proposal

download proposal

If you can't read please download the document

  • date post

    31-Oct-2014
  • Category

    Documents

  • view

    108
  • download

    4

Embed Size (px)

description

bebas

Transcript of proposal

NILAI NUTRISI TEPUNG BIJI KARET (Hevea brasiliensis) DALAM PAKAN IKAN LELE (Clarias sp)

PROPOSAL PENELITIAN

Oleh: Mas Bayu Syamsunarno C151080201

MAYOR ILMU AKUAKULTUR SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009 PENDAHULUAN Latar Belakang Ikan Lele (catfish) merupakan salah satu komoditas perikanan yang paling banyakdibudidayakan oleh masyarakat Indonesi. Data Statistik Perikanan Indonesia menunjukkan bahwa ikan lele (catfishes) menduduki peringkat nomor tiga produksi budidaya ikan air tawar di Indonesia setelah ikan mas (carps) dan nila (tilapias) (Anonimus, 2008). Wadah produksinya adalah kolam, keramba, keramba jaring apung dan sawah. Jawa merupakan pusat produksi ikan lele. Jawa Barat pada tahun 2000 menghasilkan 6.421 ton ikan lele dan meningkat 23.642 ton pada tahun 2006 (Anonimus, 2007). Budidaya lele dikembangkan secara intensif dengan mengandalkan pakan sebagai sumber pemacu pertumbuhan. Sekitar 40 60% biaya produksi dicurahkan kepada pakan. Hal ini mendorong perkembangan industri pakan komersial. Pakan komersial ikan lele mengandung protein sekitar 24 26%. Tepung ikan dan tepung kedele digunakan sebagai sumber utama protein pakan. Indonesia tidak mampu memenuhi kebutuhan kedua bahan baku tersebut. Indonesia mengimpor tepung ikan sebanyak 32.000 ton per bulan dan 40%nya digunakan untuk keperluan pakan ikan (Kompas, 2005). Menurut Anonimus (2009), selama tahun 2004 2008, impor bahan baku pakan ikan atau udang meningkat dari 96,12 juta ton menjadi 190,66 juta ton (22,28%). Pada tahun 2006, harga tepung ikan di pasar internasional meningkat dari 600 USD per ton menjadi 1.500 USD (Wawa, 2006). Tepung bungkil kedelai dapat menggantikan sebagian peranan tepung ikan (Suprayudi et al., 1999; Catacutan dan Pagador, 2004). Namun, tepung kedelai ini masih diimpor. Indonesia mengimpor sekitar satu juta ton tepung kedelai per tahun sejak tahun 2000 (Suara Pembaharuan, 2004) dan tahun 2005 mencapai 1,8 juta ton (Riady, 2006 dalam Abidin, 2006). Peningkatan harga tepung ikan dan tepung kedele ini berdampak terhadap peningkatan harga pakan komersial secara nyata. Namun, hal ini tidak diikuti oleh harga ikan. Kondisi demikian berpengaruh2

