Proposal Nunu

download Proposal Nunu

of 40

  • date post

    23-Jun-2015
  • Category

    Documents

  • view

    636
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Proposal Nunu

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Penelitian Bangsa Indonesia yang terbentang dari ujung Barat dan ujung Timur

kepulauan Nusantara adalah masyarakat majemuk yang terdiri dari beribu-ribu pulau, suku bangsa, bahasa, agama, dan budaya. Kemajemukan tersebut merupakan satu kesatuan sosial sebagai bangsa yang berbudaya. Hal ini menunjukkan, bahwa bahwa masyarakat Indonesia memiliki keragaman, karakteristik, dan perbedaan dalam adatistiadat, kepercayaan, nilai-nilai, tradisi, dan kebiasaan budaya masing-masing. Bahkan bersamaan dengan itu, tiap-tiap budaya tersebut mempunyai kompleksitas dan keunikannya. Kompleksitas dan keunikan dimaksud baik dalam sejarah, latarbelakang, orientasi, maupun tujuannya, dalam peradaban masyarakatnya. Tiap-tiap budaya kelompok masyarakat tersebut memiliki simbol-simbol, tanda-tanda, ritual, produk (artefak) dan makna yang membentuk sistem kebudayaannya masing-masing. Keseluruhan budaya tersebut memiliki pola, bentuk, praktik secara berbeda-beda sebagai panduan dalam berinteraksi, bertindak dan berperilaku dalam kehidupan masyarakatnya dengan bantuan akal pikirannya, manusia dapat mengembangkan, melestarikan, mewariskan dan mengembangkan kebudayaan dalam berinteraksi dengan sesamanya secara turun-temurun.

(Koentjoroningrat,1990:23-24)

1

Kebudayaan merupakan persoalan the how and the what (apa dan bagaimana) dari interaksi sosial dalam menghadapinya dan menyelesaikan masalah bersama, yang kemudian melekat kuat dan diwariskan dari generasi ke generasi. Kebudayaan secara universal berfungsi sebagai acuan untuk menjalankan dan mengorganisir berlangsungnya kegiatan maupun proses sosial. Fungsi sosialisasi dalam sistem budaya yang sama memegang peranan penting sebagai mekanisme sosial dalam memajukan suatu kebudayaan dan masyarakat. Setiap interaksi yang terjalin, merupakan produk budaya, bentuk ekspresi, apresiasi dan kreatifitas manusia dan peradabannya dalam kehidupan sosial bersama. Manusia atau masyarakat melalui budaya turut mengembangkan kemampuannya, potensinya, harapan-harapan, tujuannya, dan cita-cita dalam kehidupannya. Perwujudan atau ekspresi budaya tersebut berbeda-beda bagi setiap kelompok masyarakat. Namun, diantara bentuk ekspresi budaya yang ada, pengembangan kebudayaan masyarakat secara umum dilakukan melalui jenis ritual budaya, simbolsimbol, dan kesenian daerah. Dalam kebudayaan itu, terkandung nilai-nilai filosofis, mitos, kepercayaan, dan cita-cita hidup, melalui penciptaaan simbol-simbol, prosedur aktivitas, dan nilai-nilai tertentu, kemudian membentuk makna bagi simbol lainnya. Proses simbolis ini menembus kehidupan manusia dalam tingkatan yang paling primitif sampai dengan tingkat paling beradab, karenanya manusia dikatakan hidup dalam suatu lingkungan simbol-simbol yang bermakna dan bernilai. Diantara suku bangsa atau kelompok masyarakat yang ada di Indonesia, adalah masyarakat suku Bajo di Kelurahan Lapulu Kota Kendari Sulawesi Tenggara. 2

