Proposal Kedelai Complete

download Proposal Kedelai Complete

of 25

  • date post

    13-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    609
  • download

    10

Embed Size (px)

Transcript of Proposal Kedelai Complete

PROGRAM KREATIF MAHASISWA

HETEROSIS PADA PERSILANGAN KEDELAI INDONESIA DAN KEDELAI JEPANG

BIDANG KEGIATAN PKMP

Diusulkan oleh: Fahmi Arief Rahman Rekyan Larasati Widhi Kurnia 081510501066 081510501101 081510501094

UNIVERSITAS JEMBER JEMBER 2010

HALAMAN PENGESAHAN USUL PKM

1. Judul Kegiatan 2. Bidang Kegiatan (Pilih salah satu) 3. Bidang Ilmu (Pilih salah satu)

: Heterosis Pada Persilangan Kedelai Indonesia dan Kedelai Jepang : ( ) PKMP ( ) PKMK ( ) PKMT ( ) PKMM : ( ) Kesehatan ( ) Pertanian ( ) MIPA ( ) Teknologi dan Rekayasa ( ) Sosial Ekonomi ( ) Humaniora ( ) Pendidikan 4. Ketua Pelaksana Kegiatan a. Nama Lengkap : Fahmi Arief Rahman b. NIM : 081510501066 c. Jurusan/Program Studi : Agroteknologi d. Perguruan tinggi : Universitas Jember e. Alamat Rumah : Indramayu Jawa Barat f. No Telp/HP : 085336044142 g. Email : mailnya_fahmi@yahoo.com 5. Anggota Pelaksana Kegiatan/Penulis: 2 orang 6. Dosen Pendamping a. Nama Lengkap : Dr. Ir. M. Setyo Poerwoko, MS b. NIP : 195507041982031001 c. Alamat Rumah : d. No Telpon/HP : 7. Biaya Kegiatan Total : Rp 10.136.500 a. Sumber Dikti : Rp 10.000.000 b. Sumber lain :8. Jangka Waktu Pelaksanaan : 4 bulan

Jember , 07 Oktober 2010 Menyetujui Ketua Jurusan/Program Studi/ Pembimbing Unit Kegiatan mahasiswa

Ketua Pelaksana Kegiatan

(Dr. Ir. M. Setyo Poerwoko, MS) NIP. 195507041982031001 Pembantu atau Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan/Direktur Politeknik/ Ketua Sekolah Tinggi,

( Fahmi Arief Rahman ) NIM.081510501066 Dosen Pendamping

(__________________________) NIP.

(Dr. Ir. M. Setyo Poerwoko, MS) NIP. 195507041982031001

1) Judul Heterosis Pada Persilangan Kedelai Indonesia dan Kedelai Jepang

2) Latar Belakang Masalah Kedelai merupakan salah satu komoditas pangan terpentinng ketiga setelah padi dan jagung dan banyak dibutuhkan untuk bahan pangan, pakan ternak dan bahan baku industri (Amaruddin et al., 2002). Kedelai banyak diminati oleh masyarakat dunia, terutama di Indonesia kedelai merupakan sumber protein yang sangat penting dan rendah kolesterol. (Rukmana dan Yuniarsih, 1996). Kebutuhan kedelai saat ini sangat tinggi dan terus meningkat namun belum dicukupi oleh produksi nasional, sehingga dilakukan impor dari Negara lain (Kasjadi et al., 2000). Menurut Suprapto (2001), rendahnya produktivitas kedelai di Indonesia disebabkan anatara lain para petani masih menggunakan varietas lokal yang tingkat produktivitasnya rendah, adanya serangan hama dan penyakit, bencana alam dan persaingan dengan gulma. Kita boleh saja kaya akan varietas kedelai, tetapi fakta dilapangan menunjukkan hanya beberapa saja yang dibudidayakan oleh petani dan ternyata produktifitasnya juga rendah karena petani tidak menetapkan budidaya yang benar, akibat lanjutnya adalah produksi nasional juga rendah. Dari sisi bisnis kedelai tidak menggairahkan bagi petani karena tertekan derasnya arus kedelai import yang harganya lebih murah, disisi lain lahan kedelai bersaing dengan lahan kacang hijau (Sutrisno, 2008). Meroketnya harga kedelai dipasaran, menjadikan langkanya makanan yang digemari masyarakat dari kalangan jelata hingga kalangan atas yaitu tahu dan tempe (Anonim, 2007). Sampai saat ini Indonesia adalah pengimport potensial untuk komoditi kedelai. Kontradiktif dengan luasnya lahan potensial untuk penanaman kedelai. Indonesia merupakan negara ketiga terbesar dari sudut luas areal tanam kedelai yaitu 1,4 juta ha setelah China (8 juta ha), dan India (4,5 juta ha). Dari sisi produksi kedelai, Indonesia menduduki peringkat keenam terbesar didunia setelah AS, Brazil, Argentina, China dan India. Peningkatan produksi kedelai selama sepuluh tahun terakhir lebih banyak sebagai kontribusi perluasan areal tanam

