PROPOSAL PERMOHONAN DANA HIBAH KOMISI Tangerang telah didukung Anggaran Hibah Daerah Kota Tangerang

download PROPOSAL PERMOHONAN DANA HIBAH KOMISI Tangerang telah didukung Anggaran Hibah Daerah Kota Tangerang

of 15

  • date post

    31-Oct-2020
  • Category

    Documents

  • view

    5
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of PROPOSAL PERMOHONAN DANA HIBAH KOMISI Tangerang telah didukung Anggaran Hibah Daerah Kota Tangerang

  • PROPOSAL PERMOHONAN DANA HIBAH

    KOMISI PENANGGULANGAN AIDS KOTA TANGERANG

    TAHUN 2018

    I. PENDAHULUAN

    Bersama dengan negara lain di seluruh dunia, Indonesia telah ikut

    menyepakati delapan tujuan pembangunan yang disebut sebagai Millenium

    Development Goals (MDGs) yang diharapkan akan dicapai pada tahun 2015,

    banyaknya target yang tidak tercapai pada pelaksanaan program Millenium

    Development Goals (MDGs) maka BAPPENAS melanjutkan dari pelaksanaan

    tujuan pembangunan yang terintegrasi dalam Sustanable Devlopment Goals

    (SDGs) . Memutus mata rantai dari penularan HIV AIDS merupakan program

    utama yang akan berkontribusi untuk pencapaian Goal ke-6. HIV AIDS sebagai

    salah satu dari rumpun penyakit menular yang dapat menghabiskan generasi

    penerus bangsa dengan berbagai macam penyakit yang menyerta di dalam

    tubuhnya, HIV AIDS sudah menjadi endemi di 34 Provinsi yang ada di Indonesia

    dan bisa menyerang pada siapapun ketika prilaku kita terjebak pada situasi yang

    dilarang atau kurang lazim yang dilakukan manusia, misal ; prilaku seksual yang

    bukan dengan pasangan, prilaku menggunakan narkotika secara bersama sama,

    dan prilaku penyimpangan seksual sesama jenis.

    Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah kumpulan gejala

    penyakit yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV), yaitu virus

    yang menyebabkan rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia yang

    mengakibatkan menurunnya daya tahan tubuh seseorang sehingga sangat rentan

    terjangkit berbagai macam penyakit yang disebut infeksi oportunistik (IO).

    Kasus AIDS di Indonesia pertama kali ditemukan pada tahun 1987, menurut

    data Kemenkes sejak tahun 2005 sampai September 2015, terdapat kasus HIV

    sebanyak 184.929 yang didapat dari laporan layanan konseling dan tes HIV.

    Jumlah kasus HIV tertinggi yaitu di DKI Jakarta (38.464 kasus), Jawa Timur

    (24.104 kasus), Papua (20.147 kasus), Jawa Barat (17.075 kasus) dan Jawa

    Tengah (12.267 kasus). Kasus HIV pada Juli – September 2015 sejumlah 6.779

    kasus. Faktor penularan HIV tertinggi adalah hubungan seks yang tidak aman

    pada heteroseksual (46,2 %), penggunaan jarum suntik tidak steril pada penasun

    (3,4%) dan LSL (24,4%).

  • Sementara kasus di Provinsi Banten sendiri berdasarkan data dari Dinas

    Kesehatan Provinsi Banten jumlah kumulatif temuan kasus hingga bulan

    September 2014 sudah berjumlah 3.237 kasus dengan rincian HIV sebanyak

    2.079 dan 1.158 kasus AIDS, meningeal 182 orang. Di Kota Tangerang data

    kumulatif yang didapat dari Dinas Kesehatan dalam kurun waktu 2004 sampai

    dengan Oktober 2016 adalah 1.216 kasus. Januari – Oktober 2016 ditemukan 67

    kasus dimana 64% HIV dan 34% AIDS.

