Proposal airtanah.doc

13
Rencana Proposal KAJIAN HIDROGEOLOGI DAN POTENSI AIRTANAH DAERAH VULKANIK DENGAN STUDI KASUS PULAU TERNATE PROPINSI MALUKU UTARA 1.1 LATAR BELAKANG Pulau Ternate merupakan daerah tumbuh cepat dengan tingkat perkembangannya yang sangat pesat, dimana terdapat tiga pusat pemerintahan yaitu Kota Ternate, Kabupaten Maluku Utara dan Propinsi Maluku Utara. Dampak dari pesatnya pembangunan di segala sektor, terutama di Kota Ternate pada saat ini adalah merupakan pusat pertumbuhan berbagai sektor jasa perdagangan maupun ekonomi serta yang paling menonjol di daerah ini adalah sektor perumahan dan industri. Dengan berkembangnya daerah tersebut akan menyebabkan terjadinya lonjakan penenduduk yang cukup tinggi yang kemungkinan akan diikuti pula dengan pembangunan sarana fisik kehidupannya. Seiring dengan itu akan terjadi peningkatan kebutuhan air bersih untuk berbagai keperluan serta akan terjadinya alih fungsi lahan di beberapa wilayah yang mengakibatkan berkurangnya daerah peresapan air, sehingga dapat mengganggu kelestaran airtanah. Untuk mengatasi hal itu perlu dicari jalan keluamya yaitu dengan mengupayakan perolehan data tentang sumber Kajian Hidrogeologi dan Potensi Airtanah Pulau Ternate 1

Transcript of Proposal airtanah.doc

Proposal Kerja Paksa

Rencana Proposal

KAJIAN HIDROGEOLOGI DAN POTENSI AIRTANAH DAERAH VULKANIK DENGAN STUDI KASUS PULAU TERNATE PROPINSI MALUKU UTARA

1.1 LATAR BELAKANG

Pulau Ternate merupakan daerah tumbuh cepat dengan tingkat perkembangannya yang sangat pesat, dimana terdapat tiga pusat pemerintahan yaitu Kota Ternate, Kabupaten Maluku Utara dan Propinsi Maluku Utara. Dampak dari pesatnya pembangunan di segala sektor, terutama di Kota Ternate pada saat ini adalah merupakan pusat pertumbuhan berbagai sektor jasa perdagangan maupun ekonomi serta yang paling menonjol di daerah ini adalah sektor perumahan dan industri.

Dengan berkembangnya daerah tersebut akan menyebabkan terjadinya lonjakan penenduduk yang cukup tinggi yang kemungkinan akan diikuti pula dengan pembangunan sarana fisik kehidupannya. Seiring dengan itu akan terjadi peningkatan kebutuhan air bersih untuk berbagai keperluan serta akan terjadinya alih fungsi lahan di beberapa wilayah yang mengakibatkan berkurangnya daerah peresapan air, sehingga dapat mengganggu kelestaran airtanah. Untuk mengatasi hal itu perlu dicari jalan keluamya yaitu dengan mengupayakan perolehan data tentang sumber airtanah yang kemungkinan bisa dikembangkan dan tetap lestari pemakaiannya.

Upaya pemenuhan akan air bersih di wilayah Pulau Ternate untuk keperluan masyarakat pasokan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang tidak merata karena kebutuhan akan air baku yang mengandalkan air tanah bebas dengan debit yang terbatas.

Untuk mengatasi hal tersebut, maka pemanfaatan potensi sumberdaya air secara optimal perlu dilakukan dengan cara peningkatan sistem pengelolaan dan pengaturan pemanfaatan air tanah oleh tiap-tiap sumur produksi PDAM. Namun sampai saat ini jenis akuifer dan sistem airtanah yang terbentuk serta besarnya potensi airtanah yang ada di Pulau Ternate belum diketahui, sehingga menjadikan kendala dalam pengelolaannya. Dalam mengoptimalkan produksi air tanah pihak pengelola harus mengetahui penyebaran formasi mengenai tatanan lapisan pembawa air (akuifer) maupun potensi cadangan airtanahnya dan menginformasikan kepada segenap lapisan masyarakat terutama pihak-pihak yang berkepentingan terhadap upaya pengelolaan dan pemanfaatan sumber airtanah di wilayah ini. Dengan demikian semua pihak diharapkan dapat memahami dan turut berpartisipasi aktif dalam upaya pelestarian. Untuk itulah maka penelitian tentang kajian system akuifer dan potensi airtanah di Dipulau Ternate ini dilakukan dengan harapan dapat membantu pemerintah setempat dalam mengelola sumberdaya airtanahnya.

