rancangan penelitian identifikasi plankton

of 23 /23
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air adalah sumber daya alam yang sangat vital, yang mutlak diperluka bagi hidup dan kehidupan manusia. Salah satu sumberdaya perairan yang memiliki potensial dalam pemanfaatannya adalah waduk. Waduk adalah danau buatan atau kolam besar tempat penyimpanan air sediaan untuk berbagai kehidupan. fungsi waduk secara prinsip ialah menampung air saat debit tin untuk di gunakan saat debit rendah. Waduk merupakan tempat pada muka lahan untuk menampung air pada musim basah sehingga air itu dapat dimanfaatkan pada musim kering. Air ya simpan dalam waduk terutama berasal dari aliran permukaan dan di tambah dengan yang berasal dari air hujan. Waduk merupakan suatu piranti untuk membenahi daur hidrologi atau neraca air suatu wilayah sehingga lebih bermanfaat bagi pemenuhan kebutuhan penduduk (Notohadiprawiro !!"#. $utarga et al. (!!%# mengatakan bahwa waduk dan danau berperan sebagai reservoir yang dapat dimanfaatkan airnya untuk keperluan sistem irigasi d perikanan, sebagai sumber air baku, sebagai tangkapan air untuk pengendal banjir, serta penyuplai tanah. Waduk &iwaka adalah salah satu waduk yang terletak di desa 'engampelan Walantaka $ota Serang. $eberadaan Waduk &iwaka dinilai sangat penting dalam menciptakan keseimbangan hidrologis atau tata air permukaan antara lain bermanfaat untuk air irigasi, air baku domestik, pengendalian dan konservasi. Waduk &iwaka memiliki luas ,) hektar dengan kedalaman air rata*rata meter dan memiliki daya tampung +!.!!! m 3 ( S A' !-)#. 'lankton adalah mahluk (tumbuhan atau hewan# yang hidupnya mengapung, mengambang atau melayang di dalam air yang kemampuan renangnya (kalaupun ada# sangat terbatas hingga selalu terbawa hanyut ole (Nontji !!%#. $etersediaan plankton di perairan di pengaruhi oleh kandun nutrien dan kondisi fisika*kimia perairan. Semakin tinggi kandungan nutri suatu perairan maka kelimpahan plankton di perairan tersebut akan semakin tinggi. Sagala (!!+# mengatakan bahwa kesuburan suatu perairan antara la 1

Embed Size (px)

description

kualitas air

Transcript of rancangan penelitian identifikasi plankton

BAB 1PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Air adalah sumber daya alam yang sangat vital, yang mutlak diperlukan bagi hidup dan kehidupan manusia. Salah satu sumberdaya perairan yang memiliki potensial dalam pemanfaatannya adalah waduk. Waduk adalah danau buatan atau kolam besar tempat penyimpanan air sediaan untuk berbagai kehidupan. fungsi waduk secara prinsip ialah menampung air saat debit tinggi untuk di gunakan saat debit rendah.Waduk merupakan tempat pada muka lahan untuk menampung air pada musim basah sehingga air itu dapat dimanfaatkan pada musim kering. Air yang di simpan dalam waduk terutama berasal dari aliran permukaan dan di tambah dengan yang berasal dari air hujan. Waduk merupakan suatu piranti untuk membenahi daur hidrologi atau neraca air suatu wilayah sehingga lebih bermanfaat bagi pemenuhan kebutuhan penduduk (Notohadiprawiro 2006). Kutarga et al. (2008) mengatakan bahwa waduk dan danau berperan sebagai reservoir yang dapat dimanfaatkan airnya untuk keperluan sistem irigasi dan perikanan, sebagai sumber air baku, sebagai tangkapan air untuk pengendalian banjir, serta penyuplai tanah.Waduk Ciwaka adalah salah satu waduk yang terletak di desa Pengampelan Walantaka Kota Serang. Keberadaan Waduk Ciwaka dinilai sangat penting dalam menciptakan keseimbangan hidrologis atau tata air permukaan antara lain bermanfaat untuk air irigasi, air baku domestik, pengendalian banjir dan konservasi. Waduk Ciwaka memiliki luas 4,5 hektar dengan kedalaman air rata-rata 2 meter dan memiliki daya tampung 90.000 (DSDAP 2015).Plankton adalah mahluk (tumbuhan atau hewan) yang hidupnya mengapung, mengambang atau melayang di dalam air yang kemampuan renangnya (kalaupun ada) sangat terbatas hingga selalu terbawa hanyut oleh arus (Nontji 2008). Ketersediaan plankton di perairan di pengaruhi oleh kandungan nutrien dan kondisi fisika-kimia perairan. Semakin tinggi kandungan nutrien di suatu perairan maka kelimpahan plankton di perairan tersebut akan semakin tinggi. Sagala (2009) mengatakan bahwa kesuburan suatu perairan antara lain dapat dilihat dari keberadaan organisme planktonnya, karena plankton dalam suatu perairan dapat menggambarkan tingkat produktivitas perairan tersebut. Faktor fisika-kimia perairan terutama unsur hara nitrat dan fosfat sangat berpengaruh pada pertumbuhan plankton. Jika terjadi pencemaran oleh kedua unsur tersebut dapat mengakibatkan peledakan jumlah populasi plankton tertentu yang bisa mengeluarkan zat toksin kedalam perairan. Hal tersebut sangat merugikan bagi organisme yang ada disekitarnya (Wibisono 2005 dalam Siregar 2009). Simanjuntak (2009) mengatakan bahwa zat hara merupakan bahan makanan bagi plankton yang berasal dari limbah industri. Berbagai aktivitas manusia yang berlangsung di sekitar Waduk Ciwaka antara lain budidaya KJA (Keramba Jaring Apung) dan kegiatan domestik dapat mengubah faktor fisika-kimia perairan. Perubahan faktor fisika-kimia tersebut akan mempengaruhi keberadaan plankton di dalam ekosistem perairan yang selanjutnya juga akan mempengaruhi biota air lainnya. Namun sejauh ini belum diketahui keanekaragaman plankton di daerah Waduk Ciwaka dan bagaimana hubungan keanekaragaman plankton tersebut dengan nilai parameter fisika-kimia di Waduk Ciwaka.

