Rafdi_ Feasibility Study

download Rafdi_ Feasibility Study

of 16

  • date post

    03-Mar-2018
  • Category

    Documents

  • view

    222
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Rafdi_ Feasibility Study

  • 7/26/2019 Rafdi_ Feasibility Study

    1/16

    PENGOLAHAN MINERAL BERHARGA (Au) DARI TAILING PT. X

    DENGAN METODE HYDROMETALLURGI (SIANIDASI)

    Department Teknik Metalurgi & Material

    Fakultas Teknik

    Universitas Indonesia

    2016

    EKSTRAKSI METALLURGI LANJUT

    Oleh

    RAFDI ABDUL MAJID

    NIM : 150 677 5191

    Pengajar : Dr. Andi Rustandi, MT

    Feasibility Study

  • 7/26/2019 Rafdi_ Feasibility Study

    2/16

    DAFTAR ISI

    BAB I PENDAHULUAN

    I.1 Background Project

    I.2 Tujuan Project

    I.3 Design & Contruction

    I.4 Lokasi Project

    BAB II STUDY LITERATURE

    II.1 Emas

    II.2 Tailing

    II.3 Metode Pengolahan Minerals

    BAB III PENAMBANGAN & PROSES

    III.1 Ore (Bahan Baku)

    III.2 Rencana Penambangan

    III.3 Rencana Proses

    BAB IV ANALISA EKONOMI

    IV.1 Penganggaran (Budgeting)

    IV.2 Pembiayaan (Financing)

    IV.3 Analisa Pasar

    BAB V ORGANISASI & TENAGA KERJA

    V.1 Struktur OrganisasiV.2 Tenaga Kerja

    COMMISIONING

  • 7/26/2019 Rafdi_ Feasibility Study

    3/16

    BAB I PENDAHULUAN

    I.1 Background Project

    Indonesia merupkan Negara yang kaya akan mineral-mineral berharga seperti emas,

    perak, tembaga, timah, nikel, etc. Sebagaimana menurut (Direktorat Statistik Ekonomi

    Dan Moneter, BI 2006 ) Indonesia menempati posisi produsen terbesar kedua untuk

    komoditas timah, posisi terbesar keempat untuk komoditas tembaga, posisi kelima untuk

    komoditas nikel, posisi terbesar ketujuh untuk komoditas emas, dan posisi kedelapan

    untuk komoditas batubara, di tingkat dunia. Namun isu pengolahan mineral berharga

    sesuai undang-undang Republik Indonesia No.4 Tahun 2009 tentang Pertambangan

    Mineral dan Batubara yang bertujuan untuk memaksimalkan pengolahan sumber daya

    alam di dalam negeri, sehingga penambahan nilai berharga mineral baik dari sumber

    primer maupun sekunder menjadi kewajiban setiap industry mineral di Indonesia.

    Salah satu sumber mineral berharga yang belum dimanfaatkan secara maksimal adalah

    minerals sekunder dari pengolahan emas dan perak atau yang disebut dengan tailing.

    sehingga pada paper ini difokuskan pada rencana pembangunan pengolahan emas (Au)

    dan perak (Ag) dari tailing PT.XYZ di Halmahera dengan metode hydrometallurgy.

    I.2 Tujuan Project

    Dengan pemanfaat kembali tailing diharapkan dapat memaksimalkan proses recovery

    logam berharga dan dapat memberikan keuntungan tambahan atau pengaruh positif

    lainnnya terhadap penduduk disekitarnya.

    I.3 Design & Construction

    Pada project ini akan dilakukan tender, sehingga didapatkan dari beberapa kontraktor

    yang akan mendesign dan mengkonstruksi sesuai dengan perencanaan.

  • 7/26/2019 Rafdi_ Feasibility Study

    4/16

    I.4 Lokasi Project

    Project ini direncanakan di Wilayah Kecamatan Malifut Kabupaten Halmahera utara,

    karena sesuai dengan keberadaan sumber bahan baku yang akan digunakan.

