Presus Keratitis

Click here to load reader

  • date post

    09-Aug-2015
  • Category

    Documents

  • view

    55
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Presus Keratitis

KERATITISDisusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Dalam Mengikuti Program Pendidikan Profesi Dokter Bagian Ilmu Kesehatan Mata di BRSD KRT. Setjonegoro

Diajukan Kepada : dr. Rochmad Haryanto, Sp. M Disusun Oleh : Muhammad Faris. N 2007.031.0150 FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA BRSD WONOSOBO 2013

BAB I PENDAHULUAN Keratitis adalah infeksi pada kornea yang ditandai dengan timbulnya infiltrat pada lapisan kornea, biasanya diklasifikasikan menurut lapisan kornea yang terkena; yaitu keratitis superfisialis apabila mengenal lapisan epitel atau bowman dan keratitis profunda atau interstisialis (atau disebut juga keratitis parenkimatosa) yang mengenai lapisan stroma (Vaughan, 2002). Keratitis superfisial adalah radang kornea yang mengenai lapisan epitel dan membran bowman, keratitis dapat terjadi pada anak-anak maupun dewasa. Kornea merupakan salah satu media refraksi penglihatan dan berperan besar dalam pembiasan cahaya diretina. Oleh karena itu setiap kelainan pada kornea termasuk infeksi dapat menyebabkan terganggunya penglihatan, terganggunya penglihatan biasanya karena terjadi kekeruhan pada kornea akibat keberadaan infiltrat pada lapisan kornea. Bakteri pada umumnya tidak dapat menyerang kornea yang sehat, namun beberapa kondisi dapat menyebabkan infeksi bakteri terjadi. Contohnya, luka atau trauma pada mata dapat menyebabkan kornea terinfeksi. Mata yang sangat kering juga dapat menurunkan mekanisme pertahanan kornea. Beberapa etiologi yang dapat meningkatkan kejadian terjadinya keratitis antara lain: perawatan lensa kontak yang buruk, penggunaan lensa kontak yang berlebihan, trauma, keracunan obat, infeksi jamur, bakteri, virus, alergi, defisiensi vitamin A, kekebalan tubuh yang menurun karena penyakit lain. Keratitis dapat menimbulkan gejala pada mata berupa tajam penglihatan menurun, tanda radang pada kelopak mata, rasa nyeri, mata merah, fotofobia, mata berair, sensasi benda asing didalam mata (Ilyas, 2009). Di Indonesia kekeruhan kornea masih merupakan masalah kesehatan mata sebab kelainan ini menempati urutan kedua dalam penyebab utama kebutaan. Kekeruhan kornea ini terutama disebabkan oleh infeksi mikroorganisme berupa bakteri, jamur dan virus dan bila terlambat di diagnosis atau diterapi secara tidak tepat akan mengakibatkan kerusakan stroma dan meninggalkan jaringan parut yang luas.

BAB II LAPORAN KASUS A. Identitas Pasien Nama Alamat Umur Pekerjaan Nomor CM Datang ke poli B. Anamnesis Keluhan utama : Mata nrocos, nyeri, penglihatan kabur Riwayat penyakit sekarang : Pasien datang diantar keluarganya ke poli mata BRSD KRT Setjonegoro dengan keluhan mata kiri nrocos dan disertai penglihatan tidak jelas/kabur. Pasien juga mengeluhkan mata terasa nyeri dan terasa ada yang mengganjal. Keluhan dirasakan sejak 7 hari yang lalu. Sebelumnya mata pasien terkena serpihan kayu yang halus di tempat kerjanya kemudian terasa gatal. Pasien kemudian berobat ke Puskesmas Kaliwiro dan diberi obat tetes mata, namun keluhan kumat lahi setelah 3 hari pengobatan. Keluhan muncul kembali ketika pasien kembali ke tempat kerja sebagai buruh bangunan. Riwayat penyakit dahulu :

: Tn. O : Ciledok, Kaliwiro : 43 tahun : Buruh : 55 22 60 : 05 Februari 2013

Riwayat mondok Riwayat alergi obat

: Belum pernah : Disangkal

Riwayat penyakit dalam : Disangkal Riwayat operasi : Pasien blm pernah dioperasi sebelumnya

