Preskas CA Mamae Bedah

of 38 /38
BAB I ILUSTRASI KASUS I. IDENTITAS Nama : Ny.YS Usia : 42 tahun Agama : Islam Pekerjaan : Buruh Cuci Pendidikan terakhir : SD Status : Menikah Suku bangsa : Jawa Kewarganegaraan : Indonesia Alamat : Cibinong, Bogor-Jawa Barat Tanggal masuk Ruang Rawat : 26 Oktober 2010 No. Rekam Medis : 339 – 81 – 94 II. KELUHAN UTAMA Benjolan di payudara kiri yang semakin membesar dan nyeri sejak 8 bulan sebelum masuk rumah sakit (SMRS). III. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG Sejak 8 bulan SMRS, pasien mengeluhkan adanya benjolan di payudara kiri. Benjolan teraba hanya satu, sebesar telur puyuh, teraba keras, dapat digerakkan, dan tidak nyeri. Pada payudara tidak terdapat perubahan bentuk dan warna kulit. Puting tidak tertarik ke dalam, dan tidak ada cairan yang 1

Transcript of Preskas CA Mamae Bedah

Page 1: Preskas CA Mamae Bedah

BAB I

ILUSTRASI KASUS

I. IDENTITAS

Nama : Ny.YS

Usia : 42 tahun

Agama : Islam

Pekerjaan : Buruh Cuci

Pendidikan terakhir : SD

Status : Menikah

Suku bangsa : Jawa

Kewarganegaraan : Indonesia

Alamat : Cibinong, Bogor-Jawa Barat

Tanggal masuk Ruang Rawat : 26 Oktober 2010

No. Rekam Medis : 339 – 81 – 94

II. KELUHAN UTAMA

Benjolan di payudara kiri yang semakin membesar dan nyeri sejak 8 bulan sebelum

masuk rumah sakit (SMRS).

III.RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

Sejak 8 bulan SMRS, pasien mengeluhkan adanya benjolan di payudara kiri.

Benjolan teraba hanya satu, sebesar telur puyuh, teraba keras, dapat digerakkan, dan tidak

nyeri. Pada payudara tidak terdapat perubahan bentuk dan warna kulit. Puting tidak

tertarik ke dalam, dan tidak ada cairan yang keluar dari puting. Benjolan tidak

dipengaruhi oleh siklus menstruasi (tidak bertambah besar ataupun nyeri). Keluhan mual

dan muntah disangkal. Benjolan pada tempat lain disangkal. Nafsu makan baik dan tidak

terdapat penurunan berat badan. Buang air besar dan buang air kecil biasa.

Pasien kemudian berobat ke Puskesmas setempat, dan dikatakan bahwa payudaranya

normal. Pasien kemudian sempat mengkonsumsi tanaman herbal untuk mengatasi

benjolan atas saran dari teman. Karena tidak terdapat perubahan, pasien memutuskan

1

Page 2: Preskas CA Mamae Bedah

untuk pergi ke Rumah Sakit di Cibinong setelah tiga minggu mengkonsumsi tanaman

herbal. Di Rumah Sakit Cibinong, setelah dilakukan pemeriksaan payudara oleh dokter

bedah, dikatakan benjolan di payudara pasien mengarah ke keganasan. Kemudian pasien

dirujuk ke RSCM untuk menjalani pemeriksaan dan penatalaksanaan lebih lanjut.

Di RSCM pasien berobat ke poli bedah, dan dilakukan pemeriksaan tambahan berupa

foto dada, USG payudara, mammografi, pemeriksaan darah, pemeriksaan urin dan

kedokteran nuklir. Hasil pemeriksaan tersebut mengarah ke tumor ganas.

Lama kelamaan, benjolan di payudara kiri semakin membesar, keras dan sulit

digerakkan. Keluhan juga disertai adanya benjolan di ketiak kiri yang dirasakan sejak ± 4

bulan SMRS. Payudara kiri juga terasa nyeri dan terlihat kemerahan. Saat itu juga tidak

terdapat perubahan bentuk dan warna kulit, puting tidak tertarik ke dalam, tidak ada

cairan yang keluar dari puting.

4 bulan SMRS pasien dilakukan biopsi pada benjolan di payudara kiri. Pada hasil

biopsi didapatkan kecurigaan mengarah keganasan, namun belum pasti. Oleh karena itu

dilakukan pemeriksaan biopsi ulang 1 bulan setelahnyaSetelah dilakukan biopsy pertama

pasien sempat keluar cairan bewarna putih bercampur kemerahan sebanyak satu kali.

Hasil biopsy kedua dikatakan tumor payudara ganas dan disarankan untuk dilakukan

operasi pengangkatan payudara kiri. Namun pasien merasa takut dan belum memutuskan

untuk dilakukan operasi. Selama 3 bulan terakhir pasien tidak control ke poli bedah

RSCM dulu.

Hari pasien masuk ke ruang rawat, sebelumnya pasien kontrol ke poli karena sudah

memantapkan hati untuk di operasi. Menurut dokter yang memeriksa tumor di payudara

kiri pasien sudah mengalami perlengketan dan disarankan untuk dilakukan kemoterapi 3

kali sebelum operasi dan dilanjutkan kemoterapi 3 kali setelah operasi.

Riwayat disinar sebelum ini disangkal, pasien tidak mengeluh nyeri pada tulang

belakang atau paha. Keluhan batuk dan sesak, sakit kepala, dan rasa begah pada perut

disangkal.

IV. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU

Riwayat keluhan serupa sebelumnya disangkal. Pasien juga belum pernah dirawat di

Rumah Sakit sebelumnya. Riwayat benjolan di payudara sebelumnya disangkal. Pasien

2

Page 3: Preskas CA Mamae Bedah

tidak pernah menjalani radiasi di daerah dada. Diabetes melitus, hipertensi, alergi obat,

dan asma disangkal.

V. RIWAYAT PENYAKIT DALAM KELUARGA

Riwayat penyakit serupa dalam keluarga disangkal. Riwayat keganasan dalam keluarga

disangkal. Hipertensi, diabetes mellitus dan asma disangkal.

VI. RIWAYAT PEKERJAAN, SOSIAL, EKONOMI DAN KEBIASAAN

Pasien pertama kali haid pada usia 14 tahun, siklus teratur (30 hari), lama setiap

menstruasi kurang lebih 5-7 hari, dan pasien belum mengalami menopause. Pasien sudah

menikah dan memiliki dua anak. Pasien menikah usia 29 tahun, mempunyai anak

pertama saat usia 30 tahun. Jarak anak pertama dengan anak ke-dua adalah satu tahun.

Pasien menyusui selama + 6 bulan untuk masing- masing anak. Sejak kelahiran anak

kedua pasien memakai pil KB sebagai alat kontrasepsi. Pasien mengonsumsi rutin setiap

hari hingga saat ini. Sejak pasien sakit pasien sudah tidak aktif bekerja sebagai buruh

cuci. Pasien jarang berolahraga. Pasien tidak merokok dan tidak mengkonsumsi alkohol.

