Profil penderita hipertensi

download Profil penderita hipertensi

of 26

  • date post

    14-Aug-2015
  • Category

    Documents

  • view

    652
  • download

    0

Embed Size (px)

description

Profil penderita hipertensi

Transcript of Profil penderita hipertensi

1

BAB I PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang

Meningkatnya prevalensi penyakit kardiovaskular setiap tahun menjadi masalah utama di negara berkembang dan negara maju. Berdasarkan data Global Burden of Disease (GBD) tahun 2000 50% dari penyakit kardiovaskular disebabkan oleh hipertensi (Shapo, 2003). Data dari The National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) menunjukkan bahwa dari tahun 19992000 insiden hipertensi pada orang dewasa adalah sekitar 29-31% yang berarti terdapat 58-65 juta penderita hipertensi di Amerika dan terjadi peningkatan 15 juta dari data NHANES tahun 1988-1991 (Yogiantoro, 2006). Hipertensi kini menjadi masalah global karena prevalensi yang terus meningkat sejalan dengan perubahan gaya hidup seperti merokok, obesitas, aktifitas fisik, dan stres psikososial. Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan penyebab kematian dan kesakitan yang tinggi. Hipertensi sering diberi gelar The Silent Killer karena hipertensi merupakan pembunuh tersembunyi. Hipertensi bisa menyebabkan berbagai komplikasi terhadap beberapa organ lain seperti menyebabkan timbulnya penyakit jantung, stroke, dan gangguan fungsi ginjal (Depkes, 2007). Hampir di setiap negara hipertensi menduduki peringkat pertama sebagai penyakit yang paling sering dijumpai. Angka kejadian hipertensi ini terus meningkat seiring dengan pertambahan usia dan biasanya lebih sering menyerang usia 65 tahun keatas (Sheldon, 2006). Untuk jenis penyakit yang tidak menular di Indonesia, stroke dan hipertensi merupakan penyebab kematian terbesar dengan proporsi masing-masing stroke sebesar 15,4% dan hipertensi 6,8%. Di Aceh, prevalensi hipertensi tercatat sebesar 12,6% (Riskesdas, 2007). Hasil studi Dinas Kesehatan Provinsi Aceh menyatakan bahwa hipertensi menempati urutan ke empat penyakit yang banyak diderita oleh masyarakat Aceh dengan jumlah kasus sekitar 3.474 kasus (Dinkes Provinsi Aceh, 2009). Umumnya perempuan lebih banyak menderita hipertensi dibandingkan dengan pria. Prevalensi hipertensi di luar Jawa lebih besar dibandingkan di Pulau

2

Jawa. Hal tersebut terkait erat dengan pola makan terutama konsumsi garam yang umumnya lebih tinggi di luar Pulau Jawa. Suku Batak cenderung terkena hipertensi karena pola makan sedangkan pada suku Jawa lebih cenderung karena masalah psikis termasuk tekanan batin atau stres (Martuti, 2009). Berdasarkan uraian diatas angka kejadian hipertensi di dunia maupun di Indonesia cukup tinggi. Data yang diambil oleh peneliti dari Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh tahun 2010 menunjukkan angka kejadian hipertensi pada seluruh puskesmas yang ada di kota Banda Aceh sangat tinggi mencapai 9040 kasus pada tahun 2009. Oleh karena itu, peneliti ingin mengetahui tentang profil hipertensi pada pasien yang datang berobat ke puskesmas di kota Banda Aceh.1.2

Rumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan masalah dalam penelitian

ini adalah bagaimana profil pasien yang menderita hipertensi di Puskesmas Kecamatan Kuta Alam Banda Aceh? 1.3 1.3.1 Tujuan Penelitian Tujuan Umum Adapun tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui profil pasien hipertensi di Puskesmas Kecamatan Kuta Alam. 1.3.2 Tujuan Khusus Adanya tujuan khusus dari penelitian ini adalah : a. b. c.d.

Mengatahui profil penderita hipertensi yang dinilai berdasarkan umur Mengetahui profil penderita hipertensi yang dinilai berdasarkan jenis kelamin Mengetahui profil penderita hipertensi yang dinilai berdasarkan riwayat keluarga Mengetahui profil penderita hipertensi yang dinilai berdasarkan faktor resiko (status gizi, pola makan, stres, merokok dan aktifitas fisik)

3

1.4

Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat praktis untuk pelayanan Memberi gambaran profil penderita hipertensi yang dapat dipergunakan sebagai acuan dalam membuat program perencanaan, peningkatan pelayanan dan perbaikan kinerja dalam penanganan hipertensi 1.4.2 Manfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan Dapat digunakan sebagai acuan untuk penelitian lebih lanjut yang khusus meneliti hubungan kausatif dari faktor resiko yang diperoleh dari penelitian ini terhadap peningkatan insidensi hipertensi khususnya di Aceh

4

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN2.1 Definisi Hipertensi Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah arterial dimana tekanan sistolik sedikitnya 140 mmHg dan diastolik sedikitnya 90 mmHg (Price dan Wilson, 2005). Definisi lain menyatakan hipertensi adalah tekanan darah sistolik lebih atau sama dengan 140 mmHg atau tekanan darah diastolik lebih atau sama dengan 90 mmHg atau mengkonsumsi obat antihipertensi atau telah dinyatakan mengalami tekanan darah tinggi oleh tenaga kesehatan setelah melakukan pemeriksaan minimal sebanyak dua kali (AHA, 2010) 2.2 Klasifikasi Hipertensi Klasifikasi tekanan darah bagi orang dewasa usia 18 tahun keatas yang tidak sedang dalam pengobatan tekanan darah tinggi dan tidak menderita penyakit serius dalam jangka waktu tertentu menurut Sevent Report of the Joint National Committee, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure (JNC VII) adalah sebagai berikut: Tabel 2.1 Klasifikasi tekanan darah berdasarkan JNC VII : Kategori Normal Prehipertensi Hipertensi stadium 1 Hipertensi stadium 2 Tekanan darah sistolik Tekanan darah diastolik (mmHg) (mmHg) < 120 120 139 140 159 160 < 80 80 89 90 99 100

Dikutip dari: (JNC VII, 2003).

