profil PPA 2011[1]

download profil PPA 2011[1]

of 33

  • date post

    27-Jun-2015
  • Category

    Documents

  • view

    485
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of profil PPA 2011[1]

PROFIL PENANGGULANGAN KEMISKINAN DAERAH (PPKD) KABUPATEN SAMPANG TAHUN 2011

I.

KOMITMEN Tujuan akhir kebijakan dan strategi penanggulangan kemiskinan adalah

membebaskan masyarakat dari kemiskinan dan mengangkat harkat dan martabat mereka agar menjadi warga negara dengan seluruh hak dan kewajibannya (SMERU, 2003). Untuk itu salah satu strategi mendasar yang patut ditempuh adalah memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi orang miskin untuk berpartisipasi sepenuhnya dalam proses pembangunan ekonomi. Pemerintah harus menciptakan suatu kondisi pertumbuhan ekonomi yang dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat, termasuk penduduk miskin (pro-poor growth). Oleh karenanya kebijakan dan program pembangunan ekonomi yang dilaksanakan oleh pemerintah seharusnya dititik-beratkan pada sektor ekonomi riil yang secara langsung maupun tidak langsung menyentuh kehidupan sebagian besar orang miskin, menengah, dan sektor informal. Landasan paradigma kebijakan pembangunan yang selama ini lebih banyak menciptakan konglomerasi, perlu dirubah menjadi paradigma kebijakan yang lebih memihak kepada kelompok masyarakat pinggiran. Pemberdayaan perekonomian rakyat, pencabutan berbagai peraturan dan kebijakan pemerintah (daerah) yang mempersempit akses ekonomi masyarakat miskin, penghentian pungutan-pungutan terhadap petani, nelayan, peternak dan sebagainya adalah beberapa contoh kebijakan yang berdampak positif terhadap masyarakat miskin. Kebijakan anggaran yang memihak kepada orang miskin sebenarnya hanyalah salah satu dari sekian banyak kebijakan yang diperlukan untuk menanggulangi kemiskinan secara komprehensif (SMERU,2003). Mengingat kebijakan propoor budget merupakan kebijakan yang bersifat teknis operasional, maka beberapa pra-syarat kebijakan pemerintah daerah agar menerapkan kebijakan propoor budget antara lain: 1. Kehendak Politik seperti pertanian, perikanan, usaha kecil

1

Adanya komitmen kuat dan tekad keras pihak-pihak yang secara langsung mempunyai kewenangan dan bertanggung jawab dalam penanggulangan kemiskinan

Agenda

pembangunan

(daerah)

menempatkan

upaya

dan

program

penanggulangan kemiskinan pada skala prioritas utama Kemauan untuk secara jujur dan terbuka mengakui kelemahan dan kegagalan program penanggulangan kemiskinan di masa lalu, dan bertekad untuk memperbaikinya, baik pada waktu sekarang maupun di masa mendatang 2. Iklim yang Mendukung

Ada kesadaran kolektif untuk menempatkan kemiskinan sebagai musuh bersama yang harus diperangi, kemudian diikuti dengan langkah-langkah kampanye sosial melalui dan berbagai saluran informasi yang untuk lebih meningkatkan kepedulian, kepekaan, dan partisipasi masyarakat

Ada

peraturan

kebijakan

daerah

(Perda)

mendukung

penanggulangan kemiskinan, misalnya yang berkaitan dengan usaha kecil, akses terhadap kredit, pedagang kaki lima, penghapusan pungutan terhadap hasil-hasil pertanian, dan sebagainya. 3. Tata Pemerintahan yang Baik (Good Governance) Mengingat kemiskinan bersifat multidimensi, maka penanggulangannya tidak cukup hanya dengan mengandalkan pendekatan ekonomi, melainkan memerlukan pula kebijakan dan program di bidang sosial, politik, hukum dan kelembagaan. Dengan kata lain diperlukan adanya tata pemerintahan yang baik (good governance) dari lembaga-lembaga pemerintahan, terutama birokrasi pemerintahan, legislatif, lembaga hukum dan pelayanan umum lainnya. Secara lebih spesifik, hal ini antara lain ditandai dengan adanya keterbukaan, pertanggungjawaban publik, penegakan hukum, penghapusan birokrasi yang menyulitkan, pemberantasan korupsi, dan koordinasi lintas lembaga dan lintas pelaku yang baik. Turkewitz (2001) melalui studi empirisnya di beberapa negara menyimpulkan adanya hubungan yang kuat antara karakter suatu rezim pemerintahan dengan capaian berbagai indikator pembangunan. Kesimpulan dari studi ini antara lain adalah:

a. Makin efektif suatu pemerintahan, makin rendah tingkat kematian bayi

2

b. Makin rendah tingkat korupsi di birokrasi pemerintahan, makin tinggitingkat melek huruf orang dewasa

c. Makin baik kondisi penegakan hukum suatu negara, makin rendah tingkatkematian bayi

