Presus Kolelitiasis

Click here to load reader

  • date post

    27-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    109
  • download

    21

Embed Size (px)

description

kolelitiasis

Transcript of Presus Kolelitiasis

PRESENTASI KASUSKOLELITIASISDisusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan KlinikPenyakit Dalam RSUD Saras Husada Purworejo

Disusun Oleh :Ghinna Septhiana Pratiwi20100310160

Pembimbing :dr. Syamsul Burhan, Sp. B

SMF BEDAHRSUD SARAS HUSADA PURWOREJOFAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA2015

HALAMAN PENGESAHAN

PRESENTASI KASUS

KOLELITIASIS

Telah disetujui pada tanggal Januari 2015

Oleh :

Pembimbing Kepaniteraan Klinik Bedah

dr. Syamsul Burhan, Sp. B

BAB IPENDAHULUANSampai saat ini kolelitiasis masih merupakan salah satu penyakit gastrointestinal yang sering ditemui. Di beberapa negara barat dilaporkan bahwa keluhan yang berkaitan dengan penyakit batu empedu dan komplikasinya merupakan penyebab terbanyak perawatan untuk kelompok kelainan gastrointestinal. Meskipun sebagian besar pengidap batu tanpa gejala, manakala simtom muncul tidak jarang berlanjut dengan masalah dan penyulit yang penatalaksanaannya membutuhkan biaya tinggi. Diperkirakan sedikitnya sekitar 10% populasi di negara barat mengidap penyakit batu empedu. Di Amerika Serikat dilaporkan bahwa lebih dari 20 juta penduduk memiliki batu empedu, dan tercatat sebanyak 700.000 tindakan operasi kolesistektomi dilakukan setiap tahun. Prevalensi ini tampaknya juga berkaitan dengan ras, karena didapatkan angka sangat fantastis pada suku indian, yaitu sekitar 20%.Di Indonesia belum diketahui angka pasti pengidap batu empedu, tetapi sebuah studi populasi di sebuah area sub-urban ( depok, jawa barat ) yang dilakukan tahun 2000 mendapatkan angka 3,6%. Insidens penyakit batu empedu dan penyakit saluran empedu lainnya di indonesia diduga tidak berbeda jauh dengan angka di negara lain di asia tenggara dan sejak tahun 1980-an berkaitan erat dengan cara mendiagnosis dengan menggunakan ultrasonografi. Tipe batu empedu di Indonesia yang lebih umum adalah batu kolesterol, namun insidens batu pigmen lebih tinggi dibanding yang terdapat di negara barat. Di indonesia, kolelitiasis baru mendapatkan perhatian di klinis, sementara publikasi penelitian batu empedu masih terbatas. Sebagian besar pasien dengan batu empedu tidak mempunyai keluhan.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi KolelithiasisKolelitiasis adalah massa inorganik yang terbentuk di dalam kandung empedu, kadang-kadang di dalam duktus koledokus atau duktus hepatikus. Sinonimnya adalah batu empedu, gallstones, biliary calculus. Kandung empedu merupakan kantong berongga berbentuk bulat lonjong seperti buah advokat yang terletak tepat di bawah lobus kanan hati. Fungsi utama kandung empedu adalah menyimpan dan memekatkan empedu. Dikenal tiga jenis batu empedu yaitu batu kolesterol, batu pigmen atau batu bilirubin, yang terdiri dari kalsium bilirubinat, dan batu campuran.

B. Anatomi Kandung EmpeduKandung empedu (vesika felea), yang merupakan organ berbentuk seperti buah advokat, berongga dan menyerupai kantong dengan panjang 7,5 hingga 10 cm, terletak dalam suatu cekungan yang dangkal pada permukaan inferior hati oleh jaringan ikat yang longgar. Dinding kandung empedu terutama tersusun dari otot polos. Kandung empedu dihubungkan dengan duktus koledokus lewat duktus sistikus.

