RANCANGAN DRAF AWAL

download RANCANGAN DRAF AWAL

of 66

  • date post

    25-Jan-2017
  • Category

    Documents

  • view

    219
  • download

    1

Embed Size (px)

Transcript of RANCANGAN DRAF AWAL

  • PEMERINTAH KABPERATURAN DAERA

    NOMO

    PEME

    DENGAN RAHM

    BUPA

    Menimbang : a. bahwa D

    memiliki

    kepenting

    usul dan

    sistem Pe

    Kabupaten

    b. bahwa pe

    serta asal-

    mendapat

    bentuk Pe

    c. bahwa da

    tantangan

    otonomi d

    luas, nyat

    dengan

    demokras

    d. bahwa m

    mengatur

    sepenuhny

    sebagaima

    Tahun 1

    memberik

    UPATEN LOMBOK TIMUR H KABUPATEN LOMBOK TIMUR R 6 TAHUN 2004

    TENTANG

    RINTAHAN DESA

    AT TUHAN YANG MAHA ESA

    TI LOMBOK TIMUR,

    esa sebagai kesatuan masyarakat hukum,

    kewenangan untuk mengatur dan mengurus

    an masyarakat setempat berdasarkan asal

    adat istiadat setempat yang diakui dalam

    merintahan Nasional dan berada di dalam

    ;

    ngakuan terhadap nilai budaya, adat istiadat

    usul sebagai jati diri masyarakat Desa perlu

    wadah pemeliharaan dan pengaturan dalam

    raturan Daerah;

    lam menghadapi perkembangan keadaan dan

    global dipandang perlu menyelenggarakan

    esa dengan memberikan kewenangan yang

    a dan bertanggung jawab yang diwujudkan

    peraturan sesuai dengan prinsip-prinsip

    i, otonomi desa asli, peran serta masyarakat;

    ateri Peraturan-peraturan Daerah yang

    tentang Desa yang telah ada belum

    a mencerminkan semangat Otonomi Daerah

    na diamanatkan Undang-undang Nomor 22

    999 tentang Pemerintahan Daerah, yang

    an kewenangan kepada Desa untuk mengatur

  • 2

    dan mengurus sendiri rumah tangganya, sehingga perlu

    untuk disempurnakan;

    e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana

    dimaksud huruf a, b, c dan d, dipandang perlu

    membentuk Peraturan Daerah tentang Pemerintahan

    Desa;

    Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 69 Tahun 1958 tentang

    Pembentukan Daerah-daerah Tingkat II Dalam Wilayah

    Daerah-daerah Tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat dan

    Nusa Tenggara Timur (Lembaran Negara Tahun 1958

    Nomor 122, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1655);

    2. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-

    Pokok Kepegawaian (Lembaran Negara Tahun 1974

    Nomor 55, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3041)

    sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang

    Nomor 43 Tahun 1999 (Lembaran Negara Tahun 1999

    Nomor 169, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3890);

    3. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang

    Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999

    Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839);

    4. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang

    Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan

    Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 72,

    Tambahan Lembaran Negara Nomor 3848);

    5. Undang-undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang

    Penyelenggara Negara Yang Bebas dan Bersih dari

    Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Tahun

    1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Nomor

    3851);

    6. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang

    Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi

  • 3

    Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Tahun 2000

    Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952);

    7. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2001 tentang

    Pembinaan dan Pengawasan Atas Penyelenggaraan

    Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2001

    Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4090);

    8. Peraturan Pemerintah Nomor 76 Tahun 2001 tentang

    Pedoman Umum Pengaturan Mengenai Desa (Lembaran

    Negara Tahun 2001 Nomor 142, Tambahan Lembaran

    Negara Nomor 4155);

    9. Keputusan Presiden Nomor 44 Tahun 1999 tentang

    Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan dan

    Bentuk Rancangan Undang-undang, Rancangan

    Peraturan Pemerintah dan Rancangan Keputusan

    Presiden (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 70)

    10. Keputusan Presiden Nomor 74 Tahun 2001 tentang Tata

    Cara Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan

    Daerah;

    Dengan persetujuan :

    DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR

    MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG PEMERINTAHAN

    DESA

    BAB I KETENTUAN UMUM

    Pasal 1

    Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan :

    1. Pemerintah Daerah adalah Bupati beserta perangkat Daerah Otonom

    yang lain sebagai Badan Eksekutif Daerah.

  • 4

    2. Bupati adalah Bupati Lombok Timur.

    3. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disebut DPRD adalah

    Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Lombok Timur.

    4. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan Pemerintahan Daerah

    Otonom oleh Pemerintah Daerah dan DPRD menurut asas desentralisasi.

    5. Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan

    untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat

    berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dalam

    sistem Pemerintahan Nasional dan berada di Kabupaten.

    6. Pemerintahan Desa adalah kegiatan penyelenggaraan pemerintahan di

    Desa yang dilaksanakan oleh Kepala Desa sebagai badan eksekutif dan

    Badan Perwakilan Desa sebagai Badan Legislatif.