Secara umum keberadaan masyarakat Orang/Suku Bajo merupakan fakta sosial yang tidak bisa dihilangkan. Meskipun jumlah komunitas suku Bajo di Kelurahan Lapulu sangat minim, namun keberadaan mereka sangat kontras dengan masyarakat Lapulu umumnya. Keberadaan suku Bajo di Kelurahan Lapulu menghuni wilayah pesisir timur dan barat. Kehidupan sosial mereka terkosentrasi pada hubungan dan interaksi sosial-budaya diantara mereka sendiri, sehingga praktis mereka kurang beradaptasi dengan dunia diluar komunitas mereka. Hubungan dan interaksi diantara mereka berlangsung solid dan harmonis. Masyarakat Suku Bajo juga memiliki tradisi-tradisi, kebiasaan dan nilai-nilai budaya yang telah hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakatnya. Salah satu bentuk budaya dimaksud adalah ritual prosesi melaut Suku Bajo dalam mencari hasil-hasil laut. Sebagai masyarakat yang mendiami wilayah pesisir pantai, suku Bajo menghabiskan waktunya dengan beraktivitas di laut, sehingga tak jarang mereka dijuluki suku pengembara laut. Aktivitas tersebut berupa mencari, menangkap, membibit hingga memanen ikan dan hasil laut lainya. Berbagai aktivitas melaut tersebut, secara umum merupakan jenis mata pencaharian utama suku Bajo. Proses ritual tersebut kemudian menjadi bagian aktifitas sehari-hari dalam kehidupan diantara mereka. Prosesi ritual dimaksud merupakan produk warisan budaya leluhur suku Bajo yang dipraktikan secara turun-temurun dari generasi tua sampai generasi muda. Mulai dari persiapan sebelum melaut, pada saat melaut hingga setelah melaut prosesi ritual tersebut dapat dijumpai dalam aktivitas melaut mereka. Tahapan-tahapan ritual itu, menurut pandangan budaya suku Bajo dipercaya memiliki 3

makna magis bagi kelangsungan, pelaksanaan dan keberhasilan usaha-usaha penangkapan ikan dan hasil laut lainnya. Berdasarkan penelusuran dan pengamatan sementara, penulis menemukan bahwa interaksi simbolik digunakan dalam proses ritual dalam aktivitas melaut suku Bajo selain memiliki daya magis, juga mempunyai nilai-nilai sejarah, kebersamaan, kesetaraan, dan fungsi keseimbangan lingkungan. Menurut pandangan suku Bajo, ritual-ritual yang dilakukan dilandasi oleh kearifan lokal budaya dan ekosistem biota laut. Melalui ritual-ritual tersebut, suku Bajo berusaha membangun, mempertahankan dan mengembangkan solidaritas, kekompakan diantara mereka sebagai kelompok komunitas suku Bajo yang kuat, ulet dan arif dalam menjaga kelangsungan hidup bersama dengan lingkungan lautnya. Sebagai masyarakat yang bergantung dan dibesarkan oleh lingkungan laut, suku Bajo memandang laut sebagai tanah leluhur yang senantiasa harus dijaga dan dilestarikan ekosistem didalamnya. Bagi suku Bajo fungsi ritual-ritual tersebut sebagai bentuk ekspresi, pengakuan, penghargaan diri dan lingkungan alamnya. Berdasarkan pemikiran dan uraian yang telah dijelaskan di atas, beberapa hal yang melandasi alasan penelitian ini dilakukan, secara khusus dapat dikemukakan sebagai berikut : (1) Suku Bajo merupakan kelompok suku yang ada dan tergolong monoritas yang jarang melakukan interaksi sosial, (2) Suku Bajo memiliki budaya unik dan berbeda dengan masyarakat lainnya yang dikembangkan sebagai kebiasaan hidup dalam beraktifitas di laut, (3) Interaksi sosial suku Bajo selalu berorientasi dengan lingkungan laut, (4) Dalam interaksi simbolik suku Bajo, segala symbol, 4

