Print Dwnk

download Print Dwnk

of 25

  • date post

    25-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    56
  • download

    1

Embed Size (px)

Transcript of Print Dwnk

BAB I PENDAHULUAN

A. Tujuan 1. Mengetahui mekanisme patologi dari Myastenia Gravis. 2. Mengetahui mekanisme pengobatan Myastenia Gravis secara

imunofarmakologi.

B. Latar Belakang Mistenia gravis merupakan penyakit autoimun, biasanya mengenai orang berumur 20-40 tahun, dengan progresivitas kelemahan yang fluktuasi, mengenai terutama otot okular, otot bulbus, dan otot tungkai proksimal (J. C. E. Underwood, 2000). Pada penyakit ini terdapat antibodi terhadap reseptor asetilkolin pada sinaps neuromuskular. Dapat disertai patologi timus, seperti hiperplasia, atrofi, atau tumor-timoma (Lionel Ginsberg, 2005). Mistenia gravis juga dikatakan penyakit autoimun dimana persambungan otot dan saraf (neuromuscular junction) berfungsi tidak normal, menyebabkan kelemahan otot menahun, kelemahan progresif dan sporadis, kelemahan abnormal pada otot skeletal, dan bertambah buruk setelah latihan dan pengulangan gerakan. Jumlah reseptor asetilkolin yang ditemukan pada kondisi ini sedikit. Gangguan ini menyerang otot yang dikendalikan saraf kranial (wajah, bibir, lidah, leher dan tenggorokan), dan dapat menyerang otot lain. Penyakit ini juga berbahaya karena juga melibatkan sistem pernapasan. Miastenia gravis merupakan juga kelainan antibody yang terjadi akibat sel reseptor dari lapisan otot sehingga menjadi autoimmune. Autoimmune ini menyerang pada beberapa lapisan otot sehingga terjadinya gejala dan tanda umum dari Miastenia gravis .Semua otot yang ada ditubuh kita diaktifkan oleh rangsangan syaraf yang berjalan sepanjang batang syaraf dari otak dan urat syaraf tulang belakang . Bila rangsangan saraf mencapai persimpangan neuromuscular , titik dari sambungan serabut saraf berakhir pada serabut otot ,

1

zat

yang dihasilkan disebut Acetylcholine (AcH) , dimana reseptor pada

membrane otot yang diserang serta menghasilkan kontraksi otot . C. Rumusan Masalah 1. Pengertian Myastenia Gravis? 2. Tanda dan gejala Myastenia Gravis? 3. Mekanisme terjadinya Myastenia Gravis? 4. Mekanisme pengobatan pada Myastenia Gravis?

2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Imunologi Manusia dan binatang multiseluler, mempunyai daya faal untuk mengenal bahan atau zat kimia yang dianggap diri sendiri (self) dan membedakannya dari yang asing (non self). Kemampuan ini menjadi dasar dari kekebalan, karena badan akan berusaha untuk mengeluarkan atau memusnahkan bahan asing yang masuk ke dalam jaringan tubuh. Sistem imun terdiri atas pelaksana, yaitu lekosit yang terdiri dari limfositT/B (sel-T4/T8), NK cells, memory cells, dan granulosit (sel neutrofil, eosinofil, dan basofil). Selain pelaksana, sistem imun juga didukung bahanbahan yang disekresi, yaitu cytokine: monokin dan limfokin (interferon, interleukin, dan Tumor Necrosis Factor). Dalam darah perifer terdapat tiga kelompok sel darah putih, yaitu limfosit, granulosit, dan fagosit. Limfosit T mengalami maturasi dalam timus, dan dibedakan menjadi sel T helper yang mengenali antigen, sel T supresor yang mengatur, dan sel T sitotoksik yang langsung memusnahkan zat asing. Selain itu, Natural Killer-Cells yang termasuk kelompok limfosit granuler besar dapat melarutkan zat asing tanpa antibodi atau pengenalan antigen. Sedangkan LAK (Lymphokin Activated Killercells) adalah NKcells yang diaktivasi invitro. Limfosit B mengalami maturasi pada bursa fabrisius sel B mengalami maturasi menjadi sel plasma, atau sel B memori di bawah pengaruh makrofag. Antibodi yang disintesa dan dilepaskan dibagi menjadi 5 tipe antibodi atau immunoglobulin, yaitu tipe IgA, IgD, IgE, IgG, dan IgM, yang masing-masing mempunyai sifat spesifik tersendiri. Granulosit adalah lekosit dengan granula dan polinuklear. Dikenal 3 kelompok granulosit, yaitu sel neutrofil, basofil, dan eosinofil, yang juga disebut makrofag. Cytokine adalah protein yang dibentuk tubuh dengan fungsi utama berkomunikasi antara berbagai bagian dari sistem imun. Terutama dibentuk oleh monocyte dan makrofag, tetapi juga limfosit, granulosit, hepatosit,

