Prosedur Penilaian

24
PROSEDUR PENILAIAN 1. Kajian Materi Pembelajaran Tahap pertama yang harus dilakukan Gadik sebagai penilai adalah mempelajari dan mengkaji materi pembelajaran dari satu atau lebih kompetensi dasar. Kajian materi ini dapat dilakukan melalui beberapa referensi untuk memperoleh bahan secara komprehensif dari beragam sumber dengan bertolak pada kompetensi yang diharapkan. 2. Memilih Teknik Penilaian Tahap kedua Gadik memilih atau menentukan teknik penilaian sesuai dengan kebutuhan pengukuran. Secara garis besar, teknik penilaian dapat digolongkan menjadi dua, yaitu penilaian melalui tes dan non tes. Pusdik dan sekolah biasanya para Gadik banyak menggunakan teknik pertama, yaitu dengan tes. Dalam menentukan keakuratan perlu dipertimbangkan pemilihan teknik, yaitu tingkat ke-akurat-an dan kepraktisan penyusunan dalam setiap butir soal. Pemberian nilai dengan cara tes lebih mudah dibandingkan dengan non tes. TEKNIK PENILAIAN Tes lisan Tes tulis Tes praktek Individu kelompok Uraian Objektif Berstruktur Bebas Terbatas Benar salah Pilihan ganda Isian pendek Individu kelompok

Transcript of Prosedur Penilaian

Page 1: Prosedur Penilaian

PROSEDUR PENILAIAN

1. Kajian Materi Pembelajaran

Tahap pertama yang harus dilakukan Gadik sebagai penilai adalah

mempelajari dan mengkaji materi pembelajaran dari satu atau lebih kompetensi dasar.

Kajian materi ini dapat dilakukan melalui beberapa referensi untuk memperoleh bahan

secara komprehensif dari beragam sumber dengan bertolak pada kompetensi yang

diharapkan.

2. Memilih Teknik Penilaian

Tahap kedua Gadik memilih atau menentukan teknik penilaian sesuai dengan

kebutuhan pengukuran. Secara garis besar, teknik penilaian dapat digolongkan menjadi

dua, yaitu penilaian melalui tes dan non tes. Pusdik dan sekolah biasanya para Gadik

banyak menggunakan teknik pertama, yaitu dengan tes. Dalam menentukan keakuratan

perlu dipertimbangkan pemilihan teknik, yaitu tingkat ke-akurat-an dan kepraktisan

penyusunan dalam setiap butir soal. Pemberian nilai dengan cara tes lebih mudah

dibandingkan dengan non tes.

TEKNIK PENILAIAN

Tes lisan Tes tulis Tes praktek

Individukelompok

Uraian Objektif

BerstrukturBebas

Terbatas

Benar salah

Pilihan gandaIsian pendek

Individu kelompok

Page 2: Prosedur Penilaian

3. Perumusan Kisi – Kisi

Tahap ketiga merumuskan dan membuat matrik kisi-kisi sesuai dengan teknik

penilaian yang telah ditentukan. Kisi-kisi merupakan deskripsi mengenai informasi dan

ruang lingkup dari materi pembelajaran yang digunakan sebagai pedoman untuk menulis

soal atau matriks soal menjadi tes. Pembuatan kisi-kisi memiliki tujuan untuk

menentukan ruang lingkup dalam menulis soal agar menghasilkan perangkat tes yang

sesuai dengan indikator.

Kisi kisi dibuat berdasarkan kompetensi dasar dan indikator yang ingin dicapai

serta bentuk tes yang akan diberikan kepada peserta didik. Tes dapat berbentuk tes

objektif benar-salah, pilihan ganda atau tes uraian serta non tes berupa penilaian afektif

dan psikomotorik.

Kisi-kisi berfungsi sebagai pedoman dalam penulisan soal dan perakitan tes.

Dengan adaya kisi-kisi penulisan soal menjadi terarah, komprehensif dan representatif.

Dengan pedoman kepada kisi-kisi penyusunan soal menjadi lebih mudah dan dapat

menghasilkan soal-soal yang sesuai dengan tujuan tes.

1. Syarat penyusunan Kisi – kisi adalah,

a. Dapat mewakili isi silabus atau kurikulum.

b. Komponen-komponennya rinci, jelas dan mudah dipahami.

c. Materi yang hendak ditanyakan dapat dibuat soalnya sesuai bentuk

soal yang ditetapkan.

d. Sesuai dengan indikator.