Pasien berobat dengan menggunakan SKTM.

VII. PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan fisik, 26 Oktober 2010

Status Generalis

KU : Tampak Sakit Sedang

Kesadaran : Compos Mentis

Tanda vital:

Nadi : 80 x /menit

Nafas : 16 x/menit

Suhu : 36,8°C

TD : 120/80 mmHg

Status gizi:

Berat badan : 62 kg

Tinggi badan : 155 cm

3

Page 4: Preskas CA Mamae Bedah

IMT : 25,8kg/m2

Kepala : deformitas -

Mata : konjungtiva pucat -/-, sklera ikterik -/-

Telinga : tidak ditemukan deformitas, tanda radang,

Serumen+/+ minimal, membran timpani intak

Hidung : tidak ditemukan sekret, deformitas, deviasi septum

Tenggorok : bibir basah, mukosa mulut basah, faring tidak

hiperemis, tonsil T1-T1

Paru : bunyi nafas utama vesikuler, ronkhi -/- dan wheezing -/-

Jantung : bunyi jantung I dan II normal, reguler, murmur (-) dan gallop (-)

Abdomen : datar, lemas, nyeri tekan (-), hati/limpa tidak teraba pembesaran,

ballotement (-), bising usus (+) normal

Ekstremitas: akral dingin, pucat, edema (-) / (-), capillary refill time < 2 detik

KGB : teraba kelenjar getah bening aksila kiri, soliter, ukuran 2x1cm, kenyal,

mobile, tidak nyeri. KGB aksila kanan, supraklavikula, dan

infraklavikula tdak teraba.

Status lokalis

Regio mammae sinistra

Inspeksi : Payudara asimetris, kiri lebih besar dari kanan, letak papilla mamae kiri

lebih rendah dari kanan, tampak benjolan di regio lateral atas kiri berbentuk ireguler

berukuran 10cm x 10 cm, berwarna kemerahan, kebiruan (-), venektasi (-),

mengkilap(-) , tidak terdapat nanah, darah (-), retraksi puting (-), peau d’orange (-),

ulserasi (-), tidak ada cairan yang keluar dari putting. Terdapat sikatriks bekas tempat

biopsi berbentuk garis sepanjang 3 cm di region lateral atas payudara, 15 cm di atas

areola mammae.

Palpasi : Teraba massa di regio lateral atas kiri berbentuk ireguler,soliter,

berukuran 10cm x 10 cm x 3 cm, konsistensi keras, batas tegas, permukaan tidak

berbenjol, immobile saat relaksasi, akan kontraksi, dan saat kontraksi (terfiksir ke

dinding dada), tidak nyeri, suhu lebih hangat dari sekitar, nipple discharge (-).

4

Page 5: Preskas CA Mamae Bedah

VIII. PEMERIKSAAN PENUNJANG

a. Laboratorium (4 Oktober 2010)

Hematologi

Rutin

Hb 11.2 g/dL (13 – 16 g/dL) ↓

Ht 34.4% (40 – 48%) ↓

Eritrosit 3.990.000/ul (4jt – 5jt/uL) ↓

Leukosit 7.370/ul (5.000 – 10.000/µL)

Trombosit 360.000/ul (150.000 – 400.000/µL)

MCV 86.2 fl (82 – 92 fl)

MCH 28.1 pg (27 – 31 pg)

MCHC 32.6 g/dl (32 – 36 g/dL)

Hitung jenis:

Basofil 0.3% (0-1)

Eosinofil 2.8% (1-3)

Neutrofil 60.6% (52-76)

Limfosit 30.3% (20-40)

Monosit 6.0% (2-8)

LED 70 mm (0-20)

Hemostasis

PT 11.8 detik

PT Kontrol 12.4 detik

APTT 43.0 detik

APTT Kontrol 34.6 detik

Kimia Klinik

SGOT 38 U/L (<27)

SGPT 54 U/L (<36)

Ureum darah 23 mg/dL (<50)

Kreatinin darah 0,7 mg/dL (0,6 – 1,2 mg/dL)

GDS 82 mg/dL

Elektrolit

5

Page 6: Preskas CA Mamae Bedah

Na 143 mEq/L (132-147)

K 3.65 mEq/L (3.3-5.4)

Cl 105.4 mEq/L (94-111)

b. Foto Toraks (31 Mei 2010)

Tidak tampak nodul metastasis. Kor dan pulmo dalam batas normal.

c. Whole Body Bone Scan (11 Juni 2010)

Tidak tampak gambaran metastasis tulang pada whole body scan

d. USG mammae (15 Juni 2010)

Mammae kiri : Tampak lesi hipoekoik berbatas tegas dengan tepi sebagian ireguler di

arah jam 1-2 berukuran 2,94 x 3,13 x 2,96 cm3. Tampak lesi hipoekoik berbatas tegas

berukuran 1,49 x 1,23 x 1,04 cm3 di aksila kiri. Tidak tampak penebalan kutis dan

subkutis. Jaringan fibroglandular mammae baik.

Mammae kanan : kutis dan subkutis baik, tidak tampak penebalan, tidak tampak

retraksi papila, tidak tampak lesi hipoekoik/hiperekoik patologis, tidak tampak

kalsifikasi.

Kesimpulan:

Massa di arah jam 1-2 mammae kiri sugestif maligna dengan pembesaran KGB aksila

kiri

e. Pemeriksaan Patologi Anatomi (5 Juli 2010)

Pattern umum hitologik merupakan mammary dysplasia, berbercak dalam jaringan

lemak ada kelompokkan-kelompokkan ringan sel ganas epetel cenderung ke arah

susunan Karsinoma Duktal Invasif “Cribifor/papillotubular. Curiga emboli limfatik.

Setelah dibuat potongan lebih dalam disertai beberapa pewarnaan khusus sederhana,

sel dalam jaringan lemak tetap ada tetapi makin sedikithabis, khususnya yang untuk

identifikasi emboli limfatik.

Kesimpulan: sel ganas didalam jaringan lemak bebercak tetap manifest.

6

Page 7: Preskas CA Mamae Bedah

f. Pemeriksaan Imunohistokimia (30 Juli 2010)

Reseptor estrogen : negatif

Reseptor progesterone :negatif

C-Erb 2 : negatif

Cathepsin D : positif (70%, sedang-kuat)

P53 : negatif

g. Pemeriksaan Patologi Anatomi (21 September 2010)

Kesimpulan: Karsinoma duktal invasive grade 3, dan terdapat invasi pembuluh.

h. USG abdomen (7 Oktober 2010)

Tidak tampak kelainan pada usg abdomen saat ini. Tidak tampak tanda-tanda

metastasis

Kesan: tidak tampak kelainan pada cor dan pulmo saat ini, tidak tampak tanda-tanda

metastasis.