5

2.3

Etiologi Hipertensi Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi 2 golongan, yaitu:

hipertensi esensial atau hipertensi primer dan hipertensi sekunder atau hipertensi renal (Schrier, 2000). 1. Hipertensi esensial Hipertensi esensial atau hipertensi primer adalah hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya, disebut juga hipertensi idiopatik. Hipertensi jenis ini meliputi sekitar 95% dari total kasus hipertensi yang terjadi di populasi. Banyak faktor yang mempengaruhinya seperti genetik, lingkungan, hiperaktifitas sistem saraf simpatis, sistem renin angiotensin, defek dalam ekskresi natrium, peningkatan natrium dan kalsium intraseluler dan faktor-faktor yang meningkatkan risiko seperti obesitas, alkohol, merokok, serta polisitemia. Hipertensi primer biasanya timbul pada umur 30 50 tahun (Schrier, 2000). 2. Hipertensi sekunder Hipertensi sekunder atau hipertensi renal terdapat pada 5% kasus. Penyebab hipertensi sekunder yang telah diketahui antara lain penggunaan estrogen, penyakit ginjal, hipertensi vaskular renal, hiperaldosteronisme primer, sindrom cushing, feokromositoma, koarktasio aorta dan hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan (Gray, 2009). 2.4 Patofisiologi Hipertensi Peningkatan tekanan darah dapat disebabkan oleh berbagai penyebab yang berpengaruh dalam sistem kardiovaskular seperti volume plasma, kontraktilitas jantung, sistem renin angiotensin dan reabsorpsi garam dan air. Peningkatan volume sekuncup yang berlangsung lama dapat terjadi apabila peningkatan volume plasma yang berkepanjangan sebagai akibat gangguan metabolisme garam dan air oleh ginjal atau kosumsi garam yang berlebihan. Peningkatan pelepasan renin atau aldosteron atau penurunan aliran darah ke ginjal dapat mengubah pengaturan air dan garam oleh ginjal. Peningkatan volume plasma juga disebabkan oleh efek pelepasan renin angiotensin, aldosteron yang menyebabkan peningkatan volume diastolik akhir sehingga terjadi peningkatan volume sekuncup dan tekanan darah. Peningkatan

6

Total Peripheral Resistance (TPR) atau peningkat afterload yang berlangsung lama dapat terjadi akibat peningkatan rangsangan saraf atau hormon pada arterial, responsitivitas yang berlebihan dari arterial terhadap rangsangan normal. Kedua hal tersebut akan menyebabkan penyempitan pembuluh (Corwin, 2009). Angiotensin II meningkatkan tekanan darah dengan berbagai macam mekanisme diantaranya vasokonstriksi pembuluh darah, stimulasi penghasilan aldosteron dan pelepasannya serta menimbulkan reabsorbsi natrium, stimulasi haus dan pelepasan antidiuretik hormon angiotensin II juga meningkatkan aliran sinyal simpatik dari otak. Hal terpenting adalah angiotensin II menimbulkan hipertrofi serta hiperplasia sel jantung dan pembuluh darah secara langsung melalui aktifasi reseptor angiotensin II tipe I (AT1), sedangkan secara tidak langsung dengan stimulasi pelepasan beberapa faktor pertumbuhan dan sitokin. Aktifasi reseptor AT1 menimbulkan pelepasan tyrosine genase yang memfosforilasi residu tirosin pada beberapa protein sehingga menimbulkan vasokontriksi pembuluh darah (McConnaughey et al, 1999; Mulvany, 2002). Pada peningakatan TPR, jantung harus memompa secara lebih kuat yang menyebabkan peningkatan tekanan yang lebih besar untuk mendorong darah melintasi pembuluh darah yang menyempit. Apabila peningkatan afterload berlangsung lama, maka ventrikel kiri akan mengalami hipertrofi (penambahan masa otot). Akibat hipertofi tersebut kebutuhan ventrikel akan oksigen semakin meningkat sehingga ventrikel harus memompa darah secara lebih keras lagi memenuhi kebutuhan tersebut. Pada hipertrofi, serat-serat otot jantung juga mulai teregang melibihi panjang normalnya yang pada akhirnya menyebabkan penurunan kontraktilitas dan volume sekuncup (Corwin, 2009). Setiap kemungkinan penyebab hipertensi yang disebutkan di atas dapat terjadi akibat peningkatan aktivitas susunan saraf simpatis atau mungkin responsivitas berlebihan dari tubuh terhadap rangsangan simpatis normal dapat menyebabkan hipertensi. Hal ini dapat terjadi pada stres jangka panjang yang diketahui melibatkan pengaktifan sistem simpatis atau mungkin akibat kelebihan genetik reseptor norepinefrin di jantung atau otot polos vaskular (Corwin, 2009). Ginjal berperan penting dalam pengendalian tekanan darah. Melalui sistem renin-angiotensin, ginjal mempengaruhi resistensi perifer dan homeostasis

7

natrium. Renin yang di keluarkan oleh jukstaglomerulus ginjal mengubah angiotensinogen plasma menjadi angiotensin I, kemudian diubah menjadi angiotensin II oleh Angiotensi