    Lokasi Project

  • 7/26/2019 Rafdi_ Feasibility Study

    5/16

    BAB II STUDY LITERATURE

    II.1 Emas (Gold)

    Emas merupakan salah satu logam mulia yang memiliki sifat tidak larut dalam air. Emas

    ditemukan di alam sebagai logam tersendiri dan dalam tellurides. Emas tersebar sangat

    luas dan selalu diasosiasikan dengan quartzataupyrite. Sumber-sumber emas ditemukan

    di deposit-deposit veinsdan alluvialdan seringnya dipisahkan dari bebatuan dan mineral-

    mineral lainnya dengan proses penambangan.

    Unsur kimia emas, dengan simbol Au, diklasifikasikan sebagai logam mulia karena

    sifatnya inert (tidak reaktif) untuk reaksi kimia dalam media non-kompleks. Unsur ini

    merupakan kelompok yang sama seperti tembaga dan perak di tabel periodik dan sering

    ditemukan terkait dengan unsur-unsur di batuannya. Emas juga ditemukan dalam mineral

    yang melimpah, biasanya seperti calaverite(AuTe2), montbroyite(Au2Te3) dan sylvanite

    (AuAgTe4), dalam berbagai konsentrasi dan berasosiasi dengan mineral, misalnya,

    sulfida dan tembaga. Konsentrasi rata-rata emas di bumi kerak adalah 0,005 g/t, yang

    jauh lebih rendah dibandingkan logam lainnya, misalnya, perak 0.07 g/t dan tembaga 50

    g/t. Kadar emas sangat tergantung pada mineral emas dan sifat emas tentunya, misalnya,

    elektrum, berat jenis (specific gravity) 16-19,3 g/mL. Mineral ini adalah campuran perak

    dan emas yang mengandung emas 45-75% (Marsden & House, 1992).

    II.2 Tailing

    Peningkatkan kualitas atau kemurnian bahan galian pada kegiatan usaha pertambangan

    umumnya dilakukukan melalui proses pengolahan. Proses ini dapat berupa pemisahan

    pengotor agar kualitas menjadi meningkat, pemurnian untuk mendapatkan kadar yang

    dikehendaki, atau pengolahan untuk mendapatkan semua komoditas ekonomi yang

    terkandung dalam bahan galian. Proses pengolahan bahan galian untuk memisahkan

    komoditas ekonomi dari unsur atau bahan pengotor sangat sulit untuk mendapatkan

    perolehan (recovery) 100%, yang berarti unsur atau bahan ekonomi tidak seluruhnya

    dapat terambil. Umumnya perolehan dari proses pengolahan yang berkisar 80% - 90%

    sudah dikategorikan optimal. Ini berarti bahwa 10 sampai 20% unsur atau bahan ekonomi

    akan terbuang atau masih terkandung di dalam tailing atau ampas pengolahan. Bahan

    atau unsur yang terbuang dapat dijumpai dalam presentase lebih dari 20% apabila

    kapasitas alat pengolahan memang kurang optimal. Bahkan pada sebagian metode

    pengolahan hanya mencapai perolehan 40% 60%, sehingga hampir separuh bahan

    ekonomi masih terbuang bersama tailing.Tailing merupakan limbah atau by product yang

  • 7/26/2019 Rafdi_ Feasibility Study

    6/16

    dihasilkan dari proses pengolahan bijih (ore) untuk diambil mineral berharganya. Tailing

    umumnya memiliki komposisi sekitar 50% batuan dan 50% air sehingga sifatnya seperti

    lumpur (slurry). Sebagai by product, tailingdapat dikategorikan sebagai limbah berbahaya

    dan berpotensi mencemarkan lingkungan baik dari volume yang dihasilkan maupun

    potensi rembesan pada penampungan tailing (waste damp).

    Tailing dapat mengandung unsur atau bahan ekonomi dalam kadar yang masih tinggi,

    atau pada tambang yang mengolah bahan galian dengan cadangan besar, meskipun

    kadar bahan komoditas ekonomi pada tailing rendah, akan tetapi dengan kuantitas taling

    yang dihasilkan sangat besar maka secara kuantitas kandungan komoditas ekonomi yang

    masih terbawa bersama tailing juga sangat besar.

    II.3 Metode Proses Pengolahan

    Dalam pengolahan minerals terdapat beberapa metode yang digunakan untuk

    mendapatkan minerals berharga secara maksimal yaitu proses hydrometalurgi,

    pyrometallurgi, dan elektrometallurgi.

