Proposal Penyuluhan Skizofrenia

Click here to load reader

  • date post

    23-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    83
  • download

    9

Embed Size (px)

description

proposal penyuluhan

Transcript of Proposal Penyuluhan Skizofrenia

SATUAN ACARA PENYULUHAN

I. IdentitasTopik: SkizofreniaSubtopik: Mengenal lebih dalam tentang SkizofreniaHari/Tanggal: ,Juni 2014Waktu: 08.00 08.30 WIBSasaran: Pasien dan Keluarga Pasien Rawat JalanTempat: Ruang RSJI Klender

II. Tujuan Instruksional UmumSetelah dilakukan penyuluhan kesehatan tentang pentingnya mengetahui apa itu Skizofrenia, diharapkan warga sekitar yang merupakan sasaran dari penyuluhan ini memahami apa itu Skizofrenia

III. Tujuan Instruksional KhususSetelah dilakukan penyuluhan selama 30 menit diharapkan para peserta dapat: 1. Memahami tentang Skizofrenia2. Memahami maksud dan pentingnya pemeriksaan dari Skizofrenia

IV. Materi (Terlampir)

V. Media1. Laptop2. LCD3. Microphone4. Leaflet

VI. Metode1. Ceramah2. Diskusi3. Tanya jawab

BAB IPENDAHULUAN

Kata skizofrenia atau dalam bahasa Inggrisnya schizophrenia ternyata sudah terlahir sejak kurang lebih 150 tahun yang lalu. Penyakit ini pertama kali diidentifikasi sebagai penyakit mental diskrit oleh Dr Emile Kraepelin pada tahun 1887. Skizofrenia sendiri dapat ditelusuri pada zaman Firaun Mesir kuno. Depresi, demensia, serta gangguan berpikir yang khas dalam skizofrenia dijelaskan secara rinci dalam Kitab Hati (Book of Hearts). Manusia pada zaman tersebut mempercayai bahwa penyakit fisik berhubungan dengan racun dan iblis.Sebuah studi terbaru dalam sastra Yunani dan Romawi kuno menunjukkan bahwa meskipun masyarakat umum (mungkin) memiliki kesadaran mengenai gangguan psikotik, namun tidak ada satu pun yang akan memenuhi criteria atas diagnosa skizofrenia. Di sisi lain, orang yang dianggap abnormal, (baik karena sakit mental, keterbelakangan mental, atau cacat fisik) sebagian besar diperlakukan sama.Teori awal mengatakan bahwa penyakit gangguan mental disebabkan oleh bagian jahat yang dimiliki oleh tubuh, dan tindakan atau perlakuan yang tepatlah yang kemudian dapat mengusir bagian jahat ini. Tindakan tersebut dapat melalui berbagai cara, mulai dari perawatan berbahaya (seperti mengekspos pasien untuk jenis musik tertentu) dan kadang-kadang mematikan (misalnya seperti melepaskan roh-roh jahat dengan melubangi di tengkorak pasien).Salah satu yang pertama untuk mengklasifikasikan gangguan mental ke dalam kategori yang berbeda adalah seorang dokter yang berasal dari Jerman, Emile Kraepelin. Dr Kraepelin menggunakan dementia praecox istilah untuk individu yang memiliki gejala yang sekarang kita kaitkan dengan skizofrenia. Konsep nonspesifik kegilaan telah ada selama ribuan tahun dan skizofrenia hanya diklasifikasikan sebagai gangguan mental yang berbeda oleh Kraepelin pada tahun 1887. Dia adalah orang pertama yang membuat sebuah perbedaan dalam gangguan psikotik antara apa yang disebut dementia praecox dan depresi manik. Kraepelin percaya bahwa dementia praecox utamanya adalah penyakit otak, dan khususnya bentuk dari singkat akal. Kraepelin menamakan dementia praecox (gangguan awal demensia/singkat akal/kemunduran mental) untuk membedakannya dari bentuk-bentuk demensia (singkat akal/kemunduran mental seperti penyakit Alzheimer) yang biasanya terjadi pada akhir usia. Dia menggunakan istilah ini karena studinya difokuskan