Kandung empedu memiliki bagian berupa fundus, korpus, dan kolum. Fundus berbentuk bulat, berujung buntu pada kandung empedu sedikit memanjang di atas tepi hati. Korpus merupakan bagian terbesar dari kandung empedu. Kolum adalah bagian sempit dari kandung empedu yang terletak antara korpus dan duktus sistika. Empedu yang disekresikan dari hati akan disimpan sementara waktu dalam kandung empedu. Saluran empedu terkecil yang disebut kanalikulus terletak diantara lobulus hati. Kanalikulus menerima hasil sekresi dari hepatosit dan membawanya ke saluran empedu yang lebih besar yang akhirnya akan membentuk duktus hepatikus. Duktus tersebut keluar dari permukaan bawah hati sebagai duktus hepatikus kanan dan kiri yang kemudian segara bersatu membentuk duktus hepatikus komunis (common hepatic duct). Duktus hepatikus bergabung dengan duktus sistikus membentuk duktus koledokus (common bile duct) yang akan mengosongkan isinya ke dalam intestinum. Pada sebagian besar orang, duktus koledokus bersatu dengan duktus pankreatikus membentuk ampula Vateri (bagian duktus yang melebar) sebelum bermuara ke duodenum. Bagian terminal dari kedua saluran dan ampula dikelilingi oleh serabut otot sirkular yang dikenal sebagai sfingter Oddi.

C. Fisiologi Kandung EmpeduKandung empedu berfungsi sebagai tempat penyimpanan empedu. Kapasitas kandung empedu adalah 30-50ml empedu. Empedu yang ada di hati akan dikeluarkan di antara saat-saat makan, ketika sfingter Oddi tertutup, empedu yang diproduksi oleh hepatosit akan memasuki kandung empedu. Selama penyimpanan, sebagian besar air dalam empedu diserap melalui dinding kandung empedu sehingga empedu dalam kandung empedu lebih pekat lima hingga sepuluh kali dari konsentrasi saat disekresikan pertama kalinya oleh hati. Pengaliran cairan empedu diatur oleh 3 faktor, yaitu sekresi empedu oleh hati, kontraksi kandung empedu, dan tahanan sfingter koledokus. Dalam keadaan puasa, empedu yang diproduksi akan dialih-alirkan ke dalam kandung empedu. Setelah makan, kandung empedu berkontraksi, sfingter relaksasi, dan empedu mengalir ke duodenum. Memakan makanan akan menimbulkan pelepasan hormon duodenum, yaitu kolesistokinin (CCK), yang merupakan stimulus utama bagi pengosongan kandung empedu, lemak merupakan stimulus yang lebih kuat. Reseptor CCK telah dikenal terletak dalam otot polos dari dinding kandung empedu. Pengosongan maksimum terjadi dalam waktu 90-120 menit setelah konsumsi makanan. Empedu secara primer terdiri dari air, lemak, organik, dan elektrolit, yang normalnya disekresi oleh hepatosit. Zat terlarut organik adalah garam empedu, kolesterol, dan fosfolipid. Sebelum makan, garam-garam empedu menumpuk di dalam kandung empedu dan hanya sedikit empedu yang mengalir dari hati. Makanan di dalam duodenum memicu serangkaian sinyal hormonal dan sinyal saraf sehingga kandung empedu berkontraksi. Sebagai akibatnya, empedu mengalir ke dalam duodenum dan bercampur dengan makanan.Empedu memiliki fungsi, yaitu membantu pencernaan dan penyerapan lemak, berperan dalam pembuangan limbah tertentu dari tubuh, terutama hemoglobin yang berasal dari penghancuran sel darah merah dan kelebihan kolesterol, garam empedu meningkatkan kelarutan kolesterol, lemak dan vitamin yang larut dalam lemak untuk membantu proses penyerapan, garam empedu merangsang pelepasan air oleh usus besar untuk membantu menggerakkan isinya, bilirubin (pigmen utama dari empedu) dibuang ke dalam empedu sebagai limbah dari sel darah merah yang dihancurkan serta obat dan limbah lainnya dibuang dalam empedu dan selanjutnya dibuang dari tubuh.Garam empedu kembali diserap ke dalam usus halus, disuling oleh hati dan dialirkan kembali ke dalam empedu. Sirkulasi ini dikenal sebagai sirkulasi enterohepatik. Seluruh garam empedu di dalam tubuh mengalami sirkulasi sebanyak 10-12 kali/hari. Dalam setiap sirkulasi, sejumlah kecil garam empedu masuk ke dalam usus besar (kolon). Di dalam kolon, bakteri memecah garam empedu menjadi berbagai unsur pokok. Beberapa dari unsur pokok ini diserap kembali dan sisanya dibuang bersama tinja. Hanya sekitar 5% dari asam empedu yang disekresikan dalam feses.