(73%) dan sisanya 27% berasal dari peningkatan produktivitas. Meskipun setiap tahunnya terjadi peningkatan produksi kedelai nasional tetapi tetap tidak bisa menyusul laju permintaan kedelai dalam negeri. Salah satu penyebabnya adalah porduktivitas pertanaman kedelai yang rendah yaitu hanya 1,1 ton/ha. Jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan brazil dan Argentina yang mampu menghasilkan diatas 2 ton kedelai per ha (Adisarwanto dan Wudianto, 2001). Produksi kedelai di tahun 2007 mencapai 592.534 ton dengan luas lahan 459.116 ha. Sedangkan produksi kedelai pada tahun 2008 mengalami kenaikan produksi mencapai 775.710 ton seiring meningkatnya luas lahan pertanaman kedelai yang mencapai 590.956 ha. Berdasarkan angka ramalan II (ARAM II) BPS, produksi kedelai ditahun 2009 mencapai 924.511 ton dengan luas

mencapai 701.392 ha, (Badan Pusat Statistik Republik Indonesia, 2009). Produksi kedelai yang mencapai 924.511 ton ditahun 2009 masih tetap belum dapat memenuhi kebutuhan kedelai yang mencapai 2,2 juta ton untuk target swasembada kedelai 2012. Target ini mematok 90% kebutuhan kedelai akan tercukupi oleh produksi dalam negeri, sisanya, melalui impor. (Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, 2010). Untuk meningkatkan produktivitas dan produksi kedelai dalam pencapaian swasembada kedelai, diperlukan suatu cara untuk mendapatkan varietas unggul baru. Salah satu upaya untuk memperoleh varietas unggul kedelai adalah melalui persilangan, dengan dilakukan persilangan di antara semua pasangan tetuanya, dapat diketahui potensi hasil dari suatu kombinasi hibrida, besarnya nilai heterosis dan dugaan nilai heterosis yang besar (Silitonga et al., 1993). Kedelai jepang dengan rasa yang enak dan polong yang besar memiliki potensi besar dalam menghasilkan varietas unggul baru iika disilangkan dengan kedelai varietas lokal yang memiliki ketahanan indegenous. Persilangan merupakan cara yang paling popular dalam manipulasi komposisi gen pada populasi untuk meningkatkan variasi genetik, karena murah, mudah dilakukan dan efektif (Anonim, 2007). Heterosis antara tetua (midparent heterosis) ditentukan sebagai

penyimpangan penampilan keturunan F1 dari rata-rata tetuanya. Penentuan heterosis ini diperlukan untuk kepentingan kajian genetik namun kurang memiliki

nilai praktis. Heterosis tetua terbaik (best/ high parent heterosis) dihitung sebagai selisih penampilan keturunan F1 dari tetua dengan penampilan lebih menarik atau juga disebut heterobeltiosis (Wikipedia, 2009). Heterosis bukan mengacu pada penggabungan dua sifat baik dari kedua tetua kepada keturunan hasil persilangan, melainkan pada lonjakan/penyimpangan dari penampilan yang diharapkan dari penggabungan dua sifat yang dibawa tetuanya. Heterosis sering kali menimbulkan sifat yang sangat mencolok sehingga pegujiannya statistik tidaklah lagi diperlukan guna memastikan arti ekonomisnya. Pengujian komersiil heterosis pada masa ini di Amerika Serikat telah berkembang dan meliputi hampir semua jenis ayam, jagung, tomat, dan shorgum (Brewbeker, 1983).