3

kreatinosit, fibroblast, dan sel-sel epitel yang dapat membentuknya. Contoh lainnya adalah interferon, limfokin, dan monokin (Tjay dan Rahardja, 2006). Tangkisan aspesifik bersifat umum dan tidak diarahkan pada suatu zat asing tertentu atau perlu aktivasi terlebih dahulu seperti pada tangkisan spesifik. Pemeran utama pada sistem tangkis ini adalah makrofag, dibantu oleh neutrofil dan monocyte. Fungsi sel-sel ini adalah membasminya dengan jalan fagositosis serta melontarkan sejumlah proses-tangkis, seperti reaksi

peradangan, pelepasan mediator, dan demam. Tangkisan khas dilakukan oleh limfosit T dan B yang bekerja sama secara erat, dengan limfo-T4 merupakan poros dari imunitas spesifik. Antigen akan diproses oleh makrofag, kemudian akan dipresentasikan oleh Antigen Presenting Cell (APC) kepada sel B dan sel T (Tjay dan Rahardja, 2006).

Tabel 2.1 Mekanisme Kerja Imunologi Nonspesifik Tidak Resistensi infeksi Umumnya Spesifitas berubah Spesifik oleh Membaik (=memori) efektif Spesifik untuk mikroba yang sudah oleh infeksi berulang

terhadap semua mikroba mensensitisasi sebelumnya

Fagosit Sel penting yang Sel mast Eosinofil

Sel T : T sitotoksik (Tc), T helper

Sel NK (Natural Killer) (Th), T supresor (Ts), dan T dth Sel B

Lisozim Molekul yang penting Komplemen APP Protein) Interferon (Acute

Antibodi Sitokin Phase Mediator Molekul adhesi

4

CRP Protein) Kolektin

(C-Reactive

Molekul adhesi (Baratawidjaja, 2006).

B. Pengertian Miastenia Gravis Miastenia gravis (MG) dengan nama-nama lain seperti asthenic bulbar palsy, myasthenia gravis pseudoparalytica atau Goldflam's disease1 merupakan kelainan neuromuscular junction (NMJ) yang paling banyak, ditandai dengan kelemahan dan kelelahan otot skletal. Sebagian besar adalah penyakit

autoimun yang dimediasi oleh antibodi. Kerusakan yang mendasarinya adalah berkurangnya jumlah reseptor asetilkolin (AchRs) yang tersedia pada NMJ secara menyeluruh dan merusak membran postsinaptik Miastenia gravis merupakan bagian dari penyakit neuromuskular. Miastenia gravis adalah gangguang yang memengaruhi transmisi