IX. RESUME

Pasien, wanita usia 41 tahun dating dengan keluhan utama benjolan di payudara kiri

yang semakin membesar dan nyeri sejak 8 bulan sebelum masuk rumah sakit (SMRS).

Pasien mengeluhkan adanya benjolan di payudara kiri sejak 8 bulan SMRS. Benjolan

teraba hanya satu, sebesar telur puyuh, teraba keras, dapat digerakkan, dan tidak nyeri.

Pada payudara tidak terdapat perubahan bentuk dan warna kulit. Puting tidak tertarik ke

dalam, dan tidak ada cairan yang keluar dari puting. Benjolan tidak dipengaruhi oleh

siklus menstruasi (tidak bertambah besar ataupun nyeri). Dari pemeriksaan di poli bedah

RSCM, hasil pemeriksaan tersebut mengarah ke tumor ganas.

Lama kelamaan, benjolan di payudara kiri semakin membesar, keras dan sulit

digerakkan. Keluhan juga disertai adanya benjolan di ketiak kiri yang dirasakan sejak ± 4

bulan SMRS. 4 bulan SMRS pasien dilakukan biopsi pada benjolan di payudara kiri.

Pada hasil biopsi didapatkan kecurigaan mengarah keganasan, namun belum pasti. Oleh

karena itu dilakukan pemeriksaan biopsi ulang 1 bulan setelahnya. Saat ini pasien datang

ke RSCM untuk rencana kemoterapi. Riwayat keganasan dalam keluarga disangkal.

7

Page 8: Preskas CA Mamae Bedah

Pasien pertama kali haid pada usia 14 tahun, siklus teratur, dan pasien belum

mengalami menopause. Pasien menikah usia 29 tahun, mempunyai anak pertama saat

usia 30 tahun. Riwayat menyusui (+), pil KB.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan payudara asimetris, kiri lebih besar dari kanan,

letak papilla mamae kiri lebih rendah dari kanan, Teraba massa di regio lateral atas kiri

berbentuk ireguler,soliter, berukuran 10cm x 10 cm x 3 cm, konsistensi keras, batas

tegas, permukaan tidak berbenjol, immobile saat relaksasi, akan kontraksi, dan saat

kontraksi (terfiksir ke dinding dada), tidak nyeri, suhu lebih hangat dari sekitar, nipple

discharge (-), berwarna kemerahan, kebiruan (-), venektasi (-), mengkilap(-) , tidak

terdapat nanah, darah (-), retraksi puting (-), peau d’orange (-), ulserasi (-), tidak ada

cairan yang keluar dari putting. Terdapat sikatriks bekas tempat biopsi berbentuk garis

sepanjang 3 cm di region lateral atas payudara, 15 cm di atas areola mammae.

Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan anemia normositik normokrom. Pada

pemeriksaan USG didapatkan kesan Massa di arah jam 1-2 mammae kiri sugestif maligna

dengan pembesaran KGB aksila kiri. Pada pemeriksaan patologi anatomi didapatkan

kesimpulan lesi payudara kanan merupakan ductal invasive grade 3. Pemeriksaan fotot

toraks, usg abdomen, dan whole body scan tidak menunjukkan adanya metastasis.

X. DAFTAR MASALAH

1. Karsinoma duktal invasif T4aN1M0 (Stadium IIIB)

XI. PENATALAKSANAAN

Pro kemoterapi

XII. PROGNOSIS

Quo ad vitam : dubia ad malam

Quo ad functionam : malam

Quo ad sanactionam : dubia ad malam

8

Page 9: Preskas CA Mamae Bedah

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Epidemiologi

Kanker payudara merupakan kanker dengan insidens tertinggi nomor dua di Indonesia.

Di Amerika sekitar 182.460 wanita Amerika didiagnosa menderita kanker payudara, dan 40.480

meninggal karena penyakit ini dan hingga tahun 1985 karsinoma payudara menjadi penyebab

kematian tertinggi terkait keganasan bagi para wanita di Amerika. Karsinoma payudara memiliki

kecenderungan meningkat dalam 2-3 dekade terakhir. Secara global, insiden tertinggi di Amerika

Utara dan Eropa bagian utara, dan terendah di Asia dan Afrika.

II.2. Klasifikasi

Klasifikasi WHO 1981

Berdasarkan gambaran histopatologi kanker payudara dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Non invasive

Karsinoma intraduktal

Karsinoma lobular

2. Invasive

Karsinoma duktal invasif

Karsinoma duktal invasif

dengan komponen

predominan intraduktal

Karsinoma lobuler invasif

Karsinoma musinosum

Karsinoma medular

Karsinoma papiler

Karsinoma tubular

Karsinoma adenokistik

Karsinoma juvenil

Karsinoma apokrin

Karsinoma dengan

metaplasia

Karsinoma dengan tipe

skuamosa

Karsinoma dengan sel

spindel

Karsinoma dengan kartilago

dan tipe osseous

Karsinoma tipe campuran

3. Paget’s disease of the breast

9

Page 10: Preskas CA Mamae Bedah

Diantara jenis-jenis histopatologis ini, jenis karsinoma duktal invasif yang paling sering

ditemukan (+80%). Invasif berarti tumor jenis ini telah menembus atau menyebar kejaringan

sekitar. Disebut duktal karena karsinoma ini berasal dari duktus laktiferus yang membawa susu

dari lobulus ke puting.

Klasifikasi Stadium TNM (UICC / AJCC) 2002

Untuk melakukan penilaian staging karsinoma payudara dapat digunakan guideline yang telah

ada, seperti yang dikeluarkan oleh The American Joint Committee on Cancer (AJCC) dengan

memodifikasi system TNM. Pembagiannya berdasarkan sistem TNM dari UICC / JACC tahun

2002 dapat dilihat sebagai berikut :

T = ukuran tumor primer

TX : Tumor primer tidak dapat ditentukan

T0 : Tidak ada bukti adanya tumor primer

Tis : Karsinoma in situ dan penyakit Paget pada papila tanpa teraba tumor.

Tis (DCIS) : Ductal carcinoma in situ

Tis (LCIS) : Lobular carcinoma in situ

T1 : Tumor < 2 cm

T2 : Tumor 2-5 cm

T3 : Tumor >5 cm

T4 : Tumor dengan penyebaran langsung ke dinding thorak atau ke kulit. Dinding

dada termasuk iga, muskulus interkosta, muskulus seratus anterior, tapi tidak muskulus

pektoralis.

a. ekstensi ke dinding dada

b. edema (termasuk peau d’orange), ulserasi kulit payudara, nodul satelit pada

payudara yang sama

c. terdapat a dan b

d. inflammatory carcinoma

N = kelenjar getah bening regional

Nx : Kelenjar regional tidak dapat ditentukan

N0 : Tidak teraba kelenjar aksila

10

Page 11: Preskas CA Mamae Bedah

N1 : Teraba kelenjar aksila homolateral yang tidak melekat.

