebih merupakan dorongan ekspresi arsitektural yang sama yang mendorong rancangan gaya modern (yang dilakukan oleh para perancang). Jadi dalam mempersoalkan asal mula arsitektur atau pemahaman tentang apakah arsitektur itu, kita harus memperhatikan tradisi rakyat atau tradisi yang disenangi masyarakat bangunan-bangunan yang disebut primitif atau asli yang selalu merupakan bagian terbesar dari lingkungan buatan dan yang hakiki bagi setiap generalisasi yang absah, dan yang pasti penting untuk suatu pembahasan tentang asal mula.Semua lingkungan berasal dari pilihan yang dibuat dari semua alternatif yang mungkin. Pilihan yang khas cenderung menuruti hukum, mencerminkan kebudayaan manusia yang bersangkutan. Sesungguhnya, salah satu cara untuk memandang kebudayaan ialah dari segi pilihan yang paling umum dibuat. Keabsahan keputusan inilah yang menjadikan tempat dan bangunan jelas berbeda satu sama lain; ketaatan pada norma ini juga menghasilkan cara-cara khas dalam berpakaian, berperilaku, makan, dan sebagainya. Ia mempengaruhi cara manusia berinteraksi serta menyusun ruang dan waktu. Pilihan-pilihan yang tetap ini menghasilkan gaya baik pada lingkungan buatan ataupun pada kehidupan.Dalam membuat pilihan ini diperlukan nilai-nilai, norma-norma, kriteria, dan anggapan-anggapan tertentu. Semuanya ini sering terwujud dalam bagan yang ideal. Lingkungan, mencerminkan dan mengkiaskan skemata-skemata serta tatanan yang mereka cirikan. Tatanan yang diekspresikan melalui proses pemilihan, citra yang terkandung, dan bentuk yang diberikan merupakan suatu pandangan dari lingkungan ideal yang dikemukakan oleh lingkungan buatan betapapun tidak sempurnanya. Lingkungan-lingkungan demikian diartikan sebagai rona bagi jenis manusia yang menganggap suatu kebudayaan tertentu sebagai normatif, dan bagi jenis gaya hidup yang dianggap penting dan khas dari kelompok tersebut dan yang membedakannya dari kelompok-kelompok lain. Sesungguhnya, apa yang kita sebut kebudayaandapat dilihat dalam tiga cara utama: sebagai suatu cara hidup yang mencirikan suatu kelompok; sebagai suatu sistem lambang, arti, dan skemata kognitif, dan sebagai suatu perangkat strategi penyesuaian diri guna kelangsungan hidup, dalam kaitannya dengan ekologi dan sumber daya.Dengan demikian, kebudayaan menyangkut sekelompok manusia yang memiliki seperangkat nilai dan keyakinan dan suatu pandangan terhadap dunia yang mewujudkan suatu cita-cita. Ketentuan ini juga menimbulkan pilihan-pilihan yang sistematik dan mantap. Dengan pernyataan kita terdahulu bahwa arsitektur terutama sekali merupakan hasil dari faktor-faktor sosiobudaya, dan dengan definisi kita tentang perancangan yang mencakup pengubahan-pengubahan yang paling berguna terhadap lingkungan fisik, arsitektur dapat dianggap sebagai suatu konstruksi yang dengan sengaja mengubah lingkungan fisik menuru