1.2 PERMASALAHAN

Daerah penelitian ada di Pulau Ternate yang meliputi beberpa sumber mataair, sumur produksi PDAM serta sumur-sumur penduduk. Sejalan dengan pesatnya perkembangan pambangunan di berbagai sector di Pulau Ternate sebagai Pusat Pelayanan Pemerintahan Propinsi Maluku Utara, Kota Ternate serta Kabupaten Maluku Utara, dapat memicu timbulnya permasalahan yang cukup rawan, baik dalam bidang infrastruktur hingga persoalan sosial ekonomi.

Adanya pengambilan airtanah yang berlebihan menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan antara air yang meresap dengan air yang diambil. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya penurunan muka air tanah akibat ketidakseimbangan antara pengisian (recharge) dan pengambilan (disrecharge) serta terjadi pergeseran tata guna lahan yang sangat signifikan sehingga luas areal sebagai media infiltrasi semakin kecil. Dampak negatif diatas, mungkin akan atau sudah terjadi di wilayah Pulau Ternate. Konsekuensi dari cepatnya proses pembangunan yang terjadi apabila tidak ditangani dengan serius dan terencana dengan baik akan semakin parah dan luas dampak yang terjadi.

Untuk mengantisipasi dampak negatif tersebut maka perlu dilakukan kajian sistem akuifer dan potensi airtanah sehingga dapat memberikan informasi menganai kondisi airtanah, antara lain mengenai potensi airtanah, karakteristik airtanah, baik secara kuantitas maupun kualitas. Dengan demikian diharapkan dapat membantu pemerintah setempat dalam mengelola sumberdaya airtanah dan terlaksananya suatu proses pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan.

1.3 TUJUAN

Tujuan penelitian adalah :

1. Mengetahui akuifer dan sistem airtanah di Pulau Ternate sebagai daerah karakteristik akifer daerah vulkanik

2. Mengetahui potensi airtanah di Pulau Ternate

3. Mengidentifikasi laju penurunan muka air tanah

1.4 LINGKUP PENELITIAN

Berdasarkan maksud dan tujuan penelitian tersebut, maka lingkup penelitian adalah :

1. Identifikasi dan karakterisasi akuifer berdasarkan hasil analisis data pemboran dan logging, sayatan geologi dari peta geologi dan tinggi muka air tanah sumur gali

2. Mempelajari geometri akuifer secara fisik dan membuat model fisik sistem akifer daerah vulkanik

3. Evaluasi debit potensi sumur produksi PDAM

4. Penentuan kuantitas potensi airtanah dengan neraca air berdasarkan hasil analisis data hidrologi dan klimatologi, penentuan kualitas airtanah berdasarkan analisis laboratorium.

1.5 METODOLOGI PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini meliputi tahap-tahap sebagai berikut :

1. Studi kepustakaan sebagai penunjang kegiatan lapangan

2. Pengumpulan data sekunder, yaitu : peta geologi, peta geohidrologi, peta topografi, laporan penelitian sebelumnya, uji pemompaan, klimatologi, hidrogeologi, demografi dan kebutuhan air penduduk.

3. Pengumpulan data primer, yaitu dengan melakukan pengamatan dan pengukuran langsung di lapangan yang meliputi pangamatan litologi, singkapan, pengukuran tinggi muka airtanah pada sumur gali dan pengambilan sample air serta sample batuan untuk pengujian laboratorium.

4. Sintesis data : yaitu melakukan pengolahan yang meliputi perhitungan dan penggabungan data-data yang saling berkait, untuk memperoleh penampang geologi, parameter akuifer, peta kontur muka airtanah, kandungan kimia airtanah, prediksi jumlah penduduk dan proyeksi kebutuhan air penduduk masa datang.

5. Analisis data, yaitu melakukan analisis terhadap hasi lpengolahan data sehingga kondisi daerah penelitian dapat diketahui. Kondisi tersebut meliputi : tipe akuifer, karakter akuifer, arah dan pola aliran airtanah, kuantitas dan kualitas airtanah.

1.6 KONDISI GEOLOGI REGIONAL

Gunungapi Gamalama meliputi seluruh Pulau Ternate dengan luas 130 kilometer persegi, terletak di gugusan Kepulauan Maluku (antara 0045' - 0053' Lintang Utara dan 12717' - 12724' Bujur Timur). Kota Ternate yang berperan sebagai pusat perdagangan dan kegiatan perekonomian serta pusat kegiatan tiga pemerintahan yakni Propinsi Maluku Utara, Kabupaten Maluku Utara serta Kota Ternate, terletak di pantai tenggara Pulau Ternate. Separuh penduduk di Pulau Ternate (sekitar 70.000) hidup di Kota Ternate. Daerah lain yang dipakai tempat tinggal penduduk hampir seluruhnya di sepanjang pantai, sebagian besar penduduk di sini sebagai nelayan atau petani.