2. Komponen kisi – kisi terdiri dari:

1) Komponen Identitas

2) Jenis Pendidikan dan jenjang Pendidikan.

3) Mata pembelajaran.

4) Tahun ajaran.

5) Jumlah soal.

Page 3: Prosedur Penilaian

6) Bentuk soal.

7) Standar Kompetensi.

8) Kompetensi Dasar.

9) Indikator

Dalam pembuatan kisi-kisi harus memenuhi kemampuan kognitif, afektif dan

psikomotorik yang mengacu kepada teori Bloom sebagai berikut:

1. Cakupan yang diukur dalam ranah Kognitif adalah:

a. Ingatan (C1) yaitu kemampuan seseorang untuk mengingat. Ditandai dengan

kemampuan menyebutkan simbol, istilah, definisi, fakta, aturan, urutan, metode.

b. Pemahaman (C2) yaitu kemampuan seseorang untuk memahami tentang

sesuatu hal. Ditandai dengan kemampuan menerjemahkan, menafsirkan,

memperkirakan, menentukan, menginterprestasikan.

c. Penerapan (C3), yaitu kemampuan berpikir untuk menjaring & menerapkan

dengan tepat tentang teori, prinsip, simbol pada situasi baru/nyata. Ditandai

dengan kemampuan menghubungkan, memilih, mengorganisasikan,

memindahkan, menyusun, menggunakan, menerapkan, mengklasifikasikan,

mengubah struktur.

d. Analisis (C4), Kemampuan berfikir secara logis dalam meninjau suatu fakta/

objek menjadi lebih rinci. Ditandai dengan kemampuan membandingkan,

menganalisis, menemukan, mengalokasikan, membedakan, mengkategorikan.

e. Sintesis (C5), Kemampuan berpikir untuk memadukan konsep-konsep secara

logis sehingga menjadi suatu pola yang baru. Ditandai dengan kemampuan

mensintesiskan, menyimpulkan, menghasilkan, mengembangkan,

menghubungkan, mengkhususkan.

f. Evaluasi (C6), Kemampuan berpikir untuk dapat memberikan pertimbangan

terhadap sustu situasi, sistem nilai, metoda, persoalan dan pemecahannya

dengan menggunakan tolak ukur tertentu sebagai patokan. Ditandai dengan

kemampuan menilai, menafsirkan, mempertimbangkan dan menentukan.

2. Aspek Afektif

Page 4: Prosedur Penilaian

Aspek afektif tidak dapat diukur seperti halnya ranah kognitif, karena dalam

ranah afektif kemampuan yang diukur adalah:

a. Menerima (memperhatikan), meliputi kepekaan terhadap kondisi, gejala,

kesadaran, kerelaan, mengarahkan perhatian

b. Merespon, meliputi merespon secara diam-diam, bersedia merespon, merasa

puas dalam merespon, mematuhi peraturan

c. Menghargai, meliputi menerima suatu nilai, mengutamakan suatu nilai, komitmen

terhadap nilai

d. Mengorganisasi, meliputi mengkonseptualisasikan nilai, memahami hubungan

abstrak, mengorganisasi sistem suatu nilai

e. Karakteristik suatu nilai, meliputi falsafah hidup dan sistem nilai yang dianutnya

3. Aspek Psikomotorik

Psikomotorik meliputi (1) gerak refleks, (2) gerak dasar fundamen, (3)

keterampilan perseptual; diskriminasi kinestetik, diskriminasi visual, diskriminasi

auditoris, diskriminasi taktis, keterampilan perseptual yang terkoordinasi, (4)

keterampilan fisik, (5) gerakan terampil, (6) komunikasi non diskusi (tanpa bahasa-

melalui gerakan) meliputi: gerakan ekspresif, gerakan interprestatif.

Berikut ini contoh pembuatan kisi-kisi dalam bentuk matrik dengan bentuk tes

objektif yang bervariasi dan nomor soal dibuat berurutan sesuai dengan bentuk soal dan

indikator.

Tabel 3.1

Contoh Matrik Kisi-kisi

Jenis Pendidikan dan jenjang Pendidikan : Dik TukbaMata pembelajaran : F.T. LantasTahun ajaran : 2008Jumlah soal : 10Bentuk soal : Pilihan GandaStandar Kompetensi : - Memahami pengertian ruang

lingkup tupoksiran Polri.

Page 5: Prosedur Penilaian

- Memahami proses pelaksanaan dikmas, pengkajian masalah gakkum, rek ident PJR dan sistem informasi.