    7. Pemerintah Desa adalah Kepala Desa dan Perangkat Desa.

    8. Kepala Desa adalah Kepala organisasi Pemerintah Desa yang

    melaksanakan tugas dibidang pemerintahan, pembangunan dan

    pembinaan kemasyarakatan.

    9. Badan Perwakilan Desa yang selanjutnya disebut BPD adalah Badan

    Perwakilan di Desa yang berfungsi mengayomi adat istiadat, membuat

    Peraturan Desa, menampung dan menyalurkan aspirasi serta melakukan

    pengawasan terhadap penyelenggaraan Pemerintahan Desa.

    10. Perangkat Desa adalah pembantu Kepala Desa yang terdiri dari unsur

    staf, unsur pelaksana dan unsur wilayah yang dipilih dan/atau diangkat

    oleh Kepala Desa atas persetujuan BPD.

    11. Sekretaris Desa adalah unsur staf/pelayanan dibidang ketatausahaan dan

    memimpin sekretariat Desa.

    12. Kepala Urusan adalah unsur staf yang membantu Sekretaris Desa yang

    menangani urusan tertentu.

    13. Pelaksana teknis adalah petugas yang membantu Kepala Desa dalam

    bidang teknis tertentu yang dibentuk oleh Kepala Desa berdasarkan

    kebutuhan dan kemampuan Desa.

    14. Panitia Pemilihan adalah Panitia yang bertugas untuk melaksanakan

    pemilihan Kepala Desa, anggota BPD dan Perangkat Desa.

  • 5

    15. Panitia Teknis adalah panitia yang bertugas membantu Panitia Pemilihan

    untuk menyelenggarakan pendaftaran pemilih, pemungutan suara dan

    perhitungan suara pemilihan Kepala Desa, Anggota BPD dan Kepala

    Dusun.

    16. Lembaga Kemasyarakatan Desa adalah Lembaga yang dibentuk oleh

    masyarakat sesuai kebutuhan Desa yang merupakan mitra Pemerintahan

    Desa dalam rangka meningkatkan partisipasi masyarakat dalam

    penyelenggaraan pembangunan.

    17. Badan Usaha Milik Desa yang selanjutnya disingkat BUMDES adalah

    badan usaha yang berbentuk badan hukum sesuai peraturan perundang-

    undangan yang berlaku.

    18. Pembentukan Desa adalah tindakan mengadakan Desa baru di luar atau

    di dalam wilayah Desa-Desa yang telah ada.

    19. Penghapusan Desa adalah tindakan meniadakan Desa yang ada akibat

    tidak memenuhi syarat dan/atau digabung dengan Desa terdekat.

    20. Penggabungan Desa adalah penyatuan dua Desa atau lebih menjadi Desa

    baru.

    21. Dusun adalah wilayah Desa yang merupakan lingkungan kerja

    pelaksanaan Pemerintahan Desa.

    22. Peraturan Desa adalah aturan hukum tertulis yang ditetapkan oleh

    Kepala Desa dengan persetujuan BPD yang mengatur tertib kehidupan

    masyarakat yang mempunyai kedudukan hukum tertinggi di Desa dan

    mengikat seluruh warga Desa serta pihak-pihak lain yang berkepentingan

    dengan Desa tersebut.

    23. Pegawai Negeri adalah mereka yang telah memenuhi syarat-syarat yang

    ditentukan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku,

    diangkat oleh pejabat yang berwenang dan diserahi tugas dalam suatu

    jabatan Negeri atau diserahi tugas Negara lainnya yang ditetapkan

    berdasarkan sesuatu peraturan perundang-undangan dan digaji menurut

    peraturan perundang-undangan yang berlaku.

  • 6

    BAB II PEMBENTUKAN, PENGHAPUSAN DAN PENGGABUNGAN DESA

    Bagian Kesatu Pembentukan Desa

    Pasal 2

    Tujuan pembentukan Desa atau yang disebut dengan nama lain adalah untuk

    meningkatkan pelayanan publik, penyelenggaraan pemerintahan yang baik,

    serta pengembangan partisipasi masyarakat sesuai dengan tingkat

    perkembangan dan kemajuan pembangunan.

    Pasal 3

    (1) Desa dapat dibentuk atas prakarsa atau usulan masyarakat dengan

    memperhatikan asal-usul Desa dan persyaratan yang ditentukan sesuai

    dengan kondisi sosial budaya masyarakat setempat.

    (2) Pembentukan Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat terjadi

    karena pembentukan Desa baru di luar Desa yang telah ada atau sebagai

    akibat pemekaran Desa dan/atau penataan Desa.

    (3) Syarat Pembentukan Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus

    memperhatikan :

    a. Jumlah penduduk paling sedikit 2.500 jiwa atau 500 KK ;

    b. Faktor wilayah mudah dijangkau dalam memberikan pelayanan dan

    pembinaan masyarakat;

    c. Kondisi sosial budaya masyarakat mendukung kehidupan beragama

    dan kehidupan bermasyarakat sesuai dengan tata nilai dan adat

    istiadat serta kearifan lokal setempat ;

    d. Memiliki potensi sumberdaya manusia dan sumberdaya alam dan

    prasarana infrastruktur untuk menunjang penyelengga