neuromuskular pada otot tubuh yang kerjanya di bawah kesadaran seseorang (volunter). Miastenia gravis merupakan kelemahan otot yang parah dan satusatunya penyakit neuromuskular dengan gabungan antara cepatnya terjadi kelelahan otot-otot volunter dan lambatnya pemulihan (dapat memakan waktu 10-20 kali lebih lama dari normal). (Price dan Wilson, 1995). Karakteristik yang muncul berupa kelemahan yang berlebihan dan umumnya terjadi kelelahan pada otot-otot volunter yang dipengaruhi oleh fungsi saraf kranial. Serangan dapat terjadi pada beberapa usia, ini terlihat paling sering pada wanita antara 15-35 tahun dan pada pria sampai 40 tahun. Miastenia gravis merupakan sindroma klinis akibat kegagalan transmisi neuromuskuler yang disebabkan oleh hambatan dan destruksi reseptor asetilkolin oleh autoantibodi. Sehingga dalam hal ini, miastenia gravis merupakan penyakit autoimun yang spesifik organ. Antibodi reseptor asetilkolin terdapat didalam serum pada hampir semua pasien. Antibodi ini merupakan antibodi IgG dan dapat melewati plasenta pada kehamilan. (Chandrasoma dan Taylor, 2005).

5

BAB III PEMBAHASAN

A. Anatomi, Fisiologis, Dan Biokimia Neuromuscular Junction a. Anatomi Neuromuscular Junction Sebelum memahami tentang miastenia gravis, pengetahuan tentang anatomi dan fungsi normal dari neuromuscular junction sangatlah penting. Tiap-tiap serat saraf secara normal bercabang beberapa kali dan merangsang tiga hingga beberapa ratus serat otot rangka. Ujung-ujung saraf membuat suatu sambungan yang disebut neuromuscular junction atau sambungan

neuromuskular (Newton, 2008). Bagian terminal dari saraf motorik melebar pada bagian akhirnya yang disebut terminal bulb, yang terbentang diantara celah-celah yang terdapat di sepanjang serat saraf. Membran presinaptik (membran saraf), membran post sinaptik (membran otot), dan celah sinaps merupakan bagian-bagian pembentuk neuromuscular junction (Howard, 2008).

Gambar 1. Anatomi suatu Neuromuscular Junction

6

b. Fisiologi dan Biokimia Neuromuscular Junction Celah sinaps merupakan jarak antara membran presinaptik dan membran post sinaptik. Lebarnya berkisar antara 20-30 nanometer dan terisi oleh suatu lamina basalis, yang merupakan lapisan tipis dengan serat retikular seperti busa yang dapat dilalui oleh cairan ekstraselular secara difusi (Newton, 2008). Terminal presinaptik mengandung vesikel yang didalamnya berisi asetilkolin (ACh). Asetilkolin disintesis dalam sitoplasma bagian terminal namun dengan cepat diabsorpsi ke dalam sejumlah vesikel sinaps yang kecil, yang dalam keadaan normal terdapat di bagian terminal suatu lempeng akhir motorik (motor end plate) (Howard, 2008) Bila suatu impuls saraf tiba di neuromuscular junction, kira-kira 125 kantong asetilkolin dilepaskan dari terminal masuk ke dalam celah sinaps. Bila potensial aksi menyebar ke seluruh terminal, maka akan terjadi difusi dari ionion kalsium ke bagian dalam terminal. Ion-ion kalsium ini kemudian diduga mempunyai pengaruh tarikan terhadap vesikel asetilkolin. Beberapa vesikel akan bersatu ke membran saraf dan mengeluarkan asetilkolinnya ke dalam celah sinaps. Asetilkolin yang dilepaskan berdifusi sepanjang sinaps dan berikatan dengan reseptor asetilkolin (AChRs) pada membran post sinaptik (Howard, 2008) Secara biokimiawi keseluruhan proses pada neuromuscular junction dianggap berlangsung dalam 6 tahap, yaitu: 1. Sintesis asetil kolin terjadi dalam sitosol terminal saraf dengan menggunakan enzim kolin asetiltransferase yang mengkatalisasi reaksi berikut ini: Asetil-KoA + Kolin Asetilkolin + KoA 2. Asetilkolin kemudian disatukan ke dalam partikel kecil terikat-membran yang disebut vesikel sinap dan disimpan di dalam vesikel ini. 3. Pelepasan aset