D. Etiologi KolelithiasisPenyebab dan faktor resiko terjadinya batu empedu masih belum diketahui secara pasti, namun beberapa diduga menjadi faktor predisposisi : Pada wanita yang menggunakan kontrasepsi hormonal, pembentukan batu empedu terjadi karena adanya peningkatan saturasi kolesterol bilier. Kegemukan merupakan faktor yang signifikan untuk terjadinya batu kandung empedu. Pada keadaan ini hepar memproduksi kolesterol yang berlebih, kemudian dialirkan ke kandung empedu sehingga konsentrasinya dalam kandung empedu menjadi sangat jenuh. Keadaan ini merupakan faktor predisposisi terbentuknya batu Orang dengan usia lebih dari 40 tahun lebih cenderung untuk terkena kolelitiasis dibandingkan dengan orang yang usia lebih muda. Hal ini terjadi akibat bertambahnya sekresi kolesterol oleh hati dan menurunnya sintesis asam empedu.Selain itu adanya proses aging, yaitu suatu proses menghilangnya secara perlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas dan memperbaiki kerusakan yang diderita. Makanan. Konsumsi makanan yang mengandung lemak terutama lemak hewani berisiko untuk menderita kolelitiasis. Kolesterol merupakan komponen dari lemak. Jika kadar kolesterol yang terdapat dalam cairan empedu melebihi batas normal, cairan empedu dapat mengendap dan lama kelamaan menjadi batu. Intake rendah klorida, kehilangan berat badan yang cepat mengakibatkan gangguan terhadap unsur kimia dari empedu dan dapat menyebabkan penurunan kontraksi kandung empedu.

E. Tipe Batu EmpeduAda dua tipe utama batu empedu yaitu batu yang terutama tersusun dari pigmen dan batu terutama yang tersusun dari kolesterol (Smeltzer dan Bare, 2002). Komposisi dari batu empedu merupakan campuran dari kolesterol, pigmen empedu, kalsium dan matriks inorganik. 1. Batu kolesterolBatu kolesterol mengandung lebih dari 50% kolesterol dari seluruh beratnya, sisanya terdiri dari protein dan garam kalsium. Batu kolesterol sering mengandung kristal kolesterol dan musin glikoprotein. Kristal kolesterol yang murni biasanya agak lunak dan adanya protein menyebabkan konsistensi batu empedu menjadi lebih keras.Batu kolesterol terjadi karena konsentrasi kolesterol di dalam cairan empedu tinggi. Ini akibat dari kolesterol di dalam darah cukup tinggi. Jika kolesterol dalam kandung empedu tinggi, pengendapan akan terjadi dan lama kelamaan menjadi batu. Kolesterol yang merupakan unsur normal pembentuk empedu bersifat tidak larut dalam air. Kelarutannya bergantung pada asam-asam empedu dan lesitin (fosfolipid) dalam empedu. Pada pasien yang cenderung menderita batu empedu akan terjadi penurunan sintesis asam empedu dan peningkatan sintesis kolesterol dalam hati; keadaan ini mengakibatkan supersaturasi getah empedu oleh kolesterol yang kemudian keluar dari getah empedu, mengendap dan membentuk batu. Getah empedu yang jenuh oleh kolesterol merupakan predisposisi untuk timbulnya batu empedu dan berperan sebagai iritan yang menyebabkan peradangan dalam kandung empedu.2. Batu PigmenBatu pigmen merupakan campuran dari garam kalsium yang tidak larut, terdiri dari kalsium bilirubinat, kalsium fosfat, dan kalsium karbonat. Kolesterol terdapat dalam batu pigmen dalam jumlah yang kecil yaitu 10% dalam batu pigmen hitam dan 10- 30% dalam batu pigmen coklat. Batu pigmen dibedakan menjadi dua yaitu batu pigmen hitam dan batu pigmen coklat, keduanya mengandung garam kalsium dari bilirubin. Batu pigmen hitam mengandung polimer dari bilirubin dengan musin glikoprotein dalam jumlah besar, sedangkan batu pigmen coklat mengandung garam kalsium dengan sejumlah protein dan kolesterol yang bervariasi. Batu pigmen hitam umumnya dijumpai pada pasien sirosis atau penyakit hemolitik kronik seperti thalasemia dan anemia sel sikle. Batu pigmen coklat sering dihubungkan dengan kejadian infeksi. Batu pigmen akan terbentuk bila pigmen tak terkonyugasi dalam empedu mengadakan presipitasi (pengendapan) sehingga terjadi batu.