1.2 Rumusan MasalahRumusan masalah dalam penelitian ini yaitu :1. Apakah jenis-jenis plankton yang terdapat di Waduk Ciwaka?2. Bagaimana hubungan plankton dengan parameter fisika-kimia perairan di Waduk Ciwaka?

1.3 TujuanTujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi komunitas plankton serta hubungannya dengan parameter fisika-kimia perairan.

1.4 ManfaatHasil dari penelitian ini di harapkan bermanfaat untuk :a) Memberikan informasi tentang keanekaragaman plankton di Waduk Ciwaka Kota Serang Provinsi Banten.b) Memberikan informasi yang berguna bagi instansi terkait tentang kondisi perairan di Waduk Ciwaka Kota Serang Provinsi Banten.

BAB 2TINJAUAN PUSTAKA

2.1 WadukWaduk menurut pengertian umum merupakan tempat pada muka lahan untuk menampung air pada musim basah sehingga air itu dapat dimanfaatkan pada musim kering. Air yang di simpan dalam waduk terutama berasal dari aliran permukaan dan di tambah dengan yang berasal dari air hujan. Waduk merupakan suatu piranti untuk membenahi daur hidrologi atau neraca air suatu wilayah sehingga lebih bermanfaat bagi pemenuhan kebutuhan penduduk (Dradjad 2006). Kutarga et al. (2008) mengatakan bahwa waduk dan danau berperan sebagai reservoir yang dapat dimanfaatkan airnya untuk keperluan sistem irigasi dan perikanan, sebagai sumber air baku, sebagai tangkapan air untuk pengendalian banjir, serta penyuplai tanah.Waduk termasuk kedalam jenis danau yang dibedakan berdasarkan proses terjadinya danau yaitu danau buatan. Danau buatan (waduk) adalah danau yang sengaja dibuat oleh manusia untuk keperluan dan tujuan-tujuan tertentu seperti berkaitan dengan kepentingan pengadaan listrik tenaga air, perikanan, pertanian dan rekreasi. Sedangkan danau alam terbentuk secara alami karena tenaga alam tanpa adanya campur tangan manusia. Berikut jenis danau alami berdasarkan proses terbentuknya (Samadi 2007).a. Danau Tektonik yaitu danau yang terjadi akibat adanya proses tektonik yang mengakibatkan dislokasi lapisan batuan, seperti lipatan dan patahan. Pada muka Bumi yang mengalami pemerosotan diisi oleh air.b. Danau Vulkanik yaitu danau yang terletak pada bekas lubang kepundan (kawah) sebuah gunung api.c. Danau Tektonvulkanik yaitu danau yang terbentuk dari gabungan proses tektonik dan vulkanik.d. Danau Karts yaitu danau yang terbuat akibat pelarutan batu kapur yang membentuk cekungan-cekungan yang terisi air.e. Danau Glasial yaitu danau yang terbentuk akibat erosi oleh gletser. Jenis danau glasial banyak dijumpai di wilayah sekitar kawasan iklim kutub.Berdasarkan tingkat kesuburannya, waduk dapat diklasifikasikan menjadi tiga sebagai berikut (Effendi 2003).a. Oligotrifik (miskin unsur hara dan produktivitas rendah), yaitu perairan dengan produktivitas primer dan biomassa yang rendah. Perairan ini memiliki kadar nitrogen dan fosfor rendah, namun cenderung jenuh dengan oksigen.b. Mesotrofik (unsur hara dan produktivitas sedang), yaitu perairan dengan produktivitas primer dan biomassa sedang. Perairan ini merupakan peralihan antara oligotrofik dan eutrofik.c. Eutrofik (kaya unsur hara dan produktivitas tinggi), yaitu perairan dengan kadar unsur hara dan tingkat produktivitas primer tinggi. Perairan ini memiliki kecerahan yang rendah dan kadar oksigen pada lapisan hipolimnion dapat lebih kecil dari 1 mg/liter.

Tabel 1. Tingkat Kesuburan Danau dan Waduk Berdasarkan Kadar Beberapa Parameter Kualitas AirParameterKlasifikasi Kesuburan