    Pada project ini direncanakan menggunakan metode hydrometallurgy, karena merupakan

    salah satu metode yang yang lebih efektif dalam pengolahan minerals dengan kadar

    rendah dibandingkan dengan metode lainnya. Proses hydrometallurgy merupakan

    pengolahan logam dari batuan atau bijihnya dengan menggunakan pelarut berair

    (aqueous solution), dimana dalam proses pengolahan emas dengan metode

    hydrometallurgy terdapat beberapa jenis sebagai berikut :

    II.3.1 Meto de Sianid asi

    Sianidasi merupakan salah satu proses hydrometallurgy yang menggunakan

    laruatan sianida sebagai pelarut minerals berharga seperti emas dan perak.

    Ekstraksi emas dengan menggunakan sianida saat ini telah menjadi proses utama

    ekstraksi emas pada skala industri. Namun demikian, penggunaan metode ini

    sama halnya dengan metode ekstraksi lainnya yang masih memiliki potensi

    dampak terhadapa lingkungan. Proses sianidasi terdiri atas dua tahap penting,

    yaitu proses pelarutan dan proses pemisahan emas dari larutannya. Pelarut yang

    biasa digunakan dalam proses sianidasi berupa NaCN, KCN, Ca(CN)2, atau

    campuran ketiganya. Pelarut yang paling sering digunakan adalah NaCN, karena

    mampu melarutkan emas lebih baik dari pelarut lainnya. Secara umum reaksi

    pelarutan Au adalah sebagai berikut:

  • 7/26/2019 Rafdi_ Feasibility Study

    7/16

    4Au + 8CN-+ O2+ 2H2O 4Au(CN)2-+ 4OH-

    Metode pelarutan emas dengan sianida, antara lain adalah :

    a) Metode heap leaching (pelindian tumpukan)Pelindian emas dengan cara menyiramkan larutan sianida pada tumpukan bijih

    emas (diameter bijih < 10 cm) yang sudah dicampur dengan batu kapur. Air

    lindian yang mengalir di dasar tumpukkan yang kedap dikumpulkan untuk

    kemudian dilakukan proses berikutnya. Kemampuan ekstraksi emas berkisar

    35 65 %.

    b) VAT leaching : pelindian emas yang dilakukan dengan cara merendam bijih

    emas (diameter bijih < 5 cm) yang sudah dicampur dengan batu kapur dengan

    larutan sianida pada bak kedap. Air lindian yang dihasilkan kemudiandikumpulkan untuk dilakukan proses berikutnya. Proses pelindian berlangsung

    antara 3 7 hari dan setelah itu tangki dikosongkan untuk pengolahan bijih

    yang baru. Kemampuan ekstraksi emas berkisar 40 70 %.

    c)Agitated tank leached : pelindian emas yang dilakukan dengan cara merendam

    bijih emas (diameter < 0.15 cm) yang sudah dicampur dengan batu kapur

    dengan larutan sianida pada suatu tangki dan selalu diaduk atau diaerasi

    dengan gelembung udara. Lamanya pengadukan biasanya selama 24 jam

    untuk menghasilkan pelindian yang optimal. Air lindian yang dihasilkandikumpulkan untuk kemudian dilakukan proses berikutnya. Kemampuan

    ekstraksi emas dapat mencapai lebih dari 90 %.

    II.3.2 Klorinisasi

    Pada halnya sama dengan proses sianidasi, namun proses ini muncul karena

    dengan adanya persyaratan dalam pengendalian lingkungan yang semakin

    menjadi isu penting.

    Perkembangan saat ini menghasilkan alternatif pendekatan untuk proses sianidasiseperti tiourea, klorin, bromin, tiosulfat, yodium, dan aqua regia leaching. Klorinasi

    memiliki beberapa keuntungan karena memiliki tingkat pelarutan emas lebih tinggi,

    harga rendah pada reagen pelindian dan karakternya non-polusi. Pelarutan emas

    metalik dipelajari menggunakan klorin in-situdari reaksi antara natrium hipoklorit

    komersial dan asam klorida.

  • 7/26/2019 Rafdi_ Feasibility Study

    8/16

    Dalam proses hydrometallurgy masih terdapat beberapa jenis metode yang

    digunakan seperi flotasi, gravity consentration, solvent extraction, etc. namun tidak

    akan dijelaskan lebih lanjut tentang metode tersebut. Karena pada project ini

    direncanakan dengan metode sianidasi.