N2 : Teraba kelenjar aksila homolateral yang melekat satu sama lain atau melekat

pada jaringan sekitar.

N3 : Terdapat kelenjar mammaria interna homolateral

M

Mx : Tidak dapat ditentukan metastasis jauh

M0 : Tidak ada metastasis jauh

M1 : Terdapat metastasis jauh termasuk ke kelenjar supraklavikula

Berdasarkan American Joint Committee on Cancer, stadium karsinoma payudara dibagi

menjadi:

1. Stadium 0 - Tis, N0, M0

2. Stadium I - T1 (termasuk T1mic), N0, M0

3. Stadium IIA

i. T0, N1, M0

ii. T1 (termasuk T1mic), N1, M0

iii. T2, N0, M0

4. Stadium IIB

i. T2, N1, M0

ii. T3, N0, M0

5. Stadium IIIA

i. T0, N2, M0

ii. T1 (termasuk T1mic), N2, M0

iii. T2, N2, M0

iv. T3, N1, M0

v. T3, N2, M0

6. Stadium IIIB - T4, tiap N, M0

7. Stadium IIIC – tiap T, N3, M0

8. Stadium IV - tiap T, tiap N, M1

11

Page 12: Preskas CA Mamae Bedah

II.3. Etiologi dan faktor risiko

Penyebab karsinoma payudara yang diketahui hingga saat ini masih bersifat

multifaktorial. Beberapa faktor risiko yang telah diketahui meningkatkan kemungkinan

terjadinya karsinoma payudara adalah:

1. Usia

Karsinoma payudara jarang ditemukan pada perempuan berusia kurang dari 25 tahun.

Insidens meningkat seiring dengan bertambahnya usia dan hampir mendatar pada perempuan

berusia 50-55 tahun. Usia merupakan faktor risiko yang paling berpengaruh.

2. Jenis kelamin

Karsinoma payudara 100 kali lebih sering ditemukan pada perempuan dibandingkan laki-

laki.

3. Genetik

Riwayat keluarga termasuk dalam faktor risiko. Risiko meningkat 1,8 kali lipat apabila

terdapat riwayat pada ibu atau saudara perempuan yang menderita karsinoma payudara.

Faktor genetik itu melibatkan mutasi gen BRCA1 dan BRCA2.

4. Kelainan patologi lain

Risiko meningkat apabila terdapat riwayat menderita karsinoma payudara, kanker ovarium,

kanker endometrium, karsinoma duktal in situ, karsinoma lobuler in situ, fibroadenoma,

papilomatosis, dan adenosis. Risiko menurun apabila terdapat riwayat kanker leher rahim.

5. Tidak kawin/nulipara risiko akan meningkat 2-4 kali lebih tinggi.

6. Anak pertama lahir setelah usia 35 tahun risikonya 2 kali lebih besar.

7. Menarche kurang dari 12 tahun risikonya 1,7-3,4 kali lebih besar.

8. Menopause datang terlambat lebih dari 55 tahun risikonya 2,5-5 kali lebih tinggi.

9. Faktor eksogen

Terapi sulih hormon selama 10 tahun akan meningkatkan risiko 1,35 kali namun akan

menurun 5 tahun setelah penghentian terapi. Penggunaan kontrasepsi oral selama 10 tahun

akan meningkatkan risiko 1,24 kali dan kembali normal setelah penghentian selama 10 tahun

(tidak berlaku untuk pil kontrasepsi yang hanya mengandung progesteron). Konsumsi

alkohol, radiasi (terutama pada usia dekade awal), virus, merokok, dan obesitas merupakan

faktor risiko lain yang diduga berpengaruh namun masih bersifat kontroversial.

12

Page 13: Preskas CA Mamae Bedah

Meningkatnya paparan terhadap estrogen diasosiasikan dengan meningkatnya risiko

tejadinya kanker payudara dan menurunnya paparan diketahui sebagai faktor protektif. Dengan

demikian hal yang dapat meningkatkan banyaknya siklus menstruasi, seperti menarche dini,

nulipara, dan menopause yang telat diasosiasikan dengan peningkatan risiko karsinoma

payudara. Hal yang dapat menurunkan paparan terhadap estrogen seperti periode menyusui yang

lebih panjang dapat menjadi faktor proteksi. Diferensisasi epitel payudara yang dikaitkan

dengan full-term pregnancy juga bersifat protektif. Selain hal diatas terdapat pula asosiasi antara

obesitas yang dikaitkan dengan bertambah lamanya paparan terhadap estrogen dan meningkatnya

risiko kasinoma payudara. Faktor nonhormonal pada karsinoma payudara seperti paparan

terhadap radiasi. Pada wanita muda dengan radiasi untuk penyakit limfoma Hodgkin's

mempunyai risiko karsinoma payudara75 kali lebih besar. Konsumsi alkohol juga diketahui

meningkatkan level serum estradiol.

II.4. Gejala klinis

Seringkali pada stadium awal tidak terdapat keluhan sehingga seringkali penderita tidak

memeriksakan diri ke petugas kesehatan. Pada stadium lanjut, dapat menimbulkan kelainan pada

kulit berupa deformitas, ulserasi, retraksi puting susu melekat pada kulit, kulit jeruk (peau

de’orange), benjolan kecil kulit (nodul satelit), kulit memerah dan mengeras, nipple discharge,

dan kelenjar limfe aksila serta supraklavikula yang membesar.

Kecurigaan suatu tumor payudara bersifat ganas adalah:

1. tumor payudara pada perempuan dengan risiko tinggi

2. tumor payudara bersifat keras, bentuk tidak teratur, dan melekat pada dinding dada

3. nipple discharge berdarah atau serosa

4. pada mammogram terdapat bayangan batas tegas, berbentuk stelata, mikrokalsifikasi,

bayangan indurasi stroma yang asimetris dengan distorsi struktur arsitektur payudara.

II.5. Pemeriksaan fisik

Organ payudara dipengaruhi oleh faktor hormonal yaitu estrogen dan progesteron. Oleh

karena itu cara terbaik untuk melakuka pemeriksaan payudara adalah pada saat pengaruh

hormonal seminimal mungkin, yaitu setelah menstruasi lebih kurang satu minggu dari hari

pertama menstruasi.

13

Page 14: Preskas CA Mamae Bedah

Penderita diperiksa dengan bagian atas terbuka:

A. Posisi tegak (pasien duduk)

Pasien duduk dengan tangan bebas ke samping, pemeriksa berdiri di depan dalam posisi

yang lebih kurang sama tinggi. Pada inspeksi dilihat :

1. Simetri payudara kanan-kiri

2. Kelainan papila

3. Letak dan bentuknya

4. Ada atau tidak retraksi puting susu

5. Kelainan kulit

6. Tanda-tanda radang

7. Peau d’orange

8. Dimpling

9. Ulserasi; dll

B. Posisi berbaring

Pasien berbaring dan diusahakan agar payudara tersebar rata di atas lapangan dada. Jika

perlu bahu/punggung diganjal dengan bantal pada penderita yang payudaranya besar.