Kompetensi Dasar

IndikatorAspek Jumlah

ButirC1 C2 C3 C4 C5 C6

Memahami pengertian tugas, fungsi, peranan Polisi Lalulintas, dasar hukum, unsur dan permasalahan.

Peserta didik mampu :- Mendefinisikan

pengertian-pengertian yang berkaitan dengan fungsi teknis.

1, 2

2

- Membedakan tugas dan fungsi Polantas.

3,4 2

- Menjelaskan peranan Polantas

5 1

- Menerapkan dasar hukum Polantas di lapangan.

6 1

- Menjelaskan unsur-unsur Polantas.

7 1

- Menganalisis faktor-faktor penyebab timbulnya permasalahan Polisi Lalulintas.

8 1

- menyimpulkan suatu kasus pelanggaran di lapangan

9 1

- menilai kinerja polantas

10 1

Total 2 4 1 1 1 1 10

4. Penulisan Butir Soal

Page 6: Prosedur Penilaian

Tahap keempat, Gadik menulis dan membuat butir-butir soal yang sesuai

dengan kisi-kisi dan bentuk soal yang telah ditentukan. Bila Gadik menggunakan teknik

non tes, maka diperlukan untuk membuat pedoman pengisian instrumen. Misalnya

untuk observasi atau wawancara.

5. Penimbangan/Reviewe

Dalam tahap ini, butir soal dan atau pedoman yang telah disusun Gadik,

ditimbang secara rasional (analisis rasional oleh Gadik) ; dibaca, ditelaah dan dikaji

kembali butir-butir soal dan atau pedoman yang dibuat telah memenuhi persyaratan.

6. Perbaikan

Pedoman diperbaiki sesuai dengan hasil penimbangan, bagian-bagian mana yang

perlu dikurangi atau ditambah kalimat atau kata-katanya perbaikan inipun biasanya

didasarkan kepada pemikiran peserta didik untuk memahami isi dari kalimat yang

diberikan, hal ini mengandung arti bahwa kalimat yang disusun hendaknya mudah di

pahami oleh para peserta didik . .

7. Uji-coba dan Penggandaan.

Uji-coba terhadap tes/soal yang dibuat adalah untuk menentukan apakah butir soal

yang dibuat telah memenuhi criteria yang dituntut, sudahkah mempunyai tingkat

ketetapan, ketepatan, tingkat kesukaran dan daya pembeda yang memadai. Untuk bentuk

non tes kriterianya dituntut adalah tingkat ketepatan (validitas) dan ketetapan (reliabilitas)

sehingga diperoleh perangkat alat tes ataupun non tes yang baku (standar)

8. Diuji (diteskan)

Setelah diperoleh perangkat alat tes ataupun non tes yang memenuhi persyaratan

sudah barang tentu perangkat alat ini diorganisasikan, disusun berdasarkan pada bentuk-

bentuk atau model-model soal bagi perangkat tes, dan untuk perangkat non tes.Setelah

perangkat tes maupun non tes digandakan kemudian siap untuk diujikan.

9. Pemberian Skor

Page 7: Prosedur Penilaian

Lembar jawaban peserta didik dikumpulkan dan disusun berdasarkan nomer

induk peserta didik untuk memudahkan dalam memasukkan skor peserta didik.

Kemudian dilakukan pemberian skor sesuai dengan kunci jawaban, sehingga diperoleh

skor setiap peserta didik. Untuk bentuk soal objektif diberi skor 1 jika benar dan 0 jika

salah, sedangkan skor bentuk essay bergantung kepada tingkat kesulitan soal. Untuk

menafsirkan siapa yang lulus dan tidak lulus bergantung pada batas lulus yang

dipergunakan oleh Gadik.

10. Putusan.

Setelah pengelolaan, sampai pada menafsirkan, Gadik memperoleh putusan akhir

dari kegiatan penilaian. Putusan yang diambil diharapkan obyektif sesuai dengan aturan.

Page 8: Prosedur Penilaian

PENILAIAN PSIKOMOTORIK

Psikomotorik meliputi (1) gerak refleks, (2) gerak dasar fundamen, (3)

keterampilan perseptual; diskriminasi kinestetik, diskriminasi visual, diskriminasi

auditoris, diskriminasi taktis, keterampilan perseptual yang terkoordinasi, (4)

keterampilan fisik, (5) gerakan terampil, (6) komunikasi non diskusi (tanpa bahasa-

melalui gerakan) meliputi: gerakan ekspresif, gerakan interprestatif.

