proposalseminar kesling pipiit

download proposalseminar kesling pipiit

of 35

  • date post

    19-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    60
  • download

    1

Embed Size (px)

description

proposal kesling pipit

Transcript of proposalseminar kesling pipiit

BAB IPENDAHULUANA. Latar BelakangDemam berdarah adalah penyakit akut yang disebabkan oleh virus dengue, yang ditularkan oleh nyamuk Aedes sp. Penyakit ini ditemukan di daerah tropis dan subtropis, dan menjangkit luas di banyak negara di Asia Tenggara. Terdapat empat jenis virus dengue, masing-masing dapat menyebabkan demam berdarah, baik ringan maupun fatal. Setiap tahun selalu dilaporkan adanya kejadian luar biasa di sejumlah kota besar di Indonesia walaupun tindakan khusus terhadap penderita sampai sekarang tidak ada namun dengan penatalaksanaan yang tepat oleh para tenaga medis dan paramedis yang berpengalaman sering jiwa penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dapat terselamatkan (WHO, 2002).Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) telah dikenal di Indonesia sebagai penyakit yang dapat menyebabkan kematian serta menimbulkan kegelisahan pada masyarakat. Pada umumnya penyakit ini berjangkit pada anak-anak terutama di kota-kota yang berpenduduk padat. Penyakit ini sangat umum ditemui di Indonesia. Lingkungan alam tropis, sanitasi buruk, yang potensial sebagai sarang nyamuk, dan rendahnya kesadaran masyarakat menajdi alasan utama. Indonesia bahkan menempati posisi tertinggi dalam kasus penyakit Dengue di Asia Tenggara dengan 10.000 kasus pada tahun 2011.Pada tahun 2012 angka kejadian DBD di Indonesia masih cukup tinggi, dari 497 kota yang terdapat di seluruh Indonesia masih terdapat kasus DBD pada 374 kota yang tersebar diberbagai macam propinsi dengan jumlah kasus total 65.432 dan jumlah kasus meninggal 595 jiwa. Angka kejadian DBD di propinsi Lampung pun dapat dikatakan cukup tinggi dengan kasus sebanyak 1494 dan angka kematian sebanyak 24 jiwa (Ditjen PP&PL,2012).Program penanggulangan DBD lebih banyak bertumpu pada pengendalian vektor, yaitu nyamuk dewasa Aedes sp. Pengendalian vektor merupakan salah satu upaya pemberantasan DBD yang dilakukan guna memutus rantai penularan. Pemberantasan demam berdarah yang utama adalah pemberantasan sarang nyamuk, pengendalian vektor dengan 3M Plus bukan dengan fogging (Depkes, 2011).Salah satu bentuk penaggulangan DBD dengan pengendalian vektor adalah dengan menggunakan insektisida sintetik sebagai larvasida. Terdapat dua kategori besar insektisida yang sering digunakan sebagai insektisida rumah tangga, yaitu insektisida yang berfungsi untuk membunuh serangga dan insektisida yang berfungsi untuk mengusir serangga (repellent) (Ware, 2004).Upaya pengendalian populasi nyamuk saat ini lebih banyak menggunakan insektisida sintetik. Efek dari penggunaan insektisida sintetik adalah toksik terhadap serangga bukan sasaran, hewan lain, dan manusia. Usaha untuk mengendalikan serangga ini menjadi sulit karena adanya resistensi terhadap insektisida sintetik.Penggunaan bahan alami dari tanaman (insektisida nabati) merupakan cara alternatif dalam upaya pengendalian nyamuk. Insektisida nabati mudah terurai (biodegradable) di alam sehingga tidak mencemari lingkungan. Kelebihan insektisida nabati dibandingkan dengan insektida sintetik adalah komponen senyawanya lebih kompleks. Ekstrak suatu tanaman terdapat zat aktif utama dan zat lain yang dapat meningkatkan efektivitas ekstrak secara keseluruhan (sinergi). Hal ini memungkinkan serangga tidk mudah menjadi resisten. Kemampuan serangga membentuk sistem pertahanan terhadap beberapa senyawa yang berbeda secara bersamaan lebih kecil daripada senyawa insektisida tunggal.Tanaman yang berpotensi sebagai larvasida adalah jengkol (Pithecellobium lobatum).Tanaman ini juga terbukti mempunyai efek mematikan pada wereng coklat. Kulit jengkol bersifat toksik karena mengandung senyawa kimia alkaloid, terpenoid, saponin dan asam fenolat.Di dalam asam fenolat terdiri atas flavonoid dan tanin yang terdapat pada tumbuhan berkayu dan herba. Tanin dapat berperan sebagai pertahanan tumbuhan dengan cara menghalangi serangga dalam mencerna makanan. Serangga yang memakan tumbuhan dengan kandungan tanin tinggi akan menyebabkan sedikit makannya sehingga mengakibatkan terjadinya penurunan populasi.