F. Patogenesis Batu EmpeduPatogenesis terbentuknya batu kolesterol diawali adanya pengendapan kolesterol yang membentuk kristal kolesterol. Batu kolesterol terbentuk ketika konsentrasi kolesterol dalam saluran empedu melebihi kemampuan empedu untuk mengikatnya dalam suatu pelarut, kemudian terbentuk kristal yang selanjutnya membentuk batu. Pembentukan batu kolesterol melibatkan tiga proses yang panjang yaitu pembentukan empedu yang sangat jenuh (supersaturasi), pembentukan kristal kolesterol dan agregasi serta proses pertumbuhan batu. Proses supersaturasi terjadi akibat peningkatan sekresi kolesterol, penurunan sekresi garam empedu atau keduanya.Patogenesis batu pigmen melibatkan infeksi saluran empedu, stasis empedu, malnutrisi, dan faktor diet. Kelebihan aktivitas enzim b-glucuronidase bakteri dan manusia (endogen) memegang peran kunci dalam patogenesis batu pigmen pada pasien dinegara Timur. Hidrolisis bilirubin oleh enzim tersebut akan membentuk bilirubin tak terkonjugasi yang akan mengendap sebagai calcium bilirubinate. enzim b-glucuronidase bakteri berasal kuman E.coli dan kuman lainnya di saluran empedu. Enzim ini dapat dihambat glucarolactone yang kadarnya meningkat pada pasien dengan diet rendah protein dan rendah lemak.Patogenesis batu pigmen hitam banyak dijumpai pada pasien-pasien sirosis, penyakit hemolitik seperti thalasemia dan anemia sel sikle. Batu pigmen hitam terjadi akibat melimpahnya bilirubin tak terkonyugasi dalam cairan empedu. Peningkatan inidisebabkan karena peningkatan sekresi bilirubin akibat hemolisis, proses konjugasi bilirubin yang tidak sempurna (penyakit sirosis hati) dan proses dekonjugasi. Bilirubin tak terkonjugasi ini kemudian membentuk kompleks dengan ion kalsium bebas membentuk kalsium bilirubinat yang mempunyai sifat sangat tidak larut. Proses adifikasi yang tidak sempurna menyebabkan peningkatan pH, dan keadaan ini merangsang pembentukan garam kalsium. Kalsium bilirubinat yang terbentuk terikat dengan musin tertahan di kandung empedu. Hal ini sebagai awal proses terbentuknya batu.Patogenesis batu pigmen coklat umumnya terbentuk dalam duktus biliaris yang terinfeksi. Batu pigmen coklat mengandung lebih banyak kolesterol dibanding batu pigmen hitam, karena terbentuknya batu mengandung empedu dan kolesterol yang sangat jenuh. Garam asam lemak merupakan komponen penting dalam batu pigmen coklat. Palmitat dan stearat yang merupakan komponen utama garam tersebut tidak dijumpai bebas dalam empedu normal, dan biasanya diproduksi oleh bakteri. Kondisi stasis dan infeksi memudahkan pembentukan batu pigmen coklat.Dalam keadaan infeksi kronis dan stasis empedu dalam saluran empedu, bakteri memproduksi enzim b-glucuronidase yang kemudian memecah bilirubin glukoronida menjadi bilirubin tak terkonjugasi. Bakteri juga memproduksi phospholipase A-1 dan enzim hidrolase garam empedu. Phospholipase A-1 mengubah lesitin menjadi asam lemak jenuh dan enzim hidrolase garam empedu mengubah garam empedu menjadi asam empedu bebas. Produk-produk tersebut kemudian mengadakan ikatan dengan kalsium membentuk suatu garam kalsium. Garam kalsium bilirubinat, garam kalsium dari asam lemak (palmitat dan stearat) dan kolesterol membentuk suatu batu lunak. Bakteri berperan dalam proses adhesi dari pigmen bilirubin.