Tektonik

Gamalama adalah salah satu gunungapi di dalam suatu rangkain gunungapi aktif yang terletak di sepanjang busur Pulau Halmahera di sebelah timur laut Maluku. Laut ini diperkirakan sebagai daerah pertemuan antara lempeng Pasifik, Eurasia, Australia dan lempeng kecil yang lain (McCaffrey dll, 1980). Ternate terletak di atas jalur penunjaman (subduction zone), miring ke timur dengan sudut kecil (Hamilton, 1979,). Adanya fragmen granitik yang telah teralterasi di dalam lava Gamalama menunjukkan, bahwa di bawah gunungapi itu ada lapisan tipis silikaan yang menyerupai batuan granit yang tersingkap di P. Halmahera.

Fisiografi dan Struktur

Gamalama adalah gunungapi strato, tinggi sekitar 1715 m dan berdiameter 11 km. Lereng umumnya landai di dekat pantai, tetapi menjadi lebih curam ke arah puncak. Gamalama terdiri dari 3 generasi gunungapi, pada masing-masing kegiatan kawah pusat nampaknya berpindah ke arah utara. Generasi gunungapi tertua disebut Gamalama Tua (Gt), sisa tubuhnya sekarang menempati bagian tenggara dan selatan Pulau Ternate. Puncaknya memanjang dari timurlaut ke baratdaya, dikenal dengan nama Bukit Melayu atau Gunung Kekau. Gt mempunyai relief kasar dan topografi yang tertoreh dalam sebagai akibat proses erosi yang telah lama.Sebagai hasilnya membentuk rangkaian perbukitan dengan lereng curam.dan lembah dalam. Kota Ternate terletak pada lereng timur Gt. Maar Laguna terletak di lereng selatan Gt terbentuk pada akhir prasejarah oleh erupsi freatik yang nampaknya berhubungan dengan magma dari pusat gunungapi termuda (Gm).

Generasi gunuganpi Gamalama Dewasa (Gd), sisa tubuhnya di bagian barat Pulau Ternate. Puncaknya berbentuk sabit berarah barat ke timur dan dikenal dengan nama Bukit Keramat atau Bukit Madiena. Gd mempunyai lereng yang curam tetapi relief lebih halus daripada Gt. Lereng baratnya tertutup oleh hutan lebat.

Gunungapi Gamalama Muda (Gm) membentuk diri di bagian utara dari Pulau Ternate dan kegiatan erupsinya sebagian terjadi pada masa sejarah manusia. Puncak Gm tingginya sekitar 1715 m dan dikenal bernama Gunung Arfat atau Piek van Ternate. Gm ini juga mempunyai lereng yang curam tetapi proses erosi belum sejauh pada Gt dan Gd. Sebagian besar relief pada Gm disebabkan oleh bentuk asal dari aliran lava muda. Kawah Gm diameter sekitar 200 m dan dalamnya 30 m. Di daerah puncak banyak solfatara dengan suhu tertinggi 92 C. Maar Tolire Jaha terletak pada lereng baratlaut Gm dan kawahnya berukuran 500 m x 700 m, kedalaman 80 m. Sejauh 250 m di utaranya terdapat maar yang lebih kecil yaitu Tolire kecil berukuran 150 m x 300 m dan kedalaman 5-10 m. Dua maar itu memotong muka airtanah sehingga berair sepanjang tahun dan permukaan airnya sama dengan permukaan air laut. Dengan memperhatikan kedua maar Tolire dan Laguna, posisi erupsi celah pada lereng gunungapi (letusan 1763) dan kawah puncak Gunungapi Gamalama menunjuk kan adanya celah yang memotong gunungapi Gamalama pada arah U15B-S15T. Celah ini sejajar dengan rangkaian Kepulauan Halmahera di daerah ini, sebagai bukti kelurusan Pulau Ternate, Pulau Hiri dan Pulau Tidore. 1.7 MANFAAT PENELITIAN

Penelitian ini diharapkan dapat dapat memberikan masukan berupa informasi mengenai kondisi airtanah baik secara kualitas maupun kuantitas kepada pemerintah dalam hal pengelolaan dan pengendalian airtanah , serta sebagai bahan refernsi dalam konservasi air tanah dimasa yang akan datang.

19Kajian Hidrogeologi dan Potensi Airtanah Pulau Ternate