Proposal Pelatihan Kader Posyandu

download Proposal Pelatihan Kader Posyandu

of 26

  • date post

    14-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    1.989
  • download

    338

Embed Size (px)

description

Proposal Pelatihan Kader Posyandu

Transcript of Proposal Pelatihan Kader Posyandu

TUGAS PKG LANJUT

PROPOSAL PELATIHAN KADERPENGISIAN KMS BALITA

(Untuk melengkapi tugas mata kuliah PKG Lanjut di semester IV)

Oleh:

Kelompok II

Made Sulang Aryawan(002)

Luh Wy. Ricka Putri A.(027)

Dewa Putu Handika Gautama(005)

Komang Indah Satya Dewi(030)

Ida Ayu Widiastuti

(008)

Gusti Ayu Made Ratih M. (033)

Dwi Antari

(011)

Nyoman Kusuma Wardhani(036)

Kadek Rendra Prastia

(014)

Ni Nyoman Mia Anggreni(039)

Wayan Riska Pratiwi

(017)

Ni Luh Wayan Putri Cahyani(042)

Debby Santika Gunawan(020)

Gusti Ari Sunia Dewi

(045)

Ratih Adnyani

(023)

Ratih Puspa dewi

(048)

KEMENTERIAN KESEHATAN RI

POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR

JURUSAN GIZI

DENPASAR

2015

I. PENDAHULUAN

Keberhasilan suatu bangsa tergantung pada keberhasilan pembangunan manusianya. Keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan yang lebih diarahkan pada upaya menurunkan angka kematian bayi, anak balita dan angka kelahiran, tergantung pada keberhasilan dalam membina masyarakat agar mampu untuk memecahkan masalah yang dihadapinya dalam bentuk peran serta. Hal yang perlu dilakukan adalah mengembangkan pengertian kesadaran, kemampuan dan prakarsa masyarakat, yang berarti bahwa masyarakat berperan serta aktif dan bertanggung jawab dalam pelaksanaan kesehatan. Secara operasional, ditingkat desa atau kelurahan, upaya untuk menurunkan angka kematian bayi, balita dan angka kelahiran salah satunya dilakukan melalui Posyandu.

Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) merupakan pusat pelayanan kesehatan masyarakat dimana masyarakat dapat melakukan konsultasi kesehatan dan memperoleh pelayanan kesehatan. Posyandu sebagai suatu forum komunikasi, alih teknologi dan pelayanan kesehatan masyarakat oleh dan untuk masyarakat mempunyai nilai strategis untuk mengembangkan sumber daya manusia sejak dini. Posyandu yang merupakan kegiatan oleh dan untuk masyarakat, akan menimbulkan komitmen masyarakat, terutama para ibu dalam menjaga kelestarian hidup serta tumbuh kembang anak.

Posyandu pada masa orde baru, yang berfungsi sebagai pelayanan informasi kesehatan ibu dan anak, dinilai sangat efektif dalam menurunkan angka kematian bayi di Indonesia. Menurut data dari Badan Pusat Statistik, angka kematian bayi pada tahun 2009 adalah 44/1000 angka kelahiran hidup. Pada awal tahun 1990, peran dan fungsi posyandu sangat terlihat dan bergerak. Posyandu bukan sekedar tempat menimbang berat badan balita, namun juga pelayanan gizi dan pemeriksaan ibu hamil.

Posyandu diselenggarakan untuk kepentingan masyarakat, sehingga masyarakat sendiri yang aktif membentuk, menyelenggarakan dan memanfaatkan posyandu sebaik-baiknya. Peran serta masyarakat sangat diperlukan dalam pemanfaatan posyandu. Upaya meningkatkan peran serta masyarakat antara lain melalui sistem pengkaderan. Peran serta kader dalam upaya peningkatan status gizi balita merupakan hal yang sangat penting guna mendukung program pemerintah untuk mengatasi agar gizi buruk pada anak tidak bertambah melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat dengan revitalisasi posyandu.