    Secara Geografis Provinsi Banten merupakan wilayah yang strategis di ujung

    Pulau Jawa, mulai dari jalur transportasi darat, laut dan udara, sehingga situasi ini

    mendukung mudahnya NARKOBA dan HIV AIDS masuk ke wilayah Banten.

    Kasus HIV AIDS di Provinsi Banten dalam setiap tahunnya mengalami

    peningkatan yang cukup tinggi, terlihat dari hasil kajian Kementrian Kesehatan

    berupa Estimasi tahun 2012 pada ODHA sudah berjumlah 9.047 kasus.

    Tentunya permasalahan HIV AIDS ini menjadi tanggung jawab kita bersama,

    karena HIV AIDS merupakan kasus sosial bukan kasus kesehatan semata saja,

    paradigma bahwa kasus HIV AIDS merupakan masalah kesehatan saja sangat

    berkembang di masyarakat sehingga dengan minimnya informasi yang ada dan

    berdampak pada berkembangnya stigma dan deskriminasi di masyarakat pada

    penderita HIV AIDS. Tentunya dengan menstigma dan mendeskriminasi ODHA

    bukan menyelesaikan masalah dan memutuskan mata rantai penularan virus HIV

    AIDS, namun justru dapat memperkeruh situasi sosial dengan ODHA yang tidak

    mau terbuka sehingga berdampak pada sulitnya penanganan dalam pengobatan.

    Dengan demikian situasi ini perlunya kita bekerja bersama sama dan multi sektor

    dalam menyelesaikan permasalahan HIV AIDS.

    Penyebaran kasus HIV dan AIDS yang begitu cepat memerlukan

    penanganan yang terkoordinasi, terencana, terarah dan berkesinambungan antar

    lintas sektor. Penanggulangan dan penanganan AIDS merupakan tanggung jawab

    bersama, baik Pemerintah, swasta, LSM, Akademisi, Tokoh Agama, Tokoh

    Masyarakat dan Masyarakat secara umum. Selain itu juga keterbatasan sumber

    daya (manusia, sarana prasarana dan dana) dihadapi dalam upaya

    penanggulangan AIDS di Kota Tangerang, sehingga berbagai upaya harus terus

    dilakukan agar penyebaran HIV dapat dikendalikan untuk menyelamatkan

    kehidupan di masa yang akan datang.

    Berdasarkan pemikiran di atas, maka dibentuklah Komisi Penanggulangavn

    AIDS Kota Tangerang sejak tahun 2006 yang di revitalisasi pada tahun 2011,

    sesuai dengan kebutuhan maka direvitalisasi kembali pada tahun 2014 dengan

    Surat Keputusan Walikota Nomor : 800/Kep.443/Dinkes/2014 dan kembali

    diperbaharui pada 28 Februari 2017 dengan surat Keputusan Walikota Nomor :

    800/Kep. 207/Dinkes 2017.

  • Pada tahun 2016 Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kota

    Tangerang telah didukung Anggaran Hibah Daerah Kota Tangerang sebesar

    Rp.300.000.000 ,- (Tiga Ratus Juta Rupiah), dana tersebut dialokasikan untuk

    Kegiatan Sosialisasi baik di SKPD dan Masyarakat, Keperluan Kantor, Kegiatan

    Monitoring, kegiatan Rapat Internal dan kegiatan Lokakarya penganggaran SKPD

    terkait. Pada Tahun 2017 kami mengajukan Hibah sebesar Rp. 450.000.000,-

    (Empat Ratus Lima Puluh Juta Rupiah)

    II. SITUASI HIV DAN AIDS DI KOTA TANGERANG

    Penemuan kasus HIV dan AIDS di Kota Tangerang terus meningkat dengan

    cepat dari tahun ke tahun. Berikut data kumulatif jumlah penemuan kasus HIV dan

    AIDS dari tahun 2004 sampai tahun 2016.

    Penemuan kasus HIV dan AIDS sudah dilaporkan oleh RSU Usada Insani,

    9 Layanan Komprehensif Berkesinambungan (LKB) yaitu RSUD Kota Tangerang,

    Puskesmas Cibodasari, Batu Ceper, Karawaci Baru, Ciledug, Gondrong, Tanah

    Tinggi, Karang Tengah, Benda dan Cipondoh.