Riwayat BAB hitam : Disangkal Riwayat penyakit serupa di keluarga : Tidak ada

Riwayat penyakit keluarga :

Anamnesis Sistem

: : pusing (-), nyeri otot (-) : sesak nafas (-), batuk (-) : nyeri dada (-), berdebar-debar (-) : kembung (-), mual(-), muntah (-), perut : BAK tidak ada keluhan

Neuromuskular Respirasi Kardiovaskuler Gastrointestinal Urologi

sakit (-)

C. Pemeriksaan Fisik Kesadaran Pemeriksaan Visus jauh Refraksi Koreksi Visus Dekat Proyeksi sinar Persepsi warna (merah, hijau) Pemeriksaan Obyektif : Pemeriksaan 1. Sekitar mata Supercilia 2. Kelopak Mata Pasangan Gerakan Lebar rima Kulit Lebar kelopak Margo intermarginalis Simetris Normal Dbn Dbn Dbn Dbn Simetris Normal Dbn Dbn Dbn Dbn OD Simetris distribusi merata OS dan Simetris dan distribusi merata : Compos mentis OD 5/5 OS 5/10 Pemeriksaan Subyektif :

3. Apparatus Lakrimalis Sekitar gl lakrimalis Sekitar saccus lakrimalis Uji fluresin Uji regurgitasi 4. Bola mata Pasangan Gerakan Ukuran 5. Tekanan bola mata 6. Konjungtiva K.Palpebra superior K.Palpebra inferior K.forniks K.bulbi 7. Sklera Episklera 8. Kornea Ukuran Kecembungan Limbus Permukaan Medium Dinding belakang Uji Fluresin Placido 9. Camera occuli anterior Ukuran kedalaman Isi

Lakrimasi (-) Lakrimasi (-) Simetris Simetris Dbn Normal Hiperemis (-) Hiperemis (-) Hiperemis (-) Hiperemis (-) Hiperemis (-) Putih Putih Dbn Dbn Dbn Dbn Licin Dbn Dbn Dalam Jernih

Lakrimasi (+) Lakrimasi (+) Simetris Simetris Dbn Normal Hiperemis (+) Hiperemis (+) Hiperemis (+) Hiperemis (+) Hiperemis (+) Hiperemis (+) Tampak putih (+) Dbn Dbn Dbn Tidak rata Dbn Dbn Dalam Jernih bercak

10. Iris Warna Pasangan Gambaran Bentuk 11. Pupil Ukuran Bentuk Tempat Tepi Reflek direk Reflek indirek 12. Lensa Ada/Tidak ada Kejernihan Letak Warna Kekeruhan 13. Korpus vitreum 14. Refleks fundus 15. Skiaskopi D. Diagnosa Kerja OS : Keratitis E. Planning Cefadroxyl 500mg tab 3x1 Na Diclofenac 3x1 C. Xytrol tiap 2 jam Metampiron tab 2/3 3x1 Dexametasone tab 2/3 3x1

Coklat Simetris Regular 2-3 mm Regular Tengah Regular + + Ada putih Simetris sentral putih -

Coklat Simetris Regular 2-3 mm Regular Tengah Regular + + Ada Putih Simetris sentral Putih -

BAB III TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi Keratitis adalah infeksi pada kornea yang biasanya diklasifikasikan menurut lapisan kornea yang terkena yaitu keratitis superfisialis apabila mengenal lapisan epitel atau bowman dan keratitis profunda atau interstisialis (atau disebut juga keratitis parenkimatosa) yang mengenai lapisan stroma (Ilyas, 2006). B. Etiologi dan Faktor Pencetus Penyebab keratitis bermacam-macam. Bakteri, virus dan jamur dapat menyebabkan keratitis. Penyebab paling sering adalah virus herpes simplex tipe 1. Selain itu penyebab lain adalah kekeringan pada mata, pajanan terhadap cahaya yang sangat terang, benda asing yang masuk ke mata, reaksi alergi atau mata yang terlalu sensitif terhadap kosmetik mata, debu, polusi atau bahan iritatif lain, kekurangan vitamin A dan penggunaan lensa kontak yang kurang baik (Mansjoer, 2001). C. Tanda dan Gejala Umum Tanda patognomik dari keratitis ialah terdapatnya infiltrat di kornea. Infiltrat dapat ada di seluruh lapisan kornea, dan menetapkan diagnosis dan pengobatan keratitis. Pada peradangan yang dalam, penyembuhan berakhir dengan pembentukan jaringan parut (sikatrik), yang dapat berupa nebula, makula, dan leukoma. Adapun gejala umum adalah : Keluar air mata yang berlebihan Nyeri Penurunan tajam penglihatan Radang pada kelopak mata (bengkak, merah) Mata merah Sensitif terhadap cahaya (Mansjoer, 2001).