  • 7/26/2019 Rafdi_ Feasibility Study

    9/16

    BAB III PENAMBANGAN DAN PROSES

    III.1 Ore (Bahan Baku)

    Sesuai dengan penjelasan sebelumnya bahwa bahan baku yang digunakan adalah

    product samping (tailing) dari PT. XYZ yang diperkirakan masih memiliki kandungan

    mineral berharga seprti emas (Au), perak (Ag), dan mineral lainnya.

    Tailing pada PT.XYZ merupakan jenis minerals oksida, sehingga tidak termasuk dalam

    minerals kompleks yang membutuhkan banyak pre-treatment seperti roasting sebelum

    dialakukan proses leaching untuk memisahkan mineral berharga.

    Gambar 1: Lokasi waste dam (tailing)

    III.2 Rencana Penambangan

    Rencana penambangan kembali tailing hasil pengolahan dilakukan seperti pada diagram

    alir berikut:

    PembersiahanLokasi Tailin

    PengerukanKembali

    Pengangkutan kelokasi pengolahan

    Perbersihan/Cleanin

    Pengolahan /Ekstraksi

    PengendalianLimbah

    Penjualan

  • 7/26/2019 Rafdi_ Feasibility Study

    10/16

    III.3 Rencana Proses

    Cleaning

    Screening

    Thickner

    SolutionSolid

    Waste damPrecipitation

    SolidAir

    Calcine

    Melting

    ( Bullion)

    Grinding

    Leaching

    Ore ( Tailing )

  • 7/26/2019 Rafdi_ Feasibility Study

    11/16

    Ore

    Di dapatkan dari tailing PT. XYZ

    Cleaning

    Proses ini dilakukan untuk memisahkan kotoran-kotoran baik organic maupun

    non-organik yang terdapat pada tailing.

    Screening

    Screening dilakukan untuk menyeragamkan ukuran ore yang akan di gunakan

    yaitu < 75 mikrion pada proses selanjutnya. Sehingga ore yang oversize akan

    diupankan ke grinding untuk dilakukan pengecilan ukuran kemudia diumpankan

    ke thickener untuk dilakukan peningkatan padatan dalam slurry hingga 50%.

    Leaching

    Proses leaching dilakukan dengan menambahkan larutan NaCN sebagai pelarut

    dan kapur hidrat untuk menjaga pH proses dengan proses aerasi yaitu

    penambahan O2untuk mengoksidasi logam emas. Menurut beberapa referensi,

    pH yang terbaik pada proses leaching dengan menggunanan pelarut NaCN

    adalah antara 10-11. Proses yang terjadi dapat dilihat pada reaksi berikut:

    2Au + 4CN-+ O2 + 2H2O 2 [Au (CN)2]- + H2O2 + 2OH-

    2Au + 4CN- + H2O2 2 [Au (CN)2]- + 2OH-

    4Au + 8CN- + O2 + 2H2O 4 Au (CN)2- + 4OH-

    Ag + 2CN- [ Ag(CN)2]- + e -

    Precipitation

    Proses ini dilakukan dengan menambahkan zinc dust untuk mengikat unsur

    logam emas, sehingga membentuk endapan yang akan di dikeringkan pada

    proses selanjutnya,

    Calcine

    Proses ini dilakukan untuk menghilangkan kadar air yang terdapat pada

    endapan emas.

    Melting

    Proses ini dilakukan dengan meleburkan padatan dari hasil proses calcine untuk

    mendapatkan bullion.

  • 7/26/2019 Rafdi_ Feasibility Study

    12/16

    BAB IV ANALISA EKONOMI

    IV. 1 Penganggaran (Budgeting)

    Proses budgeting project pembangunan pabrik pengolahn di tentukan berdasarkan biaya

    yang digunakan pada tiap unit kerja. Metode yang digunkan adalah down to top, diamana

    semua disiplin menentukan kebutuhan biayanya berdasarkan untik kerja masing-masing.