    Untuk Rumah Sakit Rujukan Odha yaitu : RS USADA INSANI, RSUD Kota

    Tangerang (Proses), Puskesmas Cibodasari ( SATELIT ) sedang proses untuk

    menjadi mandiri dan Puskesmas Karawaci baru (satelit).

  • Usia produktif 20 tahun – 40 tahun masih mendominasi angka kelompok umur

    terbanyak yang terinfeksi HIV/AIDS.

    III. KEBIJAKAN PENANGGULANGAN AIDS KOTA TANGERANG

    Upaya-upaya penanggulangan AIDS di Kota Tangerang telah dilakukan

    sebagai langkah untuk mengantisipasi meluasnya penyebaran HIV dan untuk

    mengetahui jumlah penderita HIV dan AIDS yang ada. Kebijakan penanggulangan

    AIDS yang sudah ada berupa Peraturan Presiden No. 124 tahun 2016 yang

    merupakan revisi Perpres 75 Tahun 2006 dan didukung dengan penerbitan surat

    keputusan pembentukan Komisi Penanggulangan AIDS Daerah Kota Tangerang

    Nomor 800/Kep.207-Dinkes/2017, yang mengamanatkan perlunya intervensi

    penanggulangan HIV dan AIDS di Kota Tangerang.

  • Pada Tahun 2006 adalah Pendirian, kemudian tahun 2009 adalah

    pembentukan dan tahun 2010 adalah tahun pertama dari penguatan sekretariat

    KPA. Kegiatan-kegiatan dengan SKPD terkait dan Mitra KPA di Daerah juga sudah

    dilaksanakan dalam kegiatan forum kemitraan dan Rapat Bulanan.

    IV. PRINSIP DAN DASAR KEGIATAN

    Strategi dan rencana aksi kegiatan dibuat berdasarkan peraturan

    perundang-undangan terkait dengan masalah dan atau faktor-faktor yang

    berpengaruh dan mewarnai upaya Penanggulangan HIV dan AIDS. Prinsip-prinsip

    utama dalam strategi dan rencana kegiatan penanggulangan HIV dan AIDS adalah

    sebagai berikut :

    a. Upaya penanggulangan HIV dan AIDS akan memperhatikan nilai-nilai

    agama, budaya,norma kemasyarakatan, menghormati harkat dan martabat

    manusia serta memperhatikan keadilan dan kesetaraan gender.

    b. HIV dan AIDS merupakan masalah sosial kemasyarakatan dan

    pembangunan, oleh sebab itu penanggulangannya harus diintegrasikan

    kedalam program pembangunan pemerintah daerah/kota.

    c. Upaya penanggulangan HIV dan AIDS dilakukan secara sistematik dan

    terpadu, mulai dari peningkatan perilaku hidup sehat, pencegahan,

    perawatan, dukungan dan pengobatan bagi Odha dan orang-orang yang

    terdampak HIV dan AIDS.

    d. Upaya penanggulangan dilakukan oleh masyarakat sipil dan pemerintah

    secara bersama berdasarkan prinsip kemitraan.

    e. Populasi kunci yakni populasi yang menjadi kunci upaya penanggulangan

    HIV dan AIDS, seperti Penasun (Pengguna Narkoba Suntik), Waria, Wanita

    Pekerja Seks, LSL (Lelaki seks Lelaki), Pelanggan Wanita Pekerja Seks

    dan Odha harus berperan aktif dalam upaya penanggulangan HIV dan

    AIDS.

    f. Dukungan yang diberikan kepada Odha dan orang-orang yang terdampak

    bertujuan untuk pemberdayaan dan mempertahankan kehidupan sosial

    ekonomi yang layak dan produktif.

    V. ANGGARAN DAN PENGGUNAANNYA

    Sesuai dengan bunyi dalam salah satu surat keputusan Gubernur Banten

    tentang Pembentukan Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Bant