Palpasi dilakukan dengan menggunakan falang distal dan falang medial jari 2, 3, dan 4.

Dikerjakan secara sistematis mulai dari kranial setinggi iga ke 2, hingga distal setinggi

iga ke 6. Selain itu dilakukan pemeriksaan pada daerah sentral subareolar dan papil.

Terakhir diadakan pemeriksaan kalau ada cairan yang keluar dengan menekan daerah

sekitar papil.

C. Menetapkan keadaan tumor

1. Lokasi tumor menurut keadaan di payudara. Payudara dibagi menjadi 5 kuadran,

yaitu: lateral atas, lateral bawah, medial atas, medial bawah, dan sentral

2. Ukuran tumor, konsistensi, batas-batas tumor

3. Mobilitas tumor terhadap kulit dan m. Pectoralis

D. Memeriksa kelenjar getah bening regional

1. Aksila

Pemeriksaan aksila sebaiknya pasien dilakukan dalam posisi duduk, karena dalam

posisi ini fossa aksila jatuh ke bawah sehingga mudah untuk diperiksa dan lebih

banyak dapat dicapai. Pemeriksaan aksila kanan, tangan kanan penderita

14

Page 15: Preskas CA Mamae Bedah

diletakkan lemas ditangan kanan pemeriksa dan aksila diperiksa dengan tangan

kiri pemeriksa begitu juga sebaliknya. Pada perabaan ditentukan besar,

konsistensi, jumlah, apakah berfiksasi satu sama lain atau tidak.

2. Supra dan infraklavikula

Pemeriksa meraba kelenjar getah bening supra dan infraklavikuler dan leher.

Organ lain juga diperiksa untuk mencaria adanya metastasis jauh. Organ lain yang diperiksa

hepar, lien, tulang-tulang utama, tulang belakang, dan paru.

II.5. Pemeriksaan penunjang

1. Mammografi

Mamografi dilakukan untuk melihat jaringan lunak payudara. Biasanya dilakukan untuk

mengevaluasi wanita dengan penemuan abnormal seperti massa payudara atau nipple

discharge. Mammografi dapat melihat payudara dalam dua posisi, yaitu posisi kraniokaudal

(CC) dan oblik mediolateral atau MLO. Dengan posisi MLO dapat dilihat volum jaringan

payudara termasuk kuadran lateral atas dan the axillary tail of Spence. Sedangkan dengan

posisi CC visualisasi yang dilihat adalah aspek medial payudara walaupun dalam

pemeriksaannya membutuhkan kompresi lebih. Hasil mamografi dapat menunjukkan tanda-

tanda primer dan sekunder keganasan. Tanda primer yaitu berupa fibrosis reaktif, comet sign,

adanya perbedaan yang nyata ukuran dan rontgenologik, dan adanya mikrokalsifikasi. Tanda-

tanda sekunder berupa retraksi, penebalan kulit, bertambahnya vaskularisasi, perubahan

posisi papilla dan areola adanya bridge of tumor; keadaan daerah tumor dan jaringan

fibroglandular tidak teratur, infiltrasi dalam jaringan lunak di belakang mammae, dan adanya

metastasis ke kelenjar. Mammografi dapat mendeteksi tumor-tumor yang secara palpasi tidak

teraba; jadi sangat baik untuk diagnosis dini dan skrining. Sensitivitas mamografi berkisar

antara 83 – 95%, tergantung dari teknisi dan ahli radiologinya.

2. Pemeriksaan laboratorium hematologi

Pemeriksaan laboratorium hematologi dilakukan untuk menyingkirkan diagnosis banding

seperti infeksi, serta memeriksa toleransi operasi

3. Ultrasonografi

Ultrasonografi dilakukan untuk membedakan antara lesi solid dan kistik. Pada pemeriksaan

USG kista payudara terlihat berbatas tegas, sedangkan karsinoma mempunyai batas yang

15

Page 16: Preskas CA Mamae Bedah

irregular. Massa payudara jinak bisa memperlihatkan gambaran dengan kontur yang halus,

bulat atau oval. Ultrasonografi juga digunakan untuk menuntun biopsi aspirasi jarum halus

dan core-needle biopsy.

4. Biopsi

Dilakukan sebagai sarana untuk mengetahui diagnosa pasti karsinoma payudar. Terdapat beberapa

teknik pemeriksaan biopsi :

a. Fine needle aspiration (FNA)

FNA bukan merupakan kriteria standar untuk evaluasi awal pada massa di payudara. Pemeriksaan

itu dapat dilakukan dengan cepat, relatif tidak sakit, dan tidak mahal. Hasil FNA dilaporkan

sebagai jinak, sugestif maligna, atau tidak dapat didiagnosis.

b. Core needle biopsy (CNB)

CNB lebih bermanfaat dibandingkan FNA untuk evaluasi awal karsinoma payudara. Sampel yang

diambil pada CNB lebih banyak dibandingkan FNA sehingga dapat membedakan antara kanker

invasif dan ductal carcinoma in situ.

a. Excisional biopsy

Teknik ini dilakukan dengan mengangkat seluruh massa pada payudara dan diindikasikan apabila

FNA atau CNB tidak dapat dilakukan, teknik lain tidak dapat menegakkan diagnosis, atau hasil

patologi tidak sesuai dengan hasil radiologi.

b. Incisional biosy

Teknik ini dilakukan apabila massa yang terdapat pada payudara terlalu besar untuk dieksisi

seluruhnya. Seringkali dilakukan pada pasien dengan stadium lanjut disertai metastasis atau

locally advanced yang direncanakan untuk menerima terapi sistemik pada awal terapi.

5. Foto Toraks

Mengetahui adanya tumor pada payudara tetapi tingkat akurasi rendah. Biasanya fotot toraks

dilakukan untuk mengetahui adanya metastasis ke paru dan untuk toleransi pada operasi.

6. Bone scanning/bone survey

Dilakukan untuk mengetahui adanya metastasis ke tulang.

7. USG abdomen/liver

Dilakukan untuk mengetahui adanya metastasis ke organ-organ abdomen.

II.6. Penatalaksanaan

16

Page 17: Preskas CA Mamae Bedah

Penatalaksanaan pada karsinoma payudara terdiri atas pembedahan, kemoterapi, dan

radioterapi.

Pembedahan

1. Radical mastectomy menurut Halsted meliputi pengangkatan payudara, kulit diatas tumor

(biasanya sampai batas 5 cm), muskulus pektoralis mayor dan minor, dan semua KGB

aksila. Cara itu berhasil untuk mengontrol karsinoma payudara secara lokal namun tidak

berhasil mengurangi morbiditas akibat karsinoma payudara. Sebagian besar pasien pasca-

operasi akan mengalami gangguan mengangkat lengan dan edema limfatik kronik.