terhadap kelangsungan usaha budidaya ikan di Indonesia, termasuk lele. Salah satu upaya pemecahannya adalah mencari bahan baku pakan yang dapat menggantikan peran tepung ikan dan kedele dalam pakan. Salah satu persyaratan suatu bahan dapat digunakan sebagai bahan baku pakan adalah ketersediaannya yang melimpah, harganya relatif murah, mudah dicerna oleh ikan, mempunyai kandungan nutrisi yang baik (protein) dan tidak berkompetisi dengan manusia. Biji karet dapat digunakan sebagai salah satu kandidat bahan baku pakan ikan. Indonesia dikenal sebagai negara penghasil karet no 1 di dunia. Sekitar tiga juta ha lahan ditanami kebun karet. Tanaman karet ini menghasilkan rata-rata 800 biji karet per pohon per tahun. Dalam setahun, pohon karet berbuah dua periode. Setiap buah karet mempunyai 2 4 biji karet (Murni et al., 2008). Artinya, Indonesia mampu menghasilkan 2,4 juta biji karet. Harga biji karet yang diambil dari kebun karet masyarakat adalah Rp. 25,- per biji. Artinya, biji karet mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi bahan baku pakan ikan. Menurut Oyewusi et al. (2007), biji karet mengandung 10 22% protein dan asam amino esensial. Biji karet telah diteliti di Indonesia untuk pakan ternak hewan darat, namun belum diteliti untuk pakan ikan. Tepung biji karet yang ditambahkan dengan metionin dalam ransum babi tidak memberikan konsumsi pakan dan pertumbuhan yang optimal (Siagian et al., 1992). Menurut Arossi et al. (1985) dalam Prawirodigdo (2007), penambahan tepng biji karet sampai 19% dalam pakan masih layak untuk pertumbuhan ayam pedaging strain CP 707. Untuk ikan, Eyo dan Ezechie (2004) telah mengamati pengaruh substitusi tepung jagung dengan tepung biji karet pada benih ikan lele hibrid (Heterobranchus bidorsalis x Clarias gariepinus). Selanjutnya, tepung biji karet mampu memsubsitusi 10 - 20% tepung jagung untuk mamacu pertumbuhan lele hibrid tersebut.

3

Perumusan Masalah Ikan lele tergolong ikan omnivor yang mampu menerima pakan komersial dengan baik. Pada kondisi lingkungan normal, pertumbuhan dan efisiensi ikan lele dipengaruhi oleh pemberian pakan, daya cerna ikan terhadap pakan, rasio energi dan protein pakan, kandungan protein pakan, rasio protein hewani dan nabati pakan, susunan asam amino pakan dan zat anti-nutrien pakan. Pakan komersial lele dengan berbagai merek banyak beredar di masyarakat. Pakan komersial yang baik dicirikan oleh banyaknya masyarakat menggunakan pakan tersebut. Kandungan protein pakan komersial untuk pembesaran ikan lele berkisar 24 26%. Tepung biji karet dapat digunakan sebagai subsitusi protein pakan komersial dilihat dari sisi kandungan protein, ketersediaan dan harganya. Namun, biji karet tersebut mengandung asam sianida yang dapat menghambat pertumbuhan ikan. Asam sianida dalam biji karet dapat dihilangkan atau dikurangi kandungannya melalui beberapa cara, yaitu perendaman (dipping) selama 24 jam, pengukusan (steaming) pada suhu 100oC selama 6 jam, penjemuran (drying) selama 12 jam di bawah sinar matahari atau kombinasi antara pengukusan dengan penjemuran selama 12 jam. Protein ikan pada kandungan optimal memberikan pertumbuhan maksimal pada ikan, termasuk ikan lele karena susunan asam amino tepung ikan menyerupai daging ikan (NRC, 1982). Penggunaaan protein pakan optimal ini dipengaruhi oleh kesimbangan protein dan energi yang tepat dan penambahan unsur-unsur vitamin dan mineral yang sesuai dengan kebutuhan ikan, proses pembuatan pakan dan penyimpannya serta pemberian pakan yang tepat dan penyediaan kondisi lingkungan (air) yang baik. Tepung biji karet yang telah dihilangkan atau dikurangi kandungan asam sianidanya dapat menggantikan sebagian atau seluruhnya peranan protein pakan komersial. Indikatornya adalah kelangsungan hidup, kecernaan pakan, pertumbuhan (protein, lemak dan energi), efisiensi pakan, dan indeks hipatosomatik.

4

Perumusan Hipotesis Tepung biji karet pada tingkat tertentu dalam pakan dapat dijadikan sebagai subsitusi protein pakan komersial ikan lele (Clarias sp.). Tujuan dan Manfaat Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tepung biji karet dalam pakan komersial ikan lele (Clarias sp.). Manfaat penelitian adalah menghasilkan bahan baku alternatif dalam pakan komersial ikan lele (Clarias sp.).