OligotrofikMesotrofikEutrofik

1. Fosfor total (mg/liter)< 1010 20> 20

2. Nitrogen total (mg/liter)< 200200 500> 500

3. Klorofil (mg/liter)< 44 10> 10

4. Kecerahan secchi disk (m)> 42 4< 2

5. Persentase kadar oksigen saturasi pada lapisan hipolimnion> 8010 80< 10

6. Produksi fitoplankton (g C//hari)7 2575 250350 700

Sumber: Novotny dan Olem (1994) dalam Effendi (2003)2.2 PlanktonHutabarat dan Evans (1985) dalam Tuwo (2013) mengatakan bahwa plankton adalah suatu organisme yang terpenting dalam ekologi perairan tawar, kemudian dikatakan bahwa plankton merupakan salah satu organisme yang berukuran kecil dimana hidupnya terombang-ambing oleh arus perairan. Suthers dan Rissik (2008) mengatakan bahwa plankton adalah biota yang berukuran kecil (dari mikron hingga cm) hidup di air dan hanyut mengikuti arus mulai dari yang tidak kasat mata seperti bakteri hingga yang terlihat mata yaitu ubur-ubur.Sunarto (2008) mengatakan bahwa plankton terdiri dari dua kelompok besar organisme akuatik yang berbeda yaitu organisme fotosintetik atau fitoplankton dan organisme non fotosintetik atau zooplankton. Fitoplankton adalah tumbuhan mikroskopik (bersel tunggal, berbentuk filamen atau berbentuk rantai) yang menempati bagian atas perairan (zona fotik). Prabandani (2007) mengatakan bahwa fitoplankton berperan sebagai salah satu bioindikator yang mampu menggambarkan kondisi suatu perairan, kosmopolit dan perkembangannya bersifat dinamis karena dominasi satu spesies dapat diganti dengan lainnya dalam interval waktu tertentu dengan kualitas perairan yang tertentu pula. Perubahan kondisi lingkungan perairan akan menyebabkan perubahan pula pada struktur komunitas komponen biologi, khususnya fitoplankton. Daniel (2007) menyatakan bahwa fitoplankton merupakan tumbuhan planktonik yang mengandung klorofil dan mampu berfotosintesis, menghasilkan senyawa organik seperti karbohidrat dan oksigen. Karena kemampuannya tersebut fitoplankton dapat disebut sebagai produsen primer. Sedangkan menurut Asmara (2005) zooplankton sebagai konsumen pertama yang menghubungkan fitoplankton dengan karnivora kecil maupun besar, yang sangat mempengaruhi rantai makanan di dalam perairan.

(b)(a)

Gambar 1. Beberapa Jenis plankton; (a) fitoplankton dan (b) zooplankton

Basmi (1995) dalam Siregar (2009) mengatakan bahwa plankton dapat dikelompokan berdasarkan beberapa hal, yakni:1. Nutrien pokok yang dibutuhkan, terdiri atas:a. Fitoplankton, yakni plankton nabati (> 90% terdiri dari algae) yang mengandung klorofil yang mampu mensintesa nutrien anorganik menjadi zat organik melalui proses fotosintesis dengan energi yang berasal dari sinar surya.b. Saproplankton, yakni kelompok tumbuhan (bakteri dan jamur) yang tidak mempunyai pigmen fotosintesis dan memperoleh nutrisi dan energi dari sisa organisme lain yang telah mati.c. Zooplankton, yakni plankton hewani yang makanannya sepenuhnya tergantung pada organisme-organisme lain yang masih hidup maupun partikel-partikel sisa organisme, seperti detritus dan debris. Disamping itu plankton ini juga mengkonsumsi fitoplankton.2. Berdasarkan lingkungan hidupnya terdiri atas:a. Limnoplankton, yakni plankton yang hidup di air tawar.b. Haliplankton, yakni plankton yang hidup di laut.c. Hipalmyroplankton, yakni plankton yang hidup di air payau.d. Heleoplankton, yakni plankton yang hidupnya di kolam.3. Berdasarkan ada tidaknya sinar di tempat mereka hidup, terdiri atas:d. Hipoplankton, yakni plankton yang hidupnya di zona afotik.e. Epiplankton, yakni plankton yang hidupnya di zona eufotik.f. Bathiplankton, yakni plankton yang hidupnya dekat dasar perairan yang juga umumnya tanpa sinar. Baik hipoplankton maupun bathiplankton terdiri dari zooplankton seperti Mysid dari jenis Crustaceae dan hewan-hewan planktonis yang tidak membutuhkan sinar.4. Berdasarkan asal usul plankton, ada plankton yang hidup dan berkembang dari perairan itu sendiri dan ada yang berasal dari luar, terdiri atas:a. Autogenik plankton, yakni plankton yang berasal dari perairan itu sendiri.b. Allogenik plankton, merupakan plankton yang datang dari perairan lain.

Berdasarkan habitatnya menurut Setiadi (1999) plankton di kelompokan sebagai berikut:1. Plankton baharia. Plankton oseanik : plankton yang hidup di luar paparan benua.b. Plankton neritik : plankton yang hidup di atas paparan benua (mulut sungai, perairan pantai dan perairan lepas pantai).c. Plankton air payau : plankton yang hidup di perairan salinitas rendah (0,5 30,0 ppt)2. Plankton air tawarArinardi (1957) dalam Sediadi (1999) mengatakan bahwa semua plankton yang hidup di perairan dengan salinitas kurang dari 0,5 ppt.

2.3 Parameter Kualitas AirFaktor abiotik (fisik-kimia) perairan yang mempengaruhi kehidupan plankton antara lain :2.3.1 SuhuCahaya matahari yang masuk ke perairan akan mengalami penyerapan dan perubahan menjadi energi panas. Proses penyerapan ini berlangsung secara lebih intensif pada lapisan atas sehingga lapisan atas perairan memiliki suhu yang lebih tinggi dan densitas yang lebih kecil dari pada lapisan bawah. Kondisi ini pada perairantergenang akan menyebabkan terjadinya stratifikasi thermal pada kolom air. Suhu sangat berperan mengendalikan ekosistem perairan. Organisme akuatik memiliki kisaran suhu tertentu (batas atas dan bawah) yang di sukai bagi pertumbuhannya. Menurut hukum Vant Hoffs kenaikan suhu sebesar 10C (hanya pada kisaran suhu yang masih di tolerir) akan mengingkat aktivitas fisiologis (misalnya respirasi) dari organisme sebesar 2-3 kali lipat. Peningkatan suhu juga menyebabkan peningkatan kecepatan metabolisme dan respirasi organisme air, dan selanjutnya mengakibatkan peningkatan konsumsi oksigen (Effendi 2003).Soetjipta (1993) dalam Iswadi (2008) mengatakan bahwa suhu yang dapat di tolerir oleh organisme pada suatu perairan berkisar antara 20C sampai dengan 30C, selanjutnya Isnansetyo dan Kurniastusi (1995) dalam Yazwar mengatakan suhu yang sesuai dengan fitoplankton berkisar antara 25-30C sedangkan suhu untuk pertumbuhan dari zooplankton berkisar antara 15-35C.