Penilaian psikomotorik dapat dilakukan dengan menggunakan observasi atau

pengamatan. Observasi sebagai alat penilaian banyak digunakan untuk mengukur

tingkah laku individu ataupun proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati, baik

dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan. Dengan kata lain, observasi

dapat mengukur atau menilai hasil dan proses belajar atau psikomotorik. Misalnya

tingkah laku peserta didik ketika praktik, kegiatan diskusi peserta didik, partisipasi

peserta didik dalam simulasi, dan penggunaan ALINS ketika belajar.

Observasi dilakukan pada saat proses kegiatan itu berlangsung. Pengamat

terlebih dahulu harus menetapkan kisi-kisi tingkah laku apa yang hendak diobservasinya,

lalu dibuat pedoman agar memudahkan dalam pengisian observasi. Pengisian hasil

observasi dalam pedoman yang dibuat sebenarnya bisa diisi secara bebas dalam bentuk

uraian mengenai tingkah laku yang tampak untuk diobservasi, bisa pula dalam bentuk

memberi tanda cek (V) pada kolom jawaban hasil observasi.

Tes untuk mengukur ranah psikomotorik adalah tes untuk mengukur penampilan

atau kinerja (performance) yang telah dikuasai oleh peserta didik. Tes tersebut dapat

berupa tes paper and pencil, tes identifikasi, tes simulasi, dan tes unjuk kerja.

1) Tes simulasi

Kegiatan psikomotorik yang dilakukan melalui tes ini, jika tidak ada alat yang

sesungguhnya yang dapat dipakai untuk memperagakan penampilan peserta didik,

sehingga peserta didik dapat dinilai tentang penguasaan keterampilan dengan

bantuan peralatan tiruan atau berperaga seolah-olah menggunakan suatu alat yang

sebenarnya.

2) Tes unjuk kerja (work sample)

Kegiatan psikomotorik yang dilakukan melalui tes ini, dilakukan dengan

sesungguhnya dan tujuannya untuk mengetahui apakah peserta didik sudah

Page 9: Prosedur Penilaian

menguasai/terampil menggunakan alat tersebut. Misalnya dalam melakukan praktik

pengaturan lalu lintas lalu lintas di lapangan yang sebenarnya

Tes simulasi dan tes unjuk kerja, semuanya dapat diperoleh dengan observasi

langsung ketika peserta didik melakukan kegiatan pembelajaran. Lembar observasi dapat

menggunakan daftar cek (check-list) ataupun skala penilaian (rating scale).

Psikomotorik yang diukur dapat menggunakan alat ukur berupa skala penilaian terentang

dari sangat baik, baik, kurang, kurang, dan tidak baik

PENGEMBANGAN INSTRUMEN OBSERVASI

a Hal yang diperhatikan dalam mengembangkan butir tes keterampilan : Mengacu indikator kompetensi yang dikembangkan. Mengidentifikasi langkah kerja yang diobservasi. Menentukan model skala yang dipakai, yakni rating scale atau

check list. Membuat rubrik/pedoman penskoran yang dilengkapi dengan

kategorisasi keberhasilan kompetensi yang dikembangkan.

Mata Pelajaran : PBB Nama :DESI WIJAYANTI, SPdKompetensi Dasar :………………… Nosis : 226

5 4 3 2 1 Keterangan

1. Memperaktekkan aba-aba petunjuk.

a. Intonasi dan Volume Suara yang cukup.

b. Ketepatan antara suara dengan gerakan.

c. Mempraktekkan “Untuk Perhatian-istirahat di tempat = Gerak”.

d. Mempraktekan “Untuk Istirahat – B u b a r = JALAN”.

e. Mempraktekkan “PELETON I – S i a p = GERAK”.

Skor

Indicator

Page 10: Prosedur Penilaian

2. Memperaktekkan aba-aba peringatan.a. Intonasi dan Volume Suara

yang cukup.b. Ketepatan antara suara

dengan gerakan.c. Mempraktekkan “Lencang

Kanan = GERAK dan bukan LENCANG = KANAN.

d. Mempraktekan Istirahat di tempat = GERAK dan bukan istirahat ditempat = GER.