5

TINJAUAN PUSTAKA Kebutuhan Nutrisi Ikan Lele Protein diperlukan ikan untuk proses pertumbuhan, pemeliharaan jaringan tubuh, pembentukan enzim dan beberapa hormon serta antibodi dalam tubuhnya sehingga keberadaanya harus secara terus menerus disuplay dari makanan untuk pertumbuhan dan perbaikan jaringan tubuh (Halver, 1989; Furuichi, 1988). Bila tidak dilengkapi dengan protein pakan yang cukup, terjadi penurunan pertumbuhan bobot tubuh ikan karena ikan akan menarik kembali protein dalam jaringan tubuhnya untuk pemeliharaan tubuh. Sebaliknya, jika ketersediaan protein terlalu banyak atau kurang berimbang, maka protein akan digunakan untuk membuat protein baru dan sisanya akan dikatabolisme untuk menghasilkan energi (NRC, 1983). Watanabe (1988) menambahkan bahwa kelebihan protein juga akan menyebabkan pembuangan nitrogen yang banyak ke dalam lingkungan budidaya. Kebutuhan setiap spesies ikan akan protein berbeda. Hal ini dipengaruhi oleh jenis dan ukuran ikan, kondisi lingkungan, kualitas protein dan daya cerna pakan (Cho et al., 1985). Menurut Halver (1976) dalam Kurnia (2002), pada suhu air 24 0C, ikan channel catfish (Ictalurus punctatus) tidak tumbuh lebih baik pada protein 35% dibandingkan dengan protein 25%, tetapi bila suhu air di atas 24 0C, ikan akan tumbuh baik pada kadar protein 30 maupun 35%. Ikan lele (Clarias batrachus) dapat tumbuh secara maksimum pada kadar protein pakan 30% (Chuapoehuk 1987 dalam Harun 2007). African catfish (C. gariepenus) membutuhkan kadar protein 40% (Hasan, 2000). Hasil penelitian Rebegnatar dan Hidayat (1992) menunjukkan bahwa benih ikan lele dengan bobot 1,22 - 1,56 g membutuhkan kandungan protein 30,99% dengan rasio energi protein di bawah 9,23 - 9,83 kkal/g protein. Lovell (1989) menambahkan bahwa total pengambilan protein optimum bagi benih Channel catfish berkisar 25 - 36%. Jumlah protein yang diperlukan dalam pakan secara langsung dipengaruhi oleh komposisi asam amino pakan. Asam amino esensial adalah asam amino yang tidak dapat disintesis oleh tubuh sehingga harus tersedia dalam pakan (NRC,6

1983). Ikan membutuhkan 10 jenis asam amino esensial untuk menghasilkan pertumbuhan optimum, yaitu arginin, fenilalanin, histidin, isoleusin, lisin, metionin, triptofan, treonin dan valin. Kebutuhan ikan seperti halnya hewan, tidak memiliki kebutuhan protein yang mutlak tetapi memerlukan suatu campuran yang seimbang antara asam amino esensial dan non esensial. Menurut NRC (1983), kekurangan asam amino esensial akan mengakibatkan penurunan pertumbuhan. Suprayudi et al. (1999) menambahkan bahwa retensi protein yang rendah disebabkan oleh tingginya perbedaan komposisi asam amino esensial dalam protein dibandingkan dengan komposisi asam amino esensial tubuh ikan. Jumlah asam amino untuk pertumbuhan akan semakin menurun seiring dengan penurunan tingkat pertumbuhan. Jumlah asam amino yang dapat digunakan untuk maintenance sangat tergantung dari kualitas protein, tingkat asupan protein dan energi yang dapat dicerna serta keadaan fisiologi ikan itu sendiri. Asam amino yang digunakan sebagai sumber energi akan dideaminasi dan dilepaskan sebagai ammonia yang akan dikeluarkan melalui insang. Pakan yang mempunyai kualitas protein yang baik akan menghasilkan ekskresi nitrogen yang lebih sedikit dari pada pakan yang mempunyai kualitas yang buruk (Furuichi, 1988). Lemak merupakan komponen organik yang terdiri dari asam lemak bebas, fosfolipid, trigliserida, minyak lilin dan sterol. Lemak memiliki peranan