preskas skizoafektif

download preskas skizoafektif

of 34

  • date post

    27-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    12
  • download

    3

Embed Size (px)

description

Gangguan psikiatri dapat terjadi apabila terdapat ketidakseimbangan adaptasi antara faktor biologis, sosiokultural, dan psikologis. Psikodinamika adalah suatu pendekatan konseptual yang memandang proses-proses mental sebagai gerakan dan interaksi energi psikis, yang berlangsung intra- maupun inter-individual.

Transcript of preskas skizoafektif

NASKAH PSIKIATRI

I. IDENTITAS PASIENNama

: Ny. EJenis Kelamin: perempuan

Usia

: 44 tahun

Alamat

: Kramat Sawah, Jakarta

Status

: menikahPendidikan

: SMPPekerjaan

: pedagangSuku

: MakassarAgama

: Islam

Datang ke RSCM: 3 Februari 2009 NRM

: 293-20-30II. RIWAYAT PSIKIATRIDiperoleh dari: autoanamnesis dan alloanamnesis dari rekam medis (tanggal 3 Februari 2009)

A. Keluhan UtamaPasien merasa lemas dan tidak nafsu makan tiga hari sebelum kontrol ke poli jiwa RSCMB. Riwayat Gangguan Sekarang

Sejak kontrol poli terakhir (8 januari 2009), pasien sudah merasa baikan. Ketakutan, rasa sedih, emosi, gelisah dan suara-suara yang menggangu mulai berkurang dan dapat dikendalikan. Dua hari setelah setelah kontrol poli, saat bangun pagi pasien merasa lupa siapa dirinya dan keluarganya. Hal ini dirasakan selama + 30 menit setelah itu pasien kembali ingat. Seminggu sebelum kontrol, pasien merasa senang dan mentraktir tetangganya dengan uang keuntungan dagangannya (Rp.100.000,-). Pasien merasa senang karena tetangganya yang berkata Wah, senangnya Bu Eripah, dagangannya laris. Setelah uangnya habis, pasien baru tersadar benar kalau uangnya sudah habis untuk mentraktir yang seharusnya ditabung untuk membeli sepeda anak bungsunya. Dalam sebulan terakhir, pasien terkadang masih merasakan ketakutan terutama tentang keadaan anaknya di sekolah, pasien takut kalau anak bungsunya jatuh saat main di tangga sekolah. Selain itu, pasien juga merasa khawatir akan nasib ke-4 anaknya nanti bila pasien sudah tidak ada (meninggal dunia). Ketakutan pun dirasakan saat pasien akan memegang pisau dapur untuk memasak, hal ini mengingatkan pasien saat dulu pernah menyakiti dirinya dengan pisau. Bila ketakutan muncul pasien biasanya merasa sedih. Tak lama rasa sedih ini ada, mulailah timbul suara-suara yang menyuruhnya melakukan hal yang negatif. Suara-suara itu terdengar saat pasien sedang wudhu dan menjelang sholat. Suara tersebut terdengar biasanya seminggu sekali. Suara tersebut awalnya terasa seperti hembusan angin, kemudian terdengar suara lelaki tua yang berkata buat apa sholat, tidak ada gunanya kamu sholat. Saat pasien akan minum obat, suara-suara terkadang terdengar pula dan berkata buat apa minum obat, itu tidak ada manfaatnya buat kamu, tidak akan buat kamu sembuh. Untuk mengatasi ketakutan, rasa sedih, dan suara-suara yang mengganggu itu, selain minum obat teratur, pasien juga melakukan relaksasi yang telah diajarkan oleh dokter dan menjalankan CBT (cognitive behaviour theraphy) dengan menuliskan hal-hal yang ia resahkan dalam diari dan berpikir positif. Relaksasi biasanya dilakukan selama + 30 menit. Setelah melakukan relaksasi maupun CBT, perasaan takut, sedih, dan suara-suara yang menggangu itu hilang. Tiga hari sebelum kontrol, pasien merasakan kesedihan lagi, pasien merasa lemas dan tidak nafsu makan. Tidak ada suara-suara yang mengganggu. Pasien masih dapat berdagang dengan lancar. Saat hari kontrol poli, pasien sudah merasa baikan walaupun masih ada rasa cemas terhadap anak bungsunya.C. Riwayat Gangguan Sebelumnya1. Riwayat Penyakit DahuluPasien belum pernah mengalami trauma kepala, kecelakaan, serta kejang. Pasien juga menyangkal adanya riwayat sering sakit kepala maupun sering demam tinggi.