2. Modified radical mastectomy (MRM) menurut Patey merupakan tindakan pembedahan

yang menjadi standar saat ini. MRM meliputi pengangkatan seluruh payudara dan

sebagian/atau seluruh KGB aksila. Umumnya muskulus pektoralis minor dipertahankan.

Dengan cara itu, insidens edema limfatik dan kesulitan mengangkat lengan berkurang.

Selain itu, hasil pembedahan lebih baik secara kosmetik dan rekonstruksi payudara lebih

mudah untuk dilakukan.

3. Total/simple mastectomy meliputi pengangkatan payudara, termasuk kompleks areola

mammae, tanpa pengangkatan muskulus pektoralis dan KGB aksila. Indikasi

dilakukannya pembedahan itu adalah ductal carcinoma in situ, mastektomi profilaktik,

dan pasien dengan karsinoma payudara yang mengalami rekurensi setelah dilakukan

breast conservation surgery yang meliputi pengangkatan KGB aksila.

4. Breast conservating treatment (BCT) merupakan kombinasi antara pembedahan yang

dilanjutkan dengan radioterapi. Pembedahan meliputi pengangkatan tumor dengan tepi

yang bervariasi disertai dengan pengangkatan KGB aksila dan termasuk lumpektomi,

tumorektomi, mastektomi segmental, mastektomi parsial, dan kuadrantektomi.

Kemoterapi

Kemoterapi diberikan pada pasien dengan kanker payudara yang sudah lanjut, atau ditujukan

untuk terapi paliatif. Walaupun begitu, kemoterapi juga dapat dilakukan pada pasien yang telah

dioperasi mastektomi, dimana kemoterapi diberikan sebagai terapi adjuvant. Biasanya diberikan

kombinasi cyclophosphamide, metrothrexate, dan 5-fluorouracil.

II.7. Prognosis

17

Page 18: Preskas CA Mamae Bedah

Prognosis kanker payudara ditentukan oleh dua hal, yaitu staging dan jenis histopatologi

keganasan.

1. Menurut Staging (5 year survival rate)

a. Stadium 0 (in situ) : 96.2%

b. Stadium I : 80-90%

c. Stadium II : 50-70%

d. Stadium III : 11-20%

e. Stadium IV : 0%

2. Menurut Jenis Histopatologi keganasan

Karsinoma in situ mempunyai prognosis yang lebih baik dibandingkan dengan karsinoma

invasif.

Kanker payudara yang disertai dengan peradangan disebut dengan mastitis karsinoma. Mastitis

karsinoma mempunyai prognosis yang sangat buruk, dimana angka harapan hidup 2 tahun-nya

hanya 5%.

II.8. Pencegahan dan diagnosis dini

Kanker payudara tergolong keganasan yang dapat didiagnosis secara dini. Usaha untuk

ini adalah dengan melakukan SADARI (Periksa Payudara Sendiri). Pemeriksaan SADARI ini

sangat besar artinya jika digalakkan terhadap kaum ibu terutama yang berusia diatas 30 tahun.

Pemeriksaan SADARI sebaiknya dikerjakan setelah menstruasi, yaitu hari ke 7-10 dari hari

menstruasi pertama, karena saat ini pengaruh hormonal estrogen progesteron sangat rendah dan

jaringan kelenjar payudara saat itu dalam keadaan tidak membengkak sehingga lebih mudah

meraba adanya tumor atau kelainan. American Cancer Society menganjurkan untuk

mendapatkan kasus dini pada pasien wanita asimptomatik untuk melakukan upaya:

1. Wanita diatas 20 tahun melakukan SADARI setiap bulan

2. Wanita 20-40 tahun setiap 3 bulan sekali memeriksakan dirinya ke dokter

3. Wanita diatas 40 tahun setiap bulan

4. Wanita 35-40 tahun dilakukan baseline mammografi

5. Wanita dibawah 50 than konsul ke dokter untuk kepentingan mammografi

6. Wanita diatas 50 tahun jika bisa mammografi tiap tahun

18

Page 19: Preskas CA Mamae Bedah

Wanita yang memiliki riwayat keluarga kanker payudata memerlukan pemeriksaan fisik oleh

dokter lebih sering dan pemeriksaan mamografi rutin atau periodic sebelum umur 50 tahun.

Teknik SADARI :

1. Berdiri di depan cermin dengan badan bagian atas terbuka (dada terbuka)

Lengan di bawah : bandingkan payudara kanan dan kiri, besarnya dan simetrinya

Puting susu : dilihat sama besar/tinggi/bentuknya atau tidak

Lengan di atas kepala : seperti tangan di atas. Kadang-kadang dalam gerakan lengan ke

atas dapat dilihat bayangan tumor di bawah kulit ikut bergerak.

2. Berbaring

Sebaiknya bagian payudara yang diperiksa diganjal sedikit dengan bantal agar semua

payudara jatuh rata di atas lapangan dada. Dengan jari-jari II-IV bagian tengah dan

kaudal dilakukan perabaan seluruh payudara secara sistematis, dari atas ke bawah dari

pusat ke tepi.

American Cancer Society merekomendasikan untuk dilakukan skrining karsinoma

payudara berupa pemeriksaan fisik dan mammografi setiap tahun bagi perempuan berusia ≥ 40

tahun dan setiap 3 tahun bagi perempuan berusia 20-30 tahun.

19

Page 20: Preskas CA Mamae Bedah

BAB III

PEMBAHASAN KASUS

Ny. YS, 42 tahun, datang dengan keluhan benjolan di payudara kiri yang semakin

membesar dan nyeri sejak 8 bulan SMRS. Benjolan teraba hanya satu, sebesar telur puyuh,

teraba keras, dapat digerakkan, dan tidak nyeri. Pada payudara tidak terdapat perubahan bentuk

dan warna kulit. Puting tidak tertarik ke dalam, dan tidak ada cairan yang keluar dari puting.

Benjolan tidak dipengaruhi oleh siklus menstruasi (tidak bertambah besar ataupun nyeri).

Keluhan mual dan muntah disangkal. Benjolan pada tempat lain disangkal. Nafsu makan baik

dan tidak terdapat penurunan berat badan. Buang air besar dan buang air kecil biasa.

Pasien kemudian berobat ke Puskesmas setempat, dan dikatakan bahwa payudaranya

normal. Pasien kemudian sempat mengkonsumsi tanaman herbal untuk mengatasi benjolan atas

saran dari teman. Karena tidak terdapat perubahan, pasien memutuskan untuk pergi ke Rumah

Sakit di Cibinong setelah tiga minggu mengkonsumsi tanaman herbal. Di Rumah Sakit Cibinong,

setelah dilakukan pemeriksaan payudara oleh dokter bedah, dikatakan benjolan di payudara

pasien mengarah ke keganasan. Kemudian pasien dirujuk ke RSCM untuk menjalani

pemeriksaan dan penatalaksanaan lebih lanjut.