2.3.2 KecerahanKecerahan air tergantung pada warna kekeruhan. Kecerahan merupakan ukuran transparansi perairan, yang di tentukan secara visual dengan menggunakan Secchi disk. Secchi disk diciptakan untuk menghitung tingkat kekeruhan air secara kuantitatif. Tingkat kekeruhan air tersebut dinyatakan dengan suatu nilai yang dikenal dengan kecerahan Secchi disk (Jeffries dan Mills 1996 dalam Effendi 2003).Secara vertikal, kecerahan akan mempengaruhi intensitas cahaya yang akan menentukan tebalnya lapisan eufotik. Dalam distribusi fitoplankton, faktor cahaya sangat penting karena intensitas cahaya sangat diperlukan dalam proses fotosintesis (Arfiati 1992 dalam Apridayanti 2008).

2.3.3 Derajat Keasaman (pH)Secara umum nilai pH menggambarkan seberapa besar tingkat keasaman atau kebasaan suatu perairan. Perairan dengan nilai pH=7 adalah netral, pH7 di katakan kondisi perairan bersifat basa (Effendi 2003). Sutika (1989) dalam Armita (2011) mengatakan bahwa derajat keasaman atau kadar ion H dalam air merupakan salah satu faktor kimia yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan organisme yang hidup di suatu lingkungan perairan. Tinggi atau rendahnya pH air tergantung dalam beberapa faktor yaitu kondisi gas-gas dalam air seperti , konsentrasi garam-garam karbonat dan bikarbonat serta proses dekomposisi bahan organik di dasar perairan.Sebagian besar biota akuatik sensitif terhadap perubahan pH dan menyukai pH sekitar 7-8,5. Nilai pH akan mempengaruhi proses biokimiawi perairan, misalnya proses nitrifikasi akan berakhir jika pH rendah (Novotny dan Olem 1994 dalam Effendi 2003).

2.3.4 Oksigen Terlarut (DO)Kandungan oksigen terlarut merupakan banyaknya oksigen terlarut dalam suatu perairan. Oksigen terlarut merupakan suatu faktor yang sangat penting di dalam ekosistem perairan, terutama dibutuhkan untuk proses respirasi bagi sebagian besar organisme air. Kelarutan oksigen di dalam air sangat dipengaruhi terutama oleh faktor suhu. Kelarutan maksimum oksigen di dalam air terdapat pada suhu 0C, yaitu sebesar 14,16 mg/l . Konsentrasi menurun sejalan dengan meningkatnya suhu air. Peningkatan suhu menyebabkan konsentrasi oksigen menurun dan sebaliknya suhu yang semakin rendah meningkatkan konsentrasi oksigen terlarut (Barus 2001 dalam Yazwar 2008).Kadar oksigen terlarut juga berfluktuasi secara harian (diurnal) dan musiman, tergantung pada percampuran (mixing) dan pergerakan (turbulence) massa air, aktivitas fotosintesis, respirasi, dan limbah (effluent) yang masuk ke badan air (Effendi 2003).

2.3.5 Nitrat Effendi (2003) mengatakan bahwa Nitrat () adalah bentuk utama nitrogen di perairan alami dan merupakan nutrien utama bagi pertumbuhan tanaman dan algae. Nitrat sangat mudah larut dalam air dan bersifat stabil. Senyawa ini di hasilkan dari proses oksidasi sempurna senyawa nitrogen di perairan. Nitrogen di perlukan untuk membran sel dan untuk sumber protein seperti enzim. Nitrogen di perairan merupakan hal terpenting bagi kualitas air. Unsur hara tersebut konsentrasinya biasa meningkat di perairan karena adanya aktivitas manusia melalui pembuangan limbah (Suthers dan Rissik 2008). Effendi (2003) mengatakan bahwa Nitrogen dalam bentuk gas dapat di manfaatkan oleh organisme akuatik, akan tetapi nitrogen dalam perairan tidak dalam bentuk gas. Di perairan, nitrogen berupa nitrogen anorganik dan organik. Nitrat () termasuk dalam nitrogen anorganik selain amonia (), amonium (), nitrit () dan molekul nitrogen ().

2.3.6 Fosfat (Fosfat merupakan unsur penting dalam air. Fosfat terutama berasal dari sedimen yang selanjutnya akan terfiltrasi dalam air tanah dan akhirnya akan masuk kedalam sistem perairan terbuka. Selain itu juga dapat berasal dari atmosfer bersama air hujan masuk ke sistem perairan (Barus 2004 dalam Siregar 2009).Fosfor berperan dalam transfer energi di dalam sel, misalnya yang terdapat pada ATP (Adenosine Triphospate) dan ADP (Adenosine Diphosphate). Ortofosfat yang merupakan produk ionisasi dari asam ortofosfat adalah bentuk fosfor yang paling sederhana di perairan. Ortofosfat merupakan bentuk fosfor yang dapat dimanfaatkan secara langsung oleh tumbuhan akuatik, sedangkan polifosfat harus mengalami hidrolisis membentuk ortofosfat terlebih dahulu sebelum dapat dimanfaatkan sebagai sumber fosfat. Setelah masuk kedalam tumbuhan, misalnya fitoplankton, fosfat anorganik mengalami perubahan menjadi organofosfat. Fosfat yang berikatan dengan ferri bersifat tidak larut dan mengendap didasar perairan. Pada saat terjadi kondisi anaerob, ion besi valensi tiga (ferri) ini mengalami reduksi menjadi ion besi valensi dua (ferro) yang bersifat larut dan melepaskan fosfat keperairan, sehingga meningkatkan keberadaan fosfat diperairan (Effendi 2003).