3. Memperaktekkan aba-aba pelaksanaan.a. Intonasi dan Volume Suara

yang cukup.b. Ketepatan antara suara

dengan gerakan.c. Mempraktekkan Lencang

Kanan = GERAK dan bukan LENCANG = KANAN

d. Mempraktekan “Duduk Siap = GERAK dan bukan ditempat duduk siap = GERAK”

e. Mempraktekkan “ Istirahat di tempat = GERAK dan bukan istirahat ditempat”

4. Memperaktekkan sikap sempurna.a. Badan/tubuh berdiri tegap,b. Kedua tumit rapat,c. Kedua kaki membentuk sudut

450

d. Lutut lurus dan paha dirapatkan

e. Berat badan dititik beratkan pada kedua kaki.

f. Perut ditarik sedikit dan dada dibusungkan

g. Pundak ditarik ke belakang sedikit dan tidak dinaikkan.

h. Lengan rapat pada badan.i. Pergelangan tangan lurusj. Jari-jari tangan mengepal

Page 11: Prosedur Penilaian

tidak terpaksa dan dirapatkan pada paha.

k. Punggung ibu jari menghadapkan ke depan merapat pada jahitan celana

l. Leher lurus dan dagu ditarik sedikit ke belakang

m. Mulut ditutup, mata memandang lurus menghadap ke depan, bernafas sewajarnya.

5. Memperaktekkan sikap istirahat.a Kaki kiri

dipindahkan kesamping kiri dengan jarak sepanjang telapak kaki (lebih kurang 30 Cm).

b Kedua belah tangan dibawa kebelakang dibawah pinggang

c Punggung tangan kanan di atas telapak tangan kiri

d Tangan kanan dikepalkan dan dilemaskan

e Tangan kiri memegang pergelangan tangan kanan diantara ibu jari dan telunjuk

f Dada di busungkan.

6. Memperaktekkan Lencang kanan/kiri

a Gerakan ini diawali dengan sikap sempurna.

b Mengangkat lengan kanan/kiri kesamping kanan/kiri

c Jari-jari tangan kanan/kiri menggenggam

d Punggung

Page 12: Prosedur Penilaian

tangan menghadap ke atase Kepala

dipalingkan ke kanan/kiri dengan tidak terpaksa kecuali penjuru kanan/kiri tetap menghadap ke depan.

f Meluruskan diri hingga dapat melihat dada orang-orang yang ada di sebelah kanan/kiri sampai kepada penjuru kanan/kiri

g Jari-jari menyentuh bahu kiri orang yang berada di sebelah kanannya.

7. Memperaktekkan perubahan arah.a . Hadap Kanan/Kiri.

Kaki kiri/kanan diajukan melintang di depan kaki kanan/kiri

lekuk kaki kiri/kanan berada ujung di kaki kanan/kiri,

berat badan berpindah ke kiri/kanan.

Tumit kaki kanan/kiri dengan badan diputar ke kanan/kiri 900.

b. Hadap serong kanan/kiri. Kaki kiri/kanan diajukan

ke muka berjajar dengan kaki kanan/kiri.

Berputar arah 450 ke kanan/kiri.

Kaki kiri/kanan dirapatkan kembali ke kaki kanan/kiri.

c. Balik kanan Kaki kiri diajukan

melintang (lebih dalam dari hadap kanan) didepan kaki kanan.

Page 13: Prosedur Penilaian

Tumit kaki kanan beserta dengan badan diputar ke kanan 1800.

Kaki kiri dirapatkan pada kaki kanan

8. Memperaktekkan Cara Berhitunga Di mulai dengan

perintah berhitung.b Berturut-turut tiap

anggota mulai dari penjuru kanan menyebutkan nomornya dengan penuh, sambil memalingkan muka dan kembali ke depan.

c Tetap dalam sikap sempurna.

Penilaian Afektif

Ranah afektif tidak dapat diukur seperti halnya ranah kognitif, karena dalam ranah

afektif kemampuan yang diukur adalah: Menerima (memperhatikan), Merespon,

Menghargai, Mengorganisasi, dan Karakteristik suatu nilai.

Skala yang digunakan untuk mengukur ranah afektif seseorang terhadap kegiatan

suatu objek diantaranya skala sikap. Hasilnya berupa kategori sikap, yakni mendukung

(positif), menolak (negatif), dan netral. Sikap pada hakikatnya adalah kecenderungan

berperilaku pada seseorang. Ada tiga komponen sikap, yakni kognisi, afeksi, dan konasi.

Kognisi berkenaan dengan pengetahuan seseorang tentang objek yang dihadapinya.