Dalam melaksanakan tugasnya, kader kesehatan sebelumnya akan diberikan pelatihan untuk mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan peningkatan status gizi balita. Pelatihan ini biasanya diadakan dua kali dalam setahun. Pelatihan yang didapatkan oleh kader berhubungan dengan peran kader sesuai dengan sistem 5 meja yang terdapat di dalam posyandu. Kader harus terlebih dahulu memiliki pengetahuan tentang status gizi balita dan bagaimana cara meningkatkan status gizi balita pada keadaan gizi buruk. Namun, sering sekali pelatihan diberikan pada kader yang sama atau dengan kata lain kader-kader yang sering mengikuti pelatihan yang selalu diikutkan kembali dalam pelatihan, sehingga kader-kader lain tidak mendapat kesempatan. Hal inilah yang memicu kurangnya peran serta kader setiap posyandu diadakan. Kurangnya ilmu dan minimnya pengalaman adalah pemicu utama kurang aktifnya peran kader kesehatan. Pemicu lainnya adalah kesibukan para kader dalam urusan rumah tangganya.

Kurangnya pemahaman dan keterampilan pelayanan, menyebabkan kader kurang mandiri sehingga sangat tergantung pada petugas kesehatan dan puskesmas. Oleh karena itulah, pada saat posyandu dilaksanakan, peran kader sering sekali tidak berjalan sebagaimana mestinya. Padahal upaya penanggulangan status gizi buruk memerlukan upaya yang tepat, cepat dan menyeluruh. II. TUJUAN

1. Tujuan Umum

Setelah mengikuti pelatihan, diharapkan para kader posyandu dapat melaksanakan kegiatan pengisian KMS dengan benar.2. Tujuan Khusus a. Kader dapat melakukan pengisian dan membaca Kartu Menuju Sehat (KMS).

b. Kader mengetahui cara memantau pertumbuhan balita berdasarkan catatan KMS balita.c. Kader dapat melakukan tindakan segera berdasarkan catatan KMS balita.d. Kader dapat memberikan nasehat dan pesan-pesan tentang makanan balita sesuai dengan hasil penimbangan.III. PESERTA PELATIHANPeserta pelatihan adalah Kader-kader yang ada di posyandu Banjar Kertajiwa.IV. PELATIH ATAU NARASUMBERPelatih atau narasumber yang akan melatih peserta pelatihan adalah Ahli gizi merangkap dosen Jurusan Gizi Poltekkes Denpasar atas nama Ir. Desak Putu Sukraniti, M.Kes dan Ni Made Dewantari, SKM, M.For. V. WAKTU DAN TEMPAT PELATIHAN

(Rencana Pelaksanaan Kegiatan Terlampir)Waktu

: Jumat, 29 Mei 2015Pukul

: 08.00 11.00 WITA

Tempat : Balai Banjar Kertajiwa, Biaung, Kertalangu

Alamat : Jalan Biaung Asri, Denpasar TimurRencana Pelaksanaan Kegiatan: (Terlampir)VI. MATERI PELATIHANA. Pengertian KMSKartu Menuju Sehat untuk Balita (KMS-Balita) adalah alat yang sederhana dan murah, yang dapat digunakan untuk memantau kesehatan dan pertumbuhan anak. Oleh karenanya KMS harus disimpan oleh ibu balita di rumah, dan harus selalu dibawa setiap kali mengunjungi posyandu atau fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk bidan dan dokter.KMS-Balita menjadi alat yang sangat bermanfaat bagi ibu dan keluarga untuk memantau tumbuh kembang anak, agar tidak terjadi kesalahan atau ketidakseimbangan pemberian makan pada anak. KMS-Balita juga dapat dipakai sebagai bahan penunjang bagi petugas kesehatan untuk menentukan jenis tindakan yang tepat sesuai dengan kondisi kesehatan dan gizi anak untuk mempertahankan, meningkatkan atau memulihkan kesehatannya.