pada orang dewasa muda dengan demensia/singkat akal/kemunduran mental.Psikiater Swiss, Eugen Bleuler, menciptakan istilah, skizofrenia pada tahun 1911.Dia juga orang pertama yang menggambarkan gejala-gejala sebagai positif atau negatif.Bleuler mengganti namanya menjadi skizofrenia karena jelas bahwa nama yang diberikan oleh Krapelin itu menyesatkan, karena penyakit itu bukan suatu demensia/singkat akal/kemunduran mental (hal itu tidak selalu menyebabkan kemunduran mental) dan kadang-kadang dapat terjadi juga di awal kehidupan. Kata skizofrenia berasal dari akar Yunani orang yg menderita skizofrenia (split) dan phrene (pikiran) untuk menggambarkan pemikiran terfragmentasi orang dengan gangguan tersebut. Istilahnya tidak dimaksudkan untuk menyampaikan gagasan kepribadian ganda atau multiple, yang umum disalahpahami oleh masyarakat luas. Sejak zaman Bleulers, definisi skizofrenia terus berubah, sebagai ilmuwan mencoba untuk lebih akurat melukiskan berbagai jenis penyakit mental. Tanpa mengetahui penyebab pasti dari penyakit ini, para ilmuwan hanya dapat mendasari klasifikasi mereka pada pengamatan bahwa beberapa gejala cenderung terjadi bersamaan.Baik Bleuler dan Kraepelin membagi skizofrenia ke dalam beberapa kategori, berdasarkan gejala menonjol dan prognosis. Selama bertahun-tahun, mereka yang bekerja di bidang ini terus mencoba untuk mengklasifikasikan jenis skizofrenia. Lima jenis yang dimaksud dalam DSM-III: tidak terorganisir, katatonik, paranoid, residu, dan tidak dibedakan. Tiga kategori pertama awalnya diusulkan oleh Kraepelin. Klasifikasi ini, sementara masih bekerja pada DSM-IV, tidak terbukti membantu dalam memprediksi hasil dari gangguan, dan jenis tidak andal didiagnosis. Banyak peneliti menggunakan sistem lain untuk mengklasifikasikan jenis gangguan tersebut, berdasarkan dominan positif vs negatif gejala, perkembangan dari gangguan dalam hal jenis dan keparahan gejala dari waktu ke waktu, dan kejadian yang tidak disengaja lain atas gangguan mental dan sindrom. Dengan membedakan jenis skizofrenia berdasarkan gejala klinis, diharapkan akan membantu untuk menentukan etiologi yang berbeda atau penyebab gangguan tersebut.Bukti bahwa skizofrenia adalah penyakit biologis berbasis otak mempunyai perkembangan pesat selama dua dekade terakhir. Bukti baru-baru ini telah juga telah didukung dengan sistem pencitraan otak dinamis yang sangat tepat menunjukkan gelombang pengalihan jaringan yang terjadi di otak yang menderita skizofrenia.

BAB IIPEMBAHASAN

1. KONSEP SKIZOFRENIA 1.1. Definisi Skizofrenia Skizofrenia adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan suatu gangguan psikiatrik mayor yang ditandai dengan adanya perubahan pada persepsi, pikiran, afek, dan perilaku seseorang. Kesadaran yang jernih dan kemampuan intelektual biasanya tetap terpelihara, walaupun defisit kognitif tertentu dapat berkembang kemudian (Sadock, 2003). Gejala skizofrenia secara garis besar dapat di bagi dalam dua kelompok, yaitu gejala positif dan gejala negatif. Gejala positif berupa delusi, halusinasi, kekacauan pikiran, gaduh gelisah dan perilaku aneh atau bermusuhan. Gejala negatif adalah alam perasaan (afek) tumpul atau mendatar, menarik diri atau isolasi diri dari pergaulan, miskin kontak emosional (pendiam, sulit diajak bicara), pasif, apatis atau acuh tak acuh, sulit berpikir abstrak dan kehilangan dorongan kehendak atau inisiatif.

