R. Ruminansia

download R. Ruminansia

of 24

  • date post

    19-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    30
  • download

    0

Embed Size (px)

description

LAPORAN PRAKTIKUMRANSUM RUMINANSIA “PEMBUATAN SILASE”

Transcript of R. Ruminansia

LAPORAN PRAKTIKUM

RANSUM RUMINANSIAPEMBUATAN SILASEKELOMPOK IIIFATMAWATI KHALIFAH

I111 12 261NUR KAMAL AKBAR

I111 12 265RHIZA ACHMAD OS

I111 12 267YULIA IRWINA BONEWATI

I111 12 271

NUR ICHWAN HUSAIN

I111 12 273ANDI SUKMA INDAH

I111 12 275FACHRURROZI

I111 12 277

MUHAMMAD AKBAR

I111 12 279WAHYU ARYANTO U AM

I111 12 281RAHMAT BURHAN

I111 12 283

MUH. FADIEL HAMID

I111 12 285

NESMAWATI

I111 12 287KURNIATI

I111 12 291

WENDY NATALIA

I111 12 293

RAHMA NINGSI

I111 12 295SURYANTI ILYAS

I111 12 297

RUDIANSYAH YUSUF

I111 12 299

ANDI ZHULFIMAN SELLE

I111 12 301

ROSALDI

I111 12 303

RAHMAT HIDAYAT

I111 12 307

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2014

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hijauan makanan ternak merupakan salah satu bahan makanan ternak yang sangat diperlukan dan besar manfaatnya bagi kehidupan dan kelangsungan populasi ternak ruminansia. Oleh karenanya, hijauan makanan ternak sebagai salah satu bahan makanan merupakan dasar utama untuk mendukung peternakan terutama bagi peternak sapi potong, perah atau ternak ruminansia lainnya yang setiap harinya membutuhkan cukup banyak hijauan pakan ternak. Kebutuhan akan hijauan pakan akan semakin banyak sesuai dengan bertambahnya jumlah populasi ternak yang dimiliki. Kendala utama di dalam penyediaan hijauan pakan adalah produksinya tidak dapat tetap sepanjang tahun. Pada saat musim penghujan, produksi hijauan makanan ternak akan melimpah, sebaliknya pada saat musim kemarau tingkat produsinya akan rendah, atau bahkan dapat berkurang sama sekali. Demi ketersediaan hijauan makan ternak yang tetap sepanjang tahun, maka diperlukan teknologi pengawetan hijauan yang menjadikan kualitas hijauan hampir sama seperti sebelum diolah. Silase merupakan salah satu teknologi yang memiliki tujuan untuk proses pengawetan hijauan makanan ternak sehingga ketersedian sumber serat tersedia sepanjang tahun, dimana teknikpenyimpanan yang dapat dimanfaatkan tidak hanya dalam musim kemarau, tetapi di semua musim. Bahan untuk pembuatan silase bisa berupa hijauan atau bagian bagian lain dari tumbuhan yang disukai ternak ruminansia. Hal inilah yang melatarbelakangi Praktikum Pembuatan Silase.B. Tujuan dan Kegunaan