KMS balita berisi catatan penting tentang pertumbuhan, perkembangan anak, imunisasi, penanggulangan diare, pemberian kapsul vitamin A, kondisi kesehatan anak, pemberian ASI eksklusif dan Makanan Pendamping ASI, pemberian makanan anak dan rujukan ke Puskesmas/RS. KMS balita juga berisi pesan-pesan penyuluhan kesehatan dan gizi bagi orang tua balita tentang kesehatan anaknya.B. Manfaat KMSManfaat KMS-Balita adalah:

Sebagai media untuk mencatat dan memantau riwayat kesehatan balita secara lengkap, meliputi: pertumbuhan, perkembangan, pelaksanaan imunisasi, penanggulangan diare, pemberian kapsul vitamin A, kondisi kesehatan anak pemberian ASI eksklusif, dan Makanan Pendamping ASI. Sebagai media edukasi bagi orang tua balita tentang kesehatan anak. Sebagai sarana komunikasi yang dapat digunakan oleh petugas untuk menentukan penyuluhan dan tindakan pelayanan kesehatan dan gizi.KMS - Balita dapat berguna, apabila memperhatikan hal-hal sebagai berikut: Penimbangan dan deteksi tumbuh kembang balita dilakukan setiap bulan. Semua kolom isian diiisi dengan benar.

Semua keadaan kesehatan dan gizi anak dicatat. Orang tua selalu memperhatikan catatan dalam KMS-Balita. Kader dan petugas kesehatan selalu memperhatikan hasil penimbangan.

Setiap ada gangguan pertumbuhan anak, dicari penyebabnya dan dilakukan tindakan yang sesuai. Penyuluhan gizi dalam bentuk konseling dilakukan setiap kali anak selesai ditimbang dan hasil penimbangannya dicatat dalam KMS.

KMS - Balita disimpan oleh ibu balita dan selalu dibawa setiap mengunjungi posyandu atau fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk bidan/dokter.C. Cara memantau pertumbuhan BalitaPertumbuhan balita dapat diketahui apabila setiap bulan ditimbang, hasil penimbangan dicatat di KMS, dan antara titik berat badan KMS dari hasil penimbangan bulan lalu dan hasil penimbangan bulan ini dihubungkan dengan sebuah garis. Rangkaian garis-garis pertumbuhan anak tersebut membentuk grafik pertumbuhan anak. Pada balita yang sehat, berat badannya akan selalu naik, mengikuti pita pertumbuhan sesuai dengan umurnya (Depkes RI, 2000).a) Balita naik berat badannya bila:

Garis pertumbuhan-nya naik mengikuti salah satu pita warna ,atau Garis pertumbuhan-nya naik pindah ke pita warna diatasnya

Gambar a. Indikator KMS bila balita naik berat badannyab) Balita tidak naik berat badannya bila: Garis pertumbuhan-nya turun, atau Garis pertumbuhan-nya mendatar, atau Garis pertumbuhan-nya naik, tetapi pindah ke pita warna dibawahnya

Gambar b. Indikator KMS bila balita tidak naik berat badannyac) Berat badan balita dibawah garis merah:Artinya pertumbuhan balita mengalami gangguan pertumbuhan dan perlu perhatian khusus, sehingga harus langsung dirujuk ke Puskesmas/ Rumah Sakit.

Gambar c. Indikator KMS bila berat badan balita dibawah garis merahd) Berat badan balita tiga bulan berturut-turut tidak naik (3T), artinya balita mengalami gangguan pertumbuhan, sehingga harus langsung dirujuk ke Puskesmas/ Rumah Sakit.

Gambar d. Indikator KMS bila berat badan balita tidak stabile) Balita tumbuh baik bila: Garis berat badan anak naik setiap bulannya.

Gambar e. Indikator KMS bila berat badan balita naik setiap bulanf) Balita sehat, jika: Berat badannya selalu naik mengikuti salah satu pita warna atau pindah ke pita