Di RSCM pasien berobat ke poli bedah, dan dilakukan pemeriksaan tambahan berupa

foto dada, USG payudara, mammografi, pemeriksaan darah, pemeriksaan urin dan kedokteran

nuklir. Hasil pemeriksaan tersebut mengarah ke tumor ganas.

Lama kelamaan, benjolan di payudara kiri semakin membesar, keras dan sulit

digerakkan. Keluhan juga disertai adanya benjolan di ketiak kiri yang dirasakan sejak ± 4 bulan

SMRS. Payudara kiri juga terasa nyeri dan terlihat kemerahan. Saat itu juga tidak terdapat

perubahan bentuk dan warna kulit, puting tidak tertarik ke dalam, tidak ada cairan yang keluar

dari puting.

4 bulan SMRS pasien dilakukan biopsi pada benjolan di payudara kiri. Pada hasil biopsi

didapatkan kecurigaan mengarah keganasan, namun belum pasti. Oleh karena itu dilakukan

pemeriksaan biopsi ulang 1 bulan setelahnya. Setelah dilakukan biopsi pertama pasien sempat

keluar cairan bewarna putih bercampur kemerahan sebanyak satu kali. Hasil biopsi kedua

dikatakan tumor payudara ganas dan disarankan untuk dilakukan operasi pengangkatan payudara

20

Page 21: Preskas CA Mamae Bedah

kiri. Namun pasien merasa takut dan belum memutuskan untuk dilakukan operasi. Selama 3

bulan terakhir pasien tidak kontrol ke poli bedah RSCM dulu.

Hari pasien masuk ke ruang rawat, sebelumnya pasien kontrol ke poli karena sudah

memantapkan hati untuk di operasi. Menurut dokter yang memeriksa tumor di payudara kiri

pasien sudah mengalami perlengketan dan disarankan untuk dilakukan kemoterapi 3 kali

sebelum operasi dan dilanjutkan kemoterapi 3 kali setelah operasi.

Riwayat disinar sebelum ini disangkal, pasien tidak mengeluh nyeri pada tulang belakang

atau paha. Keluhan batuk dan sesak, sakit kepala, dan rasa begah pada perut disangkal.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan payudara asimetris, kiri lebih besar dari kanan, letak

papilla mamae kiri lebih rendah dari kanan, tampak benjolan di regio lateral atas kiri berbentuk

ireguler berukuran 10cm x 10 cm, berwarna kemerahan, kebiruan (-), venektasi (-), mengkilap(-),

tidak terdapat nanah, darah (-), retraksi puting (-), peau d’orange (-), ulserasi (-), tidak ada cairan

yang keluar dari putting. Terdapat sikatriks bekas tempat biopsi berbentuk garis sepanjang 3 cm

di region lateral atas payudara, 15 cm di atas areola mammae. Pada palpasi teraba massa di regio

lateral atas kiri berbentuk ireguler,soliter, berukuran 10cm x 10 cm x 3 cm, konsistensi keras,

batas tegas, permukaan tidak berbenjol, immobile saat relaksasi, akan kontraksi, dan saat

kontraksi (terfiksir ke dinding dada), tidak nyeri, suhu lebih hangat dari sekitar, nipple discharge

(-).

Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan penurunan Hb (11,2 g/dl), Ht (34,4%), serta

jumlah eritrosit (3.990.000/ul) sehingga dipikirkan pasien mengalami anemia normositik

normokrom. Penyebab anemia pada pasien ini kemungkinan besar adalah karena penyakit kronik

(keganasan). Namun, untuk memastikannya diperlukan pemeriksaan retikulosit. Selain itu, juga

ditemukan peningkatan enzim transaminase yang mengindikasikan adanya gangguan

hepatoselular primer dan dapat juga disebabkan metastasis hati. Namun, setelah dikonfirmasi

dengan USG abdomen, tidak tampak tanda-tanda metastasis pada organ intraabdomen.

Pada pemeriksaan USG didapatkan kesan massa di arah jam 1-2 mammae kiri sugestif

maligna dengan pembesaran KGB aksila kiri. Pada pemeriksaan patologi anatomi tanggal

5/7/2010 menunjukkan mammary dysplasia, berbercak dalam jaringan lemak ada kelompokkan-

kelompokkan ringan sel ganas epetel cenderung ke arah susunan Karsinoma Duktal Invasif

Cribifor/papillotubular. Pada pemeriksaan patologi anatomi tanggal 21/9/2010 didapatkan

kesimpulan karsinoma duktal invasive grade 3, dan terdapat invasi pembuluh.

21

Page 22: Preskas CA Mamae Bedah

Pada anamnesis dan pemeriksaan fisik, diagnosis yang mungkin pada pasien adalah

tumor payudara. Namun, pasien memenuhi kriteria kecurigaan keganasan pada tumor payudara.

Pertama, pasien memiliki risiko tinggi untuk menderita karsinoma payudara karena jenis kelamin

perempuan, berusia 42 tahun, dan memiliki anak pada usia 30 tahun. Kedua, pada pemeriksaan

fisik diperoleh massa yang semakin lama semakin membesar, bentuk massa keras, ireguler, batas

tegas, terfiksir ke dinding dada.

Benjolan pada payudara pasien merupakan indikasi untuk dilakukan pemeriksaan

penunjang berupa mammografi dan USG mammae. Pada kedua pemeriksaan tersebut diperoleh

kesan maligna sehingga perlu dilakukan biopsi untuk diagnosis pasti. Pada biopsi diperoleh

gambaran mammary dysplasia dengan kesimpulan akhir berupa karsinoma duktal invasive grade

3 dan terdapat invasi pembuluh.

Karsinoma mammae merupakan keganasan sehingga perlu dipikirkan kemungkinan

metastasis. Metastasis dapat terjadi melalui sistem vena (paru-paru, tulang) dan sistem limfatik

(KGB aksila, supraklavikula, mammaria interna, hepar) sehingga pada pasien dilakukan

pemeriksaan foto thoraks, USG abdomen, dan bone scan dan kesimpulannya adalah tidak ada

metastasis jauh pada paru, tulang, dan organ intraabdomen.

Hasil yang diperoleh untuk penentuan stadium karsinoma mammae pada pasien

berdasarkan klasifikasi TNM adalah T4a (tumor dengan penyebaran langsung ke dinding thorak

tanpa adanya penyebaran ke kulit dengan tanda edem, tukak, peau d’orange), N1 (teraba kelenjar

aksila homolateral yang tidak melekat), dan M0 (tidak terdapat metastasis jauh). Berdasarkan

American Joint Committee on Cancer maka pasien termasuk stadium IIIB (T4, any N, M0).

Pasien dengan stadium IIIB termasuk dalam locally advanced. Berdasarkan National

Comprehensive Cancer Network, terapi pada karsinoma payudara dengan stadium locally

advanced adalah kombinasi antara kemoterapi pre-operasi, operasi, dan radiasi pasca-operasi.