2.4 Penelitian TerdahuluPenelitian yang dilakukan oleh Daniel (2006) dengan judul Struktur Komunitas Fitoplankton di Estuari Sungai Brantas, Jawa Timur. Pada penelitian tersebut menjelaskan bahwa berdasarkan hasil identifikasi fitoplankton yang di ambil dari perairan estuari Sungai Brantas pada pengamatan ke-1 (Maret 2006), komunitas fitoplankton memiliki komposisi yang terdiri dari 4 kelas dan 31 genus. Keempat kelas fitoplankton hasil pengamatan tersebut adalah kelas Bacillariophyceae (20 genus), Chlorophyceae (7 genus), Cyanophyceae (2 genus) dan Dinophyceae (2 genus). Sedangkan pada pengamatan ke-2 (Juli 2006) komunitas fitoplankton memiliki komposisi yang terdiri dari 3 kelas dengan jumlah jenis 26 genus. Ketiga kelas fitoplankton hasil pengamatan tersebut adalah kelas Bacillariophyceae (20 genus), kelas Cyanophyceae (3 genus) dan Dinophyceae (3 genus). Kelimpahan fitoplankton di estuari Sungai Brantas pada bulan Maret 2006 berkisar antara 1534 23515 sel/l kemudian pada bulan Juli 2006 berkisar antara 10424 1219824 sel/l. Kelimpahan fitoplankton yang mendominasi di setiap bulannya yaitu dari kelas Bacillariophyceae. Tingginya kelimpahan plankton pada bulan Juli 2006 dibanding dengan Maret 2006 disebabkan pengaruh musim, yaitu musim hujan pada bulan Maret 2006 dan musim kemarau pada bulan Juli 2006. Pengaruh musim hujan pada bulan Maret 2006 menyebabkan debit aliran sungai meningkat sehingga menyebabkan kekeruhan pada estuari Sungai Brantas. Hal ini dapat dilihat dari nilai kecerahan yg cenderung rendah (0,25 1 m). Tingginya kekeruhan dan pengaruh debit aliran air yang tinggi menyebabkan proses fotosintesis fitoplankton terhambat sehingga pertumbuhan fitoplankton tidak normal. kandungan nutrien yang di ukur pada estuari Sungai Brantas yaitu konsentrasi nitrat pada bulan Maret 2006 berkisar antara 11,03 43,14 mol/l dan pada bulan Juli 2006 berkisar antara 6,42 14,35 mol/l. Kandungan ortofosfat pada bulan Maret 2006 berkisar antara 0,322 2,95 mol/l sedangkan pada bulan Juli 2006 berkisar antara 3,26 13,67 mol/l. Beberapa pengukuran parameter kualitas air yang mempengaruhi kelimpahan fitoplankton yaitu kecerahan pada bulan Maret 2006 berkisar antara 0,25 1 m dan pada bulan Juli 2006 berkisar antara 0,15 0,9 m. Kemudian suhu pada bulan Maret 2006 berkisar antara 29-33C dan pada bulan Juli 2006 berkisar antara 25,2 28C. Nilai pH berkisar antara 6,1 7,9 pada bulan Maret 2006 dan 7 8,3 pada bulan Juli 2006.Penelitian yang dilakukan oleh Handayani dan Patria (2005) yaitu Komunitas Zooplankton di Perairan Waduk Krenceng, Cilegon, Banten. Pada hasil penelitian tersebut menjelaskan bahwa pada umumnya tidak terdapat perbedaan yang mencolok antara sifat fisika-kimiawi di perairan Waduk Krenceng antara lain bulan November 2002 dengan bulan Maret 2003, terutama pada suhu (29,98 dan 29,43C) dan pH (7,96 dan 7,58). kecerahan di perairan Waduk pada bulan November 2002 sebesar 106,63 cm, sedangkan pada bulan Maret 2003 sebesar 52,48 cm. Oksigen terlarut (DO) pada bulan November 2002 sebesar 7,76 mg/l dan pada bulan Maret 2003 terjadi peningkatan menjadi 10,78 mg/l. Konsentrasi nitrat dan ortofosfat pada bulan November (2002) sebesar 0,85 mg/l dan 0,30 mg/l, sedangkan pada bulan Maret (2003) konsentrasi nitrat dan ortofosfat sebesar 0,27 mg/l dan 0,04 mg/l. Hasil identifikasi zooplankton yang tercatat pada bulan November 2002 dan Maret 2003 sebanyak 13 jenis, termasuk dalam 3 kelas masing-masing Crustacea (5 jenis), Rotifera (6 jenis) dan Rhizopoda (2 jenis). Kelimpahan tertinggi zooplankton pada bulan November 2002 terjadi pada kelas Rotifera terutama jenis Keratela sp. di ikuti dengan Trichocera sp. dan Brachionus sp. Sedangkan kelas Crustacea untuk jenis Eucyclops sp. Pada bulan Maret 2003, kelimpahan zooplankton tertinggi adalah kelas Rhizopoda terutama jenis Difflugia sp., sedangkan jenis lain yang kelimpahannya cukup tinggi adalah Pompholyx sp. dari kelas Rotifera. Jumlah Kelimpahan zooplankton pada bulan November 2002 sebesar 170.000 ind/l (12 jenis), sedangkan pada bulan Maret 2003 kelimpahannya mencapai 960.000 ind/l (13 jenis). Berdasarkan data kelimpahan fitoplankton yang di ambil pada waktu dan tempat yang sama pada bulan November 2002 dan Maret 2003 maka adanya perbedaan perubahan kelimpahan fitoplankton dan zooplankton. Pada bulan November 2002 kelimpahan zooplankton rendah dan kelimpahan fitoplankton tinggi. Hal tersebut dapat diterangkan dengan teori perbedaan kecepatan pertumbuhan oleh Nielsen bahwa populasi fitoplankton akan lebih cepat memperbanyak diri dibandingkan zooplankton. Pada bulan Maret 2003 saat kelimpahan zooplankton tinggi maka kelimpahan fitoplankton rendah. Rendahnya kelimpahan fitoplankton tersebut kamungkinan berkaitan dengan efek pemangsaan oleh zooplankton. Zooplankton tersebut di duga sebagai kelompok herbivora sehingga zooplankton melimpah terjadi penurunan