bahasa, seni dan interaksi sosial menyatu membentuk maknanya sebagai suku pengembara laut, (5) dibalik makna-makna tersebut tersimpan filosofi hidup dan keseimbangan hidup antara manusia dengan alam. Berangkat dari uraian alasan di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian secara mendalam tentang bentuk, fungsi dan makna-makna dalam prosesi interaksi suku Bajo. Proses penelitian ini akan berusaha menggali, menelusuri, menemukan, mengolah dan menganalisis seluruh data aktivitas melaut suku Bajo di lokasi penelitian. Penelitian ini diharapkan prosesi interaksi simboli suku Bajo dapat dimaknai dan diinterpretasikan secara kultural menurut pandangan suku Bajo sendiri, Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan dalam penelitian ini, maka, maka penulis mengajukan usulan penelitian ini dengan judul Interaksi Simbolik Komunikasi Suku Bajo di Masyarakat Kelurahan Lapulu Kecamatan Abeli Kota Kendari. 1.2. Rumusan Masalah Mengacu pada pertimbangan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : 1. 2. 3. Bagaimana simbol komunikasi orang Bajo dan pada masyarakat Lapulu? Bagaimana perilaku komunikasi non verbal dan verbal? Bagaimana proses komunikasi suku Bajo pada masyarakat di Kelurahan Lapulu?

5

1.3.

Maksud dan Tujuan Penelitian

1.3.1. Maksud Penelitian Sejalan dengan rumusan masalah tersebut di atas, maka penelitian ini dimaksudkan untuk menganalisis dan mendeskripsikan Interaksi simbolik komunikasi Suku Bajo pada masyarakat di Kelurahan Lapulu. 1.3.2 Tujuan Penelitian Dengan mengacu pada maksud tersebut di atas, maka tujuan dalam penelitian ini adalah: 1. Untuk mengetahui simbol komunikasi orang Bajo dan pada masyarakat Lapulu? 2. Untuk mengetahui perilaku komunikasi non verbal dan verbal? 3. Untuk mengetahui proses komunikasi suku Bajo pada masyarakat di Kelurahan Lapulu?

1.4.

Kegunaan Penelitian Hasil penelitian ini nantinya diharapkan dapat memberikan kontribusi pada

pengembangan ilmu serta pada kepentingan praktis : 1. Aspek teori : mengembangkan kerangka teori, prosedur metodologis, dan penjelasan teoritis yang tidak hanya mengakomodasi data, tapi juga dapat memberi gambaran tentang proses komunikasi dan makna simbol dalam aktivitas suku Bajo sehingga dapat menjadi sumbangan bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu sosiologi dan antropologi dan menambah kajian

6

mengenai makna simbolik terhadap proses aktifitasnya.

interaksi suku Bajo dalam

2. Aspek praktis : penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh berbagai kalangan, baik pemerintah, praktisi maupun masyarakat umum dalam melihat berbagai persoalan yang berkaitan dengan kehidupan suku Bajo khususnya proses komunikasi pada masyarakat di Kelurahan Lapulu

1.5.

Kerangka Pemikiran Sebagai sebuah penelitian lintas disiplin yang menganalisis interaksi sosial

budaya seseorang, kelompok, komunitas dalam masyarakat, maka penelitian ini tidak luput dari beberapa intervensi disiplin ilmu sosial yang dianggap relevan dengan permasalahan penelitian. Beberapa intervensi yang dimaksud penulis adalah penggunaan teori-teori dalam khasanah ilmu sosial. Penggunaan teori-teori tersebut dimaksudkan untuk membantu menelaah dan menganalisis secara ilmiah

permasalahan pokok yang akan diteliti. Penelitian ini memfokuskan diri pada Makna simbolik dalam Prosesi ritual yang melibatkan kontak-kontak budaya interelasi atau hubungan peribadi seseorang, kelompok atau komunitas dalam masyarakat memiliki kemampuan membangun hubungan, memberi tanggapan, dan memaknai proses interaksi sosial-budaya baik secara fisik m