2. Riwayat Penggunaan Zat PsikoaktifPasien tidak pernah mengkonsumsi alkohol, obat-obatan terlarang, dan rokok.

3. Riwayat Gangguan Psikiatri Sebelumnya Tahun 1986, setelah melahirkan anak pertama pasien merasa sedih hingga 25 hari. Saat itu pasien merasa tidak nafsu makan, sering terbangun malam hari, tidak bisa mengerjakan apa-apa, tidak bisa berkonsentrasi, merasa hampa, dan tidak bergairah untuk hidup. Dua puluh tahun yang lalu (1988), suami pasien berhenti bekerja. Sebelumnya suaminyalah yang menanggung biaya kehidupan keluarganya. Pasien berhenti bekerja setelah kejadian kebakaran di tempat kerjanya (pom bensin) yang disangkut pautkan dengan suaminya. Perasaan pasien sangat sedih dan kecewa karena pasien merasa suaminya tidak bersalah atas kejadian itu. Pasien pun mulai berpikir bagaimana kebutuhan anak-anaknya dapat terpenuhi. Pasien juga merasa pesimis untuk mengharapkan pekerjaan yang lebih baik pada suaminya karena suaminya hanyalah lulusan SMP. Pasien akhirnya memutuskan untuk menggunakan uang simpanannya untuk usaha buka warung kecil-kecilan. Namun, usaha ini tak berdiri lama. Kentungan yang tidak seberapa tak sebanding dengan pengeluaran untuk membenuhi kebutuhan keluarga terutama anaknya. Pasien merasa kecewa dan sedih karena usahanya ini harus gulung tikar. Di tahun yang sama, pasien dituduh tidak becus mengurus mertuanya yang mengidap diabetes melitus. Pasien merasa tidak dihargai dan berguna. Tubuhnya terasa lemas dan dia cenderung banyak diam. Pasien juga sering mengeluh sakit kepala. Saat malam hari, pasien mendengar suara-suara yang ia tidak ketahui sumbernya, suara itu menyuruhnya membunuh anaknya. Pasien awalnya ia tidak mengiraukan suara gaib itu. Akan tetapi, intensitasnya semakin kuat dan mengganggu tidurnya. Pasien akan diam bila suara itu terdengar. Hal ini juga membuat pasien menjadi malas makan, mandi, dan mengurus dirinya dan anaknya. Hal ini terus terjadi hampir setiap hari dan untuk mengatasinya pasien hanya berdiam diri. Setelah diam dan tenang, suara-suara itu menghilang.