Adapun tujuan dilakukannya Praktikum Pembuatan Silase adalah untuk mengetahui kualitas silase dari segi warna, tekstur, ph, dan ada tidaknya jamur pada silase yang terbuat dari bahan pakan berupa jerami padi 60%, daun murbei 20%, dan konsentrat 20%.Adapun kegunaan dilakukannya Praktikum Pembuatan Silase adalah agar praktikan dapat mengetahui cara pembuatan silase dan kualitas silase yang baik.BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Gambaran Umum Jerami PadiPadi merupakan tumbuhan monocotyl yang tumbuh di daerah tropis. Tanaman padi yang telah siap panen akan diambil butiran-butirannya dan batang serta daunnya akan dibuang. Batang dan daun inilah yang disebut dengan jerami. Jerami merupakan salah satu limbah pertanian yang belum dimanfaatkan secara optimal. Selama ini jerami padi digunakan untuk pakan ternak dan media tumbuh jamur. Meskipun demikian jerami masih berlimpah dan terkadang harus dibakar (Auda, 2010).Sebatang jerami yang telah dirontokkan gabahnya terdiri atas (Auda, 2010): 1. Batang (lidi jerami) kurang lebih sebesar lidi kelapa dengan rongga udara memanjang di dalamnya. 2. Ranting jerami merupakan tempat dimana butiran butiran menempel. Ranting jerami ini lebih kecil, seperti rambut yang bercabang-cabang meskipun demikian ranting jerami mempunyai tekstur yang kasar dan kuat. 3. Selongsong jerami adalah pangkal daun pada jerami yang membungkus batang atau lidi jerami.Jerami merupakan golongan kayu lunak yang mempunyai komponen utama selulosa. Selulosa adalah serat polisakarida yang berwarna putih yang merupakan hasil dari fotosintesa tumbuh - tumbuhan. Jumlah kandungan selulosa dalam jerami antara 35 - 40 %. Kandungan lain pada jerami adalah lignin dan komponen lain yang terdapat pada kayu dalam jumlah sedikit (Auda, 2010).Komposisi kimia jerami padi dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini

Tabel 1. Komposisi Kimia Jerami Padi SenyawaKomposisi Jerami Kering

Air (%)12

Protein (%)6,8

Lemak (%)2,3

Karbohidrat (%)74

Kalsium (mg/100 gr)0,32

Phospor (mg/100 gr)0,17

Sumber: Auda, 2010. Ketersediaan jerami padi yang cukup tinggi belum dimanfaatkan secara optimal oleh petani peternak bahkan jerami padi sering dibakar sehingga terbuang percuma. Kondisi ini terjadi karena kurangnya pengetahuan petani peternak dalam memanfaatkan jerami padi sebagai pakan ternak ruminansia khususnya sapi Bali (Trisnadewi dkk, 2011).Jerami padi dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak terutama pada saat musim kering, ketersediaan hijauan pakan ternak termasuk rumput terbatas dan sulit dicari. Pemanfaatan jerami padi sebagai pakan ternak mengalami beberapa kendala antara lain, nilai nutrisinya yang rendah dibandingkan dengan rumput segar terutama dalam kandungan protein kasar dan mineral serta kecernaannya. Kandungan protein kasar jerami padi rendah (3-5%), SK tinggi, kekurangan mineral, ikatan lignoselulosanya kuat dan kecernaannya rendah. Rendahnya nilai nutrisi jerami padi disebabkan oleh kadar protein, kecernaan, mineral esensial dan vitamin yang rendah, serta kadar SK yang tinggi (Trisnadewi dkk, 2011).Salah satu usaha untuk meningkatkan kualitas jerami padi dapat dilakukan dengan meningkatkan nilai cernanya melalui pemecahan ikatan kompleks lignoselulosa baik secara kimia, fisika, biologi maupun kombinasinya (Trisnadewi dkk, 2011).B. Gambaran Umum Daun MurbeiTanaman murbei mempunyai potensisebagai bahan pakan yang berkualitas karena potensi produksi, kandungan nutrient dan daya adaptasi tumbuhnya yang baik. Produksi daun murbei sangat bervariasi tergantung pada varietas, lahan, ketersediaan air dan pemupukan. Produksi biomassa murbei dengan interval defoliasi 90 hari akan mencapai 25 ton BK/ha/thn dan produksi daun sebesar 16 ton BK/ha/thn sedangkan produksi daun sebesar 19 ton BK/ha/thn. Potensi produksi tersebut lebih tinggi dibanding dengan leguminosa lain seperti gamal dengan potensi produksi sebesar 7-9 ton BK/ha/tahun (Jaya, 2012).