B. Rumusan MasalahDari latar belakang yang telah dikemukakan diatas, maka rumusan masalahnya adalah Apakah Ekstrak Kulit Jengkol (Pithecellobium lobatum) Efektif Sebagai Larvasida Nyamuk Aedes sp Instar III?

C. HipotesisHo: Ekstrak Kulit Jengkol (Pithecellobium lobatum) Tidak Efektif Sebagai Larvasida Nyamuk Aedes sp Instar III.Ha: Ekstrak Kulit Jengkol (Pithecellobium lobatum) Efektif Sebagai Larvasida Nyamuk Aedes sp Instar III.

C. Definisi Operasional dan Ruang Lingkup Penelitian1. Definisi OperasionalVariabelDefinisi OperasionalHasil UkurSkala

Kadar Ekstrak Kulit JengkolJumlah konsentrasi ekstraksi kulit jengkol yang digunakanNumerikRasio

Mortalitas Aedes sp Instar IIIBanyaknya larva Aedes sp yang mati selama 24 jam setelah diberi perlakuanNumerikRasio

Lethal Concentration 50 (LC50)Konsentrasi larvasida yang menyebabkan kematian 50% hewan ujiNumerikRasio

Lethal Time 50 (LT50)Lama waktu saat 50% hewan uji mati dan 50% lainnya masih hidup.NumerikRasio

Kecepatan KematianJumlah larva mati persatuan waktu (kelipatan 3 jam). Satuan: ekor/jam.NumerikRasio

2. Ruang Lingkup Penelitiana. Lingkup WaktuPenelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2014b. Lingkup LokasiPenelitian ini dilakukan di Laboratorium Kesehatan Lingkungan UIN Alauddin Makassar.

D. Kajian PustakaNoNama PenelitiJudul PenelitianKarakteristik Variabel

VariabelJenis PenelitianSampelHasil

1Danang Setia Budi, et al (2013)Saat Parasit Membasmi Parasit : Uji Efektivitas Ekstrak Benalu Sebagai Terapi Malaria Baruekstrak Dendropthhoe pentandraEksperimental Quasi dengan rancangan percobaan postest only with non equivalent control groupBiakan P. falciparum strain FCR-3 dan sel VeroDendrophthoe pentandra memiliki aktivitas antiplasmodium yang baik terhadap P. falciparum FCR-3 dengan nilai IC50 sebesar45,4g/mL untuk ekstrak air dan 169,7g/mL untuk ekstrak etanol

2Eka Cania, et al (2011)Uji Efektifitas Ekstrak Daun Legundi (Vitex trifolia) Terhadap Larva Aedes aegyptiEkstrak Daun Legundi (Vitex trifolia) dan Larva Aedes aegyptiEksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL)25 ekor larva instar III Aedes aegyptiEkstrak daun legundi (Vitex trifolia) memiliki efektivitas larvasida terhadap larvaAedes aegypti instar III . Konsentrasi ekstrak daun legundi (Vitex trifolia) yang paling efektif dalam membunuhlarva Aedes aegypti instar III adalah konsentrasi 1%.

3Ismatullah A, et al (2013)Uji Efektivitas Larvasida Ekstrak Daun Binahong(Anredera Cordifolia (Ten.) Steenis) terhadap Larva Aedes Aegypti Instar IIIEkstrak Daun Binahong(Anredera Cordifolia (Ten.) Steenis) dan Larva Aedes Aegypti Instar IIIEksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL)larva instar III Aedes aegyptiEkstrak daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) memilikiefektivitas yang lebih rendah dalam membunuh larva Aedes aegypti instar IIIdibandingkan abate 1%.