G. Gambaran KlinisManifestasi klinik pada pasien kolelitiasis sangat bervariasi, ada yang mengalami gejala asimptomatik dan gejala simptomatik. Pasien kolelitiasis dapat mengalami dua jenis gejala: gejala yang disebabkan oleh penyakit kandung empedu itu sendiri dan gejala yang terjadi akibat obstruksi pada jalan perlintasan empedu oleh batu empedu. Gejalanya bisa bersifat akut atau kronis. Gangguan epigastrium, seperti rasa penuh, distensi abdomen dan nyeri yang samar pada kuadran kanan atas abdomen dapat terjadi. Gangguan ini dapat terjadi bila individu mengkonsumsi makanan yang berlemak atau yang digoreng.Gejala yang mungkin timbul pada pasien kolelitiasis adalah nyeri dan kolik bilier, ikterus, perubahan warna urin dan feses dan defisiensi vitamin. Pada pasien yang mengalami nyeri dan kolik bilier disebabkan karena adanya obstruksi pada duktus sistikus yang tersumbat oleh batu empedu sehingga terjadi distensi dan menimbulkan infeksi. Kolik bilier tersebut disertai nyeri hebat pada abdomen kuadran kanan atas, pasien akan mengalami mual dan muntah dalam beberapa jam sesudah mengkonsumsi makanan dalam porsi besar. Gejala kedua yang dijumpai pada pasien kolelitiasis ialah ikterus yang biasanya terjadi pada obstruksi duktus koledokus. Salah satu gejala khas dari obstruksi pengaliran getah empedu ke dalam duodenum yaitu penyerapan empedu oleh darah yang membuat kulit dan membran mukosa berwarna kuning sehingga terasa gatal-gatal di kulit. Gejala selanjutnya terlihat dari warna urin yang berwarna sangat gelap dan feses yang tampak kelabu dan pekat. Kemudian gejala terakhir terjadinya defisiensi vitamin atau terganggunya proses penyerapan vitamin A, D, E dan K karena obstruksi aliran empedu, contohnya defisiensi vitamin K dapat menghambat proses pembekuan darah yang normal.

H. Gambaran LaboratorisPemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan padapenderita batu empedu di antaranya hitung sel darah lengkap, urinalisis, pemeriksaan feses, tes fungsi hati dan kadar amilase serta lipase serum. Pada episode kolik biliaris, sebagian besar penderita mempunyai hasil laboratorium yang normal. Tetapi bila disertai komplikasi dapat menunjukkan leukositosis dan peningkatan kadar enzim hati (aspartat aminotransferase, alanine aminotrasferase, fosfatase alkali), gammma glutamyl transferase dan bilirubin serum, terutama jika terdapat batu pada duktus koledokus (sindrom Mirizzi).Pada pemeriksaan urinalisis, adanya bilirubin tanpa adanya urobilinogen dalam urin dapat mengarahkan pada kemungkinan adanya obstruksi saluran empedu. Sedangkan pada pemeriksaan feses, tergantung pada obstruksi oleh batu empedu, bila terjadi obstrksi total saluran empedu, maka feses tampak pucat (akholis).Pada penderita batu empedu dengan pankreatitis dapat terjadi peningkatan kadar amilase dan lipase serum, di samping tes fungsi hati yang abnormal. Diduga terdapat kolesistitis akut jika ditemukan leukositosis dan sampai 15% penderita mempunyai peningkatan sedang dari aspartate aminotransferase, alanine minotranferase, fosfatase alkali dan bilirubin serum.

I. DiagnosisSebagian besar penderita batu empedu terutama yang tanpa gejala ditemukan secara kebetulan pada saat penderita melakukan pemeriksaan radiologi karena keluhan lain. Pada anamnesis kadang dapat ditemuan riwayat kolik biliaris, yaitu rasa nyeri di daerah epigastrium atau daerah kuadran kanan atas perut.