fitoplankton. Penelitian yang di lakukan oleh Purnama (2014) adalah Hubungan Keanekaragaman Plankton Dengan Kualitas Air di Perairan Situ Cibanten Kabupaten Serang. Hasil pengujian parameter fisika-kimia perairan Situ Cibanten yaitu suhu yang terukur berkisar antara 24,3 25,3C. Kecerahan Situ Cibanten masih menunjukan tingkat kecerahan yang tinggi pada setiap stasiun pengamatannya yaitu 100%. Penyebab dari tingkat kecerahan yang tinggi pada saat pengambilan data dilapangan dikarenakan kondisi perairan Situ Cibanten masih terbilang jernih, sebab perairan tersebut merupakan situs ekologi yakni sumber mata air yang masih terjaga kemurniannya. Hasil pengukuran oksigen terlarut berkisar antara 2,64 5,7 mg/l dengan rata-rata 4,02 mg/l. Pengukuran derajat keasaman (pH) berkisar antara 6,25 6,81. Dari hasil identifikasi pada semua plankton pada Situ Cibanten ditemukan 71 genus plankton yang terdiri dari 69 genus fitoplankton dan 2 genus zooplankton dengan jumlah total 2013 individu. Pada masing-masing titik pengambilan sample, jumlah genus tertinggi adalah Navicula dengan jumlah 928 individu, kemudian Fragillaria dengan jumlah 220 individu, lalu Gomphonema dengan jumlah 159 individu, Diatoma dengan 117 individu, Nitzchia dengan 85 individu, selanjutnya Synedra dengan 77 individu. Untuk genus lainnya jumlah total individu pada setiap sampel 30 individu. Genus paling merata keberadaannya pada setiap sampel yakni Navicula dari kelas Bacillariophyceae dan Fragillaria dari kelas Fragilariophyceae. Nilai indeks keanekaragaman antar titik pengambilan sampel di perairan Situ Cibanten yaitu berkisar antara 0,57 1,09 dengan rata-rata 0,77. Jadi berdasarkan indeks keanekaragaman Shannon Wiener kriteria kualitas perairan Situ Cibanten termasuk dalam kategori tercemar ringan sampai tercemar berat (H = 0,57 1,09).Penelitian yang di lakukan oleh Yazwar (2008) yaitu Keanekaragaman Plankton dan Keterkaitannya Dengan Kualitas Air Parapat Danau Toba. Hasil pengukuran sifat fisika-kimia perairan yang di uji yaitu suhu berkisar antara 24,61 26,59C. Kemudian kecerahan berkisar antara 4,29 7,94m. Nilai derajat keasaman (pH) pada perairan Danau Toba berkisar antara 7,30 7,41. Oksigen terlarut pada perairan Danau Toba yaitu berkisar antara 6,80 7,20 mg/l. Pada pengujian fosfat yang terukur di perairan Danau Toba berkisar antara 0,23 0,35 mg/l, sedangkan kandungan nitrat di peraian Danau Toba berkisar antara 10,29 15,47 mg/l. Berdasarkan hasil pengukuran parameter fisika-kimia di perairan Danau Toba stasiun II memiliki nilai tertinggi di bandingkan stasiun I dan III karena terdapat budidaya ikan dengan sistem keramba jaring apung. Pada stasiun I di dapatkan nilai kelimpahan, kepadatan relatif dan frekuensi kehadiran tertinggi dari genus Trichocera kelas Monogononta sebesar 126 ind/l. Hal ini di sebabkan karena genus dari filum Rotifera ini dapat beradaptasi dengan faktor fisika-kimia lingkungan yang relatif memiliki kandungan nutrisi atau zat-zat organik yang cukup tinggi. Nilai kelimpahan, kepadatan relatif dan frekuensi kehadiran terendah pada stasiun I adalah dari genus Bacillaria kelas Bacillariophyceae, genus Pleurodiscus kelas Chlorophyceae dan dari genus Chlorobotrys kelas Xantophyceae sebesar 18,14 ind/l. Ketiga kelas ini merupakan kelompok fitoplankton. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh faktor lingkungan misalnya suhu sebesar 26,59C yang tidak mendukung keberadaan plankton tersebut. Pada stasiun II nilai kelimpahan, kepadatan relatif dan frekuensi kehadiran tertinggi adalah dari genus Diaptomus sebesar 81,63 ind/l dan terendah adalah dari genus Coscinodiscus yaitu 18,14 ind/l. Hal ini kemungkinan karena kondisi lingkungan yang kurang sesuai bagi pertumbuhan genus tersebut. Nilai kelimpahan, kepadatan relatif dan frekuensi kehadiran tertinggi plankton pada stasiun III adalah dari genus Ulothrix sebesar 108,84 ind/l. Genus ini merupakan kelompok fitoplankton yang memiliki kelimpahan tertinggi karena disebabkan oleh faktor lingkungan yang mendukung. Nilai kelimpahan, kepadatan relatif dan frekuensi kehadiran terandah plankton pada stasiun III adalah dari genus Sphaeroplea dan genus Pleurodisus yaitu sebesar 18,14 ind/l. Hal ini kemungkinan karena kondisi lingkungan yang kurang sesuai bagi pertumbuhan genus tersebut. Berdasarkan hasil uji analisis korelasi antara faktor fisika-kimia perairan berbeda tingkat korelasi, arah dan signifikansinya. Nitrat dan fosfat berkorelasi negatif dengan keanekaragaman dan kelimpahan plankton, sedangkan kecerahan dan DO berkorelasi positif. Berkorelasi negatif artinya naiknya nilai faktor fisika-kimia perairan akan menyebabkan menurunnya keanekaragaman dan kelimpahan plankton, sedangkan berkorelasi positif artinya semakin tinggi nilai suatu faktor fisika-kimia perairan makan akan di ikuti oleh tingginya tingkat keanekaragaman dan kelimpahan plankton.