Sebelumnya hasil biopsi pasien dites terhadap reseptor estrogen (ER), reseptor progesteron (PR).

Pada pasien ER, PR dan CERB2 negatif, sehingga pilihan regimen kemoterapi yang diberikan

adalah kombinasi CAF (5 Fluorouracil 500mg/m2, Doxorubicin 50mg/m2, dan

Cyclophosphamide 500mg/m2) dalam 4-6 siklus.

Kemoterapi pre-operasi bermanfaat untuk mengecilkan ukuran tumor, mengetahui respon

tumor terhadap kemoterapi sehingga dapat mengganti regimen kemoterapi apabila diketahui

tumor tidak responsif, memberikan peluang untuk dilakukan breast conservation surgery,

22

Page 23: Preskas CA Mamae Bedah

memberikan peluang untuk dilakukannya immediate reconstruction bagi pasien yang menjalani

mastektomi. Selain itu, karsinoma payudara dengan stadium IIIB (locally advanced) diduga telah

mengalami metastasis mikro sehingga terapi sistemik perlu diberikan. Tumor yang responsif

terhadap kemoterapi ditandai dengan pengurangan ukuran tumor sebanyak ≥ 50% yang

ditentukan berdasarkan pemeriksaan fisik, mammografi, dan/atau USG payudara. Breast

conservation surgery dan immediate reconstruction tidak direkomendasikan bagi pasien dengan

tumor yang tidak responsif terhadap kemoterapi pre-operatif.

Langkah selanjutnya ditentukan oleh respon tumor terhadap kemoterapi. Dahulu, pilihan

yang tersedia bagi stadium IIIB adalah classic radical mastectomy (CRM) atau modified radical

mastectomy (MRM). Namun, berkembangnya penelitian menyatakan bahwa pasien karsinoma

payudara dengan stadium IIIB dapat menjalani breast conservation surgery (BCS) dengan hasil

kosmetik yang lebih baik. Terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi diantaranya ukuran

tumor pasca-kemoterapi ≤ 3 cm, tidak terdapat invasi luas ke KGB mammaria interna, resolusi

edema kulit, tidak terdapat lesi multisentrik atau kalsifikasi difus, dan perbandingan tumor dan

payudara yang memadai. Sehubungan dengan syarat tersebut, masih belum terdapat kesepakatan.

Pasien yang tidak memenuhi syarat untuk dilakukan BCS akan menjalani MRM.

Setelah menjalani pembedahan, maka pasien akan melanjutkan dengan radioterapi dan

kemoterapi pasca-operasi. Sebagai terapi lain beberapa penelitian juga menganjurkan

diberikannya terapi hormon pada pasien. Salah satu yang dianjurkan adalah pemberian tamoxifen

oral selama 5 tahun. Namun, terapi ini terbatas pada pasien dengan karsinoma payudara ER

positif dan PR positif. Terapi hormon diberikan setelah kemoterapi pasca-operasi selesai.

Pasien perlu menjalani pemeriksaan rutin setiap 4-6 bulan selama 5 tahun dilanjutkan

dengan pemeriksaan setiap tahun pasca operasi. Pasien yang menjalani CRM atau MRM perlu

pemeriksaan mammogram setiap tahun sedangkan yang menjalani BCS perlu pemeriksaan

mammogram 6 bulan setelah radiasi dilanjutkan dengan setiap tahun pada kedua payudara. Hal

itu bermanfaat untuk mendeteksi secara dini rekurensi yang mungkin terjadi.

Prognosis pada pasien karsinoma payudara dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya

ukuran tumor, adanya edema kulit, jumlah KGB aksila yang terlibat, adanya ER dan PR, derajat

histologi, dan respon terhadap kemoterapi. Berdasarkan stadium, five year survival rate pada

karsinoma payudara yang telah mencapai stadium IIIB adalah 44% sehingga quo ad vitam pasien

adalah dubia ad malam. Quo ad functionam adalah malam karena fungsi fisiologis payudara

23

Page 24: Preskas CA Mamae Bedah

kanan pasien tidak dapat dikembalikan setelah dilakukan mastektomi. Quo ad sanactionam

adalah dubia ad malam karena angka rekurensi dalam waktu lima tahun pada karsinoma

payudara berukuran > 5cm dengan keterlibatan KGB adalah 79%.

Sebagai saran, pada pasien saat ini perlu diberikan edukasi mengenai penyakitnya,

terutama untuk meningkatkan kesadaran pasien agar mau menjalani terapi. Alasan sebelumnya

karena tidak ada biaya kini sudah teratasi dengan fasilitas Jamkesda. Selain itu, perlu juga

ditanamkan pemeriksaan SADARI pada keluarga first-degree pasien mengingat tingginya risiko

terkena kanker payudara pada keluarga pasien.

24

Page 25: Preskas CA Mamae Bedah

DAFTAR PUSTAKA

1. Albar ZA, Tjindarbumi D, Ramli M, Lukitto P, Reksoprawiro S, Handojo D, dll. Protokol

peraboi 2003. Jakarta: Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia; 2004. h. 2-16.

2. Jemal, A, Siegel, R, Ward, E, et al. Cancer statistics, 2008. CA Cancer J Clin 2008; 58:71.

3. Parkin, DM, Bray, F, Ferlay, J, Pisani, P. Global cancer statistics, 2002. CA Cancer J Clin

2005; 55:74.

4. Data on SEER (Surveillance, Epidemiology and End Results) cancer statistics available

online at http://seer.cancer.gov/csr/1975_2003/results_merged/sect_04_breast.pdf (accessed

October 11, 2006).

5. Ramli H Muchlis. Kanker Payudara. Dalam Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, Reksoprodjo

Soelarto, et al. Binarupa Aksara. Jakarta .1995. hal 322-41.

6. Costanza ME, Chen WY,Hayes DF, Savarese DMF. Epidemiology and risk factors for breast

cancer. J Uptodate. Last literature review 17.1. January 2009.

7. Samuel W. Brunicardi FC, et al. The Breast. In: Schwartz's Principles of Surgery. Ninth

Edition. E book version. The McGraw-Hill Companies, Inc: 2010.

8. Opatt DM. Breast cancer. Last updated: Jun 23, 2006 (cited: Aug 27, 2008). Available at:

www.emedicine.com

9. DeVita VT, Hellman S, Rosenberg SA. Cancer of the breast. In: DeVita VT, Hellman S,

Rosenberg SA, editors. Cancer: Principles and Practices of Oncology. 4 th ed. Philadelphia:

J.B. Lipincott; 1993.

10. American Cancer Society-National Comprehensive Cancer Network. Breast cancer treatment

guidelines. 2007.

11. Smith RA, Saslow D, Sawyer KA, Burke W, Costanza ME. American cancer society

guidelines for breast cancer screening: update 2003. CA Cancer J Clin 2003;54:141-169.

25