D. Klasifikasi Keratitis biasanya diklasifikasikan berdasarkan lapisan kornea yang terkena : yaitu keratitis superfisialis apabila mengenai lapisan epitel dan bowman dan keratitis profunda apabila mengenai lapisan stroma. Bentuk-bentuk klinik keratitis superfisialis antara lain adalah (Ilyas, 2006): 1. Keratitis punctata superfisialis Berupa bintik-bintik putih pada permukaan kornea yang dapat disebabkan oleh sindrom dry eye, blefaritis, keratopati logaftalmus, keracunan obat topical, sinar ultraviolet, trauma kimia ringan dan pemakaian lensa kontak. 2. Keratitis flikten Benjolan putih yang yang bermula di limbus tetapi mempunyai kecenderungan untuk menyerang kornea. 3. Keratitis sika Suatu bentuk keratitis yang disebabkan oleh kurangnya sekresi kelenjar lakrimale atau sel goblet yang berada di konjungtiva. 4. Keratitis lepra Suatu bentuk keratitis yang diakibatkan oleh gangguan trofik saraf, disebut juga keratitis neuroparalitik. 5. Keratitis nummularis Bercak putih berbentuk bulat pada permukaan kornea biasanya multiple dan banyak didapatkan pada petani. Bentuk-bentuk klinik keratitis profunda antara lain adalah : 1. Keratitis interstisialis luetik atau keratitis sifilis congenital 2. Keratitis sklerotikans. E. Patofisiologi Karena kornea avaskuler, maka pertahanan pada waktu peradangan tidak segera datang, seperti pada jaringan lain yang mengandung banyak vaskularisasi. Maka badan kornea, wandering cell dan sel-sel lain yang terdapat dalam stroma kornea, segera bekerja sebagai makrofag, baru

kemudian disusul dengan dilatasi pembuluh darah yang terdapat dilimbus dan tampak sebagai injeksi perikornea. Sesudahnya baru terjadi infiltrasi dari sel-sel mononuclear, sel plasma, leukosit polimorfonuklear (PMN), yang mengakibatkan timbulnya infiltrat, yang tampak sebagai bercak berwarna kelabu, keruh dengan batas-batas tak jelas dan permukaan tidak licin, kemudian dapat terjadi kerusakan epitel dan timbulah ulkus kornea (Vaughan, 2009). Kornea mempunyai banyak serabut saraf maka kebanyakan lesi pada kornea baik superfisial maupun profunda dapat menimbulkan rasa sakit dan fotofobia. Rasa sakit juga diperberat dengan adanaya gesekan palpebra (terutama palbebra superior) pada kornea dan menetap sampai sembuh. Kontraksi bersifat progresif, regresi iris, yang meradang dapat menimbulkan fotofobia, sedangkan iritasi yang terjadi pada ujung saraf kornea merupakan fenomena reflek yang berhubungan dengan timbulnya dilatasi pada pembuluh iris. Fotofobia, yang berat pada kebanyakan penyakit kornea, minimal pada keratitis herpes karena hipestesi terjadi pada penyakit ini, yang juga merupakan tanda diagnostik berharga. Meskipun berair mata dan fotofobia umumnya menyertai penyakit kornea, umumnya tidak ada tahi mata kecuali pada ulkus bakteri purulen (Vaughan, 2009). Karena kornea berfungsi seba