d. Makin sedikit regulasi yang diciptakan pemerintah, makin tinggi tingkatpendapatan per kapita. Berdasarkan uraian-uraian di atas, maka jelas bahwa untuk mencapai terciptanya kebijakan pro-poor budget diperlukan adanya kebijakan awal seperti pro-poor policy (kebijakan umum yang memihak pada orang miskin), pro-poor institutions (adanya institusi-institusi khususnya institusi pemerintah yang memihak orang miskin), dan yang lebih penting lagi adalah adanya pro-poor government (pemerintahan yang memihak orang miskin). Tanpa adanya prasyarat kebijakan seperti ini, sulit mengharapkan pemerintah (daerah) untuk mempunyai kebijakan anggaran yang bersifat pro-poor. A. Dukungan Kebijakan Salah satu indikator penilaian keberhasilan pembangunan di suatu daerah adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Adapun faktor-faktor yang terkandung dalam IPM adalah tingkat daya beli masyarakat, tingkat kesehatan, dan tingkat pendidikan, dimana ketiga faktor tersebut dipengaruhi oleh angka kemiskinan. Hubungan ketiga faktor tersebut dengan angka kemiskinan memiliki slope yang negatif. Apabila tingkat kemiskinan tinggi, maka tingkat kesehatan, tingkat pendidikan, dan tingkat daya beli masyarakat akan cenderung rendah. Dalam hal ini Kabupaten Sampang memiliki indeks yang paling rendah di bandingkan daerah-daerah lain di Jawa Timur. Pada tahun 2005, IPM Sampang tercatat hanya 53,83. Pada tahun 2008, IPM Kabupaten Sampang meningkat sebesar 55,77 dan tahun 2009, naik menjadi 58,23 (BPS.2010). Jumlah penduduk miskin di Kabupaten Sampang tergolong cukup tinggi. Berdasar data BPS tahun 2009 total penduduk Sampang adalah 864.620 jiwa dan 39,42 persennya adalah penduduk miskin atau sebesar 340.833 jiwa. Angka tersebut telah mengalami penurunan jika dibandingan pada tahun 2008, di mana presentasi penduduk miskin sebesar 46,11 persen dari total penduduk kabupaten Sampang. Rendahnya indikator pembangunan ini berkaitan dengan kegiatan ekonomi masyarakat Kabupaten Sampang. Sebagian besar masyarakat Kabupaten Sampang adalah masyarakat petani dan nelayan. Kedua aktivitas ekonomi ini

3

selalu dikatakan aktivitas yang kurang produktif, karena memberikan nilai tambah (value added) yang relatif lebih rendah dari aktivitas ekonomi lainnya seperti perdagangan dan industri. Oleh karena itu, masyarakat petani dan nelayan identik dengan masyarakat miskin. Melihat fenomena tersebut di atas, pemerintah kabupaten Sampang tidak tinggal diam. Perumusan kebijakan dilakukan untuk memperbaiki perekonomian masyarakat sehingga dapat kembali menorehkan hasil dalam pengurangan angka kemiskinan dan meningkatkan IPM yang ada di Kabupaten Sampang. Penyusunan program penanggulangan kemiskinan disesuaikan dengan profil masyarakat Kabupaten Sampang serta potensi daerah yang bisa dikembangkan. Adapun 7 (tujuh) arah kebijakan pembangunan Kabupaten Sampang 2008-2013 sebagaimana tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJM-D) Kabupaten Sampang Tahun 2008-2013 adalah sebagai berikut: 1) Arah kebijakan dari strategi pemberdayaan masayarakat dan kelembagaan pemerintahan:

a. Menjaringmasyarakat

masukan dalam

dari

setiap

stakeholders

dan

kelompok dan

penyelenggaraan

pemerintahan

pembangunan b. Mendorong keterlibatan masyarakat dalam proses pembangunan c. Memperkuat kelembagaan masyarakat desa d. Pengembangan kelembagaan daerah e. Melakukan pemekaran wilayah kecamatan yang telah direkomendasikan 1) Arah kebijakan strategi penciptaan daya saing perekonomian daerah: a. Meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, dan perikanan b. Pemberdayaan dan penguatan kelembagaan ekonomi masyarakat berbasis ekonomi lokal c. Percepatan seimbang d. Peningkatan laju investasi oleh pihak pemerintah, swasta, maupun masayarakat (pelaku usaha) e. Mengembangkan pusat-pusat kegiatan ekonomi wilayah transformasi struktur perekonomian daerah secara

4

f. Mengembangkan kegiatan ekonomi yang potensial 1) Arah a. c. e. f. kebijakan dari strategi pengembangan kapasitas perekonomian daerah: Mengembangkan sistem ketahanan pangan daerah Mengembangkan sarana pemasaran produk unggulan Menanggulangi kemiskinan Menyelenggarakan sistem pelayanan administrasi terpadu b. Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) d. Mengintegrasikan nilai-nilai islam dalam usaha ekonomi

1) Arah kebijakan dari strategi pengembangan sistem tata kelola pelayanan dasar masyarakat: a. Menyelenggarakan regulasi untuk menjamin pelaksanaan pelayanan dasar yang berkualitas dan terjangkau b. Meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan pendidikan, kesehatan, dsn infrastruktur dasar c. Menjamin akses pelayanan dasar bagi masyarakat miskin 1) Arah kebijakan dari strategi peningkatan proporsi pengalokasian anggaran untuk penyelenggaraan pelayanan dasar a. Mengalokasikan anggaran pendidikan minimal 20% dari APBD b. Mengalokasikan anggaran kesehatan minimal 15% dari APBD 1) Arah kebijakan dari strategi pemberdayaan kelembagaan sosial masyarakat: a. Mendorong rekonsiliasi sosial b. Meningkatkan kapasitas SDM dan kelembagaan sosial c. Menyelenggarakan regulasi yang mendukung terciptanya harmoni sosial d. Melaksanakan penegakan hukum 1) Arah kebijakan dari strategi pengoptimalan pemanfaatan potensi wilayah dengan tetap memperhatikan kemampuan/ daya dukung lingkungan: a. Menyelenggarakan kebijakan tentang penataan ruang dan penataan lingkungan secara terpadu dan seimbang b. Meningkatkan Daya Buatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) untuk pemanfaatan dan pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber

5

c. Mengembangkan

inovasi