3) Perumusan Masalah Kebutuhan kedelai disetiap tahunnya terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk yang terus berkembang. Untuk mewujudkan target pemerintah mengenai swasembada kedelai ditahun 2012, maka salah satunya dibutuhkan varietas unggul baru yang spesifik lokasi untuk daerah Jember agar produktivitas kedelai per ha dapat semakin meningkat. Untuk mendapatkan varietas unggul yang baik, maka perlu dilakukan persilangan. Nilai heterosis F1 dari hasil persilangan kedelai Jepang dan Indonesia apakah mampu digunakan sebagai acuan untuk mendapatkan varietas unggul baru.

4) Tujuan Program Dari uraian pada perumusan masalah diatas maka tujuan dari kegiatan penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut. 1. Untuk mengetahui hasil persilangan kedelai Jepang dan kedelai Indonsia berdasarkan tetua tengah untuk memperoleh varietas kedelai yang unggul. 2. Mendukung pemerintah dalam pencapaian swasembada kedelai 2012 melalui pengadaan varietas unggul baru spesifik lokasi.

5) Luaran yang Diharapkan Hasil dari penelitian ini adalah berupa peluncuran varietas baru yang dapat diadopsi masyarakat petani dalam bertanam kedelai sehingga kemakmuran petani kedelai dapat dicapai dan target pemerintah dalam berswasembada kedelai pun akan tercapai. Hasil penelitian ini juga akan dipublikasikan dalam bentuk artikel atau jurnal ilmiah terakreditasi nasional.

6) Kegunaan Program Hasil dari kegiatan ini adalah profil potensi baru bagi varietas kedelai unggul baru dan prospeknya terhadap pencapaian swasembada kedelai 2012. Benih yang dihasilkan dari persilangan kedelai Jepang dan kedelai Indonesia ini diharapkan dapat digunakan oleh masyarakat petani Jember dengan

produktivitasnya yang tinggi sehingga perekonomian petani kedelai dapat terangkat dan swasembada kedelai dapat di capai.

7) Tinjauan Pustaka 7.1 Tanaman Kedelai 7.1.1 Kedelai Indonesia Kedelai merupakan tanaman asli Daratan Cina dan telah dibudidayakan oleh manusia sejak 2500 SM. Awal mula penyebaran dan pembudidayaan kedelai yaitu di Pulau Jawa, kemudian berkembang ke Bali, Nusa Tenggara, dan pulaupulau lainnya (Sofia, 2007). Pada awalnya, kedelai dikenal dengan beberapa nama botani, yaitu Glycine soja dan Soja max. Namun pada tahun1948 telah disepakati bahwa nama botani yang dapat diterima dalam istilah ilmiah, yaitu Glycine max (L.) Merill. Divisio Classis Orda Familia Genus Spesies : Spermatophyta : Dicotyledoneae : Rosales : Papilionaceae : Glysine : Glycine max (L.) Merill

Tanaman kedelai umumnya tumbuh tegak, berbentuk semak, dan merupakan tanaman semusim. Morfologi tanaman kedelai didukung oleh komponen utamanya, yaitu akar, daun, batang, polong, dan biji sehingga pertumbuhannya bisa optimal (Rukmana dan Yuniarsih, 1996).

7.1.2 Kedelai Jepang Edamamme merupakan tanaman kedelai yang botaninya diklasifikasikan sebagai berikut : Ordo Family Sub-Family Genus Sub-Genus Spesies : Polypetales : Leguminosae : Papilionoideae : Glycine : Soja : Glycine max (Lumpkin, et. al., 1993) Salah satu tanaman penghasil komoditi yang berharga dan merupakan bahan pangan dengan nilai gizi y