Afeksi berkenaan dengan perasaan dalam menanggapi objek tersebut, sedangkan konasi

berkenaan dengan kecenderungan berbuat terhadap objek tersebut. Oleh sebab itu, sikap

selalu bermakna bila dihadapkan kepada objek tertentu.

Total Skor

Page 14: Prosedur Penilaian

Skala sikap dinyatakan dalam bentuk pernyataan untuk dinilai oleh responden,

apakah pernyataan itu didukung atau ditolaknya, melalui rentangan nilai tertentu. Oleh

sebab itu, pernyataan yang diajukan dibagi ke dalam dua kategori, yakni pernyataan

positif dan pernyataan negatif.

Salah satu skala sikap yang sering digunakan adalah skala Likert. Dalam skala

Likert, pernyataan-pernyataan yang diajukan, baik pernyataan positif maupun negatif,

dinilai oleh subjek dengan sangat setuju, setuju, tidak punya pendapat, tidak setuju,

sangat tidak setuju. Sebagai contoh dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

NO PERNYATAAN SS S R TS STS

Keterangan:

SS : sangat setuju

S : setuju

R : tidak punya pendapat/ ragu-ragu

TS : tidak setuju

STS : sangat tidak setuju

Beberapa petunjuk untuk menyusun Skala Likert

a) Tentukan objek yang dituju, kemudian tetapkan variabel yang akan diukur dengan

skala tersebut.

b) Lakukan analisis variabel tersebut menjadi beberapa subvariabel atau dimensi

variabel, lalu kembangkan indikator setiap dimensi tersebut.

c) Dari setiap indikator di atas, tentukan ruang lingkup pernyataan sikap yang

berkenaan dengan aspek kognisi, afeksi, dan konasi terhadap objek

d) Susunlah pernyataan untuk masing-masing aspek tersebut dalam dua kategori,

yakni pernyataan positif dan pernyataan negatif, secara seimbang banyaknya.

Page 15: Prosedur Penilaian

B. PENGEMBANGAN KISI-KISI INSTRUMEN AFEKTIF

Tahapan mengembangkan kisi-kisi instrumen afektif adalah sebagai berikut:

1. pilih ranah afektif yang akan dinilai, misalnya sikap

2. tentukan indikator sikap

3. pilih tipe skala yang digunakan, misalnya; skala Likert dengan lima skala,

seperti sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju, sangat tidak setuju.

4. Tentukan nomor butir soal sesuai dengan indikator sikap

5. Buatlah kisi-ksi instrumen dalam bentuk matrik

6. telaah instrumen oleh teman sejawat atau ahli di bidangnya;

7. perbaiki instrumen sesuai dengan hasil telaah instrumen oleh teman

sejawat/ahli dengan memperhatikan kesesuaian dengan indikator

No

Indikator Sikap

Nama Peserta didik

Ket

erbu

kaan

Ket

ekun

an b

elaj

ar

Ked

isip

lina

n

Ker

jasa

ma

Kep

edul

ian

Tan

ggun

g ja

wab

Tot

al1 Amanda 4 3 5 4 3 4 232 Nur 2 4 4 3 4 4 213 Hafiz 3 4 4 5 3 3 224 Faiz 4 3 5 3 4 3 22

Skor untuk masing masing sikap di atas dapat berupa angka. Akan tetapi, pada tahap akhir skor tersebut dirata-ratakan dan dikonversikan ke dalam bentuk kualitatif. Skala penilaian dibuat dengan rentangan dari 1 s/d 5. Penafsiran angka-angka 1 = sangat kurang , 2 = kurang, 3 = cukup, 4 = baik, 5 = amat baik.Jadi skor maksimum = 5 (skor maks setiap indikator) X 6 (indikator) = 30

Nilai afektif diberikan dalam bentuk huruf, oleh karena itu total skor yang telah

diperoleh harus dikonversi. Banyak cara untuk mengkonversi skor menjadi nilai, salah

satunya yang sederhana yaitu menggunakan kriteria

Page 16: Prosedur Penilaian

Nilai konversi NILAI KONVERSI

Kualifikasi STANDAR 4

91 - 100

81 - 90

71 - 80

61 - 70

kurang dari 61

Baik sekali

baik

sedang

kurang

Gagal

4

3

2

1

gagal

Skor total jawaban benar siswa

Konversi Nilai = ---------------------------------------- X 100

skor maksimum perangkat tes

Jadi siswa yang memperoleh skor 23 setelah dikonversi nilainya menjadi:

23---- X 100 = 76,730

Nilai afektif hasil konversi untuk Amanda adalah C