J. Pemeriksaan PenunjangPemeriksaan diagnostik yang dilakukan pada pasien kolelitiasis adalah :1. Ultrasonography (USG)Pemeriksaan ultrasonografi adalah pemeriksaan yang pertama kali dilakukan pada pasien dengan kelainan pada saluran empedu. Pemeriksaan ini bersifat non invasif, tidak nyeri, tidak menimbulkan resiko radiasi pada pasien, dan dapat dilakukan pada pasien pasien dengan segala kondisi (baik s/d jelek). Organ-organ di sekitarnya dapat diperiksa pada saat yang sama. Pasien yang gemuk, pasien dengan obesitas, dan pasien dengan distensi usus mungkin sulit untuk diperiksa dengan ultrasonografi. Saluran empedu ekstrahepatal dapat terlihat dengan baik dengan ultrasonografi, kecuali pada saluran empedu retroduodenal. Ultrasonograhy mempunyai spesifisitas 90% dan sensitivitas 95% dalam mendeteki adanya batu kandung empedu. Indikasi adanya kolesistitis akut pada pemerikaan USG ditunjukkan dengan adanya batu (acoustic shadow), penebalan dinding kandung empedu (double layer), cairan perikolesistikus dan Murphy sign positif akiba ontak dengan probe USG.2. CT scan.Pada pemeriksaan ini gambaran suatu organ ditampilkan dalam satu seri potongan cross sectional yang berdekatan, biasanya 10-12 image. CT scan abdomen lebih inferior dibanding USG dalam mendiagnosis batu empedu, tetapi lebih superior dibanding USG dalam pemeriksaan pasien dengan obesitas dan banyaknya gas dalam sistem usus. Penggunaan CT scan terutama adalah untuk menilai status saluran ekstrahepatal dan struktur struktur di dekatnya. Pada kasus akut, pemeriksaan ini dapat menunjukkan adanya penebaln dinding kandung empedu atau adanya cairan perikolesistikus akibat kolesistitis akut.3. PTC (Percutaneus Transhepatic Cholangiography)Pemeriksaan ini dengan cara menyuntikkan bahan kontras langsung ke dalam percabangan bilier. Karena konsentrasi bahan kontras yang disuntikkan itu relatif besar, maka semua komponen pada sistem bilier (duktus hepatikus, duktus koledokus, duktus sistikus dan kandung empedu) dapat dilihat garis bentuknya dengan jelas. Resiko tindakan ini adalah perdarahan, kolangitis, leakage empedu4. ERCP (Endoscopic Retrograd Cholangio Pancreaticography)ERCP adalah pemeriksaan untuk mendeteksi batu empedu di dalam duktus koledokus dan mempunyai keuntungan terapeutik untuk mengangkat batu empedu. ERCP adalah suatu teknik endoskopi untuk visualisasi duktus koledokus dan duktus pankreatikus. Pada pemeriksaan ini menggunakan suatu kateter untuk memasukkan alat yang dimasukkan ke dalam duktus biliari dan pankreatikus untuk mendapatkan gambaran x-ray dengan fluoroscopy. Selama prosedur, klinis dapat melihat langsung gambaran endoskopi dari duodenum dan papila major, serta gambaran duktus biliari dan pankreatikus.5. ScintigraphyPemeriksaan cholescintigraphy menggunakan zat radioaktif yang dimasukkan ke dalam tubuh secara intravena, zat ini akan diabsorpsi hati dan dieksresikan ke dalam empedu. Scan secara serial menunjukkan radioaktivitas di dalam kendung empedu, duktus koledokus danusus halus dalam 30-60 menit. Pemeriksaan ini dapat memberikan keterangan mengenai adanya sumbatan pada duktus sistikus. Cholescintigraphy mempunyai nilai akurasi 95% untuk pasien dengan kolesistitis akut, tetapi pemeriksaan ini mempunyai nilai positif palsu 30-40% pada pasien yang telah dirawat beberapa minggu karena masalah kesehatan lain, terutama jika psien tersebut telah menapat nutrisi parenteral.

K. Komplikasi1. KolesistisisKolesistisis adalah Peradangan kandung empedu, saluran kandung empedu tersumbat oleh batu empedu, menyebabkan infeksi dan peradangan kandung empedu.2. KolangitisKolangitis adalah peradangan pada saluran empedu, terjadi karena infeksi yang menyebar melalui saluran-saluran dari usus kecil setelah saluran-saluran menjadi terhalang oleh sebuah batu empedu.3. HidropsObstruksi kronis dari kandung empedu dapat menimbulkan hidrops kandung empedu. Dalam keadaan ini, tidak ada peradangan akut dan sindrom yang berkaitan dengannya. Hidrops biasanya disebabkan oleh obstruksi duktus sistikus sehingga tidak dapat diisi lagi empedu pada kandung empedu yang normal. Kolesistektomi bersifat kuratif.4. EmpiemaPada empiema, kandung empedu berisi nanah. Komplikasi ini dapat membahayakan jiwa dan membutuhkan kolesistektomi darurat segera.

L. Penatalaksanaan1. Penanggulangan non bedahi. Disolusi MedisDisolusi medis sebelumnya harus memenuhi kriteria terapi non operatif diantaranya batu kolesterol diameternya