Pasien memutuskan untuk berobat ke puskesmas. Dokter mengatakan bahwa ia harus dirawat di RS Grogol. Pasien tidak menerima karena ia merasa badannya sehat bugar dan hanya suara-suara saja yang mengganggunya. Pasien memutuskan tidak ke RS Grogol dan meminum obat tidur dari dokter puskesmas bila sulit tidur. Sebelas tahun yang lalu (1997) pasien mulai merasa gelisah. Ia dituduh adik iparnya tidak mengurusi mertuanya yang sakit kencing manis dengan baik hingga akhirnya meninggal dunia. Pasien jadi merasa bersalah karena merasa tidak becus dalam merawat mertuanya selama ini. Selain itu, adik iparnya juga mantii bunuh diri karena ketergantuang obat. Pasien kembali merasa bersalah karena tidak dapat mencegah hal ini terjadi. Kedua kejadian ini semakin membuatnya pikiran dan perasaanya kacau hingga ia sulit tidur selama + 2 minggu. Sejak itu ia mulai mendengar suara-suara lelaki tak dikenal, yang mengatakan, Kalau begini terus supaya tidak disalahkan lebih baik kamu akhiri hidup saja. Pasien tidak dapat mengendalikan suara tersebut sehingga ia merasa kepalanya bergerak hingga membentur tembok. Suara tersebut muncul seminggu dua kali. Selain itu pasien juga sering mendengar bisikan yang mengatakan, Kalau kamu keluar akan ada yang melukai kamu. Akibatnya pasien jadi merasa takut bila akan keluar rumah. Suara-suara tersebut terus terdengar walau intensitasnya semakin jarang. Namun pada tahun 1999 dan 2002 pasien merasa sangat emosi. Saat itu, pasien sedang menyetrika baju suami dan anaknya. Tiba-tiba kakak iparnya memarahinya dan memukul pasien. Tiba-tiba, terdengar suara-suara yang menyuruhnya untuk kabur dari rumah dan mengikuti jalannya suara itu. Tanpa sadar pasien sudah tiduran di jalan raya dan mencoba terjun dari gedung Kenari Mas. Pasien juga pernah dituduh oleh saudara iparnya mencuri uang Rp.5000,-. Pasien merasa kesal sekali dan suara-suara itu terdengar kembali yang menyuruhnya mengakhiri hidupnya. Kebetulan ada pisau dapur didekat pasien, lalu pasien menggoreskan pisau itu ke tangan kirinya hingga berdarah. Untung saja, ibu pasien melihatnya lalu menamparnya sehingga usaha bunuh diri itu terhenti.Pasien menyatakan bila sedang ketakutan pasien mencium bau-bauan bunga, kemenyan dan juga bau busuk. Ia juga mengatakan jika ketakutan itu bercampur dengan emosi (marah, perasaan ingin menghancurkan atau memukul sesuatu), bisikan untuk mengakhiri hidup semakin kencang. Setiap bisikan selalu diawali dengan bunyi seperti angin lewat kemudian tiupan, kata-kata mati, dan perintah untuh mengakhiri hidup. Bila suara-suara untuk bunuh diri sangat kuat pasien jadi merasa lemas, tidak berdaya, malas mengerjakan sesuatu, dan sulit tidur karena ketakutan. Lima tahun yang lalu (Agustus 2003) saat melihat lomba 17 Agustusan, pasien tiba-tiba merasa gelisah dan ketakutan. Pasien merasa orang-orang di sekitarnya mau melempar pasien dengan batu. Ia yakin karena melihat tangan diacung-acungkan seperti orang yang akan melihat barang. Karena merasa sangat ketakutan pasien menjerit-jerit, lari ke rumah, dan bersembunyi.

Tiga tahun yang lalu (Mei 2005) anak pasien dituduh mencuri burung. Pasien merasa emosi (marah) dan muncul bisikan untuk mencari tahu penjelasan masalah ini. Karena sangat emosi ia terjatuh di trotoar. Pasien merasa lemas seluruh tubuh dan tidak bersemangat. Pasien pun dibawa ke poli saraf. Saat diperiksa, pasien bercerita bahwa ia merasa emosi, gelisah, ketakutan, sedih, dan tidak bersemangat. Pasien kemudian dirujuk ke poli psikiatri dan dikatakan sedang mengalami depresi berat. Pasien direkomendasikan untuk dirawat namun menolak. Beberapa hari kemudian, terdengar suara-suara pria tua yang mengatakan Apa gunanya hidup, lebih baik akhiri saja hidup mu! semakin sering dan keras. Akibatnya pasien semakin ketakutan sehingga mengamuk. Ia kemudian dibawa ke IGD oleh kakak pasien dan akhirnya dirawat di PKW. Saat di PKW, pasien melihat orang-orang di sekelilingnya seperti binatang dan makhluk aneh. Ia sampai protes dan mengatakan kenapa ia dimasukkan ke kandang binatang. Selain itu, pasien juga melihat orang besar bertaring dan bertanduk di pintu. Saat dirawat, pasien takut untuk tidur di atas ranjang karena ada makhluk hitam besar bertaring yang mengawasinya terus dan hal ini membuat pasien sampai menjerit-jerit hingga akhirnya diikat. Selama dirawat, pasien mendengar bisikan kenapa minum obat, tidak ada gunanya, kamu tidak akan sembuh juga. Pasien jadi sering tidak minum obat dan menyembunyikannya di bawah lidah. Setelah tidak dilihat oleh suster pasien membuang obat tersebut. Saat pera