BAB 3METODOLOGI

3.1 Waktu dan TempatPenelitian dilakukan pada bulan Juni 2015 di Waduk Ciwaka Kota Serang, Banten. Identifikasi plankton dilakukan di Laboratorium Budidaya Perikanan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa serta pengujian beberapa parameter kualitas air di lakukan di Laboratorium Pengujian Kualitas Air Dinas Sumber Daya Air dan Pemukiman Provinsi Banten.

3.2 Alat dan BahanAlat dan bahan yang di gunakan dalam penelitian ini yaitu plankton net, sechidisk, spektrofotometer, DO meter, pH meter, termometer, mikroskop, sedgewick rafter, pipet tetes, botol sampel, kertas label, GPS dan alat tulis.

3.3 Metode PenelitianMetode yang di gunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode survei, dengan melakukan pengambilan sampel air dari 3 stasiun yang telah di tentukan. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan 4 kali ulangan dalam selang 7 hari setiap ulangan.Penentuan lokasi pengambilan sampel pada Waduk Ciwaka Kota Serang di lakukan pada 3 stasiun yakni lokasi stasiun 1 dekat dengan inlet waduk, stasiun 2 lokasi KJA (Keramba Jaring Apung) dan lokasi stasiun 3 dekat dengan outlet.

Gambar 2. Lokasi Stasiun Pengambilan Sampel

3.4 Metode Pengambilan Data3.4.1 Sumber Data1. Data primer ini yaitu sumber data asli yang di dapatkan melalui observasi langsung di lokasi Waduk Ciwaka dengan cara meneliti langsung parameter yang dapat di amati di lokasi waduk.2. Data sekunder yaitu data yang di dapat melalui berbagai sumber atau kajian pustaka serta acuan dari peneliti lain. Data sekunder juga di dapatkan melalui kumpulan data primer yang yang telah di sajikan menjadi informasi. Data sekunder yang di butuhkan yaitu data mengenai waduk, plankkton, dan parameter fisika-kimia perairan.

3.4.2 Prosedur penelitianProsedur penelitian yang akan di lakukan sebagai berikut :1. Parameter biologisPengukuran parameter biologis (plankton) dilakukan dengan mengambil sampel air pada setiap stasiun. Waktu pengambilan sampel air dilakukan antara pukul 08.00 10.00 WIB. Sampel air di saring kumulatif sebanyak 30 liter menggunakan jaring plankton (plankton net). Sampel air yang mengandung plankton tersebut dimasukan ke dalam botol sampel.2. Parameter fisika dan kimiawi perairanPengukuran kualitas perairan yang di teliti secara langsung di lokasi Waduk Walantaka Kota Serang meliputi parameter yang terdiri dari suhu, kecerahan, Derajat Keasaman (pH) dan Oksigen terlarut (DO) serta pengukuran skala laboratorium pada kadar Nitrat dan Posfat.a. SuhuPengukuran temperatur air dilakukan dengan menggunakan termometer yang dimasukan ke permukaan perairan.b. KecerahanPengukuran kecerahan dilakukan dengan menggunakan secchi disk yang dimasukan ke dalam badan air hingga pertama kali tidak tampak kemudian ukur panjang tali dan dicatat sebagai (cm). Secchi disk diturunkan lebih dalam lagi hingga benar-benar tidak tampak lalu tarik secara perlahan hingga pertama kali tampak kemudian ukur panjang tali dan catat sebagai (cm). Rata-rata hasil pengukuran tersebut merupakan nilai kecerahan perairan, dihitung dengan rumus sebagai berikut.

Kecerahan (m) =

c. Derajat Keasaman (pH)Pengukuran pH air dilakukan dengan menggunakan pH meter yang dimasukan ke permukaan perairan.

d. Oksigen Terlarut (DO)Oksigen terlarut (DO) diukur dengan menggunakan DO meter. Sampel air diambil kemudian di masukan ke dalam botol dan di lakukan pengukuran oksigen terlarut dengan menggunakan DO meter.e. Nitrat Pengujian kadar nitrat di ukur dengan metode SNI 06-2480-1991 menggunakan alat spektrofotometer secara brusin sulfat.f. Fosfat (Pengujian kadar fosfat ( di ukur dengan metode SNI 06-6989.31-2004 menggunakan alat spektrofotometer secara asam askorbat.

Tabel 2. Parameter pengukuranParameterSatuanMetodeLokasi Pengamatan

1. Biologi (Plankton) Identifikasi

Kelimpahan-

Ind/LMikroskop, Buku IdentifikasiMikroskopLaboratorium

Laboratorium

2. Fisika Suhu KecerahanCcmTermometerSecchi Diskin situin situ

3. Kimia pH DO Nitrat Fosfat-mg/Lmg/Lmg/LSNI 06-6989.11-2004SNI 06-2425-1991SNI 06-2480-1991SNI 06-6989.31-2004in situin situLaboratoriumLaboratorium

3. Identifikasi planktonIdentifikasi plankton dilakukan dengan cara mengamati sampel air pada sedgewick rafter menggunakan mikroskop. Plankton yang di temukan setelah itu di identifikasi berdasarkan pada buku Planktonologi (Sachlan 1982) dan The Marine And Fresh Water Plankton (Davis 1995).