4Raden Adityo HPP, et al (2011)Uji Efek Fraksi Metanol Ekstrak Batang Kecombrang (Etlingeraelatior) Sebagai Larvasida Terhadap Larva Instar III Aedes aegyptiFraksi Metanol Ekstrak Batang Kecombrang (Etlingeraelatior) dan Terhadap Larva Instar III Aedes aegyptiEksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL)20 ekor larva instar III Aedes aegyptifraksimetanol ekstrak batang kecombrang (Etlingera elatior) memiliki efek sebagailarvasida terhadap larva Aedes aegypti instar III. Semakin tinggi konsentrasisemakin tinggi pula rerata kematian larva nyamuk Aedes aegypti.

5Erwin Nofyan, et al (2013)Ekspolrasi Biolarvasida Dari Tumbuhan Untuk Pengendalian Larva Nyamuk Aedes Aegypti di Sumatera SelatanBiolarvasida Tumbuhan di Sumatera Selatan dan Larva Nyamuk Aedes AegyptiSurvei dan Ekperimen250 gram simpiisida tumbuhan dan 30 ekor larva instar III Aedes aegypti3 jenis tumbuhan yangberpotensi untuk dikembangkan sebagaisumber biolarvasida yaitu tumbuhanBabadotan, Bunga kenanga dan rimpanglengkuas putih.

6Rofima Manurung, et al (2013)Pengaruh Daya Tolak Perasan Serai Wangi (Cymbopogon nardus) Terhadap Gigitan Nyamuk Aedes aegyptiSerai Wangi (Cymbopogon nardus) dan Gigitan Nyamuk Aedes aegyptiEksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL)240 ekor nyamuk Aedes aegypti dewasakonsentrasi yangefektif yang digunakan sebagai repellentadalah minimal konsentrasi 3%. Semakintinggi konsentrasi perasan serai wangi(Cymbopogon nardus) maka semakin baikdigunakan sebagai repellent. Kepada masyarakat dianjurkan untukmenggunakan perasan serai wangi sebagairepellent dengan konsentrasi minimal 3%.

7Sonja V.T. Lumowa (2012)Pengaruh Mat Serbuk Bunga Sukun (Artocarpus altilis L.) Sebagai isi Ulang Nyamuk Aedes aegypti .Mat Serbuk Bunga Sukun (Artocarpus altilis L.) dan Nyamuk Aedes aegypti LEksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL)20 ekor nyamuk Aedes aegypti dewasaBunga sukun (Artocarpus altilis L.) berpengaruh terhadap pengendalian nyamuk Aedes aegypti yaitu dibuktikan dengan menggunakan dengan uji anava satu arah maka hasilnya Ftabel (198,26) > Fhitung (4,33) dan ditandai dengan kematian nyamuk Aedes aegypti saat dilakukan pengujian dengan kadar bunga sukun (0,5 gr, 1 gr, 1,5 gr, 2 gr). Kadar bunga sukun yang paling banyak membunuh nyamuk adalah kadar 2 gr yaitu membunuh nyamuk rata-rata 15,6 ekor dengan presentase kematian nyamuk sebesar 78%.

8Handayani, et al (2013)Efektivitas Ekstrak Daun Sirih (Piper batle L,)sebagai Bioinsektisida Terhadap Kematian Nyamuk Aedes aegyptiEkstrak Daun Sirih (Piper batle L,) danNyamuk Aedes aegyptiPre-Eksperimet dengan Rancangan the static-group comparisonNyamuk Aedes aegyptiEkstrak daun sirih terbukti efektif sebagai bioinsektisida terhadap nyamuk Aedes aegypti mulai pada konsentrasi 1000 ppm, lama waktu kontak yang dibutuhkan agar dapat membunuh nyamuk Aedes aegypti yaitu selama 45 menit.

9Roy Nusa Rahagus Edo Santya, et al (2013)Daya Proteksi Ekstrak Kulit Jeruk Purut (Citrus hystrix) terhadap Nyamuk Demam Berdarah