Kandungan nutrien daun murbei meliputi 22-23% PK, 8-10% total gula, 12-18% mineral, 35% ADF, 45,6% NDF, 10-40% hemiselulosa, 21,8% selulosa. Kandungan nutrien daun beberapa varietas murbei disajikan pada tabel 1. Kualitas daun murbei yang tinggi juga ditandai oleh kandungan asam aminonya yang lengkap. Rata-rata komposisi asam amino daun murbei yang di analisis dari 119 varietas murbei disajikan pada tabel 3. Tanaman murbei juga teridentifikasi mengandung asam askorbat, karoteinase, vitamin B1, asam folat dan provitamin D (Jaya, 2012).Tabel 2. Komposisi Nutrien Daun MurbeiKomposisi NutrienVarietas Murbei

Morus AlbaMorus NigraMorus MulticaulusMorus CathayanaMorus Australis

Air (%)Potein Kasar (%)

Serat Kasar (%)

Lemak Kasar (%)

Abu (%)82.2720.15

13.27

3.62

10.5883.1720.06

16.19

3.63

10.7777.1115.51

12.55

3.64

10.9779.5518.53

12.89

3.69

14.8483.8919.44

12.82

4.10

10.63

Sumber: Jaya, 2012.Komposisi nutrient yang lengkap serta produksi daun yang tinggi menjadikan tanaman murbei potensial dijadikan bahan pakan ternak menggantikan konsentrat khususnya untuk ternak ruminansia. Di Indonesia, tanaman murbei baru digunakan sebagai pakan ulat sutra, sedangkan penelitian atau pemanfaatan murbei sebagai pakan ternak belum dijumpai. Kondisi yang berbeda terjadi di negara bagian Amerika, dimana daun murbei telah digunakan sebagai bahan pakan ternak. Di Indonesia dikenal beberapa spesies murbei yang potensial untuk pakan ulat sutera atau sumber bahan baku pakan ayam, antara lain Morus alba, Morus nigra, Morus multicaulis, Morus astralis, Morus cathayana, Morus mierovra, Morus alba var. Macrophylla, dan Morus bombycis. Daun murbei potensial menjadi sumber pakan di wilayah tropis (Jaya, 2012).

Daun murbei berpotensi baik sebagai sumber pakan alternative karena kandungan proteinnya cukup tinggi yaitu sebesar 20,4 %. Daun tersebut dapat dipanen sepanjang tahun karena tidak mengalami masa istirahat. Tanaman murbei dapat tumbuh baik di daerah tropis. Hal tersebut menunjukkan bahwa tanaman murbei dapat dibudidayakan di Indonesia, sehingga dapat digunakan dalam jumlah yang tinggi sebagai pakan ternak. Namun demikian sebelum digunakan pada ternak secara terus menerus perlu dilakukan kajian untuk mengetahui level pemberian daun murbei yang efisien pada ternak (Syahrir dkk, 2009).Penambahan tepung daun murbei kedalam ransum telah dilakukan, namun pemberian dalam jumlah yang banyak mungkin menyebabkan penurunan produksitvitas ternak. Pemberian tepung daun murbei pada ayam petelur sebanyak 3, 6 dan 9 % dalam ransum memberikan hasil yang semakin baik dibandingkan kontrol. Hasil yang baik ditunjukkan dengan peningkatan berat telur maupun kualitas kuning telur, namun pada pemberian sampai 15% dalam ransum menurunkan kualitas berat telur, yaitu berat dan rasio produksi. Berdasarkan hasil tersebut dapat diduga adanya kandungan senyawa yang membatasi penggunaan daun murbei sebagai pakan ternak (Syahrir dkk, 2009).

Daun murbei merupakan salah satu pakan lokal yang selama ini digunakan sebagai pakan ulat sutra, dan juga memiliki potensi sebagai pakan ternak. Daun murbei menunjukkan hasil yang cukup baik ketika digunakan sebagai pakan ternak ruminansia tetapi belum terdapat laporan hasil penggunaannya sebagai pakan unggas (Has dkk, 2013).Pemanfaatan murbei s