1.2. Epidemiologi Skizofrenia dapat ditemukan pada semua kelompok masyarakat dan di berbagai daerah. Insiden dan tingkat prevalensi sepanjang hidup secara kasar hampir sama di seluruh dunia. Gangguan ini mengenai hampir 1% populasi dewasa dan biasanya onsetnya pada usia remaja akhir atau awal masa dewasa.Pada laki-laki biasanya gangguan ini mulai pada usia lebih muda yaitu 15-25 tahun sedangkan pada perempuan lebih lambat yaitu sekitar 25-35 tahun. Insiden skizofrenia lebih tinggi pada laki-laki daripada perempuan dan lebih besar di daerah urban dibandingkan daerah rural (Sadock, 2003)

Pasien skizofrenia beresiko meningkatkan risiko penyalahgunaan zat, terutama ketergantungan nikotin. Hampir 90% pasien mengalami ketergantungan nikotin. Pasien skizofrenia juga berisiko untuk bunuh diri dan perilaku menyerang. Bunuh diri merupakan penyebab kematian pasien skizofrenia yang terbanyak, hampir 10% dari pasien skizofrenia yang melakukan bunuh diri (Kazadi, 2008).

Menurut Howard, Castle, Wessely, dan Murray, 1993 di seluruh dunia prevalensi seumur hidup skizofrenia kira-kira sama antara laki-laki dan perempuan diperkirakan sekitar 0,2%-1,5%. Meskipun ada beberapa ketidaksepakatan tentang distribusi skizofrenia di antara laki-laki dan perempuan, perbedaan di antara kedua jenis kelamin dalam hal umur dan onset-nya jelas. Onset untuk perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki, yaitu sampai umur 36 tahun, yang perbandingan risiko onsetnya menjadi terbalik, sehingga lebih banyak perempuan yang mengalami skizofrenia pada usia yang lebih lanjut bila dibandingkan dengan laki-laki (Durand, 2007).

1.3. EtiologiTerdapat beberapa pendekatan yang dominan dalam menganalisa penyebab skizofrenia, antara lain : 1.3.1. Faktor Genetik Menurut Maramis (1995), faktor keturunan juga menentukan timbulnya skizofrenia. Hal ini telah dibuktikan dengan penelitian tentang keluarga-keluarga penderita skizofrenia terutama anak-anak kembar satu telur. Angka kesakitan bagi saudara tiri ialah 0,9 - 1,8%; bagi saudara kandung 7 15%; bagi anak dengan salah satu orangtua yang menderita skizofrenia 7 16%; bila kedua orangtua menderita skizofrenia 40 68%; bagi kembar dua telur (heterozigot) 2 -15%; bagi kembar satu telur (monozigot) 61 86%. Skizofrenia melibatkan lebih dari satu gen, sebuah fenomena yang disebut quantitative trait loci. Skizofrenia yang paling sering kita lihat mungkin disebabkan oleh beberapa gen yang berlokasi di tempat-tempat yang berbeda di seluruh kromosom. Ini juga mengklarifikasikan mengapa ada gradasi tingkat keparahan pada orang-orang yang mengalami gangguan ini (dari ringan sampai berat) dan mengapa risiko untuk mengalami skizofrenia semakin tinggi dengan semakin banyaknya jumlah anggota keluarga yang memiliki penyakit ini (Durand & Barlow, 2007). 1.3.2. Faktor BiokimiaSkizofrenia mungkin berasal dari ketidakseimbangan kimiawi otak yang disebut neurotransmitter, yaitu kimiawi otak yang memungkinkan neuron-neuron berkomunikasi satu sama lain. Beberapa ahli mengatakan bahwa skizofrenia berasal dari aktivitas neurotransmitter dopamine yang berlebihan di bagian-bagian tertentu otak atau dikarenakan sensitivitas yang abnormal terhadap dopamine. Banyak ahli yang berpendapat bahwa aktivitas dopamine yang berlebihan saja tidak cukup untuk skizofrenia. Beberapa neurotransmitter lain seperti serotonin dan norepinephrine