    Pada project budgeting dilakukan dengan melibatkan team, material, dan aktivitas kerja

    selama 6 bulan (24 weeks). Berikut adalah break down budget pada tiap unit kerja:

    No. Deskripsi Pekerjaan Sub-pekerjaan Biaya ($)x 1000

    1. Penambangan

    Pembersihan lokasi tailing 30

    Pengerukan kembali

    Pengangkutan

    2. Engineering

    Proses engineering

    35

    Mechanical engineering

    Instrument engineering

    Electrical engineering

    Civil engineering

    3. ProcurementPurchase order

    25Shipping

    4. ConstructionCivil

    30Mechanical

    Electrical

    5. Commisioning 5

    Note: biaya yang digunakan adalah hasil asumsi

    IV. 2 Pembiayaan (Financing)

    Project financing merupakan salah satu pendekatan untuk mengoptimalkan return suatu

    project investasi. Pendananaan investasi suatu project dengan skema project financing

    ini berbeda dengan skema pinjaman konvensional dan dipandang memiliki keuntungan

    dibandingkan dengan konvensional lending.

    Terdapat beberapa model pembiayaan project yang digunakan untuk mengontrol jalannya

    project seprti Build-Transfer-Operate (BTO), Build-Own-Operate (BOO), dan Build-Own-

  • 7/26/2019 Rafdi_ Feasibility Study

    13/16

    Operate-Transfers (BOOT). Pada project ini digunakan model BTO, dimana PT. XYZ

    sebagai owner dan PT. ABC sebagai kontraktor konstruksi yang medapat kepercayaan

    untuk membangun hingga selesai, kemudian di operasikan oleh PT. XYZ.

    Dalam penggunaan model BTO hanya terbatas pada project, tetapi pada umumya setiap

    pembangunan akan dikontrol dan dikembalikan kepada pemerintah.

    Gambar : skema pembiayaan project (Financing)

    IV. 3 Analisa Pasar

    Menurut James Turk, pendiri perusahaan GoldMoney di British, emas adalah komoditi

    yang special dan unik. Emas diambil dari perut bumi dan terakumulasi dipermukaan bumi.

    Emas tidak dikonsumsi, sehingga jumlahnya terus bertambah dan selalu menjadi barang

    langkah karena jumlah suluruh emas yang ada dipermukaan bumi saat ini diperkirakan

    berkisar 150.000-160.000 ton, dengan total suplai emas diseluruh dunia tiap tahunnya

    berkisar 1,5%-1,7%.

    Contractor

    EPC

    Contract

    Aturan

    & Perizinan

    Finance

    Pemerintah

    OwnerEquity dan

    Pinjaman Bank

    Engineering

    Procurement

    Construction

    Commisioning

    BUILD TRANSFER OPERATE

  • 7/26/2019 Rafdi_ Feasibility Study

    14/16

    Emas digunakan sebagai standar keuangan dibanyak Negara dan juga sebagai alat tukar

    yang relative abadi, dan diterima disemua Negara di dunia, sehingga emas merupakan

    komuditi yang tahan terhadap inflasi dan harga yang cenderung meningkat setiap

    tahunnya sebagaimana pada grafik berikut:

    Garfik: harga emas dunia per tahun (www.investing.com)

    Dari grafik diatas maka proses pembangunan industry pengolahan emas menjadi sesuatu

    yang menarik dan memiliki prospek yang sangat baik.

  • 7/26/2019 Rafdi_ Feasibility Study

    15/16

    BAB V ORGANISASI DAN TENAGA KERJA

    V. 1 Struktur Organisasi

    V. 2 Tenaga Kerja

    No KARYAWAN STAFF JUMLAH

    1. Direktur 1

    2. Sekretaris 1

    3. General Manager 1

    4. Manager Penambangan 1

    5. Manager Proses 1

  • 7/26/2019 Rafdi_ Feasibility Study

    16/16

    6. Manager Keuangan 1

    7. Manager HSE 1

    8. Supervisor penambangan 2

    9. Supervisor Proses 2

    10. Staf Keuangan 2

    11. Supervisor HSE 2

    12. Junior Metallurgi 2

    13. Analis (Laboratory) 2

    14. Staff Keuangan dan Administrasi 3

    Sub Jumlah Karyawan Staff = 22

    COMMISIONING

    Proses ini merupakan proses akhir dari project yang melibatkan beberapa aktivitas sebagai

    berikut :

    a. Pengetesan (testing) seluruh peralatan industry

    b. Review kesesuaian design dengan seluruh hasil project.

    c. Penyerahan suluruh dokumen project ke owner