3.5 Analisis DataMetode analisis yang dilakukan pada penelitian ini yaitu analisis kelimpahan plankton (kelimpahan populasi), indeks keanekaragaman dan hubungan plankton dengan kualitas air.3.5.1 Kelimpahan PlanktonPerhitungan kelimpahan plankton dilakukan untuk mengetahui seberapa besar kelimpahan setiap genus tertentu yang ditemukan selama pengamatan. Nilai kelimpahan plankton dihitung menggunakan rumus sebagai berikut (Eaton et al. 1995 dalam Fuadi 2013).

Keterangan :N= kelimpahan plankton (ind/L)Vt= volume yang tersaring (30 ml)Vd= volume yang diambil (L)Asr= luas sedgewick rafter (1000 )Aa= luas lapang pandang mikroskop ()Vsr= volume sedgewick rafter (ml)

3.5.2 Indeks KeanekaragamanKeanekaragaman plankton dihitung dengan menggunakan rumus Shannon-Wiener.

Keterangan :H= indeks keanekaragaman Shannon-Wienerni= jumlah individu spesies ke-iN= jumlah individu seluruh spesiespi= proporsi individu jenis ke-i

3.5.3 Hubungan Plankton Dengan Kualitas AirHubungan antara kualitas air terhadap nilai keanekaragaman plankton akan dihitung menggunakan analisa korelasi Pearson dengan metode komputerisasi SPSS ver. 16.

DAFTAR PUSTAKA

Apridayanti E. 2008. Evaluasi Pengelolaan Lingkungan Perairan Waduk Lahor Kabupaten Malang Jawa Timur. [TESIS]. Semarang: Program Pasca Sarjana, Universitas Diponegoro. 95 hlm

Armita D. 2011. Analisis Perbandingan Kualitas Air Di Daerah Budidaya Rumput Laut Dengan Daerah Tidak Ada Budidaya Rumput Laut, Di Dusun Malelaya, Desa Punaga, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar. [SKRIPSI]. Makasar: Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanudin. 62 hlm

Asmara A. 2005. Hubungan Struktur Komunitas Plankton Dengan Kondisi Fisika-Kimia Perairan Pulau Pramuka dan Pulau Panggang, Kepulauan Seribu. [SKRIPSI]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. 91 hlm

Daniel. 2007. Struktur Komunitas Fitoplankton di Estuari Sungai Brantas, Jawa Timur. [SKRIPSI]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. 83 hlm

[DSDAP] Dinas Sumber Daya Air dan Pemukiman. 2015. Situ/ Waduk Ciwaka

Effendi H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Yogyakarta: Kansius.

Handayani S dan Patria MP. 2005. Komunitas Zooplankton di Perairan Waduk Krenceng, Cilegon, Banten. Makara Sains 9(2): 75-82

Iswadi. 2009. Keragaman Plankton di Lagun Pembuangan Limbah Cair PT. Pupuk Iskandar Muda dan PT. Asean Aceh Fertilizer. Jurnal Biologi Edukasi 1(1): 43-46

Kutarga ZW, Nasution Z, Tarigan R dan Sirojuzilam. 2008. Kebijakan Pengelolaan Danau dan Waduk Ditinjau Dari Aspek Tata Ruang. Jurnal Perencanaan & Pengembangan Wilayah 3(3): 150-156

Nontji A. 2008. Plankton Laut. Jakarta: LIPI Press.

Notohadiprawiro T, Sukodarmodjo S, dan Dradjad M. 2006. Beberapa Fakta dan Angka Tentang Lingkungan Fisik Waduk Wonogiri dan Kepentingannya Sebagai Dasar Pengelolaan. Repro: Ilmu Tanah Universitas Gajah Mada.

Prabandani D, Muntalif BS, dan Sabar A. 2007. Komposisi Plankton di Perairan Waduk Saguling, Jawa Barat. Lingkungan Tropis, Edisi Khusus Agustus 2007: 51-59

Sagala EP. 2009. Potensi Komunitas Plankton Dalam Mendukung Kehidupan Komunitas Nekton di Perairan Rawa Gambut, Lebak Jungkal di Kecamatan Pampangan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Propinsi Sumatera Selatan. Jurnal Penelitian Sains. Edisi Khusus Desember 2009 (D) 9:12-11

Samadi. 2007. Geografi SMA Kelas 1. Jakarta: Yudhistira.

Sediadi A. 1999. Ekologi Dinoflagellata. Oseana 24(4): 21-30

Simanjuntak M. 2009. Hubungan Faktor Lingkungan Kimia, Fisika Terhadap Distribusi Plankton di Perairan Belitung Timur, Bangka Belitung. Jurnal Perikanan 11(1): 31-45

Siregar MH. 2009. Studi Keanekaragaman Plankton di Hulu Sungai Asahan Porsea. [SKRIPSI]. Medan: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sumatera Utara. 76 hlm

Sunarto. 2008. Karakteristik Biologi dan Peranan Plankton Bagi Ekosistem Laut. Karya Ilmiah. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Padjadjaran. Bandung. 41 hlm

Suthers IM dan Rissik D. 2009. Plankton A Guide To Their Ecology And Monitoring For Water Quality. Australia: CSIRO Publishing.

Tuwo AF. 2013. Inverstasi Plankton Yang Berada di Sungai Pami. [SKRIPSI]. Papua: Fakultas Peternakan Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Negeri Papua Manokwari. 73 hlm

Yazwar. 2008. Keanekaragaman Plankton dan Keterkaitannya dengan Kualitas Air di Parapat Danau Toba. [TESIS]. Medan: Sekolah Pasca Sarjana, Universitas Sumatera Utara. 84 hlm10